Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan 2025. Tersedia di w. jk-risk. Jurnal Klinik dan Riset Kesehatan RSUD Dr. Saiful Anwar Malang e-ISSN: 2809-0039 p-ISSN: 2809-2678 Tinjauan Pustaka Tindakan Invasif sebagai Pilihan Tatalaksana pada Kasus Trombosis Vena Dalam Optimal Management for Deep Vein Thrombosis (DVT) with Invasive Strategy Approach Yuke Fawziah Kemala1. Novi Kurnianingsih2 Departemen Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran. Universitas Brawijaya. Indonesia Ae RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Indonesia Diterima 22 Januari 2025. direvisi 17 Maret 2025. publikasi 31 Oktober 2025 INFORMASI ARTIKEL Penulis Koresponding: Yuke Fawziah Kemala. Program Studi Jantung dan Pembuluh Darah. Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Ae RSUD Dr. Saiful Anwar Provinsi Jawa Timur. Indonesia Email: yuke_fawziah@student. ABSTRAK Trombosis vena dalam (TVD) merujuk pada pembekuan darah di vena dalam, sehingga berpotensi menyebabkan gangguan aliran darah ke jantung. Secara anatomis. TVD dibedakan menjadi TVD ekstremitas atas dan bawah. Suatu studi di USA melaporkan 000Ae425. 000 kasus baru tromboemboli vena terdiagnosis per tahunnya dan 50/100. 000 kasus merupakan kejadian TVD. Patofisiologi TVD sesuai dengan teori Triad of Virchow yang mencakup hiperkoagulabilitas, stasis dan cedera dinding pembuluh darah. Penegakkan diagnosis TVD dilakukan melalui temuan manifestasi klinis atau perhitungan skoring probabilitis, disertai pemeriksaan laboratorium seperti D-dimer dan pencitraan mencakup ultrasonografi vena. Computed Tomography Venography (CTV), maupun Magnetic Resonance Venography (MRV). Tatalaksana TVD dapat berdasar pada onset gejala, yaitu akut, subakut dan kronik. Sebab, penanganan segera pada fase akut dapat mengurangi insidensi rekurensi, emboli paru dan perdarahan mayor. Jenis tatalaksana TVD dapat dibedakan menjadi tatalaksana non-invasif dan invasif seperti tindakan endovaskular dan pembedahan, di mana tatalaksana non-invasif mencakup terapi antikoagulan sistemik dan terapi kompresi stoking. Jika tidak didapatkan kontraindikasi trombolisis, dapat dilakukan teknik endovaskular, seperti Catheter-directed thrombolysis (CDT). Percutaneous Mechanical Thrombectomy (PMT). Pharmacomecanical Catheter-Directed Thrombolysis (PCDT). pemasangan stent. serta filter IVC/SVC. Teknik operatif menjadi pilihan jika tatalaksana konservatif tidak berhasil dilakukan, adanya risiko emboli paru yang fatal dengan risiko perdarahan rendah, atau mengalami sindrom post-trombotik yang berat. Pilihan teknik pembedahan yaitu: pembedahan trombektomi, pembedahan dekompresi untuk TVD ekstremitas atas serta bypass vena. Apabila mengetahui teknik diagnostik dan indikasi tindakan invasif, diharapkan dapat direncanakan program tatalaksana yang tepat bagi setiap pasien. Sehingga, akan meningkatkan keberhasilan tindakan dan mengurangi komplikasi intrahospital maupun dalam jangka panjang. Kata Kunci: Trombosis vena dalam. trias Virchow. ultrasonografi vena. tindakan endovascular. trombolisis kateter terarah ABSTRACT Deep Vein Thrombosis (DVT) refers to thrombus formation in the deep vein, usually legs, which causes inflammation, and potentially causing disruption of blood flow. Anatomically. DVT is classified as upper and lower extremity DVT. A study in the USA reported 375,000Ae425,000 new cases of VTE diagnosed per year, of which 50/100,000 cases were DVT. Pathophysiology of DVT is closely related to the Triad of Virchow, i. hypercoagulability, stasis and endothelial injury. Establishing DVT diagnosis comprises finding clinical presentation or calculating probability pre-test score, obtaining laboratory examinations, such as D-dimer and imaging test. Venous ultrasound is the gold standard for highly-suspected DVT, while the others are Computed Tomography Venography (CTV) and Magnetic Kemala YF. Kurnianingsih N. Tindakan Invasif sebagai Pilihan Tatalaksana pada Kasus Trombosis Vena Dalam. JK-RISK. :63-85. DOI:10. 11594/jk-risk. | 63 Kemala YF. Kurnianingsih N Resonance Venography (MRV). The aim of DVT management based on onset, because immediate treatment in the acute phase, known to reduce significantly the incidence of recurrence, pulmonary embolism and major bleeding. DVT treatment can be divided into non-invasive . anticoagulation and stocking compressio. and invasive. If there are no thrombolysis contraindications, endovascular techniques, such as CDT. PMT. PCDT. as well as IVC/SVC filter placement are recommended. Meanwhile, surgical techniques . surgical thrombectomy. surgical decompression and vein bypas. are an option if conservative management is unsuccessful, high-risked of life-threatening pulmonary embolism with a low-risk of bleeding, or has severe PTS. By knowing the diagnostic techniques and indications of invasive treatments, it is prospected to plan the appropriate management for each patient, so that increases the successful rate as well as reduce intrahospital and long-term complications. Keywords: Deep vein thrombosis (DVT). triad of Virchow. doppler ultrasound. endovascular treatment. catheter-directed thrombolysis (CDT) PENDAHULUAN Trombosis vena dalam atau Deep Vein Thrombosis (DVT) merujuk pada pembekuan darah di dalam vena, utamanya bagian kaki. Selain DVT ekstremitas bawah, terdapat DVT ekstremitas atas yang melibatkan vena aksilaris dan lebih proksimal. Namun. DVT ekstremitas atas masih jarang dikenali, sehingga penatalaksanaan yang diberikan tidak agresif. 2 Prevalensi DVT dilaporkan mencakup 2/3 dari keseluruhan kasus penyakit tromboemboli vena (Venous Thromboembolism/ VTE). Kejadian VTE meningkat seiring bertambahnya usia dengan tingkat prevalensi serupa selama 25 tahun terakhir. 3 Tingkat insidensi DVT bervariasi antar etnis, yaitu lebih rendah pada orang Asia dan Hispanik dibandingkan dengan Kaukasia. Latin keturunan Afrika dan populasi Asia-Pasifik. Studi populasi di Eropa menyebutkan insidensi DVT sekitar 70Ae140/100. 000 populasi per tahunnya. 3 Rasio pada wanita usia 45Ae60 tahun didapatkan lebih tinggi, dibandingkan pada pria tanpa perbedaan khusus di kelompok usia tertentu. Selain itu, didapatkan kejadian DVT sejumlah 10/1000 pada pasien bedridden dalam masa perawatan inap. 1,4 DVT ekstremitas atas diperkirakan memiliki proporsi 4Ae10%, dengan tipe sekunder mencapai 80% dari keseluruhan kasus. 5Ae7 DVT ekstremitas atas juga memiliki risiko yang besar terjadinya emboli paru (Pulmonary Embolism/PE), kematian, serta memerlukan tatalaksana jangka panjang untuk mencegah rekurensi. Dalam studi registri RIETE, dilaporkan angka kematian DVT ekstremitas atas dan bawah dalam onset 3 bulan adalah 11% dan Bahkan, didapatkan peningkatan angka kematian dan prognosis pada pasien DVT ekstremitas atas dengan komorbid kanker dan penggunaan kateter vena sentral (Central Venous Catheter/CVC), yaitu 16% dan 28% secara berurutan (Gambar . Gambar 1. Grafik Tingkat Kematian pada Populasi DVT berdasarkan Data Studi Registri RIETE (Diadaptasi dari Clinical Outcome of Patients with Upper-Extremity Deep Vein Thrombosis: Results from the RIETE Registry oleh Munoz FJ, et al. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 64 Kemala YF. Kurnianingsih N Biaya penanganan dan tatalaksana DVT serta emboli paru cukup besar, terutama dalam masa rawat inap dan rekurensi. 11 Studi pada pasien dengan emboli paru akut di Boston. USA tahun 2003Ae2010 menunjukkan dalam rerata 4 hari perawatan di rumah sakit, didapatkan total biaya perawatan sekitar $8. 764 per pasien. 12 Meskipun belum banyak laporan mengenai angka kejadian DVT di Indonesia, penelitian oleh Yaznil . melaporkan prevalensi DVT pada pasien dengan tumor ginekologi berat sejumlah 149/1000 populasi. Dalam jurnal ini, kami akan menjelaskan mengenai penyakit DVT, mencakup aspek epidemiologi, patofisiologi, faktor risiko, klasifikasi, gejala dan tanda, metode penegakkan diagnosis, tatalaksana, serta komplikasi yang mungkin terjadi. Khususnya pembahasan mengenai pilihan tatalaksana invasif pada pasien DVT, sehingga diharapkan selanjutnya dapat membantu meningkatkan mutu pelayanan, merancang perawatan intrahospital bagi pasien, serta mengurangi risiko komplikasi. PATOFISIOLOGI Terjadinya DVT memiliki kaitan erat dengan teori Triad of Virchow (Gambar . , yaitu mencakup:13 . Peningkatan viskositas darah dan komponen di dalamnya, termasuk sitokin dan faktor protrombin, akan mengaktivasi peningkatan jumlah adesi platelet. serta perubahan kaskade koagulasi sehingga meningkatkan risiko hiperkoagulabilitas atau trombosis. Gambar 3. Ilustrasi Patogenesis Trombus/Emboli pada Vena (Diadaptasi dari Chapter 17 Deep Vein Thrombosis. In: Vascular Surgery: Made Easy oleh Kalbande MB. Gangguan aliran darah vena yaitu Kondisi imobilisasi lebih dari 3 hari atau duduk dengan kaki menggantung lebih dari 7 jam dapat meningkatkan risiko DVT. Selain itu, kondisi stasis dapat disebabkan kompresi eksternal oleh aneurisma, obstruksi tumor atau penekanan arteri ilaka komunis kanan ke sistem vena seperti pada May-Thurner Syndrome. Kerusakan pada endotel pembuluh darah akibat merokok, hipertensi, aterosklerosis, trauma, atau prosedur pembedahan, dapat meningkatkan risiko trombosis atau hiperkoagulabilitas. FAKTOR RISIKO Gambar 2. Kaskade Triad of Virchow (Diadaptasi dari Diagnosis and Management of Deep Vein Thrombosis in Pregnancy oleh Khan F, et al. DVT merupakan kondisi kompleks yang melibatkan interaksi beberapa faktor Di mana mayoritas bersifat herediter atau kronis, yang diperberat oleh faktor risiko didapat. 16,17 JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 65 Kemala YF. Kurnianingsih N Faktor risiko trombosis pada DVT ekstremitas atas umumnya kombinasi dari inflamasi dinding pembuluh darah akibat insersi benda asing seperti CVC atau kabel alat pacu jantung, serta kondisi hiperkoagula- bilitas terkait keganasan. 18 Dilaporkan lebih dari 50% pasien dengan DVT ekstremitas atas, memiliki riwayat pemasangan CVC atau dekat dengan area pemasangan alat pacu 16,17 Tabel 1. Faktor Risiko Kejadian VTE Pertama Kali (Diadaptasi dari Management of Deep Vein Thrombosis: An Update Based on the Revised AWMF S2k Guideline oleh Linnemann B, et al. Berdasarkan laporan studi oleh Mino et al. , sekitar 53,8% pasien mengalami DVT ekstremitas atas setelah menjalani prosedur pembedahan, di mana prevalensi pada DVT esktremitas bawah sejumlah 35,9%. KLASIFIKASI Dari segi anatomi. DVT terbagi berdasarkan area vena yang terlibat, yaitu:21 Proksimal, mencakup regio aksilaris. atau ekstensinya pada DVT ekstremitas atas22 dan vena iliaka, femoralis, atau poplitea pada DVT ekstremitas bawah. Meskipun. DVT proksimal mungkin terjadi bersamaan dengan distal Distal, trombosis terbatas pada brakialis dan area lebih distal22 pada ekstremitas atas dan area betis atau di bawah lutut . elow-the-knee DVT) pada ekstremitas bawah Berdasarkan durasi dari onset gejala. DVT dapat dibedakan menjadi:23 Akut, gejala dirasakan sejak kurang dari 14 hari disertai hasil trombosis akut dari modalitas pencitraan. Subakut, gejala telah muncul selama 15Ae28 hari dengan hasil pencitraan menunjukkan trombosis subakut. Kronik, gejala dirasakan selama lebih dari 28 hari. Namun, beberapa kasus DVT akut didapatkan didahului oleh DVT subakut ataupun kronik. Penentuan onset DVT sangat tatalaksana lanjut. Dari segi etiologi. DVT dikategorikan berdasarkan faktor risiko terkait:21 DVT yang tidak terprovokasi . nprovoked DVT), terjadi tanpa adanya faktor risiko yang jelas mendasari DVT terprovokasi . rovoked DVT), terjadi karena faktor risiko sementara atau menetap, serta mayor atau minor. Hal ini akan mempengaruhi risiko kekambuhan dan rencana pengobatan. Sebagai contoh. DVT yang diprovokasi JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 66 Kemala YF. Kurnianingsih N faktor risiko transien seperti trauma cenderung rendah setelah antikoagulan dihentikan. Sebaliknya. DVT yang disebabkan faktor risiko persisten seperti keganasan memiliki risiko kekambuhan lebih tinggi meskipun dalam kondisi sama. Sebagai tambahan, etiologi DVT ekstremitas atas dapat dikategorikan menjadi 2, yaitu (Gambar . Primer, terjadi tanpa faktor risiko klinis bermakna . diopathic thrombosi. atau setelah melakukan aktivitas fisik yang berat . ffort thrombosi. Sehingga, perlu dilakukan identifikasi risiko keganasan. 24,25 Trombosis paska aktivitas berat yang berulang, seperti angkat beban, melempar bola, atau mengangkat tangan di atas kepala seringkali berkenaan dengan sindroma outlet toraks (Venous Thoracic Outlet Syndrome/VTOS) pada PSS (Paget von-Scroetter Syndrom. Tipe ini umumnya terjadi pada kelompok usia muda yang produktif dengan komplikasi utama sindroma paska trombotik (Post Thrombotic Syndrome/PTS). Sekunder, seringkali terjadi pada kelompok usia tua dengan komorbiditas tertentu, utamanya berkenaan dengan akses CVC jangka lama, keganasan dan pemasangan alat pacu jantung. Dilaporkan adanya peningkatan angka kematian pada kelompok berikut, terkait prognosis yang lebih buruk. Gambar 4. Bagan Klasifikasi DVT Ekstremitas Atas berdasarkan Faktor Risiko (Diadaptasi dari Upper Extremity Deep Venous Thrombosis. Vascular Medicine oleh Czihal M, et al . Pentingnya menentukan klasifikasi DVT terletak pada perbedaan risiko terjadinya emboli paru. PTS dan prognosis yang bergantung pada area vena yang terlibat. Di mana insidensi emboli paru dan tingkat mortalitas lebih besar pada DVT proksimal. GEJALA DAN TANDA Gejala dan tanda DVT umumnya memberat apabila trombosis meluas ke arah proksimal, menandakan obstruksi aliran darah yang lebih besar dengan gangguan hemodinamik. Gambar 5. Ilustrasi Presentasi Klinis DVT pada Tungkai Kanan Pasien27 JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 67 Kemala YF. Kurnianingsih N Pada DVT ekstremitas bawah. DVT iliofemoral cenderung memiliki gejala terberat. 28 Keluhan dan gejala DVT dapat melibatkan nyeri, yang tidak berkaitan dengan besar dan luas trombus. Intensitas nyeri dapat bervariasi dan akan berkurang saat istirahat dengan posisi tungkai ditinggikan. Gejala nyeri umumnya berkurang ketika reaksi inflamasi menurun dan menghilang jika terbentuk rekanalisasi vena tanpa kerusakan struktural. Tingkat rekanalisasi dilaporkan sekitar 80% pada vena area betis dan hanya 20% pada area iliaka. Pembengkakan tungkai dapat dirasakan akibat sumbatan vena bagian proksimal dan peradangan jaringan perivaskular. Pembengkakan seringkali bertambah saat pasien berjalan dan berkurang saat istirahat. Presentasi klinis memberat saat didapatkan oklusi luas pada vena mayor. Sebagai contoh, trombosis vena femoralis komunis dan vena ilaka eksterna yang mengganggu seluruh aliran darah pada vena dalam maupun superfisial, dapat menyebabkan perubahan warna kulit menjadi pucat atau keunguan . Ae 20%), disertai perabaan kult terasa dingin, serta spasme arteri, yang dikenal sebagai phlegmasia cerulea dolens (PCD). 1,30 Pasien dengan DVT ekstremitas atas umumnya melakukan pemeriksaan karena pembengkakan lengan disertai rasa tidak nyaman atau nyeri. 17,31 Keluhan mungkin disertai sianosis, munculnya vena-vena kolateral yang tampak di area korset bahu. distensi vena jugular seperti tampak pada Gambar 6. 32 Sebagian besar kasus DVT ekstremitas atas terkait dengan pemasangan CVC dalam jangka panjang, di mana bersifat subklinis dan jusru ditemukan saat mengidentifikasi kondisi sepsis, didapatkan gangguan akses, atau bahkan setelah terjadi emboli paru. Gambar 6. Ilustrasi Presentasi Klinis DVT pada Lengan Atas Kiri yang disertai Dilatasi Vena Kolateral Subkutan9 Beberapa gejala klinis tidak khas adalah rasa tegang pada leher dengan nyeri terlokalisir pada bahu jika trombosis terjadi di area vena subklavia atau aksilaris. Parestesia pada lengan juga dilaporkan pada beberapa 34,35 Demam ringan mungkin didapatkan, namun demam tinggi cenderung menunjukkan kondisi sepsis. 18 DVT ekstremitas atas bilateral merupakan kondisi tipikal yang dapat terjadi pada pasien dengan keganasan. Sebagian besar obstruksi vena pada regio toraks bersifat asimptomatik, di mana aktivitas berat dapat memicu terjadinya Umumnya. VTOS memiliki gejala neurologis akibat kompresi pada pleksus brakialis . ebih dari 90%), berupa nyeri atau parastesis pada lengan disertai penjalaran ke jari keempat dan kelima yang memberat dengan gerakan hiperabduksi bahu. DIAGNOSIS Skrining Probabilitas Klinis Beberapa presentasi klinis yang berat dapat dinyatakan sugestif DVT, meskipun belum dapat menegakkan diagnosis. Perhitungan skoring yang telah tervalidasi, seperti WellAos score for DVT dapat membantu menentukan probabilitas menderita DVT, sehingga klinisi dapat segera merencanakan pemeriksaan penunjang. 37,38 JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 68 Kemala YF. Kurnianingsih N Tabel 2. WellAos score untuk Membantu Menentukan Risiko DVT (Diadaptasi dari European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2021 Clinical Practice Guidelines on the Management of Venous Thrombosis oleh Kakkos SK et al. WellAos score menilai faktor risiko seperti keganasan atau bedridden. adanya tanda seperti pembengkakan tungkai, pembengkakan betis secara unilateral. hingga gangguan motorik pada tungkai yang terlibat. Sebagai interpretasi, probabilitas DVT dikategorikan menjadi 2 model yang ditampilkan pada Tabel 3. Tabel 3. Interpretasi WellAos score untuk Menentukan Risiko DVT (Diadaptasi dari European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2021 Clinical Practice Guidelines on the Management of Venous Thrombosis oleh Kakkos SK et al. Sedangkan Gambar 7 menunjukkan metode skoring untuk kecurigaan DVT ekstremitas atas dalam alur penegakan diagnosis berdasarkan Kriteria Constans. mana nilai 0 menunjukkan risiko rendah DVT. nilai 1 menunjukkan risiko sedang DVT. dan > 2 adalah risiko tinggi DVT. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 69 Kemala YF. Kurnianingsih N Gambar 7. Algoritma Penegakan Diagnosis DVT Ekstremitas Atas berdasarkan Kriteria Constans (Diadaptasi dari Deep Vein Thrombosis of the Upper Extremity oleh Heil J et al41,. Pemeriksaan riwayat kesehatan yang cermat diperlukan dalam skrining VTOS, dibantu tes klinis provokatif seperti tes latihan militer (EdenAos tes. dan tes hiperabduksi . anuver Wrigh. Tes Eden dapat menilai kompresi kostoklavikula, yaitu pasien diminta menarik nafas dalam dan mengangkat bahu, sementara pemeriksa akan menarik lengan turun. Sedangkan manuver Wright dapat mendeteksi kompresi kostopektoral melalui rotasi eksternal Namun, keakuratan diagnostik dari manuver-manuver tersebut masih belum dapat dijadikan gold standard dengan sensitivitas sebesar 73% dan spesifisitas 53%. Selain itu, hasil positif ditunjukkan secara tidak langsung melalui timbulnya gejala neurologis, redaman denyut nadi, atau bruit pada arteri subklavia. Pemeriksaan Laboratorium penegakkan diagnosis DVT. Pasien dengan risiko tinggi DVT, dapat dilakukan pencitraan tanpa pemeriksaan D-dimer, dan terapi antikoagulan harus segera dimulai, jika tidak ada kontraindikasi. D-dimer adalah produk degradasi fibrin yang meningkat saat didapatkan gumpalan darah dalam sirkulasi dengan sensitivitas pemeriksaan mencapai 95% dan perkiraan nilai negatif 99Ae100%. Sedangkan spesifisitasnya tergolong rendah . Ae55%), sebab terdapat peningkatan pada kondisi lainnya, seperti: infeksi, kanker dan kehamilan. Berbeda dengan DVT ekstremitas bawah, pemeriksaan D-dimer untuk menegakkan DVT ekstremitas atas masih belum banyak diuji secara klinis. Namun, suatu studi melaporkan bahwa spesifisitas pemeriksaan D-dimer adalah 14F dengan rekomendasi pemeriksaan penunjang utama adalah pencitraan. Perhitungan skoring probabilitas merupakan langkah pertama dalam JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 70 Kemala YF. Kurnianingsih N Gambar 8. Rekomendasi Alur Identifikasi dan Penegakan Diagnosis DVT (Diadaptasi dari European Society for Vascular Surgery (ESVS) 2021 Clinical Practice Guidelines on the Management of Venous Thrombosis oleh Kakkos SK et al. Pencitraan Pemeriksaan radiologi berperan penting dalam identifikasi trombus. Ultrasonografi vena menjadi lini pertama dengan sensitivitas tinggi. Sedangkan pemeriksaan venografi seperti CTV dan MRV direkomendasikan jika hasil pemeriksaan lain belum mampu menegakkan diagnosis. Ultrasonografi Vena atau Doppler Ultrasound Pemeriksaan ultrasonografi menjadi lini pertama dalam penegakkan DVT dengan nilai sensitivitas 97% dan spesifisitas 96%. 35 Selain tersedia di banyak menggunakan alat yang portable, prosedur non-invasif, biaya terjangkau dan tanpa paparan radiasi. Gambar 9. Prosedur Pemeriksaan Doppler Ultrasound pada DVT Ekstremitas Bawah (Diadaptasi dari Management of Deep Vein Thrombosis: An Update Based on the Revised AWMF S2k Guideline oleh Linnemann B et al. Ultrasonografi dapat dilakukan pada pasien dengan keluhan, untuk mengidentifikasi adanya Compression Ultrasound Scanning (CUS) melakukan pemeriksaan Whole Leg Ultrasound Scanning (WLUS) pada JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 71 Kemala YF. Kurnianingsih N DVT 45,49 Karena alasan anatomi. CUS sulit dilakukan pada lesi di vena brakiosefalika proksimal dan subklavia, sehingga disarankan menggunakan Doppler ultrasound. Gambar 11. Hasil CT scan . otongan longitudina. Tampak trombus pada persimpangan vena subklavia kanan dan vena cava superior . 40 Gambar 10. Gambaran Sonografi pada DVT Ekstremitas atas. Tampak trombus pada vena subklavia kiri hampir menyebabkan obtruksi total pada lumen . 40 CT Venography (CTV) CT venography dianggap efektif untuk menegakkan diagnosis DVT pada area proksimal, serta memiliki kelebihan dibandingkan ultrasonografi dalam pemeriksaan vena regio pelvis. IVC, atau SVC Bahkan CTV maupun MRV dapat mengidentifikasi penyebab medis lain, seperti kanker, adenopati, atau abnormalitas anatomi seperti VTOS. Resolusi spasial yang canggih dapat membantu menentukan tindakan endovaskular atau operatif. Gambaran yang didapatkan adalah segmen vena tidak terisi aliran kontras . illing defec. akibat trombus. 9 Namun, pemeriksaan CTV cenderung mahal, membutuhkan kontras iodin dan terdapat paparan radiasi. CTV memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi, sehingga banyak disarankan sebagai modalitas penegakan DVT ekstremitas atas. Terlebih. CTV memungkinkan pemeriksaan kedua lengan secara bersamaan, untuk mengevaluasi aliran vena dari area kepala serta perluasan trombus (Gambar Magnetic Resonance Venography (MRV) Peran MRV dalam penegakan diagnosis DVT masih belum banyak dijelaskan pada literatur. Meskipun didapatkan laporan dalam systematic review dan meta-analysis mengenai sensitivitas dan spesifisitas yang setara dengan ultrasonografi. Serupa dengan CTV. MRV memiliki kelebihan untuk mengevaluasi vena regio pelvis atau IVC, bahkan mendeteksi kondisi lain yang mungkin menyebabkan nyeri atau bengkak. Namun. MRV cenderung mahal dan membutuhkan kontras dengan risiko paparan radiasi. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 72 Kemala YF. Kurnianingsih N MANAJEMEN NON-INVASIF Antkoagulan Tujuan tatalaksana DVT dapat dibagi berdasarkan onset, yaitu saat fase akut dan subakut, serta fase prevensi sekunder saat fase kronik. 52 Meskipun antikoagulan sistemik tidak memiliki efek terapi langsung seperti melisiskan trombus, namun terbukti mampu mengatasi gejala DVT, mengurangi risiko progresivitas penyakit, bahkan mencegah emboli paru dan rekurensi. Terapi antikoagulan harus dimulai segera setelah dicurigai adanya DVT, sebelum tes diagnostik ulang, terutama dengan posibilitas hasil positif yang tinggi atau kemungkinan hasil tes diagnostik tertunda. The American Society of Hematology merekomendasikan penggunaan antikoagulan dilanjutkan selama 3 bulan setelah tindakan operatif, menggunakan agen Faktor Xa antagonis seperti rivaroxaban (Xarelt. , apixaban (Eliqui. atau fondaparinux subkutan (Arixtr. Selain itu, pemberian dabigatran, rivaroxaban, apixaban atau edoxaban yang dikenal sebagai DOAC (Direct Oral Anticoagulant. lebih direkomendasikan dibandingkan warfarin. Pasien dengan indikasi penggunaan antikoagulan dalam jangka panjang, perlu diberikan terapi sesuai toleransinya. Pasien dengan terapi antikoagulan sebaiknya mendapatkan observasi tandatanda perdarahan dan trombositopenia yang terinduksi heparin . eparin-induced thrombocytopenia/ HIT), yaitu suatu komplikasi yang cukup fatal meskipun memiliki tingkat insidensi rendah. Pemantauan HIT memerlukan pengukuran jumlah trombosit pada awal terapi heparin, dan pemeriksaam ulang setiap 3Ae5 hari. Berdasarkan panduan konsensus tahun 2012 oleh The American College of Chest Physicians,52 direkomendasikan penggunaan LMWH. UFH, atau fondaparinux sebagai inisiasi terapi antikoagulan, diikuti vitamin K antagonis selama 3 bulan pada DVT ekstremitas atas idiopatik yang melibatkan vena aksilaris atau lebih proksimal. Manfaat antikoagulan masih belum banyak diteliti pada kasus trombosis terisolasi vena Namun, direkomendasikan pada pasien dengan gejala atau riwayat penggunaan CVC. Berbeda dengan DVT ekstremitas bawah, tidak direkomendasikan penggunaan antikoagulan lebih dari 3 bulan pada DVT ekstremitas atas. Terapi Kompresi Menggunakan Stoking Berdasarkan tinjauan yang dilakukan oleh Cochrane, terapi kompresi pada DVT mampu mengurangi insidensi PTS dengan RR: 0,62. 95% dan CI: 0,38Ae1,01. 54 Namun, suatu RCT melaporkan insidensi PTS paska DVT pada regio proksimal sebesar 50:50. 55,56 Di mana manfaat terapi kompresi hanya dapat tercapai jika dilakukan secara konsisten, segera setelah diagnosis DVT ditegakkan. 57,58 Keefektifan terapi kompresi untuk mencegah PTS pada DVT ekstremitas atas masih belum jelas dan tidak direkomendasikan dalam konsensus. 52,59 Penggunaan kompresi lengan elastis hanya disarankan untuk pasien dengan gejala persisten PTS. MANAJEMEN INVASIF Pada pasien dengan DVT akut, pemberian terapi antikoagulan yang adekuat diperlukan untuk mencegah emboli paru. Namun, antikoagulan saja tidak mampu mengembalikan fungsional vena, sehingga masih didapatkan risiko PTS. Dalam studi terkini, trombektomi dilaporkan mampu mengatasi gejala akut pada pasien DVT, menjaga struktur pembuluh darah dan mencegah PTS. 60,61 Sejumlah besar studi retrospektif melaporkan keberhasilan tindakan yang baik dari trombolitik mandiri maupun diikuti dekompresi bedah dan/atau angioplasti transluminal perkutan dengan atau tanpa pemasangan stent pada vena subklavia. 25,62 JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 73 Kemala YF. Kurnianingsih N Namun, pada DVT ekstremitas atas yang berhubungan dengan obstruksi vena cava superior akut, tindakan trombolitik disertai angioplasti dan pemasangan stent lebih disarankan. Tabel 4. Rekomendasi Pilihan Tindakan Endovaskular pada Pasien dengan DVT (Diadaptasi dari Treatment for Lower Extremity Deep Vein Thrombosis: An Overview oleh Kim KA et al . Tindakan endovaskular diindikasikan, terlebih pada DVT akut proksimal dengan lesi masif, seperti pada iliofemoral, femoropopliteal, atau subklavia yang disertai pembengkakan berat (Tabel . 52,63,64 Selain itu, kasus DVT dengan PCD memerlukan tindakan evakuasi trombus segera. 65 Tindakan endovaskular tidak direkomendasikan pada kasus DVT distal terisolasi dan lebih direkomendasikan penggunaan antikoagulan, karena memiliki risiko PE yang lebih Risiko perdarahan perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan tindakan endovaskular, karena risiko perdarahan lebih besar setelah diberikan agen trombolitik. 63,66 Tabel 5 di bawah ini merangkum kontraindikasi terapi trombolitik pada pasien DVT. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 74 Kemala YF. Kurnianingsih N Tabel 5. Daftar Kontraindikasi Absolut dan Relatif dari Terapi Trombolitik pada DVT (Diadaptasi dari Treatment for Lower Extremity Deep Vein Thrombosis: An Overview oleh Kim KA et al. Tindakan Endovaskular Catheter-directed Thrombolysis (CDT) CDT merujuk pada administrasi lambat agen trombolitik menuju ke trombus melalui infus intratrombus selama beberapa jam menggunakan kateter infus side hole. Insersi kateter umumnya melalui akses vena poplitea dari ekstremitas yang terlibat, menggunakan panduan ultrasonografi. CDT memiliki tingkat keberhasilan yang lebih besar dibandingkan penggunaan antikoagulan sistemik dalam mencegah 68 Bahkan beberapa rumah sakit telah memiliki sistem penatalaksanaan nyeri iliofemoral akut menggunakan CDT pharmaco-mechanical. Idealnya, vena di bawah segmen dengan trombosis akan dipilih sebagai akses, menggunakan jarum mikropunktur 21-G dan wire dengan diameter 0,018 inchi, yang nantinya akan digantikan dengan vascular sheath mikropunktur ukuran 5-F. Sistem menggunakan guidewire hidrofilik ukuran 0,035 inchi dan kateter 5-F. Selanjutnya, kateter infus side hole ukuran 5-F dimasukkan melewati trombus untuk mengadministrasikan agen trombolitik. Dalam beberapa kasus, sebelum insersi kateter side hole, agen trombolitik dosis bolus . ,5Ae10 m. diberikan terarah pada trombus untuk menghasilkan fragmentasi trombus dan memaksimalkan efek trombolitik. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 75 Kemala YF. Kurnianingsih N Gambar 12. Ilustrasi Insersi Kateter pada Kasus Trombus Vena Iliaka Komunis Sebagian besar kasus DVT proksimal masif, memerlukan kateter side hole tambahan untuk menutupi seluruh panjang trombus. Sehingga, dibuat beberapa side hole tambahan pada vascular sheath berjarak 1Ae2 cm menggunakan jarum ukuran 25G. Sehingga, agen trombolitik dapat diinjeksikan secara simultan pada vascular sheath. 71,72 Agen litik yang umum digunakan adalah urokinase atau recombinant tissue plasminogen activator . tPA)70 yang dilarutkan dalam normal saline, kemudian diberikan melalui infus bersama UFH atau LWMH . esuai dengan dosis berdasarkan berat bada. Pemberian plasminogen activator dan volume infus bervariasi pada berbagai literatur mulai dari 20Ae120 mL, namun rtPA tidak boleh melebihi 1 mg/jam. Meskipun masih belum ada konsensus yang menetapkan agen trombolitik optimal, umumnya digunakan alteplase dengan dosis 0,5Ae1,0 mg/jam. rekomendasi reteplase dengan dosis 0,25Ae0,75 unit/jam. dan TNK sebesar 0,25Ae0,5 mg/jam untuk tindakan CDT. 71,72 Gambar 13. Ilustrasi Pembuatan Kateter Lubang Samping pada Vascular Sheath pada Kasus DVT Proksimal yang Masif Setelah 12Ae24 jam agen trombolitik diberikan secara kontinyu, dilakukan venografi evaluasi untuk menentukan diperlukannya pemberian injeksi agen trombolitik lanjutan. Jika hasil venografi menunjukkan lisis trombus yang sempurna, infus akan Sedangkan jika hanya didapatkan lisis sebagian, kateter akan direposisi dan infus agen trombolitik dilanjutkan, sehingga dapat mengenai trombus yang tersisa dengan tepat. Selain itu, nilai fibrinogen perlu dievaluasi berkala selama agen trombolitik diberikan secara kontinyu untuk menyesuaikan dosis, dengan target fibrinogen >100Ae150 mg/dL. Komplikasi pendarahan mayor seperti pendarahan intrakranial atau pendarahan yang memerlukan terapi transfusi, seringkali terjadi setelah tindakan CDT dibandingkan pada pasien dengan terapi antikoagulan. Namun, 74,75 dilaporkan <7%. Bahkan, studi lain melaporkan pendarahan mayor paska CDT sejumlah 2,2Ae3,3%. 75,76 Tindakan CDT dan PMT dapat dilakukan sebagai tatalaksana endovaskular pada DVT ekstremitas atas. 34 Namun, sebagian besar studi acak terandomisasi hanya JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 76 Kemala YF. Kurnianingsih N melaporkan hasil tindakan pada DVT ekstremitas bawah. Seperti Enden dkk. melaporkan 65,9% pasien mengalami restorasi aliran darah setelah menjalani CDT sejumlah 47,4% yang mendapatkan antikoagulan saja. Selain itu, insidensi PTS dalam 2 tahun adalah 41,1% pada pasien yang menjalani CDT dengan antikoagulasi, dibandingkan sejumlah 55,6% pasien dengan antikoagulasi. 66 Dengan catatan, antikoagulasi perlu dilanjutkan hingga 3 bulan setelah CDT berhasil dilakukan. Trombektomi Mekanis Perkutan (Percutaneous Mechanical Thrombectomy/PMT) Trombolisis Farmakomekanik dengan Kateter (Pharmacomecanical Catheter-directed Thrombolysis/PCDT) PMT merupakan prosedur evakuasi trombus menggunakan alat kateter perkutan melalui fragmentasi, maserasi dan/atau aspirasi, tanpa pemberian agen trombolitik. Sedangkan PCDT adalah tindakan disolusi trombus melalui CDT dan PMT secara bersamaan. 23,63 Kedua prosedur tersebut membantu mengurangi kebutuhan agen trombolitik dan total waktu tatalaksana dibandingkan CDT saja. Langkah awal tindakan menyerupai CDT, di mana kateter trombektomi mekanis akan diinsersikan, umumnya secara antegrade melalui distal daripada vena yang terlibat dengan panduan ultrasonografi. Pada beberapa kasus, vena femoralis komunis dapat digunakan sebagai akses insersi kateter. Namun tingkat keberhasilan dan efisiensi PMT/PCDT, meningkat seiring dengan penambahan biaya pengobatan dalam fase rawat inap. Untuk mengatasi, setelah kateter 5AeF diinsersikan melalui vascular sheath, kateter akan diputar ke atas dan bawah di sekitar seluruh area trombus disertai pemberian injeksi agen trombolitik dosis bolus. 70 Setelah didiamkan sekitar 20Ae 30 menit, trombektomi aspirasi dilakukan dengan memberikan tekanan negatif pada kateter lubang besar . inimal ukuran 7AeF), menggunakan jarum suntik luer-lock 50 cc. Pemasangan Stent Pemasangan stent menjadi pilihan pada obstruksi vena iliaka atau IVC, khususnya pada kasus kronik di mana vena yang terlibat hampir teroblitasi. Restorasi ukuran vena yang terdampak sulit dilakukan, karena telah terjadi proliferasi pada tunika intima akibat trombus. Sehingga, aliran darah normal hanya dapat dipulihkan setelah pemasangan stent untuk menopang dinding Stent dengan area bebas yang lebih kecil memiliki presentase cakupan dinding yang lebih besar dan lebih mampu menopang segmen yang terkompresi, sehingga akan memberikan struktur rangka yang cukup. 79 Penempatan stent sangat penting. Apabila stenosis tidak cukup tertutup, stent dapat berpindah ke arah kaudal atau terkompresi menjadi bentuk kerucut, dan memudahkan terjadinya restenosis. Terapi Antikoagulan Bersama dengan Tindakan Endovaskular Terapi antikoagulan harus dilanjutkan sebelum, selama dan setelah evakuasi trombus Umumnya, dosis subterapeutik UFH diberikan dan dilakukan evaluasi aPTT secara berkala untuk memonitor dosis terapeutik. Kecepatan infus antikoagulan diberikan antara 300-500 IU/jam selama pengobatan tanpa pemberian dosis bolus di awal. Selama infus agen trombolitik diberikan, kadar aPPT harus dipertahankan kurang dari 1,5 kali lipat dari nilai kontrol. JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 77 Kemala YF. Kurnianingsih N Pemasangan Inferior/Superior Vena Cava Filter prevalensi emboli paru pada pasien dengan terapi antikoagulan saja. Dosis antikoagulan yang diberikan harus dipastikan sesuai sebelum, selama dan setelah tindakan endovaskular untuk mencegah emboli paru simptomatik terkait 23 Dalam uji coba terandomisasi multisenter yang melibatkan 92 pasien, tidak didapatkan insidensi emboli paru paska CDT dengan pemantauan dosis pemberian antikoagulan. 66 Insidensi emboli paru selama PCDT diketahui tidak melebihi Oleh karena itu, penempatan filter IVC secara rutin sebelum tindakan CDT atau PCDT tidak dianjurkan. 23 Namun, mungkin membantu pada pasien dengan risiko morbiditas besar akibat emboli paru klinis selama tindakan CDT, antara lain pasien dengan sistem kardiopulmoner yang buruk, dalam kondisi syok, atau pasien yang menjalani tindakan PMT tanpa PCDT. Gambar 14. Penempatan Filter IVC Sebelum Evakuasi Trombus dengan Teknik Endovaskular. Seorang wanita berusia 76 tahun datang dengan keluhan pembengkakan pada kaki kanan sejak 3 hari sebelum (A). Venografi ascending menunjukkan defek pengisian multiple di sepanjang vena femoralis . Aliran vena femoralis komunis dan di atas vena yang terdampak masih normal. Venografi tindak lanjut setelah maserasi kateter menggunakan kateter 5-F didapatkan trombus dalam filter IVC . Venografi akhir menunjukkan pengembalian aliran darah vena . C). Filter IVC tidak segera dilepaskan, karena pasien dengan kondisi bedridden. Komplikasi jangka panjang yang mungkin terjadi antara lain: migrasi dari perangkat, embolisasi, fraktur dan rekurensi DVT. Sehingga, filter IVC direkomendasikan untuk segera dilepas setelah PCDT dilakukan. Indikasi pemasangan filter SVC pada DVT ekstremitas atas serupa dengan penggunaan filter IVC pada DVT ekstremitas bawah, dan sebaiknya hanya dipertimbangkan untuk pasien dengan kontraindikasi penggunaan antikoagulan dan risiko tinggi emboli paru. Tindakan Pembedahan Pembedahan Trombektomi . urgical Pilihan tatalaksana DVT dengan antikoagulasi, tindakan endovaskular maupun pembedahan, bergantung pada onset gejala Namun, terdapat beberapa hipotesis terkait penentuan onset gejala klinis, yaitu: gejala memang muncul saat awal onset DVT. perkembangan DVT linier dengan keluhan yang dirasakan dari waktu ke waktu. pemilihan ambang batas waktu sebagai penentu DVT akut dan kronis. Berdasarkan penelitian oleh Foegh P, et al. , ambang batas 14 hari terbukti menjadi parameter onset DVT yang berhubungan dengan pemilihan tatalaksana lanjut. 83 Maka dari itu, diperlukan metode diagnostik non-invasif yang akurat untuk menentukan usia trombus, sehingga membantu klinisi menentukan onset gejala seorang individu. Trombektomi dengan pembiusan total dapat menjadi pilihan tatalaksana DVT akut pada regio iliofemoral, dengan venotomi JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 78 Kemala YF. Kurnianingsih N menggunakan kateter embolektomi Fogarty melalui IVC. Venotomi ekstremitas bawah dapat dilakukan dengan mengevakuasi trombus secara distal dimulai dari kaki, atau dengan kateterisasi dan trombektomi. Namun, saat ini terdapat metode baru berupa stenting vena untuk mengembalikan aliran darah v. iliaka dibandingkan dengan pembuatan fistula arteriovenal di area inguinal. Selain itu, pemasangan filter IVC sebelum pembedahan trombektomi masih menjadi pilihan, meskipun belum banyak studi yang membahas manfaat dan efikasi tindakan tersebut. Suatu studi komparatif yang baru ini dilakukan, tidak didapatkan perbedaan manfaat yang bermakna antara pembedahan trombektomi pada 40 pasien dibandingkan dengan trombolisis pada 31 pasien, termasuk tindakan pemasangan stent. Dalam masa 2 tahun evaluasi, sebanyak 85% pasien dalam kelompok pembedahan trombektomi dan 87% dalam kelompok trombolisis dilaporkan tidak mengalami PTS84 dan tidak ada insiden kematian pada kedua kelompok Surgical Decompression Program fisioterapi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan DVT ekstremitas atas akibat PSS untuk mengurangi gejala. Jika gejala menetap dengan hasil venografi menunjukkan pengurangan stenosis dari vena subklavia, maka pembedahan dekompresi perlu dipertimbangkan. Operasi Bypass Vena (Venous Bypass Surger. Pasien dengan DVT kronis, khususnya disertai komplikasi PTS berat, direkomendasikan menjalani prosedur bypass vena untuk mengalihkan aliran darah dari vena yang tersumbat ke vena yang sehat. Beberapa indikasi dari tindakan bypass vena antara lain:85,86 Obstruksi vena kronis yang berat. Pada DVT kronis, oklusi berat pada vena besar seperti vena femoral, iliaka, atau poplitea mungkin memerlukan tindakan bypass untuk mengembalikan aliran darah vena. PTS yang berat seringkali memerlukan tindakan pembedahan untuk mengurangi gejala dan mengembalikan aliran darah, sehingga tidak terjadi ulserasi dan nyeri kronik. Kegagalan tindakan endovascular. DVT akut berat disertai kondisi iskemik yang mengancam nyawa. Terjadinya iskemia tungkai atau gangren akibat trombus masif akan mengobstruksi aliran balik vena dan menekan arteri hingga menyebabkan stenosis berat. Prosedur bypass vena dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau general, bergantung pada kondisi pasien dan pertimbangan dokter spesialis bedah. Langkah-langkah utamanya mencakup:87,88 Persiapan dan sayatan. Operator akan membuat sayatan di atas dan di bawah vena dengan thrombus Pencangkokan. Operator akan mencangkok vena safena besar atau vena lain yang sesuai dari tungkai pasien, jika digunakan vena autologous Pembuatan bypass vena. Operator memposisikan vena cangkok untuk memperkirakan segmen vena tersumbat yang perlu dipotong. Anastomosis dilakukan pada kedua ujung proksimal dan distal dari trombus Penutupan. Setelah memastikan bypass vena paten dan berfungsi baik, sayatan akan ditutup dan pasien dimonitor untuk mengetahui adanya komplikasi setelah tindakan Perawatan pasca operasi. Umumnya diperlukan beberapa hari perawatan inap, disertai terapi kompresi stocking untuk mengatasi pembengkakan dan mendorong pembentukan sirkulasi JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 79 Kemala YF. Kurnianingsih N Terapi antikoagulan akan dilanjutkan untuk mencegah trombosis KOMPLIKASI Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi akibat DVT meliputi: Emboli Paru (Pulmonary Embolism/PE) merupakan komplikasi paling serius yang berakibat fatal jika tidak segera Ketika trombosis terlepas dan bergerak mengikuti sirkulasi ke paru, dapat menyebabkan penyumbatan arteri paru. Gejala PE mencakup sesak napas mendalam, nyeri dada, pusing, hingga kehilangan kesadaran. Prevalensi PE lebih besar dan lebih berat pada DVT ekstremitas atas yang melibatkan vena aksilaris atau lebih proksimal dibandingkan pada vena 52 Selain itu, prevalensi PE dengan hemodinamik tidak stabil lebih besar pada pasien dengan DVT ekstremitas atas dibandingkan dengan bawah . ,2% vs 3,6%. p<0,. Sindrom Post-Trombotik (PTS) suatu obstruksi vena yang disertai refluks dapat berkembang menjadi PTS. Tanda awal PTS umumnya muncul dalam 3 bulan setelah onset DVT dan mungkin memberat dalam hitungan tahun. Sedangkan gejala jangka panjang PTS yaitu: nyeri, pembengkakan, kulit menghitam serta luka yang sulit sembuh. Insidensi PTS pada DVT ekstremitas atas mencapai 20% pada pasien yang telah menjalani perawatan. Berbeda dengan DVT ekstremitas bawah, terapi kompresi lengan pada DVT ekstremitas atas untuk mencegah PTS tidak direkomendasikan karena masih belum didapatkan bukti cukup terkait efikasi pada populasi luas. Kerusakan Vena Kronis Jika DVT tidak ditangani dengan tepat, dapat terjadi kerusakan pada struktur vena yang menyebabkan gangguan fungsi vena permanen. Sehingga, terjadi peningkatan tekanan di dalam pembuluh darah yang memicu pembengkakan dan masalah sirkulasi Sindrom Vena Cava Superior (SVCS) merupakan komplikasi serius yang jarang terjadi pada DVT ekstremitas 34,90 SVCS dapat terjadi akibat penyebaran trombus yang menyebabkan peningkatan tekanan vena pada regio kepala, leher dan ekstremitas 18,90 Infeksi Jika trombus menyebabkan iritasi atau peradangan pada dinding pembuluh darah, akan terjadi infeksi yang menyebar ke jaringan sekitar. Rekurensi Suatu studi melaporkan bahwa risiko rekurensi DVT ekstremitas atas sekitar 9%, dengan peningkatan risiko pada pasien dengan keganasan . % vs 7,5% dengan HR 2,. ,6. Selain itu, didapatkan peningkatan risiko pada DVT ektremitas atas dengan riwayat pemasangan CVC dan cenderung terjadi pada sisi ipsilateral. 5,19 Pendarahan akibat Pengobatan Antikoagulan Pemberian meningkatkan risiko pendarahan, baik ringan hingga bersifat fatal. Pendarahan yang menyebabkan penurunan Hb hingga lebih dari 3 gr/dL, mengharuskan transfusi dan penghentian antikoagulan, hingga mengganggu hemodinamik, serta mungkin memerlukan tindakan pembedahan dapat dikategorikan mengancam nyawa. RINGKASAN JK-RISK A Vol 5 A Nomor 1 A Oktober 2025 | 80 Kemala YF. Kurnianingsih N Pada pasien dengan DVT akut, pemberian terapi antikoagulan yang adekuat diperlukan untuk mencegah PE. Namun, antikoagulan saja tidak cukup untuk mengembalkan fungsi katup vena. Dalam studi terkini, tatalaksana evakuasi trombus baik melalui tindakan endovaskular maupun pembedahan dilaporkan mampu mengatasi gejala akut, menjaga struktur pembuluh darah dan mencegah PTS. 60,61 Sesuai hasil studi ATTRACT, evakuasi trombus dengan tindakan endovaskular mampu mengurangi insidensi PTS yang berat secara signifikan. 67,75 Sehingga, pasien dapat memperoleh manfaat karena meredakan nyeri, pembengkakan tungkai, mengurangi risiko munculnya gangren vena dan meningkatkan kualitas hidup. Oleh karena itu, teknik invasif diharapkan dapat berperan penting dalam pemulihan pasien. DAFTAR PUSTAKA