VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL IDENTIFIKASI TIPOLOGI URBAN SPRAWL PINGGIRAN KOTA (STUDI KASUS DI KECAMATAN KEMILING. BANDAR LAMPUNG) Haarits Bramantya Putra Asya. Marsista Buana Putri. IB Ilham Malik. , dan Zulqadri Ansar. 1, 2, 3, . Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan. Institut Teknologi Sumatera e-mail: haarits. bramantya@gmail. ABSTRAK Perkembangan wilayah memiliki dampak positif akan berkembang maju sosial ekonomi sedangkan dampak negatif akan mengalami kepadatan dan ketidakberaturan jika pedoman perencanaan tidak dilaksanakan dengan baik. Urban sprawl adalah perluasan diluar batas administrasi dikarenakan dampak perkembangan pada wilayah sekitarnya, dalam hal ini dengan mengambil lokasi studi kasus Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analisis spasial, analisis korelasi, dan scoring dengan data diperoleh bersumber pada kelurahan, kecamatan, dan citra satelit google earth. Hasil analisis diketahui lokasi studi kasus dengan jumlah 10 kelurahan/desa, 6 diantaranya mengalami sprawl, 4 diantaranya mengalami normal dan mendekati sprawl, hal tersebut berdasarkan indikator: kepadatan penduduk, kepadatan bangunan, jarak ke pusat kota, pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan, dan pembangunan pola lompatan katak. Kemudian dilakukan perhitungan score indikator tiap kelurahan teridentifikasi sprawl, diperoleh 3 kelurahan termasuk tingkat tinggi, 2 kelurahan termasuk tingkat sedang, dan 1 kelurahan termasuk tingkat rendah, kemudian berdasarkan uji korelasi diperoleh jarak ke pusat kota memiliki korelasi terhadap perkembangan lahan terbangun. Kata Kunci: Kepadatan Penduduk. Analisis Spasial. Faktor Sosial Ekonomi ABSTRACT Regional development has a positive impact on developing socio-economic progress while the negative impact will experience density and irregularity if planning guidelines are not implemented Urban sprawl is an expansion beyond administrative boundaries due to the impact of development on the surrounding area, in this case by taking the location of the case study in Kemiling District and Kurungannyawa Village. This study uses quantitative methods of spatial analysis, correlation analysis, and scoring with data obtained from urban villages, sub-districts, and google earth satellite images. The results of the analysis show that the location of the case studies is 10 kelurahan/village, 6 of them experienced sprawl, 4 of them experienced normal and approaching sprawl, this is based on indicators: population density, building density, distance to the city center, development within the reach of the road network, and development frog jump Then the indicator score was calculated for each sprawl identified kelurahan, obtained 3 kelurahan including high level, 2 kelurahan including medium level, and 1 kelurahan including low level, then based on the correlation test obtained distance to city center have correlation to the development of built up land. Keywords: Population Density. Spatial Analysis. Socioeconomic Factors Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL PENDAHULUAN enurut Hirschman, . menyatakan pengembangan wilayah mempunyai istilah AupolarizationAy dan Autrickling down effectAy, sebab suatu wilayah tidak berkembang pada waktu yang bersamaan, dikarenakan wilayah yang terbantu akan lebih cepat berkembang daripada wilayah sekitarnya, kemudian hirschman menambahkan suatu wilayah awalnya akan terjadi AupolarizationAy wilayah yang memiliki potensi dan kondusif akan mengalami perkembangan lebih cepat dari wilayah sekitarnya . Perkembangan pada pinggiran kota dengan proses yang begitu cepat menimbulkan sprawl pada pola penggunaan lahan. Sehingga masalah Urban sprawl harus diperhatikan, sebab urban sprawl tidak hanya dikarenakan intensitas pada proses, namun dikarenakan dampak lingkungan yang besar, serta sosial ekonomi. Oleh sebab itu, perkembangan yang terus berjalan tanpa suatu perencanaan akan menyebabkan pola pembangunan serta penggunaan lahan, sehingga ketersediaan lahan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan yang bergerak cepat, hal ini perlu adanya perencanaan khususnya kawasan pinggiran kota, karena berpotensiterjadinya perkembangan kawasan, sebab memiliki lahan non terbangun luas dan tentu berpotensi untuk dikembangkan menjadi perumahan/permukiman . Wilayah Peri Urban (WPU) telah terjadi pada Kecamatan Tanjung Senang Kota Bandar Lampung dan Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan, merujuk pada dokumen BPS Kota Bandar Lampung, perubahan penggunaan lahan pertanian serta non-pertanian mengalami penurunan dalam 5 tahun terakhir pada 2011, yakni: lahan pertanian seluas 156 Ha menjadi 16 Ha pada tahun 2016, sedangkan pada dokumen BPS Kecamatan Jati Agung, perubahan lahan sawah berkurang sebesar 974 Ha kurun waktu 4 tahun dari 2012 sebesar 4363 Ha menjadi 3. 389 Ha tahun 2017 . Seiring berjalannya waktu wilayah Kota Bandar Lampung mengalami peralihan penggunaan lahan: yaitu Kecamatan Kemiling sebagai kawasan pinggiran kota . eri urba. telah mengalami perubahan khususnya pada ruang terbuka hijau publik, yang tercantum pada penelitian Satriana, et al . bahwasanya kecamatan kemiling telah mengalami perubahan penggunaan lahan RTH publik hampir 60% yaitu hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan mengalami alih fungsi penggunaan lahan seluas A302,27 Ha menjadi perkebunan warga, tanah terbuka yang bersifat sementara dan perumahan, sedangkan ada tutupan lahan baru seluas 9,31 Ha sehingga keseluruhan lahan RTH Publik yang berkurang seluas A292,96 Ha, berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa Kecamatan Kemiling mengalami perkembangan yang sangat pesat pada aspek pembangunan maupun penduduk. Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut: Mengidentifikasi wilayah urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. Mengidentifikasi karakteristik urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. Mengidentifikasi tingkat urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. II. TINJAUAN PUSTAKA Urban sprawl, sering disebut sprawl atau suburban sprawl, merupakan perkembangan yang cepat dan terjadi pada luar batas geografis perkotaan, sering ditandai dengan perumahan perumahan dengan kepadatan rendah, zonasi sekali pakai, dan peningkatan ketergantungan kendaraan pribadi sebagai transportasi sehari-hari. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Penyebaran kota ini berhubungan dengan peningkatan penggunaan energi, polusi, dan kemacetan lalu lintas dan penurunan karakteristik pada masyarakat . Sedangkan sprawl secara positif terkait dengan: Sejauh mana pekerjaan tersebar. Ketergantungan kota pada mobil daripada transportasi umum. Pertumbuhan populasi. Nilai berpegang pada plot yang belum dikembangkan dari tanah. Kemudahan mendapatkan air . Tidak dikelilingi oleh pegunungan tinggi. Medan di pinggiran kotanya tidak rata. Iklim sedang. Persentase tanah di pinggiran kota yang tidak mengikuti peraturan perencanaan kota. Rendahnya dampak pembiayaan pelayanan publik terhadap wajib pajak daerah. Urban sprawl memiliki dampak negatif yaitu: rendahnya aksesibilitas, kemacetan, kesehatan, dan masalah lingkungan . Terdapat 4 prinsip guna mengatasi fenomena urban Pencegahan kawasan terbangun, pembangunan lebih lanjut dapat dilakukan, tetapi hanya di dalam pemukiman batas, meningkatkan kepadatan pemanfaatan embatasan bangunan baru di zona yang ditentukan, pembangunan hanya di tempattempat dengan nilai dispersi rendah. Pelarangan pembangunan baru di kawasan lindung. Pengurangan serapan lahan per-penduduk ataupun pekerjaan. Korelasi sederhana (Bivariate Correlatio. merupakan uji yang dilakukan untuk mengetahui hubungan antar 2 variabel, jika hasil terdapat adanya hubungan maka arah tersebut bagaimana, serta tingkat keeratan hubungan antar variabel sehingga disebut koefisien korelasi. METODE Indikator Menurut Hartoyo, dkk . bahwa sistem informasi geografis merupakan sistem yang terdiri perangkat keras serta lunak, geografis, serta sumber daya manusia dengan bekerja secara efektif dengan meng-input, mengelola, memanipulasi, mengintegrasi, menganalisis, serta dengan menampilkan data yang menunjukkan berupa informasi geografis . Analisis spasial digunakan untuk mengetahui persebaran lahan terbangun di Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa, persebaran lahan terbangun akan bersumber dari Google Earth pada waktu 2014 dan 2021, dan jumlah kepala keluarga bersumber pada Kecamatan Kemiling dan Kecamatan Gedong Tataan. Kemudian dilakukan analisis urban sprawl yang sesuai dengan studi kasus penelitian ini, terdapat 5 indikator yang telah penulis tentukan dan sesuai yaitu terdapat: kepadatan bangunan, kepadatan penduduk, jarak ke pusat kota, pembangunan dalam jaringan jalan, dan pola lompatan katak, kemudian dilakukan analisis korelasi untuk mengetahui keterhubungan indikator dengan perkembangan lahan terbangun. Setelah dilakukannya identifikasi pada hasil indikator sasaran sebelumnya pada tahap ini dilakukan scoring untuk mengetahui tingkat urban sprawl pada wilayah yang teridentifikasi sprawl. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Kerangka Metode Pada penelitian ini memiliki kerangka metode yang saling berhubungan tiap Berikut ini merupakan kerangka metode pada penelitian ini: Gambar 1. Kerangka Metoda Penelitian IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Deskripsi Wilayah Penelitian Ruang lingkup wilayah penelitian ini berlokasi di Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung, dan Kelurahan Kurungannyawa Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, dapat dilihat pada peta berikut: Kecamatan Kemiling Kelurahan Kurungannyawa Gambar 2. Peta Lokasi Studi Kasus Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Karakteristik Urban Sprawl 1 Penggunaan Lahan Terpisah Berdasarkan data citra satelit google earth yang telah didapatkan setelah dilakukan analisis maka menunjukan bahwa pada penggunaan lahan lokasi studi kasus memiliki karakteristik terpisah seperti apa yang dicantumkan pada teori bahwa tanda urban sprawl dapat dilihat salah satunya dari penggunaan lahan terpisah yaitu kawasan perdagangan dan jasa letaknya terpisah dengan kawasan permukiman . Maka dapat dilihat pada peta berikut ini: Gambar 3. Peta Penggunaan Lahan Terpisah Lokasi Studi Kasus 2 Kepadatan Rendah Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS) Kota Bandar Lampung tahun 2022 kepadatan kecamatan kemiling sebesar 3713 KmA hal ini lebih rendah 26% dari pusat Kota Bandar Lampung yaitu Kecamatan Tanjung Karang Pusat sebesar 14032 KmA. Hal ini sejalan dengan teori bahwa ciri dari perkembangan urban sprawl yaitu kepadatan rendah pada suatu wilayah . Sedangkan untuk luas lahan terbangun bersumber pada citra satelit google earth pada Kecamatan Kemiling seluas 1017 Ha dan Kelurahan Kurungannyawa seluas 58 Ha. Kemudian dari 10 kelurahan diperoleh 3 interval kelas yaitu tinggi, sedang, dan rendah, sebanyak 8 kelurahan/desa memiliki kategori rendah, 1 kelurahan/desa memiliki kategori sedang, dan 1 kelurahan/desa memiliki kategori tinggi. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Gambar 4. Peta Kepadatan Lokasi Studi Kasus 3 Penggunaan Kendaraan Pribadi Pada analisis ini penulis melakukan traffic counting yang berlokasi pada jalur utama akses dari Kecamatan Kemiling menuju pusat Kota Bandar Lampung berlokasi pada Jalan Imam Bonjol dan Jalan Raden Imba Kusuma Ratu menunjukkan bahwa ketergantungan kendaraan pribadi untuk kegiatan sehari-hari masih tinggi jika dibandingkan dengan penggunaan angkutan umum. Tabel I Penggunaan Transfortasi Weekdays Waktu Kendaraan Pribadi Roda 4 00 Ae 08. 00 Ae 13. 00 Ae 18. 00 Ae 08. 00 Ae 13. 00 Ae 18. Masuk Kemiling Keluar Kemiling Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Umum Roda Roda 2 Pribadi Roda 4 Umum Roda 4 Jalan Imam Bonjol Jalan Raden Imba Kusuma Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. Kendaraan Roda 2 VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Tabel II Penggunaan Transfortasi Weekend Masuk Kemiling Keluar Kemiling Kendaraan Kendaraan Kendaraan Kendaraan Umum Roda Roda 2 Pribadi Roda 4 Umum Roda 4 Jalan Imam Bonjol Waktu Kendaraan Pribadi Roda 4 00 Ae 08. 00 Ae 13. 00 Ae 18. 00 Ae 08. 00 Ae 13. 00 Ae 18. Kendaraan Roda 2 Jalan Raden Imba Kusuma Identifikasi Wilayah Urban Sprawl (Blok/Gri. 1 Lahan Terbangun Kelurahan/desa Lokasi Studi Kasus Berdasarkan data yang diperoleh dari 10 kelurahan/desa di lokasi studi kasus terdapat 3 kelurahan/desa teridentifikasi sprawl, 3 kelurahan/desa teridentifikasi compact, dan 4 kelurahan/desa teridentifikasi anomali. Gambar 5. Grafik Blok Lahan Terbangun Kelurahan Lokasi Studi Kasus 2 Kelurahan/Desa Teridentifikasi Sprawl Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 3 kelurahan/desa yang teridentifikasi sprawl berdasarkan analisis blok/grid, dikarenakan dipengaruhi oleh lokasi yang sebagai pusat aktivitas kecamatan kemiling terletak pada pinggiran sehingga perkembangan lahan terbangun cenderung bergerak secara masif pada pinggiran kelurahan sehingga mengakibatkan daerah pinggiran lebih padat jika dibandingkan dengan pusat kelurahan. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Gambar 6. Grafik Blok Lahan Terbangun Kelurahan Teridentifikasi Sprawl 3 Kelurahan/Desa Teridentifikasi Compact Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 3 Kelurahan/Desa yang teridentifikasi compact berdasarkan analisis blok/grid, dikarenakan dipengaruhi oleh perkembangan lahan terbangun pada pusat kelurahan/desa dipengaruhi oleh fasilitas umum dan aksesibilitas . alan utam. yang terletak pada pusat kelurahan yang menyebabkan perkembangan lahan terbangun pada pusat kelurahan cenderung Gambar 7. Grafik Blok Lahan Terbangun Kelurahan Teridentifikasi Compact 4 Kelurahan/Desa Teridentifikasi Anomali Berdasarkan data yang diperoleh terdapat 4 Kelurahan/Desa yang perkembangannya tidak terpusat pada kelurahan/desa berdasarkan analisis blok/grid, dikarenakan dipengaruhi oleh kontur yang tidak rata pada Kelurahan Kedaung dan Kelurahan Sumber Agung sehingga perkembangan lahan terbangun tidak berpusat pada kelurahan melainkan pada radius yang jauh dari pusat seperti 1000m dan 1500m serta pada pusat kelurahan didominasi oleh lahan non terbangun. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Gambar 8. Grafik Blok Lahan Terbangun Kelurahan Teridentifikasi Anomali Mengidentifikasi wilayah urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. (A)-(B) = - Sprawl Keterangan: (A)-(B) = 0 Normal A: Rasio Kepala Rumah Tangga (A)-(B) = Compact B: Rasio Lahan Terbangun Setelah dilakukan perhitungan berdasarkan rasio rumah tangga dan rasio lahan terbangun untuk wilayah yang teridentifikasi sprawl lokasi studi kasus . , analisis penulis mendapatkan bahwa 10 dari daerah yang dilakukan perhitungan 6 diantaranya mengalami sprawl dengan hasil (-) negatif, sedangkan 4 diantaranya normal dengan Berdasarkan hasil yang didapatkan penelitian selanjutnya akan berfokus pada 6 lokasi yang teridentifikasi sprawl dengan menggunakan metode analisis yang telah Gambar 9. Peta Wilayah Teridentifikasi Sprawl Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Mengidentifikasi karakteristik urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa 1 Kepadatan Penduduk Tiap kelurahan terindikasi sprawl memiliki akses dan fasilitas yang baik seperti keterhubungan jalan kolektor untuk menuju pusat kecamatan maupun pusat kota. Namun, yang membedakan mengapa terdapat kelurahan yang berkategori tinggi menurut analisa penulis dikarenakan Kelurahan Sumberrejo Sejahtera dan Kelurahan Pinang Jaya yaitu lahan terbangun yang minim dan memiliki penduduk yang banyak. Sedangkan, untuk kelurahan berkategori rendah dikarenakan pada kelurahan tersebut lahan terbangun yang luas sehingga walaupun jumlah penduduk tinggi terutama Kelurahan Sumber Rejo namun masih memiliki ruang didalamnya. Gambar 10. Peta Klasifikasi Kepadatan Penduduk 2 Kepadatan Bangunan Dalam kasus kepadatan bangunan kategori tinggi pada Kelurahan Kemiling Raya sangat cocok dikarenakan pada kelurahan tersebut terdapat sebuah Universitas Malahayati dan Rumah Sakit Bintang Amin sehingga Kelurahan Kemiling Raya mengalami peningkatan bangunan atas pertumbuhan populasi dikarenakan dekat dengan fasilitas. tentunya akan menimbulkan masalah lingkungan untuk masa yang akan datang jika hal ini tidak menjadi perhatian khusus stakeholder terkait kepadatan Sedangkan untuk kelurahan yang memiliki nilai terendah yaitu Kelurahan Sumber Agung dikarenakan jumlah bangunan yang tergolong rendah dibandingkan dengan kelurahan lain, namun Kelurahan Sumber Agung dikhawatirkan akan menjadi padat bangunan sebab saat ini sedang terjadinya pembangunan perumahan yang cukup masif. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Gambar 11. Peta Klasifikasi Kepadatan Bangunan 3 Jarak Ke Pusat Kota Pinang Jaya, dan Kelurahan Kedaung. Jika melihat luas lahan terbangun bersumber pada citra satelit Google Earth, :Kelurahan Kemiling Raya. Kelurahan Sumber Rejo, dan Kelurahan Sumberejo Sejahtera sebagai wilayah terdampak sprawl memiliki luas lahan terbangun yang cukup luas, sejalan dengan penelitian yaitu sprawl sebagai satu atau lebih pola perkembangan yang ada salah satunya jarak ke fasilitas pusat . Sedangkan untuk kelurahan yang berkategori jauh dari pusat Kota Bandar Lampung memiliki lahan terbangun yang rendah dan fasilitas minim jika dibandingkan pada kelurahan terdekat dengan pusat kota. Gambar 12. Peta Klasifikasi Jarak Ke Pusat Kota Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. JURNAL VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA 4 Pembangunan Dalam Jangkauan Jaringan Jalan Sejalan dengan sprawl salah satu faktor yaitu peningkatan ketergantungan kendaraan pribadi sebagai transportasi sehari-hari . , dan sprawl menyebabkan ketergantungan yang tinggi pada kendaraan . Dengan melihat kasus yang ada pada Kelurahan Sumber Agung bahkan 93% jumlah bangunan dalam jangkauan jaringan jalan hampir setara dengan jumlah total bangunan di Kelurahan tersebut yang ini menandakan bahwa pembangunan di kelurahan tersebut berada pada sepanjang jaringan jalan. Sedangkan untuk kelurahan berkategori rendah dikarenakan untuk aksesibilitas dalam hal ini jalan kolektor dan jalan lokal minim dibandingkan dengan kelurahan lain, walaupun memiliki jumlah bangunan tinggi, hal ini Kelurahan Kemiling Raya didominasi oleh perumahan komplek yang hanya diakses dengan jalan lingkungan. Gambar 13. Peta Klasifikasi Pembangunan Dalam Jangkauan Jaringan Jalan 5 Pola Pembangunan Lompatan Katak Setelah dilakukan perhitungan pada tiap kelurahan teridentifikasi sprawl maka diperoleh terdapat 3 kelurahan berkategori tinggi yaitu: Kelurahan Sumber Agung. Kelurahan Pinang Jaya. Kelurahan Sumberrejo Sejahtera dikarenakan pada kelurahan tersebut jika melihat melalui citra satelit Google Earth 2014 dan 2021 perkembangannya terpisah-pisah tidak beraturan sehingga timbul adanya gap tiap bangunan hal ini tentu buruk untuk wilayah tersebut yang akan menyebabkan daerah tersebut menjadi kumuh dan padat penduduk. Sedangkan terdapat 1 kelurahan berkategori rendah yaitu: Kelurahan Kemiling Raya dikarenakan jika dilihat pada citra satelit Google Earth kelurahan ini menurut penulis perkembanganya lebih teratur disebabkan kemiling raya memiliki kontur tanah yang relatif datar dan didukung aksesibilitas yang baik sehingga pembangunan akan tumbuh secara beraturan. Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Gambar 14. Peta Klasifikasi Pola Pembangunan Lompatan Katak 6 Uji Korelasi -0,055 0,207 0,539 -0,802 Gambar 15. Hasil Uji Analisis Korelasi Setelah dilakukan uji koefisien korelasi maka diperoleh kepadatan penduduk 0,055, kepadatan bangunan 0,207, fasilitas umum 0,539, dan jarak kepusat kota 0,802, setelah itu dilakukan uji signifikansi diperoleh hanya 1 indikator yaitu jarak ke pusat kota memiliki sama dengan 0,005 hal ini membuktikan bahwa adanya keterhubungan dengan perkembangan lahan terbangun di lokasi studi kasus. Berdasarkan analisis penulis yaitu perkembangan lahan terbangun dekat dengan pusat kota sangat cepat dibandingkan dengan perkembangan lahan terbangun jauh dengan Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL pusat kota, namun hal ini juga bisa didukung dengan adanya jumlah fasilitas umum banyak atau tidaknya sehingga jika suatu daerah jauh dari pusat kota dan jumlah fasilitas umum tergolong banyak tidak menutup kemungkinan daerah tersebut akan mengalami perkembangan yang pesat sama halnya dengan daerah dekat pusat kota. Mengidentifikasi tingkat urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa Berdasarkan data yang telah dilakukan perhitungan diperoleh tingkat urban sprawl pada tiap kelurahan, terdapat 3 kelurahan kategori tinggi yaitu: Kelurahan Sumber Agung. Kelurahan Kedaung, dan Kelurahan Pinang Jaya, terdapat 2 kategori rendah yaitu: Kelurahan Sumber Rejo, dan Kelurahan Sumberrejo Sejahtera, dan hanya 1 kategori rendah yaitu: Kelurahan Kemiling Raya. Gambar 16. Peta Tipologi Tingkat Urban Sprawl Pembahasan Berdasarkan perhitungan dan data bahwa dari 10 kelurahan/desa yang terdapat pada wilayah Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurunganyawa, 6 diantaranya menjadi wilayah terdampak sprawl yaitu Kelurahan Sumber Rejo. Kelurahan Sumberrejo Sejahtera. Kelurahan Kedaung. Kelurahan Pinang Jaya. Sumber Agung, dan Kelurahan Kemiling Raya. Terdapat wilayah yang memiliki nilai sprawl tertinggi yaitu Kelurahan Sumber rejo dengan nilai (-0,. dan Kelurahan Kemiling Raya dengan nilai (-0,. Sedangkan untuk kelurahan/desa memiliki nilai sprawl normal yaitu Kelurahan Kemiling Permai. Kelurahan Beringin Raya. Kelurahan Beringin Jaya, dan Kelurahan Kurungannyawa. Terdapat wilayah Kelurahan Beringin Jaya memiliki nilai normal yang tinggi dapat diartikan wilayah tersebut perkembangan penggunaan lahan dalam kondisi baik dikarenakan nilai . Namun terdapat wilayah perlu di perhatikan karena 3 kelurahan/desa memiliki nilai mendekati sprawl yaitu Kelurahan Kurungannyawa . Kelurahan Beringin Raya . Kelurahan Kemiling Permai . Berdasarkan Identifikasi Tipologi Urban Sprawl Pinggiran Kota (Studi Kasus Di Kecamatan Kemiling. Bandar Lampun. VOL 08 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL perhitungan dengan indikator yang telah ditentukan, untuk kepadatan penduduk Kelurahan Sumberrejo Sejahtera dan Kelurahan Pinang Jaya memiliki kategori tinggi, untuk kepadatan bangunan Kelurahan Kemiling Raya memiliki kategori rendah, untuk jarak ke pusat kota Kelurahan Pinang Jaya Kelurahan Sumber Agung Kelurahan Kedaung memiliki kategori jauh, untuk pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan Kelurahan Sumber Agung memiliki kategori tinggi, untuk pembangunan lompatan katak Kelurahan Sumber Agung Kelurahan Pinang Jaya Kelurahan Sumberrejo Sejahtera memiliki kategori tinggi. Kemudian berdasarkan 1 indikator memiliki keterhubungan dengan perkembangan lahan Berdasarkan tiap point indikator pada kelurahan teridentifikasi sprawl dihitung, kemudian diperoleh 3 klasifikasi/tingkat tipologi sprawl, yaitu 1 . ingkat urban sprawl renda. , 2 . ingkat urban sprawl sedan. , 3 . ingkat urban sprawl tingg. Pada 6 kelurahan teridentifikasi sprawl, 1 diantaranya memiliki kategori tingkat 1 yaitu Kelurahan Kemiling Raya, 2 diantaranya memiliki kategori 2 yaitu Kelurahan Sumber rejo dan Kelurahan Sumber Rejo Sejahtera, dan 3 diantaranya memiliki kategori 3 yaitu Kelurahan Sumber Agung. Kelurahan Kedaung, dan Kelurahan Pinang Jaya. KESIMPULAN Pada 10 kelurahan/desa terdapat 6 diantaranya teridentifikasi sprawl yaitu Kelurahan Sumber Agung. Kelurahan Pinang Jaya. Kelurahan Kedaung. Kelurahan Sumber Rejo. Kelurahan Sumberrejo Sejahtera, dan Kelurahan Kemiling Raya, kemudian terdapat 4 diantaranya memiliki nilai normal yaitu Kelurahan Beringin Raya. Kelurahan Beringin Jaya. Kelurahan Kemiling Permai, dan Kelurahan Kurungannyawa. Namun, berdasarkan perhitungan terdapat 3 kelurahan yang harus diperhatikan karena memiliki nilai mendekati sprawl yaitu Kelurahan Beringin Raya. Kelurahan Kemiling Permai, dan Kelurahan Kurungannyawa. Berdasarkan teori peneliti sebelumnya dengan menghitung kepadatan dan pembangunan terfragmentasi sebagai definisi perkembangan urban sprawl disuatu wilayah atau daerah yaitu: kepadatan bangunan, kepadatan penduduk, jarak ke pusat kota, pembangunan dalam jangkauan jaringan jalan, dan pembangunan lompatan katak, kemudian dilakukan uji korelasi indikator jarak ke pusat kota memiliki keterhubungan dengan perkembangan lahan terbangun di Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. Pada penelitian ini tingkat urban sprawl terdapat 3 kelurahan memiliki kategori tinggi, 2 kelurahan memiliki kategori sedang, dan 1 memiliki kategori rendah. Oleh karena itu, diharapkan dilakukan perencanaan untuk mengatasi permasalahan urban sprawl pada Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa agar sprawl tersebut tidak meluas ke wilayah lain dan tidak berdampak buruk untuk masa depan Kecamatan Kemiling dan Kelurahan Kurungannyawa. DAFTAR PUSTAKA