Volume 25 Issue 3 . Pages 558-566 FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi ISSN: 1411-1713 (Prin. 2528-150X (Onlin. Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti1. Dewi Cahyani Pangestuti2A. Alfida Aziz3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pembangunan Nasional AuVeteranAy Jakarta. Jakarta. Abstrak Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh antara Financial Distress. Growth Opportunity, dan Firm Size dengan keputusan hedging perusahaan manufaktur pada Sector Basic Materials dari tahun Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang pengaruh ketiga variabel tersebut dengan keputusan hedging akibat banyaknya perbedaan hasil pada penelitian sebelumnya. Dengan menggunakan regresi logistik untuk menguji hubungan dari 63 sampel, diketahui hasil bahwa variabel financial distress dan growth opportunity tidak mempengaruhi keputusan hedging perusahaan, sementara variabel lain, yaitu firm size, berpengaruh positif terhadap keputusan penggunaan hedging Kata kunci: Lindung nilai. kesulitan keuangan. peluang pertumbuhan. ukuran perusahaan Hedging strategies in managing transaction exposure risk: analysis of financial distress, growth opportunity, and firm size Abstract This research was conducted to examine the effect of Financial Distress. Growth Opportunity, and Firm Size on Hedging Decisions of Manufacturing Companies in the Basic Materials Sector in This study aims to review the influence of these three variables on hedging decisions because of the many differences in the results of previous studies. By using logistic regression to test the relationship of 63 samples, it is known that the financial distress and growth opportunity variables have no effect on company hedging decisions, while another variable, namely company size, has a positive effect on company hedging decisions. Key words: Hedging. financial distress. growth opportunity. firm size Copyright A 2023 Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz A Corresponding Author Email: dewichepe@upnvj. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 558 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz PENDAHULUAN Pada dasarnya, setiap perusahaan pasti memiliki keinginan untuk memperluas kegiatan usahanya. Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam memperluas kegiatan usaha adalah dengan mulai melakukan transaksi produk perusahaan secara global. Memanfaatkan pasar luar negeri untuk menyasar konsumen baru sebenarnya sangat efektif, mengingat kondisi setiap negara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan negaranya sendiri sehingga melatarbelakangi adanya transaksi ekspor dan impor. Kementerian Perdagangan RI sendiri mencatat bahwa dalam kurun waktu 5 tahun, terjadi peningkatan transaksi ekspor sebesar 14,99% dan peningkatan dalam transaksi impor sebesar 5,80%. Adanya peningkatan tren ekspor dan impor memperlihatkan bahwa perdagangan internasional sudah mulai diminati oleh para pengusaha. Hal tersebut juga yang mengindikasikan bahwa transaksi menggunakan mata uang asing mulai semakin marak dilakukan. Kendati keuntungannya yang menjanjikan, perdagangan internasional menggunakan mata uang asing juga perlu diwaspadai risikonya mengingat kondisi kurs rupiah yang fluktuatif (Pangestuti, 2. Gambar 1. Fluktuasi Kurs USD Kurs rupiah yang fluktuatif dapat menyebabkan ketidakpastian pada kinerja keuangan sehingga perusahaan dapat tiba-tiba mengalami kerugian akibat perbedaan selisih nilai rupiah dengan mata uang asing tersebut. Adanya ketidakpastian yang disebabkan oleh fluktuasi nilai rupiah inilah yang disebut sebagai eksposur transaksi. Eksposur transaksi dapat diartikan sebagai sejauh mana transaksi keuangan perusahaan masa depan akan dipengaruhi oleh perubahan nilai mata uang (Kinasih & Mahardika, 2. Eksposur transaksi juga dapat dijelaskan sebagai resiko perubahan jumlah nominal yang harus dibayarkan atau yang akan didapatkan perusahaan akibat adanya perubahan kurs mata uang (Moningka et al. , 2. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk meminimalisir risiko transaksi adalah dengan menggunakan lindung nilai atau hedging. Hedging merupakan kegiatan meminimalisir resiko valuta asing dengan cara mengalihkannya ke instrumen-instrumen derivatif (Setiawan et al. , 2. Instrumen derivatif yang dimaksud bisa berupa kontrak forward, kontrak futures, currency option, hingga menggunakan instrumen pasar uang . oney marke. Dengan menggunakan instrument derivatif, risiko fluktuasi mata uang asing akibat aktivitas transaksi luar negeri dapat dialihkan sehingga ketidakpastian kinerja keuangan perusahaan akibat eksposur transaksi dapat dikurangi. Namun pada kenyataannya, hanya beberapa perusahaan yang melakukan ekspor dan impor yang memilih untuk menggunakan hedging dalam meminimalisir dampak eksposur transaksi. Penelitian Candradewi et al. mencatat bahwa hanya sekitar 28,8% perusahaan multinasional di Indonesia yang menggunakan instrument derivatif sebagai lindung nilai mereka. Hal tersebut disebabkan karena penggunaan kebijakan hedging pun belum tentu akan memberikan keuntungan maksimal bagi Bahkan pada beberapa kondisi, tidak menggunakan hedging justru malah lebih menguntungkan bagi perusahaan. Untuk itu, banyak sekali faktor-faktor hingga kondisi yang melatarbelakangi keputusan perusahaan dalam menggunakan hedgingA karena pada dasarnya perusahaan yang melakukan hedging sudah sepakat untuk menerima kerugian apabila hedging yang FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 559 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz mereka lakukan kurang efektif. Beberapa faktor-faktor tersebut dapat terdiri dari financial distress, growth opportunity, dan firm size yang dapat menentukan keputusaan hedging perusahaan. Financial distress merupakan kondisi keuangan perusahaan yang berada pada posisi kurang baik sehingga berpotensi mengalami kebangkrutan (Sasmita & Hartono, 2. Financial distress dapat diakibatkan oleh banyak kondisi, namun yang paling sering terjadi adalah karena kesalahan manajer dalam mengelola keuangan serta asset perusahaan Wirawan & Pangestuti . Untuk itu, perusahaan yang sedang dalam kondisi financial distress biasanya memilih menggunakan hedging sebagai salah satu sarana untuk menghindari kerugian akibat eksposur transaksi serta sebagai salah satu cara untuk mengurangi kerugian akibat kesalahan pengelolaan keuangan (Sasmita & Hartono, 2. Kondisi tersebut juga sesuai dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sakti & Suprihhadi . Herianti & Juwita . Putri et al. Muslim & Puryandani . , dan Sudarma et al. dimana pada penelitian mereka, telah dibuktikan bahwa financial distress menjadi salah satu faktor yang berpengaruh dalam keputusan hedging perusahaan. Sedangkan Growth opportunity merupakan indikator yang digunakan untuk melihat peluang berkembang dari suatu perusahaan (Bodroastuti et al. , 2. Perusahaan yang sedang mengalami growth opportunity biasanya membutuhkan banyak dana, dan mekanisme pendanaan yang dapat dipilih perusahaan adalah salah satunya lewat utang (Sasmita & Hartono, 2. Namun, jika sistem pendanaan yang dipilih perusahaan mayoritas berasal dari utang dengan mata uang luar negeri, maka kemungkinan perusahaan mengalami eksposur transaksi lebih tinggi. Untuk itu, perusahaan yang sedang mengalami growth opportunity biasanya akan menggunakan hedging untuk meminimalisir dampak merugikan eksposur transaksi. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Fajri et al. Annisa . Nugraha & Khoiruddin . Widjaja & Santoso . , dan Marhaenis & Artini . juga membuktikan kondisi serupa, dimana growth opportunity menjadi salah satu faktor penentu perusahaan dalam menentukan keputusan hedging. Sementara Firm Size adalah tolak ukur untuk mengetahui seberapa besar jumlah penjualan, ekuitas, hingga asset yang dimiliki perusahaan (Widjaja & Santoso, 2. Firm size juga menunjukkan seberapa luas kegiatas usaha perusahaan. Umumnya, perusahaan yang memiliki skala besar, sudah melakukan transaksi global sehingga kemungkinkan perusahaan terdampak efek eksposur transaksi semakin besar (Widjaja & Santoso, 2. Selain itu, penelitian dari Sasmita & Hartono . juga menujukkan bahwa perusahaan besar lebih sering menggunakan hedging dibanding dengan perusahaan berskala kecil. Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Bodroastuti et al. Saraswati & Suryantini . Anniyati et al. Purwanto & Putra . , dan Rachmat & Kustina . juga membuktikan bahwa firm size mempengaruhi keputusan perusahaan dalam menetapkan penggunakan Namun, hasil penelitian diatas ternyata juga memiliki perbedaan dengan penelitian lain. Amaliyah, . dalam penelitiannya menyatakan bahwa financial distress dan firm size berpengaruh positif terhadap kebijakan hedging perusahaan sedangkan growth opportunity berpengaruh negatif. Sebaliknya, penelitian Affan & Prasetiono . justru menyatakan bahwa masing-masing ketiga variabel tersebut tidak mempengaruhi keputusan hedging perusahaan Sedangkan menurut penelitian Ayuningtyas et al. Widjaja & Santoso . dan Nugraha & Khoiruddin . , hanya variable growth opportunity sajalah yang memiliki pengaruh terhadap keputusan hedging perusahaan, sementara financial distress tidak mempengaruhi keputusan hedging tersebut. Selanjutnya. Sasmita & Hartono . dalam penelitiannya justru memberikan hasil bahwa hanya firm size yang berpengaruh parsial terhadap keputusan hedging perusahaan, sementara financial distress dan growth opportunity berpengaruh negatif. Sementara, penelitian Febriyanti & Dillak . , membuktikan hasil bahwa hanya financial distress yang mempengaruhi keputusan hedging perusahaan, sedangkan variable growth opportunity dan firm size tidak mempengaruhi sama sekali. Terdapat perbedaan hasil dari penelitian-penelitian terdahulu, membuat pengaruh financial distress, growth opportunity, serta firm size terhadap keputusan hedging perusahaan masih menjadi Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengkaji ulang hubungan ketiga variable tersebut terhadap keputusan hedging perusahaan, khususnya perusahaan manufaktur pada sector basic materials dalam meminimalisir risiko dari eksposur transaksi. lewat penelitian ini, penulis berharap dapat membantu memberikan hasil yang konkrit di tengah-tengah banyaknya perbedaan hasil penelitian mengenai hubungan pengaruh faktor-faktor internal perusahaan dengan keputusan hedging atau lindung nilai. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 560 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz METODE Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa annual report perusahaan manufaktur yang didapatkan dengan metode dokumentasi dari web resmi Bursa Efek Indonesia sehingga termasuk ke dalam penelitian kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah perusahaan manufaktur pada sector Basic Materials yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia dari rentang tahun 2020 sampai 2022 dengan jumlah populasi sebanyak 96 perusahaan. Populasi tersebut selanjutnya disaring menggunakan metode purposive sampling untuk menentukan sampel penelitian. Adapun kriteria dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 1. Kriteria Sampel Keterangan Jumlah perusahaan manufaktur pada sector basic materials yang tercatat di BEI Sampel yang tidak memenuhi kriteria: Perusahaan yang tidak menerbitkan laporan keuangan dan annual report dari 2020 - 2022 Perusahaan yang tidak memiliki anak perusahaan di luar negeri Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria Jumlah tahun pengamatan Total sampel Jumlah Sampel Berdasarkan kriteria diatas, didapatkan 23 perusahaan manufaktur pada sector basic materials sebagai sampel penelitian dari total 96 populasi perusahaan. Sampel tersebut selanjutnya akan dikaji pengaruhnya terhadap keputusan hedging perusahaan menggunakan metode regresi logistik. Regresi logistik sendiri merupakan metode penilitian yang digunakan untuk melihat pengaruh antara variabel dependen terhadap variabel bebasnya (Widjaja & Santoso, 2. Adapun variabel dependen dalam penelitian ini adalah keputusan hedging perusahaan, sementara variabel bebasnya adalah financial distress, growth opportunity, dan firm size. Informasi hedging perusahaan dapat diketahui dari annual report masing-masing perusahaan. Proses penentuan hedging pada penelitian ini menggunakan skala nominal, dimana perusahaan akan diberi angka 1 apabila menggunakan hedging dan angka 0 apabila tidak menggunakan keputusan Dari 69 perusahaan tersebut, diketahui bahwa sebanyak 33 perusahaan melakukan keputusan hedging, sementara sisanya, yaitu 36 perusahaan memilih untuk tidak melakukan kebijakan hedging. Financial distress perusahaan dapat diketahui dengan menggunakan metode perhitungan Z-score milik Altman dalam mengetahui kondisi financial distress perusahaan. Metode perhitungan Z-score memiliki kriteria, dimana jika hasil Z < 1,88 maka perusahaan dianggap memiliki kondisi keuangan yang sulit dan mengindikasikan terjadinya financial distress. Berikut ini merupakan rumus yang dapat digunakan untuk mengetahui nilai Z-score perusahaan (Altman dalam Sasmita & Hartono, 2. Z = 1,2X1 1,4X2 3,3X3 0,6X4 1,0X5 Keterangan: ycOycuycycoycnycuyci ycaycaycyycnycycayco X1 = Total Aset ycIyceycycaycnycuyceycc yaycaycycuycnycuyci Total Aset yayaAyaycN X3 = Total Aset ycAycaycycoyceyc ycOycaycoycyce ycuyce yaycycycnycyc X4 = Book Valued of Total Debt ycNycuycycayco ycIyceycyceycuycyce X5 = Total Aset X2 = Growth opportunity dapat diketahui dengan membangi Market Value of Equity (MVE) dengan Book Valued of Equity (BVE) (Sasmita & Hartono, 2. MVE sendiri dapat diketahui dengan membagi pendapatan setelah pajak (EAT) dengan earning per share (EPS) perusahaan, lalu dikalikan dengan harga penutupan saham perusahaan. Sementara BE dapat diketahui dengan mengurangi total asset dan total utang jangka panjang perusahaan. Growth Opportunity (GO) = ycAycaycycoyceyc ycOycaycoycyce ycuyce yaycycycnycyc Book Value Of Equity FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 561 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz Firm size digunakan untuk mengetahui keseluruhan total asset yang dimiliki oleh perusahaan (Putri et al. , 2. Untuk itu, firm size perusahaan dapat diketahui dengan menghitung total asset yang diubah menjadi bentuk logarima natural (L. Metode Logaritma natural diaplikasikan untuk membantu mengubah data menjadi nominal yang lebih kecil sehingga data akan terdistribusi secara normal (Sasmita & Hartono, 2. Adapun rumus firm size adalah sebagai berikut (Saraswati & Suryantini. Firm Size = Ln (Total Ase. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Kelayakan Model Uji kelayakakan model atau Hosmer and LemeshowAos Goodness of Fit digunakan untuk melihat apakah data penelitian sesuai dengan model hipotesis yang diujikan, jika didasarkan pada nilai Chisquare (Pangestuti et al. , 2. Uji kelayakan dikatakan baik jika memiliki nilai lebih besar dari nilai signifikasi, yaitu 0,05 . > 0,. Hal tersebut disebabkan karena nilai signifikasi lebih dari 0,05 menandakan bahwa model penelitian sesuai dengan data empiris sehingga dapat digunakan untuk membuktikan hipotesis yang diujikan. Sebaliknya, jika nilai uji kelayakan kurang dari 0. < 0,. maka model hipotesis ditolak karena data dianggap tidak sesuai untuk meneliti pengaruh hipotesis yang Berikut ini merupakan hasil uji kelayakan menggunakan pada penilitian ini: Tabel 2. Uji Kelayakan Hosmer and Lemeshow Test Step Chi-square Sig. Dari hasil uji kelayakan diatas, dapat diketahui bahwa hasil signifikasi adalah 0,884, atau lebih besar dari 0. ,884 > 0,. sehingga mengindikasikan bahwa model penelitian dan data empiris layak digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini. Uji F Keseluruhan Model Uji keseluruhan model (Overall Fit Mode. merupakan pegujian yang digunakan untuk mengetahui kesesuaian antaran model hipotesis dengan data penelitian (Bodroastuti et al. , 2. Uji keseluruhan dilakukan dengan membandingkan antara nilai dari -2 Log Likehood block number 0 . terhadap nilai dari -2 Log Likehood block number 1 . etelah dimasukkan variabel beba. Jika nilai 2LogL 0 lebih besar dari nilai -2LogL 1 (-2LogL 0 > -2LogL . , maka model penelitian dianggap sesuai dengan data data yang digunakan. Sebaliknya, jika nilai -2LogL 0 lebih kecil dari nilai -2LogL 1 . LogL 0 < -2LogL . , maka model penelitian dianggap kurang sesuai dengan data. Uji Hipotesis Uji hipotesis atau uji wald merupakan pengujian untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing variabel bebas dengan variabel dependen penelitian (Sakti & Suprihhadi, 2. Uji hipotesis dilakukan dengan membandingkan nilai probabilitas . dengan nilai signifikasi, yaitu 0,05. Jika nilai probabilitas lebih kecil dibandingkan dengan nilai signifikasi (Sig. < 0,. , maka variabel x dianggap mempengaruhi variabel y. sebaliknya, jika nilai probabilitas . lebih kecil dibandingkan dengan nilai signifikasi (Sig. > 0,. , maka variabel x dianggap tidak mempengaruhi variabel y atau dapat diartikan bahwa hipotesis ditolak. Adapun hasil uji hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut: Step 1a Tabel 3. Uji Hipotesis Financial Distress Growth Opportunity . Firm Size Constant Wald Sig. Exp(B) Dari hasil uji hipotesis diatas, maka dapat diketahui beberap hasil berikut: Nilai probabilitas variabel financial distress lebih besar dari nilai signifikasi 0,05 . ,559 > 0,. sehingga H1 ditolak atau dapat juga diartikan bahwa tidak ada pengaruh antara financial distress dengan keputusan hedging perusahaan. FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 562 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz Nilai probabilitas variabel growth opportunity juga lebih besar daripada nilai signifikasi 0,05 . ,334 > 0,. , maka dapat diartikan bahwa tidak ada pengaruh growth opportunity dengan keputusan hedging perusahaan sehingga H2 ditolak. Nilai probabilitas variabel firm size lebih kecil daripadi nilai signifikasi 0,05 . ,039 < 0,. sehingga H3 dapat diterima atau terdapat pengaruh antara firm size dengan keputusan hedging perusahaan. Pengaruh Financial Distress terhadap Keputusan Penggunaan Hedging Perusahaan Manufaktur Sektor Basic Materials Berdasarkan hasil pengujian hipotesis diatas, diketahui bahwa nilai variabel financial distress lebih besar daripada 0,05 . ,559 > 0,. sehingga hipotesis H1 ditolak atau yang berarti bahwa financial distress tidak memiliki pengaruh dengan kebijakan hedging perusahaan manufaktur sector bacis Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Fajri et al. Sasmita & Hartono . Bodroastuti et al. , . Marhaenis & Artini . , dan Anniyati et al. Financial distress sendiri merupakan kondisi ketika keuangan perusahaan dalam posisi yang kurang baik, dan umumnya ditandai dengan adanya kesulitan perusahaan dalam membayar kewajibannya Azzahra & Pangestuti . Tidak berpengaruhnya financial distress perusahaan terhadap keputusan hedging disebabkan karena rata-rata perusahaan manufaktur pada sector basic materials memiliki kondisi keuangan yang cukup baik, yaitu diatas 1,88 (Z-score > 1,. Kondisi tersebut mengakibatkan perusahaan merasa keputusan hedging belum cukup dibutuhkan untuk meminimalisir kerugian akibat eksposur transaksi dari aktivitas transaksi global yang dilakukan (Ayuningtyas et al. , 2. Pengaruh Growth Opportunity terhadap Keputusan Penggunaan Hedging Perusahaan Manufaktur Sektor Basic Materials Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat diketahui bahwa nilai variabel growth opportunity lebih besar daripada nilai signifikasi, yaitu 0,05 . ,334 > 0,. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa growth opportunity tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan hedging perusahaan manufaktur pada sector basic materials. Hasil penelitian ini memberikan hasil yang dengan penelitian terdahulu yang telah dilakukan oleh Sasmita & Hartono . Bodroastuti et al. Herianti & Juwita . Sudarma et al. , dan Wahyudi et al. , dimana penelitian tersebut juga membuktikan bahwa keputusan penggunaan hedging perusahaan tidak dipengaruhi oleh variabel growth opportunity perusahaan tersebut. Growth opportunity merupakan keadaan dimana perusahaan sedang berkembang yang ditandai dengan besarnya utang perusahaan. Adanya pengaruh negatif antara growth opportunity dengan keputusan hedging perusahaan mengindikasikan bahwa perusahaan manufaktur pada sector basic materials lebih memilih menggunakan laba ditahan dibandingkan dengan utang untuk mengembangkan usahanya (Sasmita & Hartono, 2. Selain itu, hasil penelitian ini juga memberikan hasil berbeda dengan signaling theory, dimana pada signaling theory dijelaskan bahwa adanya asimetris informasi akan membuat perusahaan lebih memilih untuk menggunakan pendanaan eksternal berupa utang, khususnya yang berasal dari investasi asing sehingga menimbulkan risiko eksposur transaksi. Namun penelitian ini justru memberikan implikasi sebaliknya bahwa dalam memutuskan keputusan hedging, growth opportunity tidak terlalu memberikan pengaruh karena perusahaan saat ini lebih memilih pendanaan dari laba ditahan dibandingkan dengan pendanaan yang berasal dari utang. Pengaruh Firm Size terhadap Keputusan Penggunaan Hedging Perusahaan Manufaktur Sektor Basic Materials Dari hasil pengujian hipotesis, dapat diketahui bahwa nilai probabilitas variabel firm size lebih kecil daripada nilai signifikasi 0,05 . ,039 < 0,. sehingga hipotesis H3 ditolak. Hasil tersebut juga dapat diartikan bahwa firm size tidak mempengaruhi keputusan hedging perusahaan manufaktur pada sector basic materials. Kondisi ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Rachmat & Kustina . Purwanto & Putra . Muslim & Puryandani . Widjaja & Santoso . , dan Anniyati et al. dimana penelitian tersebut juga membuktikan bahwa kebijakan hedging dipengaruhi oleh kondisi firm size perusagaan tersebut. Adanya hasil penelitian ini, memperkuat anggapan bahwa perusahaan dengan skala besar umumnya sudah sering melakukan transaksi global yang menggunakan mata uang asing sebagai alat Transaksi dengan mata uang asing tersebutlah yang membuat perusahaan dengan nilai FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi. Manajemen dan Akuntansi 563 Strategi hedging dalam mengelola risiko eksposur transaksi: analisis financial distress, growth opportunity, dan firm size Adethia Shafarianti. Dewi Cahyani Pangestuti. Alfida Aziz firm size besar memutuskan untuk menggunakan instrument derivative sebagai hedging demi meminimalisir dampak merugikan dari eksposur transaksi. Untuk itu, dapat disimpulkan bahwa firm size menjadi salah satu faktor penentu perusahaan dalam memutuskan kebijakan hedging. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis regresi logistik yang dilakukan, maka didapat beberapa kesimpulan sebagai berikut: Variabel financial distress tidak mempengaruhi keputusan hedging perusahaan manufaktur pada sector basic materials. Hal tersebut disebabkan karena sebagian besar perusahaan pada sector basic materials memiliki kondisi financial distress yang baik sehingga keputusan penggunaan hedging dianggap belum Variabel growth opportunity tidak mempengaruh keputusan hedging perusahaan manufaktur pada sector basic materials. Kondisi tersebut disebabkan karena perusahaan saat ini lebih memilih mengembangkan usahanya menggunakan pendanaan dari laba ditahan, dibandingkan dengan menggunakan pendanaan dari utang luar negeri. Adanya keadaan tersebut membuat perusahaan terhindar dari eksposur transaksi dan memilih untuk tidak menggunakan hedging. Variabel firm size mempengaruhi keputusan hedging perusahaan manufaktur pada sector basic Kondisi tersebut terjadi karena perusahaan dengan skala besar umumnya lebih sering melakukan transaksi dengan mata uang asing sehingga lebih besar kemungkinanya untuk mengalami eksposur transaksi. Oleh karena itu, perusahaan menggunakan hedging sebagai salah satu sarana untuk meminimalisir dampak eksposur transaksi tersebut. Berdasarkan hasil uji koefisien determinan, diketahui bahwa variabel bebas penelitian ini hanya menyumbang 12% pengaruh terhadap variabel terikat penelitian, yaitu keputusan hedging. Oleh karana itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambah jumlah variabel bebas sehingga dapat menjelaskan alasan dibalik keputusan hedging perusahaan secara lebih menyeluruh. DAFTAR PUSTAKA