Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 Pages 193-203 ISSN: 2830-5868 (Onlin. ISSN: 2614-7831 (Printe. Journal Homepage: http://ejournal. stit-alkifayahriau. id/index. php/arraihanah Kreativitas Anak Usia 5-6 Tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya Rika Nurhayati1. Qonita2. Edi Hendri Mulyana3 Info Artikel Abstract Keywords: Creativity. Early Childhood. Learning. This study aims to describe the level of creativity among children aged 5Ae 6 years at TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya, based on four main aspects: fluency, flexibility, originality, and elaboration. A quantitative descriptive method was used, involving 20 children as participants. The results showed that most children were at a moderate level of creativity, with notable strengths in generating many ideas . and coming up with unique ideas . However, the ability to think from different perspectives . varied among children, and the skill of developing ideas in more detail . was still in progress. Based on these findings, it is recommended that learning strategies be adjusted to each child's needs and that the learning environment be made more stimulating to help develop their creativity more effectively. The implication of this study is the need to develop more flexible, contextual, and child-centered learning strategies to support the equal development and enhancement of all aspects of creativityAiparticularly flexibility and elaborationAiwhile also acknowledging the limitation in generalizability, as the research was conducted at a single institution. Kata kunci: Kreativitas. Anak Usia Dini. Pembelajaran. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat kreativitas anak usia 5Ae6 tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya, berdasarkan empat aspek utama: kelancaran, keluwesan, orisinalitas, dan elaborasi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan melibatkan 20 anak sebagai peserta. Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar anak berada pada tingkat kreativitas sedang, dengan kemampuan utama pada kemampuan menghasilkan banyak ide . dan ide yang unik . Namun, kemampuan untuk berpikir dari berbagai sudut pandang . menunjukkan hasil yang berbeda-beda, dan kemampuan untuk mengembangkan ide secara lebih rinci . masih dalam tahap berkembang. Berdasarkan hasil ini, disarankan agar strategi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing anak dan lingkungan belajar dibuat lebih merangsang agar kreativitas mereka dapat berkembang secara optimal. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah perlunya pengembangan strategi pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada anak guna mendukung pemerataan serta Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Kota Tasikmalaya. Indonesia Email: rikanurhayati@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Kota Tasikmalaya. Indonesia Email: qonita@upi. Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini. Universitas Pendidikan Indonesia. Kota Tasikmalaya. Indonesia Email: edihm@upi. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 peningkatan seluruh aspek kreativitas, khususnya keluwesan dan elaborasi, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan generalisasi karena penelitian hanya dilakukan di satu lembaga. Artikel Histori: Disubmit: Direvisi: Diterima: Dipublish: 03 Juli 2025 15 Juli 2025 20 Juli 2025 22 Juli 2025 Cara Mensitasi Artikel: Nurhayati. Qonita, & Mulyana. Kreativitas Anak Usia 5Ae6 Tahun Di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya. Jurnal Ar-Raihanah, 5 . , 193, https://doi. org/10. 53398/arraihanah. Korespondensi Penulis: Qonita, qonita@upi. DOI : https://doi. org/10. 53398/arraihanah. PENDAHULUAN Periode usia dini, khususnya pada rentang usia 5 hingga 6 tahun, dipandang sebagai tahap fundamental dalam pembentukan landasan bagi keberhasilan akademik dan kehidupan anak di masa Fase yang dikenal sebagai "golden age" ini berperan penting dalam proses aktualisasi berbagai potensi dasar anak, mencakup kemampuan kognitif, perkembangan bahasa, serta aspek sosial dan emosional (Fakhriyani, 2. Dalam ranah pendidikan kontemporer abad ke-21, kreativitas telah mengalami perluasan makna, tidak lagi dibatasi pada ranah seni semata, melainkan dipahami sebagai kapasitas kognitif yang esensial. Kemampuan ini menjadi landasan penting bagi individu dalam menyelesaikan permasalahan secara inovatif, menyesuaikan diri terhadap dinamika perubahan, serta berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sepanjang hayat (Astuti & Aziz, 2. Di era pendidikan abad ke-21, konsep kreativitas tidak lagi dibatasi pada ekspresi artistik semata, melainkan telah diakui sebagai kemampuan kognitif inti yang mendasari kecakapan individu dalam merumuskan solusi inovatif, merespons perubahan secara adaptif, dan terus terlibat dalam proses pembelajaran sepanjang hayat (Rahayu et al. , 2. Oleh karena itu, menstimulasi dan memupuk kreativitas menjadi salah satu tujuan utama dalam pendidikan anak usia dini yang berkualitas. Dalam kajian mengenai kreativitas, banyak ahli sepakat bahwa setiap anak sejatinya memiliki potensi kreatif sejak lahir (Astuti & Aziz, 2. Meski demikian, potensi tersebut tidak akan berkembang dengan sendirinya. Kreativitas membutuhkan lingkungan yang mendukungAilingkungan yang kaya akan rangsangan, memberi ruang untuk bereksplorasi, dan menyediakan dukungan yang memadai (Heldanita, 2. Sebaliknya, suasana belajar yang kurang variatif, minim dorongan, atau terlalu kaku justru dapat menghambat bahkan memadamkan semangat kreatif alami anak (Yuanita. Oleh karena itu, tugas pendidik bukan untuk 'menciptakan' kreativitas, melainkan membimbing dan merawat potensi tersebut agar dapat berkembang secara optimal. Analisis terhadap kreativitas anak di lingkungan sekolah, seperti dalam penelitian ini, pada dasarnya merupakan bentuk pemetaan kemampuan anak yang muncul dari interaksi dengan lingkungannya, dan hasilnya dapat menjadi dasar untuk memperbaiki atau memperkuat strategi pembelajaran yang ada. Kreativitas merupakan konsep yang kompleks dan memiliki banyak dimensi, sehingga para ahli mendefinisikannya dengan beragam cara. Secara umum, kreativitas dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk menciptakan sesuatu yang baruAibaik berupa ide maupun karya nyataAiyang berbeda dari apa yang telah ada sebelumnya (Yuanita, 2020. Fakhriyani, 2. Ada juga pandangan yang menekankan pada cara berpikir yang tidak biasa, yakni kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang baru dan menghasilkan solusi yang unik atas suatu permasalahan (Debeturu & Wijayaningsih. Sementara itu, definisi lain menyoroti aspek kombinasi, di mana kreativitas dilihat sebagai kemampuan untuk merangkai kembali informasi, data, atau elemen yang sudah ada menjadi bentuk yang baru dan bermakna (SyafiAoi & Dianah, 2. Intinya, kreativitas melibatkan proses berpikir dan berimajinasi yang menghasilkan sesuatu yang dinilai baru, orisinal, serta memiliki nilai atau kegunaan dalam suatu konteks tertentu (Smith, 2. Pengembangan kreativitas anak usia dini merupakan proses kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Sebuah tinjauan sistematis yang komprehensif mengkategorikan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 faktor-faktor ini ke dalam empat lingkup utama: individual, keluarga, pendidikan, dan sosial budaya (Smare & Elfatihi, 2. Dalam lingkup pendidikan dan sosial budaya, peran dan persepsi guru menjadi sangat krusial. Sebuah penelitian menyoroti bagaimana sikap guru terhadap kreativitas termasuk yang terkait dengan gender, jenis sekolah, serta latar belakang bilingualisme anak secara signifikan membentuk lingkungan belajar yang dapat mendukung atau menghambat imajinasi (Allehyani, 2. Lebih lanjut, pada tataran praktis di lingkungan pendidikan, kegiatan seni menjadi salah satu cara efektif untuk menumbuhkan kreativitas tersebut. Melalui berbagai aktivitas seperti seni visual . enggambar, melukis, kolas. dan seni pertunjukan . usik, dram. , anak-anak mendapatkan kebebasan untuk berekspresi, mengeksplorasi, dan pada akhirnya menciptakan sesuatu yang baru dari imajinasi mereka (Saputri & Yuwono, 2. Dengan demikian, ketiga artikel ini secara kolektif menunjukkan bahwa untuk mengoptimalkan kreativitas anak, diperlukan pemahaman menyeluruh terhadap faktor-faktor kontekstual yang lebih luas seperti sikap guru, sambil secara aktif menerapkan metode pedagogis yang konkret dan ekspresif seperti kegiatan seni. Untuk mengevaluasi kreativitas secara lebih terarah dan dapat diukur, penelitian ini menggunakan kerangka konseptual yang umum dijadikan acuan dalam studi kreativitas. Kerangka ini membagi kemampuan berpikir kreatif ke dalam empat dimensi utama yang dapat diamati dan dinilai secara sistematis (Astana et al. , 2. Keempat dimensi tersebut menjadi dasar dalam proses analisis, yaitu: 1. Kelancaran berpikir (Fluenc. Ae mengacu pada kemampuan individu untuk menghasilkan banyak ide, solusi, atau tanggapan dalam waktu tertentu. Fokus dari dimensi ini adalah pada jumlah gagasan yang dihasilkan (Astuti & Aziz, 2. , 2. Keluwesan berpikir (Flexibilit. Ae menggambarkan kapasitas untuk menghasilkan ide-ide dari berbagai kategori atau sudut pandang. Dimensi ini mencerminkan kemampuan berpindah cara berpikir dari satu pendekatan ke pendekatan lainnya (Astuti & Aziz, 2. , 3. Orisinalitas (Originalit. Ae menunjukkan kemampuan dalam mencetuskan gagasan yang unik, tidak umum, dan berbeda dari mayoritas, baik secara bentuk maupun isi (Astuti & Aziz, 2. , 3. Elaborasi (Elaboratio. Ae merujuk pada kemampuan untuk mengembangkan atau memperinci sebuah ide dasar dengan menambahkan detail yang menjadikan ide tersebut lebih lengkap, menarik, dan kompleks (Astuti & Aziz, 2. Penelitian oleh Latifatunnisa . memang mengkaji penerapan PjBL dalam pembelajaran sains, namun fokusnya adalah pada kemandirian anak, bukan pada aspek kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang menyeluruh dan berbasis data mengenai profil kreativitas anak usia 5Ae6 tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya. s Dengan menggunakan kerangka empat dimensi kreativitas sebagai acuan, studi ini memetakan area kekuatan serta aspek-aspek yang masih perlu dikembangkan pada kelompok anak yang diteliti. Diharapkan hasil analisis ini dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam sekaligus menjadi landasan dalam merancang strategi pembelajaran dan rekomendasi pedagogis yang tepat guna serta dapat diimplementasikan oleh para pendidik di lembaga tersebut. Sehingga peneliti merumuskan masalah penelitian sebagai berikut AuBagaimana profil kreativitas anak usia 5Ae6 tahun dilihat dari empat dimensi menurut Guilford?Ay METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk mengeksplorasi kreativitas anak usia 5Ae6 tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya. Penelitian ini menggunakan teknik sampling jenuh dengan menjadikan semua anggota populasi sebagai sampel. Sampel dalam studi ini terdiri dari dua kelompok belajar, yakni kelompok B1 dan B2, dengan total 20 anak. Untuk memperoleh gambaran menyeluruh, data dari kedua kelompok digabungkan dan dianalisis sebagai satu kohort Instrumen yang digunakan mengacu pada empat dimensi kreativitas menurut Guilford dalam Astana et al. , yaitu kelancaran berpikir . , keluwesan . , orisinalitas . , dan elaborasi . Setiap aspek dinilai berdasarkan indikator tertentu dengan rentang skor 1Ae 2, dan hasilnya diolah melalui statistik deskriptif sederhana, termasuk nilai rata-rata, standar deviasi, serta distribusi kategori. Fokus utama metode ini adalah mengidentifikasi kekuatan dan tantangan Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 perkembangan kreativitas pada kelompok usia dini. Validasi instrumen dilakukan oleh ahli dan menggunakan lembar observasi. Tabel 1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Aspek Indikator Fluency . Fokus pada suatu aktivitas Flexibility . Menggunakan bahan untuk tujuan yang berbeda dari fungsinya Originality . Menciptakan produk asli Elaboration. Secara spontan membuat penambahan pada produk yang sudah ada HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif Kreativitas Umum Hasil analisis statistik deskriptif terhadap skor kreativitas umum dari 20 anak memberikan gambaran awal yang penting. Data mentah dari kedua kelompok menunjukkan total skor yang sama, yaitu 64, sehingga rata-rata gabungan berada pada angka 6,40. Menariknya, baik nilai rata-rata, standar deviasi . , skor minimum . , maupun maksimum . dari masing-masing kelompok menunjukkan kesamaan. Hal ini mengindikasikan bahwa kedua kelompok memiliki karakteristik yang sangat mirip sebelum adanya perlakuan apa pun. Oleh karena itu, data ini dapat dianggap cukup mewakili keseluruhan kohort. Tabel 2. Statistik Deskriprif Ae Skor Kreativitas Umum (N = . STATISTIK NILAI Jumlah Sampel (N) Rata-rata (Mea. 6,40 Standar Deviasi 1,350 Nilai Minimum Nilai Maksimum Rentang (Rang. Rata-rata skor sebesar 6,40 dapat dijadikan sebagai acuan kuantitatif untuk menggambarkan tingkat kemampuan umum kelompok ini. Rentang nilai antara 4 hingga 8 menunjukkan adanya perbedaan kemampuan antarindividu, meskipun dalam batas yang tidak terlalu lebar. Nilai standar deviasi 1,350 menunjukkan bahwa sebagian besar skor anak-anak berada dekat dengan nilai rata-rata, menandakan konsistensi relatif dalam distribusi kemampuan mereka. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Ae Kategori Kreativitas Umum (N = . Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tinggi Sangat Tinggi Total Data pada Tabel 2 memperlihatkan dengan jelas bahwa mayoritas anak berada pada kategori AuSedangAy. Sebanyak 12 dari 20 anak, atau setara dengan 60% dari seluruh peserta, menunjukkan tingkat kreativitas pada level ini. Pola distribusinya cenderung membentuk kurva yang terpusat, di mana hanya sebagian kecil anak berada pada kategori rendah . %) maupun tinggi . %). Temuan bahwa mayoritas anak berada pada kategori AuSedangAy dalam tingkat kreativitas . %) mencerminkan bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan telah berhasil mengembangkan kreativitas dasar anak, namun belum sepenuhnya mendorong munculnya kemampuan berpikir kreatif tingkat tinggi seperti orisinalitas dan elaborasi. Hal ini selaras dengan pendapat Guilford . yang menyatakan bahwa berpikir kreatif mencakup aspek kelancaran, keluwesan, orisinalitas, dan penguraian, yang masing-masing membutuhkan stimulasi berbeda dan berkelanjutan. Analisis Deskriptif Kreativitas Aspek Kelancaran (Fluenc. Tabel 4. Statistik Deskriprif Ae Aspek Kelancaran (N = . Statistik Nilai Jumlah Sampel (N) Rata-rata (Mea. 1,70 Standar Deviasi 0,470 Nilai Minimum Nilai Maksimum Rentang (Rang. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Ae Aspek Kelancaran (N = . Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Hasil pada aspek kelancaran menunjukkan gambaran yang sangat psoitif. Sebanyak 14 dari 20 anak, atau 70%, termasuk dalam kategori AuTinggiAy. Ini menunjukkan bahwa secara umum, anak-anak di TK Joy Kids cukup terampil dalam menghasilkan berbagai ide secara spontan ketika diberikan Kemampuan mereka dalam memberikan banyak tanggapan atau gagasan mencerminkan fondasi awal yang kuat dalam proses berpikir kreatif. Hasil pada aspek kelancaran menunjukkan capaian yang sangat positif, di mana sebanyak 70% anak berada pada kategori AuTinggiAy. Ini menunjukkan bahwa anak-anak di TK Joy Kids cukup terampil dalam menghasilkan berbagai ide secara spontan ketika diberikan rangsangan, yang mencerminkan fondasi awal yang kuat dalam berpikir kreatif. Capaian ini sejalan dengan pendapat Mulyani . yang menyatakan bahwa anak usia dini yang kreatif memiliki ciri khas seperti bebas berpikir, memiliki imajinasi tinggi, dan tidak cepat merasa bosan. Kemampuan mereka dalam memberikan banyak gagasan juga mencerminkan bahwa lingkungan belajar yang disiapkan telah memberikan ruang kebebasan berekspresi, yang menjadi salah satu kunci penting dalam menumbuhkan kreativitas anak secara alami dan menyenangkan. Analisis Deskriptif Kreativitas Aspek Keluwesan (Flexibilit. Tabel 6. Statistik Deskriprif Ae Aspek Keluwesan (N = . Statistik Nilai Jumlah Sampel (N) Rata-rata (Mea. 1,50 Standar Deviasi 0,513 Nilai Minimum Nilai Maksimum Rentang (Rang. Tabel 7. Distribusi Frekuensi Ae Aspek Keluwesan (N = . Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Hasil pada aspek keluwesan memperlihatkan pola distribusi yang paling mencolok dari keseluruhan analisis. Kelompok anak yang diteliti terbagi secara seimbang, dengan 10 anak . %) berada pada kategori "Rendah" dan 10 anak lainnya . %) dalam kategori "Tinggi". Rata-rata skor sebesar 1,50 mungkin tampak netral, tetapi sesungguhnya menutupi perbedaan tajam di antara kedua kelompok tersebut. Hasil pada aspek keluwesan menunjukkan adanya distribusi yang kontras, di mana 50% anak tergolong AuRendahAy dan 50% lainnya AuTinggiAy. Perbedaan tajam ini mencerminkan adanya kesenjangan dalam kemampuan anak menggunakan berbagai pendekatan atau ide alternatif dalam menyelesaikan Dalam konteks ini, anak yang berada pada kategori tinggi kemungkinan telah mendapat pengalaman belajar yang memberi ruang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan, anak kreatif Aumengekspresikan imajinasinya secara verbalAy dan Aumenjadi inovatif, penemu, serta memiliki banyak sumber dayaAy (Mulyani, 2019, hlm. , yang merupakan indikator penting dari fleksibilitas berpikir. Analisis Deskriptif Kreativitas Aspek Orisinalitas (Originalit. Tabel 8. Statistik Deskriprif Ae Aspek Orisinalitas (N = . Statistik Nilai Jumlah Sampel (N) Rata-rata (Mea. 1,65 Standar Deviasi 0,489 Nilai Minimum Nilai Maksimum Rentang (Rang. Tabel 9. Distribusi Frekuensi Ae Aspek Orisinalitas (N = . Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Seperti halnya kelancaran, aspek orisinalitas juga menunjukkan potensi yang kuat dalam kelompok anak ini. Sebanyak 14 dari 20 anak . %) masuk dalam kategori "Tinggi", yang berarti mereka tidak hanya mampu menghasilkan banyak ide, tetapi juga ide-ide tersebut tergolong unik dan tidak sekadar meniru jawaban yang lazim atau diajarkan sebelumnya. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Tingginya tingkat orisinalitas ini dapat dipahami sebagai sebuah paradoks yang menarik. Kemampuan berpikir orisinal pada anak usia dini belum tentu mencerminkan inovasi tingkat tinggi sebagaimana pada orang dewasa, tetapi justru muncul sebagai dampak positif dari belum terbentuknya pola pikir yang konvensional. Anak-anak pada tahap ini masih relatif bebas dari batasan kognitif, sehingga cenderung berpikir secara terbuka dan imajinatif. Misalnya, gagasan seperti "matahari berwarna biru" dianggap orisinal karena anak belum memahami norma ilmiah yang menyatakan sebaliknya (Afriyanti et al. , 2. Analisis Deskriptif Kreativitas Aspek Elaborasi (Elaboratio. Tabel 10. Statistik Deskriprif Ae Aspek Elaborasi (N = . Statistik Nilai Jumlah Sampel (N) Rata-rata (Mea. 1,55 Standar Deviasi 0,510 Nilai Minimum Nilai Maksimum Rentang (Rang. Tabel 11. Distribusi Frekuensi Ae Aspek Elaborasi (N = . Kategori Frekuensi Persentase Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Total Hasil pada aspek elaborasi memperlihatkan variasi kemampuan yang cukup seimbang di antara anak-anak, serupa dengan pola yang ditemukan pada aspek keluwesan, meskipun tidak menunjukkan pembagian yang ekstrem. Sebanyak 9 anak . %) berada dalam kategori AuRendahAy, sementara 11 anak lainnya . %) berada pada kategori AuTinggiAy. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan untuk mengembangkan dan merinci ide masih berada dalam tahap perkembangan aktif di kalangan peserta didik, dan belum sepenuhnya merata di seluruh kelompok. Sintesis dari keempat dimensi kreativitas menghasilkan gambaran menyeluruh mengenai profil anak-anak di TK Joy Kids National Plus. Profil ini dapat diibaratkan sebagai Aupenghasil ide yang antusias, namun masih berkembang dalam kemampuan mengolahnyaAy . nthusiastic ideators but developing Anak-anak dalam kelompok ini menunjukkan keunggulan dalam hal kuantitas ide . Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dan keunikan gagasan . , menjadikan mereka sebagai pencetus ide yang produktif dan Namun demikian, mereka masih menghadapi tantangan dalam aspek keluwesan . dan elaborasi, yaitu kemampuan untuk mengelompokkan ide dari berbagai sudut pandang serta mengembangkannya secara lebih detail dan mendalam (Astuti & Aziz, 2. Fluency yang tinggi berperan sebagai motor utama dalam proses berpikir kreatif mereka. Namun tanpa arah yang jelas dari keluwesan, dan tanpa struktur rinci dari elaborasi, ide-ide tersebut berpotensi belum optimal untuk dikembangkan lebih jauh. Polarisasi skor dalam dimensi keluwesan, di mana separuh anak berada di kategori rendah dan separuh lainnya di kategori tinggi, menjadi indikasi adanya hambatan perkembangan yang cukup mencolok. Situasi ini menciptakan dua kelompok dalam satu kelas dengan kebutuhan belajar yang sangat berbeda. Temuan ini sejalan dengan teori perkembangan kognitif yang menempatkan fungsi-fungsi berpikir spontan dan divergenAiseperti fluency dan originalityAisebagai kemampuan yang berkembang lebih awal pada masa kanak-kanak. Sebaliknya, kemampuan yang menuntut kendali kognitif dan pengolahan kompleksAiseperti flexibility dan elaborationAiberkaitan erat dengan perkembangan korteks prefrontal yang masih berlangsung (Heldanita, 2. Dengan demikian, kesenjangan ini tidak selalu mencerminkan kekurangan, melainkan dapat dipahami sebagai hal yang wajar sesuai tahap perkembangan anak usia dini. Implikasi dari temuan ini bagi para pendidik di TK Joy Kids cukup jelas: anak-anak bukan kekurangan ide, melainkan memerlukan dukungan dalam mengelola dan mengembangkan ide-ide Oleh karena itu, pendekatan pengajaran perlu disesuaikan, tidak hanya berfokus pada mendorong munculnya gagasan, tetapi juga melatih keterampilan seperti mengklasifikasikan, memandang dari berbagai perspektif, serta memperluas dan memperdalam isi gagasan. Fokus pedagogis harus bergeser dari sekadar kuantitas ke kualitas pemikiran. Dengan begitu, ruang kelas dapat menjadi tempat yang mendukung pertumbuhan kreativitas anak secara lebih utuh dan berkelanjutan (Afriyanti et al. , 2020. Smith, 2. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan sebelumnya, dapat dirumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk menstimulasi perkembangan kreativitas anak secara menyeluruh, dengan penekanan khusus pada area yang masih perlu ditingkatkan. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah membangun fondasi lingkungan belajar yang mendukung lahirnya ide-ide kreatif. Sebuah ekosistem yang aman secara psikologis menjadi syarat utama agar anak merasa nyaman untuk berekspresi. Dalam suasana seperti ini, anak tidak takut untuk melakukan kesalahan, mengajukan ide yang tidak lazim, atau mencoba hal-hal baru, karena tidak ada rasa takut dihakimi atau ditertawakan (Williams, 2. Selain itu, pendidik perlu memosisikan diri bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai fasilitator dan mitra eksplorasi. Guru yang menunjukkan rasa ingin tahu, menghargai proses, dan mencontohkan cara berpikir kreatif dalam keseharian akan membantu anak menginternalisasi pola pikir serupa (Mayar et al. , 2. Penggunaan media pembelajaran juga memegang peran penting dalam merangsang kreativitas. Bahan-bahan terbuka seperti balok, kain, kardus, atau benda-benda alam . ang dikenal sebagai loose part. sangat disarankan untuk digunakan dalam kegiatan sehari-hari. Berbeda dengan lembar kerja atau proyek kerajinan yang memiliki hasil akhir yang sudah ditentukan, media terbuka memberi peluang eksplorasi tanpa batas, memungkinkan anak untuk menemukan dan menciptakan berbagai bentuk dan fungsi (Heldanita, 2019. Damayanti, 2020. Safitri & Lestariningrum, 2. Untuk mengatasi tantangan perkembangan pada aspek keluwesan, yang pada penelitian ini menunjukkan polarisasi yang kuat, diperlukan pendekatan yang eksplisit dan terarah. Anak-anak dapat dilatih untuk berpikir fleksibel melalui pertanyaan terbuka yang mendorong mereka mencari berbagai kemungkinan dari suatu benda atau situasi, seperti menemukan fungsi alternatif dari sebuah objek. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Kegiatan bermain peran juga sangat bermanfaat untuk membantu anak melihat dunia dari sudut pandang karakter yang berbeda, sehingga mereka terbiasa melakukan cognitive shifting (Yuanita. Selain itu, latihan klasifikasi ulang, seperti mengelompokkan benda berdasarkan kriteria yang terus berubah . arna, bentuk, jumlah lubang, dan sebagainy. , sangat efektif untuk memperkenalkan konsep berpikir majemuk dan fleksibel secara konkret. Sementara itu, untuk memperkuat aspek elaborasi, yang juga masih berkembang di sebagian anak, pendekatan yang memberi ruang untuk berpikir mendalam sangat dibutuhkan. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah mengganti pujian singkat dengan pertanyaan lanjutan yang memancing anak menjelaskan lebih jauh tentang gagasan mereka. Misalnya, alih-alih mengatakan AubagusAy, guru dapat berkata. AuCeritakan lebih banyak tentang gambar ini, siapa yang tinggal di dalamnya?Ay Teknik ini tidak hanya mendorong anak berpikir lebih luas, tetapi juga memperkuat hubungan antara bahasa dan imajinasi. Proyek-proyek kolaboratif yang berlangsung beberapa hari juga sangat efektif, karena memberikan kesempatan bagi anak untuk membangun, memperluas, dan memperkaya gagasan mereka secara bertahap (Wahyuningsih et al. , 2. Kegiatan seperti menggambar dan kemudian menceritakan kisah dari gambar tersebut juga merupakan bentuk integrasi antara elaborasi visual dan verbal yang dapat memperkuat dua domain sekaligus (Afriyanti et al. , 2020. Debeturu & Wijayaningsih. Potensi yang telah dimiliki anak-anak dalam hal kelancaran dan orisinalitas juga perlu dimanfaatkan secara strategis. Aktivitas dapat dimulai dengan sesi curah gagasan untuk memanfaatkan kekuatan dalam menghasilkan ide, lalu diarahkan ke kegiatan yang menuntut pengelompokan dan pendalaman ide. Untuk menjaga orisinalitas, guru dapat menyediakan ruang khusus seperti AuDinding IdeAy atau AuJurnal PenemuanAy tempat anak bebas mengekspresikan gagasan apa pun tanpa takut salah. Memberikan apresiasi terhadap keunikan ide, bahkan jika ide tersebut terdengar tidak biasaAiseperti menggambar mobil dengan roda berbentuk persegiAiadalah bentuk nyata dari penghargaan terhadap kreativitas anak (Fransiska & Yenita, 2. Dengan menerapkan strategi-strategi ini secara konsisten dan kontekstual. TK Joy Kids National Plus dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak hanya mengurangi kesenjangan perkembangan, tetapi juga memperkuat potensi kreatif anak-anak secara utuh dan berkelanjutan. KESIMPULAN Penelitian ini menyajikan potret menyeluruh mengenai kreativitas anak usia 5Ae6 tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya melalui analisis empat dimensi utama: kelancaran, keluwesan, orisinalitas, dan elaborasi. Hasil menunjukkan kekuatan yang konsisten pada aspek kelancaran dan orisinalitas, yang menandakan bahwa anak-anak mampu menghasilkan banyak ide unik secara Namun demikian, ditemukan tantangan perkembangan pada aspek keluwesan dan elaborasi, dengan pola distribusi yang tidak merata. Kesimpulan ini menekankan perlunya strategi pembelajaran yang bersifat diferensiatif dan lingkungan belajar yang mendukung, untuk mengoptimalkan potensi kreatif anak secara menyeluruh dan berkelanjutan. Namun. Penelitian ini hanya dilakukan pada satu lembaga, yaitu TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan secara luas ke konteks pendidikan anak usia dini di wilayah atau latar belakang yang berbeda. DAFTAR KEPUSTAKAAN Afriyanti. Somadayo. , & Darmawati. Pemanfaatan media cerita rakyat sebagai upaya membangun kreativitas anak. Jurnal Pedagogik, 7 . , 1Ae12. Allehyani. Bilingualism matters: Early childhood teachers' attitudes toward children's Journal of Childhood. Education & Society, 4. , 72-83. Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 5 Nomor 2 Desember 2025 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Astana. Syafrina. , & Karnadi. Pengaruh pretend play dan jenis kelamin terhadap kemampuan berpikir divergen anak usia 5-6 tahun. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4. , 597Ae609. Astuti. , & Aziz. Integrasi pengembangan kreativitas anak usia dini di TK Kanisius Sorowajan Yogyakarta. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3. , 294Ae302. Damayanti. Peningkatan kreativitas berkarya anak usia 5-6 tahun melalui pembelajaran jarak jauh berbasis STEAM dengan media loose parts. Jurnal Buah Hati, 7. , 1Ae15. Debeturu. , & Wijayaningsih. Meningkatkan kreativitas anak usia 5-6 tahun melalui media magic puffer ball. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 3. , 233Ae240. Fakhriyani. Pengembangan kreativitas anak usia dini. Wacana Didaktika, 4. , 193Ae200. Fransiska. , & Yenita. Penggunaan media loose parts dalam pembelajaran di masa Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 9Ae18. Guilford. The Nature of Human Intelligence. In The Nature of Human Intelligence. https://doi. org/10. 1017/9781316817049 Hasanah. Meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui kegiatan origami. Elementary: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 5. , 45Ae52. Heldanita. Pengembangan kreativitas melalui eksplorasi. Golden Age: Jurnal Ilmiah Tumbuh Kembang Anak Usia Dini, 3. , 53Ae64. Latifatunnisa. Pengaruh model project-based learning dalam pembelajaran sains terhadap kemandirian anak usia 5-6 tahun di TK Joy Kids National Plus Tasikmalaya. Jurnal Pendidikan Anak, 3. Mayar. Uzlah. Nurhamidah. Ermiwati. Rahmawati. , & Desmila. Pengaruh lingkungan sekitar untuk pengembangan kreativitas anak usia dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6. , 4794Ae4802. Mulyani. Mengembangkan Kreativitas Anak Usia Dini (N. M . )). PT Remaja Rosdakarya. Nurjanah. , & Wahyuseptiana. Pembelajaran STEM berbasis loose parts untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak, 8. , 13Ae21. Rahayu. Yetti. , & Supriyati. Meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui pembelajaran gerak dan lagu. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5. , 832Ae840. Safitri. , & Lestariningrum. Penerapan media loose part untuk kreativitas anak usia 5-6 Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 2. , 40Ae52. Saputri. , & Yuwono. Improve Creativity of Early Children Age with Art Activities . ECRJ (Early Childhood Research Journa. , 5. , 42-56. Smare. , & Elfatihi. A systematic review on factors influencing the development of children's creativity. Journal of Childhood. Education & Society, 5. , 176-200. Smith. Perkembangan kreativitas anak usia 5-6 tahun. Jurnal Perkembangan Anak, 12. , 45Ae56. SyafiAoi. , & Dianah. Pemanfaatan loose parts dalam pembelajaran STEAM pada anak usia dini. Aulada: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak, 3. , 105Ae114. Wahyuningsih. Pudyaningtyas. Hafidah. Syamsuddin. Nurjanah. , & Rasmani, . Efek metode STEAM pada kreativitas anak usia 5-6 tahun. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4. , 295Ae301. Williams. Menggali peran lingkungan dalam merangsang kreativitas anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 25. , 321Ae335. Yuanita. Bermain dan kreativitas anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak, 6. , 1Ae10.