Volume 08 No 02 Tahun 2022 HUBUNGAN POLA MAKAN DENGAN STATUS ANEMIA PADA REMAJA PUTRI KELAS XII SMAN 1 KEDUNGWARINGIN THE RELATIONSHIP OF DIETARY PATTERNS WITH ANEMIA STATUS IN ADOLESCENT WOMENT CLASS XII OF SMA N 1 KEDUNGWARINGIN Dewi Agustin1. Rizky Fitri Andini2,Devi Arianti3 Prodi Di Kebidanan STIKes Bhakti Husada Cikarang Corresponden Email* : dewi. agusthine@gmail. Abstrak Pendahuluan: Anemia merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan,letih dan lesu sehingga akan berdampak pada kreativitas dan produktivitasnya. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktifitas. Metode: Desain penelitian ini menggunakan teknik cross Populasi 202 responden dan Sampel 66 responden remaja putri. Teknik pengambilan sampel yaitu accidental sampling Pengambilan data menggunakan data primer dengan kuesioner Analisa data menggunakan chi square. Hasil : Penelitian ada hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri tahun 2022 dengan uji chi-square nilai P 0,033 lebih kecil dari . O nilai c 0,. dengan OR 8,100 artinya ada hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin kabupaten Bekasi tahun 2022. Kesimpulan: Perdasarkan hasil penelitian mayoritas remaja putri yang mengalami anemia terdapat 7 . 6%) remaja putri dan yang tidak anemia sebanyak 59. 4%) remaja putri di SMAN 1 Kedungwaringin. dengan adanya hasil penelitian ini maka peneliti menyarankan untuk mengadakan penyuluhan, edukasi, atau measang poster di mading tentang pentingnya menjaga pola makan dan anemia pada remaja Kata Kunci : pola makan, anemia, remaja putri Abstract Introduction: Anemia is a health problem that causes sufferers to experience fatigue, fatigue andlethargy so that it will have an impact on creativity and productivity. Anemia among adolescent girls is higher than adolescent boys. Anemia in adolescents has a negative impact on decreased immunity, concentration, learning achievement, adolescent fitness and productivity. Methods: The design of this study used a cross sectional technique. The population is 202 respondents and the sample is 66 female respondents. The sampling technique is accidentalsampling. Data collection uses primary data with questionnaires. Data analysis uses chi square. Result: The study showed that there was a relationship between diet and anemia status inadolescent girls in 2022 with the chi-square test, the P value 033 was smaller than . with an OR of 8. 100, meaning that there was a relationship between diet and anemia statusin class XII girls in class XII. SMAN 1 Kedungwaringin. Bekasi Regency in 2022. Conclusion: Based on the results of the study, the majority of young women who had anemia were 7 . 6%) young women and those who were not anemic were 59 . 4%) at SMAN 1 Kedungwaringin. With the results of this study, the researchers suggest holding outreach, education, or posting posters in the Mading about the importance of maintaining a healthy diet and anemia in adolescents. Keywords : dietry patterns, anemia, adolescent girls JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X Volume 08 No 02 2022 Pendahuluan Anemia merupakan masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan,letih dan lesu sehingga akan Kejadian meningkatkan kerentanan penyakit pada saat dewasa seperti gangguan reproduksi serta melahirkan generasi yanga bermasalah gizi. Angka kejadian anemia di Indonesia terbilang masih cukup tinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada remaja sebesar 32%, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Hal tersebut dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktifitas fisik. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Rsikesda. dan Kementrian Kesehatan (Kemenke. dari tahun 2013 sampai 2018 terdapat kenaikan prevalensi anemia pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu 18,4% menjadi 32% atau 14,7 juta jiwa. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan Selain itu, secara khusus anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah para calon ibu yang akan hamil dan memperbesar risiko kematian ibu melahirkan, bayi lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR). Anemia dapat dihindari dengan konsumsi makanan tinggi zat besi, asam folat, vitamin A, vitamin C dan zink, dan pemberian tambah darah (TTD). Pemerintah memiliki program rutin terkait pendistribusian TTD bagi wanita usia subur (WUS), termasuk remaja dan ibu hamil. emenkes, 2. Remaja merupakan individu yang berada di kelompok usia 11-20 tahun. Sedangkan berdasarkan who . , remaja merupakan penduduk rentang usia 10- 19 Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 25 tahun 2014, remaja merupakan penduduk dalam rentang usia 10- 18 tahun serta JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X berdasarkan badan Kependudukan serta keluarga Berencana (BKKBN) tentang usia remaja ialah 10-24 tahun serta menikah (Kemenkes RI, 2. Masa remaja ialah masa transisi dari masa anak anak ke dewasa ysng perkembangan fisik, seksual, psikolohis, serta namun kini berbagai remaja yang kekurangan gizi kronis serta kurang darah yang perkembangannya dan keturunannya yang berkontribusi pada daur malnutrisi antar generasi (WHO, 2. Menurut World Health Organization (WHO) ,angka kejadian anemia pada remaja putri di negara berkembang sekitar 53,7% dari semua remaja putri. Menurut SDKI, pravelensi penyakit anemia sebanyak 75,9 pada remaja putri. (Eka,dkk. ,2. Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskeda. 2018 remaja putri mengalami anemia yaitu 48,9%, dengan proporsi anemia ada di kelompok umur 15- 24 tahun dan 25- 34 tahun. (Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia mencatat penduduk indonesia yang tergolong usia remaja . Ae 19 tahu. adalah sekitar 21% . juta jiw. terdiri dari 50,8% remaja laki- laki dan 49,2% remaja Hal menunjukan bahwa kejadian anemia pada (Eka,dkk,2. Angka kejadian anemia pada kelompok remaja di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2018 mencapai 41,5% (Dinkes Provinsi Jawa Barat, 2. , prevelensi anemia devisiensi besi pada balita 40,5%, ibu hamil 50,5%, ibu nifas 45,1%, remaja putri 10 Ae 18 tahun 57,1% dan usia 19Ae45 tahun 39,5% dari semua kelompok umur tersebut remaja memiliki resiko paling tinggi untuk menderita anemia terutama remaja putri . Prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia pada tahun 2018, yaitu pada kelompok remaja usia 11- 14 tahun sebesar 13,5% dan usia 15-21 tahun sebesar 29,5% (Kemenkes RI, 2. Volume 08 No 02 2022 Sedangkan angka kejadian anemia pada kelompok remaja di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2018 mencapai 41,5%. Kejadian anemia tidak terlepas dari masalah kesehatan lainnya, masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan kejadian anemia adalah pertama sekitar 20% kematian ibu hamil dan bayi baru lahir diakibatkan oleh anemia. Kedua anemia pada wanita hamil mengakibatkan berat bayi lahir renda dan lahir prematur. Ketiga, anemia dapat mengurangi kemampuan fisik dan menurunkan produktifitas kerja pada orang Keempat, pada anak sekolah menyebabkan keterbatasan perkembangan kognitif sehingga prestasi sekolah menurun. Dampak perempuan yaitu tubuh mudah terinfeksi, kebugaran tubuh berkurang,semnagat belajar menurun,calon ibu beresiko tinggi melahirkan anak dengan anemia. Penting di perhatikam ibu hamil kurang gizi akan melahirkan bayi kurang gizi pula. Sumber zat besi tertinggi contohnya hati ayan dan daging sapi. Selain itu remaja perempuan dapat mengonsumsi tablet tambah darah seminggu sEkali, sedangkan konsumsi teh dan kopi disebut sebagai penyumbat zat besi karena memperlambat penyerapan zat besi dan harus dihindari sesudah atau setelah makan. (Ira,dkk. ,2. Kejadian anemia disebabkan oleh pola konsumsi makanan remaja putri di Indonesia yang masih didominasi oleh sayuran sebagai sumber zat besi yang sulit diserap. Sementara itu, daging dan makanan hewani, yang dikenal sebagai sumber zat besi yang baik, jarang dikonsumsi, terutama oleh remaja putri yang tinggal di pedesaan. Selain itu, kondisi tertentu, pertumbuhan selama penyakit kronis dan kehilangan darah akibat infeksi parasit . alaria dan helminthiasi. , dapat memperburuk Anemia juga dapat mengganggu pertumbuhan yang menjadi tidak sempurna pada tinggi dan berat badan, selain itu sistem imun tubuh dapat diturunkan dan mudah terserang penyakit (Eka dkk. JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X Dampak rendahnya status besi (F. dapat mengakibatkan anemia dengan gejala pucat,lesu atau lelah,sesak nafas dan kurang nafsu makan serta gangguan pertumbuhan. Dampak anemia mungkin tidak dapat langsung terlihat tetapi dapat berlangsung lama dan mempengaruhi kehidupan remaja selanjutnya. Anemia pada remaja perempuan dapat berdampak panjang untuk dirinya dan juga untuk anak yang dilahirkan kelak. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada remaja di Indonesia secara umum dilakukan melalui tiga program utama yaitu suplementasi zat besi, pendidikan gizi dan fortifikasi pangan. Upaya tersebut perlu dilakukan dengan menyenangkan dan menarik bagi remaja. Keterlibatan remaja sebagai role model untuk teman sebayanya juga menjadi salah satu hal yang akan terus dikembangkan untuk mempromosikan pola hidup sehat bagi generasi remaja kita. Data hasil Riskesdas tahun 2013 menunjukkan prevalensi anemia di Indonesia sebesar 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, anemia pada lakilaki sebesar 18,4% dan perempuan sebesar 23,9%. Berdasarkan tempat tinggal, penderita anemia yang tinggal di perkotaan sebesar 20,6% dan 22,8% di pedesaan. Menurut penelitian Trisnanti. berdasarkan hasil uji statistic maka di peroleh p- value 0,000 . <0,. yang berarti ada hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian anemia remaja putri di MTs Swasta Al-Hidayah Talang Bakung Kota Jambi tahun . ,4%) remaja putri mengalami anemia. Sedangkan hasil penelitian Tiaki tahun . dengan p-value 0,0000 < 0,05 menemukan ada hubungan pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMK N 2 Yogyakarta dengan . ,4%) memiliki pola makan kurang baik. Volume 08 No 02 2022 Menurut penelitian Suryani, dkk . prevalensi remaja putri dengan pola makan tidak baik sebanyak 79,25%. Remaja putri tersebut memiliki karakteristik makan tidak sehat, seperti tidak makan pagi, malas minum air putih, diet tidak sehat karena ingin langsing . engabaikan sumber protein, karbohidrat, vitamin dan minera. , kebiasaan mengemil makanan rendah gizi . orengan, coklat, permen dan e. dan makan makanan siap saji . ast foo. Lebih lanjut. Panat . meneliti bahwa makanan siap saji . ast foo. cenderung tinggi lemak, energi, natrium dan rendah asam folat, serat dan vitamin A. Hal ini dapat menyebabkan zat gizi pada remaja putri tidak terpenuhi dengan baik. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tiaki . menunjukkan bahwa pola makan memiliki hubungan terhadap anemia pada remaja putri kelas IX di SMK Negeri 2 Yogyakarta. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan 23 responden . ,4%) memiliki pola makan kurang baik dan mengalami Namun hasil penelitian Suryani, dkk bahwa tidak ada hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di Kota Bengkulu. Penelitian menunjukkan dari 951 remaja putri dengan pola makan baik, 38,6% menderita anemia dan 61,4% tidak anemia. Data puskesmas kedung waringin yang di ambil tahun 2019 menunjukan bahwa 25% siswa yang diambil secara acak menunjukan adanya kadar Hb yang kurang dari 12gr%. Dari hasil wawancara 10 siswi kelas XII SMAN 1 Kedung Waringin di dapatkan 1 siswi yang suka sarapan di pagi hari, 3 siswi kadang kadang sarapan dan 6 siswi tidak suka sarapan di pagi hari, dan dari 10 siswi suka makan dan jarang makan sayuran Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah analitik, dengan metode pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin sebanyak 202 remaja putri, dengan sampel sejumlah 66 remaja putri kelas JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X XII SMA N 1 Kedungwaringin, dengan kriteria responden merupakan siswi kelas XII SMA N 1 Kedungwaringin, bersedia menjadi responden dan hadir saat pengumpulan data. Sampel diambil dengan menggunakan Accidental pengukuran hemoglobin merk AuEasy TouchAy dan kuesioner. Pengelolaan data dilakukan melalui tahapan pemeriksaan data, pemberian kode, pemasukan data dan penyusunan data. Pada tahapan berikutnya dilakukan analisa data dengan teknik analisis kuantitatif, yaitu univariat dan bivariat dengan menggunakan uji Chi-Suuare. Hasil dan Pembahasan Dari data puskesmas Kedungwaringin tahun 2019 terdapat anak remaja putri 25% yang mengalami anemia. Sebelum terjadinya pandemi pihak sekolah telah berkerja sama dengan pihak puskesmas untuk memberikan tablet tambah darah setiap minggu sekali. Tahun 2020 tidak di lakukan pemberian tablet tambah darah pada remaja putri karena meningkatnya angka kejadian corona. Dari hasil data yang telah terkumpul dan telah dilakukan pengolahan data yang diupayakan untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian dan membahas dan membandingkan hasil penelitiann yaitu untuk mengetahui apakah ada hubungan pola makan dengan status anemiapada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi tahun Berdasarkan hasil analisa data distribusi frekuensi anemia pada remaja putri di SMAN 1 Kedungwaringin tahun 2022 yang telah di analisa dari total 66 responden terdapat 59 orang remaja putri . 4%) yang tidak anemia sedangkan yang mengalami anemia terdapat 7 orang remaja putri . 6%). Sedangkan hasil data distribusi frekuensi pola makan pada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin tahun 2022 yang telah di analisa dari 66 reponden terdapat 58 orang remaja putri . 9%) yang memiliki pola Volume 08 No 02 2022 makan baik sedangkan 8 orang remaja putri . 1%) yang memiliki pola makan kurang Analisa Bivariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Status Anemia dan Pola Makan Pada Remaja Putri Kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Variabel Frekuensi Anemia Tidak Anemia Total Pola Makan Baik Kurang Total Presentase Hasil analisa hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII SMAN 1 Kedungwaringin kabupaten Bekasi tahun 2022 dari table diatas dari 66 responden remaja putri kelas XII yang memiliki pola makan baik yang mengalami anemia sebanyak 4 . 9%) remaja putri dan yang tidak anemia sebanyak 58 . 1%) remaja putri. Sedangkan yang memiliki pola makan kurang baik yang mengalami anemia sebanyak 3 . 5%) remaja putri dan yang mengalami anemia sebanyak 8. 5%) remaja putri. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai P=0,033 (P O nilai 0. maka dapat disimpulkan adanya hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi Tahnu 2022. Dan hasil nilai OR didapatkan 8. 100 yang artinya remaja putri yang memiliki pola makan kurang baik 100 kali lebih besar mengalami anemia dibandingkan responden yang memiliki pola makan baik. JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X Tabel 2 Hubungan Pola Makan dengan Status Anemia Pada Remaja Putri Kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi Total Anemia Anemia Pola Makan Baik Kurang Baik Total Anemia Value . %) 0,033 Tidak Berdasarkan hasil analisa hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII SMAN 1 Kedungwaringin kabupaten Bekasi tahun 2022 dari table diatas dari 66 responden remaja putri kelas XII yang memiliki pola makan baik yang mengalami anemia sebanyak 4 . 9%) remaja putri dan yang tidak anemia sebanyak 58 . 1%) remaja putri. Sedangkan yang memiliki pola makan kurang baik yang mengalami anemia sebanyak 3 . 5%) remaja putri dan yang mengalami anemia sebanyak 8. 5%) remaja putri. Hasil uji Chi-square diperoleh nilai P =0,033 (P O nilai 0. maka dapat disimpulkan adanya hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi Tahnu Dan hasil nilai OR didapatkan 8. 100 yang artinya remaja putri yang memiliki pola makan kurang baik cenderung 8. 100 kali lebih besar mengalami anemia dibandingkan responden yang memiliki pola makan baik. Andriani . menyatakan bahwa pola makan seseorang dan perubahan gaya hidup pada remaja bisa mempengaruhi angka kejadian anemia pada remaja, dalam hal ini pola makan dinilai dari frekuensi makanan, jenis makanan dan jumlah makanan. Menurut penelitian Kaimudin . kebiasaan makan berhubungan secara signifikan dengan anemia pada remaja putri. Frekuesnsi makan sangat erat kaitannya dengan asupan zat besi, semakin banyak makan Volume 08 No 02 2022 maka asuppan zat gizi akan lebih baik. Bila asupan makanan kurang maka cadangan besi banyak yang dibongkar sehingga keadaan ini dapat mempercepat terjadinya anemia. Hasil penelitian Nidia . dengan judul hubungan pola makan dan status gizi dengan anemia pada remaja putri di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta dari 76 responden yang memiliki pola makan tidak baik dan mengalami anemia sebanyak 7 responden . %) dari hasil analisis chi square, didapatkan nilai signifikan0,005 < 0,05 maka dapat disimpulkan HO ditolak sehingga dapat dinyatakan bahwa ada hubungan antara pola makan dengan anemia pada remaja putri di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Hal ini sejalan denganpenelitian Megawati . yang menyatakan bahwa remaja putri dengan pola makan kurang baik mempunyai status anemia sedangkan remaja putri dengan pola makan baik tidak mengalami anemia. Responden yang memiliki pola makan yang tidak baik cenderung 5,400 kali lebih besar mengalami anemia dibandingkan responden yang mempunyai pola makanbaik. Tiaki . dengan judul hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMK Negeri 2 Yogyakarta menyatakan bahwa dari 53 responden yang memiliki pola makan kurang baik dan mengalami anemia sebanyak 23 responden . ,4%). Dari hasil analisa dengan uji Chisquare, didapatkan nilai signifikan 0,026<0,05 . -value< ) sehingga dapat dinyatakan ada hubungan antara pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri di SMK Negeri 2 Yogyakarta. Hal ini sejalan dengan penelitian Fajriah . bahwa berdasarkan hasil analisa ada hubungan signifikan antara pola makan dengan kejadian anemia pada remaja putri dengan nilai p-value 0,0000< 0,05. Berdasarkan temuan dari penelitian ini maka dapat dismpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan status anemia pada remaja putri di SMAN 1 Kedungwaringin, dimana pola makan pada JURNAL KESEHATAN BHAKTI HUSADA ISSN 2503-264X remaja putri SMAN 1 Kedungwaringin dalam kategori kurang baik karena dari 66 responden 33 orang yang tidak suka sarapan pagi, 18 orang tidak suka mengkonsumsi sayur dan 24 orang yang tidak suka mengkonsumsi buah. Tetapi ada juga yang termasuk kategori baik mereka mengetahui informasi pola makan yang baik dan mereka mengetahui informasi tersebut dari media Dari hasil kuesioner terdapat 33 siswi yang suka sarapan di pagi hari dan 48 siswi yang suka makan sayuran, terdapat 42 siswi yang suka mengkonsumsi buah. Kejadian anemia pada remaja tidak hanya disebabkan oleh pola makan yang kurang baik, hal ini juga dapat disebabkan oleh faktor lain seperti kurangnya kandungan vitamin B12, protein dan asam folat dalam makanan yang di konsumsi. Berdasarkan hasil penelitian yang saya lakukan tentang hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja putri kelas XII di SMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi tahun 2022 berpengaruh terhadap pola makan pada remaja dan mengerti tentang anemia pada remaja. dan mereka juga mendapatkan informasi dari pihak puskesmas memberikan tablet tambah darah untuk mencegah terjadinya anemia pada remaja putri. Dengan penelitian pola makan pada remaja putri dalam menjaga pola makan seperti mengkonsumsi syuran hijau, hati, ikan, daging, serta mengkonsumsi tablet tambah darah dapat mencegah terjadinya anemia pada remaja putri yang di akibatkan kurangnya mengkonsumsi sayuran hijau, kacang kacangan atau makanan yang lain serta di harapkan remaja putri dapat mempertahankan pengetahuannya dan menjaga pola makannya demi kesehatan Kesimpulan Mayoritas remaja putri kelas XII yang mengalami anemia sebanyak 7 remaja putri . 6%) yang telah di teliti dari 66 responden sedangkan yang tidak mengalami anemia sebanyak 59 remaja putri . 4%) yang telha diteliti dari 66 Volume 08 No 02 2022 Mayoritas remaja putri kelas XII diSMAN 1 Kedungwaringin Kabupaten Bekasi tahun 2022 yang memiliki pola makan kurang baik sebanyak 8 remaja putri . 1%) dan yang memiliki pola makan baik sebanyak 58 remaja putri . Ada hubungan yang signifikan antara hubungan pola makan dengan status anemia pada remaja dengan nilai P= 0,033 yaitu lebih kecl dari nilai . O nilai 0,. dengan nilai OR= 8,100 artinya . 400 Ae 46. Saran Bagi lokasi penelitian dapat memperbanyak upaya kampanye pola makan yang baik dan sehat dengan memasang poster di mading, kantin dan sudut potensial di sekolah lainnya, yang dapat dilakukan bekerjasama dengan Penelitian dilakukan dengan pengembangan instrumen dan variabel lainnya. Ucapan Terima Kasih Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi Kepala Sekolah SMAN I Kedungwaringin Kab. Bekasi Kepala Puskesmas Kedungwaringin Ketua STIKes Bhakti Husada Cikarang Siswa dan Siswi SMAN I Kedungwaringin Semua pihak yang terlibat langsung dan tidak langsung yang tidak dapat Kami sebutkan satu per satu. Daftar Pustaka