SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. https://journal. id/index. php/SEHATMAS e-ISSN 2809-9702 | p-ISSN 2810-0492 Vol. 5 No. 2 (April 2. 179-193 DOI: 10. 55123/sehatmas. Submitted: 22-01-2026 | Accepted: 03-03-2026 | Published: 15-04-2026 Literature Review Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Balita Sevti Maharani1. Minarti2 Program Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat. Universitas Kader Bangsa Palembang. Palembang. Indonesia Email: 1septiseptii2332@gmail. Abstract In Indonesia, stunting cases showed a decline in 2024, namely 19. 8% from the previous 5% in 2023. This remains a critical issue because it does not meet the WHO target. Stunting is a form of long-term malnutrition that can disrupt physical balance, cognitive development, and motor skills. This article was compiled by conducting a literature review of various sources found through search engines, such as Google Scholar or PubMed from the past five years, which includes research conducted specifically on the toddler population in Indonesia. The review results indicate various influencing factors, such as birth characteristics. Through analysis of various sources, it was concluded that there are many risk factors for stunting in Indonesia, such as maternal, child, and environmental factors. Maternal factors include the mother's age during pregnancy, maternal mid-upper arm circumference during pregnancy, maternal height, provision of breast milk or complementary foods, early initiation of breastfeeding, and food quality during pregnancy. Child factors include a history of low birth weight (LBW) or premature birth, male gender, a history of neonatal illness, persistent diarrhea, a history of infectious diseases, and the child's lack of immunizations. Environmental factors such as low economic status, limited family education, particularly for the mother, low family income, open defecation or inadequate toilets, unsafe drinking water, and high exposure to pesticides also contribute to increased stunting. Providing good nutrition for infants and toddlers can help improve stunting. Mothers also need to consume nutritious foods, especially during pregnancy. Keywords: Literature Review. Stunting Incidence. Toddlers. Abstrak Di Indonesia kasus stunting menunjukkan penurunan di tahun 2024 yakni 19,8 % dari yang sebelumnya 21,5% di tahun 2023. Hal ini masih menjadi isu penting karena belum sesuai dengan target WHO. Stunting merupakan bentuk malnutrisi jangka panjang yang dapat mengganggu keseimbangan fisik, perkembangan kognitif serta kemampuan Artikel ini disusun dengan melakukan tinjauian pustaka dari berbagai suimber yang ditemukan melalui search engine, seperti Google Scholar atau PubMed dari lima tahun terakhir yang mencakup penelitian yang dilakukan khususnya teirhadap populasi balita di Indonesia. Hasil tinjauan menunjukkan ada berbagai faktor yang mempengaruhi. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 seperti karakteristik lahir. Melalui analisis berbagai sumber, disimpuilkan bahwa banyak faktor risiko kejadian stunting di Indonesia, seperti faktor ibu, anak, maupun lingkungan. Faktor ibu mencakup dari usia ibu saat hamil, lingkar lengan atas ibu selama kehamilan, tinggi badan ibu, pemberian ASI atau MPASI, inisiasi menyusui dini serta kualitas makanan selama kehamilan. Faktor anak mencakup riwayat berat badan lahir reindah (BBLR) atau lahir prematur, jenis kelamin anak laki-laki, adanya riwayat penyakit neonatal, sekaligus riwayat diare yang persisten, riwayat penyakit menular, dan anak yang tidak mendapatkan imunisasi. Lingkungan seperti ekonomi rendah, pendidikan keluarga khususnya ibu yang minim, pendapatan keluarga yang kecil, kebiasaan buang air besar yang sembarangan atau jamban yang tidak memadai, air minum yang tidak aman untuk dikonsumsi, dan tingginya paparan pestisida juga berkontribusi pada peningkatan Pemberian asupan gizi yang baik bagi bayi dan balita dapat membantu memperbaiki kondisi stunting yang dialami. Konsumsi makanan bergizi juga perlu diberikan kepada ibu, terutama selama masa kehamilan. Kata Kunci: Literature Review. Kejadian Stunting. Balita. PENDAHULUAN Dunia internasional saat ini begitu memperhatikan masalah gizi pada anak dan balita seperti stunting. Pada tahun 2020 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan seikitar 22% atau seibanyak 149,2 anak balita di dunia mengalami kerdil atau stunting. Dimana lebih dari setengahnya berasal dari Asia . %), sementara 39% berasal dari benua Afrika. Dari total 83,6 juta anak balita yang mengalami stunting di Asia, bagian terbanyak beirasal dari Asia Selatan . ,7%) dan bagian paling kecil berasal darii Asia Tengah . ,9%) (Aryu, 2. Stuinting teilah lama menjadi perhatian utama di tingkat nasional. WHO mengklasifikasikan Indoneisia seibagai negara dengan masalah gizi yang serius. Hal ini diduikuing oleih data yang menunjukkan bahwa angka stunting di Indonesia masih melebihi batas yang diteitapkan oleh WHO, sebesar 20%. Menurut Survei Status Gizi Indonesiia (SSGI) yang dilakukan pada tahun 2021, tercatat angka stunting nasional di tahun 2019 sebesar 27,7% dan pada tahun 2021 mencapai 24,4% (Kemenkes . dalam Rohmawati . Stuinting, ataui pertumbuhan yang terhambat merupakan suatu keadaan keikurangan gizi yang berlangsung dalam jangka panjang seilama kehamilan atau seribu hari pertama di kehidupan anak (Sandjojo, 2. Isu stunting kini menjadi isu global, khususnya pada beberapa negara berkembang. Indonesia, tingkat kejadian stunting sangatlah tinggi, yaitui 31,8% pada tahuin 2020, kemudian turun menjadi 24,4% pada tahun 2021, dan terus menurun hingga 21,6% ditahun yang sama. Meskipun demikian, angka ini masih tergolong tinggi, dan Indonesia terus mengupayakan dalam menurunkan angka kejadian stunting menjadi 14% pada tahun 2024 mendatang (Keimkeis, 2. Target 14% dinilai sulit dicapai dalam waktu singkat karena beberapa faktor. Pertama, stunting merupakan masalah multidimensional yang dipengaruhi oleh faktor gizi, sosial ekonomi, sanitasi, pendidikan orang tua, pola asuh, hingga akses layanan kesehatan. Literatur menunjukkan bahwa determinan sosial seperti kemiskinan, rendahnya pendidikan ibu, dan sanitasi yang tidak memadai masih menjadi tantangan utama di berbagai daerah (Hasmyati et al. , 2025. Sadariah et al. , 2. Kedua, ketimpangan antarwilayah masih tinggi, terutama di daerah terpencil dan wilayah dengan akses layanan kesehatan terbatas. Studi implementasi kebijakan di Aceh menunjukkan adanya kendala pada kapasitas kader, kepatuhan konsumsi suplemen ibu hamil, serta praktik ASI eksklusif yang belum optimal (Sofyan et al. , 2. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Balita yang mengalami stunting perlu mendapatkan perhatian secara khusus. Dikarenakan kondisi stunting akan menghambat pertumbuhan secara fisik, perkembangan mental, serta kesehatan mereka. Saat ini, banyak diskusi yang berfokus pada fakta bahwa anak-anak dengan stunting cenderung mengalami penurunan dalam prestasi akademik, yang berujung pada rendahnya pendapatan di masa depan. Mereka berisiko tumbuh menjadi individu yang tidak sehat dan hidup dalam kemiskinan ketika dewasa yang diakibatkan stunting. Selain itu, masalah stunting juga membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit, baik yang menular maupun Penyakit Tidak Menular (PTM). Kenaikan berat badan yang berlebihan dapat pula dipicu oleh stunting, yang meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit degeneratif. Oleh sebab itu, stunting merupakan indikator rendahnya kualiitas sumber daya manusia pada suatu Dampak stunting dapat dikategorikan menjadi konsekuensi jangka pendek dan jangka panjang. Konsekuensi jangka pendek meliputii peningkatan angka sakit dan kematian, perkembangan kognitif, motorik, serta keterampilan verbal pada anak yang tidak optimal, dan meningkatnya pengeluaran untuk biaya kesehatan. Sedangkan konsekuensi jangka panjang mencakup postur tubuh yang tidak ideal di usia dewasa . ebih rendah dari rata-rat. , peningkatan risiko obesitas dan penyakit lainnya, penurunan kesehatan reproduksi, kemampuan belajar menjadi berkurang, serta performa yang tidak maksimal selama masa sekolah dan di dunia kerja. Literature review mengenai stunting telah banyak dilakukan sebelumnya, namun sebagian besar hanya mengidentifikasi faktor risiko secara umum tanpa melakukan pemetaan yang lebih kontekstual terhadap karakteristik wilayah tertentu atau tanpa mengintegrasikan temuan berdasarkan pendekatan determinan sosial kesehatan secara Beberapa tinjauan pustaka terdahulu lebih berfokus pada faktor gizi dan karakteristik individu . eperti BBLR. ASI eksklusif, dan riwayat penyakit infeks. , sementara aspek lingkungan dan kondisi sosial ekonomi sering kali dibahas secara Kebaruan dalam literature review ini terletak pada pendekatan sintesis yang lebih integratif, yaitu dengan mengelompokkan faktor-faktor penyebab stunting ke dalam tiga dimensi utama: faktor ibu, faktor anak, dan faktor lingkungan, serta menekankan interaksi antar faktor tersebut. Selain itu, review ini memberikan penekanan khusus pada faktor lingkungan dan sosial ekonomiAitermasuk sanitasi, kondisi fisik rumah, akses air bersih, serta karakteristik masyarakat pesisirAiyang dalam beberapa studi terbaru . 3Ae2. terbukti memiliki kontribusi signifikan terhadap kejadian stunting. Berbeda dengan tinjauan sebelumnya yang hanya mendeskripsikan prevalensi dan hubungan bivariat, literature review ini juga mengintegrasikan hasil penelitian dengan berbagai desain metodologi . ross-sectional, case control. SEM/Smart-PLS, hingga analisis spasia. , sehingga memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pola determinan stunting, baik pada level individu maupun komunitas. Dengan demikian, artikel ini tidak hanya merangkum faktor risiko, tetapi juga menegaskan pentingnya pendekatan intervensi berbasis wilayah dan determinan sosial dalam percepatan penurunan stunting. METODE PENELITIAN Penyusunan literature review ini menggunakan panduan PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyse. untuk memastikan transparansi dan sistematika dalam proses identifikasi, seleksi, skrining, dan inklusi PRISMA digunakan sebagai kerangka kerja dalam menyusun tahapan pencarian literatur, mulai dari identifikasi artikel melalui database, penghapusan duplikasi, proses Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 penyaringan berdasarkan judul dan abstrak, hingga penilaian kelayakan artikel secara penuh . ull-text assessmen. , meskipun penelitian ini tidak melakukan meta-analisis kuantitatif, prinsip PRISMA tetap diterapkan untuk meningkatkan kredibilitas, replikasi, dan akuntabilitas proses seleksi artikel. Artikel diperoleh sebanyak 20 juirnal yang merupakan hasil penelitian empiris dalam rentang waktu 2020-2025 . tahun terakhi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis telaah yang dilakukan oleh penulis, ditemukan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting yang diuraikan pada tabel Tabel 1 Penelitian Terkait Author Jihan Fauiziah. Khansa Dinah Trisnawati. Khansa Prameisti Suilistyo Rini. Suici Uitami Puitri Judul Tahun Stuinting: Peinyeibab. Geijala, dan Peinceigahan Muihammad Muistakim. Irwanto. Roeidi Irawan. Mira Irmawati. Baguis Seityoboeidi Impact Stuinting on Deiveilopmei Childrein beitweiein 13 Yeiars of Agei Metode Uji Hasil Meitodei peineilitian Hasilnya, ditemukan bahwa stuinting merupakan isu yang kini menarik perhatian serius dari peimeirintah serta masyarakat dalam upaya mengurangi angka Stunting bisa dikenali meilaluii analisis menyeluruh teirhadap tinggi badan anak, di mana peingukuirannya dilakukan secara teliti sesuai dengan irangkaian standar yang telah diakui seicara global dan disepakati sebeiluimnya. Peineilitian potong Dari total 300 anak yang terlibat dengan dalam peineilitian ini, teirdapat 150 anak menderita stunting dan Peirkeimbangan 150 anak tidak menderita diuikuir deingan Anak-anak Deinveir stuinting. De ve lopme ntal Screieining Teist II besar (DDST-II), dan dibandingkan deingan anak-anak Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Zahra Nuir Aida. Peipi Nuironiah. Deiri Heindriawan Peingeimban 2025 gan Bookleit Eiduikasi Ibui Stimuilasi Peinceigahan Stuinting pada Anak Uisia Dini Beikaheign Girma. Leialeim Dibkui Sasahui. Azizuir Rahman Distribuisi pada anakanak yang Afrika Su b-Sahara Raihanah Na Anthony Bat Sarah Kiguili Preivaleinsi dan reimaja Cognitivei Adaptivei yang tidak menderita stuinting. Teist/Clinical Cruidei Odd Ratio (COD) adalah Linguiistic & 2,98, 4,24, 4,75 deingan nilai p masing-masing 0,006, 0,001, dan Auiditory 0,001. Rasio Odd Mileistonei Diseisuiaikan adalah 0,34, 0,24, (CAT/CLAMS). 0,21 deingan nilai p masingmasing 0,008, 0,001, dan 0,001. Peineilitian ini Pada penelitian ini diperoleh sebanyak 80% dari para guru memiliki pemahaman yang baik mengenai informasi tersebut. Hal pe nge mbangan ADDIE u ntu k ini kategori AuTinggiAy. Di sisi lain, 90% guru juiga menyatakan sarana perlunya media pembelajaran eiduikasi bagi ibui visual seperti booklet deingan dalam stimuilasi dan gambar, yang juga termasuk AuTinggiAy. stuinting pada anak Seilanjutnya terlihat pula bahwa uisia dini. Modeil pemahaman para ibu terkait peingeimbangan ini stunting, lima peirkembangan anak, serta gizi Analysis, beirada di tingkat AuSeidangAy. Deisign, deingan 63% yang menyadari Deiveilopmeint, tentang pentingnya stimuilasi Impleimeintation, perkembangan anak seisuiai dan Eivaluiation Selain itu, 89% dari mereka merasa membuituihkan media eduikasi yang dapat digolongkan AuTinggiAy, yang menunjukkan bahwa para ibu di daerah ini memerlukan booklet sebagai media eduikasi yang bisa diakses kapan saja sesuai dengan kebutuhan mereka. Pre vale nsi stu nting Analisis spasial meinuinjuikkan di wilayah yang peingeilompokan stuinting yang disampeil signifikan (Moran's I:0,639, p<0,. , deingan titik-titik panas uitamanya beirada di Afrika inteirpolasi spasial Teingah dan Timuir, seipeirti . eiknik Krigin. Eitiopia. Reipuiblik Statistik deiskriptif Deimokratik Kongo. Di Afrika uintuik Seilatan, lokasi dingin seipeirti Namibia dan Afrika Seilatan diteimuikan meimiliki tingkat stuinting yang leibih reindah. Meitodei stuidi Hasil peineilitian meingguinakan potong lintang yang uisia rata-rata (IQR) saat meilibatkan anak- diagnosis adalah einam tahuin anak dan (IQR 3Ae. Di antara peiseirta reimaja beiruisia 1 teirseibuit, 48 . ,1%) adalah lakihingga 18 tahuin laki. Preivaleinsi stuinting diamati sindrom pada 15 . ,9%) peiseirta . nteirval keipeircayaan [IK] 95%: Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 yang dirawat di Ruimah Sakit Muilago Uiganda Auiguistuis O Camilla Ban Uimarui Seis Bright Opokui Ahin Trein n stuinting kuirang pada anak uisia 0Ae Ghana, 1993Ae2022 15,88 Ai 16,. Meingeinai tingkat keiparahan, 12 . ,8%) peiseirta meingalami stuinting seidang, dan 3 . ,2%) meingalami stuinting beirat. Peiseirta deingan me nu nju kkan pe lu ang stuinting yang leibih tinggi dibandingkan (OR: 4,11. IK 95%: 1,05 Ai 15,98, p<0,. Meitodei ini Hasil peineilitian ini dipeiroleih sia meingguinakan ata anak, antara tahuin 1998 dan dari puitaran Suirveii 2022, peirbeidaan preivaleinsi Deimografi stuinting antara anak yang leibih Ke se hatan Ghana tuia dan anak yang leibih muida dilakuikan meinuiruin dari -29,5% meinjadi antara tahuin 1993 0,9 poin peirseintasei, dan tingkat beirat badan kuirang dari -10,0% meinjadi -2,6% poin peirseintasei, yang meinuinjuikkan peinuiruinan Seicara eikonomi, disparitas stuinting antara anak dari ibui teirkaya dan teirmiskin meinuiruin dari 27,2% meinjadi 15,3% poin peirseintasei, dan beirat badan kuirang dari 19,6% meinjadi 8,3% poin peirseintasei Beirdasarkan tingkat pe ndidikan, keiseinjangan stuinting antara anak dari ibui beirpeindidikan tinggi dan reindah beirkuirang dari 24,7 pada tahuin peirseintasei pada tahuin 2022, seimeintara beirat badan kuirang meinuiruin dari 23,3 meinjadi 5,6 poin peirseintasei pada peiriodei stuinting dan beirat badan kuirang antara ibui beirpeindidikan tinggi dan ibui tanpa peindidikan formal. Beirkaitan tinggal, peirbeidaan antara anakanak dari daeirah peirkotaan dan peideisaan meinuiruin dari 15,3 poin peirseintasei pada tahuin peirseintasei uintuik stuinting pada tahuin 2022, dan dari 11,8 poin peirseintasei pada tahuin 1993 meinjadi 2,2 poin peirseintasei uintuik beirat badan kuirang pada Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Hasmyati. Nuiruil Fadilah Aswar. Annisa Paramaswat Aslam. Rahmat Riwayat Abadi. Nuir Indah Atifah Anwar Faktor risiko Suilaweisi Seilatan Ayva Tuizqya Fattikasary. Aseip Kuirnia Jayadinata. Dheia Ardiyanti. Hanifa Shofuiroh. Idat Muiqodas. Khansa Prameisti Suilistyo Rini. Khoeiruinnis Nuir Fadillah Peiran Orang Tuia Peinceigahan Stuinting pada Anak Uisia Dini Peirbaikan Pola Makan Lingkuingan Daneindra Nadhif Seivriano. Guinawan. Peingaruih Stuinting Teirhadap Keimampuia n Pragmatik Anak Pada Uisia Tahuin Keicamatan Jeibreis Kota Suirakarta tahuin 2022, yang meinuinjuikkan peinuiruinan keitimpangan. Analisis data Hasil analisis mengungkapkan faktor-faktor dilakuikan seicara bahwa infeireinsial deingan ekonomii, budaya, kebersihan lingkuingan, serta kondisi fisik meitodei Struictuiral rumah saling berhubungan secara signifikan terhadap terjadinya Eiquiation Mode ling (SE M), stu nting. Faktor-faktor ini pula analisis yang berperan dalam penyeibaran te rse bu t dipeirkuiat penyakit infeiksi, yang pada program akhirnya berdampak pada statuis analisis Smart-PLS. gizi anak balita. Peinyakit infeksi mempunyai ikatan yang rumit terhadap terjadinya stuinting. Dimana interaksi di antara keduianya bisa mempengaruhi keadaan anak. Hasil dari penelitian ini juiga memberikan dampak pada strategi penanganan stuinting serta pengembangan menyeluruh dan terintegrasi di wilayah peisisir Sulaweisi Seilatan Me tode ku alitatif Dari hasil peineilitian meilaluii wawancara bahwa stuinting haruis diwaspadai dimuilai dari calon deisain stuidi kasuis peingantin, meinikah akan meimpuinyai anak yang haruis dipeirhatikan seijak Faktor uitama teirjadinya stuinting di Pangaleingan adalah Peirnikahan lingkuingan, pola asuih, dan pola Pola makan seihari hari yang dibeirikan keipada anak dikareinakan ada anak yang tidak meinyuikai sayuir dan meimilih milih makanan, seipeirti makanan siap saji. Seilain pola makan. Peineilitian ini Analisis dalam peineilitian ini beirjeinis peineilitian meingguinakan Manni ku antitatif dan whitne yAos u ntu k me nggu nakan pe ngaru h antara 2 variabeil. cross Diteimuikan hasil nilai p = 0. seictional deingan (C0. , seihingga hipoteisis uintuik alteirnatif (H. meingeitahuii faktor Teirdapat peingaruih neigatif reisiko dan variabeil antara yang teirikat yang keimampuian pragmatik anak Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Keincana Sari. Ratui Ayui Deiwi Sartika Peingaruih Faktor Fisik Orang Tuia Anak Stuinting Lahir Bayi Barui Lahir di Indoneisia Mima Salamah. Reisty Noflidapuitri Zuirhayati. Nuiruil Hidayah Faktor Ae 2021 Faktor Yang Meimpeingarui hi Keijadian Stuinting Di Wilayah Keirja Puiskeismas Suirian Faktor yang 2022 pada balita Maria Tarisia Analisis Rini. Keituit Faktor Suiryani . Peinyeibab Banguin Dwi Keijadian Hardika. Ni Stuinting Kadeik Widiastuiti Fitrah Rauif. Eiko Winarti. Sri Faktor Ae Faktor Yang Meimpeingar keimuidian diteiliti uisia 4-6 tahuin di Keicamatan seicara beirsamaan Jeibreis. Kota Suirakarta. Meitodei ini Berdasarkan meingguinakan data diketahui keseluruhan, 10,2% anak yang berusia 0 builan menderita stuinting pada saat lahir . ,7% laki-laki dan 9,5% peireimpuia. Stuinting saat lahir berhubungan deingan usia ibu pada keihamilan . , tinggi badan orang tuia, uisia orang tua, dan usia Anak dari ibui deingan tinggi badan < 145 cm dan ayah deingan tinggi badan < 161,9 cm, meimiliki risiko 6 kali leibih tinggi uintuik terjadinya stuinting pada saat lahir . asio peiluiang yang diseisuiaikan 5,93. dengan inteirval keipeircayaan 95%, 5,53 hingga 6,. Jeinis peineilitian ini Hasil adalah peineilitian meinuinjuikkan ada huibuingan Stuinting analitik, signifikan yang meingguinakan deingan ASI eikskluisif (P Valuiei 0,000. CI 1,387-2,. Sanitasi peindeikatan cross (P Valuiei 0,000. CI 1,213- 2,. seictional deingan dan Statuis Gizi (P Valuiei 0,018. Sampeil seibanyak CI 1,159-1,. 92 reispondein. Meitodei peineilitian Hasil dari peineilitian ini ada ini meingguinakan huibuingan peindidikan deingan kuiantitatif keijadian stuinting yang mana nilai P-valuiei adalah 0,15 < 0,1. de sain pe ne litian Ada huibuingan peindapatan koreilasi deingan keijadian stuinting yang mana nilai P-valuiei adalah 0,000 peindeikatan cross- < 0,1. Ada huibuingan kuinjuingan ANC deingan keijadian stuinting deingan nilai P-valuiei adalah 0,004 Peineilitian ini Hasil peineilitian meinuinjuikkan pe ne litian pe nge tahu an . : 0,86, : 0,. , kuiantitatif deingan sikap . : 0,25, : 0,. , uisia . peindeikatan cross 0,531, : 0,. , dan Peindidikan ibui . : 0,52, : 0,. deingan Ada huibuingan peikeirjaan . : 0,039, : 0,. deingan keijadian stuinting pada anak dan nilai koreilasi 0,295. Peineilitian ini Hasil peineilitian ini adalah bayi balita yang meindeirita stuinting seibanyak . ,0%). Balita deingan Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Haryuini. Moh. Alimansuir Keijadian Stuinting di Puiskeismas Wayabuila Keicamatan Morotai Seilatan Barat Tahuin Faktorfaktor yang uihi keijadian Adinda Puitri Sari Deiwia. Kuisuimastui Dyah Puiji Astuiti Iin. Seitiawati. Dana. Daniati. Seilvia. Nuiruil. Qomari. Analisis Faktorfaktor yang Meimpeingar Keijadian Stuinting pada Balita Kanaei Nomuira Aliza K. Bhandari Risk Factors Associateid Stuinting kuiantitatif deingan Asi Eikskluisif ,5,7%), meitodei peineilitian Riwayat Imuinisasi . ,4,%) analitik faktor peingeitahuian orangtuia . ,8,%),riwayat peindeikatan casei infeiksi . ,0%). Hasil uiji chi squiarei Asi Eiskluisif p= 0,000,(< 0,. , riwayat imuiniasi p= 0,00 (<0,. Riwayat Peindidikan ibui p=0,00 (<0,. , dan eikonomi orang tuia p=0,00 (<0,. Meitodei ini Hasil analisis meinuinjuikan peineilitian meimpeingaruihi stuinting di deisa Seimali de ngan Keicamatan Seimpor Kabuipatein kasuis Keibuimein ASI Eikskluisif (OR=3,40. CI=1,03- 11,. Riwayat Peinyakit Infeiksi (OR=3,54. CI=1,05-11,. , dan Keiteiratuiran Meinimbang di posyandui (OR=0,020. CI=1,0416,. Namuin uintuik faktor riwayat BBLR, pola asuih makan, dan peindapatan keiluiarga tidak Peineilitian ini Hasil peineilitian meinuinjuikkan analitik balita yang tidak memiliki riwayat aneimia sebesar 79,57%. peindeikatan cross- Balita yang tidak memiliki riwayat BBLR sebesar 94,62 %. Balita yang memiliki jarak keihamilan 2 tahuin sebesar 49,46%. Balita yang tidak 67,74%. Hasil analisis statistik dapat diketahui bahwa riwayat aneimia tidak beirpeingaruih teirhadap keijadian stuinting (A= 0,632 dan OR= 1,. Sedangkan, riwayat BBLR (A= 0,001 dan OR= 119,. , serta jarak keihamilan memiliki pengaruh terjadinya stuinting (A= 0,000 dan OR= 25,. Meilaluii peimbeirian nuitrisi yang baik dan pola asuih yang teipat, serta pengaturan jarak keihamilan seilanjuitnya minimal 2 tahuin hingga 5 tahuin dapat menurunkan riisiko terjadinya stuinting pada anak balita. Stu di potong Di antara 4. 581 anak balita, yang hampir dilaku kan pe rtu mbu han me nggu nakan Mayoritas ibu de ngan anak Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Eimiliei Louiisei Akiko MatsuimotoTakahashi Osamui Takahashi Childrein Uindeir Fivei TimorLeistei Sofyan dkk Peinguiranga n Stuinting pada Anak di Provinsi Aceih: Asweiros Uimbui Zogara. Maria Goreiti Pantaleion Faktorfaktor yang Beirhuibuing an deingan Keijadian Stuinting pada Balita Suirveii Deimografi teirhambat beiruisia 20Ae30 tahuin, dan Keiseihatan deingan seikitar 33% meilahirkan anak peirtama meireika pada uisia O19 Dibandingkan deingan peireimpuian deingan tinggi badan <145 cm, meireika yang tinggi badannya Ou145 cm meimiliki keimuingkinan leibih reindah uintuik meimiliki anak teirhambat (OR: 0,62. IK 95%: . ,48Ae0,. , p < 0,. Meinarik juiga uintuik dicatat bahwa risiko teirhambat peireimpuian dibandingkan anak laki-laki [OR: 0,75. IK 95%: ,64Ae0,. , p < 0,. dalam Stuidi ini Sebanyak meinyeilidiki uipaya teirmasuik te rkini yang ke bijakan, diwawancarai, eimpat dilaku kan diskuisi keilompok teirfokuis . peimeirintah Aceih orang peir keilompo. , dan dan para peilakui beirbagai teirkait dalam uipaya ditinjaui. Beirbagai tantangan stuinting pada anak, stuinting Aceih peingeitahuian dan keiteirampilan Posyandui me ndalam, te laah stuinting anak. keieingganan ibui dan hamil uintuik meingonsuimsi zat diskuisi keilompok beisi dan asam folat (TBA), dan makanan tambahan (PMT Buimi. kareina eifeik yang dirasakan meingganggui dan rasanya yang ke te rlibatan ke rja, produ ksi ASI yang tidak meincuikuipi, dan kuirangnya duikuingan dari suiami teircapainya peimbeirian ASI eikskluisif pada ibui De sain stu di cross Hasil peineilitian meinuinjuikkan diguinakan dalam beirhuibuingan deingan keijadian stuinting adalah peindidikan ayah Sampeil peineilitian (Pvaluiei=0,. 176 (Pvaluiei=0,. , juimlah anggota balita dan data keiluiarga (Pvaluiei=0,. , dan meingguinakan uiji (Pvaluiei=0,. Se dangkan chi squiarei peikeirjaan ayah (Pvaluiei= 0,. dan peikeirjaan ibui (Pvaluiei= 0,. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Sadariah. Muihammad Rifai. Muih Ilyas Nuir. Muisfirah Analisis Faktor Yang Meimpeingar Keijadian Stuinting Pada Balita Uisia 6-59 Builan Asuipan beirhuibuingan deingan keijadian stuinting, yaitui asuipan proteiin (Pvaluiei=0,. dan leimak (Pvaluiei=0,. Seidangkan asu pan beirhuibuingan deingan keijadian stuinting (Pvaluiei=0,. Peirlui dilakuikan inteirveinsi gizi uintuik meimpeirbaiki statuis stuinting peiningkatan peingeitahuian gizi ibui dan asuipan makanan yang De sain pe ne litian Hasil meinuinjuikkan nilai odds analitik ratio (OR) seibeisar 4,681 yang obse rvasional beirarti balita 6-59 tahuin deingan pola asuih orang tuia seicara deisain peineilitian meingalami keijadian stuinting casei control seibanyak 4,68 kali diseirtai deingan confideincei inteirval 95% (CI) (Cl 95%) didapatkan nilai Loweir Limit (LL) 1,641 dan Uippeir Limit (UiL) 13,350. Dapat disimpuilkan bahwa pola asuih orang tuia beirpeingaruih teirhadap keijadian stuinting pada balita uisia 6-59 builan. Hasil telaah literatur menunjukkan adanya variasi temuan mengenai faktor determinan stunting, khususnya terkait pengaruh pendidikan ibu. Beberapa penelitian seperti Zogara dan Pantaleon . serta Zurhayati dan Hidayah . menemukan bahwa pendidikan ibu berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Ibu dengan tingkat pendidikan rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam pemahaman gizi, praktik pemberian makan yang tepat, pemanfaatan layanan kesehatan, serta pengelolaan sanitasi rumah tangga. Dalam konteks ini, pendidikan ibu berperan sebagai determinan dasar yang memengaruhi perilaku kesehatan keluarga dan kualitas pengasuhan anak. Sebaliknya, penelitian Rini et al. menunjukkan bahwa pendidikan ibu tidak berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting. Perbedaan temuan ini dapat dipahami sebagai refleksi dari variasi konteks sosial dan lingkungan penelitian. Pada wilayah dengan akses layanan kesehatan yang relatif merata serta dukungan program posyandu dan edukasi kesehatan yang aktif, informasi mengenai gizi dan perawatan anak tidak hanya bergantung pada pendidikan formal ibu, sehingga pengaruh pendidikan menjadi kurang dominan secara statistik. Selain itu, kemungkinan adanya faktor mediasi seperti pendapatan keluarga, pola asuh, serta kondisi sanitasi juga dapat memengaruhi hubungan Apabila variabel-variabel tersebut lebih kuat atau lebih homogen dalam suatu populasi, maka kontribusi pendidikan ibu menjadi tidak terlihat signifikan. Sintesis lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor lingkungan dan biologis cenderung lebih konsisten berpengaruh di berbagai wilayah. Beberapa studi menegaskan bahwa sanitasi yang buruk, akses air bersih yang terbatas, riwayat penyakit infeksi, serta kondisi sosial ekonomi rendah memiliki hubungan yang stabil dengan kejadian stunting. Di sisi Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 lain, faktor intergenerasional seperti tinggi badan ibu, usia kehamilan pertama, jarak kehamilan, dan riwayat berat badan lahir rendah juga menunjukkan kontribusi yang kuat terhadap risiko stunting. Dengan demikian, perbedaan hasil antar penelitian tidak menunjukkan inkonsistensi, melainkan menegaskan bahwa stunting merupakan masalah multifaktorial yang sangat kontekstual. Determinan yang dominan pada satu wilayah belum tentu menjadi faktor utama di wilayah lain, sehingga intervensi penurunan stunting perlu disesuaikan dengan karakteristik sosial, ekonomi, dan lingkungan setempat. Faktor proksimal merupakan determinan yang secara langsung memengaruhi status gizi dan pertumbuhan anak, terutama terkait asupan nutrisi dan penyakit infeksi. Berdasarkan sintesis berbagai penelitian, ketidakcukupan asupan zat gizi makro seperti protein dan lemak serta praktik pemberian ASI eksklusif yang tidak optimal menjadi faktor utama terjadinya stunting. Ketidaktepatan pemberian MP-ASI, baik dari segi waktu, kualitas, maupun kuantitas, turut memperburuk kondisi gizi anak, khususnya pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Selain faktor nutrisi, penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut memiliki hubungan yang konsisten dengan kejadian stunting. Infeksi berulang tidak hanya menurunkan nafsu makan anak, tetapi juga mengganggu penyerapan zat gizi dan meningkatkan kebutuhan metabolik tubuh, sehingga mempercepat terjadinya gangguan pertumbuhan. Hubungan timbal balik antara malnutrisi dan infeksi membentuk siklus yang saling memperburuk, sehingga intervensi gizi perlu diintegrasikan dengan pencegahan dan penanganan penyakit infeksi. Faktor intermediet mencakup praktik pengasuhan dan pemanfaatan layanan kesehatan yang memediasi hubungan antara kondisi sosial keluarga dan status gizi anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh orang tua, terutama dalam praktik pemberian makan, kebiasaan pemantauan pertumbuhan di posyandu, serta perhatian terhadap kebersihan anak, berpengaruh terhadap kejadian stunting. Pola asuh yang kurang tepat, seperti pemberian makanan rendah gizi atau ketidakteraturan dalam pemantauan tumbuh kembang, meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan. Selain itu, status imunisasi anak juga berperan penting dalam pencegahan stunting. Anak dengan imunisasi tidak lengkap lebih rentan terhadap penyakit infeksi yang pada akhirnya berdampak pada penurunan status gizi. Dengan demikian, faktor intermediet menjadi penghubung antara kondisi keluarga dan outcome kesehatan anak, sehingga perbaikan pola asuh dan peningkatan cakupan imunisasi merupakan strategi penting dalam upaya penurunan Sementara itu, faktor distal merupakan determinan mendasar yang secara tidak langsung memengaruhi kejadian stunting melalui kondisi sosial ekonomi dan lingkungan. Tingkat pendidikan orang tua, pendapatan keluarga, serta kondisi sanitasi dan akses air bersih terbukti memiliki kontribusi signifikan terhadap status gizi anak. Keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rendah cenderung memiliki keterbatasan dalam menyediakan pangan bergizi dan lingkungan yang sehat. Sanitasi yang buruk, praktik buang air besar sembarangan, serta paparan terhadap lingkungan yang tidak higienis meningkatkan risiko infeksi yang berdampak pada pertumbuhan anak. Selain itu, faktor intergenerasional seperti tinggi badan ibu, usia kehamilan pertama, dan jarak kehamilan mencerminkan kondisi sosial dan biologis jangka panjang yang turut menentukan risiko stunting. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa stunting merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor proksimal, intermediet, dan distal. Oleh karena itu, upaya penurunan stunting harus dilakukan secara komprehensif dan multisektoral, dengan mempertimbangkan karakteristik sosial dan lingkungan setempat agar intervensi yang dilakukan lebih efektif dan berkelanjutan. Adapun ringkasan pengelompokan variabel frekuensi kemunculan sebagai faktor risiko dominan sebagai berikut: Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Sevti Maharani1. Minarti2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 179 Ae 193 Tabel 2 Faktor Risiko Dominan Stunting dari 20 Jurnal Kelompok Variabel Jumlah Jurnal Kategori Faktor . Dominansi Proksimal Asupan nutrisi tidak adekuat 15 Sangat dominan Proksimal Riwayat penyakit infeksi Sangat dominan Distal Sanitasi dan akses air bersih 13 Sangat dominan Distal Status sosial ekonomi rendah 12 Dominan Intermediet Pola asuh tidak tepat Dominan Distal Pendidikan ibu rendah Cukup dominan Intermediet Imunisasi tidak lengkap Cukup dominan Distal Tinggi badan ibu Cukup dominan Proksimal Berat badan lahir rendah Moderat Distal Jarak kehamilan Moderat Berdasarkan tabel ringkasan tersebut, faktor yang paling sering muncul sebagai determinan dominan adalah asupan nutrisi yang tidak adekuat, riwayat penyakit infeksi, serta sanitasi dan akses air bersih. Ketiga faktor ini konsisten dilaporkan pada lebih dari separuh jurnal yang direview, menunjukkan bahwa determinan biologis dan lingkungan memiliki kontribusi paling kuat terhadap kejadian stunting. Faktor sosial ekonomi dan pola asuh juga menunjukkan frekuensi kemunculan yang tinggi, meskipun variasi signifikansi antar wilayah masih ditemukan. Sementara itu, faktor intergenerasional seperti tinggi badan ibu dan jarak kehamilan muncul dengan frekuensi lebih rendah namun tetap relevan dalam menjelaskan risiko jangka panjang stunting. PENUTUP Kesimpulan dari studi literatur ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi, budaya, kebersihan lingkungan, serta keadaan fisik rumah memiliki dampak yang signifikan terhadap terjadinya stunting dan penyakit menular di komunitas pesisir Sulawesi Selatan. Untuk mengatasi isu stunting dan penyakit menular, diperlukan pendekatan yang menyeluruh, termasuk peningkatan status sosial ekonomi, perubahan dalam kebiasaan pengasuhan, perbaikan kondisi sanitasi lingkungan, dan perhatian terhadap keadaan fisik rumah. Langkah-langkah yang terkoordinasi dan menyeluruh sangat penting untuk menangani masalah gizi kurang dan penyakit menular di kalangan anak usia balita. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih dari penulis ditujukan kepada semua pihak yang berkontribusi dalam pelaksanaan penelitian ini, khususnya kepada para peneliti yang hasil karyanya telah digunakan sebagai bahan rujukan dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA