Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Oktober 2024: 195-202 MEMBANGUN IDENTITAS NASIONAL NEGARA MESIR MELALUI FILM STUDI KASUS INDUSTRI FILM MESIR 2010 Ae 2020 Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahman Program Studi Satra Arab. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Padjadjaran. Jatinangor. Sumedang E-mail: eka. kurnia@unpad. Muhammad20030@unpad. ABSTRAK. Setiap bangsa dan negara memiliki identitas yang kerap disebut dengan identitas nasional, yang membedakannya dengan bangsa dan negara yang lain. Identitas ini di bangun dari unsur-unsur yang kompleks yang saling mempengaruhi satu sama lain, dan dapat diaplikasikan ke dalam bentuk atau media yang beragam, salah satunya adalah melalui film. Mesir sebagai sebuah bangsa dan negara memiliki sejarah yang sangat Panjang, yang turut memberikan pengaruh terhadap identitas nasional yang mereka miliki. Hal ini ditunjukan melalui filmfilm yang dibuat oleh industri film Mesir yang juga adalah industri film tertua diantara negara-negara Arab lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana identitas nasional Mesir diperlihatkan melalui film-film Mesir yang rilis antara tahun 2010 Ae 2020 dengan kriteria tertentu. Film-film tersebut ialah Asmaa . Excuse My French . Cairo 678 . Clash . , dan The Square . Untuk mengetahui bagaimana identitas nasional dapat direpresentasikan melalui film-film tersebut serta hubungannya antara film dan budaya, digunakan teori identitas nasional dari Benedict Anderson, teori film dan budaya dari Andre Bazin, dan teori representasi dari Stuart Hall. Hasilnya ialah terdapat kemiripan dari kelima film tersebut mengenai penggambaran identitas nasional Mesir meskipun memiliki tema, plot, dan latar yang berbeda. Ini menunjukan bahwa film bukan hanya media hiburan semata, namun juga merupakan media yang kuat untuk merepresentasikan identitas nasional sebuah bangsa. Lebih lanjut, film bukan hanya cermin dari kehidupan bermasyarakat, namun juga sebagai alat untuk memperkuat identitas masyarakat atau bangsa itu sendiri. Kata kunci: Mesir. industri film. identitas nasional. BUILDING THE NATIONAL IDENTITY OF THE COUNTRY OF EGYPT THROUGH FILM CASE STUDY OF THE EGYPTIAN FILM INDUSTRY 2010 Ae 2020 ABSTRACT. Every nation and state has an identity that can be called a national identity that distinguishes it from other nations and states. This identity is built from a variety of complex elements and factors that influence each other, and can be applied in various forms or media, one of which is through movies. Egypt as a nation and state has a very long history, which has influenced their national identity. This is reflected in the films produced by the Egyptian film industry, which is also the oldest film industry in the Middle East region. This research aims to find out how Egyptian national identity is shown through Egyptian films released in the period 2010 to 2020 with certain criteria. The films chosen as the object of research are Asmaa . Excuse My French . Cairo 678 . Clash . , and The Square . and were studied using a descriptive analysis method. The result of this study is the similarity of the five films in providing an overview of Egyptian national identity which includes social, cultural, economic, and political conditions, although with different portions given the different genres and themes raised by each film. This confirms that film is not only an entertainment medium, but also a powerful medium to visualize and strengthen a nation's national identity. Thus, movies are not only a mirror of the lives of Egyptians, but also a vehicle to appreciate and strengthen the country's culture. Keywords: Egypt. film industries. national identity, social, culture, politics PENDAHULUAN Bangsa adalah kelompok masyarakat yang memiliki persamaan asal, adat, bahasa, dan sejarah, serta memiliki pemerintahannya sendiri (KBBI). Selain itu, bangsa juga dapat diartikan sebagai sekelompok manusia yang memiliki identitas bersama yang meliputi bahasa, sejarah, dan elemen lain (Triwamwoto, 2. Identitas bersama ini dikenal juga dengan sebutan identitas nasional, yang dipengaruhi oleh banyak faktor seperti etnisitas, sejarah, pendidikan, pertukaran budaya yang terjadi secara terus menerus yang memainkan peran penting dalam pembentukan sebuah identitas nasional (Smith, 1. Hal ini menunjukan bahwa identitas nasional terbentuk dari banyak faktor dan saling mempengaruhi. Hal ini juga memberikan pemahaman bahwa suatu bangsa atau kelompok masyarakat tidak terbatas pada pengelompokan geografis, namun juga meliputi ikatan emosional dan budaya yang dimiliki. Dalam pengaplikasiannya, identitas nasional dapat diterapkan ke dalam berbagai macam media dengan tujuan yang bermacam-macam seperti politik, ekonomi, pariwisata, dan pendidikan. Salah satu media yang sering dijadikan cermin dari identitas bangsa sebuah negara ialah film. Sebagai Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 contoh, film-film hasil produksi Hollywood . ndustri film Amerika Serika. memberikan pengaruh bagi masyarakat AS dan dunia meskipun para pembuat film Hollywood seringkali hanya berfokus pada film yang melibatkan politik AS (Maisuwong, 2. Dalam penggambaran Hollywood. Amerika Serikat diperlihatkan sebagai negara adidaya yang memiliki banyak sekali teknologi canggih, kehidupan yang sejahtera, dan lebih maju dari berbagai segi kehidupan dibandingkan dengan negara-negara lain. Tidak jarang ideologi, perspektif, dan propaganda juga dimasukan ke dalam film dengan tujuan agar pesan orang-orang atau kelompok yang memiliki kepentingan dapat sampai kepada penonton. Selain itu, film juga kerap digunakan untuk menggambarkan budaya dan tradisi suatu bangsa. Visualisasi ini tidak hanya dilakukan oleh negara-negara dengan industri film maju seperti Amerika Serikat, namun juga digunakan oleh negara-negara dan bangsa lain untuk mempromosikan atau menyo-roti identitas nasionalnya masingmasing. Salah satu negara yang identitas nasionalnya dapat kita temui di dalam filmfilm hasil produksi industri film dalam negerinya ialah Mesir. Mesir memiliki sejarah yang sangat panjang serta budaya yang sangat kaya. Meskipun berada di benua Afrika, kultur dan pengaruh Arab sangatlah kuat di sana. Kultur ini kerap kali dihadirkan melalui film-film hasil industri film dalam negeri. Disamping itu. Mesir memiliki sejarah industri film yang panjang, bahkan dapat dikatakan sebagai pelopor industri perfilman di kawasan Timur. Masyarakat Mesir telah mengenal film dari akhir abad ke-19 melalui film-film pendek yang dibawa oleh orangorang Eropa (Gaffney, 1. , meskipun tonggak awal dari perkembangan produksi film dalam negeri baru dimulai pada awal abad ke20. Sejak saat itu, perkembangan teknologi sinematografi dan pertumbuhan industri film Mesir mengalami kemajuan yang signifikan. Industri film Mesir sendiri mengalami banyak fase, dari mulai perkembangan awal, zaman keemasan, era klasik, dan era modern. Pada setiap fase, situasi dan kondisi yang terjadi di Mesir baik politik, ekonomi, pendidikan, budaya, dan lain sebagainya memberikan pengaruh terhadap tema dan plot cerita dalam film yang diproduksi pada tiap Sebagai contoh, film AuThe SquareAy yang memberikan sudut pandang masyarakat ketika revolusi Mesir tahun 2011 terjadi dengan gaya film dokumenter yang melibatkan pihak-pihak yang terlibat ketika revolusi terjadi. Isu-isu lain seperti feminisme juga muncul dalam film-film Mesir dari zaman dahulu, seperti film Layla . Shahab Emraa . El Haram . Ehky, ya Shahraade . , dan Cairo 678 . Hal ini menunjukan bahwa isu-isu sosial yang sedang terjadi, atau menjadi keresahan masyarakat memberikan pengaruh terhadap tema film dari awal perkembangan film di Mesir. Hal ini juga berlaku untuk isu-isu lain seperti politik, ekonomi, dan Identitas nasional yang bersifat dinamis dan film sebagai sebuah media saling bersinergi, khususnya pada kemampuan film untuk menginterpretasikan nilai-nilai budaya, sejarah, dan unsur pembentuk identitas nasional lainnya. Unsur-unsur tersebut divisualisasikan melalui film dan terus berkembang mengikuti zaman sehingga dapat dijadikan cerminan mengenai bagaimana kondisi masyarakat atau bangsa Mesir. Penelitian ini bertujuan untuk memperluas wawasan mengenai bagaimana identitas nasional dapat divisualisasikan melalui film dengan berbagai tema dan alur cerita. Dalam upaya menganalisis bagaimana identitas nasional Mesir dapat digambarkan melalui film, dengan memperhatikan kriteriakriteria seperti genre, plot, kepopuleran, tanggapan kritikus film, dan faktor penting lainnya, diharapkan mampu memberikan gambaran kondisi Mesir melalui kacamata sinema yang relevan. METODE Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif untuk menghimpun informasi sesuai dengan realitas, kemudian informasi tersebut diatur, diproses, dan dianalisis guna memberikan pemahaman tentang situasi yang terjadi. Menurut Sugiyono . , metode analisis deskriptif adalah cara yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi. Untuk menentukan film-film yang dijadikan objek penelitian, dibuat kriteria-kriteria agar membatasi jumlah objek film yang diteliti. Kriteriakriteria tersebut ialah: Terdata dalam website Internet Movies Database (IMDB). Memiliki rating minimal 7. 0 dari skala 1. Memiliki jumlah voting minimal 1500 suara. Tersedia pada platform streaming Netflix atau website Internet Archive. Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Dari keempat kriteria tersebut, didapatkan lima film yang memenuhi semua kriteria. Asmaa . Excuse My French . Cairo 678 . Clash . The Square . Pengumpulan data dari kelima film di atas dilakukan dengan cara ditonton secara berulang untuk menganalisis bagaimana identitas nasional negara Mesir yang terdapat di dalam film-film tersebut. Selain itu, dilakukan pencocokan dengan situasi terjadi secara nyata di Mesir dengan apa yang digambarkan di dalam film. Data-data tersebut kemudian disajikan dalam bentuk deskripsi pada bagian hasil. HASIL DAN PEMBAHASAN Identitas Nasional Mesir Mesir tercatat sebagai salah satu negara tertua di dunia dengan usia lebih dari 5000 Suku asli Mesir adalah suku nomaden yang hidup di Gurun Sahara dan selama 3000 tahun dikuasai oleh dinasti Firaun. Setelah dinasti Firaun, secara berurutan Mesir dikuasai oleh bangsa Romawi dan bangsa Arab. Bangsa Arab sendiri masuk ke Mesir sekitar pada abad ke-7 M bersamaan dengan misi penyebaran agama Islam, yang kemudian berbagai dinasti Arab dan kekhalifahan Islam lahir di Mesir. Ini menyebabkan Mesir, meskipun secara geografis berada di benua Afrika, secara historis dan budaya lebih kental dengan bangsa Arab sebagai hasil dari berkembang pesatnya peradaban Arab dan Islam di tanah Mesir. Dalam dunia internasional. Mesir memegang peranan penting dikarenakan posisinya yang strategis sebagai penghubung tiga benua, yaitu Afrika. Asia, dan Eropa. Terlebih sejak dibukanya operasional terusan Suez pada tahun 1869 yang membuat Mesir mudah dimasuki oleh bangsa dari negara lain yang membuat Mesir memiliki perkembangan yang dinamis dalam berbagai aspek seperti budaya, politik, militier, dan agama. Mesir juga menjadi tolak ukur modernisasi dunia Arab yang condong kepada sekularisme dan kebarat-baratan sebagai pengaruh dari aktifitas pertukaran budaya yang terjadi secara terus meneurs dalam jangka waktu tertentu, meskipun agama Islam tetap menjadi pengaruh dominan dalam kehidupan negara dan masyarakat. Hal ini memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan identitas nasional negara Mesir. Aspek-aspek pembentuk identitas nasional negara Mesir meliputi sisa-sisa peradaban kuno yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat dunia, percampuran kebudayaan lokal dengan kebudayaan yang dibawa oleh para pendatang, ekonomi yang bergantung pada sektor terbatas, dan politik yang sangat dinamis. Posisi Mesir sebagai penghubung tiga benua membuat kondisi politik dan keamanan Mesir harus selalu stabil karena banyaknya negara atau kelompok yang memiliki kepentingan untuk memiliki pengaruh di Mesir. Meski begitu, telah terjadi paling tidak tiga revolusi besar dalam sejarah Mesir modern. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal, seperti perlawanan terhadap pendudukan kerajaan Inggris di Mesir pada tahun 1919, adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi sosial, politik, dan ekonomi Mesir yang berbuntut pada revolusi tahun 1952 dan 2011. Belum lagi sederet demo besar yang terjadi di berbabai kota besar di Mesir yang membuat situasi politik dan keamanan di Mesir kerap kali bergejolak. Kondisi budaya yang mendapatkan banyak pengaruh budaya lain yang masuk dan berkembang di Mesir serta kondisi sosial politik yang kerap kali tidak stabil menjadi salah satu bentuk identita nasional yang sering diperlihatkan dalam film-film produksi industri perfilman Mesir dari masa awalawal perkembangan sampai era sekarang. Industri Film Mesir dan Representasi Budaya di Dalamnya Industri film Mesir sendiri merupakan yang tertua dibandingkan dengan industri film negaranegara Timur Tengah lainnya. Film pertama yang diproduksi Mesir rilis pada 20 Juni 1907 berupa film dokumenter yang berjudul The Visit of the Khedive Abbas Helmi to Scientific Institute of the Sidi Aboul Abbas MosqueAy. Sementara itu, film panjang pertama yang diakui berjudul Layla yang rilis pada Perlahan tapi pasti, industri film Mesir berkembang setelah munculnya studio-studio atau rumah produksi film yang menjadi awal perkembangan industri film Mesir secara Massal. Zaman keemasan industri film Mesir dimulai dari tahun 1940-an sampai 1960-an. Ditandai dengan film-film hasil produksi dalam negeri yang diakui oleh komunitas film tingkat nasional dan internasional. Film-film dengan tema fiksi dan musikal sangat populer di kalangan penonton. Bermunculan juga nama-nama aktor dan aktris yang menjadi bintang seperti Omar Sharif dan Faten Hamama yang mendapatkan ketenaran dari film-film yang mereka Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Disaat yang bersamaan, film menjadi medium penting dalam memperjuangkan isuisu sosial politik yang mencerminkan dinamika masya-rakat Mesir pada masa itu. Seiring berjalannya waktu, industri film Mesir terus berkembang terutuama dalam hal teknik produksi dan kualitas film. Tema-tema lain mulai berkembang yang menjadi refleksi mengenai aspek sosial, politik dan budaya Mesir. Di samping itu, industri film Mesir menjadi sumber penghidupan bagi banyak individu dan kalangan yang secara signifikan memberikan kontribusi terhadap ekonomi Perkembangan industri film Mesir yang tidak lepas dari konteks sosial, politik, dan budaya di negara tersebut selama beberapa dekade membuat film menjadi sarana penting untuk menyampaikan pesan-pesan seputar aspek tersebut. Banyak sutradara dan produsen film Mesir menggunakan medium ini untuk menyoroti isu-isu penting seperti kemiskinan, ketidaksetaraan gender, dan perjuangan politik. Selain itu, industri film Mesir juga memainkan peran penting mempromosikan identitas nasional Mesir di tingkat internasional. Film-film Mesir seringkali mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah, menggambarkan tradisi, adat, serta nilai-nilai yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari identitas nasional Mesir. Meski begitu, representasi idealis tentang identitas nasional Mesir dalam filmfilm lokal seringkali menggambarkan Mesir sebagai penjaga warisan budaya kuno serta pusat peradaban kuno. Representasi idealis in ijuga kerap menekankan nilai-nilai tradisional seperti kebanggaan terhadap warisan budaya, semangat patriotisme, dan rasa kebanggan akan kekayaan sejarah dan kebesaran Mesir. Di sisi lain, representasi realistis tentang identitas nasional Mesir dalam filmfilm lokal cenderung lebih kompleks dan mencakup berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi oleh masyarakat Mesir modern. Isu-isu seperti sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang ada di Mesir termasuk kemiskinan, kesetaraan gender, koripsi, perubahan struktur sosial, dan konflik politik kerap diperlihatkan di dalam film-film. Perbedaan anatara representasi idealis dan realistis tentang identitas nasional dalam film-film Mesir mencerminkan perbedaan dalam cara pandang masyarakat terhadap negara dan kondisi masyarakat itu sendiri. Sementara representasi idealis memberi-kan gambaran yang indah dan inspiratif tentang Mesir, representasi realistis menyoroti kompleksitas dan tantangan yang dihadapi oleh negara tersebut. Keduanya memiliki nilai yang penting dalam memberikan pemahaman mengenai identitas nasional negara Mesir. Visualisasi Identitas Nasional Mesir Dalam Film Dalam kurun waktu satu dekade, antara tahun 2010 sampai 2020, setidaknya ada lebih dari 500 judul film . idak termasuk film pendek dan sinema elektroni. dengan berbagai tema dan genre yang Genre yang disajikan sangat beragam dan berdasarkan data dari website Internet Movie Database, genre film yang paling banyak di produksi di Mesir adalah film dokumenter, yang diikuti oleh genre populer lain seperti aksi, petualangan, komedi, drama, dan horor. Dari sekian banyak film tersebut, dipilih lima film yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan untuk mengetahui bagaiman film-film tersebut menggambarkan identitas nasional negara Mesir. Film-film tersebut adalah Asmaa . Excuse My French . Cairo 678 . Clash . The Square . Asmaa . Asmaa menceritakan bagaimana perjuangan seorang wanita yang bernama Asmaa yang mengidap penyakit AIDS dalam memperjuangkan hak para penyintas AIDS di Mesir. Film ini memperlihatkan bagaimana para penyintas AIDS mendapatkan pandangan miring dan perlakuan yang berbeda dari masyarakat. Mereka kesulitan untuk mendapatkan akses pekerjaan dan kesehatan yang layak dikarenakan adanya pandangan bahwa AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh dosa. Meski film ini berfokus pada bagaimana perjuangan Asmaa dalam mendapatkan haknya melalui berbagai macam cara dan konflik yang ia hadapi, film ini juga menyoroti kesenjangan yang terjadi di Mesir. Bagaimana perbedaan infrastruktur dasar seperti pendidikan dan kesehatan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Selain itu, film Asmaa juga diperlihatkan sekilas Bagaimana pandangan masyarakat Mesir terhadap para pemangku kebijakan dengan memperlihatkan ketidakpuasan atas fasilitas yang negara sediakan. Hal ini menunjukan kondisi sosial politik yang terjadi pada latar belakang cerita ini ada tidak stabil. Kesenjangan antara yang miskin dan yang kayak pun terlihat. Masyarakat dengan kondisi ekonomi tidak mampu seperti keluarga Asmaa mendapati kesulitan untuk mendapatkan akses fasilitias umum yang layak, seperti pendidikan. Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kesehatan, dan ekonomi dikarenakan adanya keterbatasan biaya dan kurangnya bantuan dari pemerintah. Sementara masyarakat dengan kondisi ekonomi yang lebih baik memiliki akses yang lebih baik pada fasilitas Film ini juga memperlihatkan bagaimana perspektif masyarakat Mesir terhadap pengidap AIDS. Stigma masyarakat terhadap penyakit dan pengidap AIDS bisa dipengaruhi oleh pandangan agama dan nilainilai moral yang berlaku di masyarakat. Para pengidap AIDS dianggap sebagai seorang pendosa, terlepas dari bagaimana caranya mereka mendapatkan penyakit tersebut. Dari segi kebudayaan, diperlihatkan bagaiman budaya patriarki masih berlaku dalam beberapa kelompok masyarakat, khususnya di pedesaan. Cara berinteraksi antar anggota keluarga menunjukan Bagaimana penggambaran umum terhadap kehidupan rumah tangga masyarakat Mesir. Dari sisi penampilan, orang-orang yang berada di pedesaan cenderung berpakaian tradisional sementara orang-orang dari perkotaan berpakaian serupa selayaknya orang-orang perkotaan dari berbagai negara. Excuse My French . Excuse My French merupakan film komedi keluarga yang menceritakan Bagaimana kondisi perbedaan agama yang ada di masyarakat Mesir. Tokoh utama dalam film ini. Hany Abdullah Peter, berasal dari keluarga kristen yang cukup berada. Ayahnya seorang bankir sementara ibunya bekerja di sebuah institusi kesenian. Film ini menyajikan isu toleransi beragama di Mesir dengan menunjukan interaksi antar tokoh dengan latar utama adalah sebuah sekolah negeri di Mesir. Agama sebagai salah satu aspek penting yang membangun identitas Mesir dari sejak dahulu menjadi sebuah isu yang cukup kompleks di lingkungan masyarakat, meskipun secara umum penganut agama Islam dan Kristen Koptik, sebagai dua agama dominan di Mesir relatif berjalan dengan damai. Meskipun masih terdapat sentimen-sentimen yang terjadi di beberapa kelompok masyarakat mengenai perbedaan agama. Dalam film ini perbedaan pandangan orang-orang perkotaan dan pinggiran kota terhadap perbedaan agama. Di wilayah kota yang lebih maju, masyarakat pada umumnya tidak mempedulikan latar belakang agama dalam pergaulan sehari-hari. Hal ini berban- ding terbalik dengan wilayah pinggiran kota yang lebih konservatif dan didominasi oleh satu agama, yang memiliki stigma dan pandangan yang miring terhadap penganut agama lain. Terdapat narasi bahwa siswa yang beragama minoritas mendapatkan perlakuan dan pandangan yang berbeda dari teman-temannya, meskipun dari pihak sekolah seperti kepala sekolah dan para guru meyakinkan bahwa semua orang mendapatkan hak dan perlakuan yang setara. Selain isu toleransi beragama, diperlihat-kan pula bagaimana perbedaan kelas sosial mempengaruhi hubungan antar individu. Perbedaan kualitas pendidikan antara juga terlihat cukup kentara antara sekolah swasta dan negeri. Cairo 678 . Film ini menyoroti isu kesetaraan gender dengan tema perjuangan kaum wanita melawan pelecehan seksual yang kerap terjadi kepada wanitawanita mesir baik di tempat umum maupun bukan. Film ini memiliki tiga tokoh dengan cerita yang saling berkaitan, yaitu Fayza. Seba, dan Nelly. Fayza merupakan pegawai administrasi pemerintahan yang mengalami pelecehan seksual ketika ia berangkat menuju dan pulang dari tempat kerjanya. Ia mengalaminya di taksi, bus, dan jalanan sepi. Para pelaku meraba anggota badannya di tempat sepi dan penuh sesak sehingga tidak ada saksi yang bisa melihatnya dengan jelas. Seba berasal dari keluarga terpandang dengan suami seorang dokter. Ia mengalami pelecehan seksual ketika parade kemenangan pertandingan sepak bola timnas Mesir. Seba yang terjebak di dalam kerumunan massa yang didominasi oleh laki-laki terpisah dari suaminya dan mengalami pelecehan seksual di sana. Nelyy adalah seorang stand up komedian yang juga seorang telemarketer di sebuah perusahaan jasa. Ia mengalami pelecehan secara verbal dan juga menjadi korban dari begal payudara yang dilakukan oleh seorang yang mengemudikan mobil pick up. Ketiga tokoh ini dipertemukan dan sama-sama memiliki tekad untuk melawan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap wanita-wanita Mesir. Sepanjang film diperlihatkan bagaimana mereka bertiga memperjuangkan hak-hak wanita dalam melawan pelecehan seksual di Mesir. Dalam perjalanannya, mereka mendapat banyak pertentangan baik dari masyarakat, aparat, dan keluarga. Selain isu pelecehan seksual, film ini juga mengangkat isu kesetaraan gender yang menjadi masalah di Mesir. Melalui narasi ketidakadilan dan bagaimana sulitnya wanita Mesir mendapatkan keadilan atas pelecehan seksual memberikan gambaran tentang bagaimana kehidupan masyarakat di Mesir sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosial. Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 budaya, dan politik. Budaya patriarki pun diperlihatkan dalam film ini. Cairo 678 memberikan gambaran berbagai aspek yang relevan dengan kondisi masyarakat Mesir pada saat itu. Film ini menyoroti kasus pelecehan seksual dan isu kesetaraan gender yang merupakan masalah sosial yang serius di masyarakat. Penggambaran terhadap ketidakadlian juga dapat dipahami sebagai cerminan dari ketidakseimbangan kekua-saan dan struktur sosial yang ada dalam masyarakat Mesir pada periode waktu tertentu. Meskipun tidak secara langsung membahas kondisi politik, film ini merujuk kepada perubahan kebijakan terhadap hak asasi manusia, khususnya dalam perlindungan terhadap perempuan. Film ini dipandang sebagai karya yang mencoba menyoroti ketidakadilan sosial yang terjadi di Mesir dan bagaimana cara untuk mengubahnya. Film ini mendapatkan respon yang beragam dari komunitas film, baik nasional maupun internasional. Serta men-dapatkan penghargaan di berbagai ajang festival film. Clash . Film ini berlatar masa-masa tegang yang terjadi di Mesir setelah kudeta tahun Berfokus pada sekelompok orang yang terjebak di dalam mobil truk polisi, di tengahtengah huru-hara yang terjadi di luar. Film ini mendapatkan banyak pujian dari para kritikus film karena mampu menyajikan situasi menegangkan meskipun memiliki latar tempat yang terbatas. Cerita film ini memperlihatkan Bagaimana sekelompok orang yang terdiri dari kubu yang pro terhadap militer, kubu yang pro terhadap pemerintahan presiden Morsi, dan dua orang jurnalis saling berinteraksi di dalam truk polisi yang menahan mereka. Perbedaan pandangan politik dan kepentingan menyebabkan banyak sekali ketegangan yang terjadi di dalam truk. Di sisi lain, mereka harus saling bahu membahu agar dapat bertahan di dalam truk polisi itu ketika mereka tidak dapat keluar dan terjadi kerusuhan di luar. Melalui interaksi di dalam truk, seluruh karakter mulai bisa saling terbuka satu sama Mereka berbagi keresahan kekhawatiran, dan ketakutan yang sedang mereka alami selama berada di dalam truk polisi. Konfrontasi yang sering terjadi di antara mereka membuat mereka mengalami transformasi emosional yang menybebabkan mereka mulai mempertanyakan keyakinan mereka sendiri dan memahami sudut pandang orang lain, meskipun tetap ada yang tetap bersikukuh untuk mempertahankan apa yang mereka yakini tanpa mempedulikan situasi dan kondis yang mereka dan orang lain hadapi. Film ini memberikan gambaran yang kuat tentang situasi sosial dan politik yang terjadi di Mesir pada tahun 2013. Film ini mampu memvisualisasikan kerusuhan politik yang berada di Kairo dan bagaimana kondisi tersebut memberikan pengaruh terhadap masyarakat sebagai bagain dari perubahan dan perkembangan identitas nasional Mesir itu sendiri. Polarisasi politik diperlihatkan dengan cukup kompleks sepanjang film berlangsung. Selain itu, film ini menggambarkan kekerasan dan kekacauan yang merajalela di jalanan kota ketika kerusuhan terjadi. Film ini juga memberikan gambaran yang cukup menarik mengenai budaya populer Mesir pada tahun 2013. Hal ini ditunjukan melalui karakter-karakter di dalam truk yang memiliki latar belakang yang berbeda. Clash menunjukan adanya perdebatan mengenai identitas nasional Mesir di kalangan masyarakat Mesir sendiri. Perdebatan mengenai apa arti AuMesirAy dan bagaimana masyarakat bereaksi terhadap perubahan politik di Mesir menunjukan keberagaman pandangan masyarakat Mesir, termasuk perspektif yang berbeda antara nasio-nalisme dan patriotisme yang dianut oleh masyarakat. Dalam film ini, identitas nasional menjadi aspek penting yang mampu menyatukan berbagai karakter dengan pandangan politik yang berbeda demi mencapai tujuan bersama. Meskipun juga diperlihatkan bagaimana kepentingan politik dan idelogi dapat mengenyampingkan identitas nasional. The Square . Film ini merupakan dokumenter yang memperlihatkan bagaimana situasi krisis yang terjadi di Mesir pada tahun 2011 sampai 2013 saat terjadi revolusi untuk menurunkan presiden Hosni Mubarak yang telah berkuasa selama kurang lebih 30 tahun. Film ini memberikan sudut pandang dari para pelaku revolusi yang terdiri dari berbagai macam elemen masyarakat, dari mulai pekerja kasar sampai The Square memperlihatkan bagaimana perjalanan para aktivis Mesir yang terlibat dalam revolusi 2011 dari awal mula sampai jatuhnya rezim Hosni Mubarak. Terdapat banyak adegan ketika protes dan demonstrasi dilakukan di Tahrir Square yang melibatkan ribuan masyarakat dari berbagai penjuru Mesir untuk menuntut terjadinya revolusi. Para aktivis membagikan kisah dan motivasi mereka, serta harapan untuk Mesir setelah revolusi berhasil Membangun Identitas Nasional Negara Mesir Melalui Film Studi Kasus Industri Film Mesir 2010 Ae 2020 (Eka Kurnia Firmansyah, dan Muhammad Aris Nurrahma. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Sepanjang film, ketegangan yang terjadi antara para aktivis pro-demokrasi dan pihak yang setia terhadap rezim Hosni Mubarak terus meningkat. Kekerasan dan represi dari pihak yang berwenang mewarnai alur film ini. Hal ini memberikan gambaran betapa mahalnya harga yang harus dibayar demi mendapatkan kebebasan dari rezim yang Setelah jatuhnya Mubarak, kondisi sosial politik Mesir tidak menjadi lebih stabil, namun semakin rumit. Kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan ideologis saling berlomba untuk mendapatkan dukungan dan menancapkan pengaruh di masyarakat, sementara pertanyaan mengenai masa depan Mesir makin mendesak. Konflik internal dan dilema moral juga terjadi di antara para Sepanjang film, kita disuguhkan dengan konflik dan konfrontasi antara para aktivis dan pasukan keamanan, serta dinamika antara kelompok-kelompok yang berbeda di internal aktivis yang berusaha mengambil alih politik pasca revolusi. Pada akhirnya film ini menunjukan bagaimana semangat revolusi dan demokrasi tetap hidup meskipun tantangan yang dihadapi oleh para aktivis sangatlah besar. Film ini menunjukan bagaimana ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan mampu menyulut gelombang protes yang sangat besar yang berujung pada digulingkannya pemerintahan yang sedang Diawali oleh protes-protes kecil, menyulut berbagai macam gerakan revolusi di berbagai daerah di Mesir sampai berujung pada demonstrasi besar di Tahrir Square. Dengan menggunakan potonganpotongan dokumentasi yang menunjukan bagaimana kondisi revolusi berlangsung, film ini mampu menggambarkan dinamika dan ketegangan dalam memperjuangkan demokrasi dan kebebasan. Aspirasi dan keinginan untuk mendirikan pemerintahan yang demokratis menjadi tema utama dalam film Kebebasan yang dituntut oleh para aktivis mencakup kebebasan berbicara, hak asasi manusa, dan partisipasi politik yang lebih luas dalam pembentukan masa depan SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas film-film Mesir yang diproduksi di antara membawakan tema mengenai isu-isu sosial dan politik yang sedang terjadi di Mesir dalam kurun waktu tertentu, meskipun pada setiap film memiliki tema dan alur cerita lain yang menambah gambaran untuk audiens. Dari hasil analisis kelima film, dapat dilihat bahwa semuanya secara efektif mampu memberikan gambaran mengenai identitas nasional negara Mesir melalui narasi yang unik. Semua film mampu mewadahi kerumitan dan kekayaan budaya Mesir melalui visual dan narasi yang mereka hadirkan. Hal ini juga menegaskan bahwa film bukan hanya hiburan semata, namun juga sebagai medium yang kuat untuk menyampaikan berbagai macam pesan, khususnya memperkuat identitas nasional sebuah negara. Dengan demikian, film bukan hanya sebagai cermin masyarakat, tetapi juga sebagai wahana untuk memahami, menghargai, serta memperkuat identitas sebuah negara. DAFTAR PUSTAKA