Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 EFEKTIVITAS BERBAGAI JENIS PESTISIDA NABATI TERHADAP MORTALITAS HAMA RAYAP (Coptotermes curvignathu. PADA TANAMAN KELOR EFFECTIVENESS TEST OF VARIOUS TYPES OF PESTICIDES ON TERMITE (Coptotermes curvignathu. MORINGA PLANTS Yuliani1. Vina Nurfauziyyah2. Angga Adriana Imansyah 3 1, 2,3 Universitas Suryakancana 1 yuliani. sains@unsur. id, 2 vinanurfauziyyah@gmail. com, 3 anggasains@unsur. Masuk: 17 Desember 2025 Penerimaan: 25 Desember 2025 Publikasi: 27 Desember 2025 ABSTRAK Tanaman Kelor merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat, dikenal dengan julukan Aumiracle of treeAy. Namun seringkali hama menyerang tanaman kelor salah satunya adalah hama rayap. Umumnya petani lebih memilih pestisida kimia dalam mengendalikan hama rayap, karena hal tersebut pestisida kimia berbahaya bagi lingkungan karena dapat meninggalkan residu. Sebagai alternatif untuk mengendalikan hama rayap adalah menggunakan pestisida nabati yang ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh berbagai jenis pestisida nabati untuk mengendalikan mortalitas dan LT50 hama rayap. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAK) non faktorial yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan yaitu K0 (Kontro. K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. K3 (Ekstrak Daun Cengke. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan berbagai jenis pestisida nabati menunjukkan adanya perbedaan mortalitas dari semua Adapun perlakuan terbaik yakni K1 (Ekstrak Sera. mampu mematikan hama rayap sebesar 70%, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. pada 24 jam setelah aplikasi. Dan nilai LT50 tercepat yaitu perlakuan K1 (Ekstrak Sera. pada 17 jam diikuti oleh K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. pada 18 jam. Kata kunci: Hama rayap (Coptotermes curvignathu. Pestisida Nabati. Tanaman Kelor. ABSTRACT Moringa is a plant that has many benefits, known as the "miracle of trees". However, pests often attack Moringa plants, one of which is termites. Generally, farmers prefer chemical pesticides to control termites, because chemical pesticides are harmful to the environment because they can leave residues. As an alternative to controlling termites, using environmentally friendly botanical pesticides. The purpose of this study was to determine the effect of various types of botanical pesticides on controlling mortality and LT50 of termite pests. The study used a non-factorial completely randomized design (RBD) consisting of 5 treatments with 5 replications, namely K0 (Contro. K1 (Lemongrass Extrac. K2 (Bay Leaf Extrac. K3 (Clove Leaf Extrac. and K4 (Soursop Leaf Extrac. The results showed that the use of various types of botanical pesticides showed differences in mortality across all treatments. The best treatment. K1 (Lemongrass Extrac. , killed 70% of the termites, but was not significantly different from treatments K2 (Bay Leaf Extrac. and K4 (Soursop Leaf Extrac. 24 hours after application. The fastest LT50 value was achieved by treatment K1 (Lemongrass Extrac. at 17 hours, followed by K2 (Bay Leaf Extrac. and K4 (Soursop Leaf Extrac. at 18 hours. Keywords: Termites Pests (Coptotermes curvignathu. Plant-based pesticide. Moringa Plant. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 PENDAHULUAN Tanaman kelor adalah tanaman yang banyak dikenal karena memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Daun kelor kaya akan nutrisi. Telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai kandungan dan manfaat daun kelor, serta potensi tanaman untuk dikomersilkan meliputi semua bagian, mulai dari bibit, bunga, batang, daun, hingga akar (WiraAoartha et al. , 2. Budidaya tanaman kelor (Moringa oliefer. dapat dilakukan disemua area di Indonesia. Budidayanya pun terbilang mudah untuk dilakukan karena pemeliharaanya yang minim juga tanaman kelor memiliki kemampuan yang cepat untuk tumbuh dan berkembang, berbunga dan berbuah dalam jangka waktu 1 tahun setelah ditanam. Dalam hal pemeliharaanya tanaman kelor hanya membutuhkan pupuk dengan jumlah yang sangat minim dan juga jarang terserang hama dan penyakit (Wati, 2. Namun walau demikian berikut merupakan macam-macam hama yang menyerang tanaman kelor, diantaranya: paroAimpar. , ulat . lo-ul. , jamur . hai-bhail. , dan rayap . Rayap seringkali menyerang batang kelor yang sudah tua karena dapat dijadikan tempat untuk koloni rayap berkembang biak (Sofyani et al. , 2. Perkembangan rayap di Indonesia hingga saat ini masih sulit dikendalikan secara efektif. Hama rayap menyebabkan kerugian yang sangat besar, bahkan mencapai triliunan rupiah, karena dapat merusak berbagai bahan kayu yang mengandung selulosa (Mandagi et al. , 2. Menurut Prasetyo & Yusuf, . di Indonesia kerugian yang disebabkan oleh serangan hama rayap mencapai 224-238 miliyar pertahun. Kerugian yang disebabkan oleh serangan rayap lebih besar dibandingkan akibat kebakaran, badai atau banjir (Nandika et al. , 2. Oleh karena itu perlu dilakukannya sebuah pengendalian pada hama rayap agar dapat menekan angka populasi rayap khususnya pada tanaman kelor (Moringa oliefer. Pengendalian hama rayap dapat dilakukan secara kimiawi yakni menggunakan pestisida kimia seperti dari golongan organofosfat dan piretroid, namun disamping hal tersebut dapat menimbulkan dampak buruk yaitu dapat meninggalkan residu yang berbahaya bagi lingkungan (Kartika et al. , 2. Menurut Sanjaya & Santori, . mengatakan bahwa kebanyakan petani di Indonesia menggunakan insektisida kimia dalam pengendalian hama. Hal tersebut disebabkan karena penggunaannya yang praktis, hemat secara biaya, tepat sasaran dan respon terhadap hama jauh lebih cepat. Namun banyaknya kelebihan tersebut sangat berbanding terbalik dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Selain merusak lingkungan juga berbahaya bagi kesehatan. Tanaman yang dalam pengendalian hamanya menggunakan pestisida kimia dapat terserap oleh tanaman lalu terdistribusi kedalam akar, batang, daun, dan buah. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Residu pestisida yang berasal dari hasil tanaman yang diberi pestisida kimia dapat menyebabkan keracunan yang terjadi secara tidak langsung akibat manusia mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung residu pestisida dalam kadar yang tinggi (Arif, 2. Maka dari itu alternatif yang dapat dilakukan untuk mengendalikan hama terutama hama rayap adalah dengan menggunakan pestisida nabati. Pestisida nabati merupakan pestisida yang berbahan dasar organik artinya berasal dari ekstrak tanaman-tanaman tertentu sehingga sangat ramah lingkungan juga relatif aman dalam penggunaannya (Tuhuteru et al. , 2. Dari latar belakang tersebut penulis ingin melakukan penelitian terkait keefektifitasan beberapa pestisida nabati yang diantaranya berbahan dasar dari ekstrak serai, ekstrak daun salam, ekstrak daun cengkeh dan ekstrak daun sirsak terhadap mortalitas hama rayap pada tanaman kelor (Moringa oliefer. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2025 di Laboratorium Fakultas Sains Terapan Universitas Suryakancana Cianjur. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada penelitian ini diantaranya adalah mesin penghalus . , saringan kain, gelar takar, pisau, nampan, sprayer, kuas, timbangan digital, corong, kertas label, alat tulis, kamera. Sedangkan bahan yang digunakan adalah nimfa rayap (Coptotermes curvignathu. , serai (Symbopogan citratu. , daun salam (Syzygium polyanthu. , daun cengkeh (Syzygium aromaticum ), daun sirsak (Annona muricata L. ) dan aquades. Tahapan Penelitian Pembuatan Ekstrak Pestisida Nabati Bahan pestisida nabati yang digunakan diantaranya adalah serai, daun salam, daun cengkeh dan daun sirsak. Dalam pembuatan ekstrak serai dimulai dengan mengeringkan terlebih dahulu daun dan batang serai dibawah sinar matahari hingga kering. Selanjutnya, ditimbang sebanyak 5gr, lalu dihaluskan menggunakan blender dengan tambahan 100 ml air. Campuran ini kemudian dibiarkan mengendap selama 24 jam sebelum disaring. Setelah proses penyaringan, ekstrak serai kemudian dimasukan kedalam hand sprayer berukuran 100 ml (Rahhutami, 2. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Untuk pembuatan ekstrak daun salam dimulai dengan mencuci daun salam sebanyak 10 lembar hingga bersih. Lalu rebus daun salam menggunakan 100 ml air hingga mendidih dan air berubah warna. Pisahkan daun salam dengan air rebusannya. Kemudian masukan air rebusan ke dalam botol sprayer berukuran 100 ml, dengan takaran 5 ml air rebusan daun salam dilarutkan dengan 95 ml aquades (Syamsuddin et al. , 2. Sedangkan untuk pembuatan ekstrak daun cengkeh dan daun sirsak diawali dengan menyiapkan kedua bahan tersebut, masing-masing ditimbang sebanyak 5gr. Kemudian dihaluskan dengan 100ml air menggunakan blender. Selanjutnya larutan ekstrak cengkeh dan ekstrak sirsak diendapkan selama 24 jam sebelum disaring. Setelah proses penyaringan ekstrak daun cngkeh dan daun sirsak keduanya dimasukan kedalam handspayer berukuran 100 ml (Rahhutami, 2. Persiapan Sampel Rayap Hama rayap (Coptotermes curvignathu. yang akan digunakan untuk penelitian, diperoleh dari Kebun Kelor yang berlokasi di Kecamatan Cikalong. Aplikasi Pestisida Nabati Masing-masing ekstrak pestisida nabati diaplikasikan secara kontak pada hama rayap Coptotermes curvignathus dengan menggunakan metode penyemprotan. Penyemprotan dilakukan sebanyak 2 kali setiap 12 jam sekali selama penelitian. Untuk setiap unit percobaan diaplikasikan pestisida nabati sebanyak 3 kali semprot dengan jarak 20 cm dari objek yang akan disemprotkan. Rancangan Percobaan Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) non faktorial yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 5 ulangan. Sehingga diperoleh 25 unit percobaan dengan masing-masing percobaan dalam satu ulangan terdiri dari 10 ekor nimfa rayap. Untuk jumlah keseluruhan adalah 250 ekor nimfa rayap. Adapun perlakuan yang diterapkan adalah berupa dosis ekstrak berbagai pestisida, diantaranya : : Kontrol . anpa pemberian pestisid. : Ekstrak Serai . : Ekstrak Daun Salam : Ekstrak Daun Cengkeh : Ekstrak Daun Sirsak Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengamati secara langsung terhadap hama rayap yang dijadikan sebagai objek penelitian. Parameter yang diamati diantaranya adalah mortalitas dan LT50 Teknik Analisis Data Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dengan aplikasi SPSS 27. Apabila hasil menunjukkan adanya pengaruh yang nyata . , maka dilakukan uji lanjut Duncan 5%. Dan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan akibat pemberian ekstrak pestisida nabati dalam mematikan 50 % hama rayap ditanyatakan dengan Lethal Time (LT. adalah dengan analisis probit menggunakan program MINITAB 14. HASIL DAN PEMBAHASAN Mortalitas Rayap (%) Mortalitas adalah ukuran banyaknya hama yang mengalami kematian dalam suatu populasi atau kelompok selama jangka waktu tertentu. Angka ini menjelaskan bahwa jumlah kematian hama yang dipicu oleh berbagai faktor, seperti aplikasi insektisida atau pemanfaatan biopestisida (Putria et al. , 2. Berdasarkan analisis sidik ragam (ANOVA) terhadap mortalitas hama rayap dengan berbagai jenis pestisida nabati pada pengamatan 6-24 JSA dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1. Rata-rata persentase mortalitas rayap dengan perlakuan berbagai jenis pestisida nabati pada pengamatan 6-24 JSA. / jam setelah aplikasi. Pengamatan (Ja. Perlakuan 6 JSA 12 JSA 18 JSA 24 JSA 4,00 b 6,00 b 16,00 c 18,00 c 14,00 a 24,00 a 56,00 a 70,00 a 16,00 a 30,00 a 52,00 a 66,00 ab 12,00 a 26,00 a 44,00 b 62,00 b 12,00 a 26,00 a 54,00 a 68,00 a Keterangan : Angka yang diikuti notasi huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada Uji jarak Duncan 5 %. K0 (Kontro. K1 (Ekstrak Serai 5%). K2 (Ekstrak Daun Salam 5%). K3 (Esktrak Daun Cengkeh 5%). K4 (Esktrak Daun Sirsak 5%). Pada tabel 1. Hasil penelitian pada pengamatan 6 JSA, perlakuan pestisida nabati berpengaruh terhadap mortalitas hama rayap. Perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. K3 (Ekstrak Daun Cengke. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. diikuti oleh notasi yang sama yang mengartikan bahwa tidak berbeda nyata, namun berbeda nyata dengan perlakuan K0 (Kontro. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Hal yang serupa juga terjadi pada pengamatan 12 JSA. Perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. K3 (Ekstrak Daun Cengke. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan K0 (Kontro. Hal tersebut menjelaskan bahwa pada 6 dan 12 JSA efek dari berbagai jenis ekstrak pestisida nabati sudah mulai terlihat walaupun tidak berbeda nyata satu sama lain dikarenakan pengaruh dari efek pestisida nabati terjadi secara lambat, berbeda dengan pestisida kimia sintetik yang bisa memberikan efek kematian yang lebih cepat. Sejalan dengan pernyataan (Laoli & Malo, 2. , bahwa salah satu kelemahan dari pestisida nabati adalah pestisida nabati membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menunjukkan kefektifitasannya jika dibandingkan dengan pestisida kimia sintetik. Sementara itu pada pengamatan 18 JSA mulai terlihat secara signifikan dan sangat berbeda nyata antar perlakuan. Dimana K1 (Ekstrak Sera. K4 (Ekstrak Daun Sirsa. dan K2 (Ekstrak Daun Sala. menunjukkan efek mortalitas tertinggi, masing-masing sebesar 56%, 54% dan Namun secara statistik perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. tidak berbeda nyata, tetapi berbeda nyata dengan perlakuan K3 (Esktrak Daun Cengke. dan K0 (Ekstrak Kontro. Perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Cengke. tidak berbeda nyata karena diduga ketiga perlakuan tersebut memiliki kandungan senyawa flavonoid. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Nuryadin et al. , 2. , hasil uji fitokimia terhadap tanaman serai dapur (Cymbopogon citratu. , menyatakan hasil bahwa serai memiliki kandungan flavonoid sebesar 2,86%. Jenis flavonoid yang terdapat pada serai adalah kuarsetin yang berpotensi sebagai insektisida nabati (Amalia 2. Kemudian, menurut Rivai et al. , . mengemukakan bahwa daun salam mengandung senyawa flavonoid sebesar 0,512% dan senyawa tannin sebesar 0,1688%. Jenis senyawa flavonoid yang terkandung dalam daun salam adalah kuarsetin (Sutir, 2. Sedangkan dalam daun sirsak, terdapat kandungan flavonoid dengan jenis flavon dan flavonol (Neldawati et al. , 2. Dengan presentase flavonoid sebesar 7,3% (Mukhriani et al. , 2. dan kandungan tannin sebesar 1,85% (Dipura et al. , 2. Diperjelas oleh Umami & Ahsanunnisa, . , kandungan flavonoid bersifat toksik dan bekerja sebagai racun bagi serangga. Flavonoid berperan sebagai racun pernafasan, menyebabkan kerusakan syaraf dan sistem pernafasan sehingga serangga kesulitan bernafas dan akhirnya mati (Cania & Setyanimrum, 2. Perlakuan K3 (Ekstrak Daun Cengke. berbeda nyata dengan perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. Dengan nilai mortalitas yang sedikit lebih rendah dibanding yang lain yakni sebesar 44%. Hal tersebut diduga karena dalam daun cengkeh tidak terdapat senyawa tannin. Senyawa tannin berfungsi menghambat proses Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 pencernaan serangga serta menyebabkan gangguan dalam penyerapan air pada organisme, sehingga dapat menyebabkan kematian pada organisme tersebut (Umami & Ahsanunnisa, 2. Selain itu senyawa tannin juga berfungsi sebagai racun kontak dan racun perut (Yennie et al. Lebih lanjut. Amalo et al. , . menambahkan bahwa mekanisme racun kontak pada hama rayap yang disebabkan oleh senyawa tannin adalah melalui dinding tubuh rayap, lalu senyawa tersebut mengakibatkan penyusutan jaringan tubuh rayap serta kerusakan pada kitin sebagai penyusun kutikula rayap sehingga tubuh rayap tidak terlindungi dengan baik dan seiring waktu rayap mengalami kematian. Sehingga daun cengkeh tidak memiliki senyawa yang sama dengan perlakuan yang lainnya, menurut Tuslinah et al. , . , menyatakan bahwa kandungan senyawa yang terdapat dalam daun cengkeh adalah eugenol 84,86% dan flavonoid sebesar 7,308% (Wahyulianingsih et al. , 2. Hal ini menandakan bahwa daun cengkeh hanya memiliki dua jenis senyawa saja yang dapat mengendalikam hama rayap, berbeda dengan perlakuan lainnya yang memiliki banyak senyawa untuk mengendalikan hama rayap tersebut. Dengan begitu kematian hama rayap oleh perlakuan K3 (Ekstrak Daun Cengke. terjadi akibat senyawa utama yang dimiliki oleh daun cengkeh yaitu eugenol. Senyawa eugenol memiliki sifat sebagai racun bagi sistem pernafasan serta bertindak sebagai neurotoksin, dan senyawa ini dapat masuk kedalam tubuh serangga melalui lapisan integument serangga (Sutikno & Anggraini, 2. Diperkuat kembali berdasarkan pendapat Djojosumarto, . bahwa eugenol dapat menghambat aktivitas enzim asetilkolinesterase sehingga terjadi penumpukan Akibatnya serangga mengalami gejala seperti tremor . , konvulsi . , dan paralis. , yang akhirnya menyebabkan kematian. Selain itu eugenol juga menganggu sistem pernafasan serangga dengan masuk melalui spirakel bersamaan dengan oksigen, sehingga serangga akan kesulitan untuk bernafas. Pada 24 JSA. K0 (Kontro. tetap memiliki nilai mortalitas yang paling rendah dan berbeda nyata dari perlakuan lainnya. Seperti pada 18 JSA. K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. tidak berbeda nyata namun berbeda nyata dengan K0 (Kontro. dan K3 (Ekstrak Daun Cengke. Perlakuan K1 (Ekstrak Sera. K4 (Ekstrak Daun Sirsa. dan K2 (Ekstrak Daun Sala. memiliki hasil mortalitas yang paling tinggi dengan presentase mortalitas sebesar 70%, 68% dan 66%. Dengan begitu hal ini menandakan bahwa senyawa yang terdapat dalam ekstrak serai, ekstrak daun sirsak dan ekstrak daun salam mampu membunuh hama rayap dalam waktu 24 jam setelah aplikasi. Dari ketiga perlakuan yakni K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K3 (Ekstrak Daun Sirsa. , senyawa flavonoid dan tannin yang terkandung dalam ketiga perlakuan Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 tersebut menyebabkan kematian pada hama rayap. Selain itu K1 (Ekstrak Sera. juga memiliki kandungan senyawa lain yaitu senyawa geraniol dan citronella yang memiliki efek mematikan pada hama rayap yang berfungsi sebagai racun kontak, racun perut dan racun syaraf (Putria et , 2. Adapun presentase senyawa geraniol dan citronella pada serai adalah geraniol sebesar 7,16 % dan sitronella sebesar 85,05% (Evama et al. , 2. Kemudian K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. juga memiliki kandungan senyawa lain yaitu senyawa saponin dan alkaloid. Penelitian Erwan & Parbuntari. menjelaskan bahwa pada daun salam terindentifikasi adanya senyawa saponin dan Sedangkan pada K4 (Ekstrak Daun Sirsa. , presentase saponin 0,96% (Ahyanti & Yushananta, 2. dan alkaloid 2,12% (Sopian et al. , 2. Senyawa saponin dan alkaloid berfungsi sebagai racun perut. Alkaloid berupa garam, mampu merusak membran sel juga dapat mengganggu sistem syaraf dengan menghambat enzim asetilkolinesterase. Akibatnya tubuh serangga akan mengalami perubahan warna, gerakannya melambat saat disentuh, dan cenderung membengkokan tubuhnya (Cania & Setyanimrum, 2. Kematian yang terjadi pada perlakuan K0 (Kontro. dengan presentase mortalitas sebesar 18%, diduga kondisi tersebut disebabkan karena rayap sulit berdaptasi dengan lingkungannya dan karena tidak tersedianya sumber pakan (Putria et al. , 2. Diperkuat kembali oleh Makal & Turang, . jika faktor lingkungan hidup serangga tidak menyediakan dukungan secara fisik atau makanan, maka serangga dapat mengalami kematian atau gangguan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Secara umum, gejala kematian rayap sudah mulai terlihat sejak 6 JSA, ditandai dengan melambatnya pergerakan, keluarnya kotoran, serta rayap tidak bergerak sama sekali. Pada gejala tidak bergerak terjadi sesaat setelah dilakuakan penyemprotan secara kontak. Kemudian rayap bergerak kembali meskipun pergerakannya lebih lambat. Rayap yang sudah mati selain tidak adanya pergerakan juga terlihat bagian tubuhnya yang sedikit menekuk. Lethal Time 50 (LT50 ) Lethal Time 50 (LT. merupakan waktu yang diperlukan untuk mencapai tingkat kematian sebesar 50% pada serangga uji (Ati et al. , 2. Terlihat pada tabel . 2 menunjukkan hasil probit analisis lethal time (LT. dari semua perlakuan. K0 (Kontro. K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. K3 (Ekstrak Daun Cengkeh dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 Tabel 2. Lethal Time 50 (LT. aplikasi berbagai jenis pestisida nabati pada hama rayap Coptotermes curvignathus. Perlakuan LT50 (Ja. Keterangan : K0 (Kontro. K1 (Ekstrak Sera. K2 (Ekstrak Daun Sala. K3 (Ekstrak Daun Cengkeh. (Ekstrak Daun Sirsa. Berdasarkan Tabel 2 menjelaskan terkait LT50 dari berbagai jenis pestisida nabati. Nilai LT50 menunjukkan urutan efektivitas dari yang tercepat hingga terlambat diantaranya K1 (Ekstrak Sera. mencapai LT50 pada 17 jam, diikuti oleh K4 (Ekstrak Daun Sirsa. dan K2 (Ekstrak Daun Sala. pada 18 Jam. K3 (Ekstrak Daun Cengke. pada 20 Jam dan K0 (Kontro. pada 41 jam. K1 (Ekstrak Sera. , menghasilkan kematian yang tercepat dengan nilai LT 50 sebesar 17 Hal tersebut dikarenakan Senyawa geraniol dan citronella bekerja sebagai racun kontak dan racun syaraf terhadap rayap. Senyawa ini masuk ke dalam tubuh rayap melalui lubang alami atau mulut ketika rayap mengkonsumsi bahan yang mengandung senyawa tersebut. Selanjutnya senyawa ini masuk kedalam organ pencernaan dan diserap oleh dinding usus, kemudian dibawa menuju pusat syaraf. Gangguan pada syaraf rayap mengakibatkan ketidakseimbangan ion-ion dalam sel syaraf, sehingga menyebabkan kematian rayap (Rahhutami, 2. K4 (Ekstrak Daun Sirsa. , menghasilkan mortalitas kedua tercepat dengan nilai LT 50 sebesar 18 jam. Hal tersebut terjadi karena senyawa acetogenin yang terdapat pada ekstrak daun sirsak membunuh secara perlahan yang berpengaruh pada penurunan nafsu makan, menghambat pertumbuhan, daya repsroduksi dan menghambat pergantian kulit (Kardinan. K2 (Ekstrak Daun Sala. , memiliki perolehan LT50 yang sama dengan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. yakni sebesar 18 jam. Hal ini dikarenakan kandungan senyawa flavonoid dan tanin yang terdapat dalam daun salam mampu mematikan serangga uji. Senyawa tanin memiliki fungsi untuk menghambat kemampuan serangga dalam proses pencernaan makanan dan dapat menganggu penyerapan air pada organisme, yang berpotensi menyebabkan kematian pada organisme tersebut. Sementara itu, flavonoid berperan sebagai senyawa pertahanan yang bersifat toksik, berfungsi sebagai racun bagi serangga (Dewi. K3 (Ekstrak Daun Cengke. , menghasilkan LT50 yang lebih lambat sebesar 20 jam. Hal tersebut diduga terjadi karena bahan aktif dari ekstrak daun cengkeh belum maksimal dan hanya bekerja sebagai racun pernapasan dan racun kontak, sementara mekanisme racun selain racun pernapasan belum berperan (Sutikno & Anggraini, 2. Agroscience Vol 15 No. 2 Tahun 2025 ISSN Cetak: 1979-4681 e-ISSN: 2579-7891 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian berbagai jenis pestisida nabati terhadap mortalitas hama rayap Coptotermes curvignathus, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Penggunaan berbagai jenis pestisida nabati menujukkan adanya perbedaan mortalitas dari semua Dengan perlakuan terbaik pada penelitian ini terdapat pada perlakuan K1 (Ekstrak Sera. mampu mematikan hama rayap sebesar 70%, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. pada 24 jam setelah aplikasi. Berdasarkan nilai LT50 semua perlakuan menghasilkan kematian 50%. Perlakuan K1 (Ekstrak Sera. menjadi perlakuan tercepat dalam mematikan 50% hama rayap pada jam ke 17 diikuti oleh K2 (Ekstrak Daun Sala. dan K4 (Ekstrak Daun Sirsa. yang memiliki LT50 pada jam ke 18. DAFTAR PUSTAKA