Eirene Vol. 10 No. 2, 243-261 (Desember 2. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. UKiP Sorong ISSN 2528-1887 e-ISSN 2540-962X BUILDING AN EXCELLENT GENERATION BASED ON DANIEL CHAPTER 6 IN PGPI CHURCHES IN SORONG CITY MEMBANGUN GENERASI UNGGUL BERDASARKAN DANIEL 6 DI PGPI KOTA SORONG Maria Cheren Manaroinsong1 Ricky Donald Montang2. Jean Anthoni3 Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong. Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong. Fakultas Teologi. Program Studi Magister Teologi Universitas Kristen Papua Sorong, *Email: rickymontang@ukip. Abstract: This study aims to examine the principles of character formation and integrity found in Daniel chapter 6, as well as their relevance in building an excellent generation within the PGPI (Pentecostal Church Fellowship of Indonesi. in Sorong City. The background of this research is based on the churchAos need for a young generation that not only possesses spiritual capacity, but also integrity, exemplary character, courage to stand firm in the truth, and the ability to make an impact amid the challenges of the times. This research employs a quantitative method with explanatory and confirmatory approaches. Data were collected through questionnaires distributed to the youth and church leaders under PGPI Sorong City, along with a theological study of Daniel 6. This biblical passage serves as the foundation for constructing the model of an Auexcellent generation,Ay which consists of four main indicators: skill, integrity, spiritual obedience, and impactful living. The results indicate that the congregation of PGPI Sorong City has generally reflected the characteristics of an excellent generation. Among all the indicators examined, spiritual obedience emerged as the most dominant factor in shaping an excellent generation. Furthermore, among the background variables, profession was identified as the most influential factor in supporting the formation of an excellent generation within the congregation. Through this research, it is expected that the church will not only function as a spiritual institution but also as a builder of a professional generation, ready to reflect GodAos glory wherever they are. Keywords: Excellent Generation. Skill. Integrity. Spiritual Obedience. Impactful Life. PGPI Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji prinsip-prinsip pembentukan karakter dan integritas yang terdapat dalam Daniel pasal 6 serta relevansinya dalam membangun generasi unggul di lingkungan PGPI (Persekutuan Gereja-Gereja Pentakosta Indonesi. Kota Sorong. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kebutuhan gereja akan generasi muda yang tidak hanya memiliki kapasitas rohani, tetapi juga integritas, keteladanan, keberanian untuk berdiri teguh dalam kebenaran serta berdampak di tengah tantangan zaman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksplanatori dan konfirmatori. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada generasi muda dan pemimpin gereja di bawah naungan PGPI Kota Sorong, serta melalui kajian teologis terhadap Daniel 6. Bagian Alkitab ini digunakan sebagai dasar untuk membangun model Augenerasi unggulAy yang mencakup empat indikator utama: keahlian, integritas, ketaatan spiritual, dan hidup yang berdampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jemaat PGPI Kota Sorong secara umum telah mencerminkan karakter generasi unggul. Dari seluruh indikator yang diuji, ketaatan spiritual muncul sebagai faktor paling dominan dalam membentuk generasi unggul. Selain itu, dari aspek latar belakang, profesi menjadi faktor yang paling berpengaruh dalam mendukung terbentuknya karakter generasi unggul di kalangan jemaat. Melalui penelitian diharapkan gereja tidak hanya menjadi lembaga rohani saja tetapi juga pencetak generasi unggul yang professional dan siap memancarkan kemuliaan Allah di mana saja. Kata Kunci: Generasi Unggul. Keahlian. Integritas. Ketaatan Spiritual. Hidup Berdampak. PGPI Eirene Jurnal Ilmiah Teologi PENDAHULUAN Indonesia sedang menuju bonus demografi tahun 2045, di mana generasi muda akan menjadi penopang utama bangsa. 1 Namun, di tengah kemajuan teknologi dan arus globalisasi, generasi ini menghadapi tantangan serius seperti pergeseran moral, individualisme, krisis identitas, serta pengaruh budaya sekuler. Kondisi ini menuntut adanya pembinaan karakter yang kuat, bukan hanya kecerdasan intelektual. Gereja, termasuk PGPI Kota Sorong, memiliki peran penting sebagai pusat pembentukan iman dan karakter. Pendidikan karakter menjadi unsur utama dalam mencetak generasi unggul yang memiliki integritas, tanggung jawab, dan keteguhan Meski demikian, realitas menunjukkan masih ada generasi muda gereja yang terjerumus dalam pergaulan bebas, kehilangan arah rohani, dan meninggalkan gereja. Hal ini menjadi bukti bahwa pembinaan yang ada belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan rohani dan moral generasi muda. Dalam konteks ini, kisah Daniel dalam Daniel pasal 6 menjadi teladan yang sangat Daniel menunjukkan kehidupan yang penuh kesetiaan, keberanian, disiplin, dan integritas meskipun berada di tengah tekanan dan ancaman. Peneladanan prinsip hidup Daniel diyakini mampu membentuk generasi muda yang tangguh, berkarakter, dan tetap setia kepada Tuhan. PGPI Se-Kota Sorong memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan melalui pembinaan iman yang holistik. Namun, dibutuhkan pendekatan baru yang lebih kreatif, terarah, dan sesuai dengan tantangan zaman. Karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengkaji penerapan prinsip-prinsip Daniel 6 dalam membangun generasi unggul di lingkungan PGPI, serta memberikan model pembinaan yang dapat diterapkan secara praktis dan berkesinambungan. Sesuai dengan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan rumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana kecenderungan generasi unggul di PGPI Kota Sorong? Apa indikator yang dominan yang membentuk generasi unggul? Apa kategori latar belakang yang dominan mempengaruhi generasi unggul? Tujuan Penelitian adalah untuk mengetahui kecenderungan generasi unggul di PGPI Kota Sorong. , mengetahui indikator yang dominan yang membentuk generasi unggul. mengetahui kategori latar belakang yang dominan mempengaruhi generasi unggul. Djakariah dan Mahdi Raharjo. Eka Jayadiputra. Liza Husnita. Kusman Rukmana. Yanti Sri Wahyuni. Nurbayani. Salamah. Sarbaitinil. Ranti Nazmi. Pendidikan Karakter:Membangun Generasi Unggul Berintegritas, ed. Efitra, 1st ed. (Jambi: Sonpedia Publishing Indonesia, 2. , 50. Anne Wescott Dodd. AuEducating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. By Thomas Lickona. New York: Bantam Books, 1991,Ay NASSP Bulletin, 1992, https://doi. org/10. 1177/019263659207654519. John and Christopher J. Wright Stott. Christian Mission In the Modern World (London: Inter Varsity Press, 2. , https://w. id/books/edition/Christian_Mission_in_the_Modern_World/4aAnCQAAQBAJ?hl =en&gbpv=1&pg=PA1&printsec=frontcover. Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . KAJIAN TEORI Latar Belakang Singkat Kitab Daniel Kitab Daniel ditulis dalam konteks sejarah pembuangan bangsa Israel ke Babel. 4 Pada tahun 605 SM. Raja Nebukadnezar dari Babel menaklukkan Yerusalem dan membawa tawanan, termasuk Daniel. 5 Setelah runtuhnya Babel, kekuasaan beralih ke Persia, lalu kemudian ke Yunani di bawah Aleksander Agung. Masa ini ditandai oleh tekanan budaya asing, terutama helenisasi di bawah Antiokhus Epifanes, yang mengancam iman dan identitas Yahudi. Kitab Daniel menggambarkan perjuangan umat Allah untuk tetap setia di tengah penindasan dan pengaruh budaya asing. Daniel menjadi teladan iman, integritas, dan keberanian, karena ia tetap setia kepada Allah meski berada di lingkungan yang menentang keyakinannya. Uniknya, kitab ini ditulis dalam dua bahasa (Ibrani dan Ara. dan memuat pesan pengharapan bahwa Kerajaan Allah akan mengalahkan kerajaankerajaan dunia. Selain kisah hidup Daniel, kitab ini juga bersifat apokaliptik, yang menyatakan rencana Allah melalui simbol dan penglihatan tentang masa depan. Tujuannya adalah memberi kekuatan dan harapan bagi umat agar tetap teguh dalam iman. Struktur Kitab Daniel terbagi menjadi dua bagian utama yang saling melengkapi, yaitu bagian naratif dan bagian apokaliptik. 7 Bagian pertama, yang mencakup pasal 1 hingga 6, berisi kisah-kisah historis tentang pengalaman Daniel dan teman-temannya selama berada di pembuangan Babel. Dalam bagian ini digambarkan keteguhan iman dan integritas Daniel, mulai dari penolakannya terhadap santapan raja, penafsiran mimpi Nebukadnezar, keberanian sahabat-sahabatnya di perapian api, hingga kisah dramatis ketika Daniel dimasukkan ke dalam gua singa. Kisah-kisah ini memberikan teladan tentang kesetiaan kepada Allah di tengah tekanan kekuasaan dunia. Sementara itu, bagian kedua, yaitu pasal 7 hingga 12, berisi penglihatan dan nubuat yang bersifat apokaliptik, yang menyingkapkan rencana Allah atas bangsa-bangsa dan masa depan sejarah. 8 Melalui simbol-simbol profetis seperti empat binatang, domba dan kambing jantan, serta rahasia tujuh puluh minggu, bagian ini menegaskan bahwa sekalipun kerajaan-kerajaan dunia silih berganti, pada akhirnya Kerajaan Allah akan berdiri untuk selama-lamanya. Kedua bagian ini bersama-sama menunjukkan bahwa Kitab Daniel bukan hanya catatan sejarah iman, tetapi juga pesan pengharapan bagi umat Allah agar tetap teguh dan berani dalam menghadapi setiap zaman. Eksegesis Daniel Pasal 6 Ronald S. Wallace. Daniel:Kedaulatan Dan Kasih Allah Berseri Kendati Kasus Situasi Negeri Ngeri Tak Bertepi, 1st ed. (England: In, 2. , 13. Israel Finkelstein and Neil Asher Silberman. The Bible Unearthed: ArchaeologyAos New Vision of Ancient Israel and the Origin of Its Sacred Texts. (New Work: Free Press, 2. Ludwig Koehler and Walter Baumgartner and Johann Jakob Stamm. The Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament (Leiden: Brill, 2. Jaffray. Tafsiran Kitab Daniel, ed. Yosep Kurnia (Bandung: Yayasan Kalam Hidup. John Drane. Memahami Perjanjian Lama II, ed. Barnabas Ludji (Jakarta: Yayasan Persekutuan Pembaca Alkitab, 2. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Kitab Daniel pasal 6 berada dalam bagian naratif kitab Daniel, yang menyoroti kehidupan iman Daniel di tengah pemerintahan Media-Persia. Pasal ini menggambarkan bagaimana Daniel, seorang tawanan Yehuda yang telah lama mengabdi dalam pemerintahan Babel, tetap menunjukkan integritas dan kesetiaan kepada Allah, bahkan setelah kekuasaan beralih kepada Raja Darius. Kisah ini diawali dengan pengangkatan Daniel sebagai pejabat tinggi karena ia memiliki Auroh yang luar biasaAy . uakh yattir. , suatu ungkapan yang mencerminkan hikmat, karakter, dan kedewasaan rohani yang berasal dari Allah. 9 Keunggulan ini menimbulkan kecemburuan di antara pejabat lain, yang kemudian menjebaknya melalui undang-undang yang melarang doa kepada selain Daniel tetap berdoa tiga kali sehari menghadap Yerusalem, menunjukkan bahwa sumber keunggulannya bukan dari istana Babel, melainkan dari hubungannya dengan Allah. Puncak kisah terjadi ketika Daniel dilemparkan ke gua singa, namun Allah mengutus malaikat-Nya untuk menutup mulut singa dan menyelamatkannya. Peristiwa ini tidak hanya membuktikan perlindungan Allah atas orang yang setia, tetapi juga menjadi kesaksian iman yang mengubah pandangan Raja Darius. Raja akhirnya mengakui Allah Daniel sebagai AuAllah yang hidupAy dan mengeluarkan dekrit agar seluruh kerajaan menghormati-Nya. Pasal ini menegaskan beberapa tema teologis penting, yaitu kedaulatan Allah atas kerajaan manusia, keberanian untuk taat kepada Tuhan di atas hukum dunia, serta kuasa Allah yang menyatakan diri melalui kesetiaan umat-Nya. Daniel tampil bukan sekadar sebagai tokoh historis, tetapi sebagai teladan generasi unggulAiberintegritas, beriman, dan berdampakAiyang tetap setia kepada Allah meskipun hidup di tengah sistem yang tidak mengenal Tuhan. Generasi Unggul Berdasarkan Daniel Pasal 6 Konsep generasi unggul merujuk kepada sekelompok orang yang tidak hanya hidup dalam periode waktu yang sama, tetapi juga memiliki kualitas karakter, moral, dan spiritual yang kuat. 11 Generasi unggul bukan hanya cerdas secara pengetahuan atau teknologi, tetapi juga memiliki keteguhan iman, integritas, dan teladan hidup. 12 Dalam konteks Daniel pasal 6, generasi unggul digambarkan melalui kehidupan Daniel yang tetap berpegang pada nilai ilahi meskipun hidup di tengah bangsa asing. Daniel menunjukkan bahwa keunggulan sejati tidak lahir dari kekuasaan dunia, tetapi dari kesetiaan kepada Allah. Daniel 6:3 mencatat bahwa Daniel memiliki roh yang luar biasa, sehingga ia melebihi pejabat-pejabat lainnya. Keunggulan Daniel terlihat dari kecakapannya dalam menjalankan tugas pemerintahan. Ia bukan hanya berhikmat, tetapi juga mampu mengelola tanggung jawabnya tanpa cela. Keahlian dan kecakapan ini menunjukkan bahwa seorang yang unggul harus mengembangkan potensi yang Tuhan berikan melalui Lynne Newell. Kitab Daniel:Seri Tafsiran Alkitab, 5th ed. (Malang: Literatur Saat, 2. , 181. Ronald S. Wallace. Daniel:Kedaulatan Dan Kasih Allah Berseri Kendati Kasus Situasi Negeri Ngeri Tak Bertepi, 153. Yusuf. Generasi Milenial:Fleksibilitas. Kepuasan Dan Loyalitas Kerja, ed. Moh Suardi (Padang: Azka Pustaka, 2. , 8. Raharjo. Eka Jayadiputra. Liza Husnita. Kusman Rukmana. Yanti Sri Wahyuni. Nurbayani. Salamah. Sarbaitinil. Ranti Nazmi. Pendidikan Karakter:Membangun Generasi Unggul Berintegritas, 41. Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . kedisiplinan dan tanggung jawab. 13 Daniel dihormati karena kualitas kerjanya yang tinggi dan konsistensinya dalam melakukan yang benar. Selain kecakapan, integritas menjadi ciri penting generasi unggul. Dalam Daniel 6:4, para pejabat berusaha mencari kesalahan Daniel tetapi tidak menemukannya karena ia setia dan tidak berbuat curang. Integritas berarti hidup dalam kejujuran dan kesetiaan terhadap prinsip kebenaran, sekalipun tidak ada yang melihat. Daniel tidak korup, tidak mencari keuntungan pribadi, dan tetap memegang teguh nilai-nilai moral. Integritas inilah yang membuat kehidupannya menjadi teladan, bahkan dihormati di tengah lingkungan yang tidak mengenal Allah. Keunggulan Daniel juga tampak dalam ketaatan spiritual. Daniel tetap berdoa tiga kali sehari menghadap Yerusalem meskipun dilarang oleh undang-undang kerajaan. Ia lebih memilih taat kepada Allah daripada menghindari hukuman manusia. Ketaatannya menunjukkan bahwa puncak keunggulan generasi bukan hanya pada prestasi lahiriah, tetapi pada ketekunan dalam ibadah dan komitmen pada kebenaran firman Tuhan. Daniel memahami bahwa segala kuasa berasal dari Allah, sehingga ia menyerahkan seluruh hidupnya dalam penyembahan dan doa. Akhirnya, generasi unggul adalah generasi yang hidup membawa dampak. Hidup Daniel menjadi kesaksian besar yang membuat Raja Darius mengakui kebesaran Allah. Melalui keteguhan imannya, bangsa lain dapat melihat bahwa Allah yang disembah Daniel adalah Allah yang hidup. Keberadaan Daniel bukan hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga menjadi alat Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya di tengah bangsa yang tidak percaya. Demikian pula, generasi unggul masa kini dipanggil untuk menjadi terang dan garam duniaAihidup yang mencerminkan Kristus, memberi pengaruh positif, dan memuliakan Tuhan di setiap bidang kehidupan. Tuhan Menghendaki Anak-Nya Menjadi Unggul Banyak orang Kristen merasa ragu untuk mengejar keunggulan karena takut dianggap ambisius atau tidak rohani. Namun. Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan tidak menolak keinginan untuk menjadi unggul, asalkan motivasinya benar. Ketika murid-murid Yesus berdebat tentang siapa yang terbesar (Markus 9:33Ae. Yesus tidak menegur keinginan mereka untuk menjadi besar, tetapi Ia meluruskan cara mencapainya: menjadi yang terbesar berarti menjadi pelayan bagi semua. Keunggulan sejati tidak lahir dari ambisi pribadi atau pencarian kehormatan, melainkan dari kerendahan hati dan kesediaan untuk Yesus menolak model kepemimpinan dunia yang mengejar kuasa, popularitas, atau Sebaliknya. Ia menegaskan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang rela mengorbankan diri, seperti Anak Manusia yang datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani (Markus 10:. Sejarah gereja dan dunia menunjukkan bahwa kesombongan membawa kehancuran, sementara kerendahan hati menghasilkan Tokoh seperti Nebukadnezar. Herodes, dan Hitler jatuh karena kesombongan Lynne Newell. Kitab Daniel:Seri Tafsiran Alkitab, 169. Eddy Leo. Transformasi Hati, ed. David Ariyanto, 2nd ed. (Jakarta: Metanoia, 2. , 130. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi mereka, sedangkan orang rendah hati seperti Ibu Teresa dan D. Moody ditinggikan karena hidupnya dipersembahkan untuk melayani. Dengan demikian. Tuhan menghendaki anak-anak-Nya menjadi unggul, tetapi bukan dalam arti duniawi. Keunggulan yang dikehendaki Tuhan adalah karakter yang mencerminkan Kristus: setia, rendah hati, berintegritas, dan siap melayani. Inilah keunggulan yang memuliakan Allah dan membawa berkat bagi sesama. Bukti Bahwa Allah Menghendaki Umat-Nya Menjadi Unggul Allah tidak melarang umat-Nya untuk menjadi unggul. Ia merencanakan agar umat-Nya hidup dalam keberhasilan yang memuliakan-Nya. 15 Sejak proses awal kehidupan, manusia telah melalui seleksi alam yang ketat saat pembuahan, menunjukkan bahwa kita diciptakan sebagai pemenang, bukan sebagai pribadi yang gagal. Dalam penciptaan. Allah membentuk manusia menurut gambar-Nya dan menempatkannya untuk berkuasa atas ciptaan (Kej. 1:26Ae. Meski dosa merusak rencana itu, melalui Kristus Allah membuka jalan pemulihan agar manusia kembali pada posisi mulia dan hidup sesuai maksud-Nya. Meskipun manusia sering merasa hina dan tidak berarti. Alkitab menunjukkan bahwa Allah memandang manusia sebagai ciptaan yang mulia (Mzm. 8:6Ae. Ia mengangkat pribadi-pribadi yang sederhanaAiseperti Gideon. Petrus, dan tokoh-tokoh lainnyaAiuntuk menjadi alat yang berdampak besar. Kepada Israel. Allah menjanjikan bahwa ketaatan akan membawa mereka menjadi kepala dan bukan ekor (Ul. Janji ini juga diteguhkan kepada Yosua, yang dipanggil untuk maju dengan keberanian karena penyertaan Allah menjamin keberhasilan (Yos. 1:6Ae. Dalam sejarah keselamatan, banyak tokoh diangkat Tuhan di negeri asing sebagai bukti penyertaan dan rencana-Nya: Yusuf di Mesir. Musa di istana Firaun. Daniel di Babel. Ester di Persia, hingga Nehemia di istana raja Artahsasta. Mereka semua menjadi teladan bahwa iman, integritas, dan keberanian untuk taat membuka jalan menuju keunggulan yang berasal dari Tuhan. Daud, yang bermula sebagai gembala, diangkat menjadi raja terbesar Israel karena hatinya berkenan kepada Tuhan. Petrus, yang sederhana dan rapuh, dipulihkan menjadi batu karang gereja melalui pengakuan imannya kepada Kristus. Bahkan dalam Amanat Agung (Mat. 28:19Ae. Yesus menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk melangkah dengan keyakinan, sebab penyertaan-Nya menjamin keberhasilan dalam pelayanan. Semua bukti ini menunjukkan bahwa Allah rindu umat-Nya hidup unggulAibukan demi kemuliaan pribadi, melainkan untuk menyatakan kuasa, anugerah, dan kebenaranNya kepada dunia. Keunggulan sejati bukan berasal dari ambisi manusia, tetapi dari hidup yang bersandar kepada Tuhan dan setia menjalankan kehendak-Nya. Generasi Unggul Secara Umum Menurut B. Sidjabat Menurut B. Sidjabat, generasi unggul adalah generasi yang memiliki integritas moral, kedalaman spiritual, kemampuan intelektual, dan keberanian untuk membawa Johny The. Menjadi Pemimpin Unggul, 5th ed. (Yogyakarta: ANDI, 2. Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . dampak positif bagi gereja dan masyarakat. 16 Keunggulan tersebut tidak lahir secara instan, tetapi terbentuk melalui pendidikan, pembinaan karakter, serta pengalaman hidup yang mematangkan iman dan tanggung jawab. Sidjabat menegaskan bahwa setiap individu, khususnya kaum muda, memiliki potensi untuk menjadi generasi unggul jika dibimbing secara benar. Sidjabat menyebut beberapa ciri utama generasi unggul, yaitu: iman kepada Tuhan sebagai dasar hidup, integritas tinggi yang terlihat dalam kejujuran dan keteladanan, pemikiran kritis dan kreatif dalam menghadapi masalah, jiwa kepemimpinan yang melayani, serta orientasi pada misi hidup untuk menjadi berkat bagi sesama. Selain itu, generasi unggul juga memiliki wawasan global tanpa kehilangan identitas lokal, sehingga mampu menghadapi arus globalisasi dengan karakter yang kokoh. Proses pembentukan generasi unggul, menurut Sidjabat, terjadi melalui pendidikan holistik, lingkungan keluarga dan gereja yang mendukung, pembinaan karakter, peningkatan kompetensi, serta pengalaman menghadapi tantangan hidup. Sidjabat menegaskan bahwa ujian kehidupan justru menjadi sarana Allah untuk membentuk kedewasaan dan ketangguhan spiritual. Dalam konteks masa kini, konsep generasi unggul sangat relevan untuk menjawab krisis moral, tantangan teknologi, dan kebutuhan akan kepemimpinan yang bertanggung Generasi yang beriman, berintegritas, dan siap melayani dapat menjadi agen perubahan di tengah dunia yang rapuh. Pandangan Sidjabat ini selaras dengan Daniel pasal 6, di mana Daniel menjadi teladan generasi unggul yang tetap setia kepada Allah, berkarakter kuat, dan membawa pengaruh besar bagi bangsanya. Seperti Daniel, generasi masa kini dipanggil untuk menjadi terang melalui iman, karakter, dan dedikasi kepada Tuhan. METODE PENELITIAN Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode survei dengan pendekatan eksplanatori dan Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menjelaskan serta mengonfirmasi hubungan antara variabel bebas . dan variabel terikat . , sehingga termasuk dalam kategori neuro-research. Penelitian jenis ini menggunakan sampel sebagai perwakilan populasi yang tidak dapat dijangkau secara langsung. Variabel endogen dalam penelitian ini adalah Generasi Unggul berdasarkan Daniel 6, yang dikembangkan melalui konstruk teori dan diukur dengan beberapa indikator. Sementara itu, variabel eksogen terdiri dari keahlian atau kecakapan (X. , integritas (X. , ketaatan spiritual (X. , dan hidup yang berdampak (X. Pengembangan model penelitian dilakukan melalui kajian teori, kemudian diuji menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) untuk memastikan kebenaran model secara empiris. Oleh karena itu, validitas konstruk sangat penting untuk membuktikan bahwa konsep yang digunakan sesuai dengan kenyataan di lapangan. Menurut Sasmoko, variabel eksogen adalah variabel yang memengaruhi variabel lain, sedangkan variabel Sidjabat. Membangun Pribadi Unggul: Suatu Pendekatan Teologis Terhadap Pendidikan Karakter, ed. Andi (Yogyakarta, 2. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi endogen adalah variabel yang dipengaruhi. Dalam penelitian ini, indikator dari masingmasing variabel disusun berdasarkan hasil kajian teori dan disesuaikan dengan konteks gereja di PGPI Kota Sorong. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya membangun model teoritis, tetapi juga menguji apakah konstruk generasi unggul yang diajukan benarbenar tercermin dalam kehidupan nyata jemaat. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di komunitas generasi muda dari Gereja-gereja yang merupakan anggota aktif PGPI Kota Sorong. Waktu pelaksanaan penelitian berlangsung dari November 2024 hingga Juli 2025. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh sinode gereja yang berada di bawah naungan PGPI Kota Sorong, dengan total 23 sinode. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling, yaitu metode acak yang memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi untuk terpilih sebagai sampel. Penentuan jumlah sampel dilakukan menggunakan rumus Slovin, dan berdasarkan hasil perhitungan diperoleh 19 sinode yang dipilih secara acak, dengan total 190 jemaat sebagai Responden yang dipilih adalah anggota jemaat PGPI berusia 12 hingga 40 tahun, karena rentang usia ini mewakili generasi muda yang sedang dalam proses pembentukan karakter, spiritualitas, dan kepemimpinan, serta aktif mengikuti kegiatan gereja di wilayah Kota Sorong. Teknik Pengumpulan Data Data utama dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner yang disebarkan kepada para responden untuk memperoleh informasi secara langsung. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan studi pustaka melalui jurnal, buku, dan data internal PGPI Kota Sorong sebagai sumber data sekunder guna memperkuat analisis dan pemahaman terhadap topik penelitian. Pengembangan Instrumen Penelitian Instrumen penelitian disusun untuk mengukur generasi unggul berdasarkan Daniel Pasal 6, yang mencakup empat dimensi utama: keahlian atau kecakapan, integritas, ketaatan spiritual, dan hidup yang berdampak. Secara konseptual, generasi unggul adalah generasi yang memiliki kemampuan, keteguhan moral, kedisiplinan rohani, serta membawa pengaruh positif dalam lingkungan PGPI Kota Sorong. Secara operasional, setiap variabel dijabarkan dalam bentuk pernyataan kuesioner menggunakan skala Likert 5 poin, mulai dari sangat tidak sering hingga sangat sering. Total terdapat 20 butir pernyataan: 5 untuk keahlian/kecakapan, 5 untuk integritas, 5 untuk ketaatan spiritual, dan 5 untuk hidup yang berdampak. Instrumen ini dirancang untuk mengetahui sejauh mana responden mencerminkan nilai-nilai karakter seperti yang dicontohkan Daniel. Muri Yusuf. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif Dan Penelitian Gabungan (Jakarta: Prenadamedia Group, 2. , 150. Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . Proses kalibrasi instrumen dilakukan melalui uji validitas dan reliabilitas. Validitas isi diuji melalui expert judgment guna memastikan kesesuaian butir dengan tujuan Selanjutnya, validitas konstruk diuji melalui dua tahap: pertama menggunakan metode iterasi orthogonal pada 20 responden dengan batas r = 0,444, kemudian dilanjutkan . ika diperluka. dengan analisis faktor PCA menggunakan SPSS. Setelah itu, validitas empiris diuji dengan korelasi Pearson, dan seluruh butir dinyatakan valid. Uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha menghasilkan nilai 0,918, yang menunjukkan bahwa instrumen sangat reliabel. Berdasarkan hasil uji tersebut, instrumen final yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 20 pernyataan yang dinyatakan sahih dan layak digunakan untuk mengukur generasi unggul berdasarkan Daniel 6 di PGPI Kota Sorong. Analisis Data Analisis data dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian. Langkah pertama adalah mendeskripsikan data dari setiap variabel, dengan melihat nilai minimum, maksimum, rata-rata, median, modus, dan standar deviasi. Untuk data latar belakang responden, hasil disajikan dalam bentuk persentase atau diagram. Setelah itu, peneliti melakukan uji prasyarat, yaitu uji normalitas . elalui grafik P-P Plo. dan uji linearitas, untuk memastikan bahwa data dapat dianalisis lebih lanjut. Uji multikolinearitas tidak digunakan karena variabel dianggap saling berkaitan secara konsep dan teologis. Pengujian hipotesis dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, menggunakan Confidence Interval (CI) untuk melihat kecenderungan variabel. Kedua, menggunakan korelasi sederhana dan regresi linear untuk mengetahui hubungan antara variabel, dilengkapi dengan uji t, koefisien determinasi, dan model regresi (Y = a bX). Analisis ini juga diperkuat dengan metode CART untuk melihat pola lebih mendalam. Ketiga, dilakukan uji beda . -test atau ANOVA) untuk mengetahui perbedaan antar kelompok, dan hasilnya kembali diperdalam menggunakan CART guna melihat pola perbedaan yang lebih jelas. Dengan tahapan ini, peneliti dapat memastikan apakah variabel-variabel dalam penelitian memiliki hubungan dan pengaruh yang signifikan. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Data Penelitian ini melibatkan 190 responden dari jemaat gereja di bawah naungan PGPI Kota Sorong untuk mengukur tingkat generasi unggul berdasarkan empat indikator: keahlian, integritas, ketaatan spiritual, dan hidup yang berdampak. Secara umum, variabel generasi unggul menunjukkan hasil yang baik, dengan rata-rata skor sebesar 78,07 dari rentang skor 20Ae100. Mayoritas responden memiliki skor yang mendekati 80, yang menunjukkan bahwa sebagian besar jemaat berada pada kategori generasi yang cukup Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Pada indikator keahlian atau kecakapan, rata-rata skor responden adalah 20,05 dari rentang 5Ae25, yang menunjukkan bahwa jemaat memiliki kemampuan dan usaha dalam mengembangkan potensi diri. Indikator integritas juga menunjukkan hasil positif dengan rata-rata 20,35, yang menandakan kuatnya nilai kejujuran dan tanggung jawab dalam diri Untuk ketaatan spiritual, nilai rata-rata sebesar 19,23 menggambarkan bahwa sebagian besar responden memiliki kedisiplinan dalam doa, firman Tuhan, dan kehidupan Sementara itu, indikator hidup yang berdampak memperoleh rata-rata 18,45, yang menunjukkan bahwa jemaat cukup aktif mencerminkan iman dalam tindakan dan pengaruh positif terhadap lingkungan. Dari sisi latar belakang, pendidikan terakhir responden berada pada rata-rata kategori menengah (Mean 3,. , profesi didominasi oleh kategori pekerja atau mahasiswa (Mean 2,. , dan jenis kelamin mayoritas adalah perempuan (Mean 1,. Usia responden sebagian besar berada pada kelompok usia muda (Mean 2,. , dengan status sipil mayoritas belum menikah (Mean 1,. Selain itu, tingkat keterlibatan dalam pelayanan gereja cukup tinggi, dengan rata-rata 2,35 yang menunjukkan bahwa banyak jemaat aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan. Uji Persyaratan Analisis Sebelum melakukan pengujian hipotesis, peneliti terlebih dahulu melakukan uji persyaratan analisis yang terdiri dari uji normalitas dan uji linearitas. Hasil uji normalitas menggunakan Q-Q Plot dan Rumus Blom menunjukkan bahwa seluruh variabel utamaAi baik Generasi Unggul (Y). Keahlian (X. Integritas (X. Ketaatan Spiritual (X. , maupun Hidup yang Berdampak (X. Aimemiliki sebaran data yang mengikuti distribusi Grafik menunjukkan titik-titik data yang berada di sekitar garis diagonal dan tidak ditemukan pencilan . , sehingga data dinyatakan layak untuk dianalisis lebih Selanjutnya, uji linearitas dilakukan untuk melihat apakah hubungan antara masingmasing variabel X dengan Y bersifat linear. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun terdapat indikasi non-linearitas pada beberapa indikator, seperti Integritas (X. Ketaatan Spiritual (X. , dan Hidup yang Berdampak (X. , hubungan tersebut tetap berada dalam batas toleransi linear setelah diuji dengan estimasi kurva 11 model. Dengan kata lain, model linear masih dapat digunakan karena tetap menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik (Sig. < 0,. Oleh karena itu, seluruh variabel dinyatakan memenuhi syarat untuk dilanjutkan ke tahap analisis korelasi dan regresi. Uji Hipotesis Berdasarkan hasil analisis interval kepercayaan (Confidence Interva. pada taraf signifikansi 5%, variabel Generasi Unggul (Y) memiliki nilai rata-rata 78,07 dengan rentang kepercayaan antara 76,46 hingga 79,68, sehingga termasuk kategori AuSudahAy, artinya jemaat PGPI Kota Sorong sudah menunjukkan karakter generasi unggul. Pada indikator Keahlian atau Kecakapan (X. , diperoleh rata-rata 20,05 dengan batas bawah dan atas 19,73 hingga 20,38, juga berada pada kategori AuSudahAy, menandakan jemaat telah memiliki keterampilan yang baik. Selanjutnya, indikator Integritas (X. menunjukkan rata-rata 20,35 dengan rentang 19,96 hingga 20,74, sehingga termasuk kategori AuSudahAy, yang berarti jemaat telah Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . menunjukkan sikap jujur dan bertanggung jawab. Berbeda dengan itu, variabel Ketaatan Spiritual (X. memiliki rata-rata 19,23 dengan interval 18,70 hingga 19,75, masuk dalam kategori AuKadang-kadangAy, menunjukkan bahwa ketaatan rohani jemaat belum sepenuhnya konsisten. Hal serupa juga terlihat pada variabel Hidup yang Berdampak (X. dengan rata-rata 18,45 dan rentang 17,92 hingga 18,97, yang berada pada kategori AuKadang-kadangAy, menunjukkan bahwa pengaruh positif jemaat dalam kehidupan seharihari masih muncul secara tidak konsisten. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa jemaat PGPI Kota Sorong telah unggul dalam hal keahlian, integritas, dan karakter dasar, namun masih perlu peningkatan dalam hal ketaatan spiritual dan dampak kehidupan nyata. Hubungan X dengan Y Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh indikator X memiliki hubungan positif dan signifikan dengan Generasi Unggul (Y). Pertama. Keahlian atau Kecakapan (X. memiliki korelasi ry = 0,807 dan kontribusi sebesar 65,1% (RA = 0,. terhadap Generasi Unggul. Uji t sebesar 18,735 . < 0,. membuktikan hubungan yang sangat kuat, dengan persamaan regresi Y = -2,477 4,017X1. Artinya, semakin tinggi keahlian jemaat, semakin tinggi pula kualitas generasi unggul. Selanjutnya. Integritas (X. menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan ry = 0,931 dan kontribusi sebesar 86,7% (RA = 0,. Uji t 34,935 . < 0,. menegaskan bahwa integritas sangat menentukan terbentuknya generasi unggul, dengan persamaan Y = -5,412 6,500X2. Ini berarti peningkatan integritas secara langsung meningkatkan kualitas generasi. Indikator Ketaatan Spiritual (X. menjadi yang paling dominan dengan korelasi ry = 0,944 dan kontribusi 89,2% (RA = 0,. Nilai t 39,382 . < 0,. menunjukkan hubungan paling kuat, dengan persamaan Y = -43,175 4,917X3. Ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Tuhan adalah fondasi utama generasi unggul. Indikator Hidup yang Berdampak (X. juga memiliki hubungan kuat dengan ry = 0,906 dan kontribusi 82,1% (RA = 0,. Uji t 29,343 . < 0,. mendukung bahwa kehidupan yang memberi pengaruh positif turut membentuk generasi unggul, dengan persamaan Y = -50,725 4,715X4. Melalui analisis lanjutan CART (Classification and Regression Tree. , ditemukan bahwa X3 (Ketaatan Spiritua. adalah faktor paling dominan, diikuti oleh X1 (Keahlia. dan X2 (Integrita. Ini membuktikan bahwa semakin tinggi ketaatan, ditambah keahlian dan integritas, maka semakin kuat karakter generasi unggul dalam jemaat PGPI. Berdasarkan Pendidikan Terakhir Hasil analisis One Way ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat Generasi Unggul (Y) berdasarkan pendidikan terakhir responden, dengan nilai F = 7,599 dan Sig. < 0,001. Uji lanjut LSD mengungkap bahwa responden dengan pendidikan Diploma. S1, dan S2 memiliki skor generasi unggul yang jauh lebih tinggi dibandingkan lulusan SD. SMP, dan SMA. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin besar kecenderungan mereka memiliki karakter unggul, wawasan, dan tanggung jawab rohani. Eirene Jurnal Ilmiah Teologi Pada variabel Keahlian atau Kecakapan (X. , hasil ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan (F = 3,206. Sig. = 0,. Kelompok lulusan SMP memiliki tingkat keahlian yang lebih rendah secara signifikan dibanding SMA. Diploma, dan S1, sedangkan tidak terdapat perbedaan berarti antara lulusan S1 dan S2. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan pendidikan turut memperkuat kemampuan dan kecakapan individu. Selanjutnya, variabel Integritas (X. juga menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan pendidikan (F = 5,919. Sig. < 0,. Lulusan SMP dan SD memiliki integritas yang lebih rendah dibanding lulusan SMA. Diploma. S1, dan S2. Pendidikan tinggi tampaknya berperan dalam pembentukan moral, etika, dan kedewasaan rohani. Pada variabel Ketaatan Spiritual (X. , ditemukan perbedaan yang sangat kuat (F = 7,017. Sig. < 0,. Lulusan S1 dan S2 menunjukkan tingkat ketaatan yang jauh lebih tinggi dibanding lulusan SMP. SMA, dan Diploma, sementara lulusan SMP menjadi kelompok terendah. Ini mengindikasikan bahwa pendidikan yang lebih tinggi mendorong pertumbuhan iman dan ketaatan kepada Tuhan. Variabel Hidup yang Berdampak (X. juga berbeda secara signifikan (F = 5,573. Sig. < 0,. Kelompok SMP memiliki skor hidup berdampak paling rendah, sedangkan lulusan S2 menunjukkan pengaruh hidup yang paling tinggi. Secara keseluruhan, pendidikan terakhir berperan penting dalam membentuk generasi yang bukan hanya cakap dan berintegritas, tetapi juga taat secara rohani dan berdampak bagi lingkungan. Berdasarkan Profesi Hasil analisis menunjukkan bahwa profesi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Generasi Unggul (Y). Melalui uji ANOVA, diperoleh nilai F = 20,178 . < 0,. , yang artinya terdapat perbedaan yang nyata antara pelajar, mahasiswa, dan Uji lanjut LSD menunjukkan bahwa pekerja memiliki skor Generasi Unggul tertinggi, disusul oleh mahasiswa, sedangkan pelajar berada pada posisi terendah. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman dan tanggung jawab dalam dunia kerja mendukung terbentuknya karakter unggul. Pada variabel Keahlian atau Kecakapan (X. , hasil ANOVA menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai F = 11,935 . < 0,. Sama seperti sebelumnya, pekerja memiliki tingkat keahlian tertinggi, diikuti mahasiswa, dan pelajar menjadi kelompok Ini mengindikasikan bahwa keterlibatan aktif dalam dunia kerja meningkatkan kemampuan praktis dan kecakapan individu. Variabel Integritas (X. juga menunjukkan perbedaan yang kuat berdasarkan profesi, dengan nilai F = 18,168 . < 0,. Kelompok pekerja kembali menempati posisi tertinggi dalam integritas, diikuti mahasiswa, sementara pelajar menunjukkan integritas Temuan ini menegaskan bahwa semakin tinggi tanggung jawab yang diemban, semakin terbentuk pula kedewasaan moral dan etika. Selanjutnya, pada Ketaatan Spiritual (X. , terdapat perbedaan signifikan dengan nilai F = 18,743 . < 0,. Pekerja menunjukkan ketaatan spiritual tertinggi, disusul mahasiswa, dan pelajar pada tingkat terendah. Hal ini mencerminkan bahwa tantangan kehidupan nyata mendorong seseorang untuk lebih mengandalkan Tuhan dan bertumbuh secara rohani. Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . Untuk Hidup yang Berdampak (X. , hasil ANOVA menunjukkan nilai F = 14,158 . < 0,. , yang berarti terdapat perbedaan nyata. Pekerja memiliki kehidupan yang paling berdampak, diikuti mahasiswa, dan pelajar menjadi yang paling rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kematangan usia dan pengalaman pelayanan dalam dunia kerja menjadikan seseorang lebih mampu memberi pengaruh positif bagi lingkungan sekitar. Secara keseluruhan, profesi terbukti sangat berpengaruh terhadap seluruh variabel utama, menunjukkan bahwa kedewasaan, pengalaman, dan tanggung jawab hidup berperan besar dalam membentuk generasi unggul di lingkungan PGPI Kota Sorong. Berdasarkan Jenis Kelamin Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh variabel yang dikaji, baik Generasi Unggul (Y) maupun variabelvariabel pembentuknya (X1AeX. Berdasarkan uji Independent Samples T-Test yang diawali dengan pemeriksaan homogenitas varians melalui LeveneAos Test, seluruh data dinyatakan homogen. Pada variabel Generasi Unggul (Y), nilai signifikansi sebesar 0,689 menunjukkan tidak adanya perbedaan yang berarti antara laki-laki dan perempuan, dengan rata-rata skor yang hampir sama. Effect size yang sangat kecil (CohenAos d = 0,. memperkuat bahwa perbedaan tersebut tidak signifikan secara praktis. Hal yang sama ditemukan pada variabel Keahlian atau Kecakapan (X. , di mana nilai signifikansi 0,554 menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti antara laki-laki dan Rata-rata skor hanya berbeda 0,199 poin dengan effect size sangat kecil (CohenAos d = 0,. Pada variabel Integritas (X. , tidak ditemukan perbedaan signifikan dengan nilai signifikansi 0,890 dan selisih rata-rata yang sangat kecil . ,056 poi. , menunjukkan bahwa integritas tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin. Demikian pula pada variabel Ketaatan Spiritual (X. , nilai signifikansi 0,545 menunjukkan tidak adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan, dengan selisih rata-rata 0,331 poin dan effect size yang dapat diabaikan. Akhirnya, pada variabel Hidup yang Berdampak (X. , nilai signifikansi sebesar 0,950 mengonfirmasi bahwa baik lakilaki maupun perempuan memiliki tingkat pengaruh hidup yang hampir sama, dengan selisih rata-rata hanya 0,034 poin. Secara keseluruhan, hasil ini menegaskan bahwa jenis kelamin bukanlah faktor pembeda dalam pembentukan generasi unggul di lingkungan PGPI Kota Sorong. Baik laki-laki maupun perempuan menunjukkan potensi, integritas, spiritualitas, dan dampak hidup yang seimbang dalam konteks pelayanan dan pengembangan karakter rohani. Berdasarkan Usia Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh aspek Generasi Unggul, termasuk Keahlian (X. Integritas (X. Ketaatan Spiritual (X. , dan Hidup yang Berdampak (X. Melalui uji One Way ANOVA, ditemukan bahwa kelompok usia yang lebih dewasa secara konsisten menunjukkan skor yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia remaja . Ae20 tahu. Pertama, pada variabel Generasi Unggul (Y), nilai F = 6. 207 dengan Sig. < 0. menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok usia. Uji LSD mengungkap bahwa usia 26 tahun ke atas memiliki tingkat Generasi Unggul yang lebih tinggi secara Eirene Jurnal Ilmiah Teologi signifikan dibandingkan usia 12Ae20 tahun. Kelompok usia 12Ae20 tahun tercatat sebagai yang paling rendah, sedangkan usia >35 tahun memiliki skor tertinggi. Hal ini menegaskan bahwa kedewasaan usia membawa peningkatan dalam kualitas generasi unggul, baik dari segi sikap, tanggung jawab, maupun kedewasaan rohani. Pada variabel Keahlian atau Kecakapan (X. , usia juga menunjukkan pengaruh signifikan (F = 3. Sig. = 0. Usia 26Ae30 tahun dan 31Ae35 tahun memiliki keahlian lebih tinggi secara signifikan dibandingkan usia 12Ae20 tahun. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengalaman dan pertumbuhan usia berkontribusi pada peningkatan kemampuan dan keterampilan pribadi. Selanjutnya. Integritas (X. juga dipengaruhi oleh usia, dengan efek sedang (Etasquared = 0. Individu usia 26 tahun ke atasAiterutama >35 tahunAimemiliki integritas yang jauh lebih tinggi dibandingkan remaja 12Ae20 tahun. Ini menunjukkan bahwa kematangan usia disertai dengan berkembangnya tanggung jawab moral dan prinsip hidup yang lebih kuat. Pada Ketaatan Spiritual (X. , usia memberikan pengaruh yang signifikan dan kuat (Eta-squared = 0. Kelompok usia 26 tahun ke atas menunjukkan ketaatan rohani yang lebih tinggi secara signifikan dibandingkan kelompok usia 12Ae25 tahun, dengan usia >35 tahun sebagai yang paling taat. Hal ini menggambarkan bahwa perjalanan iman dan kedewasaan rohani semakin bertumbuh seiring bertambahnya usia. Pada variabel Hidup yang Berdampak (X. , ditemukan perbedaan signifikan (F = Sig. = 0. Usia dewasa, khususnya >35 tahun, menunjukkan kehidupan yang lebih berdampak dibandingkan usia remaja. Semakin bertambah usia, semakin besar kontribusi dan pengaruh yang diberikan individu terhadap lingkungan dan pelayanan. Secara keseluruhan, hasil penelitian menegaskan bahwa usia menjadi faktor penting dalam pembentukan Generasi Unggul. Kedewasaan usia membawa peningkatan nyata dalam kemampuan, integritas, ketaatan rohani, dan dampak hidup, yang merupakan ciri khas generasi unggul di lingkungan PGPI. Berdasarkan Status Sipil Hasil analisis menunjukkan bahwa status sipil tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap seluruh aspek Generasi Unggul, baik secara keseluruhan (Y) maupun pada setiap dimensi yang diteliti, yaitu Keahlian (X. Integritas (X. Ketaatan Spiritual (X. , dan Hidup yang Berdampak (X. Melalui uji ANOVA, seluruh nilai signifikansi berada di atas 0,05, yang menegaskan tidak adanya perbedaan berarti antara responden yang berstatus belum menikah, menikah, maupun janda. Pada variabel Generasi Unggul (Y), nilai F = 1,518 dengan Sig. = 0,222 menunjukkan bahwa tingkat generasi unggul relatif sama di semua status sipil. Uji LSD juga mengonfirmasi bahwa tidak ada perbedaan signifikan antar kelompok, sehingga status pernikahan tidak menentukan kualitas generasi unggul dalam konteks ini. Demikian pula pada Keahlian atau Kecakapan (X. , nilai F = 1,213 dan Sig. = 0,300 memperlihatkan bahwa keterampilan responden tidak dipengaruhi oleh status sipil. Baik yang belum menikah, menikah, maupun janda memiliki rata-rata kemampuan yang Manaroinsong at. al : Membangun Generasi . Pada aspek Integritas (X. , nilai F = 1,142 dan Sig. = 0,321 menunjukkan bahwa prinsip moral dan keteguhan karakter tidak berbeda secara signifikan antar kelompok Artinya, integritas tidak ditentukan oleh kondisi pernikahan seseorang. Selanjutnya. Ketaatan Spiritual (X. juga menunjukkan hasil serupa dengan nilai F = 1,463 dan Sig. = 0,234. Baik individu yang belum menikah, menikah, maupun janda memiliki tingkat ketaatan rohani yang relatif sama, tanpa perbedaan yang berarti. Untuk Hidup yang Berdampak (X. , nilai F = 1,385 dengan Sig. = 0,253 menegaskan bahwa kontribusi dan pengaruh hidup seseorang tidak dipengaruhi oleh status pernikahan. Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa status sipil bukanlah faktor penentu dalam pembentukan Generasi Unggul di lingkungan PGPI. Nilai, karakter, dan kedewasaan rohani tidak bergantung pada kondisi pernikahan, melainkan lebih pada komitmen pribadi dan pertumbuhan spiritual masing-masing individu. Keterlibatan dalam Pelayanan Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam pelayanan memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh aspek Generasi Unggul, baik secara keseluruhan (Y) maupun pada dimensi keahlian, integritas, ketaatan spiritual, dan hidup yang berdampak. Semakin aktif seseorang terlibat dalam pelayanan sebagai pelayan atau majelis jemaat, semakin tinggi pula kualitas generasi unggul yang dimilikinya dibandingkan anggota jemaat biasa. Pada variabel Generasi Unggul (Y), nilai F = 10,081 dan sig. < 0,001 menunjukkan perbedaan yang nyata. Anggota jemaat biasa memiliki skor paling rendah, sedangkan pelayan dan majelis jemaat menunjukkan kualitas yang lebih unggul. Kelompok yang aktif melayani menunjukkan komitmen dan pertumbuhan rohani yang lebih baik. Untuk Keahlian atau Kecakapan (X. , terdapat perbedaan signifikan (F = 5,994. Pelayan dan majelis jemaat memiliki tingkat kecakapan lebih tinggi dibanding anggota biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan memberi ruang bagi seseorang untuk mengembangkan kemampuan. Pada Integritas (X. , hasil ANOVA (F = 9,476. p < 0,. menunjukkan bahwa pelayan dan majelis memiliki integritas lebih tinggi dibanding anggota biasa. Pelayanan yang aktif menumbuhkan tanggung jawab, keteladanan, dan kedewasaan moral. Untuk Ketaatan Spiritual (X. , hasil analisis (F = 8,806. p < 0,. mengonfirmasi bahwa kelompok pelayan dan majelis memiliki tingkat ketaatan yang lebih tinggi. Anggota biasa memiliki tingkat ketaatan terendah, menunjukkan bahwa pelayanan turut membentuk disiplin rohani. Pada aspek Hidup yang Berdampak (X. , ditemukan perbedaan signifikan (F = 9,137. p < 0,. Pelayan dan majelis memiliki pengaruh hidup yang lebih besar secara rohani dan sosial dibanding anggota biasa. Aktif dalam pelayanan berdampak pada kualitas teladan dan kesaksian hidup. Analisis pohon keputusan mendukung temuan ini, menunjukkan bahwa profesi (X. dan keterlibatan dalam pelayanan (X. adalah faktor latar belakang paling dominan dalam membentuk generasi unggul. Pekerja yang aktif dalam pelayanan menunjukkan Eirene Jurnal Ilmiah Teologi skor tertinggi, sedangkan pelajar atau mahasiswa yang tidak terlibat pelayanan memiliki skor terendah. Dengan demikian, keterlibatan dalam pelayanan merupakan faktor latar belakang yang penting dalam membangun generasi unggul, karena pelayanan membentuk keahlian, karakter, kerohanian, dan pengaruh hidup seseorang. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, pengujian hipotesis, dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai Hasil analisis dengan interval kepercayaan 95% ( = 0,. , menunjukkan bahwa rata-rata kecenderungan Generasi Unggul berada dalam rentang 76,46 hingga 79,68. Karena nilai tersebut berada dalam kategori AoSudahAo, dapat disimpulkan bahwa jemaat secara signifikan telah tergolong sebagai Generasi Unggul. Indikator yang paling berpengaruh dalam membangun Generasi Unggul (Y) adalah Ketaatan Spiritual (X. Faktor latar belakang yang paling signifikan dalam membangun Generasi Unggul (Y) adalah Profesi (X. DAFTAR PUSTAKA