JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. April 2026 Page 596-606 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah INTEGRASI PENDIDIKAN ANTI-KORUPSI DALAM PEMBELAJARAN PAI: STUDI ANALISIS PERAN GURU SEBAGAI MOTIVATOR DAN EVALUATOR Yunus1. Endah Mawarny2. MaAofiyah3 1,2,3 Universitas Pamulang. Indonesia Email: dosen02687@unpam. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 27 January 2026 Final Revised: 11 February 2026 Accepted: 16 March 2026 Published: 30 April 2026 Keywords: Anti-Corruption Education Islamic Religious Education Teacher Role Motivator Evaluator ABSTRAK This study aims to analyze the integration of anti-corruption education into Islamic Religious Education (PAI) learning at SMP 4 Malangke. Luwu Regency, and explore the role of teachers as motivators and evaluators in building student character. This research is motivated by the widespread integrity crisis and the tendency for PAI learning to remain textual-ritualistic, so that serious efforts are needed to internalize the values of honesty . and trustworthiness into the school curriculum. This study uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques through observation, in-depth interviews, and documentation. The results show that PAI teachers at SMP 4 Malangke have made integration efforts through careful planning using the value infusion method into the Lesson Implementation Plan (RPP) and linking religious material with the local wisdom of the Luwu community. motivators, teachers have succeeded in raising students' intrinsic awareness through an exemplary approach . swatun hasana. and positive reinforcement. As evaluators, teachers apply authentic assessments based on behavioral observations to measure students' integrity in real terms. However, this study also identified several inhibiting factors, including the heavy administrative burden of assessments, biased student behavior at school, and the influence of an external environment that does not support integrity values. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi pendidikan anti-korupsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP 4 Malangke. Kabupaten Luwu, serta mengeksplorasi peran guru sebagai motivator dan evaluator dalam pembentukan karakter Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya krisis integritas dan adanya kecenderungan pembelajaran PAI yang masih bersifat tekstual-ritualistik, sehingga diperlukan upaya serius untuk menginternalisasikan nilai-nilai kejujuran . dan amanah ke dalam kurikulum sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru PAI di SMP 4 Malangke telah melakukan upaya integrasi melalui perencanaan yang matang dengan metode infusi nilai ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta mengaitkan materi agama dengan kearifan lokal masyarakat Luwu. Sebagai motivator, guru berhasil membangkitkan kesadaran intrinsik siswa melalui pendekatan keteladanan . swatun hasana. dan penguatan positif. Sebagai evaluator, guru menerapkan penilaian autentik berbasis observasi perilaku untuk mengukur integritas siswa secara nyata. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa faktor penghambat, antara lain beban administrasi penilaian yang berat, adanya bias perilaku siswa di sekolah, serta pengaruh lingkungan eksternal yang kurang mendukung nilai-nilai integritas. Kata kunci: Pendidikan Anti-Korupsi. Pendidikan Agama Islam. Peran Guru. Motivator. Evaluator Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator PENDAHULUAN Reformasi pendidikan merupakan respon terhadap perkembangan tuntutan global sebagai suatu upaya untuk mengadaptasikan sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia untuk memenuhi tuntutan jaman yang sedang Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan(Nurul Zuriah, 2011. Selvia, 2. Pendidikan merupakan pilar utama dalam pembentukan karakter bangsa, namun realitas sosiologis saat ini menunjukkan bahwa Indonesia masih terjebak dalam krisis integritas yang sistemik, di mana praktik korupsi telah merambah ke berbagai sendi Fenomena ini tidak hanya terjadi di ranah politik dan birokrasi, tetapi gejalanya mulai terlihat di lingkungan pendidikan melalui perilaku tidak jujur siswa, seperti menyontek, manipulasi kehadiran, hingga rendahnya rasa tanggung jawab terhadap aturan sekolah. Sebagai lembaga pendidikan umum di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Luwu. SMP 4 Malangke memiliki tanggung jawab besar untuk membentengi generasi muda dari mentalitas koruptif sejak dini. Pendidikan agama sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki tanggung jawab yang sama terhadap pencapaian dari tujuan pendidikan nasional. Pendidikan agama merupakan bagian pendidikan yang sangat penting yang berkenaan dengan aspek-aspek sikap dan nilai, antara lain akhlak, keagamaan dan sosial masyarakat. Agama memberikan motivasi hidup dalam kehidupan(Ibrahim & Yunus, 2021. Yunus, 2019, 2018. Oleh karena itu agama perlu diketahui, dipahami, diyakini dan diamalkan oleh manusia Indonesia agar dapat menjadi dasar kepribadian sehingga dapat menjadi manusia yang utuh. Agama mengatur hubungan manusia dengan Allah swt, manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan dirinya yang dapat menjamin keselarasan, keseimbangan dan keserasian dalam hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat dalam mencapai kebahagiaan lahiriah dan rohaniah(Yunus. Nurseha, 2020. Yunus, 2018. Sedangkan fungsi pendidikan menurut Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2003 adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Sejalan dengan hal tersebut dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 17 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Penyelenggaraan Pendidikan pada Pasal 17 Ayat . menyebutkan bahwa pendidikan dasar, termasuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) bertujuan membangun landasan bagi berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang . beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berakhlak mulia, dan berkepribadian luhur. berilmu, cakap, kritis, kreatif, dan inovatif. sehat, mandiri, dan percaya diri. toleran, peka sosial, demokratis, dan bertanggungjawab untuk mencapai fungsi dan tujuan pendidikan tersebut di atas peran pendidikan agama sangat diperlukan, tanpa kemudian menafikan peran dari pendidikan lainnya. Salah satu ruang lingkup pendidikan agama adalah pendidikan akhlak(Abdul Aziz Saleh et al. , 2018. Abdul Majid et al. , 2. Namun, masalah mendasar yang ditemukan di lapangan adalah pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sering kali masih terjebak pada dimensi kognitif dan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator formalitas ritual belaka. Materi PAI cenderung disampaikan secara tekstual tanpa adanya upaya serius untuk mengontekstualisasikan nilai-nilai agama dengan isu sosial seperti pemberantasan korupsi. Akibatnya, pemahaman agama siswa sering kali terpisah dari perilaku sosial mereka di sekolah. Urgensi integrasi pendidikan anti-korupsi dalam PAI di SMP 4 Malangke menjadi sangat krusial, mengingat nilai-nilai Islam seperti amanah . , shiddiq . , dan Aoadalah . merupakan fondasi teologis yang paling kuat untuk membangun kontrol internal dalam diri siswa. Fenomena melorotnya akhlak generasi bangsa, termasuk di dalamnya para elit bangsa, acapkali menjadi apologi bagi sebagian orang untuk memberikan kritik pedasnya terhadap institusi pendidikan. Hal tersebut teramat wajar karena pendidikan sesungguhnya memiliki misi yang amat mendasar yakni membentuk manusia utuh dengan akhlak mulia sebagai salah satu indikator utama, generasi bangsa dengan karatekter akhlak mulia merupakan salah satu profil yang diharapkan dari praktek pendidikan nasional. Guru merupakan pekerjan yang amat mulia, berhadapan dengan anak-anak manusia yang akan menentukan masa depan bangsa. Peran guru yang strategis, menuntut kerja guru yang profesional, dan mampu mengembangkan ragam potensi yang terpendam dalam diri peserta didik. Peran guru dalam melakukan peradaban lewat peserta didik yang akan menentukan masa depan. Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan Sementara peran sekolah . membantu orang tua dalam hal pengetahuan terutama kognitif dan memfasilitasi berkembangnya potensi individu untuk bisa melakukan aktualisasi diri. Karenanya guru dapat diposisikan sebagai pengganti orang tua di sekolah. Terdapat kesenjangan yang nyata antara idealisme kurikulum yang menginginkan penguatan karakter dengan implementasi praktis yang dilakukan oleh pendidik di SMP 4 Malangke. Banyak guru PAI yang masih mengalami kesulitan dalam merumuskan strategi integrasi nilai anti-korupsi ke dalam struktur materi tanpa mengaburkan esensi ajaran agama itu sendiri. Penelitian ini adalah pada upaya merumuskan model integrasi nilai anti-korupsi yang berbasis pada kearifan lokal dan budaya sekolah spesifik di SMP 4 Malangke, yang tidak hanya mengandalkan materi di dalam kelas, tetapi juga melalui penciptaan ekosistem sekolah yang berintegritas. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perencanaan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran PAI bermuatan anti-korupsi, mendeskripsikan proses internalisasi nilai-nilai tersebut melalui metode pembelajaran aktif, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi oleh SMP 4 Malangke dalam mewujudkan generasi yang religius sekaligus berintegritas tinggi. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dalam pengumpulan data melalui wawancara mendalam dilakukan dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka dengan informan yakni 1 kepala sekolah, 5 guru, 10 peserta didik, 3 orang tua dan 3 alumni yang diperkirakan menguasai dan memahami data, informasi, ataupun fakta dari objek penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah Dalam melakukan pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam, guru biasanya melakukan persiapan dan pengelolaan untuk menyukseskan pembelajaran mata Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator pelajaran pendidikan agama Islam tersebut. Kondisi yang terjadi di SMP Negeri 4 Malangke, dapat diperinci sebagai: Dalam hal persiapan mengajar dan orientasi tujuan pembelajaran yaitu selalu melakukan persiapan sebelum melakukan pembelajaran dan juga mengemukakan tujuan pembelajaran dari pembelajaran yang dilakukan pada waktu itu, agar peserta didik mengerti dan bisa menyerap materi dengan sempurna. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum mengajar, persiapan di sini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif, termasuk meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran dengan silabus mempunyai perbedaan, meskipun dalam hal tertentu mempunyai persamaan. Silabus memuat hal-hal yang perlu dilakukan peserta didik untuk menuntaskan suatu kompetensi secara utuh, artinya di dalam suatu silabus adakalanya beberapa kompetensi yang sejalan akan disatukan sehingga perkiraan waktunya belum tahu pasti berapa pertemuan yang akan dilakukan(Daulay, 2. Sementara itu. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran adalah penggalan-penggalan kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru untuk setiap pertemuan. dalamnya harus terlihat tindakan apa yang perlu dilakukan oleh guru untuk mencapai ketuntasan kompetensi serta tindakan selanjutnya setelah pertemuan selesai . Dalam hal penggunaan metode, pembelajaran PAI yang ada di SMP Negeri 4 Malangke dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu metode. Hal ini mestinya guru tersebut menggunakan banyak metode pembelajaran. Dalam menentukan metode pendidikan yang dipakai, maka diperlukan sebuah pijakan. Untuk menentukan apakah metode pendidikan itu baik, maka diperlukan prinsip-prinsip tertentu. Maka jelaslah, bahwa bagaimanapun baiknya, peranan guru sangatlah mutlak Metode yang baik tidak akan mampu untuk mencapai tujuan, bila gurunya tidak baik pribadinya, dan sebaliknya(Nasution, 2011. Sanjani, 2. Dalam menentukan metode pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 4 Malangke sudah mulai mempertimbangkan persyaratan memakai metode dan hal-hal yang masih diperhatikan dalam pemakaian dan penentuan metode pembelajaran. Dalam hal penyediaan materi pelajaran, guru mulai melakukan inovasi dalam penyediaan materi pembelajaran, misalnya dengan membuat materi sendiri dan mencatatkannya. Maka dari itu, guru harus kreatif dengan mengusahakan materi PAI dari sumbernya secara Karena unsur materi merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu proses Pembelajaran tidak akan dapat berlangsung tanpa adanya materi. Dalam hal penggunaan media pembelajaran, guru PAI di SMP Negeri 4 Malangke hanya memakai media pembelajaran yang berupa papan tulis atau berupa alat pembelajaran yang kurang menarik motivasi peserta didik untuk belajar lebih giat. Mestinya pembelajaran PAI di SMP Negeri 4 Malangke juga menggunakan media pembelajaran lainnya. Karena Pembelajaran yang baik harus dilaksanakan dengan menggunakan media pembelajaran Tanpa menggunakan media, maka pembelajaran tidak akan berhasil sepenuhnya. Meskipun demikian kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa biasanya seorang guru atau pendidik lebih memilih menggunakan satu media dalam pembelajarannya setiap hari dengan berbagai alasan, antara lain: ia sudah merasa akrab dengan media tersebut, ia merasa bahwa media yang dipilihnya dapat menggambarkan dengan lebih baik daripada dirinya sendiri, atau media yang dipilihnya dapat menarik minat dan perhatian peserta didik(Tambunan. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator Padahal pada kenyataannya alasan-alasan di atas hanyalah merupakan alasan menurut pemikiran guru saja atau pemikiran dari satu pihak. Sedangkan peserta didik mungkin sudah merasa bosan dengan media yang digunakan atau media yang digunakan kurang tepat dan terlalu monoton. Seorang guru harus mampu memilih dan menggunakan media yang tepat dalam pembelajaran. Demikian juga dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam yang terjadi di SMP, seorang guru harus dengan tepat mampu memilih media yang digunakan untuk pembelajaran tersebut(Hikmawati, 2. Dalam pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMP, hampir semua media yang digunakan akan sesuai jika dipilih berdasarkan kriteria yang ditetapkan. Jika tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, maka penggunaan media pembelajaran akan memakan banyak dana tanpa keberhasilan yang diinginkan. Jadi pada intinya, guru harus melakukan pembelajaran pendidikan agama Islam di SMP dengan bantuan media pembelajaran, agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien dan juga cepat serta . Pengadaan evaluasi pembelajaran. Evaluasi pembelajaran yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malangke kelas VII dalam mata pelajaran dilaksanakan per KD, melalui evaluasi tulis, evaluasi lisan dan praktek. Pengadaan evaluasi pembelajaran ini hukumnya wajib atau harus dilakukan, tanpa evaluasi pembelajaran, maka keberhasilan pembelajaran PAI tidak dapat diketahui. Jadi, pembelajaran pendidikan agama Islam yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Malangke kurang efektif. Sehingga pembelajaran tersebut hendaknya lebih ditingkatkan lagi, agar mutu pendidikan di institusi tersebut khususnya, dan mutu pendidikan Nasional umumnya, meningkat. Upaya Guru perencanaan integrasi pendidikan anti-korupsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) Guru memberi penguatan pendidikan agama dalam pelajaran, yakni dengan melalui pemberian informasi dan sumber-sumber yang kaitannya dengan akhlak, serta melalui pemberian tugas-tugas pelajaran yang bertujuan untuk melatih tanggung jawab peserta didik. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP 4 Malangke, ditemukan bahwa perencanaan integrasi pendidikan anti-korupsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dilakukan melalui teknik infusi nilai, di mana guru menyisipkan materi kejujuran dan amanah ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang relevan. Dalam proses pelaksanaannya, guru PAI tidak hanya menyampaikan teori di dalam kelas, tetapi juga menerapkan metode diskusi kasus dan keteladanan langsung, seperti mencontohkan kedisiplinan waktu serta kejujuran dalam pelaksanaan ujian sebagai bentuk perlawanan terhadap korupsi akademik. Data di lapangan juga menunjukkan bahwa SMP 4 Malangke telah berupaya menciptakan ekosistem sekolah yang berintegritas melalui pembiasaan perilaku jujur dan pengawasan yang berbasis pada nilai-nilai religius. Meskipun demikian, penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor penghambat, seperti kuatnya pengaruh lingkungan luar sekolah yang terkadang menormalisasi perilaku tidak jujur serta keterbatasan media pembelajaran yang secara spesifik memvisualisasikan dampak korupsi dalam perspektif Islam. Namun, dukungan penuh dari kepala sekolah dan karakter masyarakat Luwu yang menjunjung tinggi nilai moral menjadi faktor pendukung utama yang memperkuat keberhasilan internalisasi nilai-nilai tersebut kepada siswa. Upaya guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP 4 Malangke dalam merencanakan integrasi pendidikan anti-korupsi dimulai dengan rekonstruksi paradigma bahwa ajaran Islam tidak boleh dipisahkan dari etika sosial dan integritas publik. Guru menyadari bahwa Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator perencanaan yang matang adalah fondasi utama, sehingga langkah awal yang dilakukan adalah melakukan analisis mendalam terhadap Kurikulum Merdeka dan standar kompetensi yang ada untuk menemukan titik temu antara materi agama dan nilai-nilai antikorupsi. Dalam dokumen Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), guru secara eksplisit menyisipkan indikator karakter seperti kejujuran . , tanggung jawab . , dan keadilan (Aoadala. ke dalam topik-topik bahasan seperti sejarah Nabi Muhammad SAW, hukum muamalah, hingga konsep hari akhir sebagai pengingat akan pertanggungjawaban amal perbuatan. Dalam tahapan perencanaan, guru di SMP 4 Malangke juga merancang strategi instruksional yang tidak lagi bersifat searah atau sekadar ceramah, melainkan berbasis pada pemecahan masalah . ase-based learnin. Guru menyusun skenario pembelajaran yang menghadapkan siswa pada dilema moral nyata yang sering terjadi di lingkungan Kabupaten Luwu, seperti praktik suap kecil-kecilan atau ketidakjujuran dalam berdagang, kemudian mengaitkannya dengan dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadis. Perencanaan ini juga mencakup pengembangan media pembelajaran yang kreatif, di mana guru merancang penggunaan video pendek dan infografis tentang dampak buruk korupsi bagi umat, sehingga pesan moral yang disampaikan menjadi lebih visual dan mudah dicerna oleh siswa usia remaja. Selain aspek materi, perencanaan guru PAI di sekolah ini juga menyentuh aspek evaluasi yang lebih komprehensif. Guru tidak hanya merencanakan tes tertulis untuk mengukur pemahaman kognitif siswa, tetapi juga merancang instrumen penilaian autentik berupa lembar observasi perilaku harian dan jurnal refleksi diri. Dalam instrumen tersebut, guru menetapkan kriteria penilaian yang menitikberatkan pada konsistensi siswa dalam berperilaku jujur, seperti tidak menyontek saat ujian dan tepat waktu dalam mengumpulkan Hal ini dilakukan agar siswa memahami bahwa keberhasilan dalam pelajaran PAI tidak hanya diukur dari angka di atas kertas, melainkan dari integritas karakter yang mereka tunjukkan di lingkungan sekolah. Lebih jauh lagi, upaya perencanaan ini melibatkan sinergi dengan kearifan lokal masyarakat Luwu yang dikenal memiliki nilai-nilai luhur terkait kehormatan dan kejujuran. Guru PAI merencanakan integrasi nilai Lempu . ke dalam materi akhlak, sehingga pendidikan anti-korupsi di SMP 4 Malangke memiliki ikatan emosional dan kultural yang kuat dengan kehidupan siswa. Guru juga merancang kolaborasi lintas sektoral di sekolah, termasuk merencanakan program kantin kejujuran dan kampanye sekolah berintegritas bersama kepala sekolah. Dengan perencanaan yang holistik dan kontekstual ini, guru PAI di SMP 4 Malangke berupaya menciptakan cetak biru pendidikan yang mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga memiliki imunitas moral yang tinggi terhadap segala bentuk praktik korupsi di masa depan. Peran Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai Motivator Dalam konteks SMP 4 Malangke, peran guru PAI sebagai motivator dimulai dengan perencanaan pembelajaran yang tidak lagi menempatkan siswa sebagai objek pasif, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi moral untuk dikembangkan. Guru merancang strategi motivasi melalui pendekatan prophetic leadership . epemimpinan kenabia. , di mana tujuan utama perencanaan bukan sekadar transfer informasi mengenai bahaya korupsi, melainkan upaya membangkitkan ghirah atau semangat religius siswa untuk bangga menjadi pribadi yang jujur. Guru menyusun rencana komunikasi yang inspiratif, menggunakan kisah-kisah keteladanan sahabat Nabi dan tokoh-tokoh bangsa yang berintegritas, guna menyentuh aspek emosional siswa sehingga mereka merasa bahwa menjauhi korupsi adalah bentuk kemuliaan diri ( Aoizzah ) di hadapan Allah dan manusia. Sebagai motivator, guru PAI di SMP 4 Malangke Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator merencanakan penggunaan teknik positive reinforcement atau penguatan positif dalam struktur pembelajarannya. Dalam RPP yang disusun, guru merancang sistem apresiasi bagi siswa yang berani menunjukkan kejujuran dalam situasi sulit, seperti mengakui kesalahan atau mengembalikan barang yang bukan haknya. Perencanaan ini bertujuan untuk menggeser motivasi siswa yang awalnya bersifat ekstrinsik . akut pada hukuman atau nilai buru. menjadi motivasi intrinsik . ngin meraih rida Allah dan ketenangan bati. Guru meyakini bahwa dengan memberikan motivasi yang tepat, nilai-nilai anti-korupsi tidak akan dirasakan sebagai beban aturan yang mengekang, melainkan sebagai gaya hidup yang membanggakan bagi seorang muslim sejati. Lebih jauh lagi, upaya guru sebagai motivator mencakup perencanaan dialog interaktif yang membangun optimisme siswa terhadap masa depan bangsa yang bersih. Di tengah maraknya berita korupsi yang melemahkan semangat, guru PAI merencanakan sesi refleksi di kelas yang fokus pada "harapan". Guru memotivasi siswa SMP 4 Malangke untuk melihat diri mereka sebagai agen perubahan . gent of chang. yang mampu memutus mata rantai korupsi mulai dari hal-hal kecil di lingkungan sekolah. Dengan menanamkan visi bahwa kejujuran adalah kunci kesuksesan dunia dan akhirat, guru PAI berhasil mengubah persepsi siswa sehingga mereka memiliki daya dorong yang kuat untuk menolak perilaku curang, meskipun tanpa pengawasan guru sekalipun. Guru PAI merencanakan perannya sebagai motivator melalui keteladanan yang konsisten atau motivation by example. Guru memahami bahwa kata-kata motivasi hanya akan efektif jika didukung oleh perilaku nyata, sehingga dalam perencanaannya, guru menetapkan standar integritas pribadi yang tinggi, seperti keterbukaan dalam penilaian dan transparansi dalam pengelolaan kegiatan keagamaan sekolah. Dengan menjadi "motivator hidup", guru PAI di SMP 4 Malangke menciptakan lingkungan belajar yang penuh energi positif, di mana kejujuran menjadi identitas kolektif yang dijunjung tinggi oleh seluruh siswa di bawah bimbingan guru yang inspiratif. Peran Guru PAI sebagai Evaluator dalam Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam sistem pendidikan di SMP 4 Malangke, peran guru PAI sebagai evaluator memegang posisi sentral dalam memastikan bahwa pendidikan anti-korupsi tidak berhenti pada level hafalan teori semata. Guru merancang sistem evaluasi yang bersifat holistik, di mana penilaian tidak hanya bertumpu pada aspek kognitif melalui ujian tulis, tetapi juga mencakup aspek afektif dan psikomotorik yang mencerminkan integritas siswa. Guru memahami bahwa keberhasilan pendidikan agama diukur dari transformasi akhlak. oleh karena itu, dalam perencanaannya, guru menyusun instrumen penilaian autentik yang mampu merekam kejujuran siswa dalam situasi harian, seperti saat melaksanakan ujian tanpa pengawasan ketat atau dalam melaporkan temuan barang yang bukan miliknya. Sebagai evaluator, guru PAI di SMP 4 Malangke menerapkan teknik penilaian berbasis observasi dan penilaian sejawat . eer-assessmen. Guru menciptakan lembar pantauan karakter yang melibatkan interaksi antarsiswa untuk saling menilai kejujuran dan kedisiplinan temannya secara objektif. Hal ini dilakukan untuk menciptakan kontrol sosial di lingkungan sekolah sekaligus melatih keberanian siswa dalam menyuarakan kebenaran . nti-korups. Evaluasi ini tidak bertujuan untuk mencari kesalahan, melainkan sebagai alat diagnosa bagi guru untuk mengetahui sejauh mana nilai-nilai amanah dan shiddiq telah mendarah daging dalam diri siswa, sehingga guru dapat memberikan tindak lanjut atau bimbingan yang tepat bagi mereka yang masih menunjukkan perilaku menyimpang. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator Selain itu, guru PAI bertindak sebagai evaluator yang reflektif dengan melibatkan siswa dalam proses penilaian diri . elf-evaluatio. Melalui jurnal refleksi harian, siswa diminta untuk menilai sejauh mana mereka telah mampu bersikap jujur terhadap diri sendiri. Tuhan, dan sesama dalam satu pekan terakhir. Guru kemudian memberikan umpan balik . yang bersifat membangun, bukan sekadar vonis angka. Dengan cara ini, evaluasi berfungsi sebagai media edukasi yang menyadarkan siswa bahwa setiap tindakan mereka senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT (Muraqaba. , yang pada akhirnya membentuk mekanisme kontrol internal yang kuat dalam diri setiap siswa di SMP 4 Malangke. Terakhir, peran guru PAI sebagai evaluator juga mencakup evaluasi terhadap efektivitas metode pembelajaran yang telah diterapkan. Guru secara berkala meninjau kembali apakah strategi integrasi anti-korupsi yang dijalankan sudah relevan dengan perkembangan karakter siswa di lapangan. Dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap proses dan hasil, guru PAI di SMP 4 Malangke memastikan bahwa pendidikan anti-korupsi tetap berada pada jalurnya dan terus berkembang secara dinamis. Peran ini menegaskan bahwa guru bukan sekadar penilai hasil akhir, melainkan penjaga gawang integritas yang memastikan bahwa standar moral tinggi tetap terjaga di lingkungan institusi pendidikan. Faktor-Faktor Penghambat Guru PAI dalam Penilaian Karakter Anti-Korupsi Terdapat berbagai faktor penghambat dalam peningkatan efektifitas pembelajaran PAI antara lain kesulitan penyediaan materi pembelajaran dan situasi yang kurang mendukung untuk melakukan pembelajaran. Faktor pertama yaitu penyediaan bahan pelajaran tidak dapat memenuhi target, yaitu mencakup seluruh peserta didik. Hanya sebagian saja yang bisa memenuhi target mempunyai bahan pembelajaran dengan lengkap, karena hanya sebagian peserta didik yang mampu. Hal ini memang merupakan faktor yang menghambat, namun ini bukan faktor yang sulit untuk Asal ada kemauan dari guru dan murid, maka faktor ini dapat segera diatasi. Caranya adalah dengan menggalakkan sistem tabungan, yang hasil tabungan tersebut dimanfaatkan untuk membeli perlengkapan pembelajaran termasuk materi pembelajaran. Bagi peserta didik atau murid yang kurang mampu dicarikan beapeserta didik atau diberi sumbangan oleh teman-temannya atau bahkan gurunya sendiri. Faktor penghambat lainnya adalah situasi yang kurang mendukung ketika melakukan Hal tersebut biasanya dikarenakan adanya kelas sebelah yang kosong atau tidak diajar, sehingga mengganggu kenyamanan kegiatan pembelajaran yang berlangsung di kelas sebelahnya. Faktor yang ini dapat diatasi dengan cara mengaktifkan piket guru. Guru piket wajib memeriksa dan mengelola kelas yang tidak ada gurunya atau ditinggal oleh Jadi guru piket tidak hanya bertugas menyampaikan tugas yang diberikan oleh guru yang bersangkutan, namun juga mengelola supaya pengerjaan tugas tersebut efektif dan tidak Pelaksanaan penilaian karakter anti-korupsi di SMP 4 Malangke tidak terlepas dari berbagai hambatan kompleks yang sering kali membatasi efektivitas guru PAI dalam mengukur integritas siswa secara akurat. Salah satu faktor penghambat utama adalah subjektivitas dan bias penilaian. guru sering kali kesulitan membedakan antara perilaku jujur yang murni muncul dari kesadaran intrinsik siswa dengan perilaku yang hanya ditunjukkan secara formalistik di depan guru demi mendapatkan nilai baik. Fenomena "kamuflase perilaku" ini menjadi tantangan besar, karena karakter anti-korupsi bersifat batiniah dan sulit diukur hanya melalui pengamatan sekilas dalam durasi jam pelajaran yang terbatas. Selanjutnya, keterbatasan instrumen penilaian dan beban administrasi menjadi kendala teknis yang signifikan bagi guru PAI. Banyak guru merasa bahwa format penilaian Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator karakter yang ada saat ini terlalu rumit dan memakan waktu, sehingga fokus mereka sering kali terpecah antara tugas mengajar secara substansial dengan kewajiban mengisi instrumen evaluasi yang sangat detail untuk setiap siswa. Hal ini diperparah dengan jumlah siswa yang cukup banyak di SMP 4 Malangke, yang membuat observasi mendalam secara individual menjadi kurang maksimal. Akibatnya, penilaian karakter terkadang dilakukan secara generalisasi atau sekadar memenuhi tuntutan administratif tanpa menggambarkan kondisi moral siswa yang sebenarnya. Faktor penghambat lainnya berasal dari intervensi lingkungan dan pengaruh eksternal yang kontradiktif dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah. Guru PAI sering menghadapi situasi dilematis di mana nilai-nilai kejujuran yang dinilai tinggi di sekolah justru terlihat tidak relevan atau bahkan merugikan bagi siswa ketika mereka berada di lingkungan rumah atau pergaulan masyarakat yang masih permisif terhadap perilaku koruptif. Ketidaksinkronan antara standar penilaian sekolah dengan realitas sosial ini menciptakan standar ganda dalam diri siswa, yang pada gilirannya menyulitkan guru untuk melakukan penilaian karakter yang konsisten dan berkelanjutan. Terakhir, kurangnya sarana pendukung dan pelatihan khusus mengenai metodologi penilaian karakter anti-korupsi menjadi hambatan dari sisi kompetensi guru. Sebagian guru PAI di SMP 4 Malangke mungkin masih merasa canggung atau kurang memiliki panduan teknis yang aplikatif untuk menilai aspek-aspek halus dari perilaku koruptif, seperti plagiarisme digital atau manipulasi tugas kelompok. Tanpa adanya sistem pendukung yang kuat dari ekosistem sekolah dan sinergi yang matang dengan orang tua, upaya guru sebagai evaluator karakter akan tetap menghadapi jalan terjal, di mana angka di rapor sering kali gagal merefleksikan kualitas integritas siswa yang sesungguhnya. KESIMPULAN Implementasi pendidikan anti-korupsi dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMP 4 Malangke merupakan upaya strategis yang menempatkan guru tidak hanya sebagai pengajar materi religius, tetapi juga sebagai arsitek karakter bangsa. Melalui fungsi perencanaan, guru telah berhasil menyinergikan nilai-nilai teologis Islam dengan nilai integritas melalui teknik infusi kurikulum dan pemanfaatan kearifan lokal masyarakat Luwu. Keberhasilan ini semakin diperkuat oleh peran guru sebagai motivator yang mampu membangkitkan kesadaran intrinsik siswa untuk menjunjung tinggi kejujuran sebagai bentuk ketaatan kepada Tuhan, serta peran sebagai evaluator yang berupaya memantau transformasi akhlak siswa melalui penilaian autentik yang lebih bermakna daripada sekadar angka Namun demikian, efektivitas program ini masih menghadapi tantangan nyata berupa faktor penghambat yang bersifat sistemik dan situasional. Beban administratif yang tinggi dalam melakukan penilaian karakter, adanya "kamuflase perilaku" siswa di sekolah, serta kontradiksi nilai di lingkungan luar sekolah menjadi hambatan utama yang dapat mengaburkan akurasi evaluasi integritas. Tanpa adanya sinkronisasi antara pendidikan di sekolah dengan keteladanan di lingkungan keluarga dan masyarakat, nilai-nilai anti-korupsi yang ditanamkan guru PAI berisiko hanya menjadi pengetahuan teoritis tanpa dampak praktis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, keberhasilan integrasi pendidikan anti-korupsi di SMP 4 Malangke sangat bergantung pada penguatan sinergi antara peran guru yang inspiratif, instrumen penilaian yang aplikatif, dan dukungan ekosistem sekolah yang konsisten. Diperlukan upaya berkelanjutan untuk menyederhanakan administrasi penilaian karakter agar guru dapat lebih fokus pada pendampingan moral secara personal. Dengan demikian, pembelajaran PAI dapat benar-benar menjadi instrumen transformasi sosial yang mampu Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Integrasi Pendidikan Anti-Korupsi Dalam Pembelajaran Pai: Studi Analisis Peran Guru Sebagai Motivator Dan Evaluator melahirkan generasi muda di Kabupaten Luwu yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki imunitas moral yang kuat dalam melawan segala bentuk praktik korupsi. REFERENSI