(Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kriste. Vol. No. Desember 2025 . e-ISSN 2614-3135 p-ISSN 2615-739X https://w. id/e-journal/index. php/kurios Formasi karakter sebagai praksis pemulihan: Model pembinaan Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual Imelda Ch. Poceratu1. Herly J. Lesilolo2. Febby N. Patty3 1Universitas Pattimura. Ambon 2,3Institut Agama Kristen Negeri Ambon Correspondence: imelpoce@gmail. DOI: https://doi. 30995/kur. Article History Submitted: April 03, 2025 Reviewed: Nov. 12, 2025 Accepted: Dec. 30, 2025 Keywords: character formation. Christian education. ecclesial community. recovery praxis. sexual violence survivors. trauma theology. formasi karakter. komunitas eklesial. pendidikan Kristiani. praksis pemulihan. penyintas kekerasan teologi trauma Copyright: A2025. Authors. License: Abstract: Child sexual violence remains a pervasive global crisis that inflicts profound trauma on its survivors. Christian educational institutions have generally responded through either purely psychological interventions or moralistic-imperative approaches, both of which leave a significant theological deficit. This article aims to construct a distinctively Christian model of character formation for child survivors of sexual violence, grounded in the praxis of recovery. Employing a constructive-theological method with pastoral-hermeneutical analysis, this study engages the works of Hauerwas. Jones. Moltmann. Volf, and Rambo to develop an integrative framework. The article argues that authentic character formation for survivors must proceed through four interconnected dimensions: a pastoral-theological understanding of trauma, a Christomorphic reconceptualization of virtue, a narrative-embodied recovery praxis, and an ecclesial community as a therapeutic-restorative space. This framework offers a transformative alternative that honors both the survivorAos wound and their teleological calling toward wholeness in Christ. Abstrak: Kekerasan seksual terhadap anak merupakan krisis global yang menimbulkan trauma mendalam bagi para penyintasnya. Institusi pendidikan Kristiani umumnya merespons melalui intervensi psikologis murni atau pendekatan moralistik-imperatif, yang keduanya menyisakan defisit teologis signifikan. Artikel ini bertujuan mengonstruksi model pembinaan karakter yang khas Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual, yang berakar pada praksis pemulihan. Menggunakan metode teologis-konstruktif dengan analisis pastoral-hermeneutis, studi ini mendialogkan karya Hauerwas. Jones. Moltmann. Volf, dan Rambo untuk mengembangkan kerangka integratif. Artikel ini berargumen bahwa formasi karakter yang autentik bagi penyintas harus bergerak melalui empat dimensi yang saling terhubung: pemahaman pastoral-teologis tentang trauma, rekonseptualisasi kebajikan yang kristomorfis, praksis pemulihan naratif-embodied, dan komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif. Kerangka ini menawarkan alternatif transformatif yang menghormati luka penyintas sekaligus panggilan teleologis mereka menuju keutuhan dalam Kristus. Pendahuluan Kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu bentuk pelanggaran kemanusiaan yang paling destruktif, namun paradoksnya juga paling tersembunyi dalam realitas sosial Data World Health Organization menunjukkan bahwa satu dari lima anak perem- KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 931 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA puan dan satu dari tiga belas anak laki-laki mengalami bentuk kekerasan seksual sebelum mencapai usia delapan belas tahun. 1 Angka ini, yang kemungkinan besar masih jauh di bawah realitas sesungguhnya karena tingginya underreporting, menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap anak bukan fenomena marginal, melainkan krisis sistemik yang menembus setiap lapisan masyarakat, termasuk komunitas-komunitas keagamaan. Di Indonesia, berbagai survei dan laporan lembaga perlindungan anak secara konsisten menunjukkan bahwa angka kekerasan seksual terhadap anak menempati posisi yang mengkhawatirkan, dengan konteks sosial-kultural yang kerap memperburuk dampaknya melalui stigmatisasi terhadap korban dan budaya diam yang melindungi pelaku. Dampak kekerasan seksual terhadap anak melampaui cedera fisik dan menyentuh dimensi paling fundamental dari keberadaan manusia. Judith Herman dalam karyanya, menunjukkan bahwa trauma seksual pada anak menghancurkan tiga fondasi psikologis yang paling mendasar: rasa aman . , kapasitas untuk berelasi . , dan pengalaman akan makna . 2 Bessel van der Kolk memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa trauma seksual pada anak tertanam dalam tubuh dan sistem saraf, mengubah secara fundamental cara anak mengalami diri sendiri, orang lain, dan dunia. 3 Dampak yang sedemikian mendalam ini menuntut respons yang juga mendalam, yang tidak bisa dipenuhi oleh intervensi teknis semata, melainkan memerlukan kerangka pemahaman yang mampu menyentuh dimensi ontologis, relasional, dan spiritual dari keberadaan manusia. Dalam konteks ini, pendidikan Kristiani dan komunitas iman seharusnya memiliki posisi yang unik dan signifikan dalam mendampingi anak-anak penyintas kekerasan seksual. Tradisi Kristiani memiliki sumber daya teologis yang sangat kaya untuk memahami penderitaan, pemulihan, dan formasi karakter manusia. Pamela Cooper-White menunjukkan bahwa teologi Kristiani menyediakan bahasa dan kerangka simbolik yang mampu menjangkau kedalaman pengalaman trauma dengan cara yang tidak tersedia dalam pendekatan sekuler murni. Namun ironisnya, respons aktual komunitas Kristiani terhadap anak penyintas kekerasan seksual masih jauh dari potensi ini. Terlalu sering, gereja dan institusi pendidikan Kristiani merespons kekerasan seksual terhadap anak dengan campuran ketidaksiapan, penyangkalan, moralisasi yang tidak sensitif, atau sekadar mendelegasikan sepenuhnya kepada profesional psikologi tanpa integrasi teologis yang bermakna. Serene Jones, dalam karyanya tentang trauma dan anugerah, mengidentifikasi bahwa teologi Kristiani secara historis belum mengembangkan kerangka yang memadai untuk menjembatani pengalaman traumatis dengan proses formasi iman dan karakter. 5 Shelly Rambo memperkuat argumen ini dengan menunjukkan bahwa teologi Kristiani tradisional cenderung bergerak terlalu cepat dari salib ke kebangkitan , dari penderitaan ke kemenangan, tanpa memberikan ruang yang cukup bagi pengalaman Audi antaraAy . he middl. yang justru merupakan realitas eksistensial yang paling nyata bagi para penyintas trauma. 6 Kecenderungan teoloWorld Health Organization. Global Status Report on Violence Against Children (Geneva: WHO, 2. , 12Ae14. Judith Lewis Herman. Trauma and Recovery: The Aftermath of Violence, rev. (New York: Basic Books, 2. , 96Ae98. 3 Bessel van der Kolk. The Body Keeps the Score: Brain. Mind, and Body in the Healing of Trauma (New York: Penguin Books, 2. , 136Ae138. 4 Pamela Cooper-White. The Cry of Tamar: Violence against Women and the ChurchAos Response, 2nd ed. (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 43Ae45. 5 Serene Jones. Trauma and Grace: Theology in a Ruptured World, 2nd ed. (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 18Ae20. 6 Shelly Rambo. Spirit and Trauma: A Theology of Remaining (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 27Ae29. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 932 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 gis ini memiliki konsekuensi pastoral yang serius: ketika pendidikan Kristiani menawarkan narasi kemenangan yang terlalu cepat tanpa menghormati proses pemulihan yang panjang dan berliku, ia justru berpotensi menambah beban penderitaan penyintas dengan rasa bersalah karena merasa belum cukup beriman untuk Aodipulihkan. Ao Secara lebih spesifik, terdapat celah riset yang signifikan dalam literatur akademik. Di satu sisi, kajian tentang kekerasan seksual terhadap anak sangat melimpah dalam disiplin psikologi, pekerjaan sosial, dan kriminologi, namun umumnya absen dari perspektif teologis. 7 Di sisi lain, kajian teologi pastoral tentang trauma mulai berkembang pesat, namun belum secara spesifik mengembangkan model pembinaan karakter yang integratif bagi anak penyintas kekerasan seksual. 8 Sementara itu, literatur tentang formasi karakter Kristiani, sebagaimana dikembangkan oleh Hauerwas dan tradisi yang mengikutinya, sangat kaya secara teologis-etis, namun belum secara eksplisit mempertimbangkan konteks trauma sebagai titik tolak formasi. 9 Artikel ini berupaya mengisi celah di persimpangan ketiga bidang tersebut: studi trauma, teologi pastoral, dan formasi karakter Kristiani. Artikel ini bertujuan mengonstruksi model pembinaan karakter yang khas Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual, yang berakar pada praksis pemulihan dan mengintegrasikan wawasan teologi pastoral tentang trauma, tradisi formasi kebajikan Kristiani, serta eklesiologi terapeutik, sehingga menghasilkan kerangka yang tidak hanya distingtif secara teologis tetapi juga transformatif secara pastoral-pedagogis. Untuk mencapai tujuan tersebut, artikel ini bergerak melalui empat tahapan argumentatif. Pertama, artikel akan menganalisis fenomena kekerasan seksual terhadap anak melalui lensa teologi pastoral, dengan memahami trauma sebagai krisis yang menyentuh dimensi ontologis-relasional keberadaan manusia. Kedua, artikel akan merekonstruksi konsep formasi karakter Kristiani yang kristomorfis, yakni pembentukan karakter yang bermodel pada Kristus, dengan mempertimbangkan secara serius konteks trauma sebagai titik tolak formasi. Ketiga, artikel akan mengembangkan praksis pemulihan yang bersifat naratif dan embodied, yang mengintegrasikan dimensi kisah, tubuh, dan ritual dalam proses formasi karakter penyintas. Keempat, artikel akan mengeksplorasi peran komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif yang menjadi lokus bagi terjadinya formasi karakter yang transformatif. Artikel ini menggunakan metode teologis-konstruktif . onstructive theolog. dengan pendekatan analisis pastoral-hermeneutis. Metode teologis-konstruktif memungkinkan peneliti untuk membangun kerangka teologis baru melalui dialog kritis antara tradisi doktrinal, karya-karya teolog kontemporer, dan refleksi terhadap konteks pastoral tertentu, dalam hal ini, pendampingan anak penyintas kekerasan seksual. 10 Pendekatan pastoral-hermeneutis dipilih karena riset ini tidak hanya bertujuan membangun konstruksi teologis abstrak, tetapi juga menghasilkan kerangka yang bermakna secara pastoral dan aplikatif secara pedagogis. Secara operasional, metode ini melibatkan tiga langkah: pertama, analisis kritis terhadap fenomena trauma akibat kekerasan seksual melalui dialog antara studi trauma dan teologi pastoral. kedua, rekonstruksi doktrinal terhadap konsep formasi karakter Kristiani dalam terang pengala- Andrew Purves. Reconstructing Pastoral Theology: A Christological Foundation (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 51Ae53. 8 Carrie Doehring. The Practice of Pastoral Care: A Postmodern Approach, rev. (Louisville: Westminster John Knox Press, 2. , 88Ae90. 9 Stanley Hauerwas. Character and the Christian Life: A Study in Theological Ethics, 3rd ed. (Notre Dame: University of Notre Dame Press, 2. , 115Ae117. 10 Cooper-White. The Cry of Tamar, 67Ae69. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 933 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA man trauma. dan ketiga, sintesis konstruktif yang menghasilkan model pembinaan karakter yang integratif. Sumber-sumber primer yang digunakan mencakup karya-karya teologis dan pastoral kontemporer yang berkaitan dengan trauma, formasi karakter, dan eklesiologi, antara lain karya Judith Herman. Serene Jones. Shelly Rambo. Stanley Hauerwas. Wright. Jyrgen Moltmann. Miroslav Volf. Henri Nouwen, dan Dietrich Bonhoeffer. Sumber-sumber sekunder meliputi literatur psikologi trauma, perkembangan anak, dan pendidikan Kristiani. Analisis dilakukan dengan memperhatikan baik kedalaman teologis maupun sensitivitas pastoral terhadap pengalaman penyintas, menghindari setiap bentuk reviktimisasi teologis yang mereduksi penderitaan penyintas menjadi sekadar ilustrasi doktrinal. Trauma sebagai Krisis Ontologis-Relasional: Pembacaan Pastoral-Teologis atas Kekerasan Seksual terhadap Anak Langkah pertama dalam mengonstruksi model pembinaan karakter bagi anak penyintas kekerasan seksual adalah memahami trauma bukan sekadar sebagai gangguan psikologis yang memerlukan penanganan klinis, melainkan sebagai krisis yang menyentuh dimensi paling fundamental dari keberadaan manusia. Pendekatan psikologis-klinis terhadap trauma, meskipun sangat penting dan tidak boleh diabaikan, memiliki keterbatasan epistemologis yang signifikan, di mana ini cenderung memahami trauma terutama sebagai disfungsi dalam sistem psikologis individu yang perlu diperbaiki, tanpa menggali dimensi ontologis dan relasional yang lebih dalam. 11 Teologi pastoral menawarkan kerangka pemahaman yang lebih komprehensif, karena mampu menjangkau pertanyaan-pertanyaan fundamental yang melampaui kapasitas psikologi klinis: pertanyaan tentang makna penderitaan, tentang identitas manusia di hadapan Allah, dan tentang kemungkinan pemulihan yang melampaui sekadar perbaikan fungsi psikologis. Serene Jones memberikan kontribusi yang sangat signifikan dalam memahami dimensi teologis dari trauma. Bagi Jones, trauma bukan sekadar peristiwa yang terjadi kepada seseorang, melainkan pengalaman yang mengubah secara fundamental cara seseorang berada di dalam dunia. 12 Dalam konteks kekerasan seksual terhadap anak, trauma menghancurkan tiga dimensi konstitutif keberadaan manusia yang memiliki resonansi teologis yang sangat dalam. Dimensi pertama adalah kepercayaan dasar . asic trus. , yakni kemampuan untuk mempercayai bahwa dunia pada dasarnya aman dan bahwa orang lain pada dasarnya baik. Ketika orang dewasa yang seharusnya melindungi justru menjadi sumber kekerasan, fondasi kepercayaan ini runtuh dengan cara yang sangat traumatis. Dimensi kedua adalah integritas diri, yakni pengalaman keutuhan sebagai subjek yang berdaulat atas tubuh dan pengalamannya sendiri. Kekerasan seksual merampas kedaulatan ini dan memaksa anak mengalami tubuhnya sendiri sebagai wilayah yang diduduki oleh kehendak orang lain. Dimensi ketiga yang dihancurkan oleh trauma kekerasan seksual adalah kapasitas untuk memberi dan menerima makna. Jyrgen Moltmann menekankan bahwa manusia sebagai makhluk spiritual adalah makhluk yang hidup dalam horison makna, yakni kemampuan untuk memahami pengalaman sebagai bagian dari narasi yang lebih besar yang memberikan koherensi dan tujuan. 13 Kekerasan seksual, terutama ketika terjadi pada anak yang masih dalam proses pembentukan kerangka makna, menghancurkan kemampuan ini dengan cara yang Herman. Trauma and Recovery, 133Ae135. Jones. Trauma and Grace, 51Ae53. 13 Jyrgen Moltmann. The Spirit of Life: A Universal Affirmation, trans. Margaret Kohl (Minneapolis: Fortress Press, 1. , 130Ae132. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 934 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 sangat fundamental. Anak penyintas sering mengalami apa yang oleh para ahli trauma disebut sebagai Aufragmentasi naratif,Ay yakni ketidakmampuan untuk mengintegrasikan pengalaman traumatis ke dalam narasi kehidupan yang koheren. Dalam perspektif teologis, ini merupakan masalah psikologis dan krisis spiritual yang menyentuh kemampuan manusia untuk melihat kehidupannya sebagai bagian dari narasi besar karya Allah dalam sejarah. Shelly Rambo menawarkan kerangka teologis yang sangat iluminatif untuk memahami posisi penyintas trauma. Rambo berargumen bahwa penyintas trauma hidup dalam apa yang disebutnya sebagai Aumiddle space,Ay yakni ruang antara kematian dan kehidupan, antara kehancuran dan pemulihan, yang tidak bisa direduksi ke salah satu kutub. 14 Teologi Kristiani tradisional, menurut Rambo, terlalu sering bergerak langsung dari Jumat Agung ke Minggu Paskah, dari salib ke kebangkitan, tanpa memberikan ruang yang memadai bagi Sabtu Sunyi, hari di antara kematian dan kebangkitan, di mana tidak ada narasi kemenangan, hanya kehadiran di tengah kegelapan. Bagi anak penyintas kekerasan seksual. Sabtu Sunyi ini bukan metafora, melainkan realitas eksistensial yang sangat nyata: mereka hidup dalam ruang antara luka yang belum sepenuhnya sembuh dan harapan yang belum sepenuhnya terwujud. Flora Keshgegian memperdalam analisis ini dengan menunjukkan bahwa trauma kekerasan seksual juga menghancurkan apa yang disebutnya sebagai Aumemori redemptive,Ay yakni kemampuan untuk mengingat dengan cara yang memungkinkan pemulihan dan transformasi, bukan sekadar pengulangan penderitaan. 15 Bagi anak penyintas, memori sering kali menjadi penjara, bukan sumber kekuatan. Kilas balik . , mimpi buruk, dan pengalaman disosiatif membuat masa lalu terus menginvasi masa kini dengan cara yang merusak. Miroslav Volf, dalam refleksinya tentang memori dan kekerasan, menawarkan konsep Aumengingat dengan benarAy . emembering rightl. sebagai praktik yang memungkinkan penyintas tidak terjebak dalam siklus pengulangan traumatis maupun amnesia yang menyangkal kenyataan. 16 Mengingat dengan benar, bagi Volf, berarti mengintegrasikan memori kekerasan ke dalam narasi yang lebih besar tentang keadilan dan rekonsiliasi Allah. Pemahaman pastoral-teologis tentang trauma ini memiliki implikasi langsung terhadap cara kita memahami formasi karakter bagi penyintas. Jika trauma menghancurkan kepercayaan dasar, integritas diri, dan kapasitas pemberian makna, maka formasi karakter tidak bisa dimulai dari asumsi bahwa fondasi-fondasi ini masih utuh. Pendekatan formasi karakter konvensional, yang mengasumsikan subjek yang relatif utuh dan stabil sebagai titik tolak, menjadi tidak memadai untuk konteks penyintas trauma. Diperlukan apa yang dapat disebut sebagai Auformasi karakter yang trauma-informed,Ay yakni pembentukan karakter yang dimulai dari pengakuan jujur terhadap kehancuran dan bergerak perlahan menuju pemulihan, bukan formasi yang mengasumsikan keutuhan sebagai titik awal. Pengakuan ini bukan pesimisme teologis, melainkan realisme pastoral yang menghormati kedalaman penderitaan penyintas. Lebih dari itu, pembacaan pastoral-teologis ini menunjukkan bahwa trauma kekerasan seksual terhadap anak bukan sekadar masalah individual, melainkan juga masalah komunal dan struktural. Kekerasan seksual tidak terjadi dalam ruang hampa yang difasilitasi oleh struktur kuasa yang tidak adil, budaya diam yang melindungi pelaku, dan sistem yang gagal melindungi anak-anak yang paling rentan. Pemahaman ini penting karena ia menunjukkan bahwa formasi karakter bagi penyintas tidak bisa bersifat individualistik semata. ini harus juRambo. Spirit and Trauma, 85Ae87. Flora A. Keshgegian. Redeeming Memories: A Theology of Healing and Transformation (Nashville: Abingdon Press, 2. , 112Ae114. 16 Miroslav Volf. The End of Memory: Remembering Rightly in a Violent World (Grand Rapids: Eerdmans, 2. , 72Ae74. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 935 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA ga melibatkan transformasi komunitas dan struktur yang membuat kekerasan menjadi mungkin. Dengan pemahaman ini sebagai landasan, kita dapat bergerak ke pertanyaan berikutnya: Bagaimana formasi karakter Kristiani harus direkonstruksi agar relevan dan transformatif bagi anak penyintas kekerasan seksual? Formasi Karakter Kristomorfis: Rekonseptualisasi Kebajikan dalam Terang Pengalaman Trauma Tradisi formasi karakter Kristiani memiliki akar yang sangat dalam, mulai dari apropriasi teologi patristik terhadap kebajikan Aristotelian hingga pengembangan kontemporer oleh teolog-teolog seperti Stanley Hauerwas dan N. Wright. Hauerwas, yang karyanya menjadi salah satu pilar utama etika kebajikan Kristiani kontemporer, mendefinisikan karakter sebagai kualifikasi diri yang terbentuk melalui kesetiaan terhadap intensi-intensi tertentu dalam rentang waktu yang cukup untuk membentuk sebuah riwayat hidup. 17 Dalam kerangka Hauerwas, karakter bukan atribut yang dimiliki secara statis, melainkan realitas yang terbentuk melalui partisipasi dalam narasi dan komunitas tertentu. Wright melanjutkan arah ini dengan menekankan bahwa karakter Kristiani pada hakikatnya adalah karakter yang terbentuk melalui praktik kebajikan yang berorientasi pada tujuan eskatologis, yakni visi tentang kemanusiaan yang utuh sebagaimana dikehendaki Allah. Tradisi kebajikan klasik, sebagaimana dikembangkan oleh Aristoteles dan kemudian diapropriasi oleh Thomas Aquinas, memahami kebajikan sebagai disposisi yang terbentuk melalui latihan berulang hingga menjadi Ausifat keduaAy . econd natur. yang memungkinkan seseorang bertindak dengan baik secara spontan. 19 Dallas Willard, dalam kerangka formasi spiritual Kristiani, mengembangkan pemahaman serupa, yakni transformasi karakter terjadi ketika praktik-praktik spiritual secara perlahan membentuk ulang Aukehendak, pikiran, tubuh, konteks sosial, dan jiwaAy seseorang, sehingga secara alami menghasilkan buah Roh. 20 Namun, ketika kita mempertimbangkan konteks anak penyintas kekerasan seksual, kerangka-kerangka ini menghadapi tantangan yang sangat serius. Bagaimana kebajikan bisa menjadi habitus ketika fondasi kebiasaan itu sendiri, di mana kepercayaan dasar, rasa aman, integritas tubuh telah dihancurkan oleh trauma? Pertanyaan ini menuntut rekonseptualisasi formasi karakter Kristiani yang mempertimbangkan secara serius konteks trauma sebagai titik tolak. Artikel ini mengusulkan apa yang disebut sebagai formasi karakter kristomorfis. Wright menekankan bahwa karakter Kristiani terbentuk melalui pengulangan yang terfokus pada tujuan . ocused, goal-directed repetitio. yang berorientasi pada keserupaan dengan Kristus. 21 Namun, dalam konteks penyintas trauma, keserupaan dengan Kristus tidak bisa dipahami hanya sebagai imitasi moral terhadap kebajikan-kebajikan-Nya. Keserupaan dengan Kristus juga mencakup partisipasi dalam penderitaan-Nya (Fil. , kehadiran-Nya di tengah kegelapan (Maz. , dan kebangkitan-Nya yang melewati kematian. Formasi kristomorfis berarti bahwa seluruh narasi Kristus, termasuk Getsemani dan salib, menjadi sumber daya teologis untuk memahami dan menavigasi pengalaman trauma. Hauerwas. Character and the Christian Life, 203Ae205. Wright. After You Believe: Why Christian Character Matters (New York: HarperOne, 2. , 27Ae29. 19 Thomas Aquinas. Summa Theologiae. I-II, q. 55, a. 4, in Basic Writings of Saint Thomas Aquinas, ed. Anton Pegis, vol. 2 (Indianapolis: Hackett, 1. , 430Ae432. 20 Dallas Willard. Renovation of the Heart: Putting on the Character of Christ (Colorado Springs: NavPress, 2. , 85Ae87. 21 Wright. After You Believe, 63Ae65. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 936 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 Dalam kerangka formasi kristomorfis, kebajikan-kebajikan klasik mengalami rekonseptualisasi yang signifikan. Robert Roberts menunjukkan bahwa emosi dan kebajikan Kristiani memiliki AugrammarAy yang khas, yang berbeda dari kebajikan Aristotelian murni, karena dibentuk oleh narasi dan komunitas iman yang spesifik. 22 Untuk konteks penyintas trauma, rekonseptualisasi ini menjadi sangat penting. Keberanian . , misalnya, dalam konteks penyintas, bukan berarti ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk hadir secara utuh dalam pengalaman sendiri meskipun pengalaman itu menyakitkan. Pengharapan . bukan optimisme naif yang menyangkal kegelapan, melainkan kepercayaan yang teguh bahwa Allah hadir bahkan di tengah penderitaan yang paling kelam. Pengampunan bukan tuntutan moral yang dipaksakan sebelum waktunya, melainkan kemungkinan yang terbuka secara perlahan seiring proses pemulihan yang dihormati kecepatannya. Hauerwas memberikan wawasan tambahan yang sangat penting: bahwa karakter selalu terbentuk dalam komunitas naratif tertentu. 23 Formasi karakter bukanlah proyek individualistik, melainkan proses yang terjadi ketika seseorang dihidupi oleh narasi komunitas yang membentuk imajinasi, sensibilitas, dan disposisi-disposisinya. Bagi anak penyintas kekerasan seksual, ini berarti formasi karakter harus terjadi dalam komunitas yang narasinya cukup jujur untuk mengakomodasi pengalaman penderitaan, cukup kuat untuk menawarkan harapan tanpa menyangkal kegelapan, dan cukup sabar untuk menunggu proses pemulihan tanpa memaksakan jadwal. Narasi iman Kristiani, dengan kisah-kisah tentang penderitaan yang tidak ditutup-tutupi (Mazmur ratapan. Ayub, ratapan, seruan Yesus di sali. , memiliki potensi yang unik untuk menjadi narasi komunal semacam ini. Henri Nouwen menawarkan konsep Aupenyembuh yang terlukaAy . ounded heale. yang sangat relevan di sini. Bagi Nouwen, pelayanan Kristiani yang autentik tidak berangkat dari posisi kekuatan yang tidak tersentuh oleh penderitaan, melainkan dari kerentanan yang telah ditransformasi oleh anugerah. 24 Dalam konteks formasi karakter penyintas, konsep ini menunjukkan bahwa luka bukanlah halangan bagi formasi karakter, melainkan dapat menjadi locus formasi itu sendiri. Karakter yang terbentuk melalui pengalaman penderitaan yang dinavigasi bersama Allah dan komunitas iman memiliki kualitas tertentu, di mana kedalaman empati, sensitivitas terhadap penderitaan orang lain, dan ketangguhan yang lahir dari pengalaman melewati kegelapan yang tidak bisa terbentuk melalui cara lain. Dengan demikian, formasi karakter kristomorfis menawarkan kerangka yang mampu menghormati dua realitas secara simultan: realitas kehancuran yang dialami penyintas dan realitas panggilan teleologis menuju keutuhan dalam Kristus. Realitas ini tidak menyangkal luka dengan narasi kemenangan yang prematur, namun juga tidak terjebak dalam luka tanpa harapan akan pemulihan. Jones menekankan bahwa anugerah . dalam konteks trauma bukan intervensi magis yang menghapus penderitaan, melainkan Aukehadiran yang menemani di tengah kehancuran dan secara perlahan membuka kemungkinan-kemungkinan baru. Ay25 Formasi karakter kristomorfis beroperasi dalam logika anugerah ini: ia adalah proses panjang, sabar, dan sering kali tidak linier, di mana karakter terbentuk bukan meskipun ada luka, melainkan melalui proses pemulihan dari luka itu sendiri. 14Ae16. 82Ae84. Robert C. Roberts. Spiritual Emotions: A Psychology of Christian Virtues (Grand Rapids: Eerdmans, 2. Hauerwas. Character and the Christian Life, 230Ae232. Henri J. Nouwen. The Wounded Healer: Ministry in Contemporary Society (New York: Image Books, 1. Jones. Trauma and Grace, 73Ae75. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 937 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA Praksis Pemulihan yang Naratif dan Embodied: Dari Fragmentasi Menuju Reintegrasi Konstruksi teologis tentang formasi karakter kristomorfis yang telah dibangun pada bagian sebelumnya perlu diterjemahkan ke dalam praktik-praktik konkret yang memungkinkan formasi karakter terjadi secara nyata dalam kehidupan anak penyintas. Herman menunjukkan bahwa pemulihan dari trauma bergerak melalui tiga tahapan yang saling terhubung: membangun kembali rasa aman . stablishing safet. , merekonstruksi narasi trauma . emembrance and mournin. , dan membangun kembali koneksi sosial . 26 Model tiga tahap ini, meskipun dikembangkan dalam kerangka psikologi klinis, memiliki resonansi teologis yang sangat dalam dan dapat diperkaya secara signifikan oleh sumber daya tradisi Kristiani. Tahapan pertama, membangun kembali rasa aman. Dalam kerangka teologis-pastoral bukan sekadar penciptaan lingkungan fisik yang aman, melainkan pembentukan ulang kemampuan untuk mempercayai bahwa Allah hadir dan aktif bahkan di tengah penderitaan. Carrie Doehring menekankan bahwa pendampingan pastoral yang efektif bagi penyintas trauma dimulai dari Aukehadiran yang konsisten dan dapat diandalkan,Ay di mana kehadiran secara perlahan memulihkan kepercayaan dasar yang telah dihancurkan oleh trauma. 27 Dalam konteks pendidikan Kristiani, ini berarti menciptakan ruang-ruang di mana anak penyintas mengalami konsistensi, keandalan, dan penerimaan tanpa syarat dari orang dewasa yang hadir dalam kehidupan mereka. Praktik-praktik spiritual seperti doa, liturgi, dan ritual keagamaan dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk membangun rasa aman ini, asalkan dilakukan dengan sensitivitas pastoral yang tinggi dan tanpa pemaksaan. Tahapan kedua, rekonstruksi narasi. Hal ini merupakan inti dari apa yang dapat disebut sebagai praksis pemulihan naratif. Thomas Groome mengembangkan konsep Aushared Christian praxisAy yang menekankan pentingnya dialog antara pengalaman hidup . resent praxi. dan tradisi iman Kristiani . tory and visio. dalam proses formasi. 28 Dalam konteks penyintas trauma, praksis ini mengambil bentuk yang sangat spesifik: membantu anak penyintas secara perlahan mengonstruksi narasi tentang pengalaman mereka dalam dialog dengan narasi-narasi iman yang lebih besar. Ini bukan proses yang bisa dipaksakan atau dipercepat. Willard mengingatkan bahwa transformasi spiritual yang sejati selalu menghormati kecepatan dan irama yang unik bagi setiap individu. 29 Bagi anak penyintas, proses naratif ini mungkin memerlukan waktu yang sangat panjang dan jalan yang sangat berliku sebelum mereka mampu mengintegrasikan pengalaman traumatis ke dalam narasi kehidupan yang koheren. Bagian yang membedakan praksis pemulihan Kristiani dari pendekatan naratif sekuler adalah ketersediaan narasi-narasi iman yang mampu mengakomodasi pengalaman penderitaan yang paling ekstrem tanpa mereduksi atau menyangkalnya. Mazmur-mazmur ratapan, misalnya, menyediakan bahasa bagi kemarahan, keputusasaan, dan perasaan ditinggalkan Allah yang mungkin dialami oleh penyintas. Kisah Tamar . Sam. , yang jarang dibicarakan dalam konteks pendidikan Kristiani, menawarkan pengakuan alkitabiah yang jujur dan tidak disanitasi tentang kekerasan seksual dan dampaknya. Narasi sengsara Kristus dari Getsemani hingga salib mendemonstrasikan bahwa Allah sendiri dalam Kristus telah memasuki kedalaman penderitaan manusia yang paling gelap. Narasi-narasi ini tidak menawarkan jawaban Herman. Trauma and Recovery, 155Ae157. Doehring. The Practice of Pastoral Care, 142Ae144. 28 Thomas H. Groome. Christian Religious Education: Sharing Our Story and Vision (San Francisco: Jossey-Bass, 1. , 184Ae186. 29 Willard. Renovation of the Heart, 41Ae43. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 938 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 yang mudah, namun mereka menawarkan sesuatu yang lebih penting: validasi teologis bahwa penderitaan penyintas diakui, didengar, dan ditanggung bersama oleh Allah. Dimensi embodied dari praksis pemulihan juga harus mendapat perhatian serius. Van der Kolk menekankan bahwa trauma tersimpan tidak hanya dalam pikiran, melainkan juga dalam tubuh, di mana tubuh menyimpan skor . he body keeps the scor. 30 Bagi anak penyintas kekerasan seksual, tubuh sering kali menjadi sumber ketidaknyamanan, rasa malu, dan diskoneksi. Praktik pemulihan yang autentik harus membantu anak membangun kembali relasi yang sehat dengan tubuh mereka sendiri. Tradisi Kristiani, dengan penekanannya pada Allah yang mengambil tubuh manusia dalam Kristus, memiliki sumber daya teologis yang unik untuk afirmasi tubuh ini. Praktik-praktik liturgis yang melibatkan tubuh, seperti doa dengan Gerakan, sakramen yang melibatkan sentuhan yang aman dan bermakna, atau seni kreatif sebagai ekspresi iman, dapat menjadi sarana yang sangat efektif untuk membantu anak penyintas memulihkan relasi dengan tubuh mereka. Tahapan ketiga, rekoneksi sosial. Hal ini membawa kita pada dimensi komunal dari praksis pemulihan. Andrew Purves menekankan bahwa pastoral Kristiani yang autentik selalu bersifat komunal, karena ia berakar pada tindakan Kristus yang sendirinya bersifat komunal, di mana inkarnasi merupakan solidaritas Allah dengan kemanusiaan. 31 Bagi anak penyintas, yang relasi dasarnya dengan orang lain telah dihancurkan oleh kekerasan, membangun kembali kemampuan untuk berelasi merupakan tugas yang sangat berat namun sangat penting. Praktik pemulihan Kristiani menawarkan ruang bagi rekoneksi ini melalui komunitas iman yang dipanggil untuk menjadi representasi kasih dan keadilan Allah. Bonhoeffer, dalam Life Together, menekankan bahwa komunitas Kristiani yang sejati bukanlah komunitas yang dibangun di atas ilusi tentang kesempurnaan, melainkan komunitas yang dibangun di atas anugerah yang memungkinkan orang-orang yang rusak untuk hidup bersama dalam kebenaran dan kasih. Integrasi ketiga, rasa aman, narasi, dan rekoneksi, yang menghasilkan praksis pemulihan yang bersifat holistik dan transformatif. Bagian ini membuat praksis ini berbeda sebagai Kristiani, bukan sekadar penambahan elemen-elemen religius pada program pemulihan sekuler, melainkan reorientasi fundamental terhadap seluruh proses pemulihan dalam terang narasi besar tentang karya penciptaan, penebusan, dan pembaruan Allah. Moltmann menekankan bahwa Roh Kudus adalah AuRoh kehidupanAy yang bekerja dalam setiap proses yang membawa kehidupan dari kematian, pemulihan dari kehancuran, dan harapan dari keputusasaan. 33 Dalam konteks praksis pemulihan bagi anak penyintas. Roh Kudus menjadi agen transformasi yang bekerja melalui, namun juga melampaui, setiap intervensi manusiawi yang dilakukan oleh komunitas iman dan para pendamping. Komunitas Iman sebagai Ruang TerapeutikRestoratif: Eklesiologi yang Menyembuhkan Dimensi keempat dan terakhir dari model pembinaan karakter yang dikonstruksi dalam artikel ini berkaitan dengan peran komunitas iman gereja dan institusi pendidikan Kristiani ialah sebagai locus bagi terjadinya formasi karakter yang transformatif bagi anak penyintas. Miroslav Volf menekankan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang mempraktikkan embrace, yakni penerimaan radikal terhadap yang lain, terutama yang terluka dan tervan der Kolk. The Body Keeps the Score, 205Ae207. Purves. Reconstructing Pastoral Theology, 108Ae110. 32 Dietrich Bonhoeffer. Life Together, trans. John W. Doberstein (New York: Harper & Row, 1. , 97Ae99. 33 Moltmann. The Spirit of Life, 178Ae180. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 939 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA 34 Dalam konteks pendampingan anak penyintas kekerasan seksual, panggilan ini mengambil bentuk yang sangat konkret: gereja dan institusi pendidikan Kristiani harus menjadi ruang di mana anak penyintas mengalami penerimaan tanpa syarat, perlindungan dari reviktimisasi, dan pendampingan yang konsisten menuju pemulihan. Namun, kita harus jujur mengakui bahwa komunitas-komunitas iman tidak selalu menjadi ruang yang aman bagi penyintas. Emmanuel Lartey menunjukkan bahwa respons komunitas keagamaan terhadap kekerasan seksual sering kali justru menambah penderitaan penyintas melalui berbagai mekanisme: moralisasi yang menyalahkan korban, spiritualisasi yang mereduksi penderitaan menjadi Auujian iman,Ay tekanan untuk Aumengampuni dan melupakanAy sebelum waktunya, dan penyangkalan institusional yang melindungi reputasi gereja di atas keselamatan anak. 35 Oleh karena itu, sebelum komunitas iman dapat menjadi ruang terapeutik-restoratif, perlu terlebih dahulu menjalani apa yang dapat disebut sebagai Aupertobatan eklesiologis,Ay yakni pengakuan jujur atas kegagalan-kegagalannya dan komitmen untuk berubah secara fundamental dalam cara ia memahami dan merespons kekerasan seksual terhadap Setelah pertobatan eklesiologis, komunitas iman dapat mulai membangun dirinya sebagai ruang terapeutik-restoratif melalui beberapa praktik kunci. Praktik pertama adalah penciptaan budaya transparansi dan akuntabilitas. Praktik ini mencakup kebijakan perlindungan anak yang ketat dan terstandar, prosedur pelaporan yang jelas dan mudah diakses, pelatihan bagi seluruh anggota komunitas tentang tanda-tanda kekerasan dan cara meresponsnya, serta mekanisme akuntabilitas yang memastikan bahwa keselamatan anak selalu diprioritaskan di atas pertimbangan institusional. James Fowler mengingatkan bahwa formasi iman yang sehat hanya bisa terjadi dalam lingkungan yang aman dan terpercaya. 36 Tanpa budaya transparansi dan akuntabilitas, setiap upaya formasi karakter akan dibangun di atas fondasi yang rapuh dan berpotensi berbahaya. Praktik kedua ialah pembentukan relasi-relasi pendampingan yang terapeutik. Deborah van Deusen Hunsinger menekankan bahwa pastoral Kristiani yang efektif memerlukan integrasi antara wawasan teologis dan kompetensi terapeutik, bukan penyatuan yang kabur, melainkan dialog yang kritis dan saling memperkaya antara teologi dan psikologi. 37 Dalam konteks pendampingan anak penyintas, ini berarti komunitas iman perlu memiliki orangorang yang dilatih secara khusus untuk mendampingi penyintas dengan kompetensi ganda: kepekaan pastoral-teologis dan pemahaman tentang dinamika trauma. Pendamping ini bukan pengganti profesional kesehatan mental, melainkan pelengkap yang menyediakan dimensi spiritual dan komunal yang tidak selalu tersedia dalam setting klinis. Kolaborasi antara pendamping pastoral dan profesional kesehatan mental menjadi sangat penting untuk memastikan pendekatan yang holistik dan terintegrasi. Praktik ketiga berkaitan dengan liturgi dan ritual sebagai sarana pemulihan. Tradisi Kristiani sangat kaya dengan praktik-praktik liturgis yang memiliki potensi terapeutik yang luar biasa jika dilakukan dengan sensitivitas pastoral yang tinggi. Keshgegian menunjukkan bahMiroslav Volf. Exclusion and Embrace: A Theological Exploration of Identity. Otherness, and Reconciliation, rev. (Nashville: Abingdon Press, 2. , 140Ae142. 35 Emmanuel Y. Lartey. In Living Color: An Intercultural Approach to Pastoral Care and Counseling, 2nd ed. (London: Jessica Kingsley Publishers, 2. , 62Ae64. 36 James W. Fowler. Stages of Faith: The Psychology of Human Development and the Quest for Meaning (San Francisco: Harper & Row, 1. , 119Ae121. 37 Deborah van Deusen Hunsinger. Theology and Pastoral Counseling: A New Interdisciplinary Approach (Grand Rapids: Eerdmans, 1. , 53Ae55. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 940 KURIOS. Vol. No. Desember 2025 wa ritual keagamaan memiliki kemampuan unik untuk AumemegangAy . pengalaman yang terlalu berat untuk ditanggung sendiri. 38 Dalam konteks anak penyintas, liturgi pemberkatan yang menegaskan nilai dan martabat anak sebagai ciptaan Allah yang dikasihi, doa penyembuhan yang tidak menjanjikan mukjizat instan namun menyatakan kehadiran Allah yang menemani, ritual pengakuan komunal yang mengakui kegagalan komunitas dalam melindungi anak-anak. Semua ini dapat menjadi sarana pemulihan yang sangat mendalam karena ia beroperasi pada level simbolik dan eksperiensial yang melampaui kata-kata. Praktik keempat ialah pembentukan komunitas sebagai ruang di mana penyintas dapat berpartisipasi secara aktif, bukan sekadar menjadi objek pelayanan. Nouwen menekankan bahwa penyintas yang telah mengalami proses pemulihan memiliki potensi untuk menjadi Aupenyembuh yang terlukaAy bagi orang lain. 39 Meskipun partisipasi ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan menghormati batas-batas penyintas, prinsip dasarnya sangat penting: formasi karakter yang transformatif tidak hanya terjadi ketika seseorang menerima pelayanan, melainkan juga ketika seseorang mulai mampu melayani orang lain dari tempat lukanya yang sedang dipulihkan. Komunitas iman yang terapeutik-restoratif adalah komunitas yang menciptakan ruang bagi transisi gradual, di mana penyintas bergerak dari posisi penerima menuju posisi partisipan aktif, hingga kontributor bagi pemulihan orang lain. Model pembinaan karakter yang telah dikonstruksi melalui keempat dimensi ini: pemahaman pastoral-teologis tentang trauma, formasi karakter kristomorfis, praksis pemulihan naratif-embodied, dan komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif, menawarkan kerangka yang distingtif Kristiani dan transformatif secara pastoral-pedagogis. Volf mengingatkan bahwa visi Kristiani tentang rekonsiliasi bukan fantasi utopis, melainkan komitmen praktis yang berakar pada tindakan Allah dalam Kristus yang terlebih dahulu merangkul umat manusia yang telah melukai-Nya. 40 Komunitas iman yang menghidupi visi yang mempraktikkan penerimaan radikal, keadilan restoratif, dan pendampingan yang sabar, memiliki potensi yang unik dan tak tergantikan untuk menjadi ruang di mana anak penyintas kekerasan seksual mengalami pemulihan yang sejati: bukan sekadar perbaikan fungsi psikologis, melainkan formasi karakter yang transformatif menuju keutuhan dalam Kristus. Kesimpulan Artikel ini telah mengonstruksi model pembinaan karakter yang khas Kristiani bagi anak penyintas kekerasan seksual melalui empat dimensi yang saling terhubung: pembacaan pastoral-teologis atas trauma sebagai krisis ontologis-relasional, rekonseptualisasi formasi karakter kristomorfis yang mempertimbangkan konteks trauma sebagai titik tolak, pengembangan praksis pemulihan naratif-embodied yang mengintegrasikan dimensi kisah, tubuh, dan ritual, serta eksplorasi komunitas iman sebagai ruang terapeutik-restoratif yang mempraktikkan eklesiologi yang menyembuhkan. Model ini menawarkan alternatif yang melampaui baik pendekatan psikologis-klinis yang absen dari perspektif teologis maupun pendekatan moralistik-imperatif yang tidak sensitif terhadap kedalaman trauma, dengan menjadikan praksis pemulihan sebagai locus formasi karakter di mana luka bukan halangan, melainkan ruang di mana anugerah bekerja secara transformatif menuju keutuhan dalam Kristus. Keshgegian. Redeeming Memories, 175Ae177. Nouwen. The Wounded Healer, 93Ae95. 40 Volf. Exclusion and Embrace, 156Ae158. KURIOS. Copyright A 2025. Authors | 941 I. Poceratu, et al. Formasi karakter sebagai praksisA Referensi