JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA http://jktp. com/jktp/index VOLUME 07 NOMOR 02 DESEMBER 2024 ISSN 2654 - 5756 ARTIKEL PENELITIAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN EFIKASI DIRI PASIEN TB PARU YANG MENJALANI PENGOBATAN DI POLIKLINIK PARU FAMILY SUPPORT AND SELF EFFICACY OF PULMONARY TUBERCULOSIS PATIENTS UNDERGOING TREATMENT AT THE PULMONARY CLINIC Nining Nirmalasari1*. Mohammad Wafri Matorang1. Detrina F. Uramako1 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Mandiri. Poso. Indonesia Abstrak Article history Received date: 10 Oktober 2024 Revised date: 12 Desember 2024 Accepted date: 20 Desember 2024 *Corresponding author: Nining Nirmalasari. STIKES Husada Mandiri. Poso. Indonesia. Email: ningko2016@gmail. Tuberkulosis paru (TB par. merupakan penyakit infeksi menular yang masih menjadi tantangan kesehatan global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Keberhasilan pengobatan TB sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah dukungan keluarga yang berperan dalam meningkatkan efikasi diri pasien. Efikasi diri yang baik dapat meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan dan mengurangi risiko putus obatPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru RSUD Poso. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 44 pasien TB paru yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien mendapatkan dukungan keluarga yang baik . ,5%), dan mayoritas memiliki efikasi diri yang tinggi . ,6%). Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru . = <0,. Pasien dengan dukungan keluarga yang baik memiliki efikasi diri lebih tinggi dibandingkan mereka yang memiliki dukungan keluarga kurang. Perawat dan tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif dalam mengedukasi keluarga pasien tentang pentingnya dukungan mereka dalam proses Kata Kunci: Tuberkulosis paru, dukungan keluarga, efikasi diri Abstract Copyright: A 2024 by the authors. This is an open access article distributed under the terms and conditions of the CC BY-SA. Pulmonary tuberculosis (TB) is an infectious disease that remains a global health challenge, particularly in developing countries such as Indonesia. The success of TB treatment is influenced by various factors, one of which is family support, which enhances patientsAo self-efficacy. Good self-efficacy can improve patientsAo adherence to treatment and reduce the risk of treatment discontinuation. This study analyzes the relationship between family support and self-efficacy in pulmonary TB patients undergoing treatment at the Pulmonary Clinic of RSUD Poso. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The research sample comprised 44 pulmonary TB patients selected using simple random sampling. Data were collected through interviews using a structured questionnaire that had been tested for validity and reliability. Data analysis was conducted descriptively and inferentially using FisherAos exact test. The results showed that most patients received good family support . 5%), and most had high self-efficacy . 6%). Statistical analysis indicated a significant relationship between family support and self-efficacy in pulmonary TB patients . < 0. Patients with good family support had higher self-efficacy than those with lower family support. Nurses and healthcare professionals are expected to be more active in educating patientsAo families about the importance of their support in the healing process. Keywords: Pulmonary tuberculosis, family support, self-efficacy PENDAHULUAN Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan utama di dunia (WHO, 2. Penyakit ini masuk dalam 10 besar penyebab kematian secara global. Pada tahun 2020. World Health Organization (WHO) mencatat 10,4 juta kasus tuberkulosis, atau setara dengan 120 kasus per Nining Nirmalasari. Moh W. Matorang. Detrina F. Uramako. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 161-167 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. 000 penduduk. Sebagian besar kasus terjadi di Asia Tenggara . %) dan Afrika . %). Lima negara dengan kasus tertinggi adalah India. Indonesia. China. Filipina, dan Pakistan (Sofiana et al. , 2. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2018, prevalensi TBC paru berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0,4% atau 400 kasus per 100. 000 penduduk. Angka ini lebih tinggi dibandingkan prevalensi global yang hanya mencapai 321 kasus per 100. 000 penduduk dunia pada tahun yang sama. Provinsi Banten mencatat prevalensi tertinggi . ,8%), sedangkan yang terendah adalah Bali . ,1%). Provinsi Sulawesi Tengah menempati peringkat ke-14 dengan prevalensi 0,4%, sama dengan rata-rata nasional (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2. Data dari Profil Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2021 menunjukkan bahwa upaya pencegahan dan penanganan TBC paru pada tahun 2020 dan 2021 menghadapi berbagai kendala. Salah satunya adalah lamanya pengobatan yang menyebabkan pasien merasa jenuh, serta efek samping obat yang membuat sebagian pasien menghentikan pengobatan secara sepihak. Hal ini menyebabkan peningkatan kasus resistensi obat, dari 7. 439 kasus pada tahun 2020 menjadi 9. 301 kasus pada tahun 2021 (Dinkes Provinsi Sulteng, 2. Pengobatan TBC berlangsung dalam jangka waktu lama dan harus dilakukan secara konsisten (Migliori et , 2. Banyak pasien mengalami kebosanan dan bahkan memutuskan untuk menghentikan pengobatan (Lusmilasari. Rahayu, & Rahmawati, 2. Selain karena banyaknya jenis obat yang harus dikonsumsi setiap hari, kegagalan pengobatan juga dapat terjadi akibat kurangnya dukungan keluarga dan lingkungan sosial. Dukungan keluarga sangat berperan dalam keberhasilan pengobatan pasien (Lusmilasari et al. , 2. Dukungan keluarga mencakup berbagai aspek, seperti dukungan emosional, instrumental, informasional, dan penilaian (Gutiyrrez-Synchez et al. , 2. Dukungan emosional memberikan rasa nyaman dan ketenangan bagi pasien, sedangkan dukungan instrumental berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan fisik, seperti makanan, minuman, dan istirahat (Maryam et al. , 2. Dukungan informasional berperan dalam memberikan informasi yang relevan untuk membantu pasien dalam pengambilan keputusan terkait pengobatan (Setiadi, 2. Dukungan keluarga dapat mempengaruhi perilaku pasien dalam menjalani pengobatan TBC (Pitters et al. , 2. Pasien yang mendapatkan dukungan keluarga cenderung memiliki perasaan lebih tenang dan sikap lebih positif terhadap pengobatan (Sukartini. Khoirunisa, & Hidayati, 2. Selain itu, dukungan keluarga juga berhubungan dengan efikasi diri pasien, yaitu keyakinan individu dalam menjalani pengobatan secara mandiri dan konsi sten (Sukartini et al. , 2. Efikasi diri merupakan faktor kognitif yang berpengaruh terhadap motivasi, proses berpikir, kondisi emosional, serta perilaku individu dalam menjalani pengobatan (Wahyudi, 2. Efikasi diri yang tinggi dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, sementara efikasi diri yang rendah dapat berkontribusi pada kegagalan terapi. Pasien dengan efikasi diri tinggi memiliki peluang lebih besar untuk mencapai keberhasilan pengobatan dibandingkan pasien dengan efikasi diri rendah (Wahyudi, 2. Penelitian oleh Solikhah et al. menunjukkan adanya hubungan antara dukungan informasional keluarga dengan efikasi diri pasien TBC paru . value = 0,. Pasien dengan dukungan keluarga yang kurang memiliki risiko 4,047 kali lebih besar untuk memiliki efikasi diri rendah dibandingkan pasien dengan dukungan keluarga yang baik . % CI OR: 1,721. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Poso, jumlah pasien berusia di atas 18 tahun pada bulan Mei mencapai 80 pasien. Dari jumlah tersebut, lima pasien gagal menyelesaikan pengobatan atau mengalami putus berobat pada bulan Maret. Wawancara sederhana terhadap 10 pasien menunjukkan bahwa tujuh di antaranya tidak mendapatkan dukungan keluarga selama menjalani pengobatan dan melakukan pengobatan atas kesadaran sendiri tanpa motivasi dari orang terdekat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri pasien TBC paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah Poso. METODE Desain dan Setting Penelitian Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru dalam satu titik waktu tanpa adanya intervensi. Setting penelitian dilakukan di Poliklinik Paru Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Poso, sebuah fasilitas layanan kesehatan yang menangani pasien TB paru. Penelitian ini berlangsung selama periode 10 Juni hingga 17 Juni 2023. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien TB paru yang terdaftar di Poliklinik Paru RSUD Poso selama bulan April 2023 dengan jumlah total 80 pasien. Sampel penelitian dihitung menggunakan rumus Slovin, dengan hasil minimal 44,4 responden yang kemudian dibulatkan menjadi 44 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah pasien yang berusia Ou 18 tahun, bersedia menjadi responden, terdaftar sebagai pasien TB paru, termasuk pasien dengan resistensi obat, serta memiliki orientasi waktu, ruang, dan tempat yang baik. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah pasien yang mengalami gangguan pendengaran atau penglihatan yang menghambat pengisian kuesioner, serta pasien yang tidak dapat membaca atau menulis. Subjek penelitian direkrut berdasarkan pencatatan rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan persetujuan dokter penanggung jawab. Nining Nirmalasari. Moh W. Matorang. Detrina F. Uramako. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 161-167 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. Variabel Penelitian ini terdiri dari beberapa variabel utama, yaitu karakteristik responden, dukungan keluarga, dan efikasi diri. Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan. Dukungan keluarga didefinisikan sebagai tingkat keterlibatan keluarga dalam memberikan dukungan emosional, informasional, dan instrumental terhadap pasien TB paru, yang dikategorikan menjadi tiga tingkatan: baik, cukup, dan kurang. Efikasi diri pasien TB paru diukur berdasarkan keyakinan individu dalam menjalani pengobatan dan menjaga kesehatan, dengan kategori baik . Ae. dan kurang baik . Ae. , berdasarkan skor dari kuesioner yang digunakan. Pengumpulan Data Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui wawancara langsung menggunakan kuesioner terstruktur yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Kuesioner yang digunakan terdiri dari tiga bagian utama. Pertama, kuesioner karakteristik responden yang mencakup informasi demografi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, dan Kedua, kuesioner dukungan keluarga yang diadaptasi dari Nursalam . sebagaimana dikutip oleh Widyawati . , yang terdiri dari 10 pernyataan positif menggunakan skala Likert . = selalu, 3= sering, 2= kadang-kadang, 1= tidak perna. Ketiga, kuesioner efikasi diri yang diadaptasi dari penelitian Meydiawati . , yang terdiri dari 16 pernyataan mengenai aspek personal hygiene, perilaku sehat, pola makan, pengobatan, serta pemahaman informasi tentang TB paru. Sebelum digunakan, kuesioner diuji validitasnya menggunakan uji validitas Pearson dan reliabilitasnya dengan CronbachAos alpha. Hasil uji menunjukkan bahwa kuesioner memiliki validitas dan reliabilitas yang baik. Data dikumpulkan oleh peneliti utama dengan bantuan tenaga kesehatan yang telah mendapatkan pelatihan untuk memastikan prosedur wawancara berjalan sesuai standar. Wawancara dilakukan secara langsung di ruang konsultasi Poliklinik Paru RSUD Poso guna menjamin kenyamanan dan privasi Analisis Data Data yang dikumpulkan dikodekan dan dianalisis menggunakan perangkat lunak statistik SPSS versi Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif bertujuan untuk menggambarkan karakteristik responden, sementara analisis inferensial menggunakan uji Fisher untuk menguji hubungan antara dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB paru. Hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi serta ringkasan statistik yang relevan. Etika Penelitian Sebelum dilakukan pengumpulan data, semua responden diberikan informasi yang jelas mengenai tujuan, manfaat, serta prosedur penelitian. Informed consent diperoleh secara tertulis dari setiap responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Untuk menjaga kerahasiaan data, setiap responden diberikan kode identifikasi anonim, dan seluruh data disimpan dengan aman serta hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk agregat tanpa menyebutkan identitas individu untuk menjaga privasi responden. HASIL Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Umur . Remaja Akhir . Dewasa Awal . Ae . Dewasa Akhir . Lansia Awal . Lansia Akhir . Manula (> . Pendidikan Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Perguruan Tinggi Pekerjaan Bekerja Tidak Bekerja Total Sebagian besar responden dalam penelitian ini berjenis kelamin perempuan . ,8%). Sebanyak 22,7% responden dalam kategori dewasa akhir . -45 tahu. Sebagian besar responden memiliki pendidikan Sekolah Menengah Atas . ,2%) dan memiliki status bekerja . ,8%). Tabel 2 menunjukan bahwa jumlah responden paling Nining Nirmalasari. Moh W. Matorang. Detrina F. Uramako. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 161-167 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. banyak dengan dukungan keluarga pada kategori baik . ,5%). Sebanyak 88,6% responden yang memiliki efikasi diri dalam kategori baik. Tabel 2. Dukungan keluarga dan efikasi diri pasien TB Paru Variabel Dukungan keluarga Baik Cukup Efikasi diri Baik Kurang Total Tabel 3. Hubungan karakteristik responden dan dukungan keluarga dengan efikasi diri pasien TB Paru yang menjalani pengobatan Variabel Pendidikan Pendidikan dasar dan menengah Pendidikan tinggi Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Pekerjaan Bekerja Tidak bekerja Dukungan keluarga Baik Cukup Kurang Efikasi diri Baik <0,001 p value Total 0,069 Tabel 3 menunjukkan ada hubungan dukungan keluarga . = <0,. dengan efikasi diri pasien TB Paru yang menjalani pengobatan. Sedangkan pendidikan . = 0,. , jenis kelamin . = 0,. , dan pekerjaan . = 1,. tidak berhubungan dengan efikasi diri pasien TB Paru yang menjalani pengobatan. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin perempuan. Temuan ini berbeda dengan penelitian Anggita Medyantri . yang menemukan bahwa laki-laki lebih dominan sebagai penderita tuberkulosis. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh karakteristik responden dalam penelitian ini, di mana sebagian besar laki-laki yang terlibat masih berusia lebih muda dibandingkan responden perempuan. Faktor lain yang dapat memengaruhi adalah mobilitas laki-laki yang lebih tinggi dan paparan lingkungan yang lebih besar, sebagaimana dijelaskan oleh Rozi . , bahwa laki-laki lebih rentan terhadap TB karena aktivitas luar ruangan yang lebih tinggi dan interaksi sosial yang lebih sering dengan orang lain, termasuk mereka yang terinfeksi TB. Dari segi usia, kelompok dewasa akhir menjadi kategori yang paling banyak dalam penelitian ini. Usia telah dikenal sebagai faktor risiko dalam kejadian TB paru. Studi yang dilakukan oleh BMC Public Health . menunjukkan bahwa individu berusia lanjut memiliki risiko lebih tinggi untuk berperilaku kurang baik dalam pencegahan TB paru. Hal ini disebabkan oleh perubahan kebiasaan hidup yang kurang sehat seiring bertambahnya usia, serta kurangnya kesadaran terhadap pencegahan penyakit. Selain itu, faktor imunologi yang menurun pada lansia juga meningkatkan kerentanan terhadap TB, sebagaimana dijelaskan oleh Azura et al. yang menyoroti bahwa rendahnya pemahaman dan persepsi yang salah tentang TB dapat memperburuk kondisi kesehatan individu. Tingkat pendidikan juga memiliki implikasi terhadap kejadian TB paru, namun tidak selalu menjadi faktor penentu utama dalam penyebaran penyakit ini. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan setingkat SMA, yang sejalan dengan penelitian Meitasari . yang menyatakan bahwa pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang terhindar dari TB jika perilaku hidup sehat tidak diterapkan. Sebaliknya, individu dengan pendidikan lebih rendah tetapi memiliki kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat dapat lebih terhindar dari infeksi TB. Dalam aspek pekerjaan, sebagian besar responden dalam penelitian ini merupakan pekerja. Paparan yang lebih tinggi terhadap lingkungan sosial dan interaksi dengan orang lain meningkatkan risiko penularan TB pada kelompok pekerja, terutama mereka yang bekerja di sektor dengan tingkat interaksi manusia yang tinggi, seperti Nining Nirmalasari. Moh W. Matorang. Detrina F. Uramako. Jurnal Keperawatan Tropis Papua, 7 . , 2024: 161-167 DOI: https://doi. org/10. 47539/jktp. pertambangan, pertanian, dan perikanan (Chung et al. , 2. Pekerjaan yang membutuhkan kontak erat dengan banyak orang meningkatkan kemungkinan individu terkena TB dari rekan kerja atau lingkungan kerja yang kurang Dukungan keluarga memainkan peran krusial dalam keberhasilan pengobatan TB paru. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mendapatkan dukungan keluarga yang baik. Temuan ini didukung oleh penelitian Rani . yang menunjukkan bahwa dukungan keluarga yang baik dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan TB. Dukungan keluarga mencakup aspek emosional, informasional, dan instrumental, yang semuanya berkontribusi pada peningkatan motivasi pasien dalam menjalani pengobatan. Pasien yang mendapatkan dukungan keluarga cenderung lebih disiplin dalam menjalani terapi dan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih baik terhadap regimen pengobatan (Putri et al. , 2. Efikasi diri juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengobatan TB. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar responden memiliki efikasi diri yang tinggi. Efikasi diri, sebagaimana dijelaskan oleh teori sosial kognitif, mengacu pada keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan suatu tugas atau menghadapi tantangan. Sukartini et al. menyebutkan bahwa individu dengan efikasi diri yang tinggi lebih cenderung untuk tetap patuh terhadap pengobatan dan memiliki sikap yang lebih positif terhadap penyakitnya. Hal ini juga sejalan dengan penelitian Putra et al. yang menunjukkan bahwa pasien dengan dukungan keluarga yang kuat memiliki efikasi diri yang lebih tinggi karena mereka merasa tidak sendirian dalam menghadapi Dukungan keluarga dan efikasi diri memiliki hubungan yang erat dalam meningkatkan kepatuhan pasien TB terhadap pengobatan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa beberapa responden dengan dukungan keluarga yang kurang tetap memiliki efikasi diri yang baik. Hal ini dapat dikaitkan dengan tingkat pendidikan mereka yang lebih tinggi, yang memungkinkan mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pengobatan TB. Penelitian ini menguatkan pentingnya pendekatan holistik dalam penanganan TB, di mana intervensi berbasis keluarga dan peningkatan efikasi diri pasien perlu diperhatikan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan. IMPLIKASI DAN KETERBATASAN Temuan dalam penelitian ini memiliki implikasi penting bagi ilmu keperawatan, khususnya dalam konteks perawatan pasien dengan penyakit tropis seperti tuberkulosis paru. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa dukungan keluarga yang baik dapat meningkatkan efikasi diri pasien, yang berkontribusi terhadap kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Oleh karena itu, perawat dan tenaga kesehatan lainnya perlu mengintegrasikan pendekatan berbasis keluarga dalam perawatan pasien TB, termasuk pemberian edukasi kepada keluarga tentang peran mereka dalam mendukung pasien. Selain itu, strategi intervensi psikososial dapat dikembangkan untuk meningkatkan efikasi diri pasien guna memastikan keberhasilan terapi jangka panjang. Namun, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Penelitian ini dilakukan di satu fasilitas kesehatan saja, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih luas. Selain itu, pendekatan cross-sectional yang digunakan hanya menggambarkan hubungan antara variabel pada satu titik waktu dan tidak dapat mengidentifikasi hubungan kausal. Faktor lain seperti kondisi sosial ekonomi dan akses terhadap layanan kesehatan juga tidak dieksplorasi lebih lanjut dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut dengan desain longitudinal dan cakupan wilayah yang lebih luas diperlukan untuk memahami lebih dalam faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan pengobatan pasien TB. KESIMPULAN Penelitian ini menemukan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan efikasi diri pada pasien TB paru yang menjalani pengobatan di Poliklinik Paru RSUD Poso. Perawat dan tenaga kesehatan diharapkan lebih aktif dalam mengedukasi keluarga pasien mengenai peran mereka dalam mendukung pasien TB. Selain itu, pengembangan program intervensi berbasis keluarga yang berfokus pada peningkatan efikasi diri pasien perlu dipertimbangkan. Studi lanjutan dengan desain longitudinal dan cakupan yang lebih luas disarankan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam terkait faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan terapi TB paru. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih peneliti ucapkan kepada ketua STIKES Husada Mandiri Poso, jajaran RSUD Poso, dan seluruh pasien yang bersedia menjadi responden selama penelitian ini dilaksanakan. REFERENSI