Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam ISSN : 2621-4881 (Printe. ,: 2656-8543 (Onlin. Volume 9. Nomor 2. Desembe https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Alamtara This is an open access article under the CCBYSA Naskah masuk 23-Juli-2025 Direvisi Diterima Diterbitkan 31-Agustus-2025 19-November-2025 31-Desember-2025 DOI : https://doi. org/10. 58518/alamtara. Narasi Kebencian dan Krisis Etika Komunikasi di Media Sosial: Analisis Wacana Dakwah di Tengah Disinformasi Digital Abd. Kholiq Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan Indonesia kholiq@iai-tabah. Sutikno Institut Agama Islam Tarbiyatut Tholabah Lamongan Indonesia sutikno@iai-tabah. ABSTRAK: Fenomena narasi kebencian di media sosial mencerminkan krisis etika komunikasi yang semakin kompleks di era disinformasi digital. Dakwah yang seharusnya menjadi sarana pendidikan moral kini kerap terjebak dalam retorika polarisatif yang mempersempit ruang dialog keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital serta mengkaji relasinya dengan krisis etika komunikasi di tengah arus disinformasi. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Critical Discourse Analysis (CDA) model Fairclough, penelitian ini menganalisis konten dakwah di platform YouTube. X (Twitte. , dan TikTok yang menampilkan ujaran kebencian dan bias ideologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa disinformasi berperan sebagai pemicu utama munculnya narasi kebencian, yang kemudian memperparah krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital. Bahasa dakwah yang bersifat konfrontatif cenderung membangun dikotomi moral antara AukamiAy dan AumerekaAy, memperkuat polarisasi sosial, serta melemahkan prinsip tabligh bil hikmah. Namun demikian, dakwah digital juga berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dikelola dengan nilai-nilai rahmatan lil Aoalamin yang menekankan empati, kejujuran, dan tanggung jawab sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi etika komunikasi Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 digital dan penerapan prinsip discourse ethics merupakan fondasi penting dalam membangun ruang dakwah yang beradab dan inklusif di era disinformasi global. Kata Kunci: Narasi kebencian. Etika komunikasi. Disinformasi digital. Dakwah. Analisis wacana kritis. ABSTRACT: The phenomenon of hate speech narratives on social media reflects an increasingly complex crisis in communication ethics in the digital disinformation era. Dakwah, which should be a means of moral education, is now often trapped in polarizing rhetoric that narrows the space for religious dialog. This research aims to analyze the construction of hate narratives in digital preaching discourse and examine their relationship to the crisis of communication ethics amidst the flow of disinformation. Using a descriptive qualitative approach with Fairclough's Critical Discourse Analysis (CDA) method, this study analyzes the content of religious sermons on the YouTube. X (Twitte. , and TikTok platforms that feature hate speech and ideological bias. The research findings indicate that disinformation serves as the primary trigger for the emergence of hate narratives, which then exacerbate the crisis of communication ethics in the digital preaching space. Confrontational da'wah language tends to create a moral dichotomy between "us" and "them," strengthen social polarization, and weaken the principle of tabligh bil hikmah . reaching with wisdo. However, digital preaching also has the potential to be an instrument of moral restoration when managed with the values of rahmatan lil 'alamin, which emphasize empathy, honesty, and social This research confirms that digital communication ethics literacy and the application of discourse ethics principles are essential foundations for building a civilized and inclusive da'wah space in the era of global disinformation. Keywords: Hate narratives. Communication ethics. Digital disinformation. Da'wah. Critical discourse analysis. PENDAHULUAN Disinformasi telah berkembang menjadi salah satu tantangan global terbesar yang dihadapi masyarakat modern. Dengan perkembangan teknologi digital yang pesat, kemampuan untuk menyebarkan informasi yang salah atau menyesatkan telah meningkat secara eksponensial, menciptakan risiko besar terhadap stabilitas social, politik, dan ekonomi seluruh dunia. Disinformasi tidak hanya menyesatkan individu, tetapi jugamemiliki potensi untuk mengganggu proses demokrasi, menciptakan perpecahan dalam masyarakat, dan bahkan memicu konflik antar Negara (Mauliansyah 2. Disamping itu juga bahwa media sosial telah merevolusi cara manusia berinteraksi dan berdakwah, menjadi arena komunikasi keagamaan yang Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 luas sekaligus penuh paradoks. Keterhubungan global yang semula dirayakan sebagai simbol kemajuan kini menjadi pedang bermata dua (Ronika 2. Di Indonesia, ruang digital seperti YouTube. X (Twitte. , dan TikTok tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran nilai-nilai Islam, tetapi juga menjadi ladang subur bagi munculnya narasi kebencian dan disinformasi digital yang membingkai pesan dakwah secara bias. Dalam konteks ini, etika komunikasi mengalami krisis karena batas antara dakwah dan ujaran kebencian menjadi semakin kabur. Pesan moral yang seharusnya berlandaskan kasih sayang dan keadilan kerap berubah menjadi retorika konfrontatif, terutama ketika algoritma media sosial memperkuat konten provokatif demi keterlibatan publik. Menurut Cvetkovska, hate speech di ruang digital telah menjadi bentuk ekspresi sosial yang mencerminkan degradasi moral public (Cvetkovska 2. , sedangkan Pitaloka menegaskan pentingnya etika dakwah yang berpijak pada nilai-nilai hadits untuk menjaga komunikasi keagamaan dari distorsi moral (Pitaloka 2. Al-QurAoan telah menjelaskan terkait bagaimana dakwah yang harus dilakukan agar madAou dalam menerima dakwah tidak merasa terprovokasi, penerimaan dakwah bisa lebih menyenangkan sesuai dengan kondisi madAou, dalam surat al-Nahl ayat 125 a Aa eO aE aaEa a eEa eE aI a aO eE aI eO aA Aa eOEaN aON aaOA a A eIA a A acEA a A aI a acI aacEa N aaO a eEa aI a aI eIA a eAaO aA a A a eE aA a Aaea aEOA e aAIa a aO a a eE aN eI aEacA a AONA )125 :16/A ( EIEAu Aa eEa aI a eE aI eNa a eO aIA Artinya: AuSerulah . ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dia . yang paling tahu siapa yang mendapat petunjukAy. (AnNahl/16:. Pelaksanaan dakwah metode hikmah muncul dalam berbagai bentuk, yakni: . Mengenal strata madAou. Kapan harus bicara, kapan harus diam. Mencari titik temu. Toleran tanpa kehilangan sibghah. Memilih kata yang tepat. Cara berpisah. Uswatun hasanah dan . Lisanul Hal. (Suparta and Hefni 2. Dalam konteks yang lebih luas. Brugnoli menggunakan Moral Foundations Theory untuk menunjukkan bahwa disinformasi dan ujaran kebencian sering kali Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 berakar pada penyimpangan nilai moral, yang mengakibatkan ketegangan sosial dan penurunan kualitas komunikasi public (Brugnoli. Gravino, and Prevedello 2. Sementara itu. Kumar & Maurya menyoroti bagaimana algoritma media sosial memperlemah rasionalitas diskursif, sehingga komunikasi keagamaan berpotensi menjadi sarana legitimasi ideologis daripada refleksi moral (Kumar and Maurya Di era digital yang dipenuhi dengan arus informasi yang deras, penyebaran informasi yang salah menjadi tantangan besar, termasuk dalam dakwah. Informasi yang tidak akurat dapat merusak kredibilitas dakwah dan menyesatkan jamaah. Oleh karena itu, mengatasi penyebaran informasi yang salahmenjadi sangat pentingbagi para dai dan penggiat dakwah digital (Latif 2. Kondisi ini memperlihatkan bahwa fenomena narasi kebencian di ruang dakwah digital tidak hanya merupakan persoalan linguistik, tetapi juga mencerminkan krisis etika komunikasi di era disinformasi. Pendekatan discourse ethics yang dikemukakan oleh Gracia-Calandyn & Suyrez-Montoya menekankan perlunya komunikasi yang berlandaskan tanggung jawab moral, rasionalitas, dan kejujuran agar ruang publik digital tetap etis (Gracia-Calandyn and Suyrez-Montoya 2. Dalam konteks dakwah Islam, nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip tabligh bil hikmah yang mengedepankan kebijaksanaan dan empati. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak konten dakwah yang justru memperkuat eksklusivitas dan intoleransi, sebagaimana ditemukan oleh Essalhi-Rakrak dalam penelitiannya mengenai ujaran kebencian berbasis agama di Twitter (Essalhi-Rakrak 2. Di sisi lain. VojinoviN & Davidov menekankan pentingnya pendidikan media dan literasi etika komunikasi digital sebagai solusi untuk menekan penyebaran ujaran kebencian dan disinformasi (VojinoviN and Davidov 2. Di Indonesia, sebagaimana diuraikan oleh Zahirah, perlawanan terhadap disinformasi dan ujaran kebencian merupakan tanggung jawab moral seluruh warga digital (Zahirah 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi konstruksi narasi kebencian dalam wacana dakwah digital, menganalisis relasi antara disinformasi dan krisis etika komunikasi, serta menawarkan model komunikasi dakwah yang etis dan kontekstual. Dari aspek teoretis, penelitian ini mengintegrasikan tiga perspektif besar etika komunikasi. Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 analisis wacana kritis, dan studi media digital sebagai upaya memperkaya wacana akademik mengenai moralitas komunikasi di era disinformasi global. Fenomena narasi kebencian dan krisis etika komunikasi di media sosial tidak dapat dipahami secara parsial. keduanya merupakan hasil dari interaksi kompleks antara struktur digital, budaya komunikasi, dan nilai-nilai moral keagamaan. Dalam konteks dakwah, disinformasi berperan sebagai katalis yang mengubah pesan keagamaan menjadi sarana polarisasi. Berdasarkan temuan Brugnoli, penyebaran disinformation di media sosial berkaitan erat dengan bias moral dan nilai ideologis yang terinternalisasi pada pengguna (Brugnoli et al. Disinformasi menciptakan narasi manipulatif yang menyesatkan publik, mengaburkan kebenaran dakwah, serta menimbulkan persepsi negatif terhadap kelompok agama lain. Akibatnya, ruang dakwah digital sering kali bergeser dari fungsi edukatif menuju arena pertarungan wacana dan klaim kebenaran. Proses inilah yang memunculkan narasi kebencian, yaitu bentuk ekspresi linguistik dan ideologis yang secara sistematis menolak atau menyerang Auyang berbedaAy dengan legitimasi moral atau religius tertentu. Menurut Gracia Calandyn & Suyrez Montoya, ujaran kebencian semacam ini hanya dapat diurai melalui pendekatan discourse ethics yakni prinsip komunikasi yang rasional, transparan, dan berlandaskan tanggung jawab moral terhadap public (GraciaCalandyn and Suyrez-Montoya 2. Dengan demikian, etika komunikasi bukan sekadar norma perilaku individu, melainkan kerangka rasional yang memastikan wacana publik tetap beradab meski dalam perbedaan pendapat. Untuk menjelaskan dinamika tersebut, penelitian ini menggunakan integrasi beberapa teori utama. Pertama. Teori Etika Komunikasi Jyrgen Habermas, yang menekankan bahwa komunikasi etis harus berorientasi pada kejujuran . , keabsahan . , dan ketulusan . sebagai dasar legitimasi sosial. Teori ini digunakan untuk menilai sejauh mana dakwah digital mematuhi norma rasional dan moral dalam penyebaran pesan. Kedua. Analisis Wacana Kritis (CDA) dari Norman Fairclough, yang berfungsi mengurai struktur ideologis dan kekuasaan di balik bahasa dakwah, terutama dalam konstruksi ujaran kebencian yang membingkai Auyang lainAy sebagai ancaman. CDA memungkinkan peneliti menelusuri tiga level analisis: teks, praktik wacana, dan praktik sosial. Ketiga. Teori Spiral of Silence Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 (Noelle-Neuman. menjelaskan mengapa sebagian pengguna media sosial memilih diam atau ikut arus dominan ketika dihadapkan pada narasi kebencian yang populer secara algoritmik. Dalam konteks dakwah, teori ini membantu memahami bagaimana penguatan algoritma mempersempit ruang bagi wacana alternatif yang lebih etis dan Ketiga teori ini saling melengkapi dalam menjelaskan hubungan antara disinformasi digital (XCA) sebagai variabel independen, narasi kebencian (YCA) sebagai variabel mediasi, dan krisis etika komunikasi (YCC) sebagai variabel dependen. Sementara itu, wacana dakwah digital (Z) berperan sebagai variabel moderator yang dapat memperkuat atau memperlemah hubungan tersebut tergantung pada sejauh mana nilai-nilai dakwah Islam diterapkan secara konsisten dalam komunikasi daring. Model analisis ini menggambarkan bahwa peningkatan disinformasi akan narasi kebencian, yang pada gilirannya memperburuk krisis etika komunikasi. Namun, bila nilai dakwah dan literasi etika komunikasi diperkuat, maka efek destruktif ini dapat diminimalkan. Dengan kerangka konseptual ini, penelitian berupaya membangun dasar teoritis untuk memahami bagaimana dakwah dapat menjadi sarana restorasi moral di tengah derasnya arus disinformasi digital yang mengancam integritas komunikasi publik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan kerangka Critical Discourse Analysis (CDA) dari Norman Fairclough untuk menganalisis konstruksi bahasa, praktik wacana, dan konteks sosial yang melatarbelakangi munculnya narasi kebencian dalam dakwah digital (Zaenab. Munawarah, and Nisa Pendekatan ini dipilih karena permasalahan yang dikaji bersifat interpretatif dan menuntut pemahaman terhadap makna serta ideologi yang tersembunyi di balik teks dan interaksi daring. CDA diaplikasikan dalam tiga level analisis, yakni analisis teks . truktur linguistik yang mengandung ujaran kebencian dan bias ideologi. , analisis praktik wacana . onteks produksi dan penyebaran pesan dakwah di media sosia. , dan analisis praktik sosial . efleksi terhadap krisis etika komunikasi dalam konteks sosial keagamaa. Sumber data utama berupa konten dakwah digital di YouTube. X (Twitte. , dan TikTok yang mengandung ujaran kebencian dan elemen Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 disinformasi, dikumpulkan melalui teknik observasi daring, dokumentasi digital, dan wawancara semi-terstruktur dengan tokoh dakwah dan pakar komunikasi digital. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling, menargetkan akun dengan pengaruh signifikan dan keterlibatan publik tinggi pada periode 2023Ae2025. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui identifikasi struktur narasi kebencian, analisis retorika dakwah, dan interpretasi sosial dengan merujuk pada teori Etika Komunikasi (Haberma. Analisis Wacana Kritis (Faircloug. , dan Spiral of Silence (NoelleNeuman. Validitas dan reliabilitas data dijaga melalui triangulasi teori, sumber, dan metode, serta verifikasi hasil melalui member checking kepada informan untuk memastikan interpretasi sesuai konteks. Fokus utama penelitian adalah menjelaskan bagaimana disinformasi memperkuat narasi kebencian yang pada akhirnya melahirkan krisis etika komunikasi di ruang dakwah digital, serta bagaimana nilainilai dakwah Islam yang berorientasi pada keadilan, empati, dan tanggung jawab moral dapat berfungsi sebagai kekuatan moderasi untuk merestorasi kembali etika komunikasi di tengah derasnya arus disinformasi global. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi kebencian yang berkembang di media sosial merupakan manifestasi dari interaksi kompleks antara struktur teknologi, budaya komunikasi daring, dan lemahnya nilai etika dalam praktik dakwah digital. Berdasarkan hasil analisis terhadap konten dakwah di platform YouTube. X (Twitte. , dan TikTok, ditemukan bahwa sebagian besar pesan keagamaan yang viral cenderung menonjolkan unsur retorika konfrontatif serta membangun dikotomi moral antara AukamiAy dan AumerekaAy. Bentuk wacana semacam ini tidak hanya mempersempit ruang dialog, tetapi juga memunculkan spiral of polarization yang memperkuat segregasi sosial berbasis ideologi dan agama. Sebagaimana dikemukakan oleh Cvetkovska, narasi kebencian di ruang digital seringkali lahir dari upaya Aupembersihan etisAy yang justru memunculkan bentuk baru intoleransi yang disamarkan dalam bahasa moralitas (Cvetkovska 2. Dalam konteks dakwah, disinformasi memainkan peran sebagai katalis yang mengubah pesan keagamaan menjadi alat pembenaran bagi klaim kebenaran eksklusif. Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 menimbulkan persepsi negatif terhadap kelompok lain, dan memunculkan krisis kepercayaan terhadap figur keagamaan. Hasil analisis wacana memperlihatkan bahwa disinformasi digital menjadi elemen utama yang memproduksi dan memperluas narasi kebencian dalam ruang Informasi palsu atau setengah benar yang dikemas dengan simbol keagamaan menciptakan efek legitimasi moral yang kuat, sehingga audiens sulit membedakan antara kebenaran dakwah dan opini subjektif yang dimanipulasi. Hal ini diperkuat oleh temuan Brugnoli yang menjelaskan bahwa bias nilai moral dalam konstruksi pesan daring mendorong munculnya moral dissonance, yaitu ketegangan antara keyakinan pribadi dan kebenaran objektif (Brugnoli et al. Fenomena ini juga berkorelasi dengan hasil penelitian Kumar & Maurya yang mengungkap bahwa algoritma media sosial secara sistematis memperkuat konten ekstrem melalui mekanisme echo chamber, di mana pengguna hanya terpapar pada pandangan yang memperkuat keyakinan mereka sendiri (Kumar and Maurya 2. Dalam kerangka teori Spiral of Silence (Noelle-Neuman. , situasi ini menciptakan tekanan sosial bagi kelompok minoritas yang memiliki pandangan berbeda, sehingga menurunkan kualitas komunikasi rasional dan mengaburkan prinsip etika publik. Dalam dakwah digital, mekanisme tersebut menghasilkan siklus komunikasi yang lebih reaktif ketimbang reflektif, dengan kecenderungan memperkuat amarah kolektif daripada menumbuhkan pemahaman spiritual. Lebih jauh, penelitian ini menemukan bahwa krisis etika komunikasi yang terjadi di ruang dakwah digital berkaitan langsung dengan degradasi moral dan hilangnya orientasi kejujuran dalam penyebaran pesan publik. Analisis teks menunjukkan bahwa sebagian pendakwah digital memanfaatkan narasi sensasional atau provokatif untuk meningkatkan visibilitas algoritmik tanpa memperhatikan prinsip tabligh bil hikmah sebagaimana dianjurkan dalam hadis. Pandangan Pitaloka memperkuat temuan ini, dengan menegaskan bahwa komunikasi dakwah yang etis harus mengutamakan keadilan, kebijaksanaan, dan penghormatan terhadap perbedaan (Pitaloka 2. Krisis etika yang muncul bukan hanya persoalan individu, tetapi juga bersifat struktural karena ekosistem media sosial mendorong kompetisi atensi yang mengabaikan nilai-nilai moral. Hal ini sejalan dengan argumen Gracia530 Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 Calandyn & Suyrez-Montoya bahwa discourse ethics merupakan mekanisme penting dalam mengembalikan rasionalitas publikAiyakni komunikasi yang berlandaskan kejujuran, tanggung jawab, dan keterbukaan terhadap pandangan lain (GraciaCalandyn and Suyrez-Montoya 2. Dalam konteks dakwah, etika wacana semacam ini dapat menjadi panduan moral untuk menjaga agar dakwah tetap berfungsi sebagai ruang pencerahan, bukan arena pertikaian ideologis. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan dimensi positif dari wacana dakwah digital sebagai variabel moderator moral yang dapat menahan laju degradasi etika komunikasi. Beberapa konten dakwah memperlihatkan kemampuan untuk mengubah disinformasi menjadi ruang edukatif dengan pendekatan yang empatik dan dialogis. Pendakwah yang konsisten menerapkan nilai rahmatan lil Aoalamin mampu mengubah ruang digital menjadi arena literasi moral dan spiritual yang menumbuhkan kesadaran kritis terhadap bahaya ujaran kebencian. Pandangan ini didukung oleh Zahirah yang menekankan pentingnya partisipasi warga digital dalam menolak disinformasi sebagai bentuk tanggung jawab etika public (Zahirah 2. Selain itu. VojinoviN & Davidov mengingatkan bahwa literasi media dan pendidikan etika komunikasi digital adalah langkah strategis dalam menekan eskalasi ujaran kebencian di internet (VojinoviN and Davidov 2. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa disinformasi digital berfungsi sebagai variabel pemicu, narasi kebencian sebagai bentuk ekspresi ideologis, dan krisis etika komunikasi sebagai konsekuensi sosial dari hilangnya tanggung jawab moral dalam wacana keagamaan. Akan tetapi, penerapan nilai-nilai dakwah Islam yang berorientasi pada keadilan, empati, dan kejujuran berpotensi menjadi kekuatan restoratif yang menyeimbangkan kembali moralitas komunikasi di era disinformasi KESIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa narasi kebencian di ruang dakwah digital merupakan hasil dari interaksi sinergis antara disinformasi digital, polarisasi ideologis, dan krisis etika komunikasi yang semakin menajam di era media sosial. Disinformasi berperan sebagai pemicu utama terbentuknya wacana kebencian yang Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 sering kali dikemas dengan bahasa religius, sehingga memperoleh legitimasi moral di mata publik. Dalam konteks dakwah, fenomena ini tidak hanya menurunkan kualitas pesan keagamaan, tetapi juga menggeser orientasi dakwah dari fungsi edukatif menuju kompetisi simbolik yang sarat dengan klaim kebenaran. Analisis berbasis Critical Discourse Analysis (CDA) mengungkap bahwa pola kebahasaan dalam konten dakwah digital cenderung membangun dikotomi moral antara Auyang benarAy dan Auyang sesatAy, mempersempit ruang dialog, serta memperlemah prinsip tabligh bil hikmah yang menekankan kebijaksanaan dan kasih sayang. Dengan demikian, krisis etika komunikasi yang terjadi dalam wacana dakwah digital bukan sekadar akibat perilaku individu, melainkan refleksi dari struktur algoritmik media sosial yang mendorong logika sensasional dan reduksi moral terhadap pesan dakwah. Dari temuan ini menegaskan pentingnya literasi etika komunikasi digital sebagai pilar utama dalam menjaga moralitas publik di ruang maya, sekaligus membuka ruang konseptual baru untuk memahami hubungan antara nilai dakwah, kebenaran moral, dan tanggung jawab sosial. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi lembaga dakwah, pemerintah, dan masyarakat sipil dalam merumuskan strategi komunikasi digital yang menekankan prinsip empati, transparansi, dan keadilan. Upaya membangun ekosistem dakwah yang beretika perlu dilakukan melalui pendidikan literasi digital berbasis nilai Islam rahmatan lil Aoalamin dan penerapan kebijakan yang mendorong akuntabilitas komunikasi publik di media sosial. Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas kajian ke arah analisis kuantitatif mengenai persepsi audiens terhadap narasi kebencian atau menghasilkan model konseptual yang lebih komprehensif dan aplikatif. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa dakwah digital berpotensi menjadi instrumen restorasi moral apabila dijalankan dengan kesadaran etis yang kuat, menjadikan komunikasi keagamaan bukan sekadar sarana penyebaran informasi, tetapi juga media pembentukan akhlak dan keadaban publik di tengah arus disinformasi global. Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika Alamtara : Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam Vol 9 No 2 Tahun 2025 BIBLIOGRAFI Brugnoli. Gravino, and G. Prevedello. AuMoral Values in Social Media for Disinformation and Hate Speech Analysis. Ay Pp. 65Ae82 in Lecture Notes in Computer Science. Springer. Cvetkovska. AuThe Narrative in Digital Space. Hate Speech. Fake News, and Attempt for Their Ethical Cleansing. Ay Kairos Journal 1. :99Ae118. Essalhi-Rakrak. Au#EspayaInvadida: Disinformation and Hate Speech towards Refugees on Twitter Ae A Challenge for Critical Thinking. Ay Comunicar 31. :45Ae58. Gracia-Calandyn. , and L. Suyrez-Montoya. AuThe Eradication of Hate Speech on Social Media: A Systematic Review. Ay Journal of Information. Communication and Ethics in Society 21. :563Ae82. doi: 10. 1108/JICES-11-2022-0098. Kumar. , and M. Maurya. AuOnline Public Sphere and Threats of Disinformation. Extremism and Hate Speech: Reflections on Threat-Mitigation. Ay International Communication Gazette 86. :233Ae49. 1177/01968599241292623. Latif. DasAoad. New Media Dan Dakwah. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Mauliansyah. Fiandy. Disinformasi Dan Manipulasi Di Media Digital. Jambi: PT. Sonpedia Publishing Indonesia. Pitaloka. AuThe Ethic of Social Media in Responding to Hate Speech from the Perspective of Hadith. Ay EduSoshum Journal 2. :53Ae70. Ronika. Zita. Perang Tak Terlihat: Ketika Narasi Menjadi Peluru. Lamongan: CV. Detak Pustaka. Suparta. Munzier, and Harjani Hefni, eds. Metode Dakwah. Jakarta: Prenadamedia Group. VojinoviN. , and T. Davidov. AuHate Speech and Disinformation Contrary to Ethics and Media Education. Ay Social Informatics Journal 1. :43Ae45. Zaenab. Cut. Raudatul Munawarah, and Khairatun Nisa. AuHate Speech To Religion In Social Media: Analysis Of Dakwah Content In The New Normal Era BT - Proceedings Dirundeng International Conference on Islamic Studies (DICIS). Ay Pp. 129Ae36 in Vol. Banda Aceh. Indonesia: Dirundeng International Conference on Islamic Studies. Zahirah. AuThe Role of Citizens in Countering Disinformation and Hate Speech on Social Media. Ay Civic Education and Public Policy Journal 7. :120Ae36. Ab. Kholiq. Sutikno Narasi Kebencian dan Kerisis Etika