Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar (EISSN: 3031-8. Volume 2. Nomor 2. Julii 2025 . Pengembangan Bahan Ajar Singkatan dan Akronim Berbasis Kontekstual untuk Siswa Sekolah Dasar Ahmad Afandi Universitas PGRI Argopuro Jember. Jawa Timur. Indonesia Email: aafandi832@gmail. Article Info Article History Submission: 2025-05-14 Accepted: 2025-07-16 Published: 2025-07-25 Keywords: Teaching Materials. Abbreviations. Acronyms. Contextual Learning. Artikel Info Sejarah Artikel Penyerahan: 2025-05-14 Diterima: 2025-07-16 Dipublikasi: 2025-07-25 Kata kunci: Bahan Ajar. Singkatan. Akronim. Pembelajaran Kontekstual. Abstract This research focused on designing teaching materials grounded in contextual learning, specifically targeting the use of abbreviations and acronyms within fifth-grade Indonesian language education. The research was motivated by the lack of explicit micro-linguistic content in conventional textbooks and the limited integration of language instruction with students' real-life experiences. Employing a Research and Development (R&D) design with the 4-D model (Define. Design. Develop. Disseminat. adapted from Thiagarajan et . , the study involved 15 purposively selected students from SDN Sumbersari 02 Jember. Validation by two experts assessing content relevance, visual integration, and curriculum alignment yielded an average validity score of 90% . ighly vali. Practicality, measured through Likert-scale observation by a classroom teacher on four key indicators, scored 96%. Effectiveness was evaluated using a posttest aligned with core competency indicators, showing that 73% of students met or exceeded the Minimum Mastery Criteria (KKM). The findings suggest that contextualized materials effectively enhance studentsAo conceptual understanding by connecting linguistic content to authentic everyday This study contributes a novel approach to micro-linguistic instruction through contextual learning, an area underrepresented in current material development research, and recommends broader implementation and further study including affective and psychomotor domains. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan ajar berbasis kontekstual untuk topik singkatan dan akronim dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di kelas V sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini adalah minimnya paparan eksplisit terhadap unsur linguistik mikro dalam buku ajar konvensional serta kurangnya keterhubungan materi dengan konteks kehidupan siswa. Metode yang digunakan adalah Research and Development (R&D) dengan model 4-D (Define. Design. Develop. Disseminat. yang dirujuk dari Thiagarajan et al. Uji coba terbatas dilakukan pada 15 siswa SDN Sumbersari 02 Jember dengan pendekatan purposive sampling. Validitas bahan ajar dievaluasi oleh dua ahli dengan cakupan isi materi, keterpaduan visual, dan keterkaitan dengan capaian pembelajaran, memperoleh skor rata-rata 90% . ategori sangat vali. Kepraktisan diperoleh dari hasil observasi guru menggunakan lembar skala Likert terhadap empat indikator utama, menghasilkan skor 96%. Efektivitas diukur dari hasil posttest berbasis indikator kompetensi dasar, menunjukkan bahwa 73% siswa mencapai atau melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan kontekstual pada pembelajaran linguistik mikro efektif meningkatkan pemahaman konseptual siswa melalui keterhubungan antara bahasa dan realitas seharihari. Kontribusi utama studi ini terletak pada inovasi pengembangan bahan ajar berbasis CTL dalam ranah linguistik mikro, topik yang selama ini kurang dikaji serta menyarankan perlunya pengembangan lanjutan dalam skala lebih luas dan melibatkan aspek afektif serta psikomotorik. This is an open access article under the CC BY-SA license. PENDAHULUAN Kemampuan Dalam perkembangan komunikasi modern, terutama di era digital yang menuntut bentuk-bentuk pemendekan seperti singkatan dan akronim menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik kebahasaan sehari-hari. Penggunaan istilah seperti "KTP", "UNESCO", atau "OTW" telah meresap ke dalam berbagai media komunikasi siswa, baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. Namun http://journal. org/index. php/jekas demikian, realitas ini belum sepenuhnya tercermin dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di jenjang sekolah dasar. Fokus pengajaran masih berkutat pada aspek struktural makro, sementara elemen linguistik mikro termasuk pemahaman bentuk, fungsi, dan kaidah penggunaan singkatan dan akronim kurang mendapat perhatian yang proporsional. Padahal, kemampuan memahami bentuk pemendekan tersebut sangat penting dalam membentuk Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar (EISSN: 3031-8. Volume 2. Nomor 2. Julii 2025 . kompetensi kebahasaan yang adaptif, kritis, dan relevan terhadap tuntutan zaman. Hasil observasi awal di SDN Sumbersari 02 Jember memperkuat fakta tersebut. Guru-guru masih menggunakan buku ajar yang tidak memuat pembahasan eksplisit tentang jenis dan aturan pemakaian singkatan dan akronim. Hal ini menyebabkan siswa cenderung keliru dalam membedakan keduanya, tidak memahami konsep pembentukan akronim, serta gagal mengaitkannya dengan konteks sosial yang sebenarnya. Kondisi ini kompetensi linguistik mikro yang seharusnya menjadi fondasi penting dalam mengembangkan kemampuan literasi bahasa secara menyeluruh. Literasi kebahasaan mengacu pada kapasitas menggunakan bahasa dalam situasi otentik, sedangkan kompetensi pragmatik lebih sempit cakupannya, yakni berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa secara tepat dalam situasi komunikasi tertentu (Pramesti & Putri, 2023. Sajaroh. Dengan demikian, pembelajaran singkatan dan akronim tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan kebahasaan, tetapi juga pengembangan kecakapan pragmatis siswa. Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) menawarkan alternatif strategis dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. CTL menempatkan pengalaman nyata siswa sebagai dasar pembentukan konsep, memungkinkan mereka mengaitkan materi ajar dengan dunia sekitar, dan memfasilitasi konstruksi makna secara aktif (Afriani. Prinsip CTL yang menekankan learning by experiencing sangat cocok diterapkan pada materi yang membutuhkan pemahaman fungsional dan aplikatif, termasuk dalam hal singkatan dan Sejumlah efektivitas CTL dalam pembelajaran IPA dan Matematika (Fransiska et al. , 2. , studi serupa pada ranah linguistik mikro masih sangat minim, terlebih pada jenjang sekolah dasar. Hal ini menunjukkan adanya celah kajian . esearch ga. yang perlu dijawab melalui inovasi bahan ajar yang kontekstual, relevan, dan aplikatif dalam ranah Untuk memastikan proses pengembangan bahan ajar berjalan sistematis dan terukur, digunakan model 4-D (Define. Design. Develop. Disseminat. yang diperkenalkan oleh Thiagarajan. Semmel, dan Semmel . Model ini dipilih pengembangan produk secara komprehensif, mulai dari identifikasi kebutuhan, perancangan, validasi dan revisi, hingga uji implementasi awal. Selain memberikan kerangka kerja yang terstruktur, model 4-D juga memungkinkan keterlibatan berbagai pihak guru, ahli materi, dan siswa, dalam proses konstruktif pembelajaran. Keterlibatan aktor pendidikan dalam pengembangan bahan ajar juga menjadi pendekatan yang sejalan dengan prinsip Kurikulum Merdeka, yang menekankan http://journal. org/index. php/jekas diferensiasi dan fleksibilitas pembelajaran berbasis konteks lokal siswa. Dengan permasalahan dan potensi solusi yang ditawarkan oleh pendekatan CTL dan model pengembangan 4-D, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual yang tidak hanya valid dan praktis, tetapi juga efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap aspek linguistik mikro. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi ganda: secara praktis, memperkuat daya dukung guru dalam menyusun materi yang kontekstual dan secara teoretis, memperluas cakupan kajian CTL dalam pengembangan bahan ajar Bahasa Indonesia berbasis mikro-linguistik yang selama ini masih jarang disentuh dalam penelitian pendidikan dasar. II. METODE PENELITIAN Penelitian Research Development (R&D) menghasilkan produk bahan ajar yang valid, praktis, dan efektif. Model pengembangan yang digunakan adalah 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan. Semmel, dan Semmel . , yang mencakup empat tahapan sistematis: Define. Design. Develop, dan Disseminate. Model ini dipilih karena memberikan struktur yang komprehensif dalam merancang, menguji, dan mengimplementasikan bahan ajar secara bertahap, serta telah perangkat pembelajaran berbasis kurikulum. Pada tahap define, dilakukan analisis kebutuhan pembelajaran melalui wawancara dengan guru kelas V serta telaah kurikulum dan buku ajar yang Hasilnya menunjukkan belum adanya bahan ajar yang secara eksplisit membahas singkatan dan akronim dalam konteks kehidupan Analisis konsep, tugas pembelajaran, dan perumusan tujuan pembelajaran disusun sebagai dasar desain bahan ajar berbasis CTL. Tahap Design melibatkan perancangan komponen bahan ajar berdasarkan hasil analisis kebutuhan. Capaian pembelajaran, pemetaan materi, tujuan instruksional, serta format bahan ajar dikembangkan dan disusun secara menyeluruh agar relevan dengan karakteristik peserta didik sekolah dasar. Pada tahap Develop, bahan ajar divalidasi oleh dua ahli, masing-masing dari bidang materi Bahasa Indonesia dan desain pembelajaran. Umpan balik dari para validator digunakan untuk merevisi konten dan tampilan bahan ajar. Setelah itu, dilakukan uji coba terbatas kepada 15 siswa kelas V yang dipilih melalui teknik purposive sampling, berdasarkan keterwakilan kemampuan membaca dan latar belakang akademik yang bervariasi. Tahap terakhir. Disseminate, langsung dalam pembelajaran di kelas serta sosialisasi hasil pengembangan kepada guru dan Meskipun belum dalam skala luas, penyebarluasan awal ini penting untuk menguji Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar (EISSN: 3031-8. Volume 2. Nomor 2. Julii 2025 . keterterimaan dan potensi adaptasi bahan ajar di luar konteks kelas penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah produk berupa bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual pada kelas V SDN Sumbersari 02 Jember berdasarkan Kurikulum Merdeka. Penelitian dilaksanakan di SDN Sumbersari 02 Jember dengan melibatkan 15 siswa kelas V sebagai subjek uji coba. Pemilihan dilakukan secara purposive sampling berdasarkan keberagaman kemampuan membaca, latar belakang akademik, dan kesiapan mengikuti uji coba. Subjek ini merupakan bagian dari populasi siswa kelas V yang Penentuan berdasarkan hasil analisis kebutuhan awal dan pertimbangan praktis keterjangkauan intervensi dalam skala terbatas. Menurut (Sugiyono, 2. mengemukakan bahwa instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati. Instrumen penelitian ini mencakup tiga aspek keefektifan bahan ajar. Validitas bahan ajar dinilai melalui lembar penilaian oleh dua validator ahli . ateri dan desain pembelajara. , dengan skor akhir mencapai 90% . ategori sangat vali. Kepraktisan diukur menggunakan lembar observasi yang diisi oleh guru saat implementasi, mencakup aspek keterpahaman, alur penyajian, dan keterlibatan siswa, dengan hasil kepraktisan sebesar Efektivitas bahan ajar dinilai melalui tes kognitif pasca pembelajaran . yang mengacu pada indikator kompetensi dasar, menunjukkan bahwa 73% siswa mencapai atau melampaui KKM. Seluruh instrumen telah divalidasi isi dan diuji konsistensi internalnya dalam lingkup uji coba Instrumen pendukung seperti pedoman wawancara, dokumentasi, dan angket persepsi siswa juga digunakan untuk memperkaya data dan triangulasi temuan. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif Skor validasi dihitung berdasarkan Kepraktisan dianalisis melalui skor observasi guru penggunaan bahan ajar. Efektivitas dianalisis melalui hasil posttest siswa terhadap Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sekolah yaitu 70. Selain itu, analisis dikaitkan dengan indikator kompetensi dasar (KD) yang ditetapkan dalam Kurikulum Merdeka. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Pengembangan bahan ajar singkatan dan akroni berbasis kontekstual pada siswa kelas V SD, pengembangan (Research and Developmen. yang di adaptasi dari langkah-langkah penelitian dan pengembangan 4D. Penelitian ini menghasilkan bahan ajar berbasis kontekstual dengan topik singkatan dan akronim yang http://journal. org/index. php/jekas dikembangkan melalui empat tahapan model 4D. Hasil penelitian disajikan berdasarkan tiga penggunaan, dan efektivitas hasil belajar siswa. Singkatan dan Akronim Berbasis Kontekstual oleh ahli pertama (I) dinyatakan sangat valid dengan persentase sebesar 88%. Hal ini menunjukkan bahwa bahan ajar singkatan dan akronim layak untuk divalidasi dari segi media. Hasil validasi oleh ahli pertama tersebut menunjukan bahwa bahan ajar singkatan dan akronim layak untuk diujicobakan sesuai dengan hasil validasi Hasil Validasi oleh validator kedua dinyatakan sangat valid dengan persentase 93% berdasarkan tabel berikut: Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Validasi ke-2 Ahli Penilaian Skor Validator I Validator II Hasil Akhir Skol Ideal Keterangan Sangat valid Sangat valid Sangat valid Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual kelayakan dari tiga aspek utama, yakni validitas, kepraktisan, dan efektivitas. Proses validasi dilakukan oleh dua ahli, masing-masing dari bidang materi Bahasa Indonesia dan desain Berdasarkan penilaian validasi menunjukkan bahwa bahan ajar tergolong dalam kategori sangat valid dan layak untuk diimplementasikan dalam proses Kepraktisan observasi guru kelas selama implementasi bahan ajar dalam dua kali pertemuan . y 35 meni. dengan topik pembelajaran AuTema 5. Subtema 1. Pembelajaran 1Ay. Empat aspek kepraktisan yang diamati adalah: . kemudahan guru . keterpahaman siswa terhadap isi, . alur dan urutan materi, serta . keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan belajar. Guru sebagai observer memberikan skor menggunakan skala Likert, dan hasil akhir menunjukkan nilai 96%, termasuk dalam kategori Ausangat praktisAy. Bahan ajar dinilai mudah digunakan, sesuai dengan karakteristik kelas, dan mendorong partisipasi aktif siswa. Meski hanya satu guru yang menjadi observer, penilaian dilakukan secara sistematis dengan dukungan catatan lapangan dan refleksi guru terhadap proses pembelajaran. Efektivitas bahan ajar dianalisis melalui hasil posttest berbasis kompetensi dasar dalam Kurikulum Merdeka. Instrumen yang digunakan berupa soal pilihan ganda dan isian singkat untuk mengukur pemahaman terhadap bentuk, fungsi, dan penggunaan singkatan dan akronim dalam konteks kalimat. Dari 15 siswa yang mengikuti posttest, 11 siswa . %) mencapai atau melampaui KKM (Ou. Rincian distribusi nilai menunjukkan bahwa 4 siswa memperoleh skor di Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar (EISSN: 3031-8. Volume 2. Nomor 2. Julii 2025 . bawah 70, 8 siswa memperoleh skor antara 70Ae 80, dan 3 siswa mencapai skor di atas 80. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memahami materi dengan baik setelah Pembahasan Dalam pengembangan bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual ini digunakan jenis penelitian R & D (Research and Developmen. dengan menggunakan model pengembangan 4-D dan mengaplikasikan tahapan sampai langkah keempat, yaitu define, design, develop, disseminate. Pada tahapan pendefinisian . dilakukan identifikasi dan analisis masalah yang dilakukan dengan mewawancarai salah satu guru Bahasa Indonesia dan beberapa peserta didik kelas V. Identifikasi dan analisis masalah yang dilakukan berupa analisis awal, perumusan konsep, perumusan tugas, dan perumusan tujuan untuk Setelah data-data terkumpul, ditentukan permasalahan yang memerlukan dikembangkannya bahan ajar singkatan dan Pada tahap perancangan . terdapat beberapa langkah yang dilakukan, yaitu penyusunan capaian pembelajran, penyusunan materi, penyusunan tujuan pembelajaran, pemilihan format bahan ajar, dan penulisan naskah bahan ajar. Pada penyusunan capaian pembelajaran memuat rencana awal materi yang ditampilkan. Dalam penyusunan materi dilakukan untuk menentukan detail materi yang disajikan dalam bahan ajar. Sedangkan dalam penyusunan capaian pembelajaran dilakukan untuk memperoleh tujuan yang akan dicapai dalam materi bahan ajar. Pada langkah pemilihan format bahan ajar dan komponenkomponen bahan ajar dilakukan untuk membuat bahan ajar lebih menarik dan mudah Kemudian bahan ajar yang sudah tersusun, dikonsultasikan dengan pembimbing sehingga mendapatkan masukan dan saran untuk tujuan perbaikan. Tahap pengembangan . dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan produk jadi berupa bahan ajar yang telah melalui revisi dari ahli materi, ahli media, dan guru ahli pengajaran, serta revisian produk. Setelah mendapat masukan dan saran yang diberikan oleh ketiga validasi, selanjutnya dilakukan revisian produk untuk mengurangi kekurangan dan menambahkan kelebihan pada produk dikembangkan untuk memperoleh kelayakan dan penyempurnaan bahan ajar. Tahap . dilakukan dengan tujuan untuk disebarluaskan produk yang dihasilkan, yaitu bahan ajar singkatan dan akronim berbasis http://journal. org/index. php/jekas kontekstual agar dapat digunakan, dan dimanfaatkan oleh sekolah dan juga yang membutuhkan untuk memudahkan dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Hasil validasi yang dilakukan dua ahli validator didapatkan hasil persentase ahli pertama sebesar 88% (Sangat Vali. , ahli validator kedua 93% (Sangat Vali. Hasil rekapitulasi dari dua ahli tersebut adalah 90% dengan kategori sangat valid. Hasil observasi kepraktisan yang dilakukan dengan uji coba pada 15 orang siswa kelas V SDN Sumbersari 02 Jember. Tahap uji coba dilakukan selama 2 x 35 menit . hari / 2 pembelajara. materi pada pertemuannya antara lain: Mempelajari tema 5. sub tema 1. pembelajaran 1, melakukan tes uji coba pembelajaran pada tema 5. sub tema 1. Kegiatan menggunakan bahan ajar singkatan dan akronim dipraktekkan langsung oleh guru kelas yang juga sebagai prakisi yaitu wali kelas V SDN Sumbersari 02 Jember. Ketika pembelajaran berlangsung ahli praktisi sekaligus mengisi lembar observasi kepraktisan bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual. Berdasarkan hasil observasi kepraktisan yang persentase kepraktisan yang tinggi . %) mencerminkan bahwa bahan ajar tidak hanya layak dari sisi konten, tetapi juga mendukung keterlaksanaan teknis pembelajaran. Guru dapat menggunakannya dengan mudah, siswa dapat memahami materi dengan cepat, dan interaksi dalam kelas menjadi lebih aktif. Hal ini kontekstual (Afriani, 2018. Sinaga & Silaban, 2. yang menekankan pentingnya keterhubungan antara materi pelajaran dan pengalaman nyata Pengalaman belajar yang bermakna tidak hanya bergantung pada isi materi, tetapi juga pada cara penyajiannya dalam konteks yang dikenali dan relevan bagi siswa sekolah dasar. Efektivitas bahan ajar yang ditunjukkan melalui capaian KKM oleh 73% siswa pasca intervensi menjadi indikasi positif bahwa pengenalan konsep linguistik mikro melalui pendekatan kontekstual dapat memperkuat pemahaman siswa secara konseptual. Konteks yang digunakan dalam bahan ajar seperti nama instansi, rambu-rambu umum, serta percakapan media sosial telah membantu siswa mengaitkan bentuk-bentuk kebahasaan dengan realitas sehari-hari. Hal ini mendukung pandangan Kosasih . bahwa bahan ajar yang kontekstual tidak hanya menyalurkan informasi, tetapi juga membangun pemaknaan aktif. Berdasarkan pemaparan diatas, menunjukkan bahwa bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual layak digunakan pada proses pembelajaran. Dengan pengembangan bahan ajar singkatan dan akronim dapat Jurnal Evaluasi dan Kajian Strategis Pendidikan Dasar (EISSN: 3031-8. Volume 2. Nomor 2. Julii 2025 . melaksanakan pembelajaran yang mandiri. Hal ini didukung oleh pendapat (Kosasih, 2. bahan ajar singkatan dan akronim berbasis pengembagan aspek kognitif siswa maupun panduan untuk mengembangkan semua aspek pembelajaran dalam bentuk panduan kegiatan penyelidikan dan memecahan masalah sesuai indikator pencapaian hasil belajar yang harus Bahan Ajar Singkatan dan Akronim Berbasis Kontekstual memenuhi kriteria valid, praktis dan efektif. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Fransiska et al. , 2. Hasil yang diperolah menunjukkan bahwa pengembangan bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual pada siswa kelas V SDN Sumbersari 02 Jember tahun pelajaran 2023/2024, karena materi pelajaran yang disajikan dengan bahan ajar singkatan dan akronim akan lebih jelas, lengkap dan menarik minat siswa. Dengan ini dapat membantu guru untuk menciptakan suasana belajar menjadi lebih hidup, tidak monoton, dan tidak membosankan, guru dapat mengatur kelas sehingga bukan hanya guru yang aktif dan kreatif tetapi juga siswa. Pengembangan media ini akan membuat siswa ikut terlibat aktif secara fisik, mental dan emosional dalam kegiatan pembelajaran. Dalam memahami materi tersebut dibutuhkan suatu penanaman konsep sehingga siswa bisa aktif dan berfikir kritis dalam menentukan, merumuskan, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan materi tersebut. Akhirnya, siswa akan lebih antusias dan bersemangat Sehingga dengan pengembangan bahan ajar singkatan dan akronim berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN Sumbersari 02 Jember tahun pelajaran 2023/2024. Meskipun demikian, pembahasan ini juga perlu mencermati keterbatasan studi. Skala uji coba masih terbatas pada satu sekolah dengan jumlah peserta yang relatif kecil . , sehingga generalisasi hasil perlu diuji lebih lanjut melalui implementasi di konteks sekolah dan daerah yang berbeda. Selain itu, penilaian efektivitas belum mencakup aspek afektif dan psikomotorik siswa, yang sebenarnya relevan dalam pembelajaran berbasis kontekstual dan Secara teoritis, penelitian ini menambahkan kontribusi terhadap pengembangan bahan ajar tematik berbasis kontekstual yang belum banyak dikaji secara khusus untuk topik linguistik mikro seperti singkatan dan akronim. Penelitian-penelitian terdahulu umumnya lebih terfokus pada pengembangan bahan ajar di bidang sains atau numerasi. Oleh karena itu, studi ini membuka ruang eksplorasi lanjutan http://journal. org/index. php/jekas untuk bahan ajar Bahasa Indonesia yang berakar pada pemahaman struktural bahasa dan penggunaan autentik dalam kehidupan siswa sehari-hari. IV. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Penelitian ini berhasil mengembangkan bahan ajar berbasis kontekstual pada materi singkatan dan akronim untuk siswa kelas V sekolah dasar yang terbukti valid . %), praktis . %), dan efektif . % siswa melampaui KKM). Penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) memungkinkan integrasi materi linguistik mikro dengan konteks kehidupan nyata siswa, sehingga mendorong pemahaman konseptual yang lebih bermakna. Model pengembangan 4-D yang digunakan terbukti sistematis dan aplikatif dalam menghasilkan perangkat ajar yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran berbasis Kurikulum Merdeka. Simpulan ini mempertegas kontribusi penelitian dalam mengisi kekosongan kajian pengembangan bahan ajar linguistik mikro berbasis CTL, serta memberikan pijakan awal bagi praktik guru kebahasaan dasar yang lebih kontekstual dan Saran