Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP WISATA MANGROVE DI DESA PANTE DEERE. KECAMATAN KABOLA, KABUPATEN ALOR Paulus Edison Plaimo1*). Imanuel Lamma Wabang. Program Studi Perikanan. Fakultas Pertnian dan Perikanan. Universitas Tribuana Kalabahi. Jl. Soekarno-Hatta. Kalabahi-Alor, 85811. Indonesia. Korespondensi: ediplaimo@untribkalabahi. Diterima: 28 Januari 2022. Disetujui: 18 April 2022 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi masyarakat terkait pengelolaan kawasan wisata mangrove di Desa Pante Deere. Kecamatan Kabola. Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah skala likert. Hasil penelitian mengenai manfaat atau adanya keuntungan yang diperoleh terkait adanya kawasan hutan mangrove, 81% responden menyatakan sangat setuju. 4% Netral. 5% Tidak Setuju dan 6% sangat Tidak Setuju. Selanjutnya wisata mangrove berpengaruh terhadap pendapatan atau perekonomian masyarakat, 74% responden dan 10% menyatakan sangat setuju dan setuju, sedangkan 10% berpendapat netral sedangkan 6% dan 5% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak kemudian terkait perlu adanya peningkatan atau pembenahan kualitas aset wisata mangrove, 86% responden menyatakan sangat setuju. 9% setuju. 5% Netral. Sedangkan terhadap pemberian sanksi kepada siapa pun yang melakukan pengambilan/penebangan pohon Mangrove di kawasan Wisata Hutan Mangrove ternyata responden secara mayoritas atau 100% menyatakan sangat setuju. Kata Kunci: Kawasan. Mangrove. Pante Deere. Alor ABSTRACT This study aims to determine public perceptions regarding the management of mangrove tourism areas in Pante Deere Village. Kabola District. Alor Regency. East Nusa Tenggara. The research method used is the Likert scale. The results of the research regarding the benefits or benefits obtained related to the existence of mangrove forest areas, 81% of respondents stated strongly agree. 4% agree. Neutral. 5% Disagree and 6% strongly Disagree. Furthermore, mangrove tourism Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. has an effect on people's income or economy, 74% of respondents and 10% stated strongly agree and agree, while 10% are neutral, while 6% and 5% disagree and strongly disagree. then related to the need for improvement or improvement of the quality of mangrove tourism assets, 86% of respondents stated strongly agree. 5% Neutral. Meanwhile, to give sanctions to anyone who takes/cut down Mangrove trees in the Mangrove Forest Tourism area, it turns out that the majority or 100% of respondents stated that they strongly agreed. Keywords: Region. Mangrove. Pante Deere. Alor PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki luas hutan mangrove terbesar di dunia dengan total luas lahan mencapai 3. ha, atau 22,6% dari total luas mangrove di seluruh dunia (Carugati et al. , 2. (Faridah-Hanum et al. (Villate Daza et al. , 2. Data Badan Pusat Statistik (BPS) RI. Tahun desa/kelurahan dari total 18. desa/kelurahan di Indonesia atau 53,3% wilayah Indonesia, yang memiliki hutan mangrove (D. Akbar & Ikhsan, 2. (S. Akbar et al. Hutan mangrove sendiri memiliki peran yang sangat penting, seperti penahan abrasi pantai dan pencegahan intruasi air laut, juga merupakan tempat pemijahan bagi ikan yang hidup di laut dan juga memberikan nilai ekonomi yang sangat baik untuk masyarakat (Zamzami et al. (Khairul & Manullang, 2. Mangrove di wilayah pesisir sebagai pelindung fisik dan sebagai bagian terintegrasi dari ekosistem wilayah lainya, seperti terumbu karang dan ekosistem padang lamun (Khairuddin et al. , 2. (Plaimo & Wabang. Keberadaan mangrove dapat diantaranya sebagai, wisata mangrove yang merupakan salah satu sektor yang digalakan oleh pemerintah dalam menambah devisa daerah. Sektor ini diperhitungkan mengingat kegiatan pariwisata tidak dapat di pisahkan dari kehidupan manusia. Selain, meningkatkan pendapatan perekonomian masyarakat sektor pariwisata juga dianggap sebagai kekayan alam. Persepsi secara umum sering diartikan sebagai cara pandang masyarakat atau seseorang terhahap suatu objek, baik itu objek fisik maupun objek sosial (Yusrini, 2. Persepsi adalah suatu proses untuk membuat penilaian . mengenai berbagai macam hal yang penginderaan seseorang (Ulfa, 2. (Yusrini, 2. Sikap adalah kesiapan, kesediaan untuk beraksi untuk suatu objek, masih berupa kecenderungan dalam bertindak demi seseorang (Darmawati, 2. Sikap sangat menentukan perilaku dan Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. masalah lingkungan. Kabupaten Alor memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata. Salah satu potensi alam di Alor yang di jadikan unggulan sebagai daya tarik wisata adalah,wisata mangrove Desa Pante Deere yang memiliki luas hutan mangrove 11,81 ha (Desa. Pante Deere . , yang ada di pesisir pantai berlokasi di Kecamatan Kabola. Persepsi masyarakat Desa Pante Deere terhadap ekosistem mangrove akan mempengaruhi dukungannya terhadap Persepsi dan sikap masyarakat sangat terkait dengan berhasil dan tidaknya, masyarakat mangrove sebagai aset wisata di Desa Pante Deere. Hal ini sesuai dengan pendapat, (Mukhlisi, 2. (Tarigan et al. , 2. (Oktadesia & Bela, 2. , bahwa. Sumberdaya alam tidak dapat di lestarikan dan dikelolah dengan baik tanpa terlebih dahulu mengetahui persepsi dan sikap masyarakat terhadap lingkungan. Menyimak korelasi pernyataan yang terkandung didalam pemaparan argumentasi diatas, maka dapat disampaikan bahwa penelitian ini bertujuan, untuk mengetahui persepsi kawasan wisata mangrove di Desa Pante Deere. Kecamatan Kabola. Kabupaten Alor. Nusa Tenggara Timur. METODE PENELITIAN Sampel ditentukan atau dipilih dengan kriteria yang di tentukan antara lain Tokoh Masyarakat yang memahami situasi dan kondisi lingkungan, dan terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Metode yang digunakan adalah metode survey dengan metode deskritif yang bersifat studi kasus. Deskritif penelitian ini adalah Variabel penelitian ini adalah penekanan pada kriteria persepsi masyarakat tentang wisata Populasi dan Sampel Populasi dan sampel yang di sesuaikan dengan ruang lingkup dan Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di Desa Pante Deere. Kecamatan Kabola. Kabupaten Alor pada Bulan JuliAgustus 2021. Teknik Pengumpulan Data dan Teknik Sampling. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan pengumpulan data menggunakan kuesioner . Kuesioner merupakan seperangkat pernyataan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawab. Alasan memilih teknik ini adalah karena populasi penelitian luas dan jumlah responden yang cukup besar. Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Tujuan (Arikunto, 2. dalam (Darmawati. Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pesisir yang memanfaatkan wisata mangrove secara ekonomi. Subjek dalam penelitian ini bersifat homogen dan dilakukan pengambilan sampel secara dipertanyakan karena jangka respons yang lebih besar (Likert, 1. dalam (Yusrini, 2. Panduan penentuan hasil penelitian dan skoringnya sebagai berikut: Jumlah pilihan = 5 ( STS. TS. SS ) Skoring = 1 terendah (X) Skoring = 5 tertinggi (Y) Jumlah skor = Skoring terendah x jumlah Responden Jumlah skor = Skoring tertinggi x jumlah Responden Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah analisis data deskriptif yang dimaksudkan untuk melihat persepsi masyarakat terhadap memanfaatkan wisata mangrove secara ekonomi. Metode yang digunakan dalam analisis data penelitian ini yakni metode Skala Likert. Berdasarkan kuesioner yang disusun, panduan penelitian dan pemberian skoring pada penelitian ini menggunakan pendekatan Skala Likert. Liker dapat memberikan keterangan yang lebih jelas dan nyata Rumus Index % = sebanyak 339 jiwa, dan perempuan 434 Jiwa (Demografis Desa Pante Deere, 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Kondisi Geografis Wilayah Desa Pante Deere Secara geografis Desa Pante Deere terletak di bagian Utara Kabupaten Alor seluas 10 km. Desa Pante Deere merupakan salah satu dari Desa/Kelurahan Kecamatan Kabola. Kabupaten Alor. Propinsi Nusa Tenggara Timur (Batik Mochammad, 2. Penduduk Desa Pante Deere berjumlah 773 Jiwa, dengan jenis kelamin laki-laki Deskripsi Responden Deskripsi Responden Berdasarkan Usia Responden dipilih secara acak dengan menggunakan rumus slovin. Dipilih Indikator Usia 30 - 70 tahun dengan maksud memiliki kemampuan verbal dan pemahaman pariwisata yang baik (Oktadesia & Bela, 2. Deskripsi reponden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 1. Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Tabel 1. Deskripsi Berdasarkan Jenis Umur No Usia (Tahu. Jumlah Total Tabelc3. cDeskripsixResponden BerdasarkancMata Pencaharian Mata Responden Pencaharian 1 Nelayan 2 Petani 3 PNS 4 Wiraswasta 5 Guru 6 Pedagang Total Sumber: Olahan Pribadi 2021 Deskripsi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan dipandang sebagai suatu Indikator dalam penentuan kriteria responden oleh sebab itu Tingkat Pendidikan digunakan karena dapat mencerminkan kemampuan jawaban secara tepat dan akurat (Khambali et al. , 2. Penyajian pendidikan dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Identitas Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Total Tingkat Pendidikan Sarjana SMA SMP Jumlah Sumber: Olahan Pribadi 2021 Persepsi Masyarakat Pemanfaatan Mangrove sebagai destinasi wisata merupakan upaya mencari sumber pendapatan baru sekaligus konservasi terhadap mangrove yang dijadikan obek wisata (Riana et al. , 2. Akan tetapi dalam pengelolaanya Untuk mengukur kriteria persepsi masyarakat mengenai keberadaan wisata hutan mangrove di daerah pesisir Pantai Pante Deere. Data yang diambil dari 100 responden, untuk memperoleh presentase hasil analisis penulis menghitung skor untuk setiap pengumpulan data kuisoner dari data 100 responden . , dengan variabel-variabel terkait persepsi pengelolaan wisata mangrove di daerah tersebut antara lain: Jumlah Sumber: Olahan Pribadi, 2021 Deskripsi Responden berdasarkan Mata Pencaharian Profesi interaksi dengan objek yang diamati, sehingga profesi responden turut jawaban yang dibutuhkan dan menentukan arah suatu penelitian (Lugina et al. , 2. (Yusrini, 2. Data dapat dilihat pada Tabel 3. Aspek Manfaat Wisata Mangrove Sesuai ditemukan informasi, 81% responden menyatakan sangat setuju. 4% setuju. Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. 4% Netral. 5% Tidak Setuju dan 6% sangat Tidak Setuju, mengenai adanya manfaat atau keuntungan dari wisata mangrove. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4. Distribusi jawaban RespondenxmengenaicManfaat/Keuntungan atas adanya Wisata Mangrove Frekuensi Persentase Kategori Skor Interval (F) (%) Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total Berdasarkan tabel 4 diatas menunjukkan bahwa secara mayoritas persepsi responden . menyatakan sangat setuju atau setuju merasakan manfaat dari adanya wisata mangrove, pandangan seperti ini menggambarkan keadaan sesuai dengan rutinitas masyarakat pesisir yang mendiami kawasan wisata mangrove karena karena kehadiran pengunjung meningkatkan transaksi kuliner lokal seperti buah kelapa dan penggunaan lahan parkir, sedangkan persepsi masyarakat yang memilih berpendapat tidak setuju disebabkan oleh kurangnya keterlibatan mereka dilokasi wisata karena berjauhan dengan lokasi wisata mangrove atau memperebutkan pasar wisata tersebut. AspekXPengelolaanXWisata Mangrove Hasil tabulasi data ditemukan menyatakan sangat setuju. 9% setuju. 5% Netral, tentang perlu adanya kualitas aset wisata mangrove. Untuk informasi tersebut lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Distribusi jawaban Responden tentang pengelolaan wisata mangrove, sudah tepat atau masih membutuhkan pembenahan Frekuensi Persentase Kategori Skor Interval (F) (%) Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total dari aspek kuliner, sewa lahan parkir dan sewa fasilitas renang. Data yang tertuang pada tabel 5, diatas menggambarkan keinginan . pembenahan aset wisata mangrove Aspek Usaha dan Jasa agar dapat menarik wisatawan lebih Hasil tabulasi data ditemukan Dengan menyatakan sangat setuju. 51% Netral. 15% Tidak pertambahan penghasilan sehingga Setuju. 9% Sangat Tidak Setuju dapat mensejahterakan masyarakat yang berdomisili di kawasan tersebut. Penghasilan masyarakat dapat berasal kualitas aset wisata mangrove. Untuk informasi tersebut lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 6. Tabel 6. Distribusi jawaban Responden Pengusaha jasa maupaun usaha dagang sektor riil dalam kawasan wisata mangrove merupakan masyarakat yang berasal dari luar Desa Pante Deere. Frekuensi Persentase Kategori Skor Interval (F) (%) Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total Pada Tabel 6, terkonfirmasi bahwa . ragu-ragu, menentukan sikap atau pendapat wisata mangrove di Desa Pante Deere, kondisi ini dapat terjadi sebab pemahaman masyarakat yang belum memadai tentang manfaat atau kegunaan investor pariwisata dalam hubungan dengan permodalan. Namun dilain sisi ada responden . menyatakan sangat setuju dan 14% Kelompok Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. memahami bahwasanya pengelolaan aset wisata membutuhkan modal untuk membangun fasilitas dan manusianya selain itu kemngkinan besar aspek pendidikan responden . juga merupakan elemen penting sebagai kualitas berpendapat dan bertindak. Sedangkan sebanyak 15% dan 9% Responden . menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju keadaan ini karena diduga tingkat pendidikan yang rendah sehingga pemikiran cenderung terisolasi dan menduga pembangunan pariwisata dikawasan mangrove akan dikuasai keuntungan tanpa adanya kesempatan kerja bagi masyarakat disekitar. Aspek Manfaat Bagi Ekonomi Masyarakat Melalui hasil tabulasi data yang diperoleh dari reponden . pendapatan/perekonomian masyarakat, responden . 74% dan 10% menyatakan sangat setuju dan setuju, sedamgkan 10% sedangkan 6% dan 5% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Distribusi jawaban Responden keberadaan wisata mangrove berpengaruh terhadap pendapatan/perekonomian masyarakat Frekuensi Persentase (F) (%) Kategori Skor Interval Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total Berdasarkan data yang tergambar pada Tabel 7, secara implisit ada peningkatan pendapatan masyarakat akibat interaksi aktivitas pariwisata yang terjadi pada kawasan mangrove di Desa Pante Deere. Pada umumnya Responden sangat setuju 74% dan setuju 10% menyatakan wisata mangroveCmendongkrak Mayoritas responden dari total responden yang bersedia di wawancarai mengungkapkan mereka menikmati adanya aktivitas wisata kawawasan wisata mangrove dan pengunjung selalu membeli kuliner alami, sewa perahu, dan lahan parkir. Sedang respoden . memberikan jawaban netral 5%. setuju 5%. sangat tidak setuju 5% Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. merupakan kelompok masyarakat yang memiliki kesibukan bertani dan berinteraksi dengan lahan dan ternak. berpengaruhXterhadapOpendapatan/ perekonomian masyarakat, responden . menyatakan sangat setuju dan setuju, sedamgkan 20% berpendapat netral, sedangkan 5% dan 0% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 8. Aspek Kerjasama Melalui hasil tabulasi, diperoleh informasi dari reponden . Tabel 8. Persepsi masyarakat tentang Perlu adanya kerjasama antara Pemerintah dan Masyarakat setempat dalam pengelolaan Wisata Mangrove Frekuensi Persentase (F) (%) Kategori Skor Interval Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total Sedangkan responden lainnya yaitu 20% dengan kategori jawaban netral dan 5% dengan jawaban kategori tidak setuju, hal ini diduga sebab ada beberapa alasan antara lain: mangrove atau karena bertani sehingga cenderung ke gunung. merasa pesimis dengan kemampauan pemerintah untuk mengelola aset wisata mangrove. Kerjasama terpenting dalam setiap aktivitas, terutama aktivitas pariwisata di Desa Pante Deere. Menyadari akan mangrove menyadari akan pentingnya Pemerintah Desa terutama perizinan lahan dan perijinan usaha. Dengan latar belakang pemikiran tersebut . menyatakan sangat setuju. menyatakan setuju adanya kerjasama dengan pemerintah. Aspek Penerapan Sanksi Melalui hasil tabulasi, diperoleh informasi dari reponden . pendapatan/perekonomian Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. masyarakat, responden . secara mayoritas 100% menyatakan sangat setuju untuk Pemberian Sanksi kepada siapa pun yang melakukan pengambilan/penebangan Mangrove dikawasan Wisata Hutan Mangrove. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Persepsi Masyarakat tentang perlu Pemberian Sanksi kepada siapa pun yang melakukan pengambilan/penebangan pohon Mangrove dikawasan Wisata Hutan Mangrove Frekuensi Persentase Kategori Skor Interval (F) (%) Sangat Setuju (SS) Setuju (S) Netral (N) Tidak Setuju (TS) Sangat Tidak Setuju (STS) Total Karakteristik responden dengan tingkat pendidikan, mata pencaharian dan usia yang bervariasi tetapi memberi jawaban yang sama bahwa pemberian sanksi kepada siapa pun pengambilan/penebangan Mangrove dikawasan Wisata Hutan Mangrove dengan kategori jawaban Jawaban bahwa masyarakat di Desa Pante Deere mencintai lingkungan dan selalu berupaya terus merawat kawasan hutan mangrove karena menyadari akan pentingnya fungsi ekologis terhadap lingkungan. Pemberian sanksi merupakan langkah penting untuk menjaga ditengah-tengah kebutuhan yang mendesak sehingga mencermati dampak kerusakannya. Dengan perilaku negatif tersebut seyogiya nya dibatasi melalui aturan atau regulasi kemudian diserta sanksi sehingga kelangsungan kawasan hutan ini tetap terjamin. SIMPULAN Simpulan yang diambil dalam penelitian ini sebagai berikut: - 81% responden menyatakan sangat 4% setuju. 4% Netral. Tidak Setuju dan 6% sangat Tidak Setuju, mengenai adanya manfaat atau keuntungan dari wisata - Keberadaan wisata mangrove berpengaruh terhadap pendapatan atau perekonomian masyarakat, responden . 74% dan 10% menyatakan sangat setuju dan Plaimo. Wabang. L /Barakuda 45 4 . , 73-85 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. berpendapat netral sedangkan 6% dan 5% menyatakan tidak setuju dan sangat tidak setuju - 86% responden menyatakan sangat 9% setuju. 5% Netral, tentang Perlu adanya peningkatan atau pembenahan kualitas aset wisata Mangrove. - 11% responden menyatakan sangat 14% setuju. 51% Netral. 15% Tidak Setuju. 9% Sangat Tidak Setuju terkait. Perlu adanya peningkatan atau pembenahan kualitas aset wisata mangrove. - 100% Responden menyatakan sangat setuju untuk Pemberian Sanksi kepada siapa pun yang melakukancpengambilan/penebang an pohon Mangrove dikawasan Wisata Hutan Mangrove. Lo Martire. Coral. Greco, , & Danovaro. Impact of mangrove forests degradation on biodiversity and ecosystem functioning. Scientific Reports. https://doi. org/10. 1038/s41598018-31683-0 Darmawati. Pengaruh Sikap. Norma Subjektif. Dan Persepsi Kontrol Perilaku Terhadap Perilaku Berwirausaha Dengan Niat Berwirausaha Sebagai Variabel Intervening Pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam Uin Alauddin Makassar. Journal of Chemical Information and Modeling. Faridah-Hanum. Yusoff. Fitrianto. Ainuddin. Gandaseca. Zaiton. Norizah. Nurhidayu. Roslan. Hakeem. Shamsuddin. Adnan. Awang Noor. Balqis. Rhyma. Siti Aminah, . Hilaluddin. Fatin. , & Harun. Development comprehensive mangrove quality (MQI) Matang Mangrove: Assessing mangrove ecosystem health. Ecological Indicators, https://doi. org/10. 1016/j. Khairuddin. Yulianda. Kusmana. , & . Status Keberlanjutan Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Kabupaten Mempawah. Propinsi Kalimantan Barat. Jurnal DAFTAR PUSTAKA