Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Volume 3. Issue 5. December 2025. E-ISSN: 3025-6704 DOI: https://doi. org/10. 5281/zenodo. Efektivitas Sosialisasi Mitigasi Bencana dalam Meningkatkan Kesiapsiagaan Masyarakat Kota Surabaya Riska Dwi Marinda1. Husnul Muttaqin2 1,2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ABSTRAK Penelitian ini membahas efektivitas program sosialisasi mitigasi yang dilaksanakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Article history: Daerah (BPBD) Kota Surabaya dalam meningkatkan kesiapsiagaan Received November 05, 2025 Revised 10 November 2025 masyarakat terhadap potensi bencana. Surabaya sebagai kota pesisir Accepted 25 November 2025 memiliki risiko bencana yang tinggi, sehingga meningkatkan Available online 06 December 2025 kesadaran dan pengetahuan masyarakat sangat penting. Penelitian Kata Kunci: ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektiv program sosialisasi BPBD. kesiapsiagaan masyarakat. Badan sosialisasi mitigasi bencana. Surabaya. Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya dalam Keywords: meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Penelitian menggunakan BPBD. community preparedness. metode kualitatif dengan pendekatan evaluatif. Data dikumpulkan mitigation socialization. Surabaya. melalui teknik wawancara mendalam dengan perwakilan BPBD, relawan, dan masyarakat, serta observasi partisipatif dalam kegiatan sosialisasi untuk menilai proses implementasi dan dampaknya secara This is an open access article under the CC BY-SA license. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program sosialisasi Copyright A 2023 by Author. Published by Yayasan BPBD Surabaya secara umum efektif dalam membangun fondasi Daarul Huda kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Keberhasilan ini tercermin dari tingginya tingkat partisipasi masyarakat yang tidak hanya berupa kehadiran dalam pelatihan, tetapi juga ditindaklanjuti dengan aksi nyata seperti penyusunan peta evakuasi mandiri dan pembentukan kelompok siaga bencana. Pemahaman peserta terhadap materi juga mengalami ABSTRACT This research discusses the effectiveness of the disaster mitigation socialization program implemented by the Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Surabaya City in enhancing community preparedness for potential disasters. Surabaya, as a coastal city, has a high risk of disasters, making it crucial to increase community awareness and knowledge. This study aims to assess the effectiveness of the disaster mitigation socialization program implemented by the Regional Disaster Management Agency (BPBD) of Surabaya City in improving community preparedness. The research employs a qualitative method with an evaluative approach. Data is collected through in-depth interviews with BPBD representatives, volunteers, and community members, as well as participatory observation of socialization activities to directly assess the implementation process and its impact. The research results show that the socialization program of the BPBD Surabaya is generally effective in building a community-based preparedness foundation. This success is reflected in the high level of community participation, which not only includes attendance in the training but also follows up with tangible actions such as the preparation of self-evacuation maps and the formation of disaster preparedness groups. Participants' understanding of the material has also improved. ARTICLE INFO PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi akibat kondisi geografisnya yang berada di wilayah cincin api Pasifik (Pacific Ring of Fir. dan iklim tropis yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Berbagai jenis bencana, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, dan erupsi gunung berapi, menjadi ancaman nyata yang sering kali menimbulkan dampak besar terhadap kehidupan Masyarakat, salah satunya adalah kota Surabaya. Kota Surabaya sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia menghadapi berbagai potensi bencana, baik yang bersifat alamiah seperti banjir, gempa bumi, dan kebakaran, maupun bencana yang disebabkan oleh aktivitas manusia. *Corresponding Author Email: 1marindariska03@gmail. com, 2husnulfikr@uinsa. Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Bencana alam merupakan ancaman yang seringkali tidak terduga namun dapat memberikan dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, baik secara fisik, sosial, maupun Menurut Arimastuti . , bencana adalah suatu kejadian atau serangkaian peristiwa yang berpotensi membahayakan serta mengganggu kehidupan dan mata pencaharian Bencana dapat disebabkan oleh faktor alam, non-alam, maupun tindakan manusia, yang pada akhirnya berujung pada korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian materi, serta dampak psikologis. Kota Surbaya merupakan salah satu kota di provinsi Jawa Timur yang memiliki Tingkat kerawanan bencana tinggi. Posisi geografis Kota Surabaya yang berada di ujung utara Pulau Jawa dan berhadapan langsung dengan Selat Madura menjadikannya salah satu wilayah dengan risiko tinggi terhadap bencana banjir rob. Ancaman ini semakin meningkat seiring dengan fenomena kenaikan permukaan air laut yang dipicu oleh pemanasan global. Berdasarkan temuan Meiviana . , kawasan pesisir utara Surabaya yang saat ini dimanfaatkan sebagai area industri, pergudangan, pertambakan, permukiman, dan pelabuhan, menunjukkan potensi kenaikan muka air laut sekitar 5,47 mm per tahun dalam periode 1925 hingga 1989. Hal ini diperkuat oleh Wuryanti . yang menyatakan bahwa kenaikan permukaan laut secara langsung berdampak terhadap tingginya kemungkinan terjadinya banjir rob di wilayah pesisir. Dalam konteks ini, peran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya menjadi sangat penting, khususnya dalam meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat melalui program sosialisasi mitigasi bencana. Mitigasi bencana merupakan serangkaian upaya untuk mengurangi risiko dan dampak buruk yang ditimbulkan oleh bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana. Sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat dilakukan terutama dengan memberikan pengetahuan tentang hal ihwal kebencanaan dan bahaya-bahaya yang timbul akibat bencana. Mitigasi bencana ini penting untuk dilakukan sebelum terjadinya suatu kejadian bencana, baik karena sebab alam ataupun manusia. Dalam konteks Surabaya, efektivitas program sosialisasi mitigasi bencana ini menjadi kunci untuk membekali masyarakat dengan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi risiko banjir rob yang kian nyata. Maka dari itu, studi yang mendalam terhadap efektivitas program sosialisasi yang dijalankan BPBD perlu dilakukan. Penelitian seperti ini penting untuk dilakukan, baik sebagai kontribusi akademik dalam dunia ilmu pengetahuan, maupun sebagai bagian dari evaluasi untuk menilai apakah strategi mitigasi yang diterapkan oleh BPBD benar-benar mampu menjawab tantangan geografis dan perubahan iklim yang dihadapi Kota Surabaya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merupakan lembaga pemerintah di tingkat lokal, baik provinsi maupun kabupaten/kota, yang memiliki tanggung jawab utama dalam mengelola penanggulangan bencana secara menyeluruh di wilayahnya. BPBD berperan penting dalam merumuskan strategi, mengoordinasikan, serta melaksanakan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesiapsiagaan, tanggap darurat, pemulihan, dan rekonstruksi pascabencana. Lembaga ini bertugas menyusun perencanaan penanggulangan bencana yang terpadu dan berkelanjutan, serta memastikan bahwa setiap kegiatan yang dilakukan selaras dengan kebijakan nasional yang ditetapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dalam menjalankan tugasnya. BPBD juga menjalin kerja sama dengan berbagai instansi terkait seperti tim SAR. BNPB, dan lembaga kemanusiaan lainnya untuk menjamin distribusi bantuan dan penanganan bencana yang cepat dan tepat sasaran. Dengan peran strategis ini. BPBD menjadi otoritas utama dalam upaya pengurangan risiko bencana dan perlindungan masyarakat di tingkat lokal, sekaligus memastikan bahwa setiap tindakan tanggap bencana dilakukan secara Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, efektif demi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat (Awusi et al. , 2018. Oktorie, 2018. Dewantoro, 2. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya memiliki peran dalam melakukan sosialisasi mitigasi bencana sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi situasi darurat. Program ini bertujuan memberikan edukasi tentang potensi bencana, langkah-langkah pencegahan, serta tindakan yang tepat saat bencana terjadi, seperti peningkatan pengetahuan masyarakat tentang jenis-jenis bencana dan cara penanganannya, perubahan sikap yang lebih responsif terhadap peringatan dini, serta kemampuan masyarakat untuk membuat rencana darurat secara mandiri. Masyarakat harus memiliki pengetahuan tentang berbagai resiko yang dapat mengancam kehidupan mereka. Kondisi ini menuntut adanya kesiapsiagaan masyarakat yang baik untuk mengurangi risiko dan dampak bencana. Kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor kunci dalam menekan angka korban jiwa dan kerugian material akibat bencana. Oleh karena itu, program sosialisasi mitigasi bencana harus dilaksanakan secara berkelanjutan, inklusif, dan adaptif terhadap kebutuhan masyarakat yang beragam. Namun demikian, efektivitas program sosialisasi tidak hanya ditentukan oleh jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi juga oleh sejauh mana program tersebut mampu mengubah pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam menghadapi bencana. Di banyak daerah di Indonesia, implementasi program seperti ini kerap menghadapi tantangan yang tidak mudah, seperti keterbatasan pemahaman masyarakat terhadap informasi yang diberikan, rendahnya partisipasi publik, hingga minimnya kolaborasi antar-lembaga. Oleh karena itu, evaluasi terhadap efektivitas program ini menjadi penting agar dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta peluang perbaikan di masa mendatang. Penelitian ini berfokus pada upaya untuk mengkaji efektivitas program sosialisasi mitigasi bencana yang dilakukan oleh BPBD Kota Surabaya, khususnya dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang komprehensif mengenai sejauh mana program tersebut mampu meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan tindakan preventif masyarakat, serta memberikan rekomendasi yang dapat memperkuat upaya mitigasi bencana di tingkat lokal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan ini dipilih untuk menilai sejauh mana program sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan oleh BPBD Kota Surabaya efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat Surabaya dari mulai kelurahan, perkantoran, hingga instansi pendidikan. Penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan program, hasil yang dicapai, serta dampaknya terhadap perubahan sikap dan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semi-terstruktur dan observasi. Pedoman wawancara akan mencakup pertanyaan tentang jenis kegiatan sosialisasi yang dilakukan, tingkat pemahaman masyarakat terhadap materi yang disampaikan, serta persepsi masyarakat dan petugas BPBD terhadap efektivitas program. Observasi dilakukan pada kegiatan sosialisasi yang sedang berlangsung atau yang pernah dilakukan, untuk melihat secara langsung respon masyarakat dalam kegiatan tersebut. Peneliti juga akan mencatat interaksi antara petugas dan warga, partisipasi warga, serta kondisi lingkungan yang menjadi lokasi kegiatan. Riska, at. , al/ Efektivitas Sosialisasi Mitigasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Bentuk dan Mekanisme Program Sosialisasi Mitigasi Bencana Program sosialisasi mitigasi bencana yang dilaksanakan oleh BPBD Kota Surabaya merupakan bagian penting dari upaya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai risiko bencana. Sosialisasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat mengenai potensi bencana yang ada di lingkungan mereka, serta bagaimana cara merespons dengan cepat dan tepat saat bencana terjadi. Bentuk kegiatan sosialisasi yang dilakukan cukup beragam, disesuaikan dengan kondisi wilayah dan karakteristik sasaran masyarakat. Kegiatan yang paling umum adalah penyuluhan langsung ke masyarakat di tingkat kelurahan dan RT/RW dan sekolah, yang dilakukan secara tatap muka oleh petugas BPBD. Dalam kegiatan ini, masyarakat diberikan materi tentang jenis-jenis bencana, cara deteksi dini, prosedur evakuasi, dan tindakan darurat lainnya. Pada tahap sosialisasi tanggap darurat bencana, masyarakat dibekali pengetahuan tentang langkah-langkah penyelamatan dasar serta cara melakukan evakuasi korban ketika bencana terjadi. Sementara itu, pada tahap pasca bencana, sosialisasi difokuskan pada upaya pemulihan, khususnya terkait keberlanjutan kondisi perekonomian warga yang terdampak. Selain itu, pelatihan simulasi terjadinya bencana dan evakuasi juga menjadi bagian penting dari program ini. Simulasi biasanya dilakukan di sekolah, perkantoran, dan kawasan padat penduduk untuk melatih respons cepat masyarakat ketika menghadapi situasi bencana secara nyata. BPBD juga melakukan pemasangan rambu-rambu evakuasi dan papan informasi kebencanaan di titik-titik strategis, terutama di wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi. Media informasi seperti leaflet, booklet, video edukatif, dan infografis digital disebarluaskan melalui media sosial, website resmi, dan kegiatan kampanye tematik agar informasi kebencanaan menjangkau kelompok masyarakat yang lebih luas. Serta tidak lupa juga, pemantauan program merupakan aspek penting dalam mengukur sejauh mana program sosialisasi mitigasi bencana dijalankan secara efektif setelah Pemantauan ini mencerminkan perhatian institusional terhadap keberlanjutan dampak program bagi masyarakat peserta. Sejalan dengan pendapat Gibson dalam Kurniawan . , efektivitas suatu program tidak hanya ditentukan oleh perencanaannya, tetapi juga oleh adanya sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat edukatif. Dalam konteks Kota Surabaya, pemantauan terhadap program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD menjadi instrumen penting untuk mengevaluasi sejauh mana tujuan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat telah tercapai. Melalui proses pengawasan ini. BPBD dapat menilai efektivitas materi yang disampaikan, mengidentifikasi kendala yang dihadapi di lapangan, serta memberikan umpan balik yang konstruktif bagi perbaikan program ke depannya. Berdasarkan hasil temuan dan analisis, pemantauan yang dilakukan dalam pelaksanaan sosialisasi mitigasi bencana di Surabaya menunjukkan hasil yang cukup efektif. Program sosialisasi ini mampu memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana. Mekanisme pelaksanaan program ini diawali dengan identifikasi dan pemetaan wilayah rawan bencana berdasarkan data historis, kondisi geografis, serta kepadatan penduduk. Setelah menentukan sasaran prioritas. BPBD menyusun materi sosialisasi yang disesuaikan dengan kebutuhan lokal dan karakteristik peserta, baik anak-anak, dewasa, maupun kelompok rentan seperti lansia. Namun tidak hanya daerah rawan bencana yang diadakan program sosialisasi, bahkan sudah hampir seluruh sekolah negeri sudah melaksanakan sosialisasi dan simulasi dengan BPBD Kota Surabaya. Kegiatan sosialisasi juga dilaksanakan di kelurahan (RW/RT) dan dapat berjalan dengan efektif berkat kerja sama yang baik dengan pemerintah kelurahan dan Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, tokoh masyarakat setempat, yang berperan penting dalam mobilisasi warga dan menjembatani komunikasi antara BPBD dan masyarakat. Pelaksanaan program dilakukan secara langsung di lapangan . maupun secara daring jika dibutuhkan. Setelah kegiatan selesai. BPBD melakukan evaluasi sederhana melalui kuesioner atau wawancara kepada peserta guna mengetahui tingkat pemahaman dan respon masyarakat terhadap materi yang disampaikan. Evaluasi ini juga menjadi bahan pertimbangan untuk perbaikan program di masa yang akan datang. Melalui bentuk dan mekanisme tersebut, program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD diharapkan mampu membentuk masyarakat yang tanggap, waspada, dan siap menghadapi Masyarakat tidak hanya menjadi objek perlindungan, tetapi juga menjadi aktor utama dalam upaya pengurangan risiko bencana di lingkungan mereka sendiri. Jadi ketepatan sasaran program merujuk pada sejauh mana kelompok yang mengikuti program sesuai dengan target yang telah direncanakan sebelumnya. Dalam mengevaluasi aspek ini, terdapat tiga indikator utama, yaitu apakah program memang ditujukan untuk masyarakat umum, aparatur pemerintahan, serta komunitas atau kelompok masyarakat tertentu. Tingkat Partisipasi dan Pemahaman Masyarakat Salah satu faktor penting dalam menilai keberhasilan program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD Kota Surabaya adalah seberapa besar masyarakat terlibat dan memahami materi yang diberikan. Partisipasi masyarakat menunjukkan apakah warga cukup peduli untuk datang dan aktif mengikuti kegiatan, sementara pemahaman mereka menentukan apakah informasi yang disampaikan benar-benar bermanfaat dalam meningkatkan kesiapsiagaan. Kedua hal ini saling berkaitan, jika masyarakat tidak hadir mereka tidak akan paham, dan jika mereka hadir tetapi tidak mengerti, sosialisasi pun tidak efektif. Untuk mengetahui tingkat partisipasi, bisa dilihat dari seberapa banyak warga yang hadir dalam acara sosialisasi, baik itu pelatihan, simulasi, atau penyuluhan. Jika jumlah pesertanya sedikit, berarti mungkin ada masalah dalam cara BPBD mengajak masyarakat, seperti waktu yang kurang tepat, lokasi yang sulit dijangkau, atau materi yang kurang menarik. Namun, kehadiran saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah apakah masyarakat aktif selama kegiatanAimisalnya dengan bertanya, mengikuti diskusi, atau praktik langsung saat simulasi bencana. Semakin banyak yang terlibat aktif, semakin besar kemungkinan mereka benar-benar memahami apa yang Selain itu, partisipasi juga bisa dilihat dari tindakan nyata setelah sosialisasi, seperti apakah warga mau membentuk kelompok siaga bencana di lingkungannya atau mulai mempersiapkan rencana evakuasi keluarga. Berdasarkan hasil pengamatan, partisipasi masyarakat Surabaya dalam program BPBD tergolong cukup tinggi. Hal ini terlihat dari antusiasme warga yang banyak hadir saat diadakan pelatihan-pelatihan kebencanaan di berbagai kelurahan dan banyaknya sekolah-sekolah yang sangat ingin didatangi oleh tim BPBD untuk dilakukannya sosialisasi dan simulasi bencana. Banyak peserta yang tidak hanya datang, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi tentang cara menghadapi bencana yang mungkin terjadi di wilayah mereka. Beberapa kelurahan bahkan secara mandiri mengadakan pertemuan lanjutan untuk membahas materi yang telah diberikan oleh BPBD. Ini menunjukkan bahwa masyarakat Surabaya memiliki kesadaran yang baik tentang pentingnya mitigasi bencana. Tingkat pemahaman masyarakat Surabaya terhadap materi sosialisasi juga patut Dalam kegiatan simulasi, mereka dapat melakukan langkah-langkah penyelamatan diri saat terjadi bencana yang sudah disampaikan oleh tim BPBD dalam sosialisasi dan penyampaian materi sebelumnya. Mereka juga sudah mulai menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengenali titik-titik rawan banjir di lingkungannya atau Riska, at. , al/ Efektivitas Sosialisasi Mitigasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, mempraktikkan cara berlindung saat gempa. Beberapa RW di kelurahan Warugunung. Pradah Kalikendal, dan Karangpilang bahkan telah berinisiatif membuat peta evakuasi mandiri dan melakukan gladi evakuasi secara berkala. Ini membuktikan bahwa materi yang disampaikan BPBD tidak hanya dipahami, tetapi juga diimplementasikan dengan baik oleh warga. Di beberapa wilayah seperti di daerah pesisir dan bantaran sungai yang rawan banjir seperti kelurahan Karangpilang, kesadaran masyarakat akan mitigasi bencana terlihat sangat Warga di daerah ini cenderung lebih aktif dalam setiap kegiatan sosialisasi karena mereka menyadari bahwa wilayah mereka termasuk yang paling rentan terkena dampak bencana. Mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga sudah memiliki pengalaman langsung dalam menghadapi bencana, sehingga lebih mudah menyerap materi yang diberikan. Sayangnya, terkadang ada hambatan yang membuat partisipasi dan pemahaman masyarakat tidak maksimal. Beberapa warga mungkin tidak datang karena acaranya diadakan pada hari kerja, sehingga mereka sibuk dengan urusan lain. Ada juga yang hadir tetapi sulit memahami materi karena bahasa yang terlalu teknis atau cara penyampaian yang membosankan. Selain itu, tingkat pendidikan dan usia juga berpengaruh. Lansia dan orang dengan pendidikan rendah mungkin butuh pendekatan yang lebih sederhana. Oleh karena itu. BPBD menggunakan metode sosialisasi, misalnya dengan menggunakan video, permainan, atau contoh nyata yang mudah dipahami semua kalangan. Partisipasi dan pemahaman masyarakat Surabaya terhadap program mitigasi bencana BPBD secara umum sudah cukup baik. Hal ini terlihat dari tingginya antusiasme warga dalam mengikuti kegiatan sosialisasi serta kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan yang Namun, tetap diperlukan upaya lebih untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang masih kurang aktif atau kesulitan memahami materi. Dengan terus meningkatkan kualitas sosialisasi dan menyesuaikan dengan kebutuhan warga, diharapkan kesiapsiagaan bencana di Surabaya akan semakin baik kedepannya. Efektivitas Program Sosialisasi Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak di Surabaya, program sosialisasi mitigasi bencana BPBD telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Warga seperti bapak Slamet dari daerah rawan banjir mengaku sangat terbantu dengan adanya panduan praktis tentang penyelamatan diri dan persiapan tas siaga bencana, meski ia menyarankan agar kegiatan sosialisasi lebih sering diadakan pada sore hari atau weekend agar lebih banyak warga yang bisa "Dulu waktu banjir, kami panik tidak tahu harus ngapain. Sekarang sudah ada arahan jelas, mulai dari tas siaga bencana, apa saja yang harus dilakukan saat terjadi banjir, sampai titik-titik evakuasi dimana saja," ujarnya. Namun, ia menambahkan bahwa sosialisasi sering dilakukan di siang hari ketika banyak warga sedang bekerja. "Kalau bisa dibuat sore atau weekend, biar lebih banyak yang ikut," sarannya. Ibu Rina, warga lain, mengapresiasi simulasi bencana yang dilakukan namun berharap materi disampaikan dengan bahasa yang lebih sederhana dan visual agar mudah dipahami semua "Banyak istilah teknis yang bikin bingung. Lebih enak kalau pakai contoh nyata atau gambar-gambar," katanya. Meski begitu, ia mengapresiasi simulasi gempa yang menurutnya sangat membantu, terutama untuk mengajari anak-anak cara menyelamatkan diri. Dari dunia pendidikan, salah satu guru SD Bu Sari menceritakan bagaimana siswasiswanya kini lebih sadar akan pentingnya mitigasi bencana dan bahkan menjadi agen perubahan di keluarga mereka. "Anak-anak sekarang lebih aware. Mereka bahkan sering mengingatkan orang tuanya soal tas siaga bencana," ceritanya. Namun, ia menekankan memang perlunya pendekatan khusus untuk anak-anak melalui metode yang lebih menyenangkan seperti permainan atau lagu. "Untungnya menjelaskannya memakai lagu-lagu sederhana tentang mitigasi Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, bencana, jadi anak-anak lebih bisa memahami dan bisa sambil bernyanyi juga" ujarnya. Sementara itu, seorang kepala SMP Bu Nanik menyambut baik program ini tetapi mengusulkan peningkatan frekuensi sosialisasi menjadi setiap semester dengan materi yang lebih mendalam, serta pelatihan khusus untuk guru agar bisa meneruskan pengetahuan ini secara "Idealnya tidak hanya setahun sekali, tapi bisa setiap semester dengan materi yang diperdalam," sarannya. Ia juga berharap ada pelatihan khusus untuk guru-guru agar bisa meneruskan pengetahuan ke siswa secara berkala. Sosialisasi biasanya memang diadakan untuk guru-guru bahkan karyawan karyawati di sekolah terlebih dahulu, mengingat jika terjadi bencana para siswa siswi akan mengikuti bagaimana arahan dari guru mereka, jadi guru harus sudah lebih tau dahulu bagaimana penanganan jika tiba-tiba terjadi bencana saat jam belajar mengajar Program sosialisasi mitigasi bencana yang diselenggarakan oleh BPBD Kota Surabaya telah terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, sebagaimana terlihat dari berbagai indikator positif yang muncul setelah pelaksanaan program ini. Berdasarkan hasil evaluasi dan testimoni warga, terjadi peningkatan signifikan dalam pemahaman masyarakat tentang langkah-langkah penyelamatan diri saat bencana, terbukti dengan banyaknya warga yang kini mampu menjelaskan prosedur evakuasi dengan tepat dan telah mempraktikkan pengetahuan tersebut dalam simulasi yang diadakan. Partisipasi aktif masyarakat dalam setiap kegiatan sosialisasi, mulai dari pelatihan hingga simulasi bencana, menunjukkan antusiasme dan kesadaran yang tinggi akan pentingnya mitigasi bencana, di mana banyak warga tidak hanya hadir sebagai peserta pasif tetapi juga terlibat dalam diskusi dan praktik langsung dengan penuh semangat. Selain itu, implementasi pengetahuan yang diperoleh dari sosialisasi ke dalam kehidupan sehari-hari, seperti penyiapan tas siaga bencana, pembuatan peta evakuasi mandiri di tingkat RT/RW, serta pembentukan kelompok siaga bencana di berbagai wilayah, menjadi bukti nyata bahwa program ini tidak sekadar memberikan teori tetapi benar-benar mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih siap menghadapi bencana. Dukungan dan kolaborasi yang baik antara BPBD dengan berbagai stakeholder, termasuk tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi lokal, telah memperkuat dampak program ini, menciptakan jaringan kesiapsiagaan yang lebih luas dan berkelanjutan di seluruh kota. Meskipun masih ada beberapa aspek yang perlu disempurnakan, seperti penyesuaian jadwal dan metode penyampaian materi, secara keseluruhan program ini telah mencapai tujuan utamanya dalam membangun ketangguhan masyarakat Surabaya terhadap ancaman bencana, menjadikan kota ini sebagai contoh baik dalam upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas. Secara teoretis, efektivitas program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD Kota Surabaya dapat dianalisis melalui lensa Teori Tindakan Sosial Max Weber. Weber berpendapat bahwa tindakan sosial adalah perilaku individu yang penuh makna dan diorientasikan kepada perilaku orang lain. Keberhasilan atau kegagalan program semacam ini sangat bergantung pada kemampuan program tersebut dalam membentuk dan menyelaraskan "makna" dan "orientasi" tindakan masyarakat dari yang semula pasif menjadi aktif dalam kesiapsiagaan bencana. Analisis ini melibatkan pemahaman terhadap jenis-jenis tindakan sosial yang mendasari partisipasi Berdasarkan temuan penelitian, partisipasi masyarakat dalam sosialisasi dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis tindakan sosial Weberian. Pertama. Tindakan Instrumental Rasional (Zweckrationa. , yaitu tindakan yang dilakukan dengan pertimbangan rasional untuk mencapai tujuan tertentu. Hal ini terlihat dari partisipasi masyarakat yang didorong oleh keinginan untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis guna Riska, at. , al/ Efektivitas Sosialisasi Mitigasi Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025, menyelamatkan diri dan harta benda dari ancaman banjir bandang. Kedua. Tindakan Berorientasi Nilai (Wertrationa. , yaitu tindakan yang didasarkan pada keyakinan terhadap nilai-nilai tertentu, seperti rasa tanggung jawab sosial, solidaritas, dan semangat gotong royong khas masyarakat Surabaya. Partisipasi mereka tidak hanya untuk keuntungan pribadi, tetapi juga didorong oleh nilai-nilai luhur untuk menjaga keselamatan bersama. Namun, efektivitas program dalam membentuk tindakan sosial juga menghadapi kendala. Penggunaan bahasa yang terlalu teknis oleh BPBD dapat menciptakan hambatan pemahaman, sehingga makna dari tindakan mengikuti sosialisasi menjadi tidak jelas bagi sebagian masyarakat. Akibatnya, tindakan mereka berpotensi bergeser menjadi Tindakan Tradisional sekedar mengikuti kegiatan karena kebiasaan atau ikut ramai atau bahkan Tindakan Afektif yang didasari emosi sesaat seperti antusiasme tanpa pemahaman mendalam. Kedua jenis tindakan terakhir ini kurang stabil dan berpotensi tidak berkelanjutan untuk membangun kesiapsiagaan jangka Faktor Pendukung dan Penghambat Beberapa faktor kunci turut mendukung keberhasilan program sosialisasi mitigasi bencana di Surabaya. Pertama. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, memegang peranan penting dalam pengurangan risiko bencana dan membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana. Meskipun semua pihak memiliki tanggung jawab dalam mengurangi risiko bencana, pemerintah memiliki tugas utama untuk merumuskan kebijakan yang mengatur pengelolaan bencana di wilayahnya. Pemerintah daerah, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), bertanggung jawab langsung dalam menangani bencana di daerah tersebut. BPBD menjadi sektor utama dalam penanggulangan bencana yang melibatkan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi kebijakan terkait. Dalam hal ini. BPBD Kota Surabaya sebagai lembaga yang terlibat langsung dalam mitigasi bencana, memainkan peran krusial dalam merumuskan program-program untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, termasuk dalam hal sosialisasi mitigasi bencana. Sesuai dengan peran pemerintah dalam mengelola risiko bencana. BPBD Surabaya mengembangkan kebijakan yang mendukung ketahanan masyarakat melalui penyusunan program yang menyesuaikan dengan kebutuhan daerah. Program sosialisasi mitigasi bencana yang dijalankan oleh BPBD diharapkan dapat menjadi langkah konkret untuk mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana, terutama banjir rob yang menjadi ancaman utama di kota ini. Dengan adanya kebijakan yang mendukung serta pelaksanaan program yang terencana. BPBD berperan dalam memastikan bahwa masyarakat Surabaya siap menghadapi bencana yang mungkin terjadi. Kedua, jejaring kolaborasi yang kuat antara BPBD dengan berbagai pemangku kepentingan seperti sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan dunia usaha menciptakan sinergi yang memperluas jangkauan program. Ketiga, kearifan lokal masyarakat Surabaya yang memiliki budaya gotong royong memudahkan proses adopsi pengetahuan kebencanaan ke dalam kehidupan sehari-hari. Faktor pendukung lain yang tak kalah penting adalah ketersediaan SDM terlatih dari BPBD dan relawan yang kompeten dalam menyampaikan materi. Efektivitas program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD Kota Surabaya didukung oleh sejumlah faktor utama. Pertama, komitmen kelembagaan dan kapasitas sumber daya manusia BPBD yang telah terlatih secara profesional memungkinkan pelaksanaan program yang terarah dan berkelanjutan. Kedua, kerja sama lintas sektor dengan instansi terkait, seperti Dinas Pendidikan, pemerintah kelurahan, dan organisasi masyarakat sipil, memperkuat jangkauan dan efektivitas penyebaran informasi. Ketiga, pemanfaatan teknologi informasi dan media digital memungkinkan komunikasi yang lebih luas dan cepat, terutama di kalangan masyarakat perkotaan yang aktif secara daring. Terakhir, tingginya literasi dan kesadaran kolektif masyarakat Socius E-ISSN: 3025-6704 Socius: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial Vol. No. 5 Tahun 2025. Surabaya terhadap risiko bencana menjadi modal sosial penting dalam mendukung kesiapsiagaan yang berkelanjutan. Keterbatasan anggaran seringkali membatasi frekuensi dan kualitas pelaksanaan Dinamika sosial masyarakat yang padat aktivitas menyulitkan pencarian waktu yang tepat untuk sosialisasi. Keragaman demografi Surabaya dengan perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan budaya menuntut pendekatan yang berbeda-beda namun belum sepenuhnya Beberapa kendala masih menghambat efektivitas program sosialisasi mitigasi bencana di Kota Surabaya. Pertama, partisipasi masyarakat belum merata, terutama di kawasan padat penduduk dan permukiman informal yang menghadapi keterbatasan akses informasi. Kedua, keterbatasan anggaran dan sumber daya operasional membatasi jangkauan serta kualitas pelaksanaan program. Ketiga, belum adanya sistem monitoring dan evaluasi berbasis data menghambat penilaian terhadap dampak nyata program terhadap kesiapsiagaan masyarakat. Terakhir, kurangnya integrasi mitigasi bencana dalam kurikulum pendidikan dan perencanaan wilayah menyebabkan lemahnya pemahaman jangka panjang serta kesiapan struktural dalam menghadapi risiko bencana. Secara umum, keberhasilan program sosialisasi sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak dan konsistensi dalam penyelenggaraan program secara menyeluruh dan berkelanjutan. SIMPULAN Program sosialisasi mitigasi bencana oleh BPBD Kota Surabaya telah memberikan dampak positif dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, meskipun masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Tingkat partisipasi masyarakat tergolong tinggi, terlihat dari antusiasme warga dalam mengikuti pelatihan, simulasi, dan diskusi, serta adanya implementasi nyata seperti penyiapan tas siaga bencana, pembuatan peta evakuasi, dan pembentukan kelompok siaga di tingkat komunitas. Pemahaman masyarakat terhadap materi sosialisasi juga meningkat, terutama dalam hal tindakan penyelamatan diri saat bencana, meskipun beberapa kendala seperti penggunaan istilah teknis, waktu pelaksanaan yang kurang tepat, dan keterbatasan pendekatan untuk kelompok rentan masih perlu diperbaiki. Analisis efektivitas program berdasarkan wawancara dengan warga dan pihak sekolah menunjukkan bahwa sosialisasi ini telah membangun kesadaran kolektif, sekaligus menyoroti perlunya penyempurnaan dalam hal metode penyampaian, frekuensi kegiatan, dan pendalaman materi. Faktor pendukung seperti dukungan pemerintah, kolaborasi multipihak, dan kearifan lokal masyarakat telah memperkuat pelaksanaan program, sementara faktor penghambat seperti keterbatasan anggaran, keragaman demografi, dan kejenuhan peserta menjadi catatan penting untuk perbaikan ke depan. Secara keseluruhan, program ini telah berhasil menciptakan fondasi kesiapsiagaan bencana di Surabaya, namun diperlukan inovasi berkelanjutan, penyesuaian strategi komunikasi, dan perluasan jangkauan agar dampaknya dapat lebih optimal dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. REFERENSI