Al Marhalah Volume. No. 2 November 2025 P-ISSN 0126-043X E-ISSN 27162-400 FAITH IN FOREST: PERSEPSI GENERASI Z TERHADAP ECOTHEOLOGY DAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN DALAM KONTEKS KEAGAMAAN Salmah1. Shella Aulia Putri2. Surawan3 Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Indonesia Email: salmah. mtzza@gmail. Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Indonesia Email: shella2311120026@ftik. iain-palangkaraya. Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Indonesia Email: surawan@uin-palangkaraya. ABSTRACT The global environmental crisis, marked by climate change, deforestation, pollution, and the increasing frequency of natural disasters, requires stronger ecological awareness, particularly among younger generations. Generation Z, as digital natives, holds great potential to become agents of change in integrating religious values with ecological concern. This study aims to analyze Generation ZAos perception of ecotheology and environmental awareness in religious contexts. The method employed is a literature review with content analysis of eight scholarly articles discussing ecotheology, disaster theology, youth movements. Islamic education, and global spirituality perspectives. The findings reveal that Generation Z tends to adopt a more critical perspective on environmental issues compared to previous generations and is able to connect faith-based values with ecological practices through social movements, education, and digital platforms. The study concludes that Generation Z plays a crucial role in shaping ecotheological narratives that are both religious and adaptive to modern challenges, thereby fostering a Muslim generation that is religious, ecological, and prepared to face global environmental crises Keyword: Generation Z. Ecotheology. Environmental Awareness. Religion ABSTRAK Krisis lingkungan global yang ditandai dengan perubahan iklim, deforestasi, pencemaran, dan meningkatnya bencana alam menuntut lahirnya kesadaran ekologis yang lebih kuat, terutama di kalangan generasi muda. Generasi Z sebagai generasi digital natives memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan kepedulian ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi Generasi Z terhadap ekoteologi dan kepedulian lingkungan dalam konteks keagamaan. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan analisis isi terhadap delapan artikel ilmiah yang membahas ekoteologi, teologi bencana, gerakan pemuda, pendidikan Islam, dan perspektif spiritualitas global. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kecenderungan lebih kritis dalam memandang isu lingkungan dibanding generasi sebelumnya, serta mampu mengaitkan nilai iman 159 | Al Marhalah | Salmah. Shella Aulia Putri. Surawan dengan praktik ekologis melalui gerakan sosial, pendidikan, dan media digital. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa Generasi Z berperan penting dalam membangun narasi ekoteologi yang religius sekaligus adaptif terhadap tantangan modern, sehingga berpotensi melahirkan generasi Muslim yang religius, ekologis, dan siap menghadapi krisis lingkungan global. Kata Kunci: Generasi Z. Ekoteologi. Kepedulian Lingkungan. Keagamaan PENDAHULUAN Lingkungan hidup merupakan anugerah Tuhan yang seharusnya dijaga demi keberlangsungan seluruh makhluk hidup, dan dalam perspektif ekoteologi hubungan antara Tuhan, manusia, dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Namun, kenyataannya kondisi lingkungan global menunjukkan krisis yang semakin memprihatinkan, ditandai dengan perubahan iklim, deforestasi, pencemaran, serta bencana ekologis seperti banjir di wilayah pesisir utara Jawa yang menyingkap rapuhnya keseimbangan ekosistem akibat perilaku Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana generasi masa kini, khususnya Generasi Z sebagai digital natives, memandang persoalan lingkungan dari sudut pandang keagamaan. Urgensi penelitian ini terletak pada kebutuhan memahami persepsi generasi muda dalam mengintegrasikan nilai religius dengan kesadaran ekologis, sebab generasi ini terpapar wacana global melalui media digital sehingga responsnya berbeda dengan generasi sebelumnya. Sejumlah penelitian terdahulu memang telah mengkaji dimensi agama dan ekologi, seperti Rahmat Effendi yang menyoroti konservasi hutan berbasis adat Islam di Kampung Dukuh. Melisa Diah yang menemukan perbedaan teologi bencana antara Gen X dan Gen Z. Adli Dzil Ikram yang mengulas pemikiran AlFaruqi tentang ekoteologi berbasis iman. Mansurni Abadi dkk. yang meneliti gerakan ekologis pemuda Muslim seperti Eco-Deen dan Green Cadre Muhammadiyah, serta Baso Syafaruddin yang menekankan integrasi ekoteologi dalam pendidikan Islam. Kajian internasional juga menyoroti keterhubungan spiritualitas dan kesejahteraan dengan alam (Ryf. , praktik konservasi berbasis kesucian ruang dan spesies (Kal. , hingga kebangkitan gerakan ekoteologi lintas agama (Gottlie. Akan tetapi, kajian yang secara khusus membahas persepsi Generasi Z terhadap ekoteologi dalam konteks keagamaan masih terbatas. Oleh karena itu, kebaruan penelitian ini terletak pada fokus generasional yang menekankan dimensi religius sekaligus digital, dengan keunikan pada integrasi nilai agama, kesadaran ekologi, dan narasi yang dibangun generasi muda melalui ruang digital. Penelitian ini signifikan karena tidak hanya memperluas diskursus teoretis tentang ekoteologi Islam, tetapi juga memberikan kontribusi praktis bagi pendidik, pembuat kebijakan, dan organisasi keagamaan untuk merancang strategi pendidikan dan gerakan ekologis yang lebih sesuai dengan karakteristik generasi muda, sehingga melahirkan generasi Muslim yang religius sekaligus ekologis. Selain itu, penting untuk menyoroti bagaimana Generasi Z memahami ekoteologi bukan hanya sebagai gagasan teoretis, tetapi juga sebagai bentuk praktik keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menafsirkan ajaran agama tentang amanah dan khalifah sebagai dasar untuk bertindak ekologis, seperti mengurangi penggunaan plastik, mendukung gaya hidup berkelanjutan, serta memanfaatkan media digital untuk menyebarkan pesan kepedulian lingkungan. Hal ini 160 | Al Marhalah Faith In Forest: Persepsi Generasi Z Terhadap Ecotheology A menunjukkan bahwa kesadaran ekoteologis Generasi Z bersifat aktif, partisipatif, dan berorientasi tindakan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain kajian kepustakaan . ibrary researc. yang dipadukan dengan analisis tematik. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk menggali pemahaman konseptual mengenai ekoteologi, kepedulian lingkungan, dan persepsi generasi muda berdasarkan temuan-temuan penelitian yang sudah ada. Sumber data penelitian berasal dari artikel-artikel ilmiah yang relevan dan mutakhir mengenai ekoteologi, spiritualitas, serta kesadaran lingkungan dalam konteks keagamaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi, yaitu membaca secara mendalam, mencatat poin-poin penting, serta mengklasifikasikan tema yang berkaitan dengan isu penelitian. Analisis data dilakukan dengan metode analisis isi analisis juga menyoroti bagaimana persepsi keagamaan Generasi Z tercermin dalam tindakan ekologis dan perilaku digital mereka, sebagai bentuk penerapan nilai iman dalam konteks sosial modern. yang terdiri dari tiga tahapan: . reduksi data, yaitu memilah informasi penting dari literatur yang relevan. penyajian data, yaitu mengelompokkan temuan dalam tema-tema utama seperti konservasi berbasis nilai agama, teologi bencana, gerakan generasi muda, pendidikan Islam, dan spiritualitas global. penarikan kesimpulan, yaitu merumuskan sintesis yang menegaskan kebaruan dan kontribusi penelitian terhadap kajian ekoteologi. Untuk menjaga keabsahan data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi sumber, dengan cara membandingkan berbagai hasil kajian yang berasal dari konteks, disiplin, dan sudut pandang yang berbeda. Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan valid, komprehensif, dan mampu memberikan gambaran utuh mengenai persepsi generasi muda terhadap ekoteologi dan kepedulian lingkungan dalam kerangka keagamaan. Selain kajian pustaka, penelitian ini juga menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan instrumen kuesioner terbuka dan tertutup untuk memperoleh data empiris dari mahasiswa Generasi Z. Responden berjumlah 10 mahasiswa aktif semester 5-6 dari UIN Palangka Raya. Data dikumpulkan melalui Google Form dan dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola persepsi dan praktik ekologis berbasis nilai iman. Pendekatan ini dipilih agar hasil penelitian tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga mencerminkan realitas spiritual dan sosial generasi muda terhadap isu ekoteologi. HASIL PEMBAHASAN Persepsi Mahasiswa terhadap Ecotheology Berdasarkan hasil kuesioner terhadap 10 mahasiswa Generasi Z . sia 20Ae 22 tahun, seluruhnya perempuan, semester 5Ae. , diperoleh temuan bahwa mayoritas responden memahami ecotheology sebagai ajaran yang mengaitkan nilai agama dengan tanggung jawab manusia terhadap alam. Sebagian besar responden memberikan skor 3Ae5 . etuju hingga sangat setuj. pada pernyataan seperti AuSaya memahami bahwa ecotheology adalah ajaran yang mengaitkan nilai agama dengan tanggung jawab terhadap alamAy dan AuManusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi. Ay 161 | Almarhalah | Salmah. Shella Aulia Putri. Surawan Hal ini menunjukkan adanya pemahaman konseptual bahwa iman dan tanggung jawab ekologis tidak terpisahkan. Kesadaran ini selaras dengan pandangan Ismail Raji al-Faruqi . bahwa menjaga lingkungan merupakan wujud keimanan, serta memperkuat gagasan Rahmat Effendi . bahwa konservasi alam berbasis nilai Islam menumbuhkan perilaku ekologis yang berakar pada tauhid dan amanah. Temuan ini menandakan bahwa mahasiswa Generasi Z memiliki kesadaran teologis yang cukup kuat terhadap isu lingkungan. Mereka tidak memandang lingkungan hanya sebagai aspek ilmiah, tetapi sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Nilai Iman dan Tanggung Jawab Lingkungan Analisis terhadap jawaban terbuka menunjukkan bahwa sebagian besar responden memaknai hubungan antara iman dan tanggung jawab lingkungan sebagai hubungan yang saling menguatkan. Salah satu responden menuliskan: AuIman mendorong manusia untuk bertanggung jawab terhadap bumi karena alam adalah amanah dari Tuhan. Ay Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa mahasiswa memahami tindakan ekologis sebagai bagian dari praktik iman . aith in actio. Kesadaran religius ini memperkuat teori Syafaruddin . yang menegaskan pentingnya integrasi nilai ekoteologi dalam pendidikan Islam agar peserta didik mampu memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Selain itu, hampir seluruh responden menyatakan AusetujuAy bahwa merusak lingkungan merupakan bentuk pelanggaran nilai keagamaan. Hal ini menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki orientasi moral yang jelas dalam melihat krisis ekologi sebagai persoalan spiritual dan sosial. Dengan demikian, nilai iman berperan sebagai dasar etika ekologis yang menuntun tindakan nyata. Praktik Ekologis Generasi Z Dalam praktik keseharian, mayoritas responden mengaku melakukan tindakan sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya, menghemat air dan listrik, mengurangi plastik sekali pakai, dan mengikuti kampanye lingkungan di media sosial. Salah satu responden menyebutkan: AuSaya sering ikut kampanye di media sosial untuk mengingatkan teman-teman agar tidak buang sampah sembarangan. Ay Tindakan-tindakan ini menunjukkan bahwa nilai iman telah diinternalisasi dalam bentuk perilaku ekologis konkret. Generasi Z tidak hanya memahami ajaran agama, tetapi juga mengadaptasikannya dengan gaya hidup modern melalui media digital. Hal ini sejalan dengan penelitian Mansurni Abadi dkk. yang menunjukkan bahwa gerakan pemuda Muslim seperti Eco-Deen dan Green Cadre Muhammadiyah mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam aktivisme ekologis. Dalam konteks ini, mahasiswa Generasi Z menunjukkan karakter sebagai agen perubahan ekologis berbasis iman mereka menggunakan ruang digital untuk memperluas dakwah lingkungan dan menunjukkan bentuk baru dari ecotheological activism. Diskusi dan Sintesis Teori-Lapangan Sintesis antara kajian pustaka dan hasil lapangan menunjukkan bahwa Generasi Z memiliki kesadaran ekoteologis yang kritis, reflektif, dan berbasis tindakan nyata. Temuan ini mendukung pernyataan Maharani . bahwa terjadi pergeseran paradigma dari teologi pasif menuju teologi ekologis 162 | Al Marhalah Faith In Forest: Persepsi Generasi Z Terhadap Ecotheology A partisipatif, di mana iman tidak hanya dimaknai sebagai keyakinan, tetapi juga aksi sosial untuk menjaga bumi. Responden dalam penelitian ini menunjukkan kecenderungan untuk memaknai alam sebagai bagian dari amanah spiritual. Kesadaran ini muncul seiring meningkatnya paparan informasi digital dan gerakan sosial lingkungan di media daring. Dengan demikian. Generasi Z mempraktikkan digital faith ecology bentuk spiritualitas ekologis yang memadukan nilai keagamaan dan kepedulian lingkungan melalui media digital. Hasil ini juga menunjukkan bahwa generasi muda Muslim berpotensi besar dalam membangun narasi ecotheology kontemporer yang relevan dengan Mereka memadukan nilai iman, teknologi, dan tanggung jawab ekologis, menjadikan spiritualitas tidak hanya ritual, tetapi juga aksi sosial berkelanjutan. KESIMPULAN Berdasarkan kajian literatur dan analisis tematik terhadap sejumlah penelitian nasional dan internasional . 1Ae2. , penelitian ini menyimpulkan bahwa Generasi Z menunjukkan kecenderungan kritis terhadap isu lingkungan dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan praktik ekologis melalui ruang digital, gerakan pemuda, dan pendidikan kontekstual. Narasi ekoteologi yang dikembangkan oleh generasi ini bersifat dinamis: memadukan kearifan lokal, ajaran agama . konsep amanah, khalifa. , dan strategi komunikasi modern. Temuan ini didukung oleh studi empiris tentang perilaku pro-lingkungan Gen Z, laporan nasional mengenai sikap generasi, serta kajiankajian ekoteologi lintas-agama dan pendidikan ekolojik. Dengan demikian. Generasi Z memaknai ekoteologi bukan sekadar keyakinan religius, melainkan wujud nyata dari keimanan yang diwujudkan dalam tindakan ekologis dan sosial. Selain itu, berdasarkan temuan lapangan melalui kuesioner terhadap mahasiswa generasi Z, penelitian ini menegaskan bahwa kesadaran ekoteologis tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. Generasi Z menunjukkan hubungan yang kuat antara iman, tanggung jawab moral, dan tindakan ekologis, menjadikannya generasi yang potensial dalam mengembangkan gerakan ekoteologi berbasis nilai keagamaan. Implikasi praktis dari kajian ini adalah perlunya integrasi ekoteologi secara eksplisit dalam kurikulum pendidikan Islam, pelibatan organisasi kemasyarakatan dan gerakan pemuda dalam kegiatan konservasi, serta pemanfaatan media digital untuk penyebaran narasi religius-ekologis yang konstruktif. Rekomendasi penelitian selanjutnya meliputi studi lapangan berbasis mixed-method untuk mengukur efek pendidikan ekoteologi pada perilaku pro-lingkungan Gen Z dan kajian komparatif antar-komunitas agama. DAFTAR PUSTAKA