Jurnal Pendidikan Sultan Agung Volume 4 Nomor 2. J u n i Tahun 2024 Hal. 91Ae 101 JP-SA Nomor E-ISSN: 2775-6335 SK No. 27756335/K. 4/SK. ISSN/2021. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung Jl. Kaligawe Raya KM. 4 Kecamatan Genuk Semarang 50112 Jawa Tengah Indonesia Alamat website: http://jurnal. id/index. jpsa/index ========================================================================= PENDIDIKAN KARAKTER MEMBANGUN PESERTA DIDIK YANG CERDAS DAN BERKARAKTER DI ERA REVOLUSI INDUSTRY 4. Siti Khopipatu Salisah1*. Astuti Darmiyanti2 . Yadi Fahmi Arifudin3 Pendidikan Agama Islam/Fakultas Agama Islam/Universitas Singaperbangsa Karawang Email: 2010631110130@student. Abstrak Rendahnya literasi digital peserta didik pada abad 21 mengakibatkan hasil belajar formatif pada pembelajaran IPAS yang tidak sesuai dengan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran (KKTP). Rendahnya hasil belajar formatif diakibatkan karena siswa kurang semangat dalam pembelajaran IPAS, untuk mengatasi permasalahan dibutuhkan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik. Penggunaan Media Edugames berbasis Articulate Storyline 3 dianggap sebagai salah satu media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik pada pembelajaran IPAS. Tujuan penelitian adalah untuk mengaplikasikan penerapan edugames. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah R&D. Metode yang dilakukan dengan mengumpulkan berbagai sumber yang relevan sehingga memperoleh inti dari penelitian sebelumnya kemudian dianalisis. Subjek uji coba penelitian adalah siswa kelas 4 SD Negeri 1 Gubug. Hasil dari penelitian ini diperoleh hasil validator ahli media 1 dengan presentase 95% dan ahli media 2 dengan presentase 94%. Dan validator ahli materi dengan presentase 905% dan ahli materi 2 dengan presentas 89%. Sehingga dapat disimpulkan Penerapan Media Edugame berbasis articulate story line 3 efektif dalam pembelajaran IPAS sehingga berpengaruh dalam meningkatkan literasi digital dan meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik dapat dibuktikan melalui tercapinya KKTM Kata kunci: Pendidikan Karakter. Revolusi Industri. Edugames. IPAS Abstract The low level of digital literacy of students in the 21st century has resulted in formative learning outcomes in science and science learning that are not by the criteria for achieving learning objectives (KKTP). The low formative learning outcomes are caused by students' lack of enthusiasm for learning science and technology. To overcome these problems, learning media are needed that are appropriate to the characteristics of The use of Edugames Media based on Articulate Storyline 3 is considered as one of the learning media that suits the characteristics of students in science learning. The research aims to apply the application of games. The method used in research is R&D. The method used is to collect various relevant sources to obtain the essence of previous research and then analyze it. The research trial subjects were 4th-grade students at SD Negeri 1 Gubug. The results of this research obtained validator results from media expert 1 with a percentage of 95% and media expert 2 with a percentage of Material expert validator with a percentage of 905% and e material expert 2 with a percentage of 89%. So it can be concluded that the application of articulate storyline 3based educational media is effective in science and science learning so that it affects increasing digital literacy and improving students' cognitive learning outcomes, which can be proven through achieving KKTM. Keywords: Articulate storyline. Edugames. Digital literacy Jurnal Pendidikan Sultan Agung Vol. 4 No. 2 Juni 2024 PENDAHULUAN Pendidikan karakter adalah upaya yang disengaja untuk membantu peserta didik atau individu mampu menginternalisasikan nilai-nilai utama etika sehingga memahami, mempunya perhatian dan mengutamakan nilai-nilai dasar etika tersebut yaitu apa yang diyakini benar, adil, jujur, tanggung jawab, penghargaan terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain. Dengan demikian nilai-nilai utama etika tersebut dapat membentuk pribadi yang utuh dan tercermin dalam sikap dan perilaku individu dalam interaksi sosial disekolah atau dalam masyarakat (Prihatmojo et al. , 2. Pendidikan karakter peserta didik biasanya terkait dengan dasar etika dan moral, sosial . elajar mengendalikan emos. , penyelesaian konflik dan memengaruhi . konflik teman sebaya dan seluruh pengembangan karakter. Di zaman sekarang melihat kondisi peserta didik mengenai pendidikan karakternya sangatlah mengkhawatirkan, pasalnya kini peserta didik sedang mengalami kemerosotan karakter yang begitu bisa dikatakan jauh dari apa yang diharapkan sebagai generasi penerus bangsa yang berkarakter baik. Apabila hal ini terus menerus dibiarkan dan tidak segera untuk dipurifikasi maka tidaklah akan mengubah keadaan peserta didik dari kemerosotan karakter, justru akan semakin jauh lagi peserta didik dengan karakter yang baik. Maka dengan itu pendidikan karakter perlu dilaksanakan sesuai dengan konsep pendidikan karakter dimana peserta didik akan terbentuk karakternya yang tercerminkan kepada nilai-nilai karakter. Dengan diamalkan nilai-nilai karakter tersebut oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari terutama ketika disekolah, peserta didik akan bisa mencapai prestasi akademik yang baik karena adanya disiplin ilmu dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Apalagi jika peserta didik didukung dan dibarengi dengan rasa tanggungjawab terhadap tugas-tugas akademis yang tidak hanya sekedar diselesaikan saja tetapi juga dipahami secara mendalam mengenai tugas-tugas tersebut. Era revolusi industri 4. 0 membawa pengaruh dan dampak yang signifikan terhadap pendidikan karakter, ada beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan. Pertama, adanya perubahan kebutuhan keterampilan di mana nanti dampaknya bisa dalam berbentuk keterampilan teknis dan digital kemudian juga mengenai adaptabilitas. Kedua, mengenai metode pembelajaran yang berubah ini sangat berdampak kepada pembelajaran berbasis teknologi dan pembelajaran mandiri. Ketiga, pengembangan soft skill peserta didik nantinya akan berdampak kepada kecerdasan emosional dan kolaborasi dan komunikasi dalam pendidikan karakter. Keempat tantangan mengenai etis dan sosial di mana nanti dampaknya mengenai kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Kelima, mengenai kreativitas dan inovasi di mana dampaknya mengenai pemikiran kreatif dan inisiatif serta mengenai wirausaha. Keenam, globalisasi dan keterlibatan global . esadaran global dan kompetensi antar buday. kemudian adanya tekanan mental dan stres . esejahteraan mental dan ketahana. dan pembelajaran seumur hidup . omitmen terhadap pembelajaran berkelanjutan dan fleksibilitas belaja. Integrasi nilai-nilai dan keterampilan yang relevan dalam pendidikan karakter akan memastikan bahwa peserta didik tidak hanya siap secara teknis tetapi memiliki pondasi karakter yang kuat menghadapi tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh revolusi industri 4. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 Pada era revolusi industri 4. 0 karakteristik yang dibutuhkan untuk sukses dalam menghadapi tantangan era revolusi ini bisa meliputi, sebagai berikut: . kreativitas dan inovasi yaitu kemampuan untuk berpikir di luar kotak dan menghasilkan ide-ide baru yang dapat memberikan solusi inovatif terhadap masalah yang ada, . keterampilan digital di mana pemahaman mendalam tentang teknologi digital termasuk kemampuan untuk menggunakan perangkat lunak, platform dan alat digital yang relevan, . kemampuan beradaptasi untuk menyesuaikan diri dengan cepat terhadap perubahan dan perkembangan teknologi serta pasar yang dinamis, . kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah untuk menganalisis situasi dengan cermat dan menemukan solusi yang efektif, . kepemimpinan dan kolaborasi di mana peserta didik harus mampu memimpin tim dengan efektif serta bekerja sama dalam lingkungan yang kolaboratif, . keterampilan komunikasi untuk menyampaikan ide dan informasi dengan jelas baik secara lisan maupun tulisan, . pembelajaran seumur hidup peserta didik harus berkomitmen untuk terus belajar dan berkembang sesuai dengan perubahan teknologi dan tuntutan pekerjaan, . kecerdasan emosional di mana kemampuan untuk memahami, mengelola, dan mengendalikan emosi diri sendiri untuk berempati terhadap orang lain, . kesadaran sosial dan etika untuk memahami dampak sosial dan etis dari teknologi dan tindakan bisnis serta bertindak dengan tanggung jawab sosial, dan . kewirausahaan ini kemampuan untuk mengenali peluang bisnis baru dan mengambil resiko yang diperlukan untuk mengeksploitasi peluang tersebut. Memiliki kombinasi karakteristik tersebut yang sudah dijelaskan sebelumnya akan membantu peserta didik beradaptasi dan berkembang di tengah tantangan dan peluang yang ditawarkan oleh revolusi industri 4. Penelitian mengenai pendidikan karakter dalam membangun peserta didik yang cerdas dan berkarakter di era revolusi industri 4. 0 memiliki beberapa tujuan penelitian yaitu untuk mengidentifikasi kebutuhan keterampilan dan nilai-nilai baru untuk menentukan keterampilan dan nilai-nilai apa saja yang nantinya diperlukan oleh peserta didik agar sukses di era revolusi 4. 0, mengembangkan kurikulum dan metode pengajaran yang efektif dalam mengintegrasikan pendidikan karakter dengan keterampilan teknis dan digital yang relevan, menilai efektivitas program pendidikan karakter untuk mengevaluasi sejauh mana program pendidikan karakter saat ini berhasil dalam membentuk peserta didik yang cerdas dan berkarakter, mengidentifikasi tantangan dan peluang dalam penerapan pendidikan karakter di era digital termasuk hambatan dan solusi potensial, dan membuat rekomendasi kebijakan untuk menyusun rekomendasi pembuatan kebijakan, pendidik dan institusi pendidikan tentang cara terbaik untuk mengimplementasikan pendidikan karakter dalam kurikulum. Manfaat dari penelitian ini yaitu untuk peningkatan kualitas pendidikan dengan memastikan bahwa peserta didik itu tidak hanya menguasai pengetahuan teknis tetapi juga memiliki karakter yang kuat, pengembangan sumber daya manusia yang holistik untuk membangun peserta didik yang seimbang dalam aspek kognitif emosional, dan sosial yang siap menghadapi tantangan global dan teknologi. Dengan demikian penelitian mengenai pendidikan karakter di era revolusi industri 4. 0 tidak hanya bermanfaat bagi individu peserta didik tetapi juga bagi masyarakat secara keseluruhan untuk mempersiapkan generasi masa depan yang cerdas berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan yakni pendekatan yang digunakan untuk mengumpulkan, meninjau dan menganalisis literatur yang relevan dengan topik Untuk pengumpulan literaturnya bersumber dari kumpulan sumber-sumber yang relevan seperti buku, artikel jurnal, makalah konferensi, laporan penelitian, dan sumber lainnya yang berkaitan dengan topik dengan kriteria seleksi untuk menentukan literatur mana yang akan dimasukkan dalam studi. Kemudian untuk mengorganisasian literaturnya dikategorisasi dan pemetaan literatur yakni dengan mengorganisasikan literatur yang telah dikumpulkan berdasarkan tema, konsep, atau teori yang muncul kemudian dibuat peta literatur untuk memahami bagaimana penelitian sebelumnya terhubung dan bentuk dasar bagi penelitian yang sekarang sedang dilakukan. Selanjutnya untuk analisis literaturnya itu menggunakan peninjauan kritis dan sintetis temuan di mana tinjauan literatur yang dikumpulkan dengan kritis untuk mengidentifikasi kekuatan kelemahan dan kesenjangan dalam penelitian sebelumnya dan sintesis temuan ini dari berbagai sumber untuk mengidentifikasi pola tema dan tren utama dalam literatur. validasi dan verifikasi digunakan dari beberapa sumber dan referensi yang dapat dipercaya yang kemudian diperiksa kembali dengan analisis dan interpretasi literatur untuk memastikan bahwa konsistensi dan akurasi (Sugiyono, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk menyajikan data mengenai minimnya penerapan pendidikan karakter dalam pembelajaran di era Revolusi Industri 4. 0, peneliti menyajikan menggunakan tabel atau diagram untuk memvisualisasikan temuan dari berbagai studi atau laporan. Berikut ini adalah tabel yang menampilkan beberapa aspek terkait minimnya penerapan pendidikan karakter di berbagai institusi pendidikan: Tabel 1. Penerapan Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Era Revolusi Industri 4. Aspek Temuan penelitian (%) Tidak ada kurikulum khusus Kurangnya pelatihan guru Fokus pada keterampilan teknis Rendahnya kesadaran peserta didik Keterbetasan waktu Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 Berikut ini merupakan penjelasan mendalam mengenai table 1 diatas, yakni : Temuan dilapangan menyatakan Tidak Ada Kurikulum Khusus . %) untuk pendidikan karakter dari berbagai institusi pendidikan. Sehingga Implikasinya kurikulum yang tidak memasukkan pendidikan karakter secara eksplisit dapat menyebabkan peserta didik tidak mendapatkan pembelajaran yang sistematis tentang nilai-nilai karakter. Kurangnya Pelatihan Guru . %), guru merasa kurang mendapatkan pelatihan yang memadai tentang bagaimana mengintegrasikan pendidikan karakter dalam pembelajaran mereka. Sehingga berimplikasi bahwa tanpa pelatihan yang memadai, guru mungkin kesulitan untuk mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai karakter kepada peserta didik mereka. Pelatihan yang memadai pada pendidikan karakter sering kali Guru memerlukan panduan dan dukungan untuk mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam pelajaran mereka. Fokus pada Keterampilan Teknis . %), institusi pendidikan lebih fokus pada pengembangan keterampilan teknis seperti pemrograman dan penggunaan teknologi dari pada pendidikan karakter. Meskipun keterampilan teknis penting, kurangnya fokus pada pendidikan karakter dapat mengakibatkan peserta didik kurang dalam aspek sosial dan emosional yang juga penting di era digital. Meskipun keterampilan teknis sangat penting di era Revolusi Industri 4. 0, mengabaikan pendidikan karakter dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam perkembangan peserta didik. Mereka mungkin mahir dalam aspek teknis, tetapi kurang dalam kemampuan sosial dan etika. Rendahnya Kesadaran peserta didik . %) menunjukkan kesadaran yang rendah tentang pentingnya nilai-nilai karakter dalam kehidupan mereka. Rendahnya kesadaran ini mungkin karena kurangnya penekanan pada pendidikan karakter dalam kurikulum dan kegiatan sekolah. Rendahnya kesadaran peserta didik tentang pentingnya pendidikan karakter menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih sistematis. Keterbatasan Waktu . %), guru merasa tidak memiliki cukup waktu untuk mengintegrasikan pendidikan karakter karena beban kurikulum yang padat. Waktu yang terbatas menghalangi guru untuk mengajarkan nilai-nilai karakter secara efektif. keterbatasan waktu menghambat guru untuk mengajarkan nilai-nilai ini, sehingga memerlukan solusi seperti integrasi yang lebih baik dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Data dan analisis ini menunjukkan bahwa untuk memperbaiki pendidikan karakter di era Revolusi Industri 4. 0, perlu adanya pendekatan yang lebih holistik dan terintegrasi dalam sistem pendidikan, termasuk kurikulum yang lebih komprehensif, pelatihan yang lebih baik untuk guru, dan penyesuaian waktu serta prioritas dalam proses belajar mengajar. Dasar Pemikiran Pendidikan Karakter Membentuk Peserta Didik Cerdas Dan Berkrakter Pendidikan karakter merupakan proses internalisasi nilai-nilai utama etika yang dilakukan oleh peserta didik sendiri di antaranya nilai kebenaran, kejujuran, keadilan, tanggung jawab, disiplin dan menghormati orang lain. Tujuanya agar peserta didik dapat menjunjung tinggi dan melaksanakan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang nantinya akan berdampak lebih lanjut peserta didik menjadi dirinya lebih baik (Mulyadi & Basuki, 2. Menurut (Gunawan, 2. pendidikan karakter memungkinkan peserta didik mencerminkan nilai-nilai karakter dalam perilakunya, nilai95 Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 nilai karakter tersebut adalah sebagai berikut: . Keteguhan hati yaitu memiliki ketetapan hati atau kebulatan tekad melakukan sesuatu yang benar walaupun orang lain pada umumnya menolak untuk melakukan. Keputusan yang baik yaitu memilih tujuan yang bermanfaat dan menempatkan prioritas secara tepat memikirkandikerjakan dan berdasarkan pemahaman yang baik. Integritas yaitu memiliki kemauan yang kuat untuk selalu mengatakan yang sebenarnya jujur dalam segala hal bertindak pantas dan . Kebaikan hati yaitu mempunyai rasa kemanusiaan yang tinggi, sopansebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri. Ketekunan yaitu berkeras hati mengejar sesuatu yang secara objektif bermanfaat meskipun dihadapkan pada kesulitan, penolakan ketidakteguhan hati artinya kita perlu kesabaran dan keuletan untuk mencoba lagi ketika mengalami kelambatan kesalahan dan kegagalan. Rasa hormat yaitu menunjukkan hormat yang tinggi kepada otoritas, orang lain, diri sendiri, harta benda dan negara serta memahami bahwa semua orang mempunyai nilai yang sama dengan manusia. Tanggung jawab yaitu tidak bersemana-mana dalam menjalankan kewajiban dan tugas bertanggung jawab dan konsisten dalam ucapan serta tindakan, pertanggungjawab untuk tidakannya sendiri dan mempunyai komitmen untuk terlibat dalam aktivitas komunitasnya, dan . Disiplin diri sendiri yaitu menunjukkan kerja keras dan berkomitmen kepada tujuan mampu mengelola diri sendiri untuk melakukan perbaikan dan pembelajaran dari perilaku yang tepat serta mampu mengendalikan katakata implus dan keinginan menjauhkan dari hubungan seks pranikah narkoba, alkohol, dan zat berbahaya serta perilaku berbahaya lainnya dan melakukan yang terbaik dalam semua situasi Pandangan karakter education partnership yang menyatakan pendidikan karakter itu mendukung perkembangan akademik juga menyatakan bahwa pendidikan karakter mengajarkan dirinya yang terbaik dan terbaik dalam mengerjakan pekerjaan mereka dan selanjutnya publik school of north Caroline menyatakan bahwa pendidikan karakter itu dapat meningkatkan karakter peserta didik etika moral, dan pengendalian emosi sehingga peserta didik mampu menyelesaikan konflik secara fair atau dapat menengahi konflik antara teman sebaya. Dengan peningkatan etika dan moral dari peserta didik maka peserta didik dapat terhindar dari ketakutan, kekerasan intimidasi, dan kejahatan yang dilakukan para peserta didik lain atau yang lebih senior seperti kekerasan seksual, bullying dan lain Sehingga proses belajar peserta didik dapat lebih kondusif dan dampak lebih lanjutnya prestasi akademik peserta didik akan berkembang secara optimal (Hendraman. Operasional Pendidikan Karakter Yang Mampu Meningkatkan Karakter Dan Kecerdasa Generasi Muda Mengoperasionalkan pembelajaran transformatif: Pembelajaran transformatif atau pembelajaran transformasional adalah semula tidak menguasai menjadi menguasai. Seluruh kemampuan individu akan berkembang. Hal tersebut sesuai dengan yang dinyatakan bahwa pembelajaran transformatif adalah proses perubahan kerangka acuan yang konkrit. Dengan demikian bahwa pembelajaran transformasional seseorang akan mengembangkan konsep, nilai, perasaan, tanggapan dan asosiasi yang membentuk pengalaman hidup kerangka acuan ini dapat membantu individu memahami pengalaman Ini berarti dengan pembelajaran transformatif peserta didik akan berubah Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 dengan demikian perubahan tersebut menyebabkan adanya perubahan dalam sikap perasaan motivasi perilaku bahkan terjadi pula perubahan nilai-nilai hidup yang dihayati atau yang disebut dengan perubahan frame of reference. Ini berarti terjadi pula perubahan pandangan hidup atau pandangan dunia atau word view pada peserta didik sehingga perubahan pandangan hidup menyebabkan kepribadian individu tersebut lebih matang sehingga cara memecahkan masalah-masalah hidup yang dihadapi lebih komprehensif karena berdasarkan kepada pemahaman yang lebih luas dan mendalam. MC Konigal dalam bukunya yang berjudul teaching transformation from learning theory of teaching strategies menyatakan terdapat 5 fase atau tahap yang terjadi pada individu selama proses perubahan frame of reference dalam pembelajaran transformasional yaitu : . tahap mengaktifkan peristiwa pada tahap ini di mana adanya kesadaran bahwa cara pandang atau perspektif yang dimiliki seseorang selama ini ternyata mengandung keterbatasan kelemahan dan kekurangan. pada tahap ini individu mengalami disorienting dilemma atau merasa adanya kelemahan pada perspektif yang dimiliki selama ini, . tahap mengidentifikasikan asumsi di mana tahap ini seseorang mulai mengidentifikasi secara mendalam tentang perspektif yang dimiliki selama ini kemudian mencoba untuk mengetahui dan memahami lebih lanjut perspektif orang lain dan berusaha mencari tahu asumsi dasar atau keyakinan yang mendasari perspektif tersebut ini berarti secara konkret memahami lebih jauh perspektif orang lain itu adalah perspektif dari pengetahuan yang baru dipelajari dan dasar pemikiran pengetahuan yang baru saja dipelajari, . mendasari cara pandangnya selama ini, . tahap mendorong adanya wacana yang kritis di mana tahap ini merupakan tahap untuk memperoleh penguatan atau pemantapan dalam proses refleksi diri dan sekaligus memperoleh pengalaman lebih komprehensif terhadap perspektif lain beserta asumsi dasar yang digunakan yang kemudian pada tahap ini seseorang melakukan dialog secara intensif dengan orang lain terutama mereka yang memiliki perspektif lain, . tahap kesempatan untuk menguji paradigma atau perspektif baru yang merupakan tahap ini di mana seseorang mulai tertarik untuk mencoba menggunakan cara pandang atau perspektif baru yaitu perspektif yang dimiliki orang lain atau seorang ahli untuk memandang atau memaknai terhadap kenyataan atau pengalaman (Munawir et al. , 2. Pembelajaran dengan pendekatan proses: Pembelajaran dengan pendekatan proses menekankan tujuan pembelajaran adalah mengembangkan potensi-potensi peserta didik dengan cara membekali peserta didik dengan keterampilan, memproses pengetahuan untuk menguasainya, memiliki keterampilan hidup. Keterampilan hidup adalah kemampuan menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bidang akademis jadi belajar dipandang sebagai proses konstruksi pengetahuan oleh peserta didik sendiri karena hal tersebut sesuai pandangan konstruktivisme yang memiliki ciri yaitu pembelajar mengkonstruksi pemahamannya sendiri hasil belajar tergantung kepada pemahaman saat ini, belajar difasilitasi oleh interaksi sosial dan belajar yang bermakna terjadi dalam tugas-tugas yang autentik (Amelia, 2. Arti dari kelima ciri-ciri tersebut yang pertama, peserta didik membentuk pemahamannya sendiri dengan demikian dalam pembelajaran guru mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menggali dan memenuhi pokok materi yang dipelajari. Kedua, pemahaman baru akibat belajar tergantung pemahaman yang telah dimiliki ini Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 berarti materi pelajaran yang diberikan guru harus terkait dengan materi yang telah diberikan maka dengan demikian materi pelajaran yang diberikan harus berurutan sesuai silabus yang telah ditetapkan. Ketiga, bahwa proses belajar itu didukung oleh interaksi sosial yang di mana ini berarti proses belajar tidak semata-mata terjadi karena dari transfer materi pelajaran dari guru tetapi juga karena interaksi dengan peserta didik yang lain interaksi dengan guru dan interaksi dengan orang tua sesuai dengan pandangan dari bandura dalam belajar berdasarkan interaksi sosial itu diperlukan adanya model yang figur yang dapat dicontoh dalam perilakunya maupun keleluasaan pengetahuan kemampuan berpikirnya. biasanya peserta didik menjadikan guru orang tua dan tokoh masyarakat yang memiliki perilaku yang baik kepribadian yang tinggi menjadi model. Keempat, belajar yang bermakna bahwa terjadi dalam mengerjakan tugas-tugas yang autentik ini berarti pembelajaran akan bermakna apabila sesuai kebutuhan peserta didik. masing-masing peserta didik memiliki bakat dan minat serta kemampuan satu sama lain tidak sama untuk dari itu pelajaran akan menarik lagi bagi peserta didik bila sesuai dengan bakat minat dan kemampuan peserta didik. Dari uraian tersebut bahwa pembelajaran dengan pendekatan proses menekankan proses menguasai materi pelajaran agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran peserta didik harus menguasai metode-metode belajar jangan terbatas pada metode mengandalkan tetapi harus menguasai metode metode belajar. Jangan terbatas pada metode li tetapi harus menguasai metode diskusi, membuat makalah, mencari informasi di internet, mengintisarikan setiap bab dalam buku, mempresentasikan makalah dan bertahan atas sanggahan yang diajukan peserta didik lain dan lain sebagainya. Operationalisasi pembelajaran transformasional dan pembelajaran dengan pendekatan proses: Pada dasarnya pembelajaran transformasional dan pembelajaran dengan pendekatan proses mempunyai konsep dasar yang sama yaitu peserta didik harus menggali dan menemukan sendiri pokok-pokok materi pelajaran. perbedaannya adalah pada pembelajaran dengan pendekatan proses itu lebih menekankan penguasaan proses belajar agar dapat menguasai proses belajar peserta didik harus menguasai berbagai metode belajar tidak cukup hanya menguasai metode belajar menghafal tetapi juga menguasai metode belajar diskusi, membuat makalah, mengintisarikan bab-bab dalam buku, meresume apa yang telah diajarkan guru, mencari informasi pengetahuan di internet,mempresentasikan makalah di depan kelas dan mampu menjawab pertanyaan atau sanggahan tentang materi yang dipresentasikan dan lain sebagainya. Dengan menguasai metode belajar peserta didik akan menguasai materi pelajaran (Munawir et al. Sementara itu pembelajaran transformasional berpandangan seperti pandangan Immanuel kant mengembangkan pengetahuan serta keterampilan. guru hanya berfungsi sebagai fasilitator bukan instruktur dan guru hanya menyampaikan garis besar atau pokok-pokok materi pelajaran dan buku atau referensi yang dapat digunakan peserta didik sendirilah yang harus menggali dan menemukan materi pelajaran secara mendetail. Lalu bagaimana operasionalisasi kedua macam pembelajaran tersebut jadi agar peserta didik dapat menggali dan menemukan materi pelajaran secara mendetail maka peserta didik diberi tugas mencari bahan yang terkait dengan materi pelajaran. dalam kaitannya dengan pendidikan karakter peserta didik diberi tugas dapat secara perorangan atau Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 individual atau dapat secara kelompok untuk mencari nilai-nilai karakter yang terkandung dalam nyanyian atau tembang-tembang atau dongeng atau mitos atau cerita pahlawan tradisi dan karya-karya seni dari Daerah atau wilayah di mana peserta didik bertempat Menurut (Efendi & Ningsih, 2. Selanjutnya peserta didik diminta mempresentasikan hal-hal tersebut dan nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya. aktivitas peserta didik tersebut sebagaimana dijelaskan mempunyai manfaat sebagai . peserta didik menemukan sendiri nilai-nilai karakter yang dapat dikembangkan dan diamalkan oleh peserta didik sendiri dalam sikap dan perilakunya sehari-hari. peserta didik akan termotivasi mengamalkan nilai-nilai karakter tersebut karena peserta didik sendiri yang menemukan nilai-nilai karakter dari warisan nenek moyang yang berupa tradisi dan budaya yang berkembang di wilayah atau daerah di mana peserta didik bertempat tinggal. dengan dipelajari tembang-tembang dongengdongeng cerita kepahlawanan tradisi dan budaya setempat bahkan sangat mungkin juga ditemukan kearifan lokal maka peserta didik akan tumbuh rasa kebanggaan atas tradisi budaya dan kearifan lokal dari bangsanya sendiri sehingga peserta didik akan termotivasi untuk melestarikan dan mengembangkan tradisi dan budaya bangsanya sendiri dengan demikian peserta didik tidak tergiur budaya asing yang pada hakekatnya tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai karakter luhur yang dimiliki bangsa sendiri. Pendidikan Karakter Di Era Revolusi Industri 4. Bangsa Indonesia sekarang ini hidup dalam era revolusi industri 4. 0 yang ditandai dengan integrasi online dengan produksi untuk peningkatan efisiensi proses industri yang sebelumnya yaitu revolusi 1. 0 yang ditandai dengan penggunaan mesin berbasis revolusi industri 1. 0 ini terjadi pada akhir abad ke-18 yaitu pada tahun 1750 sampai 1850 kemudian revolusi 2. 0 ditandai dengan produksi massal menggunakan mesin bertenaga listrik yang di mana revolusi industri 2. 0 ini terjadi pada awal abad ke19. kemudian revolusi 3. 0 ditandai dengan teknologi informasi dan elektronika guna automasi produksi yang terjadi di awal abad ke-20 lalu setelah revolusi tersebut ada lahirlah revolusi industri 4. 0 yang ditandai dengan integrasi online melalui produksi untuk peningkatan efisiensi proses individu (Mulyadi & Basuki, 2. Konsep dasar merdeka belajar antara lain melakukan asesmen kompetensi minimum dan survei karakter ini berarti penilaian tidak diarahkan pada pemahaman dan penguasaan materi pelajaran tetapi pada pengukuran terhadap kemampuan dan keterampilan manifestasi pemahaman dan penguasaan materi pelajaran berarti terkait dengan kehidupan nyata sehari-hari. terkait dengan tantangan dari revolusi industri 4. yang menuntut adanya kemampuan penalaran tinggi tentu saja tidak dapat langsung terwujud dengan dasar tersebut peserta didik tidak hanya mampu memahami menguasai dan menerapkan yang terwujud dalam kemampuan serta keterampilan memecahkan masalah akademik saja tetapi juga masalah rumit terkait dengan bidang yang lebih luas misalnya dalam lapangan pekerjaan dan dalam kehidupan sehari-hari. terkait dengan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan payung memasuki literasi guna menciptakan pembelajaran yang berbasis penalaran karena membutuhkan kemandirian untuk terus belajar memiliki integritas dan berwawasan luas. menurut pemahaman peneliti apa yang dimaksud dengan pendidikan karakter merupakan payung dalam pengembangan seluruh Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 potensi peserta didik ini berarti pendidikan karakter menekankan tidak hanya bidang akademis yang menekan segi kognitif saja tetapi juga mengembangkan kemandirian peserta didik dengan dasar kemandirian yang merupakan salah satu nilai karakter dilengkapi dengan perilaku yang mengutamakan kejujuran keadilan kebenaran disiplin tanggung jawab integritas dan menghormati orang lain yang kesemua nilai tersebut merupakan nilai karakter peserta didik yang akan merasa aman dalam belajar karena tidak khawatir dengan adanya kekerasan dari teman sebaya yang lebih kuat secara fisik atau ekonomi atau dari seniornya. dengan kondisi seperti itu peserta didik akan fokus untuk menggali dan menemukan serta menerapkan inti materi pelajaran dan keterampilan sehingga dimungkinkan peserta didik mampu mengembangkan penalaran yang tinggi. Pelaksanaan pendidikan tanpa menerapkan pendidikan karakter maka pendidikan di era revolusi industri 4. 0 hanya akan menghasilkan peserta didik dengan penalaran yang tinggi tetapi karakternya tidak baik sehingga krisis nasional karakter akan mencapai puncaknya korupsi dan penyalahgunaan wewenang penerimaan gratifikasi tindak kriminal dan bahkan bullying akan merajalela. sementara contoh konkret hasil pendidikan karakter membangun peserta didik cerdas dan berkarakter pada revolusi industri 4. adalah peserta didik mampu menguasai digital mampu menguasai internet sehingga dapat mencari informasi terkait dengan pelajaran yang diberikan di sekolah bahkan dari bukubuku atau jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional menggunakan berbagai aplikasi seperti zoom. Google, hangout, webex. Google classroom dan lain-lainnya mampu mengerjakan soal-soal akademis yang disusun oleh program for international student assessment dan lainnya (Prihatmojo et al. , 2. SIMPULAN Pendidikan karakter di era revolusi industri 4. 0 terkonseptualisasi yang pertama dari proses yang bukan semata-mata karena program saja, guru kepala sekolah dan staf sekolah menjadi model dalam pendidikan karakter, implementasi pendidikan karakter itu disesuaikan dengan perkembangan psikologi peserta didik,pendidikan karakter menekankan proses internalisasi nilai-nilai bukan pembelajaran, pendidikan karakter prinsip-prinsip transformatif,pendidikan menggunakan pola interaksi keluarga,pendidikan karakter merupakan gerakan nasional dan pendidikan karakter membangun individu seutuhnya. Selain itu bahwa meskipun teknologi dan keterampilan teknis sangat penting, nilai-nilai karakter tetap krusial untuk pengembangan holistik peserta didik. Temuan utama mengindikasikan adanya keterbatasan dalam kurikulum khusus, kurangnya pelatihan bagi guru, fokus berlebihan pada keterampilan teknis, rendahnya kesadaran peserta didik, dan keterbatasan waktu dalam mengajarkan pendidikan karakter. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan integrasi yang lebih baik antara pendidikan karakter dan keterampilan teknis dalam kurikulum, peningkatan pelatihan bagi guru, serta pendekatan yang sistematis dan holistik dalam pendidikan. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi mahir dalam teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat yang siap menghadapi tantangan etis dan sosial di era digital ini. Jurnal Pendidikan Sultan Agung. Volume 4 No. 2 Juni 2024 hal. 91- 101 SARAN Dengan demikian di era revolusi industri 4. 0 ini jika guru hanya sebatas mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa di kelas maka peran guru dapat tergantikan oleh teknologi namun peran guru tak akan dapat tergantikan oleh teknologi secanggih apapun dalam mendidik karakter, moral, dan memberikan keteladanan kepada siswa . DAFTAR PUSTAKA