Vol 2 No. 6 November 2025 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 118 - 129 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/8xsyad62 PENGARUH EARNING PER SHARE. RETURN ON ASSETS. DEBT TO EQUITY RATIO DAN CURRENT RATIO TERHADAP RETURN SAHAM Fika Trianti a*. Dicky Arisudhana b a Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi, 2132520012@student. Universitas Budi Luhur. Jakarta Selatan. b Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Akuntansi, dicky. arisudhana@budiluhur. Universitas Budi Luhur. Jakarta Selatan. Korespondensi ABSTRACT Abstract. This study aims to analyze Earnings Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), and Current Ratio (CR) on stock returns in Consumer Non-Cyclicals companies. Food and Beverage subsector, listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) for the 2021-2024 period. The research method used is quantitative with an associative approach. The sampling technique was carried out using purposive sampling, resulting in 37 companies as samples. The data used are secondary data obtained from financial reports. Data analysis was performed using multiple linear regression with the help of SPSS software version 25. The findings of this study indicate that partially, the EPS variable has a significant positive effect on stock returns. ROA shows a significant negative effect, while DER and CR do not have a significant effect on stock returns. Keywords : Earnings Per Share. Return on Assets. Debt to Equity Ratio. Current Ratio, and Stock Return. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Earning Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR) terhadap Return saham pada perusahaan sektor Consumer Non-Cyclicals subsektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 20212024. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling, menghasilkan 37 perusahaan sebagai sampel. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan software SPSS versi 25. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa secara parsial, variabel EPS memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Return saham. ROA menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan, sedangkan DER dan CR tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap Return saham. Kata Kunci: Earning Per Share. Return on Assets. Debt to Equity Ratio. Current Ratio dan Return saham LATAR BELAKANG Pasar modal memiliki peran yang signifikan dalam perekonomian yang berfungsi sebagai sarana pendanaan bagi perusahaan dan media investasi bagi masyarakat (IDX, 2. Food and Beverage (FnB) di Indonesia menjadi salah satu subsektor manufaktur yang memiliki peranan strategis, didukung oleh pertumbuhan konsumsi masyarakat yang relatif stabil, urbanisasi, dan peningkatan kesadaran terhadap pola hidup sehat (Kementerian Perindustrian RI, 2. Pengembalian atas laba saham merupakan salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modalnya di suatu perusahaan yang dilakukan oleh investor. Kinerja fundamental suatu perusahaan dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besarnya return yang diperoleh dari saham seperti Earnings Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio Di terima 26 Juni, 2025. Di Revisi 24 Juli , 2025. Diterima untuk diterbitkan 22 Agustus, 2025. Di terbitkan secara daring 26 Agustus, 2025 Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 (CR). Return yang tinggi sering kali menjadi daya tarik bagi investor dalam mengambil keputusan pembelian saham. Return saham yang rendah akan menyebabkan persepsi bahwa bisnis tadi berkinerja buruk serta mempunyai reputasi jelek. Di sinilah relevansi Teori Sinyal (Signaling Theor. menjadi Perusahaan menyampaikan sinyal kepada pasar melalui informasi keuangan yang dipublikasikan, seperti laporan keuangan tahunan. Sinyal tersebut diharapkan mampu mengurangi asimetri informasi antara manajemen dan investor mempengaruhi kemampuan investor dalam melakukan penilaian objektif terhadap prospek perusahaan (Adriani dan Nurjihan, 2. Beberapa sinyal keuangan yang sering dijadikan perhatian investor antara lain adalah Earnings Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR). Teori menyatakan bahwa sinyal positif dari rasio-rasio tersebut seharusnya akan meningkatkan minat investor dan berdampak pada return saham yang lebih tinggi (Adriani dan Nurjihan, 2. Semakin kuat sinyal yang diberikan oleh perusahaan melalui indikator keuangan seperti EPS dan ROA, maka semakin besar kemungkinan investor akan merespon dengan mendorong minat beli terhadap saham tersebut, sehingga pada akhirnya mendorong kenaikan harga saham dan menghasilkan return yang lebih tinggi. Dengan kata lain, kualitas sinyal yang dikirimkan perusahaan memiliki pengaruh langsung terhadap ekspektasi dan perilaku investor di pasar Namun, dalam praktiknya, respon pasar terhadap sinyal-sinyal ini tidak selalu konsisten. Ada kalanya perusahaan dengan EPS dan ROA tinggi tidak mendapat apresiasi dari pasar, sedangkan perusahaan dengan DER tinggi justru menunjukkan return saham yang positif. Gambar 1. Rata-Rata Return Saham Perusahaan Food and Beverage 2021-2024 Sumber : Data diolah sendiri . Berdasarkan Gambar 1. 1, return saham pada tahun 2021 tercatat sangat tinggi, yakni sebesar 1,859, namun menurun drastis menjadi -0,045 pada tahun 2022. Meski mengalami sedikit pemulihan pada tahun 2023 dengan return sebesar 0,023, dan 0,004 pada tahun 2024, namun nilai tersebut tetap jauh lebih rendah dibandingkan awal periode. Fluktuasi ini mengindikasikan adanya faktor-faktor eksternal maupun internal yang memengaruhi kinerja saham perusahaan dalam subsektor ini, termasuk kebijakan baru, perubahan perilaku konsumen,dan kondisi ekonomi secara umum. Karena itu, penting untuk melakukan analisis mendalam terhadap pengaruh indikator keuangan seperti EPS. ROA. DER, dan CR terhadap return saham sebagai bahan pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa EPS. ROA. DER, dan CR memiliki pengaruh yang bervariasi terhadap return saham perusahaan subsektor Food and Beverage. Penelitian oleh Wahyu Alfianti & Rina Dwiarti . dan Ni Kadek Dwi Sandiawati et al. menunjukkan bahwa ROA dan CR berpengaruh positif terhadap return saham, sementara penelitian Esa A. H Ibrahim et al. menemukan pengaruh positif signifikan EPS terhadap return saham. Namun, penelitian oleh Naila Syakirohtul Rizkiyah et al. dan Arif A. A Mangantar et al. tidak menemukan pengaruh signifikan dari ROA. EPS, dan DER. Penelitian Dandi Prastyawan et al. juga menunjukkan bahwa CR dan DER tidak berpengaruh signifikan. Pengaruh Earning Per Share. Return On Assets. Debt To Equity Ratio Dan Current Ratio Terhadap Return Saham (Fika Triant. Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Perbedaan temuan ini menciptakan celah penelitian . esearch ga. yang penting untuk diteliti lebih dalam. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kembali pengaruh EPS. ROA. DER, dan CR terhadap return saham pada perusahaan subsektor Food and Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021 hingga 2024. Ketidaksesuaian hasil sebelumnya semakin menegaskan perlunya penelitian ini untuk menjawab research gap yang ada. TINJAUAN PUSTAKA Teori Sinyal (Signalling Theor. Menurut Gitman dan Zutter . 5, hlm. dalam Wahyudi et al. , teori sinyal menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh manajemen keuangan bertujuan untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan kepada para investor. Informasi ini kemudian memengaruhi harga saham dan pada akhirnya berdampak pada return saham. Dalam kerangka teori sinyal. Return saham sangat dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan mengomunikasikan kinerjanya. Ketika perusahaan mengumumkan hasil yang baik, seperti EPS yang tinggi atau ROA yang meningkat, pasar biasanya merespons secara positif. Hal ini meningkatkan kepercayaan investor dan mendorong harga saham naik. Sebaliknya, jika yang disampaikan justru kinerja yang menurun, harga saham bisa terdorong turun akibat respon negatif dari pasar. Teori Keagenan (Agency Theor. Menurut Jensen dan Meckling . dalam Herawansyah et al. , teori keagenan menjelaskan bahwa konflik kepentingan dapat muncul antara investor, kreditur, dan manajer, yang memengaruhi pengambilan keputusan pelaporan keuangan, termasuk dalam penerapan konservatisme akuntansi. Hal ini berpotensi berdampak negatif terhadap Return saham. Konflik semacam ini juga bisa memengaruhi kebijakan dividen. Perusahaan yang memiliki tingkat utang tinggi mungkin memilih untuk mengurangi pembagian dividen demi memenuhi kewajiban keuangan, dan kondisi ini bisa mengurangi tingkat kepercayaan investor. Salah satu implikasi penting dari teori keagenan adalah bahwa struktur utang yang tinggi, yang tercermin dalam rasio DER bisa menjadi dorongan bagi manajer untuk meningkatkan kinerja perusahaan demi memenuhi kewajiban finansial mereka. Dalam situasi tertentu. Tingkat Debt to Equity Ratio (DER) yang tinggi seringkali dilihat oleh investor sebagai sinyal positif, karena menunjukkan komitmen perusahaan dalam mmencapai profitabilitas. Namun, jika pengelolaannya kurang hati-hati, utang yang besar justru dapat meningkatkan risiko keuangan, seperti kemungkinan kebangkrutan, yang akhirnya dapat memberikan dampak negatif pada return saham. Teori Trade-Off (Trade-Off Theor. Inti dari teori ini adalah bahwa perusahaan akan berusaha menemukan keseimbangan yang optimal antara penggunaan ekuitas dan utang, dengan mempertimbangkan manfaat pajak dari utang serta risiko kebangkrutan yang ditimbulkannya. Kaitannya dengan Return saham, keputusan penggunaan utang yang tepat dapat memberikan dampak positif karena memungkinkan perusahaan memaksimalkan penggunaan dana yang tersedia untuk ekspansi atau peningkatan kinerja. Investor bisa memperoleh Return yang lebih tinggi jika perusahaan berhasil menggunakan leverage secara efisien. Menurut Atmaja . dalam Amri. , & Ramdani. , secara teoritis rasio Debt to Equity Ratio (DER) berkaitan dengan Model Trade-Off, yaitu teori yang menjelaskan bahwa perusahaan akan menyeimbangkan antara keuntungan dan risiko penggunaan utang dalam struktur modalnya. Dalam konteks ini, pengaruh DER terhadap kinerja atau nilai perusahaan dapat bersifat positif maupun negatif, tergantung pada bagaimana perusahaan mengelola proporsi utang terhadap ekuitas. DER yang tinggi bisa mencerminkan agresivitas pendanaan dengan utang, yang berpotensi meningkatkan Return jika dikelola dengan baik, namun juga dapat menambah risiko keuangan jika tidak dikendalikan secara proporsional. Oleh karena itu, hubungan antara DER dan Return saham tidak selalu konsisten, dan bisa berbeda tergantung pada kondisi keuangan masing-masing perusahaan. Return Saham Menurut Jogiyanto . Return saham merupakan bentuk keuntungan yang diperoleh investor dari aktivitas berinvestasi di pasar saham. Keuntungan ini bisa berupa Return yang sudah terealisasi seperti capital gain atau dividen yang sudah diterima maupun Return yang masih bersifat harapan dan baru akan terealisasi di masa depan, tergantung pada kinerja pasar dan saham yang dipegang. Rumus Return saham menurut Jogiyanto . adalah sebagai berikut: JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 118 - 129 Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Sumber : Jogiyanto . Keterangan: A Pt : Harga saham pada akhir periode A P . Oe. : Harga saham pada awal periode Earning Per Share (EPS) Menurut Jogiyanto . dalam Handayani & Zulyanti . EPS adalah rasio yang digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih yang tersedia bagi setiap lembar saham biasa yang beredar. EPS mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang dapat menjadi hak pemegang Rumus perhitungan EPS menurut Jogiyanto . adalah sebagai berikut: Sumber : Jogiyanto . Return on Assets (ROA) Menurut Sugiyono . Rasio yang mengukur efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan seluruh aset yang dimiliki untuk menghasilkan laba bersih. ROA menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mengoptimalkan asetnya agar menghasilkan keuntungan yang maksimal. Untuk mengukur efisiensi kinerja keuangan perusahaan dalam menghasilkan laba melalui penggunaan aset secara keseluruhan, dapat digunakan rumus ROA menurut Kasmir . berikut ini. Sumber : Sugiyono . Debt to Equity Ratio (DER) Menurut Harahap . Debt to Equity Ratio (DER) menggambarkan seberapa besar ketergantungan perusahaan pada dana pinjaman dibandingkan dengan dana yang berasal dari pemilik perusahaan sendiri. Jika nilai DER suatu perusahaan tinggi, itu bisa menjadi tanda bahwa perusahaan menanggung beban utang yang cukup besar. Kondisi ini cenderung meningkatkan risiko keuangan karena semakin banyak kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan kepada kreditur. Rumus umum untuk menghitung DER menurut Harapap . Sumber: Harahap . Current Ratio (CR) Menurut Jogiyanto . Current Ratio adalah alat ukur keuangan yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini mencerminkan seberapa likuid perusahaan dalam memenuhi kebutuhan keuangan dalam waktu dekat. Rasio ini dihitung dengan membandingkan total aset lancar dengan kewajiban lancar. Biasanya, nilai CR yang dianggap ideal adalah 2:1, yang berarti perusahaan memiliki dua kali aset lancar dibandingkan dengan kewajiban jangka pendeknya. CR memberikan gambaran penting mengenai likuiditas perusahaan dan sejauh mana perusahaan dapat memenuhi kebutuhan finansial mendesak tanpa perlu bergantung pada pinjaman atau dana eksternal. Rumus Curren Ratio menurut Harahap . sebagai Pengaruh Earning Per Share. Return On Assets. Debt To Equity Ratio Dan Current Ratio Terhadap Return Saham (Fika Triant. Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Sumber : Harahap . Hipotesis Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham Earning Per Share (EPS) menunjukkan besarnya laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk setiap saham biasa yang beredar. EPS yang tinggi menandakan kinerja perusahaan yang baik dan menjadi salah satu faktor utama yang dipertimbangkan investor dalam menilai potensi keuntungan dari investasinya. Mengacu pada teori sinyal, kenaikan EPS menunjukkan potensi pembagian laba yang lebih besar kepada pemegang saham, sehingga menciptakan persepsi positif terhadap nilai saham, karena investor menilai adanya prospek pertumbuhan yang lebih baik dan potensi imbal hasil yang lebih tinggi. Pasar biasanya merespons sinyal tersebut dengan meningkatnya minat beli terhadap saham perusahaan, yang selanjutnya mendorong naiknya harga saham dan return yang diperoleh investor. H1 : Earning Per Share (EPS) berpengaruh positif signifikan terhadap Return saham Pengaruh Return on Assets (ROA) terhadap Return Saham Return on Assets (ROA) adalah ukuran yang menunjukkan sejauh mana perusahaan dapat mengoptimalkan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba. Dalam dunia investasi. ROA sering kali dipandang sebagai cerminan efisiensi operasional perusahaan. Dalam perspektif teori sinyal, tingginya ROA memberi gambaran bahwa manajemen perusahaan mampu menjalankan kegiatan usaha secara produktif dan efisien. Hal ini memberikan sinyal positif kepada investor, yang kemudian dapat berdampak pada meningkatnya minat terhadap saham perusahaan tersebut dan pada akhirnya mendorong kenaikan return saham. H2 : Return on Assets (ROA) berpengaruh positif signifikan terhadap Return saham Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham DER menggambarkan struktur pendanaan perusahaan, khususnya proporsi antara utang dan modal sendiri. DER yang tinggi bisa menunjukkan upaya perusahaan dalam mengoptimalkan penggunaan dana eksternal, namun juga dapat mengindikasikan tingginya risiko keuangan. Dalam perspektif teori keagenan, tingginya DER meningkatkan risiko konflik antara manajer dan pemegang saham karena beban utang yang besar dapat mengurangi fleksibilitas keuangan perusahaan dan meningkatkan risiko kebangkrutan, sehingga menurunkan nilai saham dan akhirnya menurunkan return saham. Sementara itu, teori trade-off menyatakan bahwa meskipun utang dapat memberikan keuntungan pajak, risiko keuangan yang meningkat akibat DER tinggi, seperti biaya bunga dan tekanan likuiditas, misalnya, bisa mengurangi laba yang dapat dibagikan kepada pemegang saham, sehingga akhirnya menurunkan return saham. H3: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap Return saham Pengaruh Current Ratio (CR) terhadap Return Saham Current Ratio (CR) menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan aset lancar yang dimiliki. Rasio ini sering menjadi tolak ukur bagi investor dan kreditor untuk menilai kesehatan likuiditas perusahaan. Semakin tinggi nilai Current Ratio, semakin baik pula kemampuan perusahaan dalam melunasi kewajiban jangka pendeknya, yang dapat mencerminkan manajemen keuangan yang baik. Dalam perspektif Teori Keagenan. Current Ratio yang tinggi menunjukkan manajer menahan aset lancar berlebihan sehingga menghambat pemanfaatan sumber daya secara optimal dan merugikan pemegang saham. Dari sisi Teori Sinyal, rasio yang tinggi juga dapat memberi sinyal negatif bahwa perusahaan kurang agresif dalam pengembangan bisnis. Oleh karena itu. Current Ratio yang terlalu tinggi berpengaruh negatif terhadap return saham karena investor memandangnya sebagai tanda pemanfaatan modal yang kurang maksimal dan potensi pertumbuhan yang H4 : Current Ratio (CR) berpengaruh negatif signifikan terhadap Return saham METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif, yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara satu variabel dengan variabel lainnya. Adapun variabel independen (X) yang diteliti meliputi Earning Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR), sedangkan variabel dependennya (Y) adalah return saham. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan menggunakan regresi linier berganda untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Data yang digunakan berupa data sekunder yang diambil dari laporan keuangan perusahaan yang tersedia di situs resmi Bursa Efek Indonesia . JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 118 - 129 Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Populasi penelitian mencakup 101 perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2021 Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria tertentu, sehingga diperoleh sebanyak 37 perusahaan sebagai objek penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Statistik Deskriptif Analisis statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai nilai terkecil . , nilai terbesar . , rata-rata . , serta standar deviasi dari setiap variabel yang diteliti. Tabel 4. Uji Statistik Desktriptif Minimum Maximum Mean Std. Deviation EPS ROA DER RETURN SAHAM Valid N . Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Uji Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik dalam penelitian ini mencakup uji normalitas, heteroskedastisitas, autokorelasi, serta multikolinearitas. Tujuan dari pengujian ini adalah untuk memastikan bahwa model regresi yang digunakan tidak mengandung masalah seperti multikolinearitas, heteroskedastisitas, atau autokorelasi. Dengan demikian, model regresi yang dihasilkan dapat dianggap valid dan layak dijadikan acuan karena telah memenuhi syarat kelayakan secara statistik. Dengan terpenuhinya asumsi-asumsi tersebut, model regresi yang dihasilkan dapat dinyatakan valid dan secara statistik layak dijadikan dasar dalam pengambilan Uji Normalitas Menurut Sugiyono . , uji normalitas merupakan salah satu prosedur statistik yang bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dalam suatu penelitian menyebar secara normal atau tidak. Tabel 4. Uji Kolmogorov Smirnov Unstandardized Residual Normal Parametersa,b Mean Std. Deviation Most Extreme Absolute Differences Positive Negative Test Statistic Asymp. Sig. -taile. Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan Tabel 4. 2, nilai signifikansi dari unstandardized residual sebesar 0,200 (> 0,. mengindikasikan bahwa data berdistribusi normal. Selain itu, pengujian normalitas juga dapat diperkuat melalui analisis grafik menggunakan Normal Probability Plot (P-P Plo. Adapun hasil uji normalitas dengan metode P-P Plot ditampilkan pada gambar berikut: Pengaruh Earning Per Share. Return On Assets. Debt To Equity Ratio Dan Current Ratio Terhadap Return Saham (Fika Triant. Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Gambar 4. Normal P-Plot Uji Multikolinearitas Menurut Ghozali . dalam Sholihah et al. , uji multikolinearitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang sangat kuat atau hampir sempurna antar variabel independen dalam model regresi yang digunakan, guna memastikan bahwa tidak terjadi tumpang tindih informasi antar variabel bebas yang dapat memengaruhi validitas model. Tabel 4. Uji Multikolinearitas Collinearity Statistics Model Tolerance VIF EPS ROA DER Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan tabel 4. 3 diatas, dapat diketahui bahwa nilai tolerance dari masing-masing variabel independen EPS. ROA. DER, dan CR > 0. 1 dan nilai variance inflation factor (VIF) < 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen tidak terjadi masalah multikolinearitas. Uji Heteroskedastisitas Menurut Ghozali . dalam Sholihah et al. , uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengidentifikasi adanya ketidakkonsistenan varians residual dalam model regresi terhadap seluruh rentang nilai variabel independen. Jika varians residual tidak bersifat konstan dan mengalamiperubahan antar pengamatan, kondisi ini disebut sebagai heteroskedastisitas. Model (Constan. EPS ROA DER Tabel 4. Uji Glejser Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan tabel 4 diatas, dapat diketahui hasil sig dari masing-masing variabel independen yaitu EPS (X. ROA (X. DER (X. CR (X. Semua hasil signifikansi menunjukkan JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 118 - 129 Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 nilai > 0. 05, sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas pada penelitian ini, sehingga model regresi layak digunakan. Selain menggunakan uji Glejser, penelitian ini juga memanfaatkan grafik Scatterplot untuk mendeteksi adanya gejala heteroskedastisitas. Pengujian melalui Scatterplot dapat dilihat pada gambar berikut ini : Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Gambar 4. Scatterplot Uji Autokorelasi Menurut Ghozali . dalam Sholihah et al. , uji autokorelasi bertujuan untuk mendeteksi adanya hubungan antara kesalahan . pada suatu periode dengan kesalahan pada periode sebelumnya dalam model regresi linear. Uji ini penting untuk memastikan bahwa residual bersifat independen antar Salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji DurbinWatson, yang mengukur tingkat ketergantungan residual antar periode berturut-turut. Model Tabel 4. Uji Autokorelasi Adjusted R Std. Error of the R Square Durbin-Watson Square Estimate Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan Tabel 4. 5, nilai Durbin-Watson (DW) model regresi sebesar 1,878. Dengan tingkat signifikansi 0,05, jumlah sampel (N) = 148, dan jumlah variabel independen (K) = 4, diperoleh nilai batas bawah . L) = 1,6762 dan batas atas . U) = 1,7871. Nilai DW yang diperoleh lebih besar dari dU . ,7. dan lebih kecil dari 4AedU . ,2. , sehingga memenuhi kriteria dU < DW < 4AedU. Berdasarkan kriteria tersebut, dapat disimpulkan bahwa model regresi dalam penelitian ini tidak mengalami masalah Analisis Regresi Linier Berganda Menurut Sugiyono . Analisis Regresi Linier Berganda digunakan untuk mengetahui arah hubungan serta mengukur besarnya pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Model (Constan. EPS ROA DER Tabel 4. Uji Regresi Linear Berganda Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Sig. Pengaruh Earning Per Share. Return On Assets. Debt To Equity Ratio Dan Current Ratio Terhadap Return Saham (Fika Triant. Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Berdasarkan tabel 6 diatas, maka dapat diketahui persamaan regresi yaitu: RS = -5. 386 Earning Per Share (EPS) - 0. 081 Return on Assets (ROA) 0. 059 Debt to Equtiy Ratio (DER) Ae 0. 134 Current Ratio (CR) e Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda, saat semua variabel independen bernilai nol, return saham berada pada angka Ae5,534 sesuai nilai konstanta. Variabel Earnings Per Share (EPS) berpengaruh positif dengan koefisien 0,386, artinya setiap peningkatan EPS sebesar satu satuan akan meningkatkan return saham sebesar 0,386 satuan. Sebaliknya. Return on Assets (ROA) memiliki koefisien negatif Ae0,081, yang menunjukkan bahwa kenaikan ROA sebesar satu satuan justru menurunkan return saham sebesar 0,081 satuan. Debt to Equity Ratio (DER) memberikan pengaruh positif dengan koefisien 0,059, sementara Current Ratio (CR) berpengaruh negatif terhadap return saham dengan koefisien Ae0,134. Analisis Koefisien Determinasi (RA) Menurut Sahid Raharjo . , koefisien determinasi (RA) berperan sebagai indikator statistik yang menggambarkan sejauh mana variabel-variabel independen mampu menjelaskan variasi yang terjadi pada variabel dependen dalam suatu model regresi. Semakin tinggi nilai RA, maka semakin besar proporsi perubahan variabel dependen yang dapat diterangkan oleh model, yang secara umum menunjukkan bahwa model tersebut memiliki kualitas prediktif yang baik. Tabel 4. Koefisien Determinasi Model Std. Error of the R Square Adjusted R Square Estimate Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan tabel 4. 7, dapat dijelaskan bahwa nilai Adjusted R Square sebesar 0. 079 atau 7. Hal ini menunjukkanbahwa persentase kontribusi variabel Earning Per Share (EPS). Return on Assets (ROA). Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR) terhadap Return Saham sebesar 7. Uji Kelayakan Model (Uji F) Menurut Testbook . , uji F ini penting untuk memastikan apakah model regresi yang kita gunakan memang cocok dan mampu menjelaskan hubungan antar variabel secara bersama-sama. Dengan kata lain, uji F membantu peneliti memastikan bahwa semua variabel independen yang diteliti memang punya kontribusi bersama sebelum melihat pengaruh masing-masing variabel secara terpisah lewat uji F. Model Regression Residual Total Tabel 4. Uji F Sum of Squares Mean Square Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Sig. Berdasarkan tabel 4. 8, dari hasil uji F, diperoleh nilai Fhitung sebesar 4. 156 sedangkan Ftabel dengan derajat kebebasan df1 = 4 dan df2 = 143 pada tingkat signifikansi 5% adalah sekitar 2. Karena Fhitung > Ftabel dan nilai probabilitas . ) sebesar 0. 003 < 0. , maka dapat disimpulkan bahwa secara simultan Earnings Per Share (EPS). Return on Assets (ROA) dan Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR) berpengaruh signifikan terhadap Return Saham. Dengan demikian, model regresi ini layak digunakan untuk menganalisis pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap Return Saham. Uji Koefisien Regresi (Uji T) Menurut Testbook . uji t bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh setiap variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah. Pengujian ini berperan penting dalam menilai apakah masing-masing variabel independen memiliki kontribusi signifikan dalam menjelaskan perubahan yang terjadi pada variabel dependen. Tabel 4. Uji T JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 118 - 129 Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 Unstandardized Standardized Sig. Coefficients Coefficients Std. Error Beta (Constan. EPS ROA DER Sumber : Data diolah dengan SPSS V25 . Berdasarkan tabel 4. 9, diatas maka dapat dijelaskan koefisien regresi sebagai berikut : Pengujian Koefisien Regresi Variabel Earning Per Share (EPS) terhadap Return Saham Nilai signifikansi 0. 016 (< 0. dan t hitung 2. 439 > t tabel 1. Kesimpulan : HCA diterima. EPS berpengaruh positif signifikan terhadap Return Saham. Pengujian Koefisien Regresi Variabel Return on Assets (ROA) terhadap Return Saham Nilai signifikansi 0. 003 (< 0. , t hitung -3. 016 < -t tabel -1. Kesimpulan : HCC ditolak. ROA berpengaruh negatif signifikan terhadap Return Saham. Pengujian Koefisien Regresi Variabel Debt to Equity Ratio (DER) terhadap Return Saham Model Nilai signifikansi 0. 689 (> 0. , t hitung 0. 401 < t tabel 1. Kesimpulan : HCE ditolak. DER tidak berpengaruh signifikan terhadap Return Saham. Pengujian Koefisien Regresi Variabel Current Ratio (CR) terhadap Return Saham Nilai signifikansi 0. 271 (> 0. , t hitung -1. 105 < t tabel 1. Kesimpulan : HCE ditolak. CR tidak berpengaruh signifikan terhadap Return Saham. 7 Pembahasan Penelitian 1 Pengaruh Earning Per Share (EPS) (X. Terhadap Return Saham Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel EPS terhadap Return Saham menunjukkan nilai signifikansi 016 . 016 < 0. dan nilai t hitung = 2. 439 > t tabel = 1. 976, yang berarti EPS berpengaruh positif signifikan terhadap Return saham. Teori Sinyal merupakan efektivitas sinyal yang diberikan oleh manajemen memiliki pengaruh signifikan terhadap persepsi pasar dan pergerakan harga saham, yang pada akhirnya memengaruhi return saham (Oktaviani, 2. Hasil penelitian yang menunjukkan pengaruh positif sinyal manajemen terhadap return saham semakin menguatkan pentingnya peran sinyal dalam membangun komunikasi efektif dengan pasar dan mendorong keputusan investasi yang lebih tepat. 2 Pengaruh Return on Assets (ROA) (X. Terhadap Return Saham Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel ROA terhadap Return Saham memiliki nilai signifikansi 003 . 003 < 0. dan t hitung = -3. 016 > -t tabel = 1. 976, sehingga ROA berpengaruh negatif signifikan terhadap Return saham. Meskipun secara umum ROA yang tinggi dianggap sinyal positif, teori sinyal menyatakan bahwa tidak semua sinyal diterima pasar dengan cara yang sama (Utami, 2. Dalam beberapa kasus. ROA yang tinggi dapat diartikan investor sebagai efisiensi jangka pendek yang tidak berkelanjutan atau strategi agresif berisiko. Akibatnya, investor justru merespons negatif karena menganggap sinyal tersebut sebagai indikasi ketidakstabilan atau risiko tersembunyi, sehingga retrun saham turun. 3 Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) (X. Terhadap Return Saham Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel DER terhadap Return Saham memperoleh nilai signifikansi 689 . 689 > 0. dan nilai t hitung = 0. 401 < t tabel 1. 996, yang berarti DER tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Return saham. Teori keagenan menyatakan bahwa penggunaan utang dapat membatasi perilaku oportunistik manajer karena adanya kewajiban pembayaran bunga. Menurut Atmaja . dalam Amri & Ramdani . DER berkaitan dengan teori trade-off, di mana perusahaan menyeimbangkan manfaat dan risiko penggunaan utang. DER yang tinggi bisa meningkatkan return jika dikelola baik, namun juga berisiko jika tidak proporsional. Oleh karena itu, hubungan DER dan return saham bisa berbeda tergantung kondisi keuangan perusahaan. 4 Pengaruh Current Ratio (CR) (X. Terhadap Return Saham Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel CR terhadap Return Saham menunjukkan nilai sebesar 0. 271 > 0,. dan nilai t hitung = -1. 105 < t tabel 1. 996, yang mengindikasikan bahwa CR tidak berpengaruh signifikan terhadap Return saham. Teori sinyal menyatakan bahwa laporan keuangan memberi Pengaruh Earning Per Share. Return On Assets. Debt To Equity Ratio Dan Current Ratio Terhadap Return Saham (Fika Triant. Fika Trianti dkk / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 118 Ae 129 sinyal kepada investor, terutama melalui informasi laba (Sarma & Handayani, 2. karena current ratio lebih mencerminkan likuiditas daripada profitabilitas, sinyalnya dianggap lemah. Maka, current ratio tinggi tanpa diikuti peningkatan laba tidak akan mendorong respons pasar terhadap return saham. Dalam teori keagenan, risiko penyalahgunaan sumber daya oleh manajemen dapat ditekan melalui kontrak kerja yang jelas terkait hak, kewajiban, dan kompensasi (Sarma & Handayani, 2. Jika mekanisme pengawasan berjalan efektif, investor tidak menganggap current ratio tinggi sebagai ancaman terhadap kinerja. Oleh karena itu, likuiditas berlebih tidak berdampak signifikan pada return saham karena konflik kepentingan telah diminimalkan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa Earning Per Share (EPS) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap return saham. Return on Assets (ROA) justru menunjukkan pengaruh negatif yang signifikan terhadap return saham sedangkan Debt to Equity Ratio (DER) dan Current Ratio (CR) tidak memiliki pengaruh terhadap return saham. Disarankan agar peneliti dapat mempertimbangkan penggunaan variabel lain seperti ROE. NPM, dan PBV atau yang lainnya agar hasil analisis terhadap return saham menjadi lebih menyeluruh dan mencerminkan faktor-faktor yang lebih luas dalam menilai kinerja serta nilai perusahaan dan dengan memperluas jangka waktu penelitian ke periode yang lebih panjang, hasil yang diperoleh akan lebih komprehensif karena dapat menangkap berbagai perubahan ekonomi yang terjadi. Hal ini penting agar analisis terhadap Return saham menjadi lebih akurat dan mencerminkan dinamika pasar yang sebenarnya. DAFTAR PUSTAKA