PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 AuENGKAU BERHARGA BAGIKUAy: RELASI SAUDARA REMAJA YANG MEMILIKI SAUDARA KANDUNG DENGAN AUTISM SPECTRUM DISORDER AuYOU ARE PRECIOUS TO MEAy: SIBLING RELATIONSHIP AMONG ADOLESCENTS WITH SIBLING WITH AUTISM SPECTRUM DISORDER Kadek Sintia Dwi Pramesti & Tience Debora Valentina Program Studi Sarjana Psikologi. Universitas Udayana 2202531074@student. tiencedebora@unud. ABSTRAK Kehadiran anak dengan autism spectrum disorder (ASD) membawa tantangan tersendiri bagi saudara kandung disebabkan ASD sebagai gangguan yang menyebabkan terjadinya defisit pada interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik anak dengan ASD menyebabkan terjadinya beragam interaksi baik positif maupun negatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana relasi saudara pada remaja yang memiliki saudara kandung dengan gangguan ASD. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah literature review. Pencarian literature review melibatkan basis data Google Scholar serta SpringerLink dengan rentang tahun penerbitan mulai dari 2014-2024. Diperoleh 10 artikel terpilih yang yang tergambar melalui empat dimensi yaitu dimensi warmth atau closeness, relative status atau power, conflict, dan dimensi rivalry. Implikasi penelitian menunjukan adanya kebutuhan untuk mengidentifikasi faktor-faktor individual dan konteks sistem keluarga serta konteks lingkungan yang lebih luas untuk menemukan dinamika relasi saudara kandung dengan ASD. Selain itu, perlu adanya dorongan untuk meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mengelola ketegangan dan konflik dalam relasi bersaudara dengan ASD. Kata Kunci: autism spectrum disorder, literature review, remaja, relasi saudara ABSTRACT The presence of a sibling with autism spectrum disorder (ASD) poses challenges for their siblings due to the deficits in social interaction and communication associated with the The unique characteristics of children with ASD manifest in a range of interactions, both positive and negative. This study aims to investigate the nature of sibling relationships in adolescents who have siblings with ASD through a literature review. The review encompassed a search of Google Scholar and SpringerLink databases, considering publications from 2014 to 2024. After analysing 10 final articles, it was found that the relationship was characterised by four dimensions, namely warmth or closeness, relative status or power, conflict, and competition. The study suggests identifying individual characteristics, family system context, and environmental context to understand ASD siblings' relationships. This study also suggests parents help ASD siblings resolve conflict. Keywords: adolescents, autism spectrum disorder, literature review, sibling relationship http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Hubungan saudara kandung adalah hubungan yang unik, yang ditandai dengan cinta dan kehangatan serta konflik dan persaingan. Hubungan yang demikian juga terjadi dalam relasi seorang individu dengan saudaranya yang berkebutuhan khusus. Seseorang yang memiliki saudara kandung anak berkebutuhan khusus (ABK) kemungkinan menghadapi tantangan dalam menjalin relasi atau interaksi dalam aktivitas sehari-hari. Hal ini disebabkan karena anak ABK merupakan anak yang mengalami gangguan perkembangan dan memiliki keterbatasan pada salah satu atau beberapa kemampuan baik fisik maupun psikologis sehingga memerlukan penanganan khusus (Rezieka. Putro, and Fitri 2. Anak dengan gangguan autism syndrome disorder (ASD) merupakan salah satu contoh anak berkebutuhan khusus. Menurut DSM-V. ASD merupakan gangguan dimana individu mengalami defisit secara terus menerus pada berbagai konteks dalam komunikasi dan interaksi sosialnya, termasuk dalam komunikasi nonverbal, keterampilan dalam mengembangkan, memelihara, serta mengartikan hubungan, juga timbal balik sosial ketika berinteraksi dengan lainnya. Gejala yang menjadi ciri khas gangguan ASD adalah anak menutup diri sepenuhnya, tidak memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Selain itu anak dengan ASD juga memiliki dunianya sendiri bahkan terkadang memiliki perasaan sensitif serta kurang responsif terhadap diri sendiri dan orang lain (Armanila et al. Oleh sebab itu, mereka mengalami kesulitan ketika harus menjalin relasi dengan orang lain termasuk keluarganya sendiri. Kehadiran anak yang memiliki gangguan ASD membawa tantangan dan pengalaman tersendiri bagi keluarga, baik ayah, ibu, serta saudara kandung untuk mampu membangun hubungan interaksi dan menjalin komunikasi yang baik. Kesulitan mengubah rutinitas, menghadapi perilaku yang menantang, penilaian dari orang lain, kurangnya dukungan menjadi tantangan yang dihadapi keluarga dengan anak ASD (Ludlow. Skelly, and Rohleder, 2. Relasi yang terjalin dengan saudara termasuk dalam hubungan jangka panjang yang berlangsung secara terus-menerus menciptakan pola hubungan yang nantinya memengaruhi perkembangan individu secara positif ataupun negatif (Lestari 2. Relasi saudara kandung terdiri dari keseimbangan antara interaksi prososial dan konflik yang menciptakan pengalaman yang berguna bagi perkembangan sosial, kognitif, http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 psikososial individu (Brody 1. Sebagaimana yang digambarkan pada teori kelekatan dari Ainsworth . yang menyatakan saudara-saudara yang lebih tua, kadangkadang, memainkan peran sebagai orang tua dan mengasuh satu atau lebih adik-adik mereka sehingga menjadi figur pelengkap bagi mereka. Saudara kandung yang usianya dekat juga bisa menjadi teman bermain, dan beberapa di antaranya mungkin menjadi berteman, bahkan bersahabat, dengan hubungan yang simetris, kooperatif, timbal balik, dan saling percaya yang sebelumnya digambarkan melalui karakteristik persahabatan dekat, yang menyiratkan kelekatan dengan persahabatan saudara (Ainsworth, 1. Saudara kandung juga memiliki peran dalam perkembangan kognitif dan kemampuan belajar individu dengan gangguan. Oleh sebab itu kehadiran saudara kandung membawa dampak yang besar terhadap perkembangan seorang individu. Ketegangan yang terjadi dalam relasi saudara kandung juga terjadi karena karakteristik dari ASD itu sendiri (Diener et al. , 2. Remaja yang sehat dan memiliki saudara kandung dengan gangguan ASD memiliki tuntutan untuk membantu dalam mengasuh saudaranya serta dituntut agar mendapatkan pencapaian yang jauh lebih baik dibandingkan saudaranya yang memiliki kebutuhan khusus (Seligman and Darling. Kondisi ini menyebabkan remaja merasa terganggu sehingga hubungan persaudaraan yang memuaskan tidak dapat dibangun (Rivers and Stoneman 2. dalam (Beyer 2. Adanya interaksi antara remaja dan saudara kerap menyebabkan masalah perkembangan sosial dan komunikasi (Orsmond and Seltzer 2. Penelitian dari Kaminsky & Dewey . menemukan bahwa hubungan saudara kandung dengan ASD digambarkan memiliki kekurangan intimasi. Kondisi ini menyebabkan individu memiliki perasaan yang tidak tetap atau berubah-ubah terhadap saudaranya, adakalanya individu merasa senang dengan saudaranya tetapi di lain waktu dapat berubah menjadi rasa tidak senang bahkan marah (Kristiana 2. Temuan penelitian tentang hubungan yang terjalin antara individu yang sehat dengan saudara kandung dengan ASD tidak semata-mata menunjukkan relasi yang kurang intimasi. Penelitian lain juga menunjukan saudara kandung yang lebih tua berusaha menunjukkan empati dan penerimaan terhadap saudara dengan ASD dengan terlibat dalam strategi koping yang lebih adaptif untuk menangani hubungan yang negatif (Taylor Johnson et al. Penelitian (Angell. Meadan, and Stoner 2. juga http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 menemukan bahwa saudara kandung mengungkapkan rasa cinta, bangga, rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap saudara dengan ABK, serta memiliki kekhawatiran terhadap penerimaan sosial dan keselamatan saudara mereka. Peran saudara kandung memiliki dampak yang lebih besar apabila turut dilakukan dalam aktivitas sehari-hari seperti ketika saling berinteraksi yang membantu meningkatkan kemampuan komunikasi saudara dengan ASD. Adanya aspek dukungan emosional pada saudara kandung juga mampu membantu mengembangkan kemampuan komunikasi pada anak dengan ASD (Widyandari. Puspita, and Sanjiwani 2. Anak dengan ASD memerlukan pemberian dukungan sosial yang aktif untuk membantu penyesuaiannya. Dukungan sosial yang diberikan dapat diperoleh dari anggota keluarga termasuk saudara, teman dekat, rekan kerja, bahkan tetangga (Hapsari. Putri, and Fitriani 2. Berdasarkan berbagai temuan penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya, relasi antara saudara yang memiliki saudara kandung dengan ABK dapat digambarkan dari perspektif teori psikologi individu oleh Alfred Adler (Whiteman 2. Menurut Adler perbandingan sosial dan dinamika kekuasaan dalam keluarga merupakan hal yang penting dalam pembentukan rasa individualisme, sedangkan persaingan antara saudara kandung didasarkan pada kebutuhan setiap anak untuk mengatasi potensi perasaan rendah diri. Sebagai cara untuk mengurangi persaingan, saudara kandung sering kali melakukan diferensiasi atau "de-identifikasi", atau mengembangkan kualitas pribadi yang berbeda untuk meningkat hubungan yang lebih harmonis (Whiteman 2. Dalam relasi persaudaraan, diferensiasi atau de-identifikasi merupakan proses yang dilakukan saudara kandung untuk menjadi berbeda dari saudaranya yang ABK dengan tujuan untuk mengatasi persaingan dan konflik (Vivona 2. Penelitian menunjukkan remaja yang terlibat lebih banyak aktivitas bersama dengan saudaranya yang ABK berdampak pada hubungan persaudaraan yang lebih positif dan lebih sedikit masalah perilaku. melakukan strategi koping yang berfokus pada masalah untuk meredam dampak negatif masalah perilaku saudara kandung dengan ABK (Orsmond. Kuo, and Seltzer 2. Berdasarkan pemaparan tentang relasi saudara kandung sebelumnya, penting untuk menyadari dan memahami bagaimana hubungan saudara kandung pada remaja yang memiliki saudara dengan ASD. Upaya memahami relasi diantara saudara kandung dalam keluarga yang memiliki saudara dengan ASD merupakan hal yang patut http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 diprioritaskan merupakan hubungan yang paling lama atau bahkan sepanjang masa. Hubungan saudara kandung dengan ASD menunjukkan aspek negatif dan positif dalam Penulisan kajian literatur ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran relasi saudara pada remaja yang memiliki saudara kandung dengan ASD berdasarkan hasil penelitian hingga saat ini. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi dasar pengetahuan untuk memahami dinamika relasi dalam keluarga khususnya diantara saudara kandung yang salah satunya mengalami ASD. METODE PENELITIAN Artikel ini ditulis dengan menggunakan metode kajian literatur dengan tipe Unsystematic Narrative Reviews (Green. Johnson, and Adams 2. untuk mensintesis naratif komprehensif dari hasil penelitian terdahulu. Unsystematic Narrative Reviews membuat rangkuman temuan penelitian-penelitian sebelumnya dalam format ringkas (Green et al. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian artikel dengan menggunakan kata kunci Aurelasi saudara pada anak autisme/ sibling relationships with Autistic Spectrum DisorderAy. Pencarian literatur menggunakan database Google Scholar dan SpringerLinkPada pencarian awal diperoleh 6. 528 artikel jurnal yang membahas mengenai topik ini. Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari: . artikel yang membahasa relasi saudara dengan ASD. subjek penelitian remaja. penelitian dilakukan pada rentang waktu 10 tahun terakhir . variabel melibatkan variabel penelitian terkait relasi saudara dengan ASD. dan, . menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris. Kriteria eksklusi yang digunakan yaitu: . literatur yang tidak menggunakan remaja sebagai subjek penelitian. tidak memiliki korelasi dengan relasi saudara dengan ASD. literatur berbentuk skripsi atau tesis. tidak dapat diakses full text. Setelah dilakukan proses seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi dihasilkan terdapat 10 artikel akhir yang akan dikaji lebih lanjut. Analisis kajian literatur ini mengunakan analisis tematik (Braun and Clarke 2. yang memiliki tahapan proses mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola atau tema dari data secara mendetail (Braun and Clarke 2. Tema yang diperoleh diharapkan menjawab pertanyaan penelitian yang kami ajukan yaitu bagaimana http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 gambaran relasi saudara pada remaja yang memiliki saudara kandung dengan ASD. Ilustrasi mengenai proses seleksi artikel dapat dilihat pada gambar 1. Gambar 1. PRISMA Diagram Penelitian HASIL PENELITIAN Berdasarkan kajian 10 artikel yang ditemukan, maka hasil Unsystematic Narrative Reviews dapat dilihat pada tabel 1. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 1. Hasil Literature Review Nama Peneliti dan Tahun Terbit Metode Penelitian (Dewi 2. Kualitatif. Dua orang partisipan. T sebagai P1 atau Remaja yang memiliki saudara kandung dengan ASD partisipan 1 dan D sebagai P2 atau memiliki hubungan saudara yang tergambar melalui beberapa hal, yaitu: konflik, persaingan . kehangatan dan kedekatan . , dan status atau (Artanti and Kualitatif Wulandari 2. Tiga orang partisipan yang berusia 12-15 Adanya 4 dimensi yang menggambarkan hubungan tahun dan memiliki saudara dengan saudara yaitu dimensi kekuasaan, dimensi persaingan, gangguan ASD dimensi konflik, dimensi kedekatan dan terdapat pula dampak hadirnya saudara dengan GSA terhadap kehidupan remaja awal (Laurance Subjek Penelitian Kualitatif studi kasus 3 partisipan sebagai informan dan satu orang partisipan sebagai key informant Hasil Penelitian Medium dalam komunikasi interpersonal saudara Kebutuhan antar personal terpenuhi melalui komunikasi interpersonal Pola interaksi individu dengan saudara kandung berkebutuhan khusus Hambatan dalam meningkatkan relasi dengan adik kandung berkebutuhan khusus Konflik hubungan saudara antara kakak dengan adik kandung berkebutuhan khusus Aktivitas komunikasi interpersonal yang terjadi antar saudara kandung Kakak memilik pengalaman dialektika relasional pada adik kandung berkebutuhan khusus http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 (Yanti 2. Kualitatif fenomologi 7 partisipan berusia 10-19 tahun (Naibaho. Victoriana. Kuantitatif deskriptif 21 Responden berusia 15-20 tahun and Tjoeng 2. 5 tema hasil penelitian yaitu respon emosional, persepsi remaja terhadap saudara kandung dengan ASD, mekanisme koping yang dilakukan, sumber koping, dan harapan remaja pada saudara kandung dengan ASD Ada hubungan negatif saudara dengan ASD di Yayasan AuXAy kota Bandung pada dimensi konflik dan rivalry (Annisa. Octavia, and Kualitatif Adiyanti 2. 3 remaja yang berusia 14-17 tahun dan 3 tema utama yang ditemukan yaitu dinamika memiliki memiliki saudara kandung dengan ASD dan saudara kandung dengan ASD, konflik yang dialami serta 1 kakak dari saudara kandung dengan ASD penyelesaiannya, dan pemaknaan hubungan (Trew 2. Wawancara 10 remaja yang berusia 15-18 tahun terdiri Tema yang dihasilkan yaitu tantangan dalam hubungan . perempuan dan 4 laki-lak. kedekatan, seperti rasa akur, saudara dan pengasuh, rasa frustasi dan agresi, serta kesempatan bersama dan (Chu et al. Kualitatif melalui 14 remaja berusia rata-rata 25 tahun yang Adanya tantangan komunikas, keinginan untuk semi- merupakan saudara kandung dari individu membimbing, kesedihan, memendam dan pengabaian dengan gangguan ASD perasaan dan rasa syukur (Rum et al. Metode campuran Ibu dan 75 anak dengan adik didiagnosis Adanya tema terkait perasaan Aotak terpisahkanAo. Aoadik ASD versus kakakAo. Aogambaran yang lebih besarAo, dan Aokata yang tak terucapkanAo. (Corsano et al. Kualitatif 15 remaja dengan gangguan ASD serta Adanya tema mengenai sikap terhadap saudara dengan Ibunya ASD, persepsi diri saudara, kekhawatiran tentang masa depan, tantangan dalam memiliki sahabat dan teman, berbicara tentang pengalaman memiliki saudara laki-laki dengan ASD http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . DISKUSI Berdasarkan pernyataan dari (Cicireli 1. , relasi saudara merupakan interaksi secara menyeluruh dari 2 individu atau lebih yang memuat komunikasi fisik, verbal, serta Dalam hal ini kedua individu saling berbagi persepsi, pengetahuan, keyakinan, sikap, dan perasaan satu sama lain. Hubungan yang terjalin antara saudara kandung mencakup interaksi juga tindakan terbuka dan memiliki komponen relasi yang subjektif, kognitif, serta afektif. Hal ini juga tidak luput dari bagaimana relasi saudara terhadap individu yang memiliki saudara kandung dengan ASD. Walaupun terdapat perbedaan dalam menjalankannya, hubungan dengan saudara yang memiliki ASD tetap terjalin melalui proses interaksi yang beragam dan penuh dengan pengalaman baru. Relasi saudara pada remaja yang memiliki saudara kandung dengan ASD dapat digambarkan menjadi 4 tema berdasarkan temuan pada artikel yang dipilih, yaitu: . Kepedulian dan . Dominasi oleh saudara kandung. Ketegangan antara saudara kandung. Persaingan. Tabel temuan dapat dilihat pada tabel 2. Tabel 3. Gambaran Relasi Saudara Kandung Nama Peneliti Tema Artanti dan Wulandari . Kepedulian dan Dewi . Chu et al. , . , kehangatan Laurance et al. Yanti Sub Tema Interaksi positif. Strategi untuk mengatasi hambatan berinteraksi Penerimaan akan kondisi saudara dengan ASD. Artanti dan Wulandari . Dominasi oleh Kekuasaan interaksi saudara kandung Annisa. Octavia, and Adiyanti . Corsano et al. , . Naibaho, dkk . Trew Ketegangan antara saudara Dewi . Persaingan Menganggap saudara sebagai Munculnya emosi negatif perilaku agresi dan serangan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Kepedulian dan Kehangatan Dalam dimensi ini relasi saudara yang tercipta antara remaja dengan saudara ASD nya dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori, yaitu: Interaksi Positif Interaksi yang terjadi antara remaja dengan saudara dengan ASD menunjukkan adanya emosi positif dan pengungkapan kasih sayang yang beragam. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, remaja yang memiliki saudara dengan ASD dapat mengungkapkan kasih sayangnya melalui pelukan, dan hadir untuk menemani saudara dalam melakukan hobi yang disukai (Artanti & Wulandari, 2. Remaja juga meluangkan waktu yang dimiliki untuk bermain bersama dalam menunjukan ketertarikan, memberikan perhatian, berbagi makanan, bahkan menunjukkan rasa kagum terhadap bakat yang dimiliki saudaranya. (Dewi, 2. Remaja juga memanfaatkan momen tertentu dalam menciptakan hubungan yang lebih berkualitas dengan saudaranya, seperti menjaga saudara dengan ASD, membantu saudara dalam mengatur perilakunya, serta melakukan aktivitas menyenangkan bersama. Remaja memiliki niat untuk membantu mengembangkan keterampilan saudara dengan ASD dengan adanya kualitas positif yang ditunjukkan ini, remaja mampu memahami dan mempertahankan yang dianggap sebagai karakteristik dalam sibling relationship (Chu et al. , 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Mchale. Updegraff, and Whiteman 2. mengenai saudara membawa pengaruh secara langsung, dimana adanya ruang untuk membentuk persahabatan dan kontak antara saudara kandung selama masa remaja maupun anak-anak, menyebabkan terjadinya penyesuaian sosio-emosional serta membentuk perilaku dan perkembangan yang positif. Mengatasi Hambatan Berinteraksi Tantangan terbesar untuk dapat berinteraksi dengan saudara yang mengalami ASD adalah komunikasi. Remaja mengalami kesulitan dalam memahami apa yang disampaikan saudaranya begitupun sebaliknya. Dalam penelitian yang telah dilakukan, saudara dengan ASD memiliki kesulitan dalam memaknai instruksi, memahami kosa kata ataupun menghadiri percakapan. Untuk menghindari http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 hambatan tersebut, remaja melakukan berbagai cara melalui teknik komunikasi seperti menjelaskan, bertanya, menghibur, menggunakan kalimat yang akrab, serta mengulangi instruksi. Pemberian penjelasan diikuti juga dengan pengendalian emosi seperti mengendalikan kemarahan, selain itu peran remaja sangat penting untuk ikut mendampingi terapi bahasa wicara saudara yang mengalami ASD, dalam penelitian yang telah dilakukan remaja yang terlibat dalam terapi saudaranya menjadi memahami terkait kondisi dan keterbatasan komunikasi yang dimiliki, remaja juga mempelajari berbagai teknik yang efektif dari saudara kandungnya (Chu et al. , 2. Penelitian juga menjelaskan komunikasi verbal dan nonverbal juga kerap dilakukan menyesuaikan dengan kebutuhan saudara dengan ASD. Dalam komunikasi verbal remaja mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat konkret dan tidak memerlukan kemampuan kritis dalam mengolahnya (Laurance et al. Menurut Stefanil & Yuliana . penggunaan bentuk komunikasi nonverbal kepada ASD dilakukan sebagai alternatif lain karena mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal, penggunaan komunikasi nonverbal seperti gerakan tubuh, sentuhan berupa rangkulan tangan, bersalaman, atau berpelukan, dan isyarat sering dilakukan sebagai cara untuk menyalurkan emosi, pesan, dan kebutuhan mereka. Selain melakukan strategi mengatasi hambatan komunikasi remaja juga melakukan strategi coping untuk menghindari terjadinya konflik dengan saudaranya. Upaya coping yang dilakukan dengan menjauh untuk menghindari saudaranya, melakukan kompromi dengan berbagai pendekatan, berusaha bersikap tenang, mencoba memberi tahu, serta mengalihkan perhatian (Yanti, 2. Dalam penghindaran terhadap saudara kandung hal tersebut tidak sepenuhnya salah, hal ini justru sejalan dengan penelitian oleh Lazarus . yang menyatakan bahwa stres psikologi dapat dikontrol dengan penolakan dan menjaga jarak, hal ini menyebabkan individu mampu memberikan penilaian bahwa suatu pertemuan merupakan hal yang tidak berbahaya. Penerimaan akan Kondisi Saudara dengan ASD. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Remaja yang memahami dengan baik kondisi saudara dengan ASD dapat memaknai relasi saudara yang terjalin sebagai suatu hal yang sangat penting dan mampu membawa saudara kandung kepada berbagai perubahan positif, serta mendorong remaja untuk selalu berusaha menjaga hubungan persaudaraan agar tetap terjalin damai dan saling mendukung satu sama lain (Annisa et al. , 2. Awal terjadinya interaksi antara remaja dengan saudara yang memiliki ASD tidak selalu mengalami respon yang positif, kebanyakan remaja juga terang-terangan menampilkan respon negatif terhadap saudara kandungnya, akan tetapi remaja tidak lagi memiliki perasaan rumit ataupun tertekan di dalam dirinya mengenai saudaranya karena remaja telah berkeinginan untuk berdamai pada kondisi yang Remaja juga memiliki harapan positif terkait perkembangan saudaranya, hal ini juga dapat dikatakan sebagai bentuk menerima remaja. Remaja memiliki harapan akan perkembangan saudaranya menjadi lebih baik seperti terjadi peningkatan keterampilan, kemampuan, kondisi kesehatan, dan komunikasi (Yanti, 2. Dominasi oleh Saudara Kandung Dominasi dicirikan dengan kekuasaan yang lebih besar dari satu pihak. Faktor usia membawa pengaruh yang kuat pada bagaimana status saudara bekerja dan ketika individu yang memiliki usia lebih tua menunjukkan perilaku dominan yang besar terhadap saudaranya. Dominasi pada saudara kandung memunculkan kekuasaan dalam interaksi saudara menyebabkan terjadinya perilaku memerintah, saudara dengan umur yang lebih tua merasa memiliki kekuasaan terhadap adiknya (Artanti and Wulandari Perilaku memerintah ditunjukkan melalui sikap remaja yang dominan dimana terkadang menyuruh saudaranya untuk mengambilkan sesuatu yang diinginkan. Menurut Simatupang & Handayani . , individu memiliki peran dalam membawa pengaruh positif ataupun negatif yang besar kepada saudaranya. remaja yang memerintah saudaranya menganggap perilaku tersebut wajar dilakukan seorang kakak kepada adiknya walaupun sebenarnya remaja dapat melakukan sendiri apa yang disuruh. Ketegangan antara Saudara Kandung http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Remaja menunjukkan respon negatif sebagai bentuk ungkapan dan ekspresi Ketegangan dengan saudara dengan ASD dapat dikategorikan sebagai berikut: Munculnya Emosi Negatif Remaja membutuhkan penyesuaian diri agar bisa menerima kondisi saudara dengan ASD. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, remaja yang sudah memahami kondisi saudara kandungnya yang berbeda dari kondisi normal anakanak lainnya juga menampilkan respon negatif seperti kecewa, sedih, malu, menyalahkan diri sendiri, bahkan memberi respon denial, selain itu remaja juga mengalami konsekuensi berupa pandangan negatif dari lingkungan yang menyebabkan remaja kurang mendapatkan teman (Annisa et al. Kemudian saudara yang memiliki keterbelakangan mental juga menyebabkan saudara merasa tidak nyaman, marah, dan khawatir tentang masa depan, remaja juga mengalami isolasi sosial akibat dari penilaian lingkungan (Corsano et al. Saudara dengan ASD, terutama laki-laki, menyebabkan terjadinya kebingungan peran bagi saudara Hal ini karena saudara perempuan harus melaksanakan peran ganda yang menggabungkan peran saudara kandung dan pengasuh, didukung juga oleh batasan yang tidak jelas dalam keluarga membuat saudara perempuan cenderung mengambil peran sebagai pengasuh atau orang tua. Adanya peran tambahan ini mengakibatkan timbulnya beban emosional dan logistik pada remaja, sehingga perlu adanya sistem pendukung luas (Trew, 2. Hal ini juga sejalan dengan teori keterikatan dari Bowlby . berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mchale et al. bahwa perspektif teori keterikatan memberikan dasar yang kuat mengenai relasi saudara, pada masa kanak-kanak keterkaitan antara saudara kandung menyerupai dan memenuhi hubungan orang tua dengan anak, ikatan tersebut juga membantu dalam mengimbangi kekurangan orang tua jika terjadi stres. Perilaku Agresi dan Serangan Fisik Saudara yang memiliki ASD juga sering ditampilkan melalui pertengkaran untuk mencapai kesepakatan juga melakukan oposisi (Naibaho et al. , 2. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Serangan fisik tidak jarang dilakukan oleh anak dengan ASD untuk mengungkapkan Hal ini menyebabkan timbulnya perasaan jengkel pada remaja karena saudara dengan ASD melakukan serangan fisik berupa tendangan, memukul saudaranya, meninju, bahkan kemarahan verbal berupa makian (Trew, 2. Hal ini tentunya sangat mengganggu karena harus lebih mengeluarkan usaha lebih untuk menenangkan dan melakukan penyesuaian terhadap sikap saudaranya. Persaingan Peran orang tua sangat memengaruhi bagaimana hubungan saudara terjalin. Orang tua yang terlalu memihak salah satu anaknya, atau lebih mencurahkan perhatiannya kepada anak dengan ASD, menyebabkan remaja merasa kehilangan peran orang tuanya dan menganggap saudara sebagai saingan untuk memperebutkan kasih sayang orang tua. Hal ini yang mengakibatkan timbulnya perasaan iri kepada saudara kandungnya sendiri (Dewi, 2. Sejalan dengan penelitian dari Feinberg. Solmeyer & McHale . yang menjelaskan bahwa saudara kandung mewakili kandidat utama untuk perbandingan sosial dan sering kali langsung dibandingkan satu sama lain oleh orang lain, misalnya oleh orang tua. Penelitian dari (Furman & Buhrmester . yang memaknai bahwa persaingan yang terjadi antar saudara disebabkan oleh bagaimana orang tua memperlakukan anaknya dan adanya perilaku keberpihakan orang tua terhadap salah satu dari anaknya, perbedaan porsi perhatian yang diberikan juga memicu terjadinya konflik antara saudara kandung. Hal yang serupa juga disampaikan oleh Perlman & Rose . bahwa dalam konflik yang melibatkan orang tua, anak-anak lebih terlibat konflik hampir dua kali lebih lama, dan lebih sering membenarkan diri, serta lebih jarang mengabaikan lawan mereka. Faktor kontekstual atau lingkungan terutama orang tua memiliki peranan yang penting dalam membentuk relasi yang mengandung persaingan di antara saudara kandung. Pengalaman pola asuh orang tua membawa pengaruh yang penting terhadap peran remaja terhadap saudara kandungnya dengan ASD. Penelitian dari Kristiana . menunjukkan bahwa saudara kandung memiliki peran yang penting pada sosialisasi anak. Saudara yang memahami kondisi anak ASD juga tidak terlepas dari peran orang tua yang berupaya dalam memberikan pemahaman. Saudara kandung turut http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 berkontribusi dalam meningkatkan perkembangan anak ASD seperti membantu mengawasi hingga saudara menjadi guru bagi anak ASD. Hal ini berkaitan dengan salah satu teori psikologi yaitu zona perkembangan proksimal yang menjelaskan bimbingan dari orang dewasa atau sebaya membantu dalam menguasai tugas-tugas yang sulit bagi Penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan orang tua yang melibatkan anggota keluarga lain, seperti nenek, mengakibatkan saudara menjadi lebih dekat dengan nenek atau kurang dekat dengan orang tuanya dan menjadi protes yang meyakini jika orang tua tidak bisa menyamaratakan perhatiannya. KESIMPULAN Dalam tantangan membangun relasi saudara dengan anak dengan ASD, remaja mengalami berbagai perasaan dan pengalaman baru yang berbeda. Relasi yang terbangun secara positif dan negatif tergambar melalui empat tema yaitu kepedulian dan kehangatan, dominasi oleh saudara kandung, ketegangan antara saudara kandung, dan Kepedulian dan kehangatan membuktikan bahwa remaja tidak selamanya menolak kehadiran saudara dengan ASD. Remaja mampu melakukan penyesuaian untuk menjalankan peran penting yang dapat membantu saudaranya beradaptasi dan Adanya dominasi oleh saudara kandung menjelaskan bahwa kekuasaan pada saudara merupakan hal yang wajar terjadi apalagi jika perilaku menguasai dilakukan oleh individu dengan usia yang lebih tua. Ketegangan antara saudara kandung merupakan hal yang umum terjadi dan membuktikan jika tidak semua remaja dapat menerima kondisi saudaranya. Adanya persaingan menyebabkan remaja menganggap saudara kandungnya sendiri sebagai saingan untuk memperebutkan kasih sayang orang Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa pengalaman pengasuhan orang tua akan menentukan peran saudara kandung terhadap anak ASD. Berdasarkan temuan tersebut, hasil dari kajian literatur ini mendorong untuk mengidentifikasi faktor-faktor individual dan konteks sistem keluarga serta konteks lingkungan yang lebih luas untuk menemukan dinamika relasi antara saudara kandung dengan ASD. Penelitian ini juga mendorong untuk meningkatkan keterlibatan peran orang tua dalam mengelola ketegangan dan konflik dalam relasi bersaudara dengan ASD. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . Daftar Pustaka