Article Pola Hubungan Kepercayaan Dengan Penolakan Imunisasi Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas Tembarak Elok Cendikia Esti Wardaya1*. Martini Martini1. Dwi Sutiningsih1. Retno Hestiningsih1 Bagian Epidemiologi dan Penyakit Tropik. Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Diponegoro. Semarang. Correspondence: elokcendikiaa@gmail. Abstrak: Background: Immunization is a medical process where a person is given a certain vaccine to increase the body's immune response to a particular disease because viruses and bacteria cause many deaths throughout the world. A total of 1. 7 million deaths, which contributed 5% to the Indonesian toddler group, are estimated to result in diseases that can be prevented from immunization (PD3I). In 2021, acceptance of complete basic immunization for children under five in Central Java will reach 99% for all types of antigens. However. Temanggung is included in 10 districts that have not achieved the targets set by the Strategic Plan, supported by the occurrence Citation: Wardaya. Martini. Sutiningsih. of extraordinary incidents related to measles, diphtheria and hepatitis. The incidence of diseases that can be prevented by immunization in an area is caused by the existence of community groups Hestiningsih. Au Pola Hubungan who have not carried out basic immunization. According to data from the Temanggung District Kepercayaan Dengan Penolakan Health Service, there are people who refuse to carry out basic immunizations for babies and Imunisasi Dasar Di Wilayah Kerja Puskesmas Tembarak Ay Jurnal Riset toddlers with the main factor being trust. Therefore, further research needs to be carried out Kesehatan Masyarakat, vol. 4, no. regarding the relationship between trust and refusal of immunization in the Tembarak Jan. Community Health Center working area. Method: The method used in this research is descriptive https://doi. org/10. 14710/jrkm. observational cross sectional using primary and secondary data Result: The result was that respondents with basic immunization status received more respondents who had supportive Received: 30 Desember 2023 Accepted: 14 Januari 2024 Published: 30 Januari 2024 beliefs . 2%) compared to respondents who had unsupportive beliefs, 31. 4%) with the chi-square statistical test which showed a p-value <0. Conclusion: There is a significant relationship between trust and basic immunization status in children, so solutions such as cross-sector collaboration are needed. Keywords: Immunization. Rejection. Trust Copyright: A 2024 by the authors. Universitas Diponegoro. Powered Pendahuluan by Public Knowledge Project OJS and Mason Publishing OJS theme. Imunisasi ialah suatu proses medis dimana seseorang diberikan vaksin tertentu untuk meningkatkan respons imun tubuh terhadap sebuah maupun penyakit tertentu. Tujuannya adalah untuk melindungi individu dari penyakit menular yang dapat dicegah dan juga untuk menciptakan perlindungan timbal balik dalam masyarakat yang dikenal dengan istilah herd immunity1. Di Indonesia, terdapat bentuk imunisasi yang diorganisir, yaitu imunisasi wajib yang mana pemerintah mewajibkan individu untuk Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 1 https://ejournal2. id/index. php/jrkm/index Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 1 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 9 of 13 menjalani imunisasi sesuai dengan kebutuhan kesehatannya. Imunisasi dasar yang melibatkan balita maupun bayi di Indonesia mencakup vaksin Hepatitis B. BCG. DPT. Polio, maupun campak Virus dan bakteri mengakibatkan banyak kasus kematian di seluruh dunia. Penyakit-penyakit ini dapat dihindari melalui vaksinasi. Pemberian imunisasi dilaksanakan sebagai tindakan pencegahan terhadap ancaman penyakit ini dan untuk mengurangi risiko komplikasi yang terkait. Jika seseorang tidak menerima imunisasi dasar, dampaknya adalah meningkatnya angka orang sakit atau kematian karena penyakit TBC, polio, campak, hepatitis B, difteri, pertusis, dan tetanus neonatal. Sebanyak 1,7 juta kematian, yang berkontribusi sebesar 5% untuk kelompok balita Indonesia, diperkirakan mengakibatkan Penyakit yang Dapat Dicegah dari vaksin (PD3I). Cakupan imunisasi dasar lengkap balita di Indonesia tahun 2023 meningkat dari yang 84% di tahun 2019 ke 94,9% di tahun 2023 3. Namun demikian, sekitar 5% atau 000 anak di Indonesia masih belum memperoleh perlindungan penuh dari imunisasi dasar yang komprehensif. Hal ini berarti bahwa mereka masih memiliki potensi risiko yang tinggi terhadap penyakit-penyakit yang dapat dicegaha melalui Presentase 5% tersebut masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 99%4. Pada tahun 2021, penerimaan imunisasi dasar lengkap untuk anak balita di Jawa Tengah mencapai 99% untuk semua jenis antigen yang mengindikasikan pencapaian yang sukses terhadap target yang telah ditetapkan oleh Rencana Strategis (Renstr. Dinas Kesehatan Jawa Tengah sebesar 98%. Namun. Temanggung termasuk dalam kelompok 10 kabupaten yang belum mencapai sasaran yang ditetapkan dalam Renstra Didukung juga dengan adanya Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait penyakit campak yang mempengaruhi 6 balita, serta adanya kasus difteri dan hepatitis. Kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi di suatu wilayah disebabkan oleh keberadaan kelompok masyarakat yang belum melaksanakan imunisasi dasar 5. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung per bulan Mei tahun 2023, di wilayah kerja Puskesmas Tembarak Temanggung pada tahun 2022-2023 terjadi penolakan imunisasi bayi dan baduta sebesar 63 orang dimana rata-rata penolakan per wilayah kerja puskesmas hanya 10 orang. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung, penolakan ini mayoritas terjadi karena kepercayaan dan agama. Kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi usia 12-23 bulan merupakan salah satu indikator keberhasilan program imunisasi dalam mencegah PD3I 6. Apabila terjadi penolakan, maka program imunisasi dasar lengkap tidak berjalan dengan baik. Penolakan-penolakan tentang imunisasi dasar lengkap ini tertinggi di Kabupaten Temanggung berada di wilayah kerja Puskesmas Tembarak. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai faktor-faktor penolakan imunisasi dasar pada anak di wilayah kerja Puskesmas Tembarak. Metode Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan metode kuantitatif didukung dengan wawancara secara mendalam menggunakan pendekatan Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 1 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 10 of 13 cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 9-59 bulan pada tahun 2023-2024 di wilayah kerja Puskesmas Tembarak. Penelitian menggunakan simple random sampling. Besar sampel sebesar 102 responden dan pengumpulan data dilakukan melalui wawancara secara langsung dan menggunakan data pendukung dari Puskesmas Tembarak dan Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung Hasil dan Pembahasan Dari tabel 1 dijelaskan bahwa responden yang berusia 17-35 tahun . 5%) lebih banyak daripada responden yang berusia 36-51 tahun . 5%) dan mayoritas responden berjenis kelamin Perempuan . 5%) dibanding yang berjenis kelamin laki-laki . 5%). Dari tabel diatas juga menunjukkan bahwa terdapat responden yang menolak imunisasi dasar . 2%) dan menerima imunisasi dasar . 8%) untuk memberikan imunisasi dasar pada anaknya. Dari tabel juga menunjukkan bahwa responden memiliki kepercayaan yang mendukung . 0%) sama dengan responden yang memiliki kepercayaan yang tidak mendukung . 0%) terhadap imunisasi dasar lengkap pada bayi. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Responden Karakteristik Responden . 17-35 tahun (Dewasa Mud. 36-51 tahun (Dewasa Tu. Perempuan Laki-Laki Menolak Menerima Mendukung Tidak Mendukung Usia Jenis Kelamin Status Imunisasi Kepercayaan Tabel 2. Kepercayaan Yang Tidak Mendukung Tentang Manfaat Yang Dirasakan Pada Imunisasi Dasar Keterangan . Mudah terkena penyakit Kekebalan justru memburuk Mengakibatkan demam pada semua anak Mengandung bahan berbahaya Haram dalam agama Menyebabkan cacat pada anak Menyebabkan pertumbuhan kognitif terhambat Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 1 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 11 of 13 Pada tabel 2 menunjukkan bahwa responden dengan yang tidak mendukung tentang manfaat yang dirasakan pada imunisasi dasar sebanyak 51 responden dimana alasan yang paling dominan adalah menyebabkan demam pada semua anak . kemudian disusul dengan alasan mengandung bahan yang berbahaya . 5%) dan kekebalan justru memburuk . 3%). Kepercayaan merupakan suatu dorongan dalam diri subjek penelitian, seperti sejauh mana seseorang mempercayai untuk tidak memberikan imunisasi pada bayinya. Pengalaman, baik yang berasal dari diri sendiri maupun pengalaman orang lain mengenai imunisasi, serta mitos mengenai imunisasi dapat mempengaruhi keyakinan seseorang terhadap imunisasi. Selain itu, adanya keyakinan bahwa imunisasi haram juga dapat mempengaruhi keyakinan orang tua untuk memberikan imunisasi kepada Menurut kepercayaan yang diyakini oleh sebagian orang, kandungan dalam imunisasi masih diragukan kehalalannya dan memasukkan suatu benda asing ke dalam tubuh yang dapat menimbulkan reaksi negative dapat diartikan sebagai menzolimi Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Evi . yang menyatakan secara signifikan terhadap pemberian imunisasi dasar pada bayi. Kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu 8. Sebagian besar meyakini bahwa imunisasi membawa dampak buruk terhadap anak mereka, seperti terjadinya panas setelah diberikan imunisasi, menurut mereka semua imunisasi akan membawa efek samping panas terhadap anak mereka, sebagian lagi mereka takut anaknya menjadi rewel, dan dapat pula menyebabkan kejang9. WHO menyatakan bahwa kepercayaan sering diperoleh dari orang tua, kakek, atau nenek, seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu10. Berdasarkan hasil wawancara dengan responden yang memiliki anak dengan status imunisasi tidak lengkap, sebagian besar. meyakini bahwa imunisasi membawa dampak buruk terhadap anak mereka, seperti terjadinya panas setelah diberikan imunisasi, menurut mereka semua imunisasi akan membawa efek samping panas terhadap anak mereka, sebagian lagi mereka takut anaknya menjadi rewel, dan dapat pula menyebabkan kejang. Sebagian masyarakat berkeyakinan bahwa imunisasi hanya akan menyebabkan anak mereka sakit, sehingga anak yang menurut mereka sehat tidak perlu diberikan imunisasi, karena pemberian imunisasi hanya akan menyebabkan mereka menjadi sakit dan akan menyusahkan orang tua mereka. Selain itu, terdapat juga kepercayaan terhadap suatu agama yang merupakan hak setiap individu untuk memilih salah satu agama dengan ajaran yang menurutnya benar 11. Karenanya, kepercayaan agama menjadi dasar terbentuknya nilai pada diri seseorang Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan seseorang akan memelihara kesehatannya sesuai dengan ajaran kepercayaan yang dianutnya. Seperti dalam penelitian ini, ditemukan bahwa terdapat responden yang memiliki kepercayaan manusia adalah makhluk yang paling sempurna, sehingga memunculkan persepsi Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat 2024, 4, 1 ISSN: 2807-8209 DOI: 10. 14710/jrkm. 12 of 13 bahwa manusia kebal terhadap segala jenis virus penyebab penyakit dan tubuh yang akan menyembuhkan dengan sendirinya12. Pada pelayanan kesehatan, khususnya kegiatan imunisasi dalam rangka mencegah terjadinya wabah suatu penyakit yang mana kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang baik, namun masih terdapat Masyarakat yang meyakini bahwa kegiatan tersebut tidak sesuai dengan kepercayaan agamanya. Sehingga responden dengan paham seperti itu enggan menerima imunisasi dengan anggapan bahwa bahan yang diguanakan untuk kegiatan imunisasi tidak halal. Hal tersebut dijelaskan dalam fatwa MUI bahwa hukum imunisasi adalah mubah . Ketika bahan yang digunakan bersifat Najis selama belum ada bahan yang dapat menggantikan bahan Najis tersebut 13. Namun, pada penelitian ini terdapat responden yang tidak memercayai fatwa MUI sehingga menolak memberikan imunisasi pada anaknya. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini membuktikan terdapat adanya hubungan antara kepercayaan dengan status penolakan imunisasi dasar pada bayi. Oleh karena itu, perlu adanya Solusi sepeeri memberikan informasi yang tepat, melakukan pendekatan keluarga, melakukan advokasi kepada tokoh agama serta melakukan diskusi lintas sektor. Referensi