DEPRESI DAN STIGMA TB DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN TUBERKULOSIS PARU Depression and TB Stigma with the quality of life of patients with pulmonary tuberculosis Vika Endria. ASri Yona2 Vika Endria: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Sri Yona: Departemen Keperawatan Medikal Bedah. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Corresponding author: sriyona@ui. ABSTRAK Penyakit tuberkulosis paru dapat menimbulkan penurunan terhadap kualitas hidup pasien TB Paru. Beberapa faktor yang mempengaruhi hal tersebut adanya depresi yang dialami pasien TB Paru akibat proses penyakit dan stigma negatif terhadap penyakit terseA Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan depresi dan stigma dengan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode analitik korelatif yang menggunakan pendekatan deA sain cross sectional. Populasi target dalam penelitian ini adalah pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT di poli paru RSUP Persahabatan. Teknik pengambilan sampling yang digunakan teknik concecutive sampling, dengan jumlah sampel sebanyak 96 responden. Data dianalisis dengan uji analisa univariat dan bivariat, hasil uji bivariat menggunakan pearson menunjukan hasil p = 0,000 . < 0,. Berdasarkan hasil tersebut terdapat adanya hubungan adepresi dan kualitas hidup serta stigma dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru. Hasil penelitian tersebut direkomendasikan untuk melakukan deteksi dini depresi dan stigma pada pasien poliklinik oleh perawat. Kata Kunci : depresi, stigma, kualitas hidup, tuberkulosis,penyakit paru ABSTRACT Pulmonary tuberculosis disease can decrease the quality of life of patients with pulmonary tuberculosis. Several factors such as depression and stigma on TBC also influence the quality of life of TBC . The study aimed to identify relation between depression and stigma with quality of life of patients with tuberculosis cross sectional study was used, using consecutive sampling. 96 respondent involved in this study, with tuberculosis who have undertaking anti-tuberculosis medication in outpatient clinic at RSUP Persahabatan. The data was examined by univariate and bivariate analysis the result of bivariate analysis with pearson showed that p = 0,000 . <0. The finding show that there was correlation between depression and quality of life as well as stigma and quality of life of patients with tuberculosis. It is recommended that it is essesetial to do early detection of depression and stigma performed when patient attend clinic by nurses. Key words: depression, lung disease, stigma, tuberculosis quality of life. PENDAHULUAN yang sangat menular, berbahaya, kotor dan terkait dengan kemiskinan. Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan kedua di dunia sebagai penyakit infeksi dan jumlah individu yang sakit akibat terinfeksi bakteri ini meningkat setiap tahunnya. Kondisi tersebut menjadikan tuberkulosis sebagai masalah global dan menjadi salah satu agenda dari program Sustainable Development Goals 2030, dengan target pada tahun 2030 dunia bebas dari penyakit Berdasarkan data dari WHO melalui Global Tuberculosis Report . pada tahun 2015 terdapat 10,4 juta kasus tuberkulosis diseluruh dunia. Jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2014 dengan jumlah kasus 6 juta. Di Indonesia tuberkulosis paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan, serta menempati urutan pertama penyebab kematian untuk penyakit infeksi. Setiap tahunnya ditemukan 61. 000 kematian akibat penyakit ini (Kemenkes RI, 2. Berdasarkan data Kemenkes RI . tahun 2014 terdapat 460. 000 kasus baru tuberkulosis paru pertahunnya, dan jumlah ini meningkat ditahun 2015 menjadi satu juta kasus baru pertahunnya . emenkes RI, 2. Kondisi ini menjadikan Indonesia berada di urutan kedua dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak setelah India, dan menyumbang 10% dari total kasus tuberkulosis di dunia. Penelitian yang dilakukan di W olaita Sodo University Hospital and Sodo Health center (Duko, et al, 2. dihasilkan data bahwa dari keseluruhan pasien tuberkulosis paru yang diteliti, sebanyak 41,5% mengalaA mi kecemasan, dan 43,4% mengalami depreA Penelitian lain yang dilakukan oleh School of Medical Science and Research India (Kumar, et al, 2. didapatkan hasil penelitian bahwa dari 100 pasien tuberkulosis paru yang diteliti sebanyak 78 kasus memiliki masalah kesehatan mental, dimana sebanyak 35 kasus menderita depresi dan 39 kasus menderita kecemasan berat. Hal ini disebabA kan karena proses penyakit dan pengobatan yang lama berdampak pada perubahan fisik dan psikis. Adaanya stigma negatif terhadap penyakit ini juga menambah depresi pasien. Menurut Courthwright, dan Turner . dalam jurnal penelitiannya menjelaskan bahA wa stigma negatif ini muncul karena adanya persepsi bahwa tuberkulosis adalah penyakit Stigma negatif sangat berpengaruh pada program pengobatan tuberkulosis paru. Dalam jurnal yang berjudul The stigma of tuberculosis (Davis, & Juniati, 2. terA dapat dua masalah utama dalam pengobatan tuberkulosis paru, yaitu keterlambatan dalam pengobatan dan putus obat, salah satu penyebab dari masalah ini adalah adanya penghindaran pasien tuberkulosis paru untuk berobat karena stigma negatif. Kondisi depresi akibat proses penyaA kit tuberkulosis dan pengobatannya, serta stigma negatif terhadap penyakit tuberkulosis ini akan semakin memperberat kondisi pasien, baik fisik dan psikis. Kondisi fisik dan psikis ini akan sangat mempengaruhi kualitas hidup pasien, karena keduanya meruA pakan domain dari kualitas hidup (Nursalam, 2. , sehingga tidak jarang pasien dengan penyakit tuberkulosis mempunyai nilai kualiA tas hidup yang rendah dikarenakan depresi yang dialami pasien, serta diperberat dengan stigma negatif terhadap penyakit (Davis, & Juniarti, 2. Kualitas hidup yang rendah akibat adanya depresi dan sigma tentunya akan mempengaruhi bagaimana pasien tuberkuloA sis paru menjalani proses penyakitnya serta proses pengobatannya yang secara keseA luruhan akan berpengaruh terhadap berhasil atau tidaknya pengobatan. Berdasarkan hal ini peneliti merasa penelitian ini penting untuk dilakukan sehingA ga peneliti tertarik untuk meneliti lebih jauh bagaimana hubungan depresi, stigma dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT serta hubungan antara depresi dan kualitas hidup serta stigma dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menjalani OAT. METODE Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Dalam penelitian ini populasi merupakan pasien tuA berkulosis paru yang sedang menjalani penA gobatan OAT di poli paru di RSUP PerA sahabatan dengan jumlah responden 96. VariA abel independen dalam penelitian ini meliputi depresi dan stigma, sedangkan variabel deA penden adalah kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan metode sampling non probability sampling dengan teknik pengambilan concecutive sampling. Demografi Usia Kriteria inklusi penelitian meliputi Pasien TB paru yang menjalani pengobatan OAT minimal 1 bulan dan usia diatas 18 Kriteria eksklusi meliputi Pasien TB paru dengan kondisi sesak nafas berat, pasien TB paru dengan riwayat putus obat dan pasien dengan gangguan kognitif. Jenis Kelamin Status Pernikahan Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa tiga buah kuesioner. WHOQOL-BREF. BECK Depression Inventory dan EMIC-CSS. Masing-masing kuesioner tersebut untuk mengukur kualitas hidup, tingkat depresi dan stigma. Pekerjaan Pendidikan Karakteristik Remaja Akhir Dewasa Awal Dewasa Akhir Total Laki-laki Perempuan Menikah Belum Menikah SMP SMA Di Perguruan Tinggi Tidak Bekerja/ IRT Pedagang Swasta PS/TNI/Porli Distribusi frekuensi karakteristik reA sponden berdasarkan status penikahan didapatkan data 78 responden . 3%) sudah Pendidikan didominasi oleh lulusan SMA yaitu sebanyak 54 responden . 3%), Sedangkan pada pekerjaan didominasi oleh pekerja swasta yaitu sebanyak 42 responden . 7%). Tabel 1 Variabel penelitian ini meliputi depresi dan stigma, sedangkan variabel dependen adalah kualitas Gambaran karakteristik dari masing-masing variabel dapat dilihat di tabel 2. Pada variable independen depresi dari 96 responden sebanyak 34 responden . 4%) mengalami depresi ringan dan 21 responden . 9%) mengalami depresi berat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer dan data Data primer diperoleh dari pasien sebagai responden yang secara langsung mengisi kuisioner penelitian. Setelah data terkumpul peneliti melakukan editing, codA ing, processing, dan cleaning. Proses analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis univariat untuk mengetahui gambaran distribusi frekueansi setiap variabel dan analisis bivariat dengan uji person untuk mengetahui hubungan antar variabel independen dan dependen. Penelitian ini dilakukan dengan prinA sip etis yang dapat dipertangung jawabkan dan mengutamakan prinsip etis keadilan, manfaat, dan menghormati orang lain dengan menghargai harkat dan martabat serta keA rahasiaan dengan menjaga segala informasi yang diberikan oleh responden Variabel Independen Depresi Minimal Ringan Sedang Berat Penelitian mengenai hubungan depresi dan stigma dengan kualitas hidup pasien TB paru yang menjalani pengobatan OAT dilA akukan pada bulan Juni 2017 terhadap 96 responden penelitian. HASIL Pada Tabel 1 menunjukan data demografi responden penelitian ini. Berdasarkan uji anaA lisis terhadap karakteristik responden didapatA kan data pada karakteristik usia, responden didominasi oleh usia dewasa awal ( usia 2635 tahu. yaitu 65 responden . 7%). Pada karakteristik jenis kelamin didominasi lakilaki sebanyak 62 orang . 6%). Frekuensi Persen Stigma Rendah Tinggi Variabel Dependen Kualitas Hidup Buruk Sedang Baik Sangat baik Tabel 2 Variabel stigma sebanyak 51 reA sponden . 1%) memiliki stigma rendah dan 45 responden . 9%) memiliki stigma tinggi terhadap penyakitnya, sedangkan pada variaA bel kualitas hidup, terdapat 44 . 8%) dari total 96 responden yang memiliki kualitas hidup yang baik Analisa bivariat pada penelitian ini menjelaskan hubungan antara depresi dengan kualitas hidup pada pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT dan hubA ungan stigma dengan kualitas hidup pada pasien tuberkulosis paru yang menjalani penA gobatan OAT. Berdasarkan tabel 3 responden yang mengalami depresi minimal memiliki kualitas hidup baik sebanyak 11 . 1%) responden. Pada depresi berat, sebanyak 12 . 1%) reA sponden memiliki kualitas hidup yang buruk. Hasil uji korelasi bivariat nilai koefisien korelasi -0,606. Nilai ini menunA jukan adanya hubungan kuat dan negatif atau berlawanan antara variabel depresi dan variaA bel kualitas hidup. Dari hasil uji tersebut didapatkan nilai signifikan 0. 000, dengan menetapkan nilai kemaknaan sebesar 5% ( = 0. maka P value < 0. 05, sehingga terdapat hubA ungan yang bermakna dengan arah berlaA wanan antara depresi dan kualitas hidup pada pasien tuberculosis paru yang menjalani PenA gobatan OAT. Kualitas Hidup Sedan Total Tabel 3 Hubungan antara variabel stigma dan kualitas hidup didapatkan hasil dari 96 reA sponden sebanyak 51 responden menunjukan stigma rendah dan dari 51 responden tersebut sebanyak 31 responden . 8%) memiliki kualits hidup baik dan dua responden . memiliki kualitas hidup buruk. Pasien yang memiliki stigma tinggi terhadap penyakitnya sebanyak 45 responden dan 17 responden . 8%) dari jumlah tersebut memiliki kualiA tas hidup yang sedang dan 13 responden . 9%) dengan kualitas hidup yang buruk. Hasil uji bivariat pearson didapatkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,421 yang menunjukan adanya hubungan cukup kuat dan berlawanan arah antara variabel stigma dan variabel kualitas hidup. Dari hasil uji tersebut didapatkan nilai signifikan 0. Dengan menetapkan nilai kemaknaan 5% ( = 0. maka nilai p value < 0. 05 sehingga terdapat hubungan sigA nifikan . antara kedua variabel. Berdasarkan data di atas dapat disimA pulkan bahwa terdapat hubungan bermakna dengan arah yang berlawanan antara stigma dan kulaitas hidup pada pasien tuberculosis paru yang menjalani Pengobatan OAT. Tabel 4 PEMBAHASAN Gambaran Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian dominasi responden tuberkulosis paru berada pada usia dewasa awal atau usia produktif. Hasil penelitian tersebut didukung oleh penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Badan LitA bang Kesehatan. Kemenkes RI (Nurjana, 2. , didapatkan hasil dari 522. 670 reA sponden tuberkulosis paru di seluruh IndoneA sia, sebanyak 76 % dari responden berada pada usia produktif dengan rentang usia 15 tahun hingga 40, selain itu kejadian tuberkuA losis paru lebih tinggi pada laki-laki di bandA ing dengan perempuan disebabkan tingginya aktivitas dan tingkat sosial pada laki-laki dibanding dengan perempuan (Qhatani. Penyakit tuberkulosis paru juga serA ing dikaitkan dengan kemiskinan akibat pekerjaan dengan penghasilan rendah. Menurut WHO . , 90% individu denga tuberkulosis paru di dunia menyerang keA lompok dengan penghasilan rendah atau miskin dan hubungan keduanya bersifat timA bal balik. Selain pekerjaan dengan penghasiA lan yang rendah tingkat pendidikan juga mempengaruhi angka kejadian tuberculosis Rendahnya tingkat pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan terhadap penyaA kit, sehingga resiko untuk terjangkit penyakit ini sangatlah tinggi. Analisa bivariat pada penelitian ini menA jelaskan hubungan antara depresi dengan kualitas hidup pada pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT dan hubA ungan stigma dengan kualitas hidup pada pasien tuberkulosis paru yang menjalani penA gobatan OAT. Dari hasil uji variabel, didapatkan data dari 96 responden yang terlibat dalam penelitian, sebanyak 34 responden . mengalami depresi ringan, 23 responden . %) depresi sedang, 21 responden . berat dan 18 responden . 8%) mengalami depresi minimal. Berdasarkan data dari WHO . bahA wa sekitar 40-70% pasien tuberkulosis megaA lami masalah kesehatan mental dan 40% dari masalah tersebut adalah depresi ringan hingA ga berat. Penelitian mengenai hubungan depresi dan penyakit tuberculosis paru juga dilakukan oleh Amreen dan Rizvi . di Karachi. Pakistan dengan melibatkan 100 responden. Dari hasil penelitian tersebut terdapat 21 reA sponden mengalami depresi minimal, 23 reA sponden mengalami depresi ringan, 29 reA sponden mengalami depresi sedang dan 8 responden mengalami depresi berat. Penelitian lain juga dilakukan oleh Pokhara University. Khatmandu. Nepal (Devkota. Narmada. Shyam. Penelitian melibatkan 150 responden yang menderita tuberkulosis paru. Dari penelitian tersebut terdapat 27 responden . %) yang mengalami depresi ringan hingga berat dengan rincian depresi ringan sebanyak 16 responden . %), depresi sedang sebanyak 6 responden . %), dan depresi berat sebanyak 5 responden . %). Penelitian mengenai kondisi depresi yang dialami oleh pasien tuberkulosis juga dilA akukan oleh Yilmaz dan Ozden . di AnA kara. Turky. Penelitian ini melibatkan 208 responden, dari responden tersebut sebanyak 125 responden . 5%) mengalami depresi. Berdasarkan penelitian-penelitian disimpulkan bahwa pasien dengan tuberkuloA sis paru mengalami masalah kesehatan menA Salah satu kondisi yang sering dialami adalah depresi dari rentang depresi ringan hingga depresi berat. Selain depresi pasien tuberculosis paru diperberat dengan adanya stigma terA hadap penyakit tersebut. Stigma yang ditujukan pada pasien TB paru mempunyai dampak negatif. Perasaan malu, rendah diri, isolasi sosial hingga depresi dapat terjadi akibat stigma ini (Juniarti, & Evans, 2. Kondisi ini mengakibatkan terhambatnya penghindaran dari pasien. Akibatnya tidak jarang pasien mangalami putus obat. akan mengakibatkan peningkatan mobiditas hingga mortilitas pasien ( Crispim, et all, 2. , hal senanda juga dikemukakan oleh Courtwright dan Turner . bahwa adanya stigma terhadap individu dengan penyakit ini berefek pada proses pengobatan dan proses penyembuhan. Kondisi tersebut tentunya akan berdampak menyeluruh terhadap kualitas hidup pasien tuberkulosis paru. Hal dapat terjadi karena perubahan berbagai aspek dari individu yang terstigma akan menimbulkan penurunan pada domain kualitas hidup, teruA tama domain psikis yang tentunya akan mempengaruhi domain lain sehingga terjadi perubahan kualitas hidup pada individu terseA Pada penelitian ini, ditemuan sebanyak 51 responden . 3%) yang memiliki stigma rendah terhadap penyakit tuberkulosis paru, dan sebanyak 45 responden . 9%) memiliki stigma tinggi. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat digambarkan bahwa sebagain responden memiliki stigma rendah terhadap penyakit tuberkulosis paru. Hasil penelitian tersebut berlawanan dengan hasil penelitian dilakukan oleh PriA yanka dan Dahal . di Palpa District Hospital. Tansel. Palpa. Nepal. Penelitian ini menggunakan instrumen yang sama (EMICCSS) dengan melibatkan 89 responden tuA berkulosis paru yang sedang menjalani penA gobatan OAT. Hasil dari penelitian terdapat 64% dari responden yang memiliki stigma tinggi terhadap pasien tuberkulosis paru. Di Indonesia pernah dilakukan penelitian oleh Suandi . mengenai stigma terhadap pasien tuberkulosis paru. Responden yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 88 orang yang merupakan bagian dari keluarga pasien tuberkulosis paru yang menjalani penA gobatan OAT minimal 1 bulan. Didapatkan hasil 81,25 % dari total reponden memiliki stigma tinggi terhadap penyakit tersebut. Berdasarkan hasil dari penelitian didapatA kan data terdapat tujuh responden . yang memiliki kualitas hidup baik sekali, sebanyak 44 responden . 8%) memiliki kualitas hidup baik, 30 reponden . memiliki kulaitas hidup sedang dan sebanyak 15 responden . 6%) yang memiliki kualitas hidup buruk. Pengukuran kualitas hidup terdiri dari empat domain yang meliputi domain fisik, psikis, hubungan sosial dan lingkungan. dilihat hasil penelitian berdasarkan domain tersebut maka untuk untuk domain fisik sebanyak 49 reponden . %) bernilai buruk, sedangkan pada domain psikis, hubungsn sosial dan lingkungan memiliki nilai sedang dengan jumlah 41 responden . 7%), 37 ,5%), 38 reponden . %). kualitas hidup buruk. Pada tingkat depresi berat dari 21 responden 12 responden memA iliki kualitas hidup buruk . Tujuh responden dengan kualitas hidup sedang, dua responden dengan kualitas hidup baik dan tidak ada reA sponden yang memiliki kualitas hudp sangat Hasil uji bivariat juga didapatkan sigA nifikansi bernilai 0. Tingkat kemaknaan yang di tetapkan pada penelitian ini sebesar 5% ( =0. , maka nilai tersebut lebih kecil dari tingkat kemaknaan . < ) sehingga koA relasi antara dua variabel tersebut signifikan . Hubungan Depresi dengan kualitas hidup Pada penelitian ini telah dilakukan uji korelasi bivariat pearson antara variabel depresi dan variabel kualitas hidup, nilai koefisien korelasi antara keduanya -0,606. Nilai ini menunjukan adanya hubungan negatif antara variabel depresi dan variabel kualitas hidup. Dapat diartikan semakin renA dah tingkat depresi yang dialami pasien maka akan semakin meningkat kualitas hidup Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil penelitian ini bahwa pada tingkat depresi ringan dari 34 responden terdapat 21 responden yang memiliki kualitas hidup baik, delapan empat responden dengan kualitas hidup sangat baik dan satu responden dengan KESIMPULAN Hasil penelitian ini berhasil membukA tikan hubungan antara depresi dengan kualiA tas hidup pasien tuberkulosis paru yang menA jalani pengobatan OAT dan hubungan stigma dengan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menjalani pengobatan OAT. Pada hubungan antara depresi dan kualitas hidup paling banyak responden menA galami depresi ringan yaitu 34 responden . 4%). 21 responden dari jumlah tersebut memiliki kualitas hidup yang baik. RespondA en dengan tingkat depresi berat pada penelitian ini sebanyak 21 responden . 9%). Dari jumlah tersebut didominasi oleh 12 responden yang memiliki kualitas hidup yang buruk, hal ini menunjukan seA Hubungan stigma dan kualitas hidup Dari hasil penelitian pada stigma renA dah dari 51 pasien terdapat 31 responden dengan kualitas hidup baik dan hanya 2 reA sponden yang memiliki kualitas hidup buruk. Pada tingkat stigma tinggi dari 45 responden sebanyak 17 responden memiliki kualitas hidup sedang dan 13 responden memiliki kualitas hidup buruk. Korelasi signifikan dari hasil uji biA variat tersebut 0,000 dengan tingkat kemakA naan () 0,05, menunjukan bahwa p value < sehingga terdapat korelasi yang signifikan . antara kedua variabel Dapat disimpulkan bahwa stigma terhadap penyakit ini akan memepengaruhi kualitas hidup pasien tuberkulosis paru hal ini terkait dengan hasil penelitian terdapat hubA ungan yang bermakna dengan arah berlaA wanan . antara stigma dan kualitas hidup pasien tuberkulosis paru yang menA jalani pengobatan OAT, kualitas hidup akan meningkat jika stigma terhadap penyakit ini rendah dan sebaliknya. makin rendah tingkat depresi semakin meningkat kualitas hidup. Pada hubungan stigma dengan kualiA tas hidup, paling banyak responden memiliki stigma rendah terhadap penyakitnya yaitu 51 responden . 1%). Dari jumlah tersebut 31 responden memiliki kualitas hidup yang baik sedangkan pada pasien yang memiliki stigma tinggi 45 . 9%) paling banyak 17 rsponden memiliki kualitas hidup sedang. Dari data tersebut menunjukan bahwa semakin tinggi stigma semakin rendah kualitas hidup. Juniarti. , & David. , . A qualitative review: the stigma of tuberculosis. Jurnal of clinical nursing,doi: 10. Kemenkes RI. Infodatin : pusat data dan informasi: tuberculosis temukan. Jakarta: Kemenkes Infodatin. Kemenkes RI. Infodatin :pusat data daninformasi: tuberculosis temukan. Jakarta: Kemenkes Infodatin. Kumar. Kumar B,. Chandra. , & Kansal, . , . A study of prevalence of depression and anxiety in patients sufA fering from tuberculosis. Journal of Family Medicine and Primary Care, 1 . Doi: 10. 4103/22494863. Mawadah . Gambaran kualitas hidup pasien tubrkulosis paru yang menjalani terapi obat anti tuberkulosis di balai kesehatan paru masyarakat banda aceh. Kementrian pendidikan dan kebudayaan universitas syah kuala. Dikutip dari. Unsyah. Nursalam. Metodologi penelitian ilmu keperawatan:pendekatan praktis. Edisi 4. Jakarta: Salemba Medika. PDPI. Konsensus tb. Jakarta: PDPI. Dikutip konsensus > tb > tb Priyanka, & Dahal. Stigma related to tuberculosis in patients taking dots treatA ment from dots center of palpa district hospital, tansen, palpa. Nepal. Journal of microbiology and modern techniques. 104, dikutip dari http://w. AnnexA com /paper-submission. Santos. Tyssia K. & Denise, . , . Health-Related Quality of Life. Depression and Anxiety in Hospitalized Patients with Tuberculosis. Tuberculosis and respiratory deseases. https://doi. org/10. 4046/trd. ISSN: 1738-3536(Prin. /2005-6184. Suandi. Windy. Siti. , & Susana. Stigma orangtua terhadap tubekulosis di balai besar kesehatan paru bandung. Dikutip dari https:// edu > article > download WHO . World helath day 2017: letAos talk about depression and TB. Dikutip http://w. Ucapan Terima Kasih Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada rang tua dan keluarga yang telah memberikan semangat kepada penulis agar tetap berusaha menyelesaikan skripsi ini. Seluruh staf Poli paru RSUP Persahabatan beserta seluruh responden penelitian. DAFTAR PUSTAKA