Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X http://ojs. id/index. php/JPP/index Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu (Saccharum officinarum L. ) menjadi gula pasir dan gula semut: Studi kasus petani mitra PG di Kabupaten Sleman dan Kabupaten Malang Galuh Banowati a,1,*. Vina Angelina b,2 *a Program Studi Budidaya Tanaman Perkebunan. Politeknik LPP Yogyakarta. Indonesia. b Program Studi Pengelolaan Perkebunan. Politeknik LPP Yogyakarta. Indonesia. 1 glb@polteklpp. *Correspondent Author Received: 18 Maret 2024 Revised: 20 Agustus 2024 ABSTRAK KATAKUNCI Gula Putih Gula Semut Nilai R/C Pendapatan Usaha KEYWORDS White sugar Brown Sugar R/C value Revenue Accepted: 29 Oktober 2024 Secara umum gula semut . rown suga. adalah gula merah palma . alm suga. yang dikristalkan. Selama ini, yang disebut gula semut terbuat dari bahan nira palma, namun gula semut juga bisa dibuat dari Selama ini bahan baku gula merah juga banyak yang berasal dari Gula merah tebu sebagian besar diserap oleh industri kecap. Gula putih yang diproduksi dari tebu dan bit, sekarang mulai tidak disukai oleh masyarakat menengah ke atas, karena alasan kesehatan. Gula putih dianggap mengandung banyak bahan kimia, yang terikut pada waktu proses pembuatannya. Gula semut kurang dikenal luas oleh masyarakat, karena harganya relatif mahal dan ketersediaannya di pasar tidak selalu ada. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan pendapatan petani tebu yang lebih menguntungkan antara diolah menjadi gula pasir oleh PG, dan diolah menjadi gula semut oleh perusahaan gula semut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi komparatif. yaitu membandingkan variabel R/C dan B/C. Data yang dikumpulkan yaitu data pembiayaan produksi dan penerimaan usaha tani tebu di Berbah. Sleman. Yogyakarta dan Bantur. Malang. Jawa Timur. Hasil penelitian yang didapat yaitu: pendapatan apabila tebu diolah menjadi gula putih di PG. Madukismo memiliki nilai R/C 1,56 dan B/C 0,57, diolah di PG. Krebet Baru memiliki nilai R/C 1,98 dan B/C 0,99, diolah menjadi gula semut di PT. Tlogo Kelang memiliki nilai R/C 2,12 dan B/C 1,12. Namun perbedaan nilai R/C dan B/C untuk PG juga dipengaruhi oleh pola bagi hasilnya, rendemen, dan juga disebabkan oleh perbedaan produktivitas tiap daerah Comparative analysis of sugarcane (Saccharum officinarum ) business income into granulated sugar and ant sugar: Case study of PG partner farmers in Sleman Regency and Malang Regency In general, brown sugar is crystallized palm sugar. Mostly brown sugar is made from palm sap . lower juic. , but actually brown sugar can also be made from sugar cane. Brown cane sugar is mostly absorbed by the soy sauce industry. White sugar, which is produced from sugar cane and beets, is now starting to become unpopular among middle and upper class people, for health reasons. The aim of this research is to compare which more profitable revenue of sugar cane farmers, between processing it into white sugar by sugar industry, or processing http://doi. org/10. 54387/jpp. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X it into brown sugar by related companies. This research was conducted using a comparative study method, comparing the R/C variable in two different samples. The data collected is on production financing and revenue from sugar cane farming in Brebah. Sleman. Yogyakarta, and in Bantur. Malang. East Java. The research results obtained are: income when sugarcane is processed into white sugar in PG. Madukismo has R/C value 1. 56 and B/C 0,57, processed in PG. Krebet Baru has R/C value 1. 98 and B/C 0,99, if processed into brown sugar at PT. Tlogo Kelang has R/C value 2. 12 and B/C 1,12. However, differences in R/C and B/C values for PG are also influenced by profit sharing patterns, yields, and are also caused by differences in productivity between regions. This is an open-access article under the CCAeBY-SA license. Pendahuluan Salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran strategis adalah tebu, karena tebu merupakan bahan baku pembuatan gula pasir. Selain gula putih, nira tebu juga diolah menjadi gula merah dan gula semut. Gula semut merupakan produk olahan nira tebu yang diproduksi dalam bentuk gula kristal berwarna kecoklatan dengan tekstur butiran menyerupai sarang Perkembangan sentra-sentra produksi gula merah dan gula semut tebu sangat positif dilihat dari segi pemanfaatan bahan baku tebu yang biasanya karena adanya kelebihan produksi tebu yang tidak terserap oleh pabrik gula besar yang memproduksi gula putih. Gula merah tebu, sebagian besar diserap oleh industri kecap . Perbedaan proses pembuatan gula merah dengan gula semut adalah pada proses Jika cairan pekat ditaruh wadah pencetak akan terbentuk gula merah, namun jika cairan pekat ini dimasukkan ke dalam alat sentrifugal akan dihasilkan kristal gula semut. Bentuk gula semut yang serbuk menyebabkan mudah larut sehingga praktis dalam penyajian, mudah dikemas dan dibawa, serta daya simpan yang lama karena memiliki kadar air yang Kemudahan pengemasan serta daya simpan yang lama akan menunjang proses pemasaran ke luar negeri. Oleh karena itu perubahan bentuk gula kelapa dari cetak menjadi butiran . ula semu. diharapkan dapat memenuhi keinginan pasar. Pada umumnya gula semut dibuat menggunakan bahan baku nira kelapa. Permasalahan yang timbul dari penggunaan bahan baku tersebut adalah sifat nira kelapa yang mudah rusak akibat terkontaminasi mikroorganisme, dan keterbatasan untuk mendapatkan bahan baku pengolahan skala industri dikarenakan lokasi penanaman kelapa yang menyebar. Pada tahun 2021, produksi gula nasional sebesar 2,35 juta ton yang terdiri dari produksi pabrik gula BUMN sebesar 1,06 juta ton dan pabrik gula swasta sebesar 1,29 juta ton. Sementara itu, kebutuhan gula tahun 2022 mencapai sekitar 6,48 juta ton, terdiri dari 3,21 juta ton GKP dan 3,27 juta ton GKR. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, mengatakan, masih terdapat gap kebutuhan gula sekitar 850 ribu ton untuk gula konsumsi dan 3,27 juta ton untuk gula rafinasi. Lonjakan kebutuhan tersebut disebabkan oleh peningkatan konsumsi rumah tangga . Hal ini membuka peluang untuk pengembangan sentra industri gula semut berbahan baku tebu, bukan hanya dikarenakan tebu yang tidak terserap sebagai bahan baku pabrik gula putih (PG), tetapi juga mengambil peluang mengisi kebutuhan gula nasional. Gula putih yang diproduksi dari tebu dan bit, sekarang mulai tidak disukai oleh masyarakat menengah ke atas, karena alasan kesehatan. Gula putih dianggap mengandung banyak bahan kimia, yang terikut pada waktu proses pembuatannya. Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Pilihan petani tebu mandiri untuk menjual tebu, tentunya didasarkan keuntungan usaha yang dilakukan apakah akan dijual kepada pabrik gula kristal putih atau pada industri terkait untuk diolah menjadi gula semut. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai keuntungan relatif bagi petani bila mengolah hasil tebunya untuk diolah menjadi gula kristal putih diolah pabrik gula dan bila diolah menjadi gula semut oleh industri terkait. Tolok ukur yang digunakan untuk membandingkan adalah: Revenue Cost Ratio (R/C), adalah perbandingan antara total penerimaan (R) dan total biaya (C), ratio yang dapat digunakan untuk melihat keuntungan relatif yang akan didapatkan dalam sebuah usaha dan Benefit Cost Ratio (B/C), adalah perbandingan total pendapatan (B) dan total biaya (C). Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode studi komparatif yang dilakukan di Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta dan di Kabupaten Malang. Jawa Timur pada bulan Maret hingga Juni 2023, yaitu membandingkan sampel data yang diperoleh dari petani mitra pada lokasi dan hasil olah yang berbeda. Dipilihnya kedua lokasi untuk membandingkan nilai R/C dan B/C bila tebu diolah menjadi gula putih berdasarkan status kepemilikan yang merupakan PG swasta yang mayoritas menerima tebu dari mitra, sementara dipilihnya PT Tlogo Kelang karena berdekatan dengan PG Swasta di Kabupaten Malang yang dibandingkan, sementara pabrik pengolahan gula semut berbahan baku tebu di Sleman belum ada. Teknik pengambilan sampel di kedua lokasi yang dipelajari dilakukan dengan metode purposive sampling, menurut Sugiyono . purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan perhitungan tertentu. Sampel diambil dari 32 anggota kelompok tani mitra masing-masing PG, dan petani mitra yang menjual putus tebunya kepada pengolah gula semut. Analisis dilakukan dari data sekunder . iperoleh dari data kelompok tani mitr. , yang dibandingkan yaitu: biaya yang dikeluarkan untuk usaha menanam tebu dengan penerimaan hasil usaha tebu di Kecamatan Berbah Kabupaten Sleman Yogyakarta dan Kecamatan Bantur Kabupaten Malang Jawa Timur. Biaya usaha terdiri dari biaya tetap . ewa laha. dan biaya variabel . enaga kerja, pupuk , dan biaya tebang muat angku. , sedangkan penerimaan terdiri dari: penerimaan dari gula lelang, gula natura, dan tetes tebu . iolah di pabrik gula kristal puti. dan harga jual putus . etani menjual tebu kepada mitr. Data yang diperoleh dari para petani mitra diolah menggunakan rumus penerimaan, pendapatan. R/C rasio dan B/C rasio. Analisis Pendapatan Analisis pendapatan dilakukan terhadap biaya kegiatan produksi dari awal penanaman hingga pemanenan yang dilakukan dalam 10-12 bulan. Analisis pendapatan digunakan untuk mengetahui nilai pendapatan yang diperoleh menurut Suratiyah . , yaitu: Perhitungan penerimaan sebagai berikut : ycU = ycEycU. ycEyc a. Dimana: Y = Penerimaan usaha QY = Produk yang dihasilkan Py = harga jual produk yang dihasilkan Perhitungan pengeluaran sebagai berikut: ycNya = yaAycN yaAycO a. Dimana: TC = Total biaya Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X BT = Biaya Tetap BV = Biaya variabel/biaya tidak tetap Perhitungan pendapatan adalah sebagai berikut: yuU = ycU Oe ycNya a. Dimana: A = Pendapatan Y = Penerimaan usaha TC = Total biaya Analisis R/C Ratio dan Analisis B/C Ratio Analisa ini digunakan untuk melihat keuntungan dan kelayakan dari usahatani, secara sistematis R/C rasio dan B/C rasio dapat dirumuskan sebagai berikut: ycIAEya ycIycaycycnycu = ycNycuycycayco ycEyceycuyceycycnycoycaycaycu ycOycycaEaycaycycaycuycn a. ycNycuycycayco yaAycnycaycyca ycOycycaEaycaycycaycuycn Dengan kriteria : R/C > 1, usahatani layak diusahakan R/C < 1, usahatani tidak layak diusahakan R/C = 1, usahatani dikatakan impas yaEya ycIycaycycnycu = ycNycuycycayco ycEyceycuyccycaycyycaycycaycu ycOycycaEaycaycycaycuycn a. ycNycuycycayco yaAycnycaycyca ycOycycaEaycaycycaycuycn Dengan kriteria : B/C > 1, usahatani layak diusahakan B/C < 1, usahatani tidak layak diusahakan B/C = 1, usahatani dikatakan impas Hasil dan Pembahasan Pola Kemitraan Proses produksi gula di PG. Madukismo. PG. Krebet dan PT. Tlogo Kelang sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku tebu. Permasalahan yang sering dihadapi oleh Pabrik Gula adalah sinkronisasi kapasitas giling mesin dengan jumlah tebu yang akan digiling. Pemanenan tebu hanya dilakukan pada musim kemarau, yaitu bulan Juni AeSeptember, karena pada bulanbulan ini rendemen tebu mencapai tingkat maksimal. Kecukupan bahan baku tebu, selain dipenuhi dari lahan milik perusahaan, juga berasal dari tebu rakyat melalui pola kemitraan. Tingkat rendemen ini akan menjadi penentu harga tebu, sementara rendemen ditentukan oleh PG. Pola kemitraan gula putih penentuan rendemen dilakukan ketika awal musim giling, sedangkan pada pabrik pengolahan gula merah/semut, penentuan rendemen dilakukan dengan mengecek rendemen per hari diserahkannya tebu kepada pabrik. Fluktuasi penerimaan petani mitra salah satunya dipengaruhi oleh harga gula, meskipun demikian, petani mitra masih diuntungkan dengan adanya sistem kemitraan, yaitu adanya jaminan pemasaran hasil gulanya. Berapapun jumlah panen tebu petani mitra pasti akan diterima oleh PG, sedangkan petani non mitra hanya bisa menyetorkan hasil panen mereka ke PG, apabila PG masih kekurangan bahan baku dan kapasitas giling mesin masih memenuhi. Selain jaminan pemasaran hasil panen, petani mitra juga memperoleh tetes tebu, yaitu hasil samping dari proses giling tebu. Setiap satu kuintal tebu yang disetorkan akan memperoleh Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X A1,5 kg tetes tebu, selain itu 10% gula yang tidak di lelang akan diberikan kepada petani dalam bentuk GKP (Gula Kristal Puti. untuk dikonsumsi maupun dijual sendiri. Harga yang dibayarkan PG kepada petani bergantung pada harga gula lelang dan harga tetes yang yang ditentukan PG. Pabrik Gula (PG) Madukismo. PG. Krebet merupakan perusahaan yang menerapkan sistem kemitraan dengan petani dengan produk akhir gula pasir dan gula semut pada PT. Tlogo Kelang. Kemitraan yang diterapkan adalah sistem bagi hasil antara PG dengan petani. Dalam perhitungan bagi hasil rendemen antara petani dengan PG, biasanya terdapat ketentuanketentuan yang telah disepakati oleh kedua pihak dengan batasan yang sudah diatur oleh Berikut disajikan sistem bagi hasil rendemen berjenjang dengan asumsi rendemen batas bawah adalah 6%, dan rendemen batas atas adalah 8%. ycIyceycuyccyceycoyceycu yaAycayciycn yaycaycycnyco = . cI Oe ycIyaAycaycycayc yaAycaycycaE. y yaAycayciycn yaycaycycnyco yaycaycyceyciycuycyc. cI Oe ycIyaAycaycycayc yaycycay. y yaAycayciycn yaycaycycnyco yaycaycyceyciycuycyc. Keterangan: Rendemen <6% maka petani mendapatkan bagi hasil 66% Rendemen 6 - 8% bagi hasil 70% atas kelebihan rendemen di atas 6 Ae 8% Rendemen > 8% bagi hasil 75% atas kelebihan rendemen diatas 8% Misalnya rendemen <6%, petani memperoleh 66% dari total harga dan 34% PG sebagai upah giling. Sistem kemitraan antara petani tebu dengan PG. Madukismo ini memberikan manfaat untuk kedua belah pihak, yaitu PG mendapatkan pasokan tebu dan petani mendapatkan kepastian penjualan tebu. Penentuan bagi hasil gula milik petani dengan PG didasari dari hasil rendemen tebu petani. Sistem bagi hasil ini digunakan untuk menghitung SHU (Sisa Hasil Usah. Setelah dilakukan bagi hasil antara petani dengan PG Gempolkrep, gula pasir sisa bagi hasil adalah milik petani sepenuhnya. Gula SHS (Superium Hoofd Suike. hasil dari tebu milik petani akan dibagi dengan proporsi 10% dan 90% per petani, 10% gula SHS akan diberikan ke petani berupa gula natura, sedangkan 90% gula SHS akan dijual di pelelangan gula . Hubungan yang biasa disebut sebagai patron-klien ini, dilakukan dengan membangun sebuah hubungan yang menguntungkan antara petani tebu dengan Pabrik Gula yang disebut dengan kemitraan. Dari sisi petani tebu, mereka berharap selalu mendapat jaminan hasil pengelolaan atau produksi tanaman tebu, baik secara ekonomi maupun sosial. Pabrik Gula berharap agar hasil dari tanaman tebunya dikirimkan dan digilingkan kepada mereka sebagai bahan baku penggilingan gula dan berharap petani tebu setia untuk menjual tanaman tebunya kepada pabrik gula . Biaya Usaha Tani Biaya usaha tani mencakup keseluruhan biaya usaha tani yang dikeluarkan oleh petani untuk satu kali proses produksi budidaya tebu. Komponen biaya usaha tani tebu meliputi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya tetap adalah komponen biaya yang tidak dipengaruhi oleh besar kecilnya jumlah produksi . alah satunya sewa laha. Sementara komponen biaya variabel jumlahnya tergantung dari aktivitas dan jumlah output produksi, antara lain bahan, tenaga kerja dan tebang muat angkut (TMA) . Berikut tabel biaya usaha tebu rata-rata petani mitra responden di Kabupaten Sleman (Tabel . dan petani responden di Kabupeten Malang (Tabel . Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Tabel 1. Biaya Usaha tani Tebu Petani Mitra Kab. Sleman/Ha No. Jenis dan Komponen Biaya Biaya Tetap Jumlah Sewa Lahan Rp. Biaya Variabel Rp. Biaya tenaga kerja Rp. Biaya Pupuk ZA . Rp. Sp-36 . Rp. Rp. KCl . ,5K. Biaya Tebang Muat Angkut Biaya Total Sumber: data primer 2023 Rp. Rp. Tabel 2. Biaya Usaha tani Tebu Petani Mitra Kabupaten Malang/Ha No. Jenis dan Komponen Biaya Biaya Tetap Jumlah Sewa Lahan Rp. Biaya Variabel Rp. Biaya tenaga kerja Rp. Biaya Pupuk ZA . Rp. Phonska . Rp. Biaya Tebang Muat Angkut Rp. Biaya Total Rp. Sumber: data primer 2023 Biaya usaha tani tebu rata-rata sebesar Rp. 000,00 untuk wilayah Kabupaten Sleman dan Rp. 000,00 untuk wilayah Kabupaten Malang. Biaya Tebang Muat Angkut (TMA) menjadi biaya yang paling besar, selain itu biaya pengeluaran terbesar kedua ada pada biaya sewa lahan. Responden terdiri 75% berstatus sebagai penyewa sedangkan petani pemilik penggarap 25%. Responden berasal dari anggota koperasi usaha tani tebu di masingmasing daerah dengan jumlah sebanyak 32 petani. Besarnya sewa lahan antar responden bervariasi . etak lahan, tingkat kesuburan tanah, dan ketersediaan akses jala. Biaya sewa lahan Rp. 000/tahun atau Rp. 000/tahun . iaya sewa dibayarkan oleh petan. merupakan lahan dengan akses jalan yang baik, dekat dengan sumber air, dan tingkat kesesuaian lahan yang baik. Petani menyewa lahan dengan jangka waktu satu tahun dan dapat diperpanjang untuk tahun berikutnya. Biaya tenaga kerja, biaya pupuk , dan biaya angkut merupakan komponen biaya variabel. Pada biaya variabel ini tidak terdapat komponen biaya bibit, hal ini dikarenakan responden petani yang diamati adalah petani tebu yang membudidayakan tebu dengan sistem kepras/Ratoon Cane. Tebu dipanen dengan memotong . 5-15 cm dari permukaan Pada usahatani Plant Cane, per Ha lahan memerlukan bibit tebu sebanyak /- 8 Ton dengan harga per kuintalnya Rp. Tanaman keprasan sampai pada kondisi ratoon tertentu masih sangat menguntungkan jika dibanding tanaman pertamanya. Hal tersebut Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X karena pada budidaya tanaman keprasan tidak dilakukan pembelian bibit dan pengolahan Pada umumnya tanaman tebu dapat dikepras sampai tiga kali, namun banyak petani yang memelihara tebu lebih dari keprasan ketiga dan bahkan dibeberapa tempat terdapat pengeprasan tebu hingga lebih dari 10 kali . Rata-rata kelayakan usahatani tebu keprasan ke-3 di Desa Munung Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk dengan nilai R/C rasio 2,9, nilai B/C rasio 1,9 menunjukkan bahwa kondisi usahatani tebu keprasan ke-3 di Desa Munung Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk mendapatkan untung dan dikatakan layak untuk dijalankan serta memiliki prospek yang bagus untuk kedepannya . Seluruh pekerjaan budidaya yang meliputi: pengolahan lahan, tanam, pemeliharaan, dan panen seluruhnya menggunakan tenaga kerja luar keluarga dengan sistem Borongan . eralatan kerja dibawa oleh tenaga kerj. Jumlah pupuk yang digunakan sesuai dosis yang tepat . osis yang ditentukan koperasi setempa. dengan tujuan untuk meningkatkan hasil rendemen tebu. Komponen biaya angkut adalah biaya yang dikeluarkan untuk transportasi dari lahan sampai ke pabrik, pengangkutan pada umumnya menggunakan truk dan besar kecilnya biaya angkut tergantung dari banyaknya hasil panen. Penerimaan Usaha Tani Pada usaha tani tebu petani mitra PG. penerimaan petani diperoleh dari hasil penjualan gula dan tetes tebu dan selain itu 10% dari sisa gula lelang akan diberikan kepada petani dalam bentuk gula. Untuk gula semut hanya menggunakan 1 jenis bagi hasil yaitu dengan cara mengalikan rendemen dengan harga gula. Hasil penjualan tebu ditentukan oleh tingkat rendemen dan harga gula saat itu. Pada saat harga gula tinggi dan rendemen tebu juga tinggi akan menguntungkan bagi petani tebu. Berikut adalah komponen penerimaan usahatani tebu pada luasan 1 hektar, rendemen yang tercatat pada nota adalah 6, maka sistem bagi hasil memakai sistem 66% untuk petani dan 33% sebagai upah giling pabrik. Berikut merupakan hasil nota bagi hasil petani di PG di DIY (Tabel . Tabel 3. Penerimaan Gula Kristal Putih PG. Madukismo 1 Ha Komponen Penerimaan Produksi Gula Harga Jumlah Gula Lelang 3682 kg Rp. 450/kg Rp. Tetes Tebu 2748 kg Rp. 000/Kg Rp. Gula Natura 408 kg Rp. 000/Kg Rp. Penerimaan Total Rp. Sumber: Data sekunder 2023 Nota bagi hasil petani di PG Malang (Tabel . Tabel 4. Penerimaan Gula Kristal Putih PG. Krebet 1 Ha Komponen Penerimaan Produksi Gula Harga Jumlah Gula Lelang Rp. 200/kg Rp. Tetes Tebu 1044 kg Rp. 000/kg Rp. Gula Natura 532 kg Rp. 000/kg Rp. Penerimaan kotor Rp. Piutang Petani Rp. Penerimaan Total Rp. Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Sumber: Data sekunder 2023 Penerimaan harga gula lelang bervariasi berdasarkan harga lelang pada masing-masing PG, sama halnya dengan harga tetes tebu terdapat variasi dari kedua PG yang diamati. Petani mitra akan memperoleh 3 kg tetes tebu untuk setiap 1 ku tebu yang disetorkan ke pabrik, dan pada umumnya petani mitra menjual kembali tetes tebu tersebut ke PG. Akan tetapi terdapat juga petani yang mengambil sebagian dari hasil perolehan tetes tebu untuk digunakan sebagai pakan ternak. Penerimaan total per hektar juga dipengaruhi oleh produktivitas tebu, dari kedua lokasi yang diamati terdapat variasi produktivitas tebu, yaitu rata-rata petani di Sleman 916 Ku dan di Kabupaten Malang 1. 044 Ku. Penentuan rendemen juga berbeda. PG di Yogyakarta diperoleh dari rata-rata tebu yang diolah . ,74%), sementara PG di Malang dari rata-rata rendemen PG . %) Produk lain dari nira tebu adalah gula merah dan gula semut. Gula semut atau yang familiar disebut sebagai AuPalm SugarAy karena mayoritas terbuat dari nira aren dan kelapa, namun seiring berkembangnya kebutuhan dan diversifikasi produk tebu, gula merah dan gula semut diproduksi dari bahan baku nira tebu. Gula semut berbahan dasar dasar nira tebu banyak digunakan sebagai bahan pembuatan kecap. Salah satu produsen gula semut adalah PT Tlogo Kelang, yang berlokasi di Bulupayung. Krebet. Kecamatan Bululawang. Kabupaten Malang Jawa Timur. Petani sebagai mitra pemasok tebu di PT Tlogo Kelang ditetapkan pembelian tebunya dengan mengalikan jaminan harga gula yang ditetapkan perusahaan dengan rendemen tebu ditambah Rp 1. 000, dikalikan dengan bobot tebu dalam satuan kuintal. Tabel 5, menunjukkan perhitungan pendapatan petani mitra PT Tlogo Kelang. Tabel 5. Penerimaan Gula Semut/Ku/1Ha No. Jaminan Harga Gula Rendemen ( )Rp 1000 Biaya Operasional Rp. 8,25 1Ha menghasilkan A1044Ku tebu, maka: Rp. 000 Rp. Total Pendapatan Sumber: Data sekunder 2023 Pendapatan/Ku Rp. Rp. 000 X 1044ku Rp. Dalam bermitra, bagi hasil PT. Tlogo Kelang belum ditentukan harga tetap untuk jaminan harga gula, harga bisa sewaktu waktu naik dan turun, hal ini disebabkan karena PT. Tlogo Kelang merupakan perusahaan baru yang mulai beroperasi sejak Mei 2022, maka untuk perhitungan pembagian hasil belum memiliki ketetapan. Harga gula ditentukan oleh rendemen dan pengecekan rendemen dilakukan setiap hari. Biaya operasional merupakan keuntungan tambahan yang diberikan kepada petani yang melakukan tebang, muat, dan angkut sendiri, keuntungan ini tidak diberikan jika kegiatan tebang muat angkut dilakukan oleh pihak PT. Tlogo Kelang. Analisis Pendapatan Pendapatan usaha tani tebu diperoleh dari selisih antara penerimaan total dengan biaya Tabel 6,7 dan 8 menyajikan analisis pendapatan untuk masing-masing usaha Tabel 6. Pendapatan Usaha tani Tebu Petani Mitra PG. Madukismo No. Keterangan Jumlah Penerimaan Rp. Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Sumber: Data sekunder 2023 diolah Tabel 6. Lanjutan No. Keterangan Jumlah Biaya Total Rp. Pendapatan Sumber: Data sekunder 2023 diolah Rp. Tabel 7. Pendapatan Usaha tani Tebu Petani Mitra PG. Krebet No. Keterangan Jumlah Penerimaan Rp. Biaya Total Rp. Pendapatan Sumber: Data sekunder 2023 diolah Rp. Pendapatan usahatani tebu diolah menjadi gula putih, sebesar Rp. 900/musim tanam untuk PG. Madukismo dan Rp. 224/musim tanam untuk PG. Krebet. Tabel 8. Pendapatan Usaha tani Tebu Petani Mitra PT. Tlogo Kelang No. Keterangan Jumlah Penerimaan Biaya Total Rp. Rp. Pendapatan Sumber: Data sekunder 2023 diolah Rp. Pendapatan usaha tani tebu diolah menjadi gula semut di PT Tlogo Kelang Rp 000/musim tanam. Analisis Usahatani Berikut (Tabel 9, 10, dan . merupakan hasil perhitungan Analisis usaha tani dalam R/C rasio dan B/C rasio dari ketiga usaha di atas: Tabel 9. Kelayakan usaha tani Tebu Petani PG. Madukismo No. Keterangan Nilai Penerimaan (R. Rp. Biaya (R. Rp. Pendapatan (R. Rp. R/C Rasio 1,56 B/C Rasio Sumber: Data sekunder 2023 diolah 0,57 Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X Tabel 10. Kelayakan usahatani Tebu Petani PG. Krebet No. Keterangan Nilai Penerimaan (R. Rp. Biaya (R. Rp. Pendapatan Rp. R/C Rasio 1,98 B/C Rasio Sumber: Data sekunder diolah 0,99 Tabel 11. Kelayakan usaha tani Tebu Petani PT. Tlogo Kelang No. Keterangan Nilai Penerimaan (R. Rp. Biaya (R. Rp. Pendapatan Rp. R/C Ratio 2,12 B/C Rasio Sumber: Data sekunder diolah 1,12 Makin besar nilai R/C ratio usahatani itu makin besar keuntungan yang diperoleh dari usaha tersebut, analisis lain yang dapat digunakan untuk menghitung kelayakan usahatani adalah analisis B/C Ratio. Menurut Septiadi et al. , analisis benefit-cost ratio (B/C) ini pada prinsipnya sama dengan analisis R/C . evenue-cost rati. , hanya saja pada analisis B/C ratio ini data yang diperhitungkan adalah besarnya manfaat. Dari hasil kajian terhadap analisis R/C petani mitra 1,56, artinya setiap 1 rupiah biaya yang dikeluarkan akan mendapatkan penerimaan sebanyak 1,56 rupiah. Sedangkan analisis B/C petani mitra 0,57, artinya setiap 1 rupiah yang akan dikeluarkan akan mendapatkan keuntungan 0,57 rupiah, bila dibandingkan dengan bunga bank pada tahun 2023 sebesar 6%, maka usaha dapat dikatakan belum menguntungkan. Nilai B/C dikatakan menguntungkan bila lebih tinggi dibandingkan bunga bank tahun tersebut. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Faktor lain yang yang mempengaruhi pendapatan petani mitra adalah produktivitas usaha tebu, antara lain: genetis (G), lingkungan tumbuh (E) dan pengelolaan tanaman (M), yang dapat mempengaruhi rendemen gula. Faktor genetis dan pengelolaan tanaman pada kedua tempat yang diamati relatif sama, karena varietas yang digunakan sama, yaitu Bululawang, demikian pula dalam pengelolaan tanaman, karena sebagai mitra PG standar-standar budidaya dilakukan secara baik . emupukan, pengendalian gulma, klenthek. TMA). Apabila ditinjau dari produksi gula, terdapat perbedaan antara petani di Sleman dan Kabupaten Malang, dari kondisi ekologis/lingkungan tempat melakukan usaha tebu. Kelas lahan di Kabupaten Malang menurut penelitian Imaduddin . menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat kesesuaian lahan untuk tanaman tebu di Kabupaten Malang sangat sesuai sebesar 13,22% atau 29. 508,334 Ha, sesuai 52,64% atau 117. 477,3900 Ha, sesuai marginal 34,11% atau 76. 126,342 Ha dan tidak sesuai 0,001 % atau 26,704 Ha dari luas Kabupaten Malang. Sedangkan wilayah DIY berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Kusumawati & Putratama . menunjukkan bahwa kesesuaian lahan aktual pada ketiga satuan peta lahan tanaman tebu adalah sesuai marginal (S3. a,n. ) dengan faktor pembatas meliputi drainase . dan ketersediaan hara . Apabila dilakukan perbaikan Galuh Banowati et al. (Analisis perbandingan pendapatan usaha tebu. Jurnal Pengelolaan Perkebunan Vol. No. Oktober 2024, pp. ISSN 2549-144X faktor pembatas, kelas kesesuaian lahan potensialnya dapat naik satu tingkat menjadi kelas kesesuaian lahan sesuai (S2. a,n. Perbaikan faktor pembatas dapat dilakukan dengan melakukan pembajakan tanah, pemberian bahan organik dan penambahan dosis pupuk berunsur hara P dan K. Simpulan Pendapatan petani mitra apabila tebu diolah menjadi gula putih di PG. Madukismo memiliki nilai R/C 1,56 dan B/C 0,57, diolah di PG. Krebet Baru memiliki nilai R/C 1,98 dan B/C 0,99, diolah menjadi gula semut di PT. Tlogo Kelang memiliki nilai R/C 2,12 dan B/C 1,12. Perbedaan nilai R/C dan B/C untuk PG juga dipengaruhi oleh pola bagi hasilnya, rendemen. Hasil studi menunjukkan terdapat perbedaan produktivitas petani mitra pada kedua daerah yang diamati yang disebabkan perbedaan kesesuaian lahan untuk budidaya tebu. Daftar Pustaka