Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Violations of Language Politeness Principles in the 2012 Film AuBekasAy: A Pragmatic Study Fadli Dermawan1. Harun Al Rahsyid Nasution2. Muhammad Fachriza 3 Universitas Sumatera Utara fadlidermawan@student. id, harunalrahsyid@students. muhammadfachriza@student. 1,2,3 Informasi Artikel Riwayat Submisi: Maret 2026 Direvisi: 28 April Diterima: 30 April Disetujui: 06 Mei Kata Kunci Kesantunan Maksim. Film Bekas 2012. Pragmatik. Keywords Politeness in Language. Maxim. Film Bekas 2012. Pragmatics. ABSTRACT Politeness in language is a crucial aspect of maintaining harmony in social interactions, yet in practice it is often violated, particularly in conflict situations. This study aims to describe the forms of violations of politeness principles in the film *Bekas* . by Karzan Kader based on Geoffrey LeechAos theory. The method used is qualitative descriptive with documentation techniques through repeated viewings, dialogue recording, and discourse context analysis. The results show that the most dominant violations occur in the maxims of respect and sympathy, characterized by the use of insults, derogatory remarks, and Violations were also found in the maxims of politeness, modesty, and agreement to a limited extent. These findings indicate that violations of politeness are influenced by social pressure, the psychological state of the characters, and conflict situations, thereby underscoring the importance of linguistic politeness in maintaining the quality of social interaction. Abstrak Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam menjaga keharmonisan interaksi sosial, namun dalam praktiknya sering mengalami pelanggaran, khususnya dalam situasi konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas . karya Karzan Kader berdasarkan teori Geoffrey Leech. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik dokumentasi melalui penayangan berulang, pencatatan dialog, dan analisis konteks tuturan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelanggaran paling dominan terjadi pada maksim penghargaan dan kesimpatian, yang ditandai oleh penggunaan ujaran berupa cacian, hinaan, dan ancaman. Pelanggaran juga ditemukan pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan dalam jumlah terbatas. Temuan ini menunjukkan bahwa pelanggaran kesantunan dipengaruhi oleh tekanan sosial, kondisi psikologis tokoh, serta situasi konflik, sehingga menegaskan pentingnya kesantunan berbahasa dalam menjaga kualitas interaksi sosial. Copyright A 2026 Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza Pendahuluan Manusia sebagai makhuk sosial, yang saling berinteraksi satu dengan yang Dalam bersosial, pasti terjadi kontak komunikasi antar sesama tanpa memandang siapa yang berbicara dan kepada siapa ia berbicara, pada saat ketika berkomunikasi terdapat fenomena tindak tutur. (Rahardi, 2. Tindak tutur merupakan segala bentuk ucapan yang bukan hanya rangkaian kata. Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 tetapi juga bagian dari peristiwa tuturan berdasarkan keadaan. Hendaknya dalam bertindak tutur para peserta tutur diharapkan agar saling menjaga etika Dalam kajian pragmatik, etika bertutur disebut dengan prinsip (Mudiono, 2. Sejalan dengan pendapat dari (Rangkuti & Zulfan, 2. Bahwa kesantunan berbahasa merupakan tingkah laku yang ditunjukkan dengan cara yang baik, terbentuk oleh suatu budaya. Artinya, sesuatu yang dianggap santun oleh satu budaya, belum tentu demikian pada budaya yang lain. Namun, kesantunan berbahasa sering sekali dilanggar ketika bertutur. Hal ini tergambar dalam film Bekas 2012, yang disutradarai oleh Karzan Kader. Film ini menceritakan kisah perjuangan dua orang anak yatim piatu, yaitu Zana dan Dana yang bertahan hidup dengan mimpi besar pergi ke Amerika untuk menjumpai Superman. Mereka meyakini bahwa Superman dapat mengubah keadaan dan menghidupkan kembali kedua orang tua mereka. Dalam film Bekas, banyak terdapat tuturan dari tokoh didalam film tersebut yang tidak mengindahkan prinsip kesantunan. Menurut (Leech, 1. Seseorang dinyatakan tidak santun apabila melanggar prinsip kesantunan. Leech membagi prinsip kesantunan menjadi enam maksim diantaranya yaitu maksim Kebijaksanaan (Tact Maxi. , inti dari maksim kebijaksanaan dalam prinsip kesantunan adalah bahwa para penutur sebaiknya berusaha mengurangi keuntungan bagi dirinya sendiri dan memperbesar keuntungan bagi lawan tutur dalam proses komunikasi. Seseorang yang menerapkan maksim ini dianggap sebagai pribadi yang Dengan mematuhi maksim kebijaksanaan, penutur dapat menghindari sikap iri, dengki, atau perilaku lain yang tidak sopan terhadap lawan bicara. Selain itu, perasaan tersakiti akibat perlakuan yang merugikan orang lain dapat dikurangi jika maksim ini dijalankan dengan konsisten dalam interaksi Dengan kata lain, kesantunan dalam bertutur dapat tercapai apabila maksim kebijaksanaan diterapkan dengan baik. Maksim . enerosity Maxi. , kedermawanan atau kemurahan hati, para penutur diharapkan mampu menunjukkan rasa hormat kepada orang lain, sikap hormat ini muncul ketika seseorang berusaha mengurangi manfaat bagi dirinya sendiri dan memberikan keuntungan yang lebih besar kepada lawan tutur. Maksim penghargaan (Approbation Maxi. , inti dari maksim penghargaan dijelaskan bahwa Seseorang dapat dianggap santun apabila ia menunjukkan rasa hormat terhadap mitra tutur selama berkomunikasi. Maksim ini juga menekankan bahwa pentingnya menghindari tindakan seperti mengejek, mencaci, atau merendahkan orang lain. Penutur yang sering melakukan ejekan terhadap mitra tutur akan dipandang tidak santun karena perilaku tersebut menunjukkan kurangnya rasa Oleh sebab itu, sikap demikian perlu dihindari dalam interaksi sosial sehari-hari. Maksim kerendahan hati (Modesty Maxi. bertujuan untuk menekankan bahwa penutur sebaiknya tidak terlalu banyak memuji diri sendiri dan tetap bersikap rendah hati. Seseorang dianggap sombong apabila dalam percakapan Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 ia terus-menerus menonjolkan kelebihan dirinya, penutur yang santun adalah mereka yang tidak membanggakan diri secara berlebihan. Maksim permufakatan (Agreement Maxi. maksim permufakatan disebut juga dengan maksim kecocokan, dalam maksim ini para penutur dituntut untuk berusaha menciptakan keselarasan atau persesuaian dalam percakapan. Ketika penutur dan mitra tutur dapat menemukan kesepakatan atau keselarasan pandangan selama berkomunikasi, keduanya dianggap telah bertindak dengan Maksim kesimpatian (Sympathy Maxi. , di dalam maksim kesimpatisan, para penutur diharapkan menunjukkan rasa simpati kepada lawan tutur dalam setiap interaksi. Sikap tidak simpatik atau antipati terhadap orang lain dianggap sebagai perilaku yang tidak santun, seseorang yang bersikap dingin atau sinis kepada orang lain biasanya dipandang tidak memahami etika pergaulan dan kesimpatian terhadap lawan tutur. Penelitian mengenai prinsip kesantuan berbahasa yang terdapat didalam film bukan hanya pertama kali di teliti. Penelitian terdahulu yang relevan diantaranya ada, (Montela et al. , 2. Yang menganalisis tentang pelanggaran kesantunan berbahasa dalam film budi pekerti karya wregas bhanuteja, penelitian kedua yaitu, (Oktarina & Masbie, 2. Yang meneliti tentang kesantunan berbahasa dalam film jalan yang jauh, jangan lupa pulang, penelitian ketiga ada, (Hamida et al. , 2. Yang meneliti mengenai pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam tuturan pemain film pendek tilik tahun 2018, penelitian keempat yaitu (Asra & Sinaga, 2. Yang meneliti mengenai pematuhan kesantunan berbahasa dalam film ngeri-ngeri sedap, terakhir penelitian kelima ada, (Putri, 2. Yang menganalisis mengenai penyimpangan maksim kesantunan pada film kartun spongebob squarepants karya stephen hillenburg . ajian pragmati. Inilah beberapa penelitan terdahulu yang relevan namun demikian, kajian mengenai pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas . masih relatif terbatas, khususnya yang mengkaji secara komprehensif berdasarkan enam maksim kesantunan Leech serta mengaitkannya dengan konteks sosial dan psikologis tokoh. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki urgensi untuk mengisi kekosongan tersebut dengan menganalisis secara mendalam bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas . serta faktor-faktor yang melatarbelakanginya dalam perspektif pragmatik. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan, agar memberikan pemahaman mengenai pentingnya kesantunan dalam berbahasa dan dampaknya terhadap hubungan Metode Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan demikian peneliti dapat menelusuri dan memahami makna yang dimiliki oleh individu maupun kelompok, sehingga hasil penelitian tidak hanya relevan dengan persoalan sosial dan kemanusiaan, tetapi juga mampu dijelaskan secara lebih jelas melalui kerangka konsep ilmiah. (Moleong, n. Data yang diambil Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 berupa tuturan dalam film Bekas . , yang mengandung unsur pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa. Penelitian ini menggunakan teori kesantunan Geoffrey Leech. Sumber data diobservasi langsung oleh peneliti melalui subtitle yang ditayangkan melalui kanal Youtube. Dalam setiap kegiatan penelitian, diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat dan efisien, yaitu prosedur atau langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan sesuai dengan tujuan penelitian. (Zalim, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik dokumentasi, karena data yang dikaji berupa tuturan atau dialog dalam film Bekas . yang melanggar prinsip kesantunan. Teknik dokumentasi dilakukan dengan cara menelusuri, mencatat, dan mengklasifikasikan data yang relevan dari sumber utama, yaitu film tersebut. (Sudaryanto, 1. Dalam pelaksanaannya, peneliti menonton film Bekas . secara berulang-ulang untuk memahami konteks cerita, situasi sosial, serta latar terjadinya pelanggaran prinsip kesantunan. Setelah selanjutnya adalah analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif yang mengacu pada model analisis interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pada tahap reduksi data, peneliti menyeleksi dan memfokuskan data tuturan yang mengandung pelanggaran prinsip kesantunan. Selanjutnya, data disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi naratif untuk memudahkan proses pengelompokan berdasarkan jenis maksim yang dilanggar. Tahap akhir adalah penarikan kesimpulan dengan menginterpretasikan polapola pelanggaran yang ditemukan serta mengaitkannya dengan konteks sosial dan psikologis yang melatarbelakangi tuturan tersebut. Melalui teknik analisis ini, peneliti dapat memperoleh gambaran yang sistematis dan mendalam mengenai bentuk serta faktor penyebab pelanggaran prinsip kesantunan dalam film Bekas . Hasil dan Pembahasan Data. Konteks : Zana menjadi kiper dan membalas keyakinan berlebihan pada dirinya. Dialog : Dana : AuJangan kebobolan. Zana!Ay Zana : AuAku takkan kebobolanAy Analisis: Pada Data 1, pelanggaran terjadi pada maksim kesederhanaan. Tuturan Zana Auaku takkan kebobolanAy menunjukkan sikap membanggakan diri secara berlebihan dan mengekspresikan kemampuan seolah-olah ia pasti berhasil. Hal ini melanggar prinsip kesantunan karena maksim kesederhanaan menuntut penutur untuk merendahkan diri, tidak meninggikan diri secara eksplisit, dan menghindari klaim kemampuan yang Oleh karena itu, tuturan Zana menjadi bentuk ketidaksantunan dalam prinsip kesederhanaan Leech. Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Data. Konteks : Zana menahan bola, tetapi tidak memegangnya, sehingga bola ditendang lagi oleh pemain lain. Dialog : Dana : AuKau bodoh! Kenapa tidak memegang bolanya?Ay Zana : AuBukan aku, dia yang bodoh!Ay Analisis: Pada Data 2, jelas melanggar maksim penghargaan karena kedua penutur menggunakan bentuk cercaan dan penghinaan. Dana menyebut Zana AubodohAy sementara Zana membalas dengan menyebut pemain lain Audia yang bodoh. Ay Tuturan yang merendahkan atau mencaci tidak menunjukkan rasa hormat kepada mitra tutur, sehingga bertentangan dengan maksim penghargaan yang menuntut penutur untuk menghindari penghinaan dan menunjukkan apresiasi terhadap pihak lain. Baik Dana maupun Zana menunjukkan ketidaksantunan verbal melalui ujaran yang merendahkan. Data. Konteks : Anak-anak berlarian dan melompati mobil warga tersebut Dialog : Warga: AuApa yang kalian lakukan? Kalian gila! Anak sialan! Kalian melompati mobilku!Ay Analisis: Pada Data 3, terjadi pelanggaran maksim penghargaan. Warga tersebut menggunakan kata-kata yang mencaci seperti AugilaAy dan Auanak sialan,Ay yang jelas menunjukkan bentuk tidak menghargai dan merendahkan lawan tutur. Meskipun warga merasa dirugikan, penggunaan ungkapan menghinakan tetap melanggar prinsip kesantunan. Maksim penghargaan mengharuskan penutur memberikan penghargaan kepada mitra tutur, bukan merendahkan martabatnya melalui ujaran ofensif. Data. Konteks : Dana menjelaskan alasan mereka tidak bisa pergi ke Amerika Konteks : Zana : AuKau bilang kita akan pergi ke sanaAy Dana : AuKita tidak bisa pergi begitu sajaAy Zana : AuMengapa? Tidak ada siapa pun disanaAy Dana : Aukita tidak punya paspor, bodoh!Ay Analisis: Pada Data 4, memperlihatkan pelanggaran maksim penghargaan melalui tuturan Dana yang menyebut Zana Aubodoh. Ay Bentuk penghinaan ini menunjukkan ketidakhormatan terhadap mitra tutur. Dalam maksim Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 penghargaan, penutur diharuskan meminimalkan kecaman terhadap orang lain dan memaksimalkan pujian. Dengan memberikan penilaian negatif secara langsung. Dana mengabaikan prinsip kesantunan dan menampilkan ketidaksantunan verbal yang eksplisit. Data. Konteks : Dana bertanya soal biaya pembuatan paspor Dialog : Dana: AuAku akan pergi dengan saudaraku ke Amerika. Ay Warga: AuItu sekitar 7000 sampai 8000 dinar. Pergi dari sini sekarang! Jangan kembali Ay Analisis: Pelanggaran dalam Data 5, terdapat pada maksim kesimpatian dan maksim Warga tersebut menunjukkan sikap tidak simpatik dan tidak menghargai Dana melalui ujaran AuPergi dari sini sekarang! Jangan kembali lagi. Ay Tuturan ini menolak keberadaan mitra tutur secara kasar dan tidak menunjukkan empati. Selain itu, larangan untuk kembali mencerminkan tekanan sosial yang menyinggung perasaan lawan tutur. Dengan demikian, terjadi pelanggaran ganda penghargaan dan kesimpatian. Data. Konteks : Zana terlalu banyak berdoa, sehingga Dana menyindirnya agar sekalian meminta hal penting . Dialog : Dana: AuMintalah sebanyak yang kau inginkan, setidaknya sepasang paspor. Ay Zana: AuOh Tuhan, maafkan kakakku, hari ini dia seperti keledai. Ay Analisis: Pada Data 6, mengandung pelanggaran maksim penghargaan melalui tuturan Zana yang menyebut kakaknya sebagai Aukeledai. Ay Bentuk ini merupakan penghinaan yang jelas merendahkan mitra tutur. Pelanggaran dilakukan oleh Zana karena penggunaan kata yang merendahkan sehingga meniadakan rasa hormat pada mitra tutur. Data. Konteks : Baba Shalid mencium bau baju Zana yang tidak sedap. Dialog : Baba Shalid: AuKau harus mencuci bajumu. Zana. Jangan melepasnya di sini, baunya membutakan aku. Ay Analisis: Pada Data 7, melanggar maksim penghargaan. Ujaran Aubaunya membutakan akuAy merupakan bentuk ejekan yang merendahkan Zana. Meskipun Baba Shalid Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 menegur kebersihan, ia melakukannya dengan cara mengejek dan melebihlebihkan bau tersebut, sehingga tidak menunjukkan penghargaan terhadap lawan tutur. Pelanggaran terjadi karena penutur memaksimalkan kecaman dan meminimalkan penghargaan. Data. Konteks : Setelah Helliya mengecup Dana, ia mengancam agar Dana tidak menceritakannya. Dialog : Helliya: AuJika kau bilang-bilang, aku akan membunuhmu. Ay Dana: AuAku janji aku takkan bilang-bilang, pegang janjiku. Ay Analisis: Pada Data 8, melanggar maksim kesimpatian dan maksim kebijaksanaan. Tuturan ancaman Auaku akan membunuhmuAy menunjukkan bentuk ketidaksimpatian ekstrem dan memberikan ancaman langsung yang merugikan mitra tutur. Ini melanggar maksim kebijaksanaan karena penutur justru memaksimalkan tindakan yang merugikan lawan tutur, bukan menguranginya. Selain itu, ancaman tersebut merupakan wujud ketidaksantunan tingkat tinggi dalam interaksi verbal. Data. Konteks : Dana dan Zana datang ke rumah Azad untuk mengambil air. Dialog : Azad: AuApa yang kau lakukan di sini? Kau bahkan tidak mampu membawa air? Apa kau selalu datang ke sini untuk mengemis?Ay Analisis: Pada Data 9, melanggar maksim penghargaan karena Azad merendahkan Dana dan Zana melalui tuduhan Autidak mampu membawa airAy dan Aumengemis. Ay Tuturan ini mengandung hinaan yang menyerang kemampuan dan martabat mitra tutur. Ujaran seperti ini memaksimalkan kecaman, sehingga bertentangan dengan maksim penghargaan yang mengharuskan penutur menjaga rasa hormat terhadap orang lain. Data. Konteks : Helliya dan Laila sedang mengejat Azad setelah insiden kalung Dialog : Helliya : AuPergilah dari sini! Kalian babi sialan!Ay Laila : AuPenjelasan tentang kalung yang dilemparAy Analisis: Pada Data 10, sangat jelas melanggar maksim penghargaan. Ujaran Aukalian babi sialanAy adalah penghinaan kasar yang merendahkan manusia dengan menyamakan mereka dengan hewan kotor dan menambahkan kata makian. Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Bentuk ujaran ini menghilangkan semua unsur kesantunan dan menunjukkan ketidakmampuan penutur menjaga penghormatan terhadap mitra tutur. Pelanggaran terhadap maksim penghargaan terjadi secara langsung dan Data. Konteks : Zana sedang memeriksa keledai yang menjadi taruhan permainan Dialog : Teman Zana : AuIni keledai yang specialAy Zana : AuDiamlah! Biarkan aku memeriksanyaAy Analisis: Pada Data 11, menunjukkan pelanggaran maksim permufakatan oleh Zana. menolak ucapan temannya secara langsung dengan ujaran Audiamlah!Ay yang menunjukkan ketidakcocokan dan tidak berusaha menimbulkan keselarasan dalam percakapan. Maksim permufakatan menuntut penutur mencari titik persetujuan, namun Zana menyela secara kasar dan menolak tuturan temannya sehingga terjadi pelanggaran. Data. Konteks : Pemilik keledai marah saat melihat Zana menunggangi keledainya. Dialog : Zana : AuAku mendapatkan keledai ini karena memenangkan permainan kelereng. Ay Pemilik Keledai : AuDimana permainan kelereng? Pergi! Kupatahkan tulangmu bila aku melihatmu lagi. Ay Analisis: Pada Data 12, melanggar maksim kesimpatian dan penghargaan. Pemilik keledai menggunakan ancaman Aukupatahkan tulangmuAy yang menunjukkan agresi dan ketiadaan simpati. Selain itu, tuturan ini merendahkan dan menekan Penutur memaksimalkan ancaman dan meminimalkan rasa hormat, sehingga sangat tidak santun. Data. Konteks : Dana dan Zana dihentikan oleh tentara saat hendak menuju Amerika. Dialog : Tentara : AuPergi dari sini, jangan kembali. Pergilah dari sini!Ay Zana : AuAku bersumpah aku akan kembali!Ay Analisis: Pada Data 13, memperlihatkan pelanggaran maksim kesimpatian oleh tentara karena tuturan Aujangan kembaliAy mengandung sikap dingin dan penolakan keras terhadap kehadiran mitra tutur. Ujaran ini tidak menunjukkan empati Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 atau kepedulian dalam situasi sulit yang dialami Dana dan Zana. Bentuk penolakan kasar ini menunjukkan ketidaksantunan dari pihak tentara. Data. Konteks : Dana membuntuti Zana saat mereka menyelinap di truk. Dialog : Dana: AuMaafkan aku, aku ingin bersamamu ke Amerika. Ay Zana: AuJika kau mulai lagi, aku akan memanggil penjaga, dan mereka akan membunuhmu!Ay Analisis: Pada Data 14, melanggar maksim kebijaksanaan dan kesimpatian. Ancaman Zana Aumereka akan membunuhmuAy menunjukkan bahwa ia tidak mengurangi dampak buruk kepada dana, tetapi justru memaksimalkan ancaman yang Selain itu, ia juga tidak menunjukkan empati pada kondisi Dana yang ingin meminta maaf. Oleh karena itu, terjadi pelanggaran terhadap dua maksim sekaligus. Data. Konteks : Ali marah karena Zana buang air kecil mengenai dirinya. Dialog : Dana: AuMengapa kau memukuli adikku?Ay Ali: AuAku akan membunuhmu, sialan!Ay Analisis: Data 15 mengandung pelanggaran maksim penghargaan dan kesimpatian. Ali melontarkan ancaman Auaku akan membunuhmuAy yang merupakan bentuk ekstrem dari ketidaksantunan dan agresi verbal. Selain merendahkan Dana dengan kata Ausialan,Ay ia juga menunjukkan tidak adanya simpati atau upaya meredakan situasi. Ancaman dan makian dalam tuturan ini jelas melanggar prinsip kesantunan yang di kemukakan oleh Leech. Secara umum dari lima belas data yang dianalisis, pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam film Bekas . didominasi oleh maksim penghargaan dan maksim kesimpatian. Hal ini menunjukkan bahwa bentuk ketidaksantunan yang paling sering muncul berupa ujaran merendahkan, mencaci, dan tidak menunjukkan empati terhadap mitra tutur. Pelanggaran tersebut dipengaruhi oleh konteks konflik, tekanan sosial, serta kondisi psikologis tokoh yang mendorong munculnya tuturan agresif. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Hamida et al. , 2. Dan (Montela et al. , 2. Yang menunjukkan bahwa pelanggaran maksim penghargaan merupakan bentuk yang paling dominan dalam interaksi film. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa faktor sosial dan psikologis tokoh memiliki peran yang lebih signifikan dalam membentuk pola pelanggaran Fadli Dermawan. Harun Al Rahsyid Nasution. Muhammad Fachriza: Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa dalam Film Bekas 2012: Kajian Pragmatik Kajian Linguistik dan Sastra Vol 5. No 2. Mei 2026 https://online-journal. id/kal P-ISSN 2963-8380 E-ISSN 2963-7988 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap film Bekas . , ditemukan bahwa pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa menurut Leech terjadi secara beragam dan dominan dalam dialog antar tokoh. Pelanggaran tersebut terutama muncul dalam bentuk penghinaan, cacian, ancaman, dan ekspresi emosional yang memperlihatkan ketidakhormatan terhadap lawan tutur. Dari lima belas data yang dianalisis, sebagian besar pelanggaran ditemukan pada maksim penghargaan dan maksim kesimpatian, menunjukkan bahwa tuturan yang merendahkan, mengejek, atau tidak simpatik sangat sering muncul dalam interaksi para tokoh. Selain itu, pelanggaran juga terjadi pada maksim kebijaksanaan, kesederhanaan, dan permufakatan, meskipun jumlahnya lebih sedikit. Pelanggaran-pelanggaran ini dipengaruhi oleh kondisi sosial dalam film, seperti kemiskinan, tekanan hidup, konflik antar karakter, dan hubungan hierarkis yang tidak seimbang. Situasi tersebut menciptakan tuturan-tuturan yang kasar, impulsif, dan penuh emosi sehingga nilai-nilai kesantunan sering kali terabaikan. Temuan ini menunjukkan bahwa kesantunan berbahasa sangat dipengaruhi oleh konteks sosial dan psikologis penutur. Penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan prinsip kesantunan dalam komunikasi sehari-hari. Kesantunan bukan hanya mencerminkan karakter individu, tetapi juga memengaruhi kualitas hubungan sosial. Dengan memahami prinsip kesantunan dan bentuk-bentuk pelanggarannya, masyarakat diharapkan lebih mampu menjaga etika bertutur demi menciptakan interaksi yang harmonis. Penelitian selanjutnya dapat memperluas kajian dengan menganalisis film yang berbeda atau menggunakan teori kesantunan lain untuk memperkaya pemahaman tentang fenomena kebahasaan dalam konteks sosialbudaya. Daftar Pustaka