Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 1473-1484 Determination of Total Phenolic Content and Evaluation of Antioxidant Activity of Ethanolic Extract of Celery Herb (Apium graveolens L. ) Using the DPPH Method Penentuan Kadar Total Fenol dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Herba Seledri (Apium graveolens L. ) dengan Metode DPPH Wiranda Gultom a . Razoki a,b* . Refi Ikhtiari a,b Program Studi Sarjana Farmasi Klinis. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Prima Indonesia. Medan. Indonesia. PUI Phyto Degenerative & Lifestyle Medicine. Universitas Prima Indonesia. Medan. Indonesia. *Corresponding Authors: razoki@unprimdn. Abstract Introduction: Celery (Apium graveolens L. ) is a herbal plant that has long been used in traditional medicine. This plant contains various bioactive compounds such as flavonoids, tannins, and phenolic compounds that play important roles as natural antioxidants. The DPPH method is commonly used to evaluate the ability of antioxidant compounds to scavenge stable DPPH free radicals, resulting in a color change from purple to yellow as the radical concentration decreases. Objective: This study aimed to determine the total phenolic content and antioxidant activity of ethanol extract of celery (Apium graveolens L. ) using the DPPH method. Methods: This study employed a laboratory experimental design with a quantitative descriptive approach. The research was conducted from May to December 2025 at the UNPRI Laboratory and USU Laboratory. Results: The quality parameter evaluation of ethanol extract of celery (Apium graveolens L. ) showed a moisture content of 5. The total ash content was 15. 6%, while the acid-insoluble ash content was 2. The watersoluble extractive value and ethanol-soluble extractive value were 17. 49% and 7. 37%, respectively. The average total phenolic content obtained was 102. 104 A 0. 3032 mgGAE/g extract, indicating that the ethanol extract of celery contains relatively high phenolic compounds. The linear regression equation obtained was y = 0. 0052 with a coefficient of determination (RA) of 0. The RA value close to 1 indicates a very strong linear relationship between gallic acid concentration and absorbance, suggesting that the calibration curve met the validity requirements for total phenolic Conclusion: Based on the results of this study, the ethanol extract of celery (Apium graveolens L. ) exhibited an ICCICA value of 21. 023 AAg/mL, which is categorized as a very strong antioxidant. Although the ICCICA value was higher than that of quercetin, the antioxidant activity of the extract was still considered very good for a crude plant extract. Keywords: Celery (Apium graveolens L. Antioxidant activity. Total phenolic content. DPPH. ICCICA. Abstrak Pendahuluan: Tanaman seledri (Apium graveolens L. ) merupakan salah satu tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tannin dan fenolik yang berperan penting sebagai antioksidan alami. Metode DPPH untuk mengukur kemampuan senyawa antioksidan dalam menangkap radikal bebas DPPH yang stabil, yang menghasilkan perubahan warna dari ungu ke kuning seiring dengan penurunan konsentrasi radikal bebas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar total fenol dan menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) menggunakan metode DPPH. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain eksperimen laboratorium dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei Ae Desember 2025. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium UNPRI dan Laboratorium USU. Hasil Penelitian: Berdasarkan hasil pengujian parameter mutu ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ), diperoleh kadar air sebesar 5,9%. Hasil penetapan kadar abu total menunjukkan nilai sebesar 15,6%. Sementara itu, kadar abu total tidak larut asam sebesar 2,19%. Parameter kadar sari larut air dan kadar sari larut etanol masing-masing diperoleh sebesar 17,49% dan 7,37%. Nilai rata-rata kadar total fenol yang diperoleh adalah 102,104 A 0,3032 mgGAE/g ekstrak. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba seledri mengandung senyawa fenolik dalam jumlah yang relatif tinggi. Persamaan regresi linear yang diperoleh adalah y = 0,0083x 0,0052 dengan nilai koefisien determinasi RA = 0,9894. Nilai RA yang mendekati 1 menandakan adanya hubungan linear yang sangat kuat antara konsentrasi asam galat dan absorbansi, sehingga kurva baku yang dihasilkan memenuhi persyaratan validitas untuk digunakan dalam penentuan kadar total fenol. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak etanol herba seledri menunjukkan nilai ICCICA sebesar 21,023 AAg/mL, yang juga dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat. Meskipun nilainya lebih besar dibandingkan kuersetin, aktivitas ini masih tergolong sangat baik untuk suatu ekstrak kasar. Kata Kunci: Herba Seledri (Apium graveolens L. Antioksidan. Total Fenol. DPPH. ICCICA. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial purposes. ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received: 05/02/2026. Revised: 20/05/2026. Accepted: 20/05/2026. Available Online: 29/05/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Tanaman seledri (Apium graveolens L. ) merupakan salah satu tanaman herbal yang telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini kaya akan senyawa bioaktif seperti flavonoid, tannin dan fenolik yang berperan penting sebagai antioksidan alami . Antioksidan sangat diperlukan untuk menangkal radikal bebas yang dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan dalam tubuh. Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat terbentuk akibat proses metabolisme tubuh atau paparan faktor eksternal seperti polusi, radiasi UV dan bahan kimia berbahaya. Jika dibiarkan, keberadaan radikal bebas yang berlebihan dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes dan penyakit Oleh karena itu, penelitian terhadap aktivitas antioksidan dari ekstrak tanaman herbal seperti herba seledri menjadi sangat relevan dalam rangka pengembangan obat dan suplemen kesehatan. Gaya hidup modern meningkatkan risiko stres oksidatif akibat radikal bebas dan polusi, yang dapat memicu penyakit kronis seperti kanker dan diabetes, sehingga antioksidan alami penting untuk mencegah kerusakan sel secara efektif . Antioksidan berperan penting dalam menetralkan radikal bebas untuk mencegah kerusakan sel dan memperlambat proses oksidasi . Antioksidan terbagi menjadi dua jenis, yaitu alami dan sintetis. Antioksidan alami meliputi senyawa yang diproduksi tubuh, seperti Superoxide Dismutase. Catalase, dan Glutathione Peroxidase, serta senyawa dari asupan eksternal seperti vitamin C, vitamin E, glutation, dan Sedangkan antioksidan sintetis diproduksi secara kimiawi, contohnya BHA. BHT. TBHQ, dan propil galat . Seledri diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti apiin, apigenin, luteolin dan berbagai jenis fenol lainnya yang memiliki potensi sebagai antioksidan kuat . Flavonoid dapat ditemukan disemua bagian dari tumbuhan seledri (Apium graveolens L) seperti di akar, daun dan tangkainya . Senyawasenyawa ini mampu menghambat oksidasi lemak, melindungi protein dari kerusakan oksidatif dan mencegah peroksidasi lipid yang berkontribusi pada penuaan dini serta penyakit kronis . Dengan kandungan fitokimia tersebut, seledri memiliki prospek besar sebagai bahan baku alami untuk produk kesehatan yang lebih aman dibandingkan antioksidan sintetis yang seringkali memiliki efek samping . Fenolik merupakan salah satu bahan aktif yang terkandung dalam ekstrak seledri yang juga berperan sebagai agen antibakteri Senyawa fenolik yang berikatan dengan peptidoglikan yang terkandung di dalam membran bakteri akan mengakibatkan perubahan kekakuan dan permeabilitas membran pada bakteri . Hasil dari kajian studi literatur mengenai efektivitas ekstrak herba seledri secara in vivo dapat disimpulkan bahwa ekstrak herba seledri memiliki efek beberapa sebagai diuretik. hiperlipidernia, antikalkuli pencegah terhadap inflamasi dan urotiliasis. Ekstrak daun seledri memiliki efek antihiperurisemia, antiinflamasi, antihiperlensi, imunostimulan memperbaiki tubulus ginjal. Metode yang sering digunakan untuk mengukur aktivitas antioksidan adalah metode DPPH . ,2-diphenyl-1-picrylhydrazy. Metode DPPH untuk mengukur kemampuan senyawa antioksidan dalam menangkap radikal bebas DPPH yang stabil, yang menghasilkan perubahan warna dari ungu ke kuning seiring dengan penurunan konsentrasi radikal bebas. Kombinasi kedua metode ini memberikan gambaran yang lebih lengkap dan komprehensif mengenai kapasitas antioksidan suatu ekstrak. Penelitian dengan menggunakan kedua metode ini juga memberikan validasi yang lebih kuat terhadap efektivitas antioksidan alami . Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar total fenol dan menguji aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba seledri dengan metode DPPH . ,2-difenil-1-pikrilhidrazi. Penelitian ini Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. bertujuan untuk mengetahui kadar total fenol dan menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) menggunakan metode DPPH. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium dengan pendekatan kuantitatif. Tahapan penelitian meliputi dua kegiatan utama, yaitu penentuan kadar total fenol pada ekstrak etanol 80% herba seledri (Apium graveolens L. ) serta pengujian aktivitas antioksidan ekstrak menggunakan metode 2,2difenil-1-pikrilhidrazil (DPPH). Analisis dilakukan untuk mengevaluasi kandungan senyawa fenolik dan potensi aktivitas antioksidan ekstrak yang diperoleh. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Mei hingga Desember 2025. Seluruh rangkaian penelitian dilakukan di laboratorium yang berada di lingkungan Universitas Prima Indonesia (UNPRI) dan Universitas Sumatera Utara (USU), meliputi proses preparasi sampel, analisis kadar total fenol, serta pengujian aktivitas Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah asam asetat, asam galat, aquadest, etanol 80%. FeClCE, etil asetat. HCl. HCCSOCE, herba seledri (Apium graveolens L. ) segar, kuersetin, kloroform, metanol p. Nheksan, reagen DPPH, reagensia bouchardat, dragondorff, mayer, reagensia lieberman-bouchard, salkowsky. Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah batang pengaduk, blender, cawan, gelas beker, gelas ukur, kertas saring, mikropipet, timbangan analitik, tabung rekasi, pipet tetes, rotary evaporator, spektrovotometri UV-Vis. Persiapan Sampel dan Ekstraksi Tanaman seledri (Apium graveolens L. ) dideterminasi berdasarkan karakteristik morfologinya dengan mengacu pada literatur botani dan dikonfirmasi di Herbarium Universitas Sumatera Utara (USU) untuk memastikan kebenaran identitas spesies yang digunakan dalam penelitian. Herba seledri segar diperoleh dari pasar lokal yang memenuhi kriteria mutu, kemudian dilakukan sortasi untuk memisahkan kotoran dan bagian tanaman yang tidak diinginkan. Sampel dicuci menggunakan air mengalir hingga bersih, dikeringkan dengan tisu bersih, dan selanjutnya dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil. Sebanyak 15 kg herba seledri dikeringkan menggunakan oven pada suhu 50 AC hingga diperoleh simplisia kering. Simplisia kemudian disortasi kembali, digiling hingga menjadi serbuk, dan diayak menggunakan ayakan 50 mesh untuk memperoleh ukuran partikel yang seragam. Serbuk simplisia yang diperoleh disimpan dalam wadah tertutup rapat hingga digunakan untuk proses ekstraksi . Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan etanol 80% sebagai pelarut. Sebanyak 800 g serbuk simplisia dimaserasi dengan perbandingan bahan dan pelarut 1:10 selama 5 hari dalam wadah tertutup yang terlindung dari cahaya, disertai pengadukan secara berkala untuk meningkatkan kontak antara pelarut dan sampel. Setelah proses maserasi selesai, campuran disaring untuk memisahkan ampas dan filtrat. Filtrat yang diperoleh kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental etanol 80% herba seledri . Perhitungan Rendemen Rendemen ekstrak dihitung sebagai persentase perbandingan berat ekstrak kental terhadap berat serbuk simplisia awal. ycaycuycaycuyc yceycoycycycycayco ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa . % ycyceycuyccyceycoyceycu = ( ) ycu 100% ycaycuycaycuyc ycycnycoycyycoycnycycnyca ycyceycayceycoycyco yccycnyceycoycycycycaycoycycn . Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Pemeriksaan karakteristik simplisia dilakukan melalui penetapan kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total, dan kadar abu tidak larut asam. Penetapan kadar air dilakukan dengan menimbang 1 g sampel ke dalam wadah timbang yang telah dikeringkan sebelumnya, kemudian dikeringkan pada suhu 105AC hingga diperoleh bobot konstan. Sampel yang telah dikeringkan didinginkan dalam desikator sebelum dilakukan penimbangan. Untuk sampel yang memiliki titik lebur rendah, pengeringan awal dilakukan pada suhu 5Ae10AC di bawah titik leburnya, kemudian dilanjutkan pada suhu penetapan hingga mencapai bobot konstan . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Penetapan kadar sari larut air dilakukan dengan memaserasi 5 g serbuk simplisia menggunakan 100 mL air kloroform P selama 24 jam dengan pengocokan berulang pada 6 jam pertama. Setelah proses maserasi selesai, campuran disaring dan sebanyak 20 mL filtrat diuapkan hingga kering. Residu yang diperoleh kemudian dikeringkan pada suhu 105AC hingga mencapai bobot konstan, selanjutnya kadar sari larut air dihitung sebagai persentase terhadap berat awal sampel . Penetapan kadar sari larut etanol dilakukan dengan prosedur yang sama menggunakan 100 mL etanol 95% sebagai pelarut. Filtrat yang diperoleh diuapkan hingga kering, kemudian residu dikeringkan pada suhu 105AC sampai diperoleh bobot konstan dan hasilnya dinyatakan sebagai persentase terhadap berat sampel awal . Penetapan kadar abu total dilakukan dengan memijarkan 5 g serbuk simplisia dalam krus porselin hingga seluruh bahan organik terbakar sempurna, kemudian dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 600AC selama 3 jam. Setelah proses pemijaran selesai, krus didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga diperoleh bobot konstan. Kadar abu total dihitung berdasarkan berat sampel kering awal . Selanjutnya, penetapan kadar abu tidak larut asam dilakukan dengan merefluks abu total menggunakan 25 mL asam klorida encer selama 5 menit. Campuran kemudian disaring, dan residu yang diperoleh dicuci menggunakan air panas, dipijarkan hingga mencapai bobot konstan, serta ditimbang. Kadar abu tidak larut asam dihitung sebagai persentase terhadap berat sampel awal . Skrining Fitokimia Skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi golongan senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam ekstrak etanol 80% herba seledri (Apium graveolens L. ), meliputi alkaloid, flavonoid, tanin, steroid, triterpenoid, dan saponin. Identifikasi alkaloid dilakukan dengan mereaksikan 0,5 g ekstrak dengan 1 mL HCl 2 N dan 9 mL akuades, kemudian campuran dipanaskan selama 2 menit, didinginkan, dan disaring. Filtrat yang diperoleh selanjutnya diuji menggunakan pereaksi Bouchardat. Mayer, dan Dragendorff. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan berwarna cokelat kehitaman pada pereaksi Bouchardat, putih kekuningan pada pereaksi Mayer, atau jingga pada pereaksi Dragendorff . Identifikasi flavonoid dilakukan menggunakan beberapa pereaksi, yaitu FeClCE 5%, campuran serbuk magnesium dan HCl pekat . ji Shinod. HCCSOCE pekat, serta NaOH 10%. Adanya senyawa flavonoid ditunjukkan oleh terbentuknya perubahan warna khas, seperti hijau, merah, kuning, jingga, ungu, atau biru, tergantung pada pereaksi yang digunakan . Identifikasi tanin dilakukan dengan menambahkan 1Ae2 tetes FeClCE 5% ke dalam 5 mL ekstrak yang telah dilarutkan dalam metanol. Terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan menunjukkan adanya senyawa tanin dalam ekstrak . Identifikasi steroid dan triterpenoid dilakukan menggunakan uji LiebermannAeBurchard dan uji Salkowski. Pada uji LiebermannAeBurchard, sebanyak 0,05 g ekstrak dilarutkan dalam kloroform, kemudian ditambahkan anhidrida asetat dan HCCSOCE pekat. Terbentuknya warna biru atau hijau kebiruan menunjukkan adanya senyawa steroid, sedangkan warna ungu hingga jingga mengindikasikan adanya triterpenoid. Pada uji Salkowski, penambahan HCCSOCE pekat menghasilkan cincin merah pada batas dua lapisan yang menunjukkan keberadaan steroid tak jenuh . Identifikasi saponin dilakukan dengan melarutkan ekstrak dalam air panas, kemudian campuran dipanaskan dan dikocok kuat. Hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya busa stabil setinggi 1Ae10 cm yang tetap bertahan selama sedikitnya 10 menit setelah penambahan HCl 2 N . Seluruh pengujian dilakukan secara kualitatif berdasarkan perubahan warna atau terbentuknya endapan khas yang menjadi indikator keberadaan masing-masing golongan senyawa metabolit sekunder dalam ekstrak. Penetapan Kadar Fenolat Total Metode FolinAeCiocalteu Larutan standar asam galat 500 AAg/mL dibuat dengan melarutkan 12,5 mg asam galat dalam metanol dan aquades hingga volume 25 mL. Larutan natrium karbonat 1 M disiapkan dengan melarutkan 10,6 g NacOCE dalam aquades hingga 100 mL. Larutan uji dibuat dengan melarutkan 25 mg ekstrak dalam metanol dan aquades hingga volume 25 mL . 0 AAg/mL). Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan menggunakan larutan asam galat, direaksikan dengan reagen FolinAeCiocalteu . dan NacOCE 1 M, kemudian diinkubasi selama 15 menit pada suhu kamar dan diukur menggunakan spektrofotometer UVAeVis. Kurva kalibrasi disusun dari larutan standar asam galat dengan konsentrasi 20Ae100 AAg/mL. Masing-masing larutan direaksikan dengan reagen FolinAeCiocalteu dan NacOCE 1 M, diinkubasi selama 15 menit, dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang maksimum. Penetapan kadar fenolat total sampel dilakukan dengan mereaksikan 0,5 mL larutan ekstrak dengan reagen FolinAeCiocalteu dan NacOCE 1 M, diinkubasi selama 15 Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. menit, kemudian diukur absorbansinya. Pengukuran dilakukan dalam tiga kali ulangan dan hasil dinyatakan sebagai mg ekivalen asam galat per gram ekstrak. Larutan blanko yang terdiri atas reagen FolinAeCiocalteu. NacOCE, dan pelarut tanpa penambahan asam galat maupun sampel diukur pada panjang gelombang yang sama untuk mengoreksi absorbansi dasar sistem. Uji Aktivitas Antioksidan Menggunakan Metode DPPH Larutan induk DPPH 100 ppm dibuat dengan melarutkan 10 mg DPPH dalam metanol p. a hingga volume 100 mL. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan dengan mengencerkan 1 mL larutan DPPH 100 ppm hingga 10 mL, diinkubasi selama 30 menit di tempat gelap, kemudian diukur absorbansinya pada rentang 400Ae800 nm menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Larutan standar kuersetin disiapkan dengan membuat larutan induk 100 ppm, kemudian diencerkan menjadi 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm. Masing-masing larutan standar . mL) direaksikan dengan 2 mL larutan DPPH 100 ppm, dihomogenkan, dan diinkubasi selama 30 menit di tempat gelap. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 517 nm. Larutan uji ekstrak herba seledri dibuat dengan melarutkan 10 mg ekstrak dalam metanol p. a hingga 100 mL . , kemudian diencerkan menjadi 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm. Sebanyak 2 mL masing-masing larutan uji direaksikan dengan 2 mL larutan DPPH 100 ppm, diinkubasi selama 30 menit di tempat gelap, dan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517 nm. Pengukuran Nilai IC50 Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH dinyatakan dengan Inhibisi Concentration 50% atau IC50. Nilai IC50 pada metode DPPH adalah konsentrasi sampel yang dapat menangkap 50% radikal bebas. % yaya yaycEycEya = ycaycaycycuycycaycaycuycycn ycoycaycycycycaycu ycaycoycaycuycoycu Oe ycaycaycycuycycaycaycuycycn ycycaycoycyyceyco ycu 100% ycaycaycycuycycaycaycuycycn ycoycaycycycycaycu ycaycoycaycuycoycu Klasifikasi Antioksidan Tabel 1. Klasifikasi Antioksidan Nilai IC50 < 50 ppm 50-100 ppm 100-150 ppm 151-200 ppm Antioksidan Sangat kuat Kuat Sedang Lemah Hasil Dan Pembahasan Herba seledri segar (Apium graveolens L. ) diperoleh dari pasar lokal, dibersihkan, dicuci dengan air mengalir, dan dikeringkan. Sebanyak 15 kg bahan segar disortasi basah, dipotong kecil, dan dikeringkan dalam oven pada suhu 50AC. Simplisia kering kemudian disortasi ulang, digiling, dan diayak menggunakan ayakan 50 mesh hingga diperoleh 800 g serbuk. Proses ekstraksi senyawa fitokimia dapat dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari sampel dan faktor yang berasal dari proses ekstraksi. Faktor sampel dapat berupa bagian tanaman, asal tanaman, ukuran partikel, metode pengeringan dan kadar air. Faktor ekstraksi antara lain jenis pelarut, metode ekstraksi, rasio pelarut, suhu dan lama ekstraksi . Serbuk simplisia diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan etanol 80% . selama 5 hari dalam wadah gelap dengan pengadukan berkala. Etanol dipilih sebagai pelarut karena sifatnya yang universal, sehingga mampu mengekstraksi berbagai senyawa polar, semipolar dan non polar secara optimal . Maserat disaring dan dipekatkan menggunakan rotary evaporator hingga diperoleh 218 g ekstrak kental dengan rendemen sebesar 26,62%. Hasil skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa fenolik pada ekstrak etanol herba seledri berdasarkan uji FeClCE. Indikasi keberadaan flavonoid juga teramati pada beberapa pereaksi, meskipun uji Shinoda menunjukkan hasil negatif sehingga diperlukan konfirmasi lebih lanjut menggunakan metode kromatografi atau analisis instrumental. Senyawa fenol berperan sebagai donor proton atau elektron yang mampu menetralkan radikal bebas, sehingga kadar total fenol dapat digunakan sebagai indikator potensi antioksidan ekstrak. Keberadaan senyawa fenolik, termasuk flavonoid dan asam fenolat, memperkuat dasar Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. ilmiah pengujian aktivitas antioksidan ekstrak. Uji flavonoid menggunakan beberapa pereaksi menunjukkan hasil positif, ditandai dengan perubahan warna khas sesuai struktur flavonoid yang terkandung . Senyawa flavonoid diketahui memiliki aktivitas biologis, termasuk aktivitas antioksidan dan antibakteri, melalui mekanisme denaturasi protein dan penghambatan metabolisme sel . Temuan ini sejalan dengan laporan sebelumnya yang menyatakan bahwa kandungan flavonoid dan metabolit sekunder lainnya berkontribusi signifikan terhadap aktivitas antioksidan ekstrak tanaman . Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia herba seledri Senyawa Metabolit Sekunder Flavonoid Alkaloid Tanin Saponin Terpenoid Steroid Pereaksi FeClCE . 5% Mg. HCl. NaOH . 10% HCCSOCE . Bouchardat Mayer Dragendorff FeClCE . 5% Aquadest Alkohol 96% HCl 2N LiebermannAeBurchard Salkowsky LiebermannAeBurchard Salkowsky Hasil Skrining Oe Oe Oe Oe Oe Oe Oe Oe Keterangan: Hasil positif pada pereaksi FeClCE menunjukkan adanya gugus fenolik, namun tidak secara spesifik mengidentifikasi flavonoid. Uji Shinoda (MgAeHC. digunakan sebagai konfirmasi flavonoid spesifik berdasarkan pembentukan warna merah/jingga akibat reduksi inti flavonoid. Pengujian parameter mutu ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) menunjukkan kadar air sebesar 5,9%, yang memenuhi persyaratan mutu ekstrak kental (<10%) dan mendukung stabilitas ekstrak selama penyimpanan . Kadar abu total dan abu tidak larut asam masing-masing sebesar 15,6% dan 2,19%. Kadar abu total ekstrak sebesar 15,6% menunjukkan adanya kandungan mineral dan residu anorganik yang relatif tinggi. Nilai ini dapat dipengaruhi oleh kandungan mineral alami herba seledri maupun kemungkinan kontaminasi eksternal selama proses panen dan preparasi simplisia. Meskipun demikian, nilai tersebut masih dapat ditoleransi untuk ekstrak kasar pada penelitian pendahuluan fitokimia dan aktivitas biologis. rendahnya kontaminasi bahan asing, sesuai dengan standar mutu ekstrak herbal . Kadar sari larut air . ,49%) lebih tinggi dibandingkan sari larut etanol . ,37%), mengindikasikan dominasi senyawa polar dalam ekstrak. Temuan ini sejalan dengan tingginya kandungan senyawa fenolik dan aktivitas antioksidan ekstrak berdasarkan metode DPPH. Secara keseluruhan, hasil parameter mutu menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba seledri memenuhi kriteria mutu ekstrak yang baik . Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba seledri memberikan hasil positif terhadap pereaksi FeClCE 5%, namun menunjukkan hasil negatif pada uji Shinoda menggunakan pereaksi Mg HCl. Perbedaan hasil ini dapat disebabkan oleh perbedaan sensitivitas dan spesifisitas masing-masing pereaksi terhadap golongan senyawa fenolik dan flavonoid. Pereaksi FeClCE diketahui mampu bereaksi dengan gugus hidroksil fenolik sehingga tidak hanya mendeteksi flavonoid, tetapi juga senyawa fenol non-flavonoid seperti tanin dan asam fenolat. Oleh karena itu, hasil positif pada uji FeClCE belum sepenuhnya spesifik menunjukkan keberadaan flavonoid. Sebaliknya, uji Shinoda lebih spesifik untuk flavonoid tertentu yang memiliki struktur inti flavon atau flavonol dengan gugus karbonil dan hidroksil yang dapat mengalami reduksi oleh logam magnesium dalam suasana asam, sehingga menghasilkan warna merah, jingga, atau merah muda. Tidak munculnya perubahan warna pada uji Shinoda kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi flavonoid dalam ekstrak yang relatif rendah, adanya degradasi senyawa selama proses ekstraksi, atau dominasi senyawa fenolik non-flavonoid yang tidak memberikan respon positif terhadap pereaksi Mg HCl. Selain itu, sensitivitas uji Shinoda dipengaruhi oleh jenis flavonoid yang terkandung dalam sampel. Beberapa flavonoid glikosida atau flavonoid dengan substituen tertentu dapat memberikan respon warna yang lemah atau bahkan negatif meskipun senyawa fenolik terdeteksi pada pengujian lain. Oleh karena itu, hasil skrining fitokimia perlu diinterpretasikan secara hati-hati dengan mempertimbangkan keterbatasan masing-masing metode identifikasi kualitatif. Untuk meningkatkan validitas identifikasi flavonoid, pengujian Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. lanjutan seperti kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fase gerak dan pereaksi penampak noda yang sesuai dapat dilakukan sebagai metode konfirmasi keberadaan senyawa flavonoid pada ekstrak etanol herba Skrining fitokimia secara kualitatif memiliki keterbatasan karena hasil sangat dipengaruhi oleh konsentrasi senyawa aktif, sensitivitas pereaksi, kondisi reaksi, dan subjektivitas pengamatan warna. Pereaksi FeClCE cenderung kurang spesifik karena dapat memberikan hasil positif terhadap berbagai senyawa fenolik, sedangkan uji Shinoda memiliki sensitivitas yang lebih rendah terhadap beberapa jenis flavonoid tertentu. Oleh sebab itu, identifikasi metabolit sekunder secara lebih akurat sebaiknya dikonfirmasi menggunakan metode instrumental atau kromatografi. Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia No. Jenis Pengujian Kadar air Kadar abu total Kadar abu total tidak larut asam Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol Jenis Sampel Ekstrak Ekstrak Ekstrak Ekstrak Ekstrak Hasil Uji 5,9% 15,6% 2,19% 17,49% 7,37% Berdasarkan hasil penetapan kadar total fenol ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) yang dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan, diperoleh nilai absorbansi berturut-turut sebesar 0,850. 0,853. 0,855. Nilai absorbansi tersebut dikonversi menggunakan kurva baku asam galat sehingga menghasilkan kadar total fenol (KTF. masing-masing sebesar 101,783. 102,144. dan 102,385 mgGAE/g ekstrak. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba seledri mengandung senyawa fenolik dalam jumlah yang relatif Nilai rata-rata kadar total fenol yang diperoleh adalah 102,104 A 0,3032 mgGAE/g ekstrak. Nilai simpangan baku (SD) yang rendah menandakan bahwa metode analisis yang digunakan memiliki presisi dan reprodusibilitas yang baik, sehingga hasil pengukuran dapat dipercaya secara ilmiah. Konsistensi nilai KTFe antar pengulangan juga menunjukkan bahwa proses preparasi sampel, reaksi dengan reagen FolinAeCiocalteu, serta pengukuran absorbansi telah dilakukan secara stabil dan terkendali. Tingginya kadar total fenol pada ekstrak etanol herba seledri menunjukkan bahwa etanol merupakan pelarut yang efektif dalam mengekstraksi senyawa fenolik yang bersifat polar hingga semi-polar. Senyawa fenolik diketahui berperan penting sebagai antioksidan karena kemampuannya mendonorkan elektron atau atom hidrogen untuk menetralkan radikal Oleh karena itu, hasil penetapan kadar total fenol ini mendukung hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, di mana aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba seledri diduga dipengaruhi oleh kandungan senyawa fenolik yang terdapat dalam ekstrak. Dugaan ini didasarkan pada tingginya kadar total fenol yang diperoleh serta rendahnya nilai ICCICA pada pengujian DPPH. Berbagai penelitian sebelumnya juga melaporkan bahwa senyawa fenolik berkontribusi terhadap aktivitas penangkapan radikal bebas melalui mekanisme donasi elektron atau atom hidrogen. Hasil penetapan kadar abu total ekstrak etanol herba seledri menunjukkan nilai sebesar 15,6%, yang tergolong relatif tinggi untuk suatu ekstrak herbal. Kadar abu total menggambarkan jumlah residu anorganik yang tersisa setelah proses pemijaran, yang dapat berasal dari mineral alami tanaman maupun kontaminan eksternal seperti tanah, pasir, debu, dan residu pupuk anorganik. Tingginya kadar abu total pada ekstrak herba seledri kemungkinan dipengaruhi oleh karakteristik morfologi tanaman herba yang tumbuh dekat permukaan tanah sehingga lebih mudah terkontaminasi partikel anorganik selama proses budidaya dan Selain itu, penggunaan pupuk mineral dan proses pencucian simplisia yang kurang optimal sebelum pengeringan juga dapat meningkatkan kandungan abu total. Herba seledri diketahui memiliki kandungan mineral alami yang cukup tinggi, seperti kalium, natrium, magnesium, dan kalsium, yang turut berkontribusi terhadap tingginya residu anorganik setelah proses pemijaran. Oleh karena itu, nilai kadar abu total tidak selalu sepenuhnya mencerminkan kontaminasi, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh komposisi mineral alami Berdasarkan parameter mutu herbal dalam Farmakope Herbal Indonesia dan Materia Medika Indonesia, kadar abu total pada simplisia herbal umumnya diharapkan berada pada rentang tertentu tergantung jenis tanaman dan bagian tanaman yang digunakan. Nilai kadar abu total ekstrak etanol herba seledri pada penelitian ini memang relatif lebih tinggi dibandingkan beberapa standar simplisia daun atau herba, namun masih dapat diterima untuk penelitian pendahuluan ekstrak kasar yang bertujuan mengevaluasi kandungan metabolit sekunder dan aktivitas biologis. Meskipun demikian, tingginya kadar abu total menunjukkan perlunya optimalisasi proses preparasi bahan baku pada penelitian selanjutnya. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. terutama melalui pencucian simplisia yang lebih teliti sebelum pengeringan dan penggilingan, guna meminimalkan kemungkinan kontaminasi anorganik dari lingkungan. Salah satu keterbatasan penelitian ini adalah belum dilakukannya analisis lebih lanjut terhadap komposisi abu untuk membedakan kandungan mineral alami tanaman dan kontaminasi anorganik eksternal. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan melakukan evaluasi kandungan logam atau mineral spesifik menggunakan metode instrumental seperti AAS atau ICP-OES. Tabel 4. Hasil Penetapan Kadar Total Fenolik Uji Abs. Pengukuran Ekstrak 0,850 0,853 0,855 KTFe . gGAE/. 101,783 102,144 102,385 KTFeASD . gGAE/. 102,104A0,3032 Grafik menunjukkan hubungan linier antara konsentrasi larutan standar asam galat dengan nilai absorbansi yang diukur menggunakan metode FolinAeCiocalteu. Persamaan regresi linear yang diperoleh adalah y = 0,0083x 0,0052 dengan nilai koefisien determinasi RA = 0,9894. Nilai RA yang mendekati 1 menandakan adanya hubungan linear yang sangat kuat antara konsentrasi asam galat dan absorbansi, sehingga kurva baku yang dihasilkan memenuhi persyaratan validitas untuk digunakan dalam penentuan kadar total fenol. Linearitas yang baik pada rentang konsentrasi 20Ae100 AAg/mL menunjukkan bahwa metode analisis memiliki sensitivitas dan akurasi yang memadai dalam mendeteksi perubahan konsentrasi senyawa Nilai intersep yang kecil . ,0. mengindikasikan bahwa kontribusi absorbansi dari blanko atau gangguan sistem pengukuran relatif minimal, sehingga hasil absorbansi sampel dapat merepresentasikan kandungan fenolik secara akurat. Keandalan kurva baku ini sangat penting dalam penelitian penentuan kadar total fenol, karena nilai absorbansi ekstrak etanol herba seledri dikonversi menjadi konsentrasi fenolik berdasarkan persamaan regresi tersebut. Dengan demikian, nilai kadar total fenol yang diperoleh pada ekstrak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tingginya kadar total fenol yang dihitung dari kurva baku ini selanjutnya berperan dalam menjelaskan aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba seledri pada uji DPPH, mengingat senyawa fenolik memiliki kemampuan sebagai donor elektron atau hidrogen dalam menetralkan radikal bebas. Secara keseluruhan, grafik kurva baku asam galat ini menunjukkan bahwa metode menunjukkan linearitas yang baik dan layak digunakan untuk analisis pendahuluan kadar total fenol, sehingga layak digunakan dalam penentuan kadar total fenol sebagai dasar evaluasi aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. Konsentrasi asam galat (AAg/mL) 0,90 y = 0,0083x 0,0052 RA = 0,9894 0,80 0,70 0,60 0,50 0,40 0,30 0,20 0,10 0,00 Absorbansi Gambar 1. Kurva Kalibrasi Asam Galat untuk Penetapan Kadar Total Fenolik Metode DPPH . ,2-difenil-1-pikrilhidrazi. merupakan salah satu metode yang umum digunakan untuk menguji aktivitas antioksidan karena praktis, sensitif, dan efisien dalam menilai kemampuan senyawa dalam mereduksi radikal bebas . Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, kuersetin sebagai kontrol positif menunjukkan peningkatan persentase inhibisi seiring dengan peningkatan konsentrasi dari 2 hingga 10 AAg/mL, dengan nilai inhibisi berkisar antara 21,27% hingga 82,68%. Nilai ICCICA kuersetin yang diperoleh sebesar 17,050 AAg/mL, yang dikategorikan sebagai antioksidan sangat kuat. Hasil Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. ini sesuai dengan karakteristik kuersetin sebagai flavonoid murni yang memiliki banyak gugus hidroksil, sehingga sangat efektif dalam mendonorkan atom hidrogen atau elektron untuk menetralisir radikal bebas DPPH. Beberapa penelitian terkini melaporkan bahwa kuersetin merupakan salah satu antioksidan fenolik paling aktif dengan aktivitas penangkap radikal yang sangat tinggi pada uji DPPH . Ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) juga menunjukkan peningkatan persentase inhibisi yang sejalan dengan peningkatan konsentrasi, yaitu dari 6,03% pada konsentrasi 10 AAg/mL menjadi 61,95% pada konsentrasi 50 AAg/mL. Pola ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan ekstrak bersifat konsentrasidependen, yang merupakan karakteristik umum ekstrak tanaman obat yang mengandung senyawa fenolik dan flavonoid. Nilai ICCICA ekstrak etanol herba seledri diperoleh sebesar 21,023 AAg/mL, yang termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat. Meskipun nilai ICCICA ekstrak lebih besar dibandingkan kuersetin, hasil ini masih tergolong sangat baik untuk suatu ekstrak kasar, mengingat ekstrak merupakan campuran kompleks berbagai senyawa aktif dan nonaktif . Potensi antioksidan suatu senyawa digolongkan dengan besarnya nilai IC50. Semakin kecil nilai IC50 semakin tinggi aktivitas antioksidan. Secara spesifik, suatu senyawa dikatakan sebagai antioksidan yang sangat kuat bila IC50< 50 ppm, kuat bila nilai IC50 bernilai 50-100 ppm, sedang bila IC50 bernilai 100-150 ppm, dan lemah bila nilai IC50 bernilai 151-200 ppm . Aktivitas antioksidan yang kuat dari ekstrak etanol herba seledri ini dapat dikaitkan dengan tingginya kadar total fenol yang telah ditetapkan sebelumnya. Senyawa fenolik diketahui berperan utama dalam mekanisme penangkapan radikal bebas melalui donasi elektron dan stabilisasi radikal, sehingga ekstrak dengan kandungan fenol tinggi umumnya menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat pada metode DPPH. Hubungan positif antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan telah banyak dilaporkan dalam penelitian tanaman obat modern . Tabel 5. Hasil Antioksidan Spektrofotometri UV-Vis Kuersetin dan Ekstrak Etanol Herba Seledri (Apium graveolens L. Larutan Uji Kuersetin Ekstrak Herba Seledri Konsentrasi (AAg/mL) Abs. Sampel 0,539 0,427 0,328 0,212 0,118 0,644 0,528 0,449 0,324 0,261 %Inhibisi 21,265 37,664 52,019 69,002 82,676 6,034 22,920 34,453 52,701 61,946 ICCICA 17,050 Sangat Kuat 21,023 Sangat Kuat Berdasarkan Gambar 2, terlihat bahwa peningkatan konsentrasi sampel menyebabkan meningkatnya persen inhibisi terhadap radikal bebas DPPH baik pada kuersetin maupun ekstrak etanol herba seledri. Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan bersifat konsentrasi-dependent, di mana semakin tinggi konsentrasi sampel maka semakin besar kemampuan dalam menangkap radikal bebas. Ekstrak etanol herba seledri menunjukkan persen inhibisi yang lebih tinggi dibandingkan kuersetin pada seluruh rentang konsentrasi yang diuji. Hal ini menandakan bahwa hampir seluruh variasi persentase inhibisi dapat dijelaskan oleh perubahan konsentrasi, sehingga model regresi yang digunakan sangat reliabel untuk penentuan parameter aktivitas antioksidan, khususnya nilai ICCICA. Fenomena ini merupakan karakteristik umum senyawa antioksidan, terutama senyawa fenolik dan flavonoid, yang bekerja melalui mekanisme donasi elektron atau atom hidrogen untuk menstabilkan radikal DPPH . Nilai kemiringan . yang tinggi pada persamaan regresi mencerminkan sensitivitas respon yang besar terhadap perubahan konsentrasi, yang mengindikasikan potensi antioksidan yang kuat. Hubungan linear yang sangat baik pada grafik ini juga mendukung validitas penggunaan transformasi ln konsentrasi dalam analisis hubungan dosisAerespon uji DPPH. Pendekatan ini banyak digunakan dalam penelitian antioksidan modern untuk memperoleh estimasi ICCICA yang lebih akurat dan dapat direproduksi. Selain itu, hasil ini selaras dengan tingginya kadar total fenol yang diperoleh pada ekstrak etanol herba seledri, mengingat berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara kandungan fenolik total dan aktivitas antioksidan berbasis metode DPPH . Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Konsentrasi sampel (AAg/mL) % Inhibisi Kuersetin % Inhibisi Ekstrak Gambar 2. Perbandingan Kurva Aktivitas Antioksidan Kuersetin dan Ekstrak Etanol Herba Seledri terhadap Radikal DPPH Pada konsentrasi 2 ppm, ekstrak menunjukkan persen inhibisi sebesar 21,265%, sedangkan kuersetin sekitar 6%. Pada konsentrasi tertinggi yaitu 10 ppm, ekstrak mencapai inhibisi sebesar 82,676%, sedangkan kuersetin sekitar 62%. Peningkatan persen inhibisi yang cukup signifikan ini mengindikasikan bahwa ekstrak memiliki kemampuan antioksidan yang kuat terhadap radikal DPPH. Kurva kedua sampel menunjukkan pola peningkatan yang relatif linear, yang menandakan adanya hubungan positif antara konsentrasi sampel dan aktivitas penangkapan radikal bebas. Aktivitas antioksidan pada ekstrak etanol herba seledri diduga dipengaruhi oleh kandungan senyawa fenolik dan flavonoid yang terdapat dalam ekstrak, sebagaimana hasil skrining fitokimia dan penetapan kadar total fenolik yang telah dilakukan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan hasil penetapan kadar total fenol yang tinggi pada ekstrak etanol herba seledri, mengingat senyawa fenolik telah dilaporkan sebagai kontributor utama aktivitas antioksidan pada ekstrak herbal. Beberapa studi terbaru menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan berbasis metode DPPH pada berbagai tanaman obat. Dengan demikian, grafik ini memperkuat hasil uji aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba seledri, di mana hubungan linear yang sangat kuat antara ln konsentrasi dan persentase inhibisi mendukung keandalan perhitungan nilai ICCICA. Hasil ini mengonfirmasi bahwa ekstrak etanol herba seledri (Apium graveolens L. ) memiliki aktivitas antioksidan yang signifikan dan berpotensi dikembangkan sebagai sumber antioksidan alami dalam bidang farmasi. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan positif antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan ekstrak etanol herba Kandungan fenol yang terdeteksi melalui skrining dan analisis kuantitatif berperan dalam mekanisme penangkapan radikal bebas pada uji DPPH. Hal ini sejalan dengan konsep farmasi dan fitokimia bahwa senyawa fenolik merupakan salah satu kontributor utama aktivitas antioksidan pada tanaman obat. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan satu jenis ekstrak sehingga analisis korelasi statistik antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan belum dapat dilakukan secara memadai. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan menggunakan beberapa variasi ekstrak atau fraksi dengan kandungan fenolik berbeda agar hubungan antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan dapat dianalisis secara statistik menggunakan uji korelasi Pearson. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, nilai ICCICA ekstrak etanol herba seledri diperoleh sebesar 21,023 AAg/mL, yang termasuk dalam kategori antioksidan sangat kuat. Meskipun nilai ICCICA ekstrak lebih besar dibandingkan kuersetin, hasil ini masih tergolong sangat baik untuk suatu ekstrak kasar, mengingat ekstrak merupakan campuran kompleks berbagai senyawa aktif dan nonaktif . Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak memiliki kemampuan efektif dalam meredam radikal bebas. Aktivitas antioksidan yang tinggi ini diduga kuat berasal dari kandungan senyawa fenolik dan flavonoid dalam ekstrak, sebagaimana tercermin dari hasil penetapan kadar total fenol yang tinggi. dapat diinterpretasikan bahwa tingginya kadar total fenol pada ekstrak etanol herba seledri diduga berkontribusi terhadap aktivitas antioksidan yang kuat berdasarkan hasil uji DPPH. Namun, hubungan statistik antara kadar total fenol dan aktivitas antioksidan belum dapat dipastikan secara kuantitatif karena penelitian ini hanya menggunakan satu jenis sampel ekstrak etanol herba seledri. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kandungan fenol yang tinggi berkontribusi terhadap rendahnya nilai ICCICA, yang menandakan kemampuan antioksidan yang kuat. Hal ini memperkuat teori bahwa senyawa fenolik merupakan kontributor utama dalam mekanisme penangkapan radikal bebas melalui stabilisasi radikal dan pemutusan reaksi berantai Parameter validasi yang belum tersedia disebabkan keterbatasan data analisis statistik kurva kalibrasi pada penelitian ini dan disarankan untuk dilengkapi pada penelitian selanjutnya. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan proses pencucian simplisia yang lebih intensif dan terstandarisasi sebelum pengeringan guna mengurangi kemungkinan kontaminasi tanah atau partikel anorganik lain yang dapat meningkatkan kadar abu total ekstrak. Konflik Kepentingan Studi ini tidak memiliki keterlibatan konflik kepentingan, baik yang bersifat finansial, personal, maupun kelembagaan, yang dapat memengaruhi hasil penelitian. Seluruh proses penelitian dilaksanakan secara independen dan tanpa intervensi dari pihak mana pun. Referensi