AN-NAFIS: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol. 1 No. Tahun 2022 PEMBELAJARAN TUNTAS KITAB KUNING DI PONDOK PESANTREN IBNU AMIN PAMANGKIH (TINJAUAN METODE DAN EVALUASI) Junaidi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Muhammad Nafis Tabalong. Indonesia Email: m. junaidialbagdadi@gmail. ABSTRACT This research departs from the complete learning system of the Yellow Book that exists at the Ibnu Amin Pamangkih Islamic Boarding School. Therefore, this study aims to determine the complete learning of the Yellow Book at the Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih in terms of methods and evaluations. This type of research is field research and the approach used is a qualitative approach. The subjects of this study were 5 clerics of the Ibnu Amin Pamangkih Islamic Boarding School and 1 alumni of the Ibnu Amin Pamangkih Islamic Boarding School. The object of this research is the complete study of the Yellow Book at the Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih, a review of methods and evaluation. Data collection techniques were carried out by means of interviews, observations and documentaries. The data processing technique uses data reduction, data display and data verification. The research analysis uses descriptive qualitative analysis. The results of this study indicate that . The learning methods used are the rote method, the sorogan method, the wetonan/bandongan method, the mudzakarah/bahsul masail method, the question and answer method, the peer tutor method, the i'rab sentence method and the exemplary method. Evaluation of student learning outcomes is carried out thoroughly and continuously, in measuring learning abilities that include all aspects of ability in an integrated manner by checking the ability to read, memorize and explain the content of a book. The students have been tested not only for mastery of knowledge . but also reading, listening, explaining . skills and at the same time evaluating the attitude of students towards science . Keywords: Complete Learning. Methods and Evaluation. ABSTRAK Penelitian ini beranjak dari sistem pembelajaran tuntas Kitab Kuning yang ada pada Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembelajaran tuntas Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih yang ditinjauan dari metode dan evaluasinya. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan . ield researc. dan pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 5 orang ustadz Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih dan 1 orang alumni Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih. Objek penelitian ini adalah pembelajaran tuntas Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih tinjauan pada metode dan evaluasi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan dokumenter. Teknik pengolahan data menggunakan reduksi data, display data dan verifikasi data. Analisis penelitiannya menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa . Metode pembelajaran yang digunakan ialah metode hapalan, metode sorogan, metode wetonan/bandongan, metode mudzakarah/bahsul masail, metode tanya jawab, metode tutor sebaya, metode iAorab kalimat dan metode suri . Evaluasi hasil belajar santri dilakukan secara menyeluruh dan kontinu, dalam mengukur kemampuan belajar yang mencangkup segala aspek kemampuan secara terpadu dengan mengecek kemampuan membaca, menghafal dan menjelaskan kandungan sebuah kitab. Santri telah diuji tidak saja pengusaan ilmu . tetapi juga keterampilan membaca, menyimak, menjelaskan . dan sekaligus juga evaluasi terhadap sikap santri akan ilmu . Kata Kunci: Pembelajaran Tuntas. Metode dan Evaluasi. PENDAHULUAN Pondok pesantren telah lama mendapat pengakuan masyarakat dan diakui sebagai lembaga pengajaran yang turut beperan serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak hanya dari segi perbaikan moral, namun telah pula memberikan sumbangsih yang besardalam penyelenggaraan pendidikan terutama dalam metode Meskipun lembaga pendidikan modern semakin banyak bermunculan, ternyata pesantren tradisional hingga kini masih eksis. Ia merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan ulama masa depan, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memfilter dampak negatif kehidupan modern, keberadaannya tidak hanya bertahan, akan tetapi dari masa ke masa kuantitasnya berkembang pesat. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memiliki kekhasan, baik dari segi sistem maupun unsur pendidikan yang dimilikinya. Karakteristik yangmelekat pada pesantren, yaitu pondok, masjid, pengajaran kitab klasik dan Kelas-kelas pesantrendibagi tiga kelompok. Pertama, pesantren yang tergolong kecil jumlah santri dibawah seribu. Kedua, pesantren menengah jumlah santri antara seribu sampai dua ribu orang. Ketiga, pesantren besar dengan jumlahsantri sekitar lebih dari dua ribu orang, dan semua itu berasal dari berbagai kabupaten dan provinsi. (Zamakhsyari Dhofier, 2. Masing-masing pesantren memiliki kurikulumnya sendiri yang berbeda antara pesantren satu dangan yang lainnya. Upaya standarisasi kurikulum pesantren selalu berhadapan dengan otonomi pesantren sebagai pantulan dari otoritas kyai dan spesialisasi ilmu yang dimilikinya. Sebagian besar kalangan pesantren tidak setuju dengan standarisasi kurikulum pesantren. Biarlah pesantren tetap dengan kekhususankekhususan mereka, sebab hal itu jauh lebih baik dari pada harus disamakan. Sebaliknya variasi kurikulum pada pesantren akan menunjukan ciri khas dan keunggulan masing-masing. Penyamaan kurikulum dipandang membelenggu kemampuan santri seperti pengalaman yang terjadi pada madrasah yang mengikuti kurikulum pemerintah. Lulusan madrasah ternyata hanya memiliki kemampuan yang setengah-setengah (Mujamil Qamar, 2. Pondok pesantren salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan dengan pendekatan tradisional, sebagaimana yang berlangsung sejak awal Pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam dilakukan secara individual atau kelompok dengan konsentrasi pada kitab-kitab klasik, bahasa Arab. Perjenjangan tidak didasarkan pada sistem waktu, tetapi berdasarkan tamatnya kitab yang di pelajari dengan selesainya satu kitab tertentu, santri dapat naik jenjang dengan mempelajari kitab yang tingkat kesulitannya lebih tinggi. Demikian seterusnya, pendekatan ini, sejalan dengan prinsip pendekatan modern yang dikenal dengan sistem belajar tuntas. Dengan cara ini santri dapat lebih intensif mempelajari satu cabang ilmu (Departemen Agama RI, 2. Dalam bentuk ini, aktivitas pesantren belum dilakukan secara klasikal, tetapi masih bersifat tradisional yang dikenal dengan sistem bandongan, sorogan dan Sedang materi yang dipelajari begantung kepada keinginan kiai. Pada umumnya bahan-bahan yang dipelajari bersumber pada kitab-kitab agama . itab kunin. yang ditulis pada abad 7 s/d 13 masehi. Kurikulumnya juga belum dalam bentuk dokumen tertulis, tetapi masih terbatas pada pengertian Auhidden curriculumAy yang bersumber dari pengalaman-pengalaman yang dimiliki oleh kiainya . eacher Atas dasar ini, tidak heran masalah-masalah seperti pembobotan mata pelajaran, penjenjangan kelas, alokasi waktu, penentuan usia belajar dan lain-lain belum ditemukan dipesantren model ini. Kegiatan proses pembelajaran dilakukan dengan prinsip bahwa kiai tidak melakukan penambahan terhadap materi pelajaran yang diberikannya jika materi lama belum dikuasai oleh santri (Lias Hasibuan, 2. Berkenaan dengan uraian tersebut diatas penulis akan mencoba memfokuskan pembahasan terkait model, metode dan evaluasi pembelajaran yang diterapkan diPondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Pada umumnya kegiatan pembelajaran dipondok pesantren Ibnul Amin Pamangkih tidak jauh berbeda dari pondok pesantren lainnya, yaitu dalam kegiatan belajar mengajar guru telah melaksanakan strategi transmisi, transaksi dan transformasi. Trasmisi umumnya dilakukan dalam bentuk pengkajian kitab yang dilakukan oleh guru dalam bentuk pengajian halaqah dan hapalan. Transaksi terjadi dalam bentuk mudzakarah. Sedangkan informasi dalam bentuk sorogan dan wetonan. Meskipun demikian, pada umumnya sistem pembelajarannya masih didominasi oleh guru sebagai pemberi ilmu pengetahuan, sedangkan peran santri masih sangat kecil. Manhaj seperti ini tidak dalam bentuk jabaran silabus tetapi berupa kitab-kitab yang diajarkan pada santri karena kurrikulum ini menggunakan sistem kitab. Kitabkitab yang sudah ditentukan harus dipelajari sampai tuntas sebelum naik ke jenjang kitab selanjutnya yang lebih tinggi tingkat kesukarannya. Standar kompetensi yang digunakan adalah penguasaan kitab secara graduatif berurutan dari yang mudah sampai yang sukar, dari kitab yang tipis sampai ke kitab yang berjilid-jilid (Departemen Agama RI, 2. Dalam penjajakan awal penulis melakukan observasi di lapangan dan penulis mendapatkan temuan awal yaitu bahwa Pondok Pesantren Ibnul Amin adalah lembaga pendidikan yang non klasikal yaitu tidak memakai sistem penjenjangan tingkatan kelas, melainkan dengan sistem tingkatan kitab. Secara formal kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan di dalam kelas hanya berlangsung 1 . jam pembelajaran, dan selebihnya santri dituntut untuk belajar aktif dan mandiri dalam rangka mencapai target pembelajaran secara tuntas. Masa pembelajaran dilakukan selama 3 bulan. Sedangkan setengah bulannya digunakan untuk evaluasi dan selama masa pembelajaran tersebut, dilaksanakan evaluasi sebanyak 2 . kali yaitu pretes dan post tes. Setiap santri wajib menjalani ujian kitab untuk menguji penguasaan mereka terhadap kitab yang telah dipelajari. Apabila santri berhasil lulus dari ujian kitab tersebut maka santri dapat meneruskan ke tingkatan kitab selanjutnya. Evaluasi dilakukan dalam bentuk kemajuan belajar berdasarkan ukuran penguasaan materi kitab yang dipelajari. Aspek utama yang menjadi ukuran ialah kemampuan ingatan . , membaca kitab tanpa harakat dan menjelaskan kandungannya. Model pembelajaran yang digunakan adalah model belajar tuntas . astery learnin. , menurut Rahmadi di pondok pesantren Ibnul Amin, para santri pemula . , atau para santri yang baru mengikuti pendidikan di pesantren Ibnul Amin hanya diberi peiajaran khusus ilmu alat . ahwu shara. dan tidak diperkenankan mengikuti kitab kitab cabangan . Para santri dalam satu tahun diwajibkan menghafal materi- materi . nahwu- sharaf yang terdapat dalam kitab al- AjAorumiyyah , tasrifan, dan mutammimah, sedangkan kitab al Kaylani tidak wajib dihafal. Dengan menguasai kitab, kitab ilmu alat ini diharapkan pada tahun kedua santri telah siap mengkaji kitab-kitab gundul berbahasa Arab (Rahmadi, 2. Sedangkan metode yang digunakan dalam mencapai tujuan pembelajaran secara tuntas adalah metode sorogan, wetonan, hapalan dan tutor sebaya, dan evaluasi pembelajaran yang digunakan adalah evaluasi yang dapat mengukur keberhasilan belajar siswa secara menyeluruh yang mencangkup segala aspek kemampuan secara Dengan mengecek kemampuan membaca, menghafal dan menjelaskan kandungan sebuah kitab. Santri telah diuji tidak saja pengusaan ilmu . tetapi juga keterampilan membaca, menyimak, menjelaskan . dan juga evaluasi terhadap sikap santri akan ilmu . Selain itu, evaluasi ini juga dapat berfungsi untuk mengukur kemampuan dan keterampilan berbahasa dan penguasaan terhadap ilmu yang dipelajari. Penulis juga berhasil mewawancarai salah seorang alumnus Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih menurutnya di pamangkih ini . ondok Pesantren Ibnu Amin Pamangki. ini, pembelajarannya tidak memakai sistem penjenjangan tingkatan kelas, melainkan sistem naik kitab (Sistem tingkatan kitab dari paling bawah sampai paling ata. Pembelajarannya dilaksanakan pertiga bulan termasuk evaluasinya dan dua bulan setengah pembelajarannya. Apabila santrinya tidak memenuhi standar pembelajaran untuk mencapai target dalam tiga bulan itu dalam menyelesaikan pelajaran kitab yang sudah ditentukan maka santri tersebut tidak bias naik kitab ditiga bulan selanjutnya dengan meteri pelajaran kitab yang sudah ditentukan. Dalam uraian panjang diatas ada hal menarik bagi penulis untuk mengadakan penelitian di Pondok Pesantren Ibnul Amin pamangkih, yang tergolong pondok pesantren diniyah salafiyah. Ia merupakan salah satu pondok pesantren terkemuka dan terbesar ke-2 . di Kalimantan Selatan setelah Pondok Pesantren Darussalam Martapura. Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih juga telah dikenal mampu mencetak lulusan yang handal dalam penguasaan membaca kitab kuning. Merujuk pada apa yang ingin dimunculkan dalam penelitian ini, maka penulis ingin mengangkatnya dalam sebuah penelitian dengan judul AuPembelajaran Tuntas Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih (Tinjauan Metode dan Evaluas. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan . ield researc. dan pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini adalah 5 orang ustadz Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih dan 1 orang alumni Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih. Objek penelitian ini adalah pembelajaran tuntas Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih tinjauan pada metode dan Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi dan Teknik pengolahan data menggunakan reduksi data, display data dan verifikasi data. Analisis penelitiannya menggunakan analisis deskriptif kualitatif. PEMBAHASAN Jenis Metode yang Digunakan di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih Pengajian kitab kuning merupakan hal yang sangat penting dalam pendidikan Oleh karena itu, dalam dunia pendidikan di pesantren, para santri dituntut untuk minimal mampu membaca kitab kuning dengan terjemahannya dan dia juga mampu menjelaskan makna dari setiap teks yang tertulis dalam manuskrip mengaktualisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memenuhi tuntutan tersebut, dibutuhkan penggunaan metode pengajaran yang dapat memenuhi tuntutan Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada beberapa orang guru yang mengajar di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Ada beberapa metode yang diterapkan dalam pembelajaran kitab kuning yaitu: Metode Hapalan Metode ini merupakan salah satu bagian dari metode penugasan. Para santri diwajibkan untuk menghapal materi kitab seperti Kitab Tasrifan, al-Jurumiyah. Kailani dan Mutammimah setiap selesai pembelajaran dan menyetor kembali kepada guru setelah masuk jam pembelajaran berikutnya. Kegiatan menghapal materi kitab ini dilakukan setelah selesai jam pembelajaran setiap pagi hari . 00 wita s/d 10. 00 wit. dan sore hari . 00 wita s/d 16. 00 wit. Hal ini terus dilakukan sampai materi pembelajaran kitab selesai. Lama waktunya selama tiga bulan untuk tingkat pemula dan enam bulan untuk tingkat lanjutan. Target yang ingin dicapai adalah seluruh santri dapat menghapalkan seluruh isi kitab dan mengiAorab kalimat perkalimat. Metode hafalan . adalah suatu teknik yang digunakan oleh seorang pendidik dengan menyerukan peserta didiknya untuk menghapalkan sejumlah kata . atau kalimat-kalimat maupun kaidahkaidah (Abdul Mujib, 2. Metode ini sangat penting untuk mengasah otak dan kecerdasan santri. Ini juga menumbuhkan minat belajar, giat membaca,sehingga berulang-ulang. Metode ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran kitab kuning di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih, khususnya bagi santri pemula yang baru belajar ilmu dasar atau ilmu alat seperti ilmu nahwu sharaf. Dengan metode menghapal ini santri bisa berargumentasi dengan dalil atau kaidah Nahwu yang jelas, sehingga tidak terjebak dengan wacana belaka dan argumentasi tanpa dasar. Metode Sorogan Pelaksanaan metode ini, para santri Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih secara perorangan membaca teks kitab kuning/kitab gundul dihadapan guru. Santri dibimbing langsung oleh guru. Guru mendengarkan dan mengoreksi bacaan santrinya sesuai kaidah ilmu bahasa Arab fushah yang disertai dengan terjemahan perkata ataupun perkalimat dan makna yang dimaksud. Bahasa yang dipilih adalah bahasa daerah atau bahasa Indonesia. Metode ini disebut sorogan, karena sorogan berasal dari bahasa jawa AusorogAy yang memiliki arti menyodorkan (Nana Sudjana, 2. Secara istilah metode ini disebut sorogan karena santri menghadap kiai/ustadz pengajar seorang demi seorang dan menyodorkan kitab untuk dibaca dan dikaji bersama dengan kiai atau ustadz tersebut (Imam Banawi, 2. Pelaksanaan metode ini dengan cara santri menghadap kepada guru seorang demi seorang secara bergiliran dengan membaca kitab yang akan dipelajari dihadapan sang guru, metode ini menitiki beratkan pada kemampuan perseorangan yang mengandung prinsifprinsif sistem modul, belajar individual . ndividual learnin. , belajar tuntas . astery learnin. dan maju berkelanjutan . ontinuous progres. (Ali Anwar, 2. Metode sorogan ini sangat efektif untuk diterapkan di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih. Karena dengan itu, santri lebih aktif melatih keterampilannya dalam membaca kitab kuning, yang menitik beratkan pada gramatika bahasa Arab. Dengan cara ini guru dapat langsung mengetahui sudah sejauh mana kemampuan muridnya dalam menguasai materi dari berbagai aspek. Metode Wetonan/Bandongan atau Metode Halaqah Pelaksanaan metode ini, para santri mengikuti pelajaran dengan duduk di sekeliling guru. Guru membacakan kitab kuning yang dipelajari saat itu, santri menyimak dan membuat catatan. Guru membacakan kitab dan menterjemahkan serta menguraikan makna yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran dilakukan secara klasikal dengan jumlah yang banyak pada kitab yang sama. Metode wetonan/ bandongan merupakan metode utama dalam sistem pengajaran dipesantren. Dalam sistem ini, sekelompok murid . ntara 5 sampai dengan 500 muri. mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, menerangkan dan sering mengulas buku-buku Islam dalam bahasa Arab. Setiap murid memperhatikan bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan baik arti maupun keterangan tentang kata-kata atau buah pikiran yang sulit untuk dipahami. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang secara bahasa diartikan lingkaran murid, atau sekelompok siswa yang belajar di bawah bimbingan seorang guru (Zamakhsyari Dhofier, 2. Metode ini sangat efektif untuk diterapkan, karena dengan begitu santri dapat langsung menggali spesialisasi keilmuan yang dimiliki oleh sang kiayi. Metode Mudzakarah. Pelaksanaan metode ini, para santri berkumpul yang dipimpin seorang guru atau santri senior. Kemudian para santri membentuk lingkaran . yang bertempat di mushalla atau di dalam kelas. Muzakarah ini dilaksanakan pada malam hari setelah shalat Isya. Dalam pelaksanaan metode ini, para santri diperkenankan untuk menyampaikan, atau memberikan argumentasi terhadap pemahaman materi yang ia pelajari serta menanyakan sesuatu yang masih belum dimengerti, untuk dimuzakarahkan bersama. Metode mudzakarah bisa juga disebut metode diskusi yaitu suatu pertemuan ilmiah yang secara spesifik membahas masalah diniyyah seperti aqidah, ibadah dan masalah agama pada umumnya. Aplikasi metode ini dapat mengembangkan dan membangkitkan semangat intelektual santri. Mereka diajak berfikir ilmiah dengan menggunakan penalaran-penalaran yang didasarkan pada AlqurAoan dan Al-sunah serta kitab-kitab keislaman klasik (Syaiful Bahri Djamarah. Metode ini sangat efektif untuk melatih kemampuan santri dalam berdiskusi, mengemukakan pendapat disertai dengan argumentasi ilmiah berdasarkan kitab Selain itu, metode ini bertujuan membentuk pribadi santri yang gemar bermusyawarah, bersama-sama memecahkan masalah dengan mengedepankan saling menghargai pendapat antara satu sama lain. Metode Tutor Sebaya Pelaksanaan metode ini, para santri senior ditugaskan untuk memberikan pengajaran kitab dan bimbingan terhadap santri baru yang belum tuntas. Tujuan metode ini adalah memberdayakan santri senior dalam hal membantu mengatasi kesulitan belajar pada santri pemula. Menurut Suharsimi Arikunto adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawan sebangku atau kawan yang lain karena tidak adanya rasa enggan atau malu untuk bertanya, guru dapat meminta bantuan kepada anak-anak yang menerangkan kepada kawan-kawannya. Pelaksanaan ini disebut tutor sebaya karena mempunyai usia yang hampir sebaya (Suharsimi Arkunto, 2. Metode ini sangat, karena dengan ini suasana keakraban dan kekeluargaan santri akan terjalin dengan baik, santri junior menghormati yang senior, dan santri senior menyayangi terhadap santri junior, sehingga tercipta kelompok belajar yang Metode Tanya Jawab Pelaksanaan metode ini, guru memberikan pertanyaan kepada santri atau sebaliknya tentang penjelasan yang diberikan pada pertemuan tersebut. Hal ini dilakukan setiap selesai penjelasan materi. Metode Tanya jawap Adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, dapat pula dari siswa kepada guru (Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, 2. Metode ini sangat efektif karena guru dapat langsung melihat respon santri terhadap pembelajaran yang telah diberikan. Selain itu guru membuka pertanyaan dan mempersilahkan santri untuk bertanya. Dengan begitu, santri dapat langsung menanyakan kepada gurunya terhadap sesuatu yang musykil . esuatu yang belum dimengert. dengan penuh adab dan penghormatan kepada gurunya. Metode ini bisa menutupi kekurangan dalam metode wetonan yang menjadikan santri hanya sebagai penerima pembelajaran dan bersifat pasif. Metode IAorab Kalimat Pelaksanaan metode ini, guru mengAoirabkan setiap `ibarat kalimat yang tertera pada teks kitab kuning pada setiap pembelajaran, kemudian guru memberikan contoh kalimat berserta penjelasan contoh secara langsung, seperti bentuk kalimat, kedudukan kalimat dan lain-lain. Metode ini diterapkan kepada santri yang sudah mempunyai dasar-dasar ilmu Bahasa Arab. Metode ini juga bertujuan agar santri bisa mengkiaskannya kepada kalimat-kalimat lain, sehingga terlatih dalam mengiAorabkan setiap kalimat dalam bahasa Arab. Bahkah santri wajib menghapal IAorab kalimat yang ditulis oleh guru supaya. Metode IAorab yaitu metode pembelajaran tata bahasa Arab yang digunakan untuk menguraikan setiap kata dalam susunan kalimat bahasa Arab menurut bina dan IAorabnya, alamatnya, jenisnya dan lain-lain. Metode ini sangat efektik, karena dapat melatih memori ingatan santri. Selain itu, metode ini bertujuan memberikan pemahaman kepada santri dalam hal tata cara mentaAobir dengan benar, sesuai kaidah bahasa Arab. Keunggulan metode ini adalah melatih para santri supaya mahir dalam penguasaan ilmu alat (Nahwu. Sharaf dan Luga. Dengan demikian santri menjadi ahli dalam membaca, menterjemahkan dan menguraikan makna kalimat yang tertulis dalam kitab kuning. Metode Suri Tauladan Pelaksanaan metode ini, para guru memberikan contoh atau keteladanan secara langsung, baik dari segi cara beribadah, bermu`amalah maupun akhlak yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Metode yang dapat diartikan sebagai Auketeladanan yang baikAy. Dengan adanya teladan yang baik itu maka akan menumbuhkan hasrat bagi orang lain untuk meniru dan mengikutinya, karena pada dasarnya dengan adanya contoh ucapan, perbuatan dan contoh tingkah laku yang baik dalam hal apapun, maka hal itu merupakan suatu amaliyah yang penting dan paling berkesan, baik bagi pendidikan anak, maupun dalam kehidupan pergaulan manusia sehari-hari (Pupuh Fathurrohman dan M. sobry Sutikno, 2. Keteladanan guru merupakan kunci keberhasilan metode-metode yang diterapkan oleh guru. Guru sebagai model percontohan utama bagi semua muridnya dari segala aspek, karena Aulisanul hal afsoh min lisan al maqolAy memberikan teladan jauh baik dari memberi materi. Bersadarkan hasil penelitian penulis, bahwa metode pembelajaran kitab kuning yang diterapkan di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih adalah Metode Hapalan. Metode Sorogan. Metode Sorogan. Metode Wetonan/Bandongan. Metode Muzakarah/Bahsul Masail. Metode Tanya Jawab. Tutor Sebaya. Metode IAorab kalimat dan Metode Suri Tauladan. Evaluasi Pembelajaran Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih Berdasarkan hasil wawancara dan dokumentasi yang penulis dapatkan dilapangan, ditemukan jenis, sifat dan macam-macam evaluasi belajar yang digunakan yaitu: Jenis Evaluasi Belajar yang Digunakan oleh Guru Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih . Evaluasi yang digunakan unuk mengetahui hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah ia menyesaikan pembelajaran kitab. Evaluasi terhadap hasil penganalisaan keadaan belajar santri, baik merupakan kesulitan belajar atau hambatan yang ditemui dalam situasi belajar mengajar. Guru setiap selesai pelajaran akan memberikan evaluasi belajar dan memperbaiki strategi dalam memberikan pemahaman terhadap Sifat-Sifat Evaluasi yang Digunakan Guru di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih dalam Pembelajaran Kitab Kuning Sifat evaluasi yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran kitab kuning . Kuantitatif, yaitu hasil evaluasi yang diberikan berupahasil skor nilai mulai dari angka 100 sampai 1000 untuk tingkat pemula. Sedangkan untuk tingkat lanjutan/menengah hasil skor nilai mulai dari 100 sampai dengan . Kualitatif, yaitu hasil evaluasi yang didahulukan dengan pernyataan verbal, berupa . ernyataan naratif dalam kata-kat. , hasil ini, diklasifikasikan menjadi: rasib . idak tunta. dengan nilai kurang dari 500. Maqbul . untas minimu. dengan nilai 500-600. Jayyid . untas dengan predikat bai. dengan nilai 600-750. Jayyid jidan . untas dengan predikat sangat bai. dengan nilai 750-999. Mumtaz . untas dengan predikat memuaska. dengan hasil nilai 1000. Sedangkan untuk tingkat lanjutan/menengah, hasil evaluasi diklasifikasikan menjadi: rasib . idak tunta. dengan nilai kurang dari 100. Maqbul . untas minimu. dengan nilai 100-200. Jayyid . untas dengan predikat bai. dengan nilai 200-300. Jayyid jiddan . untas dengan predikat sangat bai. dengan nilai 300-400. Mumtaz . untas dengan predikat memuaska. dengan hasil nilai 400. Macam-Macam Evaluasi yang Digunakan oleh Guru di Pondok Pesantren Ibnul Amin Pamangkih dalam Pembelajaran Kitab Kuning pada Tingkat Pemula dan Tingkat Lanjutan/Menengah. Tes tertulis. Evaluasi ini dilakukan setelah selesai mempelajari materi kitab kuning. Tes lisan. Evaluasi ini dilaksanakan setelah selesai pelaksanaan tes tetulis. Evaluasi ini, terdiri dari pertanyaan tentang materi yang telah dipelajari. Tes perbuatan. Evaluasi absensi santri ini dilakukan untuk mengetahui keaktifan santri dalam mengikuti pelajaran, dan dalam pelaksanaannya guru menetapkan bahwa setiap satu kitab pelajaran tidak boleh absen/alfa sebanyak 25 kali tanpa alasan dengan sangsi tidak dapat mengikuti tes kenaikan kitab. Santri diwajibkan mengulang pelajarannya kembali. SIMPULAN Pembelajaran tuntas Kitab Kuning di Pondok Pesantren Ibnu Amin Pamangkih tergambar pada uraian berikut: Metode pembelajaran yang digunakan ialah metode hapalan, metode sorogan, metode wetonan/bandongan, metode mudzakarah/bahsul masail, metode tanya jawab, metode tutor sebaya, metode iAorab kalimat dan metode suri tauladan. Metode pembelajaran kitab kuning yang diterapkan ini, sudah sesuai dengan prinsip belajar tuntas dan terbukti telah berhasil mencetak ulama yang ahli kitab kuning. Evaluasi hasil belajar santri dilakukan secara menyeluruh dan kontinu, dalam mengukur kemampuan belajar, yang mencangkup segala aspek kemampuan secara Dengan mengecek kemampuan membaca, menghafal dan menjelaskan kandungan sebuah kitab. Santri telah diuji tidak saja pengusaan ilmu . tetapi juga keterampilan membaca, menyimak, menjelaskan . dan sekaligus juga evaluasi terhadap sikap santri akan ilmu . Selain itu, evaluasi ini mengukur kemampuan dan keterampilan berbahasa dan penguasaan terhadap ilmu yang dipelajari. DAFTAR PUSTAKA