JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BORNEO -ISSN: 2615-4. -ISSN: 2579-9. VOLUME 6 NOMOR 3 TAHUN 2022 (Halaman 278-. Diterima: Agustus 2022 Disetujui: Oktober 2022 Dipublikasikan: Desember 2022 EDUKASI KESEHATAN TENTANG ANEMIA PADA REMAJA PUTRI Health Education About Anemia In Adolescent Wahida1*. Gusriani2. Nur Indah Noviyanti3 Jurusan Kebidanan. Poltekkes Kemenkes Mamuju. Jl. Griya Masagena 4. Mamuju, 085299497577 Jurusan Kebidanan. Universitas Borneo Tarakan. Tarakan, 082188737351 * Penulis Korespodensi : idha. soenardi@gmail. ABSTRAK Anemia merupakan keadaan dimana jumlah kadar hemoglobin (H. di dalam darah berada di bawah Remaja putri beresiko mengalami anemia defisiensi zat besi. Menurut WHO, kadar hemoglobin normal wanita dengan usia diatas 15 tahun yakni >12,0 g/dl (>7,5 mmo. Edukasi pengetahuan gizi dapat meningkatkan pengetahuan gizi dan mencegah anemia pada remaja putri. Tahapan pengabdian ini mencakup: Survei sekolah yang akan diberikan edukasi. Pengumpulan data tentang permasalahan remaja yang ada di SMA 1 Kalukku. Konsultasi dan perizinan untuk memberikan edukasi dan deteksi dini melalui pemeriksaan Hb. Penyusunan materi, metode, dan alat yang digunakan untuk penyuluhan dan pemeriksaan. Pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pemeriksaan tekanan darah dan deteksi dini anemia serta Evaluasi pelaksanaann kegiatan penyuluhan dan deteksi dini Evaluasi kegiatan PkM ini menggunakan lembar observasi. Hasil pemeriksaan kadar Hb remaja putri menunjukan dari 62 remaja putri sebanyak 38 . 29%) tidak anemia, 18 . 03%) anemia ringan dan sebanyak 6 . 6%) anemia Hasil dari kuesioner memperlihatkan sebanyak 59,2% peserta memiliki pengetahuan kurang baik dan 40,8% memiliki pengetahuan baik dan setelah diberikan edukasi terdapat peningkatan pengetahuan remaja putri yakni 30. 3% memiliki pengetahuan kurang dan 69. 7% dengan pengetahuan baik. Setelah diberikan edukasi terdapat peningkatan pengetahuan remaja putri yakni dari 59. 2% menjadi 30. dengan tingkat pengetahuan kurang. Selanjutnya dari 40,8% menjadi 69. 7% untuk pengetahuan baik. Peningkatan pengetahuan pada remaja putri tentang anemia diharapkan dapat mencegah atau menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri di Kab. Mamuju. Kata Kunci: anemia, remaja putri, hemoglobin, edukasi ABSTRACT Anemia is a condition in which the amount of hemoglobin (H. in the blood is below normal. Adolescent girls are at risk for iron deficiency anemia. According to WHO, the normal hemoglobin level for women over the age of 15 is >12. 0 g/dl (>7. 5 mmo. Nutrition knowledge education can increase nutrition knowledge and prevent anemia in adolescent girls. The stages of this service include: Survey of schools that will be given education. Collecting data on adolescent problems in SMA 1 Kalukku. Consulting and licensing to provide education and early detection through Hb checks. Preparation of materials, methods, and tools used for counseling and examinations . Implementation of counseling activities, blood pressure checks and early detection of anemia as well as Evaluation of the implementation of counseling activities and early detection The evaluation of PkM activities uses observation sheets. The results of the examination of the Hb levels of adolescent girls showed that from 62 female adolescents, 38 . were not anemic, 18 . 03%) had mild anemia and 6 . 6%) were moderately anemic. The results of the questionnaire showed that 59. 2% of participants had poor knowledge and 40. 8% had good knowledge and after being given education there was an increase in the knowledge of young women, namely 30. had less knowledge and 69. 7% with good knowledge. After being given education, there was an increase in the knowledge of young women from 59. 2% to 30. 3% with less knowledge. Furthermore, from 40. 7% for good knowledge. Increased knowledge of adolescent girls about anemia is expected to prevent or reduce the incidence of anemia in adolescent girls in the district Mamuju. Wahida et al. Edukasi Kesehatan Tentang Available at http://jurnal. id/index. php/jpmb JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BORNEO . -ISSN: 2615-4. -ISSN: 2579-9. VOLUME 6 NOMOR 3 TAHUN 2022 (Halaman 278-. Diterima: Agustus 2022 Disetujui: Oktober 2022 Dipublikasikan: Desember 2022 Keywords: anemia, adolescent, hemoglobin, education Masa perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seseorang individu (Junita & Wulansari, 2. Masa ini merupakan periode transisi dari masa anak-anak ke masa dewasa yang ditandai dengan percepatan perkembangan fisik mental emosional dan sosial yang langsung pada masa kehidupan. Salah satu masalah yang sering mucul pada remaja putri adalah anemia (Sari et al. , 2. Anemia merupakan keadaan dimana eritrosit dan masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh (Fitriany & Saputri, 2. Anemia dapat diartikan sebagai penurunan kadar hemoglobin serta hitungan eritrosit dan hematokrit dibawah normal (Hartati, 2. Menurut WHO, kadar hemoglobin normal wanita dengan usia diatas 15 tahun yakni >12,0 g/dl (>7,5 Menurut WHO . , anemia sering menyerang remaja putri karena keadaan stress, haid, atau terlambat makan, selain status sosial ekonomi keluarga dan kebiasaan makan tradisional sangat penting dalam pengembangan anemia. Pada remaja, ketakutan bertambahnya berat badan dan tidak disukai, pemeriksaan kecemasan dan, kebiasaan makan yang tidak teratur adalah rendahnya asupan menyebabkan anemia. Anemia disebabkan karena kurangnya asupan zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin, yaitu zat besi ( F. , vitamin C dan tembaga. Zat besi diperlukan untuk membentuk bagian heme dari hemoglobin, vitamin C juga merupakan unsur esensial untuk pembentukan hemoglobin dan tembaga diperlukan untuk absorpsi besi dari traktus gastrointestinal. Anemia ditandai dengan gejala letih, lesu, pucat, tidak bertenaga, kurang selera makan dan tangan dan kaki dingin. Gejalagejala tersebut harus segera diatasi agar tidak menimbulkan dampak yang lebih serius terhadap kualitas sumber daya Dampak anemia pada remaja antara pertumbuhan,menurunkan fisik, menurunkan daya tahan tubuh dan produktivitas kerja serta kebugaran yang Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran nomor HK 03. 03/V/0595/2016 tentang Pemberian Tablet Tambah Darah pada Remaja dan Wanita Usia Subur. Cakupan pemberian Tablet Tambah Darah pada remaja putri sebesar 76,2%, dengan 80,9% diantaranya mendapat TTD di sekolah jika remaja putri masih merupakan siswi dari sebuah sekolah. Remaja putri yang mendapat TTD di sekolah dan mengonsumi Ou52 butir hanya sebanyak 1,4%, sedangkan, 98,6% lainnya mengonsumsi < 52 butir. Beberapa faktor dapat mempengaruhi kejadian anemia pada remaja diantaranya, tingkat pendidikan, asupan besi, status gizi, status ekonomi, infeksi atau penyakit, demografi, gaya hidup, serta kurangnya Kurangnya pengetahuan remaja tentang anemia merupakan salah satu alasan kelompok remaja menjadi kelompok rawan menderita anemia (Sefaya, dkk. , 2. , hal tersebut juga didukung oleh Weliyati & Riyanto, . yang menyatakan bahwa remaja putri yang berpengetahuan rendah lebih rentan terhadap anemia dibandingkan yang berpengetahuan baik. Kurangnya pengetahuan tersebut juga akan mengurangi kemampuan seseorang untuk menerapkan informasi gizi dalam kehidupan sehari-hari Wahida et al. Edukasi Kesehatan Tentang Available at http://jurnal. id/index. php/jpmb JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BORNEO . -ISSN: 2615-4. -ISSN: 2579-9. VOLUME 6 NOMOR 3 TAHUN 2022 (Halaman 278-. Diterima: Agustus 2022 Disetujui: Oktober 2022 Dipublikasikan: Desember 2022 (Nuryanto, dkk. , 2. , hasil penelitian Sarni . menyimpulkan bahwa tingkat pengetahuan juga berpengaruh pada perubahan sikap remaja dalam pencegahan anemia, hal tersebut juga didukung oleh Notoatmodjo . dalam membentuk sikap yang utuh, diperlukan keterlibatan antara pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan Salah satu cara untuk meningkatkan pengetahuan seseorang yaitu dengan cara memberikan edukasi gizi sedini mungkin. Pendidikan gizi ini dapat diberikan melalui penyuluhan, pemberian poster, leaflet atau Berdasar pada hal tersebut, tim pemeriksaan hemoglobin kepada remaja putri yang merupakan siswi SMA 1 Kalukku sosialisasi dan edukasi tentang anemia. METODE Kegiatan hemoglobin dan edukasi pendidikan Kesehatan tentang anemia pada remaja putri dilakukan di SMA 1 Kalukku Kab. Mamuju. Dilaksanakan tim pengabdi dengan melibatkan mahasiswa prodi d3 Kebidanan Poltekkes Kemenkes Mamuju. Kegiatan pengabdian masyarakat ini berfokus kepada pemetaan status kesehatan Hemoglobin (H. pada remaja putri, serta meningkatkan pengetahuan dan kesadaran melalui edukasi pencegahan anemia. Adapun rincian tahapan kegiatan PkM yang dilakukan oleh pengabdi adalah sebagai berikut: Survei sekolah yang akan diberikan Pengumpulan permasalahan remaja yang ada di SMA 1 Kalukku Konsultasi dan perizinan untuk memberikan edukasi dan deteksi dini melalui pemeriksaan Hb Penyusunan materi, metode, dan alat yang digunakan untuk penyuluhan dan Pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pemeriksaan tekanan darah dan deteksi dini anemia Evaluasi penyuluhan dan deteksi dini Evaluasi kegiatan PkM ini menggunakan lembar Analisa data menggunakan distribusi frekuensi. Media yang digunakan saat kegiatan adalah set alat cek kadar haemoglobin digital, flyer, kertas dan bolpoint. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan jadwal dan metode yang diusulkan. Berdasarkan evaluasi kegiatan, seluruh kegiatan dapat dilaksanakan dengan baik, tujuan kegiatan berhasil dicapai. Pemeriksaan Kadar Tekanan darah Kegiatan pertama yang dilakukan pada saat pelaksanaan pengabdian adalah pemeriksaan kadar hemoglobin untuk mengetahui status kejadian anemia. Hasil dari pemeriksaan haemoglobin yang telah dilakukan kepada remaja putri di SMA 1 Kalukku menunjukkan hasil pemeriksaan kadar haemoglobin darah pada 62 remaja putri ada di rentang 10,3-14,4 g/dL. Sebanyak 38 . 29%) tidak anemia, 18 . anemia ringan dan sebanyak 6 . anemia sedang. Anemia adalah suatu keadaan ketika kadar hemoglobin (H. dalam darah kurang dari normal. Anemia adalah suatu keadaan rendahnya konsentrasi Hb berdasarkan nilai ambang batas . yang disebabkan oleh rendahnya produksi sel darah merah . dan Hb, meningkatnya kerusakan eritrosit . , atau kehilangan darah yang berlebihan. Wahida et al. Edukasi Kesehatan Tentang Available at http://jurnal. id/index. php/jpmb JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BORNEO . -ISSN: 2615-4. -ISSN: 2579-9. VOLUME 6 NOMOR 3 TAHUN 2022 (Halaman 278-. Diterima: Agustus 2022 Disetujui: Oktober 2022 Dipublikasikan: Desember 2022 Perilaku konsumsi remaja putri terhadap bahan makanan dapat menjadi salah satu penyebab terjadinya anemia. Pada masa ini remaja mulai memilih makanan yang disukai dan tidak Pemilihan makanan remaja biasanya tidak didasarkan pada didasarkan pada kesenangan dan kehilangan status. Konsumsi remaja terhadap makanan yang serba instant dan kurang bergizi akan menyebabkan terjadinya masalah gizi, baik itu masalah kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Selain itu kekurangan akan zat gizi mikro seperti besi (F. dan asam folat dapat menyebabkan masalah gizi berupa anemia, yang dominan diderita oleh remaja putri. Hasil pemeriksaan tekanan darah pada remaja putri ada pada rentang 90-150 mmHg untuk sistol dan 60-100 mmHg untuk diastole. Banyak faktor yang mempengaruhi tekanan darah pada remaja. Faktor risiko tersebut dibedakan menjadi faktor risiko yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi riwayat hipertensi keluarga, berat lahir rendah, dan jenis kelamin. Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah meliputi obesitas, asupan natrium berlebih, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, dan kualitas tidur. Gambar 1. Pemeriksaan Tekanan Darah Gambar 2. Pemeriksaan Kadar Hemoglobin Tahap Edukasi Pencegahan Anemia Kegiatan edukasi pencegahan anemia dilakukan dengan pembagian flyer berisi tentang anemia. Pelaksanaan ceramah pada tahap penyuluhan berupa materi yang berkaitan dengan anemia. Selama kegiatan berlangsung, para remaja putri antusias mendengarkan materi yang sampaikan dan terjadi diskusi antara tim pengabdi dengan remaja putri. Kegiatan diawali dengan pre post untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja putri selanjutnya pemberian pelaksanaan post test. Hasil dari kuesioner memperlihatkan sebanyak 59,2% peserta memiliki pengetahuan kurang baik dan 40,8% memiliki pengetahuan baik dan setelah diberikan edukasi terdapat peningkatan Wahida et al. Edukasi Kesehatan Tentang Available at http://jurnal. id/index. php/jpmb JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT BORNEO . -ISSN: 2615-4. -ISSN: 2579-9. VOLUME 6 NOMOR 3 TAHUN 2022 (Halaman 278-. Diterima: Agustus 2022 Disetujui: Oktober 2022 Dipublikasikan: Desember 2022 pengetahuan remaja putri yakni 30. memiliki pengetahuan kurang dan 7% dengan pengetahuan baik. Terbentuknya dipengaruhi oleh pengetahuan yang Termasuk mengandung zat besi untuk mencegah anemia didasari atas pengetahuan yang dimiliki terkait anemia dan asupan gizi yang mencegah anemia. Pengetahuan yang diberikan ke remaja putri sebagai upaya pencegahan anemia diantaranya pengetahuan mengenai anemia dan ciri-ciri mengalami anemia, jenis-jenis makanan yang mengandung zat besi, zat gizi yang mempercepat penyerapan zat besi dan yang memperlambat penyerapan zat besi. Gambar 4. Pemberian Edukasi PENUTUP Edukasi pencegahan anemia dan pemeriksaan Hb di SMA 1 Kalukku berjalan sesuai dengan tahapan yang telah ditetapkan tim pengabdi. Setelah diberikan edukasi pencegahan anemia terdapat peningkatan pengetahuan remaja putri yakni dari 59. 2% menjadi 30. 3% dengan tingkat pengetahuan kurang. Selanjutnya dari 40,8% menjadi 69. 7% untuk Peningkatan pengetahuan pada remaja putri tentang anemia diharapkan dapat mencegah atau menurunkan angka kejadian anemia pada remaja putri di Kab. Mamuju. UCAPAN TERIMAKASIH