Mulyani. Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Buah pepaya. PENGENDALIAN PENYAKIT ANTRAKNOSA PADA BUAH PEPAYA MELALUI COATING METABOLIT SEKUNDER TRICHODERMA SP. (Controlling The Anthracnose On Papaya Fruits By The Coating Treatment Using Secondary Metabolites Trichoderma sp. Mulyani. Asie. dan Aruan. Program Studi Agroteknologi. Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Palangka Raya *E-mail: rahmawati. mulyani@agr. Diterima : 12/08/2021 Disetujui : 17/08/2021 ABSTRACT The purpose of this study was to determine the effect of secondary metabolites Trichoderma longibrachiatum and Trichoderma viride to control anthracnose (Colletotrichum gloeosporioide. on postharvest papaya fruit. Phase I, in vitro experiment was performed with the variables as follows. M0 treatment: without secondary metabolites. M2: secondary metabolites of Trichoderma M3: secondary metabolites of Trichoderma viride. Phase II, in vivo testing was carried out on secondary metabolites with the best inhibition results during the Phase I, i. MT0: without secondary metabolites and without pathogens. MT1 : without secondary metabolites and was added with the pathogen. and MT2: secondary metabolites Trichoderma sp. and the pathogens. The in vitro test results showed that the secondary metabolites T. longibrachiatum produced the best zone of inhibition at 30. 47 mm which was categorized as very strong. Secondary metabolites might affect the morphology of pathogenic hyphae such as twisted, lysis, shrinking or shrinking and swelling. In the in vivo test, there was no difference in the incubation period of the pathogen in all treatments, such as the early signs were observed on the 5th day. The lowest diameter of fruit damage was 1. 93 mm in the secondary metabolites treatment of T. longibrachiatum (MT. with only a 16. 66% of disease severity compared to the group samples without secondary metabolites (MT. , which had the highest disease severity of 51. Coating with secondary metabolites of T. longibrachiatum was able to extend the shelf life of papaya fruit to 8. 33 days compared to the control only 6. 73 days. Keyword : Anthracnose disease. Coating. Secondary metabolites. Trichoderma sp. ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder Trichoderma longibrachiatum dan Trichoderma viride mengendalikan penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioide. pada buah pepaya pascapanen. Pengujian tahap I secara in vitro dengan perlakuan M0 : tanpa metabolit sekunder. M2 : metabolit sekunder Trichoderma longibrachiatum dan M3 : metabolit sekunder Trichoderma viride. Pengujian Tahap II secara in vivo dilakukan pada metabolit sekunder dengan penghambatan terbaik hasil uji pada Tahap I yaitu MT0 : tanpa metabolit sekunder dan tanpa patogen. MT1 : tanpa metabolit sekunder diberi patogen. dan MT2 : metabolit sekunder longibrachiatum dan patogen. Hasil uji in vitro menunjukkan bahwa metabolit sekunder T. longibrachiatum menghasilkan zona hambat terbaik sebesar 30,47 mm dikategorikan sangat kuat. Metabolit sekunder berpengaruh terhadap morfologi hifa patogen seperti terpelintir, lisis, menyusut atau mengecil dan mengalami pembengkakan. Tidak terdapat perbedaan masa inkubasi patogen pada semua perlakuan yaitu gejala awal nampak pada hari ke 5. Diameter kerusakan buah terendah sebesar 1,93 mm pada perlakuan metabolit sekunder T. longibrachiatum (MT. dengan keparahan penyakit hanya 16,66 % dibandingkan dengan perlakuan tanpa metabolit sekunder (MT. sebesar 51,6 %. Pelapisan buah . dengan metabolit sekunder T. longibrachiatum mampu memperpanjang umur simpan buah pepaya menjadi 8,33 hari dibandingkan dengan kontrol hanya 6,73 hari. Kata kunci : Antraknosa. Coating. Metabolit Sekunder. Trichoderma sp. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :80 - 87 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. produk buah dan sayuran pascapanen (ElRamady et al. , 2. Perkembangan penyakit antraknosa dapat dihambat dengan menggunakan bahan pelapis . yang bertujuan untuk menghambat pelepasan gas, uap air dan kontak dengan oksigen dapat memperlambat pemasakan buah (Hamdayanty, 2. , dan juga dapat pascapanen karena dapat melindungi produk dari kerusakan mekanis, biologis dan mencegah kehilangan senyawa-senyawa volatil (Raghav et al. , 2. Metabolit sekunder adalah hasil dari metabolisme mikroba yang dieksresikan keluar selnya karena tidak ada manfaatnya bagi kehidupan mikroba tersebut. Trichoderma longibraciatum merupakan agen hayati yang potensial dikembangkan karena memiliki daya hambat yang konsisten. Penelitian Gustiara . menunjukkan bahwa T. mampu menghambat pertumbuhan patogen Fusarium oxysporum f. cubense sebesar 60% secara in vitro. Trichoderma viride dapat meningkatkan ketahanan tanamana cabai terhadap penyakit antraknosa, meningkatkan tinggi tanaman, dan meningkatkan jumlah buah pada varietas Ferosa dan Laris (Wulandari. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder longibrachiatum dan T. viride mengendalikan penyakit antraknosa pada buah pepaya PENDAHULUAN Pepaya merupakan salah satu tanaman hortikultura yang banyak di budidayakan di Indonesia. Produksi buah pepaya di Indonesia setiap tahunnya mengalami peningkatan. Berdasarkan data BPS . produksi pepaya di Indonesia fluktuatif dari tahun 2015 hingga 2017 pada tahun 2015 mencapai 851,532 ton, pada tahun 2016 mengalami peningkatan hingga 904,284 ton, namun pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 878,108 ton. Penurunan produksi pepaya disebabkan oleh kurangnya penggunaan varietas unggul dan teknologi pengembangan budidaya pepaya yang sesuai dengan standar. Selain karena faktor cuaca, sebagian petani kurang memerhatikan aspek sanitasi dalam perawatan tanaman terutama mengenai kebersihan lahan. Hal ini ikut menjadi faktor pendukung dalam meningkatnya kehilangan hasil karena serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan gangguan unsur hara, sehingga menyebabkan pepaya tidak berproduksi bahkan menjadi gagal Salah satu OPT utama yang menyebabkan kehilangan hasil pada tanaman pepaya adalah penyakit antraknosa yang disebabkan jamur patogen Colletotrichum gloesporiodes (Pen. Sacc. (Phyllachorales : Phyllachoracea. Kerugian yang disebabkan oleh penyakit antraknosa dapat mencapai 100%, karena buah berguguran dan pada varietas yang rentan menyebabkan mati pucuk . ie bac. (Wiyono. Pada umumnya antraknosa pada pepaya lebih dikenal sebagai penyakit pascapanen, akan tetapi Haggag dan Singer . melaporkan C. capsici dapat menyebabkan antraknosa sebelum dan sesudah pascapanen. Pengamatan di lapangan pada daerah Agrowisata Misik. Kelurahan Kalampangan. Kota Palangka Raya serangan penyakit antraknosa pada tanaman pepaya mencapai 61,11% (Komunikasi Pribadi. Wario, 01 Mei Penyakit ini umumnya dikendalikan dengan menggunakan fungisida sintetik, namun, penggunaan fungisida sintetik secara intensif dapat menimbulkan dampak negatif berupa resistensi dan juga residu pada pertanaman maupun hasil panen. Oleh karena itu, diperlukan pengendalian hayati yang lebih ramah lingkungan. Pengolahan pascapanen sekaligus pengendalian alternatif yang dapat dilakukan adalah coating atau pelapisan pada BAHAN DAN METODE Lokasi penelitian di Laboratorium Jurusan Budidaya Pertanian. Fakultas Pertanian. Universitas Palangka Raya dimulai bulan Juli hingga Oktober 2019. Patogen C. gloeosporioides diisolasi dari buah pepaya yang bergejala antraknosa, kemudian dilakukan kulturisasi dan pemurnian pada media Potato Dextrose Agar (PDA) selama 7 hari. Isolat agens hayati T. longibrachiatum (Koleksi Laboratorium Jurusan Budidaya Pertania. dan Trichoderma viride (Koleksi laboratorium BPTPH Kalimantan Selata. diremajakan kembali pada media PDA. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan diulang sebanyak empat kali. Tahap pertama adalah pengujian secara in vitro dengan perlakuan M0 : Tanpa metabolit Mulyani. Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Buah pepaya. Kuat . ona hambat 11-20 m. dan Sangat Kuat . ona hambat >20 m. Pengujian secara In Vivo terhadap buah pepaya varietas California dengan berat kurang lebih 1 kg dalam kondisi setengah matang dan bebas dari gejala infeksi patogen. Buah pepaya dilukai dengan cara menusuk buah dengan jarum steril sebanyak tiga tusukan. Buah pepaya yang telah dilukai kemudian diaplikasikan metabolit sekunder dengan cara menyemprotkan 10 mL larutan metabolit sekunder ke seluruh bagian buah hingga Larutan metabolit sekunder yang terbaik pada tahap kedua terlebih dahulu dicampurkan dengan bahan perekat yang terbuat dari air rebusan singkong. Larutan metabolit sekunder diaplikasikan sebelum inokulasi patogen, satu hari kemudian pada permukaan buah diteteskan suspensi patogen sebanyak 10 AAl dengan kerapatan spora 105 mL1 Buah pepaya diinkubasi dalam bak plastik berukuran 40 cmx 30 cm pada suhu ruang selama 7 hari setelah perlakuan, bagian atas baki dibungkus dengan plastik wraping. Sebagai kontrol positif, buah pepaya tanpa pelapisan diinokulasi dengan patogen C. gloeosporioides dan kontrol negatif buah pepaya hanya disemprot dengan air steril. Variabel pengamatan pada uji in vivo adalah untuk mengetahui pengaruh metabolit sekunder terhadap . Masa inkubasi patogen yang dihitung berdasarkan waktu gejala pertama muncul pada buah pepaya setelah diinokulasi dengan patogen. Diameter kerusakan buah diukur dengan menggunakan mistar, pengukuran dilakukan pada titik tusukan yang telah menunjukkan gejala . Keparahan penyakit mengacu pada Hamdayanty, et al. yaitu KP = M1 : Metabolit sekunder T. longibrachiatum dan M2 : Metabolit sekunder Pengujian tahap 2 secara in vivo dengan perlakuan MT0 : Tanpa metabolit sekunder dan tanpa inokulasi patogen. MT1 : Tanpa metabolit sekunder, inokulasi patogen dan MT2 : aplikasi metabolit sekunder T. longibrachiatum dan inokulasi patogen. Pembuatan metabolit sekunder longibrachiatum dan T. viride merujuk pada metode Soesanto et al. , . dan Soesanto . Campuran air cucian beras dan air kelapa dengan perbandingan 8:2 sampai mendidih, kemudian ditambahkan gula pasir 10 g L-1 dan diaduk hingga rata. Larutan disaring dengan penyaring yang dilapisi selembar kapas dan dimasukkan ke dalam jeriken yang sudah disterilkan menggunakan alkohol 70%, kemudian larutan didinginkan. Biang jamur antagonis sebanyak 50 mL dimasukkan ke dalam jeriken volume 1,5 L yang sudah berisi medium cair. Kemudian dilakukan pengadukan manual setiap hari selama kurang lebih 1 minggu. Metabolit sekunder siap digunakan apabila jeriken mengembang, warna larutan pekat, dan larutan tidak berbau. Variabel pengamatan uji in vitro terhadap Zona Hambat Metabolit Sekunder terhadap Patogen C. gloeosporioides dengan cara mensuspensikan isolat C. yang sudah berumur 1 minggu dengan kerapatan spora 105 ml-1 , kemudian 1 ml suspensi patogen dicampur ke dalam cawan petri yang telah berisi media PDA. Kertas cakram steril ukuran 5 mm yang telah direndam dengan metabolit sekunder konsentrasi 100% diletakkan pada bagian tengah media PDA yang telah bercampur dengan patogen. Media PDA yang lain sebagai kontrol hanya diinokulasi patogen. Pengamatan dilakukan setiap hari selama 7 hari setelah inkubasi, dan diukur diameter vertikal dan horizontal dari zona hambat dalam satuan milimeter . yang terbentuk di sekitar kertas cakram. Zona hambat dihitung berdasarkan rumus ZH= dimana KP = Keparahan ni = Jumlah buah dengan skor ke-I. = nilai skor penyakit . N = Jumlah buah yang V = Nilai skor tertinggi. Skor tiap kategori serangan sebagai berikut :0 : Tidak Bergejala . 1: Bercak ringan pada buah . %). 2 : Bercak sedang pada buah . -50%). 3 : Bercak sedang disertai busuk ringan . 5%). 4 : Bercak luas dan busuk pada buah . -100%). Lama waktu simpan buah ditentukan berdasarkan periode buah tetap terlihat segar, tidak busuk selama dalam dimana ZH = Zona hambat. DH = Diameter horizontal. DV= Diameter vertikal dan DS = Diameter kertas cakram (Davis dan Stout, 1971 dalam Kandoli, 2. Kekuatan zona hambat terhadap patogen dapat di kategorikan sebagai : Lemah . ona hambat 0-4 m. Sedang . ona hambat . -10 m. Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :80 - 87 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan uji F taraf 0. 05, dan apabila terdapat pengaruh perlakuan dilanjutkan dengan uji BNJ 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Zona Hambat Metabolit Sekunder Trichoderma sp. terhadap Patogen C. Gambar 2. Perlakuan metabolit sekunder T. longibrachiatum dan T. viride berpengaruh sangat nyata dan berbeda nyata antar perlakuan terhadap diameter zona hambat patogen C. gloeosporioides (Gambar . Kekuatan zona hambat dari longibrachiatum (A) dan T. (B) Hal ini menunjukkan bahwa metabolit sekunder dari agens hayati tersebut dapat bersifat antimikroba terhadap patogen C. Beberapa hasil penelitian kemampuan metabolit sekunder T. menghambat C. capsici sebesar 22,2% dan C. annum sebesar 37,5% (Ainy, 2. filtrat T. viride dengan konsentrasi 10% menghambat C. capsici sebesar 66,4% dan C. sebesar 52,52% (Aswini et al, 2. Perbedaan sekunder dari setiap spesies Trichoderma menghambat pertumbuhan patogen disebabkan oleh beberapa faktor yang memungkinkan bervariasinya nilai penghambatan maksimum dan minimum sebagai agens pengendali hayati. Selain itu juga dipengaruhi oleh kepekaan dari patogen terhadap senyawa-senyawa alkaloid yang bersifat antibiosis yang dihasilkan oleh agens hayati tersebut. Menurut Putri . antibiotik sesquiterpene yaitu heptelidic acid ditemukan dalam filtrat metabolit sekunder T. Berdasarkan Gambar 1 diketahui metabolit sekunder T. longibrachiatum (M. dan T. viride (M. memiliki kekuatan zona hambat dengan kategori sangat kuat dan kuat, masing-masing dengan diameter zona hambat sebesar 30,05 mm dan 19,17 mm (Gambar . Gambar 1. Rerata diameter zona hambat longibrachiatum (M. dan T. viride (M. terhadap pertumbuhan patogen C. gloeosporioides ((BNJ 1,. Gambar 3. Mikroskopik morfologi hifa patogen. Hifa normal. Hifa patogen abnormal . embengkak dan lisi. pada perlakuan metabolit sekunder T. Mulyani. Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Buah pepaya. Perlakuan metabolit sekunder T. longibrachiatum dan T. viride nampaknya berpengaruh terhadap morfologi hifa patogen mikroskopis terlihat perubahan bentuk hifa atau malformasi dimana hifa patogen membengkak, terpelintir dan lisis (Gambar . Senyawa antifungal yang dihasilkan oleh agens hayati akan mengakibatkan terjadinya pertumbuhan yang abnormal pada hifa. Hal ini disebabkan oleh sifat mikoparasit yang dimiliki oleh Trichoderma sp. dapat menyebabkan hifa Trichoderma -1, 3-glucanases, -1,6glucanases, kitinase, dan protease untuk mempenetrasi sel inang (Mulyani et al. , 2. Sebelumnya Gustiara . telah melaporkan menghambat pertumbuhan patogen Fusarium oxysporum f. cubense secara in vitro sebesar Gambar 4. Pengaruh metabolit sekunder T. longibrachiatum terhadap masa Selain itu terdapatnya kandungan senyawa tanin pada kulit buah akan mempengaruhi persentase buah bergejala, seperti yang dilaporkan oleh DeRito dan Madsen . Soesanto & Rahayuniati . juga menyatakan bahwa penerapan T. harzianum dan Gliocladium virens dapat meningkatkan glikosida, tanin dan saponin pada bibit pisang secara kualitatif. Masa Inkubasi Patogen Masa inkubasi merupakan waktu yang diperlukan patogen untuk melakukan infeksi yang dapat dihitung berdasarkan waktu gejala pertama muncul pada buah pepaya setelah Aplikasi metabolit sekunder T. longibrachiatum pada buah pepaya tidak berpengaruh terhadap masa inkubasi patogen C. gloeosporioides terkait dengan banyaknya buah bergejala (Gambar . Gejala gloeosporioides pada buah pepaya mulai nampak pada hari ke 5 setelah inokulasi. Aplikasi metabolit sekunder melindungi buah dari infeksi patogen sehingga buah yang bergejala hanya 6,66% (MT. dibandingkan pada buah yang tidak diaplikasi metabolit sekunder (MT. buah bergejala mencapai 20%. Hal ini berkaitan dengan kandungan senyawa fenolik dalam metabolit sekunder yang berasal dari T. mampu menginduksi ketahanan jaringan buah pepaya sehingga persentase buah gejala lebih Menurut Soesanto et al. bahwa peningkatan senyawa fenol dalam cabai merah peningkatan ketahanan tanaman terhadap serangan patogen. Kerusakan Buah Aplikasi longibrachiatum sebagai coating pada buah pepaya mampu menekan pertumbuhan patogen glogeosporioides dan mampu menguragi kerusakan buah akibat penyakit antraknosa (Gambar . Berdasarkan Gambar 5 menunjukkan bahwa diameter kerusakan buah tertinggi yaitu sebesar 4,04 mm pada perlakuan tanpa aplikasi metabolit sekunder (MT. dan berbeda nyata dengan buah pepaya yang diaplikasi dengan metabolit sekunder (MT. diameter kerusakan buah hanya sebesar 1,93 mm. Metabolit sekunder T. sebagai pelapis . pada buah pepaya mampu menghambat perkembangan patogen C. kerusakan buah. Hal ini disebabkan adanya senyawa antijamur yang terkandung dalam metabolit sekunder T. longibrachiatum seperti ergokonin A dan sejumlah enzim yang berfungsi untuk memperkuat ketahanan dinding jaringan buah (Gustiara, 2. Senyawa yang bersifat antibiotik dieksresikan oleh Trichoderma sp. yaitu koninginin, viridin, dan Metabolit sekunder tersebut dapat menginduksi ketahanan tanaman, yaitu berperan sebagai elisitor dalam mekanisme pertahanan tanaman melawan patogen. Hal Jurnal AGRI PEAT. Vol. 22 No. September 2021 :80 - 87 ISSN :1411 Ae 6782 (Ceta. 2620-6935 (Elektroni. tersebut dilaporkan oleh Vinale et al . , bahwa senyawa penginduksi ketahanan seperti manitol, dan 2-hidroksimalonate acid dan viridins yang dapat mencegah perkembangan Botrytis Colletotrichum lini. Fusarium caeruleum. Penicillium expansum. Aspergillus niger dan Stachybotrys atra. Jaringan buah yang mati akan menjadi sumber inokulum baru yang dapat menyebar dan menginfeksi jaringan buah lain (Indra. Antraknosa merupakan penyakit yang bersifat laten, dimana patogen masih dapat berkembang walaupun buah dipanen dalam keadaan baik. Hal ini karena patogen C. gloeosporioides dapat menyerang buah sebelum dan sesudah panen (Haggag dan Singer, 2. dan proses infeksinya dimulai sejak di pertanaman dan bersifat laten hingga pada tahap pasca klimakterik buah (Maeda et , 2. Umur Simpan Buah Lama umur simpan buah ditentukan berdasarkan periode buah tetap terlihat segar, tidak busuk, dan aroma buah yang tidak berbau selama dalam penyimpanan sehingga masih layak dikonsumsi. Perlakuan metabolit sekunder (MT. dapat memperpanjang umur simpan buah menjadi 8,33 hari, sedangkan tanpa perlakuan metabolit sekunder umur simpan buah lebih pendek (Gambar . Hal ini juga berkaitan dengan keparahan penyakit yang lebih tinggi pada buah yang tidak diberi coating metabolit sekunder. Coating atau pelapisan dengan metabolit memperpanjang lama umur simpan buah pepaya, karena mengandung senyawa-senyawa flavonoid yang bersifat antimikroba. Soesanto et al. juga menyatakan bahwa metabolit sekunder dari mikroba, seperti alkaloid, fenol, flavonoid, glikosida, dan fitoaleksin bersifat toksik dan menghambat pertumbuhan patogen sehingga dapat mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap patogen. Pengaruh metabolit sekunder T. kerusakan buah oleh patogen C. Keparahan Penyakit Aplikasi menunjukkan perbedaan yang nyata pada keparahan penyakit. Tingkat keparahan penyakit tertinggi rata-rata 51,6 % terdapat pada perlakuan tanpa coating metabolit sekunder (MT. , sedangkan pada buah yang dilapisi dengan metabolit sekunder (MT. kerusakan hanya 16,66 %. Pada perlakuan kontrol (MT. terdapat kerusakan buah yang cukup tinggi (Gambar . Patogen menginfeksi buah melalui jaringan buah yang terluka dan memproduksi berbagai struktur khusus selama masa infeksi. Seluruh proses infeksi termasuk pembentukan struktur jamur akan menyebabkan jaringan buah mengalami pembusukan hingga nekrosis. Gambar 7. Gambar 6. Pengaruh metabolit sekunder T. keparahan penyakit antraknosa Pengaruh metabolit sekunder T. longibrachiatum terhadap lama umur simpan buah Mulyani. Pengendalian Penyakit Antraknosa pada Buah pepaya. Sejalan dengan Wachjadi et al. bahwa senyawa fenol pada tanaman ketahanan tanaman terhadap infeksi penyakit yang dapat menghambat pertumbuhan patogen gloeosporioides sehingga kerusakan pada buah dapat diminimalisir. Coating dengan metabolit sekunder mikroba berfungsi sebagai bahan pembawa senyawa-senyawa seperti antimikroba, antioksidan, flavor maupun zat Pelapisan juga dapat menghambat terjadinya oksidasi sehingga dapat mencegah memperpanjang lama umur simpan buah . Miskiyah . melaporkan bahwa coating yang ditambah dengan vitamin C berpengaruh terhadap lama umur simpan paprika yaitu 3-7 Aswini A. Sharmila T. Raaga K. Sri Deepthi and Krishna M. In vitro antifungal activity of Trichoderma strains on pathogenic fungi inciting hot pepper (Capsicum annuum L. Journal of Chemical and Pharmaceutical Research Vol 8 . : p 425-430 Badan Pusat Statistik. Produksi Tanaman Buah-Buahan. ttps://w. id/site/resultTa. (Diakses 10 April 2. DeRito CM & Madsen EL. Stable isotope probing reveals Trichosporon yeast to be active in situ in soil phenol ISMEJ. 3: 477Ae485. El-Ramady. Szabolcsy E. Abdalla N. Taha H. and Fari M. Postharvest management of fruits and vegetables storage. Sus Agric Rev. Gustiara. Keragaman jamur antagonis pada rhizosfer kalakai (Stenochlaena palustri. (BURN. ) BEDD. ) di tanah mengendalikan Fusarium oxysporum Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Palangka Raya. Palangka Raya. Haggag W. dan Singer S. First report of Colletotrichum capsici causing pre and postharvest anthracnose on papaya in Egypt. Int J Engineer Innov Technol. :151Ae152. Hamdayanty. Yunita R. Amin N. Damayanti D. Pemanfaatan kitosan untuk mengendalikan antraknosa (Colletotrichum gloeosporioide. dan meningkatkan daya simpan buah. Jurnal Fitopatologi Indonesia. : 97-102 Indra. Pengaruh kitosan dan suhu simpan sebagai upaya perlindungan buah pepaya AocaliforniaAo terhadap jamur Colletrotrichum gloeosporioides (Penz. Sacc. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. Bandar Lampung Kandoli F. Abijulu J dan Leman M. Uji daya hambat daun durian (Durio Candida albicans secara in vitro. Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi. : 46-52 Maeda. and Nelson S. Anthracnose of papaya in HawaiAoi. Mynoa (US): KESIMPULAN Berdasarkan pengujian secara in vitro Trichoderma longibrachiatum dan Trichoderma viride menghasilkan kemampuan penghambatan yang sangat kuat dan kuat dengan zona hambat masing-masing dengan sebesar 30,05 mm dan 19,17 mm terhadap perkembangan penyakit antraknosa (Colletotrichum gloeosporioide. Kemampuan T. longibrachiatum sebagai pelapis . buah pepaya pascapanen mampu menghambat perkembangan penyakit antraknosa berdasarkan diameter kerusakan buah lebih kecil . ,93 m. , keparahan penyakit hanya 16,66 %, dan umur simpan buah menjadi lebih lama yaitu menjadi 8,33 hari. Aplikasi metabolit sekunder yang berasal dari T. dapat menjadi alternatif upaya pengendalian penyakit antraknosa pada buah pepaya pascapanen karena lebih aman dan ramah lingkungan. DAFTAR PUSTAKA