JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Perancangan Meja Kerja Pada Area Dismantle Dalam Meminimalisir Keluhan MsDs Di PT. XYZ Menggunakan Metode Ergonomic Function Deployment (EFD) Bagus Wahyu Wicaksono1. Renty Anugerah Mahaji Puteri1. N Nelfiyanti1. Andry Setiawan1 Fakultas Teknik. Teknik Industri. Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah No 21. Jakarta Pusat E-mail: 20200410500045@student. ABSTRAK Berdasarkan hasil observasi. PT. XYZ melakukan pekerjaannya menggunakan alat yang beragam seperti alat manual, dan mesin yang masih semi otomatis, sehingga postur kerja operator juga beragam seperti membungkuk, memuntir, berdiri, dan duduk. Area dismantle merupakan salah satu area yang masih menggunakan alat manual dengan postur kerja yang membungkuk, setelah dilakukan pengukuran postur kerja menggunakan skor REBA, operator dismantle mendapatkan skor REBA 9 yang berarti perlu tindakan segera untuk meminimalisir keluhan MsDs. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk memperbaiki postur kerja dengan merancang meja kerja menggunakan metode EFD. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu desain alat bantu berupa meja kerja dismantle dan setelah dilakukan perhitungan skor REBA akhir mendapatkan skor 4 yang berarti tingkat risiko sedang dan perlu tindakan namun tidak segera dan dengan skor tersebut mengalami penurunan dari skor awal. Kata kunci: Antropometri. EFD. REBA. ABSTRACT Based on the observation results. PT. XYZ carries out its work using a variety of tools, such as manual tools and semi-automatic machines. Consequently, the operators' working postures also vary, including bending, twisting, standing, and sitting. The dismantle area is one of the areas that still utilizes manual tools, resulting in a bent-over working posture. A REBA (Rapid Entire Body Assessmen. score was measured for the working posture, and the dismantle operator received a REBA score of 9, indicating that immediate action is needed to minimize the risk of musculoskeletal disorders (MsD. The purpose of this study is to improve working posture by designing a workbench using the EFD method. The results of this study include the design of an assistive tool in the form of a dismantle workbench. After the final REBA score calculation, a score of 4 was obtained, indicating a medium risk level that requires action but not immediately. This score represents a decrease from the initial score. Keywords: Anthropometry. EFD. REBA,. DOI: /10. 24853/jisi. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi PENDAHULUAN Sumber daya manusia yang efektif serta efisien merupakan sebuah sumber daya yang dapat memberikan nilai yang tinggi serta kunci terhadap keberhasilan dalam sebuah perusahaan (Fauzi et al. , 2. Postur kerja mempengaruhi pekerja dalam kegiatannya (Azwar, 2. Posisi/ postur kerja yang kurang menunjang akan menimbulkan ketidak nyamanan bagi operator saat bekerja (Bidiawati et al. , 2. Dalam lingkungan kerja, pekerjaan yang membutuhkan penggunaan alat dan peralatan yang kompleks serta melibatkan posisi tubuh yang tidak nyaman dan gerakan berulang-ulang dapat meningkatkan risiko terjadinya masalah kesehatan pada sistem muskuloskeletal pekerja. Risiko ergonomi yang tinggi ini dapat muskuloskeletal, seperti nyeri otot, sendi, dan tulang belakang, yang dapat mengganggu kenyamanan dan produktivitas kerja (Halijah et , 2. PT. XYZ merupakan perusahaan yang menyediakan layanan perbaikan katup yang lengkap, terletak di Kota Tangerang,Banten. Yang memiliki workshop dengan 10 area yaitu Dismantle Area. Machining Area. Lapping/CNC Area. Welding Area. Assembling Area. Testing Area. Painting Area, dan Cleaning/Sanblasting Area. Katup yang masuk ke dalam workshop untuk diperbaiki memiliki berbagai macam jenis yaitu ball valve, gate valve, butterfly valve, dll. Selain jenis, katup memiliki size dan class nya masing masing dimulai dari size 2 inch Ae 24 inch dengan class dari 50 Ae 2500 untuk beratnya sendiri mencapai 12 Kg Ae 3892 kg tergantung dari jenis dan dan size katup itu sendiri. Namun kebanyakan dari katup yang diperbaiki di workshop PT. XYZ memiliki size 2 inch Ae 12 inch dengan class 150 Ae 1500. Berdasarkan hasil dari observasi awal yang telah dilakukan, didapatkan bahwa proses menggunakan alat manual dan juga mesin dengan bantuan manusia atau semi otomatis, sehingga postur tubuh yang dialami oleh operator beragam yaitu berdiri, membungkuk, memuntir, dan duduk selama jam kerja, sehingga masing Ae masing operator memiliki Adapun berbagai jenis keluhan yang didapat dari masing masing operator yang sudah berpengalaman yaitu sebagai berikut. P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Tabel 1 Keluhan Operator Stasiun Kerja Dismantle Cleaning Assembly Testing Welding Machining Lapping Painting Keluhan Nyeri pada area pergelangan tangan, lengan tangan, pinggang dan kaki Nyeri pada area pergelangan tangan dan lengan tangan Nyeri pada area pergelangan tangan, dan lengan tangan dan kaki Nyeri pada area pergelangan tangan, lengan tangan, dan pinggang Nyeri pada bagian pinggang dan leher terasa pegal Kaki terasa pegal Nyeri pada area pergelangan tangan, lengan dan kaki Nyeri pada leher, pegal pada area pergelangan tangan dan lengan Salah satu area yang dilakukan secara manual adalah area dismantle yaitu area yang memiliki perkerjaan pembongkaran pada valve yang masuk atau valve yang akan direpair. Berikut merupakan postur kerja operator Gambar 1 Postur Kerja Operator Dismantle Area dismantle memiliki 2 operator yang tersedia pada workshop PT. XYZ. Proses pembongkaran bisa menghabiskan waktu 2 Ae 3 jam untuk 1 valve nya dengan waktu kerja 8 jam Dengan lama waktu pembongkaran dan dengan postur kerja operator yang berdiri secara tidak sempurna, melakukan pekerjaan di lantai yang membuat operator membungkuk dan memuntir sehingga pekerjaan menjadi kurang Berdasarkan wawancara terhadap operator dismantle didapatkan bahwa operator 1 mengalami keluhan pada bagian leher, pinggang, punggung, dan kaki sedangkan operator 2 mengalami keluhan pada bagian punggung, pinggang, dan kaki. Hal ini dapat dilihat dari analisis pengukuran postur kerja menggunakan metode REBA dengan skor yang dimiliki yaitu 9 yang dimana tindakan yang harus dilakukan adalah perlunya perbaikan Apabila pekerjaan dilakukan dalam JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI jangka waktu yang lama akan mempengaruhi antropometri pekerja. Untuk meminimasi postur kerja yang tidak ergonomis, diperlukan rancangan penyangga valve berupa meja agar operator tidak melakukan pekerjaannya dilantai Ergonomic Function Deployment (EFD) adalah metode untuk memudahkan selama proses perancangan, pembuatan keputusan direkam dalam bentuk matriks Ae matriks sehingga dapat diperiksa ulang serta dimodifikasi di masa yang akan datang, biasanya untuk mengetahui ergonomis atau tidaknya hasil suatu rancangan (Anshori, 2. Berdasarkan latar belakang diatas, penulis ingin melakukan perancangan meja di dismantle/pembongkaran mengurangi keluhan Muskuloskeletal disorder (MsD. dan memperbaiki postur kerja dengan metode Ergonomic Function Deployment (EFD). Sehingga kemudian bisa menjadi acuan dalam menentukan langkah perbaikan. Penulis akan menjelasakan analisis dalam laporan yang berjudul AuPerancangan Meja Kerja Pada Area Dismantle Dalam Meminimalisir Keluhan Msds Di PT. XYZ Menggunakan Metode Ergonomic Function Deployment (EFD)Ay TINJAUAN PUSTAKA Ergonomi Menurut yassierli et al, menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, efisien, dan menyenangkan, merupakan disiplin ilmu pengetahuan tentang sifat, kapasitas, dan batasan manusia (Anugerah et al. , 2. Antropometri Antropometri mempelajari pengukuran dan analisis ciri-ciri fisik manusia. Pengukuran ini mencakup berbagai besaran fisis tubuh manusia, seperti tinggi badan, berat badan, panjang lengan, lingkar dada, lingkar pinggang, ukuran kaki, dan berbagai ukuran tubuh lainnya. Tujuan utama antropometri adalah untuk mengukur dan menggambarkan perubahan ciri-ciri fisik individu dan kelompok manusia (Natasya et al. Istilah antropometri berasal dari bahasa Yunani yaitu AuantroAy yang berarti manusia dan Volume 11 No 2 Agustus 2024 AumetriAy yang berarti ukuran. Antropometri pengukuran tubuh manusia khususnya dimensi tubuh (Yuslistyari & Shofa, 2. Musculoskeletal Disolder (MS D. Musculoskeletal Disorders (MSD. adalah Gangguan atau cidera yang dialami seseorang pada bagian muskuloskeletal yang meliputi bagian sendi, ligament, syaraf, tendon dan struktur yang menopang anggota tubuh, leher dan punggung akibat pekerjaannya (Maulana et Terjadinya disorders (MSD. pekerja tidak dipengaruhi oleh waktu istirahat, tetapi dipengaruhi oleh postur kerja yang kurang tepat dan dilakukan secara berulang Ae ulang (Utomo et al. , 2. Rapid Entire Body Assessment (REBA) Rapid Entire Body Assessment (REBA) adalah metode yang digunakan untuk menilai tingkat risiko sebuah postur kerja. Menurut Evita & Sarvia REBA merupakan metode dengan fokus analisis pada seluruh tubuh pekerja (Dewanti et al. , 2. Menurut Cremasco et al, . REBA merupakan metode pengukuran resiko keluhan MSD yang melibatkan seluruh anggota tubuh yang dianggap dapat membahayakan dari semua aktifitas disetiap aktifitas yang ada (Nelfiyanti et al. Dalam metode REBA ini, analisis terhadap dikelompokkan menjadi dua bagian. Bagian pertama atau Group A terdiri dari bagian neck, trunk dan legs sedangkan bagian kedua atau Group B terdiri dari upper arms, lower arms dan wrist (Anthony, 2. Ergonomic Functions Deployment (EFD) Menurut Kurniawan . Ergonomic Function Deployment (EFD) adalah salah satu cara dalam memfasilitasi proses desain. Selama proses ini, keputusan yang diambil dicatat dalam bentuk matriks sehingga dapat ditinjau dan direvisi untuk menentukan apakah desain tersebut fungsional atau tidak (Aminullah et al. Ergonomic Function Deployment adalah merupakan pengembangan dari QFD dengan mempertimbangkan aspek kebutuhan konsumen dengan Aspek ergonomi dari produk yang akan dirancang dengan konsep ENASE, konsep ini akan dipertimbangkan dengan atribut produk baik dari segi fungsional, ukuran, resiko kerja. JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi bahan serta biaya (Bora et al. , 2. Adapun langkah Ae langkah pada metode EFD sebagai Identifikasi Atribut Produk Identifikasi atribut produk dilakukan untuk mengetahui tentang atribut desain yang ingin dibuat dan sesuai dengan kebutuhan ENASE (Efektif. Nyaman. Aman. Sehat, dan Efisie. adalah atribut ergonomis yang digunakan dalam desain. Desain kuesioner Desain mengetahui apa yang dianggap paling penting oleh responden. Penyusunan Kepentingan Teknis Pembuatan House Of Ergonomic Pembuatan (HOE) dibentuk dengan kebutuhan serta keinginan responden. Berikut merupakan langkah Ae langkah pembentukan HOE: Tingkat kepentingan Konsumen Tingkat kepuasan konsumen Menentukan target Menentukan rasio perbaikan . Menentukan sales point Menentukan raw weight Menentukan normalized raw weight Menentukan respon teknis . Menentukan hubungan kebutuhan . Menentukan target spesifikasi METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di PT. XYZ yang berlokasi di Kota Tangerang,Banten dan penelitian ini dilakukan selama satu bulan untuk mengumpulkan data yang digunakan pada Prosedur digunakan untuk mengetahui langkah Ae langkah yang dilakukan dalam penelitian. Berikut merupakan prosedur penelitian yang penulis P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Mulai Studi Lapangan Studi Literatur Perancangan ulang meja kerja stamping menggunakan metode EFD : Identifikasi kebutuhan pelanggan yang diperoleh dari Voice of Costumer. Merancang kuesioner dan menyebarkan kuesioner kepada responden Penyusunan kepentingan teknis. Membentuk HOE (House of Ergonomi. Latar Belakang Perhitungan Data Antropometri Rumusan Masalah Perhitungan REBA Akhir Tujuan Penelitian Kesimpulan Dan Saran Pengumpulan Data: Postur Kerja Operator Dismantle Perhitungan REBA Operator Dismantle Data Antropometri Selesai Pengolahan Data : Identifikasi Faktor Penyebab terjadinya keluhan MSDs pada operator Dismantle menggunakan Fishbone Gambar 2 Prosedur Penelitian Penjelasan prosedur penelitian sebagai berikut: Studi lapangan Dalam studi lapangan, proses yang dilakukan dalam tahap ini adalah melakukan observasi yang dilakukan pada area dismantle di PT. XYZ untuk mengetahui permasalahan yang terjadi dalam kondisi awal perusahaan, sehingga peneliti dapat mengambil informasi. Studi literatur Studi mengumpulkan teori Ae teori dan refrensi Ae refrensi yang dapat memberikan informasi yang ada dan sesuai dengan topik permasalahan yang sedang diteliti. Latar belakang Latar memberikan suatu informasi terhadap masalah dan peluang yang dapat dipermasalahkan, agar permasalahan yang ada dapat ditindak lanjuti. Rumusan masalah Rumusan masalah merupakan hasil ringkasan dari latar belakang yang dibuat secara poin per poin. Dalam tahap ini peneliti menyimpulkan permasalahan yang ada dari latar belakang dan dibuat dalam bentuk pertanyaan secara poin per poin. Tujuan penelitian Tujuan penelitian merupakan hasil yang ingin dicapai berdasarkan rumusan masalah yang ada. Pengumpulan data JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Pada tahap pengumpulan data adalah peneliti melakukan pencarian data yang permasalahan yang ada sehingga data tersebut bisa diolah. Tahap pengumpulan data ini dilakukan dengan observasi langsung dan juga wawancara. Data yang dibutuhkan seperti postur kerja operator, data antropometri, kuesioner perancangan meja kerja. Pengolahan data Setelah melakukan pengumpulan data selanjutnya yaitu melakukan pengolahan perancangan meja dismantle, dan melakukan pengukuran postur kerja akhir. Kesimpulan dan saran Tahap kesimpulan digunakan untuk menjawab tujuan penelitian dan saran digunakan sebagai evaluasi pada PT. XYZ. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengolahan data, berikut merupakan hasil yang didapatkan: Identifikasi penyebab keluhan operator Berdasarkan skor REBA awal, dilakukan identifikasi akar masalah menggunkana Berikur merupakan fishbone penyebab keluhan operator: Gambar 3 Fishbone Keluhan Operator Berdasarkan hasil observasi terhadap operator dismantle pada PT. XYZ didapatkan bahwa penyebab keluhan operator disebabkan oleh faktor kelelahan dari operator yang akibat dari postur kerja yang tidak ergonomis, target penyelesaian yang tinggi dan juga usia operator tidak muda. Adapun alat yang digunakan kurang memadai sehingga diperlukan tenaga yang lebih untuk melakukan pekerjaan serta Volume 11 No 2 Agustus 2024 menyebabkan operator akan mudah kelelahan dan menyebabkan keluhan pada bagian tubuh Analisis implementasi Ergonomic Function Deployment Berdasarkan hasil wawancara kepada operator didapatkan hasil sebagai berikut: Tabel 2 Kebutuhan Konsumen Wawancara Variabel Mempermudah Terdapat tempat simpan alat kerja Karakteristik Meja mudah digunakan Efektif Meja memiliki penyimpanan alat kerja Sesuai dengan postur tubuh operator dan valve Nyaman Meja memiliki desain yang sesuai dengan postur Bisa digunakan untuk valve besar Aman Meja yang mampu menahan beban valve Yang bisa pegal di area Sehat Meja mampu mengurangi keluhan pada bagian Mudah dibersihkan Efisien Meja mudah untuk Berdasarkan tabel kebutuhan konsumen, diketahui bahwa operator memiliki keinginan dalam rancangan meja kerja yang memiliki beberapa karakteristik. Setelah mengetahui kebutuhan konsumen kemudia dilakukan penyusunan House Of Ergonomic (HOE). Berikut merupakan penyusunan House Of Ergonomic (HOE) . Tingkat kepentingan Konsumen Tingkat kepentingan dilakukan untuk mengetahui kepentingan dari kebutuhan konsumen dalam perancangan meja Berdasarkan tingkat kepentingan yang ada, tingkat kepentingan terbesar memiliki skor 5 adalah meja yang dapat mempermudah proses kerja, memiliki desain yang sesuai dengan postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh. Tingkat kepentingan terkecil memiliki skor 3,5 yaitu mudahnya perawatan meja. Tingkat kepuasan konsumen Tingkat kepuasan dilakukan untuk mengetahui kepuasan dari proses kerja yang telah dilakukan. Berdasarkan tingkat kepuasan yang ada, tingkat kepuasan terbesar memiliki skor 4 yaitu mampu menahan beban valve dan tingkat kepuasan terkecil memiliki skor JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi sebesar 2,5 yaitu penyimpanan alat kerja, memiliki desain yang sesuai dengan postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh. Menentukan target Nilai menunjukkan sasaran yang ingin Nilai goal diperoleh dari nilai kinerja pada tabel tingkat kepentingan, maka dari itu goal terbesar memiliki skor 5 adalah meja yang dapat mempermudah proses kerja, memiliki desain yang sesuai dengan postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh. Menentukan rasio perbaikan Rasio perbaikan digunakan untuk menunjukkan seberapa besar usaha yang dilakukan perusahaan untuk mencapai Semakin besar nilai rasio perbaikan maka akan semakin besar tingkat perubahan. Berdasarkan nilai rasio terbesar dimiliki oleh desain yang sesuai dengan postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh dengan rasio perbaikan 2. Menentukan sales point Nilai Berdasarkan hasil titik jual, untuk melakukan pembulatan dari rasio perbaikan sesuai dengan kriteria Menentukan raw weight Nilai raw weight didapatkan dari hasil perkalian tingkat kepentingan, rasio perbaikan, dan sales point. besar nilai raw weight maka semakin penting keinginan dapat dipenuhi. Berdasarkan hasil yang didapatkan, nilai raw weight terbesar yaitu 15 untuk desain yang sesuai dengan postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh dengan rasio perbaikan. Menentukan normalized raw weight Hasil nilai Normalized Raw Weight didapatkan dari pembagian raw weight dengan jumlah raw weight. Berdasarkan hasil yan didapatkan maka nilai Normalized Raw Weight terbesar yaitu 0,24 untuk desain yang sesuai dengan P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X postur tubuh, dan mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh dengan rasio . Menentukan respon teknis Respon teknis merupakan terjemahan kepentingan konsumen dalam bentuk istilah teknis. Berikut merupakan respon Tabel 3 Respon Teknis Kepentingan Operator Meja mempermudah proses Meja penyimpanan alat kerja Meja memiliki desain yang sesuai dengan postur tubuh Meja yang mampu menahan beban valve Meja mengurangi keluhan pada bagian tubuh Meja mudah untuk Respon Teknis Mempermudah proses Terdapat penyimpanan alat kerja Memiliki dimensi yang Aman saat digunakan Tidak Mudah Menentukan hubungan kebutuhan Hubungan antara respon teknis dengan kepentingan konsumen ditunjukkan dengan simbol dan nilai untuk melambangkan seberapa kuat hubungan diantara keduanya. Menentukan target spesifikasi Spesifikasi target ini merupakan hasil dari pengembangan karakteristik teknis yang didapat dari identifikasi kebutuhan Berikut spesifiksi target. Tabel 4 Target Spesifikasi Kepentingan Operator Target Spesifikasi Mempermudah proses Terdapat penyimpanan alat kerja Memiliki dimensi yang seusai Proses kerja menjadi Alat kerja tersimpan dalam satu tempat Dimensi seusai dengan data antopometri Mampu menahan beban yang berat Tidak berbahaya bagi Kemudahan dalam proses pembersian Aman saat digunakan Tidak mencederai Mudah dilakukan Berikut merupakan HOE kebutuhan operator JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Volume 11 No 2 Agustus 2024 Meja yang ergonomis Raw Weight Skor posisi sebelumnya Improvement Ratio Cust. Statistic Performance Mudah dilakukan perawatan Tidak mencederai operator Aman saat digunakan Memiliki dimensi yang Terdapat penyimpanan alat Importance to Customer Mempermudah proses kerja Tabel 5 HOE Meja dapat mempermudah proses 1,67 12,50 Meja memiliki penyimpanan alat kerja sementara 1,80 12,15 2,00 15,00 1,13 5,06 2,00 15,00 1,17 4,08 Meja memiliki desain yang sesuai dengan postur Tidak berbahaya bagi Kemudahan dalam proses Meja mudah dibersihkan Mampu menahan beban berat Dimensi sesuai dengan data Meja yang mampu mengurangi keluhan pada bagian tubuh Alat kerja tersimoan dalam satu tempat Proses kerja menjadi mudah Meja yang mampu menahan beban valve Contributions 6,31 3,48 6,00 3,65 4,82 0,58 Urutan prioritas 0,25 0,14 0,24 0,15 0,19 0,02 Target Spec House Of Ergonomic (HOE) merupakan gabungan dari semua langkah yang disatukan dalam bentuk tabel, sehingga memudahkan dalam mencari prioritas kebutuhan konsumen. Prioritas pertama yaitu mempermudah proses kerja, prioritas kedua yaitu memiliki dimensi yang sesuai, prioritas ketiga yaitu tidak mencederai operator, prioritas keempat yaitu aman digunakan, prioritas kelima yaitu terdapat penyimpanan alat kerja, dan prioritas keenam yaitu mudah dilakukan perawatan. Persentil Tabel 6 Persentil Antropometri Percentile Meja dismantle Product requerements Tinggi Lutut Competitor Valid Tinggi Pinggu Panjang Genggam Tangan Missi 46,000 87,550 63,550 49,500 92,500 70,000 54,000 98,450 76,450 Dalam mencari nilai persentil. Perhitungan persentil didapatkan menggunakan SPSS. Persentil yang digunakan pada tahap perancangan meja adalah persentil 5 dan persentil 95 dikarenakan persentil 5 merupakan ukuran tubuh pendek dari responden sehingga penggunaan persentil 5 cocok untuk digunakan untuk ukuran tubuh besar maupun kecil berdasarkan postur tubuh orang Indonesia. berdasarkan data pengolahan disebutkan bahwa dalam perancangan meja kerja dismantle menggunakan data antropometri tinggi lutut, tinggi pinggul dan panjang genggaman tangan maka didapatkan persentil 5 dan 95 tinggi lutut adalah 0,46 m dan 0,54 m, persentil 5 dan 95 tinggi pinggul adalah 0,87 m dan 0,98 m sedangkan persentil 5 dan 95 panjang gengaman tangan adalah 0,63 m dan 0,76 m. Desain perancangan meja dismantle Untuk merancang sebuah meja kerja dismantle, penulis memilih menggunakan ketinggian meja berdasarkan tinggi pinggul dari sampel yang ada dengan persentil 50 yaitu 0,91 m yang merupakan tinggi rata Ae rata sampel. Penggunaan lebar meja, penulis menentukan ukuran menggunakan dua kali panjang jangkauan tangan dengan persentil 50 yaitu 1,3 panjang meja menggunakan memilih ukuran JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Website: http://jurnal. id/index. php/jisi 3m berdasarkan ukuran panjang valve ukuran 12 inch ditambah bak dari part Ae part valve. Tempat alat kerja sementara berukuran 0,7 m x 0,2 m. Gambar 4 Produk 3D Pada perancangan, meja kerja dismantle memiliki ukuran panjang 2,5 m yang dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian pertama memiliki ketinggian 0,54 m dan bagian kedua memiliki ketinggian meja 0,87 m. lebar meja tersebut memiliki ukuran 1 m. panjang kaki memiliki dua jenis yaitu panjang kaki meja tinggi sebanyak 4 buah dan panjang kaki meja rendah sebanyak 2, alas kaki meja dibuat sebagai tumpuan yang akan menahan meja agar tetap seimbang dengan ketebalan 0,2 m yang dilakukan pengeboran agar meja tetap stabil dan menimbulkan rasa aman. Material yang digunakan untuk membuat rangka meja, kaki meja, alas kaki meja, penyangga valve, dan pemukaan meja kerja dismantle adalah besi baja karbon sedang karena memiliki kekuatan tarik yang tinggi, untuk penyimpanan alat menggunakan bahan stainless steel yang bersifat tahan karat. P-ISSN: 2355-2085 E-ISSN: 2550-083X Uji kekuatan Gambar 6 Uji Kekuatan Meja Dismantle Berdasarkan uji kekuatan dengan tekanan 1470 N didapatkan bahwa meja dismantle memperoleh warna biru dan sedikit hijau. menandakan bahwa kekuatan meja mampu menahan beban benda kerja. Kelebihan meja kerja dismantle Kelebihan meja kerja dismantle sendiri memiliki dua bagian meja yang dapat digunakan secara bersamaan dengan size yang Untuk meja yang rendah digunakan pada valve yang berukuran A 4 inch sedangankan untuk meja yang tinggi digunakan pada valve yang berukuran C 4 inch yang diharapkan mampu memperbaiki posisi kerja yang lebih ergonomis. Selain itu terdapat penyangga yang digunakan untuk menahan valve tidak terpental yang diharapkan membuat Meja kerja dismantle juga memiliki penyimpanan alat kerja sementara yang diharapkan mempermudah operator dalam akses ke peralatan kerja. Skor REBA akhir Gambar 5 Produk 2D Gambar 7 Postur Kerja Akhir JISI: JURNAL INTEGRASI SISTEM INDUSTRI Pengukuran REBA akhir digunakan untuk menilai apakah rancangan meja sudah memenuhi untuk postur kerja yang baik atau Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa pengukuran postur kerja operator dismantle mendapatkan skor REBA 4 yang berarti level risiko sedang dan tindakan perbaikan perlu namun tidak segera. Sehingga skor REBA mengalami penurunan dari Postur kerja awal. KESIMPULAN Berdasarkan dari hasil dan pembahasan. Berdasarkan hasil observasi terhadap operator dismantle pada PT. XYZ didapatkan bahwa penyebab keluhan operator disebabkan oleh faktor kelelahan dari operator yang akibat dari postur kerja yang tidak ergonomis, target penyelesaian yang tinggi dan juga usia operator tidak muda. perosedur kerja yang tidak diikuti menyebabkan operator akan mudah kelelahan dan menyebabkan keluhan pada bagian tubuh Perancangan meja dismantle menggunakan metode EFD diperoleh hasil pada karakteristik teknis yaitu mempermudah proses kerja, terdapat penyimpanan alat kerja, memiliki dimensi yang sesuai, aman saat digunakan, tidak mencederai operator dan mudah dilakukan perawatan. Perancangan EFD berdasarkan kebutuhan konsumen yang dicari tingkat kepentingan dan kepuasannya hingga pada akhirnya medapatkan karakteristik teknis. Ukuran prancangan meja dismantle sendiri menggunakan data antropometri tinggi lutut, tinggi pinggul dan panjang genggam tangan, persentil yang digunakan adalah 5 dan 95. Berdasarkan penilaian menggunakan metode REBA, didapatkan bahwa skor akhir yang diperoleh dari hasil pengolahan postur tubuh operator dismantle yaitu 4 memiliki level risiko Dengan demikian, kategori tindangkan perbaikan perlu namun tidak segera. DAFTAR PUSTAKA