Planta Simbiosa Jurnal Tanaman Pangan dan Hortikultura e-ISSN 2685-4627 https://doi. org/10. 25181/jplantasimbiosa. vXiX. x Uji Kualitas Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah Quality Assessment of Decrowned MD2 Pineapple Fruit Reny Mita Sari1*. Rizka Novi Sesanti1. Fahri Ali1 Program Studi Teknologi Produksi Tanaman Hortikultura. Jurusan Budidaya Tanaman Pangan. Politeknik Negeri Lampung, 35141 E-mail : renymita@polinela. Submitted: 24/06/2025. Accepted: 24/07/2025. Published: 30/10/2025. ABSTRAK Buah nanas merupakan salah satu buah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Indonesia. Beberapa penjual dan konsumen lebih menyukai buah nanas tanpa mahkota untuk memudahkan proses pascapanen. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemotongan mahkota buah terhadap kualitas dan kesukaan konsumen terhadap buah nanas MD2 setelah disimpan selama 7 hari Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap tunggal dengan 3 perlakuan yaitu buah nanas dengan 0 hari simpan (H. , buah nanas dengan mahkota buah (CH. , dan tanpa mahkota buah (DH. dengan sembilan ulangan. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemotongan mahkota buah signifikan mempengaruhi susut bobot buah, tingkat kemasakan buah, aroma, dan rasa pada buah nanas MD2. Pemotongan mahkota buah memperlambat masa simpan buah yang ditunjukkan dengan tingkat kemasakan yang lebih tinggi dibandingkan buah nanas yang masih memiliki mahkota buah, selain itu mulai terasa dan tercium aroma alkohol pada daging buah. Kata Kunci : Nanas. Mahkota Buah. Kualitas Konsumsi ABSTRACT Pineapple (Ananas comosus L. ) is a fruit of high economic value in Indonesia. Some sellers and consumers prefer crownless pineapples to facilitate post-harvest handling. This study aimed to evaluate the effect of crown removal on the quality and consumer preference of MD2 pineapples after seven days of storage. A completely randomized design with a single factor was employed, consisting of three treatments: freshly harvested pineapples . days of storage. , pineapples stored with crowns (CH. , and pineapples stored without crowns (DH. , each replicated nine times. The results indicated that crown removal significantly influenced fruit weight loss, ripening level, aroma, and taste of MD2 pineapples. Specifically, crown removal accelerated fruit ripening, as evidenced by a higher ripeness level and the early onset of alcoholic taste and aroma in the fruit flesh, compared to pineapples retaining their crowns. Keywords : Pineapple. Crown Removal. Eating Quality Copyright A Tahun Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International License. Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A PENDAHULUAN Buah nanas merupakan salah satu buah yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Indonesia. Khususnya di provinsi Lampung, terdapat perkebunan nanas segar dengan total area tanam A 3. 000 ha yang bahkan telah mengekspor produk nanas segarnya ke banyak negara maju seperti Jepang. Cina. Timur tengah. Hongkong. Kanada. Korea. Singapura. Berdasarkan data BPS, sejak tahun 2012 Indonesia melakukan impor nanas segar dalam jumlah kecil, tidak sebanding dengan volume ekspor yang bisa mencapai ribuan ton, sehingga Indonesia dapat dikategorikan sebagai salah satu negara net ekspor nanas (Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. Buah nanas MD2 merupakan varietas nanas yang dikembangkan secara komersil oleh PT Great Giant Pineapple (PT. GGP). Jenis nanas ini di budidayakan khusus untuk dikonsumsi sebagai buah Nanas yang di budidayakan oleh PT. GGP ini tidak hanya di jual ekspor ke beberapa negara, akan tetapi juga banyak di perjualbelikan di pasar lokal, maupun supermarket besar di seluruh Indonesia. Kelebihan dari buah nanas ini yaitu memiliki rasa yang lebih manis dan tidak menyebabkan gatal di lidah ketika di konsumsi (Sari, 2. Bobot buah nanas varietas MD2 beserta mahkotanya dapat mencapai 2 kg. Beberapa penjual dan konsumen lebih menyukai buah nanas yang sudah dibuang mahkota nya untuk mengurangi bobot penyimpanan dan pengangkutan. Namun, proses pemotongan mahkota buah tentunya dapat berdampak pada kualitas simpan buah nanas setelah dipanen. Menurut Liu et al. , pemotongan mahkota pada buah nanas mengakibatkan terjadinya internal browning hingga 2% dan penurunan rasio kandungan zat terlarut dan asam tertitrasi buah nanas Buah nanas termasuk ke dalam golongan buah non klimakterik. Buah Ae buah yang termasuk ke dalam golongan buah non klimakterik hanya akan menghasilkan sangat sedikit etilen selama proses respirasi di penyimpanan, namun perubahan yang terjadi pada buah nanas selama di penyimpanan mengarah ke (Premarathne et al. , 2. Oleh karena itu penentuan tingkat kemasakan buah ketika dipanen juga akan menentukan kualitas dan lama nya masa simpan buah setelah dipanen (Sari et al. , 2. Pada penelitian ini, tingkat kemasakan buah yang digunakan adalah SC1 (Gambar . Gambar 1. Tingkat kemasakan buah nanas Khususnya untuk penjualan buah nanas lokal, setelah buah dipanen, masih ada rentang waktu pada saat proses pengangkutan, pengiriman buah ke kios Ae kios dan supermarket, serta waktu pajang buah di etalase sebelum dibeli dan dikonsumsi oleh konsumen. Selama rentang waktu tersebut, proses respirasi pada buah terus berjalan. Respirasi yang terus berjalan ini yang akan menurunkan kualitas buah selama di penyimpanan (Kandasamy, 2. Umumnya, buah nanas yang dijual di pasar lokal tidak didistribusikan dengan menggunakan penyimpanan suhu rendah yang dapat Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A menghambat proses respirasi, sehingga proses respirasi buah terus berjalan dan menyebabkan kemunduran buah (Rizky et , 2. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan diamati kualitas buah pada penyimpanan suhu ruang. Penelitian mengenai kualitas buah nanas tanpa mahkota belum banyak konsumen terhadap kualitas buah nanas tanpa mahkota setelah di penyimpanan. Oleh karena penelitian ini dilakukan bertujuan untuk melihat bagaimana kualitas buah nanas tanpa mahkota setelah penyimpanan khususnya penyimpanan buah untuk penjualan lokal. menggunakan aplikasi RStudio dengan uji lanjut BNT 5%. METODE PENELITIAN HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian Laboratorium Tanaman i. Politeknik Negeri Lampung pada bulan Juni 2025. Bahan yang digunakan adalah buah nanas varietas MD2 yang dipanen dengan tingkat kemasakan SC1 (Gambar 1. Alat yang digunakan adalah timbangan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) tunggal dengan tiga perlakuan, yaitu kontrol (H. , nanas dengan mahkota buah (CH. dan nanas tanpa mahkota buah (DH. Masing Ae masing perlakuan diulang sebanyak 9 kali, dengan masing Ae masing ulangan terdiri dari 2 sampel buah. Pengamatan dilakukan setelah 7 hari simpan (HSP) pada parameter pengamatan susut bobot buah. Brix, tingkat kekerasan buah, dan uji organoleptik. Uji organoleptik dilakukan kepada 10 orang volunteer dengan beberapa uji seperti pada Tabel 1. Hasil Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pembuangan mahkota pada buah nanas tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas buah nanas MD2 khususnya pada kandungan Brix dan kekerasan buah, namun berpengaruh signifikan terhadap susut bobot pada buah, aroma, dan rasa pada buah. Berdasarkan data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kandungan Brix pada buah nanas yang masih memiliki mahkota buah setelah 7 hari simpan memiliki kandungan Brix yang lebih tinggi yaitu rata Ae rata 16,22 jika dibandingkan dengan buah nanas yang baru dipanen (H. yaitu rata Ae rata 15,42, namun tidak berbeda signifikan dengan buah nanas tanpa mahkota setelah menunjukkan kandungan Brix rata Ae rata 15,89. Meskipun begitu, hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa buah nanas tanpa mahkota memiliki nilai Brix yang lebih rendah, hal ini menunjukkan bahwa buah nanas tanpa mahkota telah Tabel 1. Form uji organoleptik buah nanas MD2 Kategori Tampilan Visual Aroma Tekstur Rasa Keseluruhan Parameter Skor Sangat Menarik Menarik Tidak Menarik Sangat Harum Harum Tidak Harum Keras Agak Keras Lembek Sangat Manis Manis Asam Sangat Suka Suka Tidak Suka Kode Sampel 1 2 dst. Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A mengalami kematangan yang lebih lanjut. Hal tersebut didukung oleh hasil pengamatan visual pada Gambar 2 yang menunjukkan kulit buah nanas tanpa mahkota menunjukkan tingkat kemasakan yang lebih tinggi dibandingkan buah nanas yang masih memiliki mahkota. Hal serupa didapatkan pada penelitian Sari et al. , yang meningkatnya kemasakan buah, maka kandungan zat yang terlarut pada buah yang ditunjukkan dengan Brix buah akan penyimpanan kandungan zat terlarut pada buah akan menurun karena buah menuju proses senesens. Menurut (Rajan & Mini, 2. , terjadinya peningkatan kandungan zat terlarut selama buah berada di penyimpanan disebabkan adanya proses pemecahan pati kompleks dan pektin menjadi gula sederhana selama proses pematangan, selanjutnya penurunan kandungan zat terlarut lebih lanjut disebabkan oleh adanya proses hidrolisis. Kandungan gula pada buah mencapai maksimum pada tahap pematangan optimal dengan mengubah pati menjadi gula dan selanjutnya menurun karena gula digunakan sebagai substrat untuk proses Buah nanas termasuk ke dalam golongan buah non klimakterik sehingga setelah buah dipanen, buah tidak akan mengalami proses kematangan sempurna ketika berada di penyimpanan (Gomez et , 2. Oleh karena itu, dari hasil uji organoleptik didapati pada beberapa buah mahkota buah sudah mulai mengalami fermentasi yang ditunjukkan dengan rasa dan aroma buah yang mulai terasa mengandung alkohol. Sedangkan buah nanas yang masih memiliki mahkota buah seluruhnya masih dalam kondisi segar. Tabel 2. Pengaruh pembuangan mahkota pada kandungan Brix, kekerasan, dan susut bobot pada buah nanas MD2 Perlakuan CH7 DH7 Brix Kekerasan . g/cmA) Susut Bobot . Keterangan: H0 : 0 hari simpan. CH7 : nanas dengan mahkota buah 7 hari simpan. DH7 : nanas tanpa mahkota buah 7 hari simpan. Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Tabel 2 menunjukkan, tingkat kekerasan buah signifikan menurun sejak dipanen hingga penyimpanan hari 7, meskipun tidak terdapat perbedaan signifikan antara buah nanas dengan mahkota dan buah tanpa mahkota. Pada buah yang baru dipanen rata Ae rata tingkat kekerasan buah mencapai 2,84 kg/cmA, menurun setelah 7 hari simpan menjadi 1,22 kg/cmA pada buah nanas dengan mahkota dan 1,11 kg/cmA pada buah nanas tanpa mahkota. Penurunan kekerasan buah selama proses pematangan buah berhubungan dengan aktivas enzim poligalakturonase (PG) dan selulosa. Selain itu, selama di penyimpanan buah Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A akan terus memproduksi etilen selama proses pematangan berjalan, enzim ini menjadi aktif yang menyebabkan pektin dan selulosa dinding sel terhidrolisis yang menyebabkan pelunakan dinding sel (Kumara & Hettige, 2. Pada Tabel 2 menunjukkan susut bobot yang signifikan pada penyimpanan hari ke Ae 7. Pada buah nanas dengan mahkota menunjukkan susut bobot yang signifikan lebih tinggi yaitu rata Ae rata 0,10 g, sedangkan buah nanas tanpa mahkota menunjukkan rata Ae rata susut bobot 0,08 g. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Fauzan & Budirokhman . , yang menunjukkan bahwa setelah di penyimpanan, susut bobot buah nanas dengan tingkat kemasakan 10% akan meningkat setelah selanjutnya susut bobot menurun pada saat tingkat kemasakan buah mencapai Susut bobot pada buah selama di penyimpanan disebabkan oleh laju transpirasi dan respirasi pada buah. Laju respirasi pada buah dipengaruhi oleh tingkat kemasakan buah (Rahayu et al. Buah yang baru dipanen masih mengalami metabolime aktif sehingga susut bobot lebih tinggi dibandingkan dengan buah yang telah mengalami kemasakan lebih lanjut. Dari hasil pengamatan pada Tabel 2, menunjukkan nilai yang berkorelasi antara kandungan Brix, tingkat kekerasan, dan susut bobot buah. Nilai Ae nilai tersebut menunjukkan bahwa tingkat kemasakan buah yang telah dilakukan pemotongan mahkota buah lebih tinggi dibandingkan buah nanas yang masih memiliki mahkota, sehingga mempengaruhi nilai kandungan Brix, tingkat kekerasan, dan susut bobot pada buah nanas MD2. Tabel 3. Hasil uji organoleptik buah nanas MD2 Perlakuan CH7 DH7 Tampilan Visual 32 ab Aroma *alcoholic Tekstur Rasa *alcoholic Keseluruhan Keterangan: H0 : 0 hari simpan. CH7 : nanas dengan mahkota buah 7 hari simpan. DH7 : nanas tanpa mahkota buah 7 hari simpan. Nilai rata-rata yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata menurut uji BNT pada taraf 5% Proses pematangan buah akan mempengaruhi warna kulit buah, daging buah, kekerasan buah, dan juga kandungan zat terlarut pada buah (Widayanti et al. , 2. Uji organoleptik dilakukan untuk melihat kesukaan konsumen terhadap buah nanas yang baru dipanen 0 HSP, buah nanas dengan mahkota 7 HSP dan buah nanas tanpa mahkota 7 HSP. Dari hasil uji organoleptik pada Tabel 3 didapatkan bahwa konsumen lebih menyukai tampilan visual buah yang sudah mengalami proses pematangan lebih Hasil uji terhadap rasa dan secara kesukaan konsumen lebih tinggi pada buah dengan tingkat kemasakan yang lebih lanjut. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Dursun et al. , yang menyatakan bahwa Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A konsumen lebih menyukai buah dengan tingkat kemasakan yang yang lebih lanjut bahkan buah overripe. Namun, pada beberapa buah dengan tanpa mahkota telah menunjukkan aroma dan rasa yang mulai mengandung alkohol. Hal ini menunjukkan bahwa buah dengan tanpa mahkota telah mulai mengarah ke senesens. Hasil uji organoleptik juga menunjukkan semakin tinggi kemasakan buah, semakin tinggi Tingkat kesukaan konsumen terhadap aroma dari buah Menurut Lalel et al. produksi senyawa volatil aroma sangat dipengaruhi oleh kematangan buah dan berkaitan erat dengan perubahan laju respirasi dan produksi etilen pada buah. Peningkatan kandungan asam lemak dan pematangan buah juga berhubungan dengan biosintesis senyawa volatil Menurut Dursun et al. jumlah senyawa organik volatil paling banyak terdapat pada buah dengan tingkat kematangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan buah dengan tingkat kematangan lebih rendah. Hasil uji terhadap tekstur buah juga sejalan dengan hasil pengamatan tingkat kekerasan pada buah. Uji tekstur pada buah menunjukkan bahwa buah yang baru dipanen memiliki tekstur yang lebih keras dibandingkan buah yang telah disimpan selama 7 HSP (Tabel . Setelah dipanen, aktifitas fisiologi pada buah tetap berjalan, hal ini akan mempercepat disintegrasi sel karena buah telah dipanen dari tanamannya dan pasokan nutrisi telah dihentikan. Peningkatan permeabilitas membran sel dan laju kebocoran elektrolit selama Terjadinya degradasi protopektin secara bertahap menjadi pektin yang larut dan kerusakan struktur sel selama proses kekerasan buah akan menurun dengan cepat setelah buah lebih matang. Sedangkan, penyusun utama dinding sel terdiri dari protopektin yang tidak larut sebelum buah matang. Oleh karena itu, pada saat buah belum mengalami proses pematangan lebih lanjut, tekstur buah akan menjadi lebih keras dengan struktur sel yang lengkap (Niu et al. , 2. Gambar 2. Buah nanas MD2 0 HSP . dengan mahkota buah 7 HSP . , tanpa mahkota buah 7 HSP . Buah yang digunakan pada penelitian ini adalah buah nanas dengan tingkat kemasakan awal S1 (Gambar . , setelah 7 hari penyimpanan tingkat kemasakan buah nanas dengan mahkota memasuki tingkat kemasakan SC3 menuju Planta Simbiosa. Volume 7 . Oktober 2025: 130-137 Sari, et. : Buah Nanas MD2 Tanpa Mahkota Buah A SC4, terlihat pada bagian bawah buah sudah didominasi warna kuning, namun bagian atas buah sebagian masih tampak berwarna hijau tua di sekeliling mata Sedangkan pada buah nanas dengan tanpa mahkota sudah memasuki tingkat kemasakan SC4 menuju SC5, terlihat pada bagian bawah buah warna kuning sudah lebih banyak mendominasi bagian bawah hingga bagian tengah buah, dan bagian atas buah warna hijau di sekeliling mata buah sudah terlihat lebih menguning dibandingkan dengan buah nanas yang masih memiliki mahkota (Gambar . Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan mahkota buah nanas mempengaruhi kecepatan pemasakan buah nanas selama di penyimpanan, yang terlihat dari tampilan warna kulit buah nanas dari luar. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Perlakuan pemotongan mahkota buah signifikan mempengaruhi susut bobot buah, tingkat kemasakan buah, aroma, dan rasa pada buah nanas MD2. Pemotongan memperlambat masa simpan buah yang ditunjukkan dengan tingkat kemasakan yang lebih tinggi dibandingkan buah nanas yang masih memiliki mahkota buah, selain itu mulai terasa dan tercium aroma alkohol pada daging buah. Saran Pada penelitian lanjutan sebaiknya ditambahkan perlakuan penyimpanan pada suhu rendah. DAFTAR PUSTAKA