EFEKTIVITAS VIDEO EDUKASI TERHADAP PENGETAHUAN DISMENORE PADA SISWI KELAS X SMA PONDOK PESANTREN MODERN DATOK SULAIMAN KOTA PALOPO TAHUN 2025 Rachmawati1. Dewi Hastuty2. Rosita3. Yenny Arfinati4 1,2,3,4* Program Studi Kebidanan. Universitas Mega Buana Palopo. Sulawesi Selatan. Indonesia, 92211 Corresponding author: rachmawatisolihin9@gmail. Info Artikel Sejarah artikel Diterima Disetujui Dipublikasi Abstrak : 08. : 17. : 01. Kata Kunci : Dismenore. Pengetahuan. Siswi SMA. Video Edukasi. Dismenore merupakan gangguan menstruasi yang umum dialami oleh remaja perempuan dan dapat mempengaruhi aktivitas belajar. Rendahnya pengetahuan siswi mengenai dismenore berdampak pada kurangnya pengetahuan yang mereka miliki untuk menangani dismenore yang mereka alami. Tujuan: Untuk menganalisis efektifitas video edukasi terhadap pengetahuan remaja tentang dismenore Pada siswi kelas 10 SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo Tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan metode Pendekatan Pre-experimental dengan rancangan one group pre-test post-test, pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner untuk melihat sejauh mana pengetahuan remaja putri mengenai dismenore. Populasi dalam penelitian ini yaitu siswi kelas X yang berjumlah 50 orang. Pengambilan sampel penelitian menggunakan total sampling yaitu keseluruhan dari jumlah siswi yaitu 50 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner. Data yang telah di kumpulkan diolah dan di analisis menggunakan aplikasi SPSS versi 27, di analisis dengan uji Wilcoxon signed rank test. Hasil: Penelitian ini menunjukkan adanya efektifitas video edukasi terhadap peningkatan pengetahuan dismenore pada siswi dengan nilai p value sebesar 0,000. Kesimpulan: Video edukasi efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswi terkait dismenore. The Effectiveness of Educational Videos on Dysmenorrhea Knowledge in 10th-Grade Students of Datok Sulaiman Modern Islamic Boarding School. Palopo City, 2025 Abstrak Dysmenorrhea is a common menstrual disorder experienced by adolescent girls and can negatively affect their learning activities. The lack of knowledge about dysmenorrhea among female students results in limited ability to manage the condition. Objective: To analyze the effectiveness of educational videos in increasing adolescentsAo knowledge about dysmenorrhea among 10th-grade students at Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman High School. Palopo City, in 2025. Method: This study used a pre-experimental method with a one-group pre-test and post-test design. Data collection was carried out using a questionnaire to assess the students' knowledge of dysmenorrhea. The population consisted of 50 10th-grade female students, all of whom were included as samples using total sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using SPSS version 27 with the Wilcoxon signed-rank test. Results: The study showed a significant increase in knowledge about dysmenorrhea after the intervention, with a p-value of Conclusion: Educational videos are effective in enhancing female studentsAo knowledge of dysmenorrhea. Keyword : Dysmenorrhea. Knowledge. High school students. Educational video Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Pendahuluan Dismenore merupakan masalah kesehatan yang umum dialami oleh remaja dan sering menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri, yang dapat memengaruhi aktivitas mereka di sekolah. Sebagian wanita mengalami dismenore, baik sebelum maupun selama menstruasi, berupa rasa nyeri atau kram hebat di bagian bawah perut, yang terkadang disertai dengan gejala lain seperti sakit kepala, pusing, diare, perut kembung, mual, muntah, nyeri punggung, hingga rasa sakit pada kaki (Fahmiah et al. , 2. Menurut World WHO berdasarkan data tahun 2020 sebanyak 1. 425 wanita yang mengalami dismenore, tahun 2021 wanita yang menderita dismenore lebih dari 50% dan pada tahun 2022 10-16% wanita mengalami dismenore berat. Rata- rata dismenore terjadi pada 45-97 persen wanita di negara-negara Eropa. Hingga 90% wanita mengalami menarche saat menstruasi dan lebih dari 50% wanita menstruasi menderita dismenore primer, wanita tersebut menunjukkan gejala yang cukup berat . wae et al. , 2. Di Indonesia, angka kejadian dismenore terjadi mencapai 64,25%, yang terbagi atas 54,89% dismenore primer dan 9,36% dismenore sekunder. Sebuah studi mengungkapkan bahwa sekitar 10% hingga 18% kasus dismenore menjadi penyebab utama ketidakhadiran di sekolah serta mengganggu berbagai aktivitas lainnya (Ambarsari et al. , 2. Berdasarkan data dari profil Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menunjukkan angka kejadian dismenore tergolong tinggi, dengan rincian tingkat nyeri ringan sebesar 57,7%, nyeri sedang sebesar 38,5%, dan nyeri berat mencapai 3,8%. Prevelensi dismenore pada remaja putri diamati di beberapa wilayah kota Makassar dimana dari 997 remaja putri, 935 diantaranya . ,8%) dipastikan mengalami dismenore primer. Data tersebut memberikan gambaran bahwa banyaknya remaja putri yang mengalami dismenore . wae et al. , 2024 Dismenore tidak hanya berdampak pada fisik tetapi juga memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup remaja. Gejalanya dapat mengganggu aktivitas harian, bahkan membuat sebagian remaja hanya bisa berbaring karena nyeri yang dirasakan dan memilih tidak beraktivitas di luar rumah hingga gejala dismenorenya mereda (Fahmiah et al. , 2. Pada sebagian remaja putri mengalami nyeri yang intens saat nyeri haid berlangsung, sementara yang lain hanya merasakan ketidaknyamanan yang Pada saat ini kurangnya pengetahuan mengenai menstruasi yang dimiliki dapat membuat mereka kesulitan dalam menghadapi masa haid, terutama jika sebelumnya belum pernah mendapatkan informasi atau membicarakannya dengan teman sebaya, ibu, maupun anggota keluarga lainnya (Arini. Agriani et al. , 2. Berdasarkan hasil penelitian Maimuna Irwan Pawae dkk. ,Kurangnya pengetahuan seorang remaja putri dalam menghadapi dismenore disebabkan oleh rendahnya kesadaran untuk memahami penyebab, gejala, serta langkah-langkah penanganannya, dan ditambah dengan kurangnya minat dalam mencari Oleh karena itu, edukasi yang tepat sangat diperlukan agar mereka mampu mengatasi dampak dismenore dalam menjalani aktivitas seharihari (Patnawati et al. , 2. Seiring dengan perkembangan teknologi dan media audiovisual, seperti video edukasi, menjadi salah satu dari sekian metode pembelajaran yang efektif untuk menyampaikan informasi kesehatan reproduksi kepada remaja. Video edukasi efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa karena menyajikan informasi secara menarik dan mudah Media ini relevan dengan kebutuhan remaja, termasuk di lingkungan pesantren, serta dapat diputar ulang kapan saja tanpa bergantung pada pendidik, sehingga memberikan keleluasaan belajar secara mandiri (Patnawati et al. , 2. Media berperan dalam menyampaikan informasi dan dapat mengubah pengetahuan serta sikap remaja terhadap nyeri haid. Dikarenakan biasanya remaja cenderung lebih tertarik pada media audio visual seperti video edukatif, maka dengan penggunaan video membuat pesan yang disampaikan lebih menarik dan memotivasi penonton, karena visual yang bergerak mampu menyampaikan informasi secara cepat dan jelas (Arini Agriani et al. , 2. Berdasarkan penelitian Nafiroh & Indrawati . , sebanyak 78,3% remaja putri diketahui memiliki tingkat pengetahuan yang rendah mengenai dismenore. Hal ini terlihat dari ketidaktahuan mereka tentang pengertian dismenore maupun cara penanganannya. Kondisi ini muncul karena remaja tidak memperoleh edukasi kesehatan tentang dismenore, pelajaran biologi biasanya hanya membahas anatomi dan fungsi sistem reproduksi tanpa menyinggung masalah yang dapat menyertainya (Fitriyani et al. , 2. Berdasarkan survei awal yang telah peneliti lakukan di SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo Tahun 2025, dari 50 siswi dari 2 kelas diketahui sebanyak 50 siswi yang telah mengalami menstruasi, dan mengalami dismenore. Data ini ditemukan dengan melakukan wawancara dari 50 responden 2 orang diantaranya menceritakan terkadang mengalami nyeri haid hingga demam, 1 orang mengatakan sudah melakukan konsultasi dengan dokter sebagian lainnya mengatakan belum memahami betul penyebab terjadinya nyeri haid yang dirasakan dan malu untuk bertanya terkait penanganan nyeri haid serta mengatakan penyebab utama absennya mereka pada jam-jam sekolah salah satunya yaitu karena nyeri haid. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti merasa perlu untuk mengkaji lebih lanjut melalui penelitian yang berjudul AuEfektivitas Penggunaan Video Edukasi Dalam Meningkatkan Pengetahuan Tentang Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Dismenore Pada Siswi Kelas X SMA Pondok Pesantren Datok Sulaiman Palopo Tahun 2025Ay. Bahan dan Metode Penelitian pendekatan pre-eksperimental dengan rancangan . ne goru. sebelum dan sesudah diberikan perlakuan . re-test dan post-tes. , pengambilan data dalam studi penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan lembar kuesioner untuk melihat sejauh mana pengetahuan remaja putri mengenai Penelitian ini dilakukan di Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo dan dilaksanakan pada bulan Mei-Juni tahun 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah semua total responden pada sampel penelitian. Pengolahan data menggunakan SPSS 27, dengan tahap editing, coding, tabulating dan cleaning. Penelitian ini menggunakan analisis univariat dan analisis Hasil Penelitian Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi frekuensi berdasarkan karakteristik responden Karakteristik Frekuensi . Persentase (%) Umur Kelas X IKM 2 X IKM 3 X IKM 4 Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan dari total 50 responden yang diteliti, sebanyak 13 orang . ,6%) berusia 15 tahun, 35 orang . ,0%) berusia 16 tahun, dan 2 orang . ,0%) dan yang berusia 17 tahun. Ay. Karakteristik berdasarkan kelas responden yang diteliti dengan kategori di kelas X IKM 2 sebanyak 10 orang . ,0%), di kelas X IKM 3 sebanyak 11 siswi . ,0%), di kelas X IKM 4 sebanyak 29 orang . ,0%). Tabel 2 Hasil Analisa univariat pada pengetahuan dismenore pre-test dan post-test di kelas X Pretest Post Test Pengetahuan Frekuensi Frekuensi Pengetahuan Baik Pengetahuan Cukup Pengetahuan Kurang Total Berdasarkan hasil Pre-Test Pengetahuan Dismenore yang disajikan, mayoritas responden menunjukkan tingkat pengetahuan yang kurang. Sebanyak 31 dari 50 responden . ,0%) memiliki skor pengetahuan di bawah Sementara itu, hanya 19 responden . ,0%) yang memiliki pengetahuan cukup, dengan skor antara 60-79% dan pengetahuan baik 0%. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar peserta pre-test memiliki pemahaman yang masih rendah mengenai dismenore. Berdasarkan hasil Post-Test Pengetahuan Dismenore yang disajikan, terlihat peningkatan signifikan dalam tingkat pengetahuan responden setelah intervensi. Sebanyak 43 dari 50 responden . ,0%) menunjukkan pengetahuan yang baik dengan skor Ou 86,0%. Sedangkan 7 responden lainnya . ,0%) memiliki pengetahuan yang cukup dengan skor antara 60-79% dan pengetahuan kurang 0%. Tidak ada lagi responden yang berada dalam kategori pengetahuan kurang, menunjukkan bahwa program atau intervensi yang diberikan berhasil meningkatkan pemahaman peserta mengenai dismenore secara substansial Analisis Bivariat Tabel 3 Hasil uji normalitas pengetahuan dismenore pre-test dan post-test di kelas X SMA Pondok Pesantren Pengetahuan Dismenore Frekuensi Signifikan Pengetahuan cukup <,001 Pengetahuan baik <,001 Total <,001 Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Berdasarkan tabel "Tests of Normality" untuk data Pengetahuan Dismenore Post-Test menggunakan uji Shapiro-Wilk, semua nilai signifikansi (Sig. ) adalah kurang dari 0,001 . <0,. Hal ini berlaku untuk kedua kategori, yaitu "Pengetahuan baik" . ika skor > 80%) dengan 43 responden, dan "Pengetahuan cukup" . ika skor 60-79%) dengan 7 responden. Karena nilai signifikansi p< . mumnya =0,. , maka dapat disimpulkan bahwa distribusi data pengetahuan dismenore pada post-test tidak terdistribusi secara normal. Tabel 4 Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank pengetahuan dismenore pre-test dan post-test di kelas X Pengetahuan Mean Minimum Maksimum P-Value Pre-Test 1,38 0,49 1,00 2,00 Post-Test 0,35 2,00 2,00 0,000 Total 4,34 0,84 3,00 4,00 Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa nilai rata-rata . pengetahuan siswi sebelum diberikan video edukasi . re-tes. adalah 1,38 dengan standar deviasi sebesar 0,49, nilai minimum 1,00, dan maksimum 2,00. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar siswi memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah hingga sedang mengenai dismenore sebelum diberikan intervensi. Setelah dilakukan pemberian video edukasi, terjadi peningkatan yang signifikan pada hasil post-test, dengan nilai rata-rata sebesar 2,86. Standar deviasi bernilai 0,35, dengan skor minimum dan maksimum masing-masing sebesar 2,00. Rerata total skor pengetahuan gabungan dari pre-test dan post-test adalah 4,34, disertai standar deviasi 0,84, nilai minimum 3,00, dan nilai maksimum 4,00. Adapun nilai p . -valu. yang diperoleh adalah 0,000. Peningkatan skor ini mencerminkan bahwa video edukasi efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswi tentang dismenore. Hasil ini juga memperkuat temuan bahwa media edukatif visual seperti video dapat menjadi sarana yang efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap isu-isu kesehatan reproduksi. Pembahasan Hasil penelitian ini telah menjawab tujuan studi penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan efektivitas video edukasi terhadap pengetahuan dismenore pada siswi kelas X di SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo tahun 2025. Responden penelitian ini adalah siswi kelas X sebanyak 50 responden. Berdasarkan hasil distribusi frekuensi sebelum dan setelah diberikan video edukasi oleh peneliti terkait pengetahuan dismenore pada siswi kelas X sebelum diberikan intervensi terdapat sebanyak 31 dari 50 responden . ,0%) memiliki skor pengetahuan di bawah 60%. Sementara itu, hanya 19 responden . ,0%) yang memiliki pengetahuan cukup, dengan skor antara 60-79%. Dan setelah di berikan intervensi video edukasi sebanyak Sebanyak 43 dari 50 responden . ,0%) menunjukkan pengetahuan yang baik dengan skor Ou 86,0%. Sedangkan 7 responden lainnya . ,0%) memiliki pengetahuan yang cukup dengan skor antara 60-79%. Hasil dari uji normalitas menunjukkan bahwa data pengetahuan dismenore pada post-test tidak terdistribusi secara normal . <0,. Maka peneliti menggunakan Uji Wilcoxon signed rank test untuk menguji data. Berdasarkan menggunakan uji Wilcoxon signed rank test menunjukkan bahwa adanya peningkatan yang signifikan terhadap pengetahuan siswi berkaitan dengan dismenore pasca pemberian intervensi dalam bentuk video edukasi. Pada saat pre-test, nilai rata-rata pengetahuan responden adalah 1,38 dengan standar deviasi 0,49, nilai minimum 1,00, dan maksimum 2,00. Ini menunjukkan bahwa sebelum diberikan edukasi, pengetahuan siswi masih tergolong rendah hingga sedang. Setelah diberikan video edukasi, hasil post-test menunjukkan rata-rata pengetahuan meningkat menjadi 2,86 dengan standar deviasi yang lebih kecil yaitu 0,35, dan seluruh responden memiliki nilai minimum dan maksimum 2,00, yang mengindikasikan adanya konsistensi peningkatan pengetahuan secara merata di antara peserta. Rata-rata total nilai hasil penelitian pengetahuan dari sebelum dan sesudah intervensi adalah 4,34 dengan standar deviasi 0,84, nilai minimum 3,00, maksimum 4,00 dan nilai p . = 0,000 Ou 0,05. Maka HCA ditolak, yang artinya ada efektifitas video edukasi terhadap pengetahuan dismenore pada siswi kelas X di SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo Tahun 2025. Penelitian ini sudah sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Patnawati et al. menunjukkan Hasil uji Mc Nemar menunjukkan nilai probabilitas . sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi = 0,05. Dengan demikian. HCA ditolak, yang berarti terdapat pengaruh signifikan dari edukasi mengenai dismenore melalui media video terhadap perubahan sikap pada remaja putri di SMP Negeri 3 Tanah Grogot. Pada hasil penelitian ini menunjukkan Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 bahwa sebelum intervensi dilakukan, mayoritas responden 62,0% memiliki pengetahuan yang kurang mengenai dismenore, dengan skor di bawah Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman tentang dismenore di kalangan peserta masih rendah, lalu hanya 38,0% responden yang memiliki pengetahuan cukup dengan skor 60y% dan pengetahuan baik 0%. Namun, setelah intervensi dilakukan, terjadi peningkatan signifikan dalam pengetahuan responden. Sebanyak 86,0% responden menunjukkan pengetahuan yang baik dengan skor Ou 80%, dan tidak ada responden yang berada dalam kategori pengetahuan kurang. Ini menunjukkan keberhasilan program video edukasi dalam meningkatkan pemahaman dan pengetahuan siswi mengenai dismenore. Penelitian yang dilakukan oleh (Tsabita et al. , 2. juga menunjukkan peningkatan pengetahuan dan sikap menggunakan media video lebih efisien karena media video melibatkan indera pendengaran dan penglihatan dimana media video tidak hanya berupa tulisan saja tetapi terdapat gambar dan suara sehingga siswi lebih tertarik dan tidak mudah bosan berbeda dengan booklet hanya gambar diam dan cenderung Hasil ini menguatkan bahwa intervensi yang pengetahuan responden mengenai dismenore secara Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa intervensi edukasi, khususnya melalui video, sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan responden salah satunya pengetahuan tentang dismenore, yang dapat membantu mereka dalam memahami kondisi yang mereka alami dan berkontribusi pada pengelolaan dismenore yang lebih baik di masa depan. Berdasarkan sumber informasi mengenai pengetahuan dismenore melalui wawancara langsung dengan responden, diketahui bahwa mereka tidak mendapatkan informasi terkait dismenore, baik di pondok, di poskestren . uskesmas pesantren/klinik santri pondo. , maupun di sekolah. Yang mereka pelajari hanyalah dasar-dasar sistem reproduksi, salah satunya mengenai menstruasi dan kebersihannya. Untuk dismenore itu sendiri, mereka hanya diberikan penanganan saat nyeri berlangsung dengan menggunakan obat paracetamol, ibuprofen, dan amoksisilin sebagai penghilang rasa nyeri yang dialami para siswi. Sebagian dari mereka yang memiliki pengetahuan cukup ternyata mendapatkan informasi tersebut dari internet saat mereka liburan di rumah, sementara yang lainnya memperoleh pengetahuan tentang dismenore dari ibu, kakak, dan Berdasarkan hal itu, penelitian yang telah dilakukan oleh (Alang et al. , 2. menyoroti pentingnya edukasi kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan pondok untuk memberikan informasi yang mungkin tidak didapatkan remaja dari kurikulum formal, internet dan bahkan dari Maka dari itu peneliti menggunakan video edukasi sebagai pendidikan kesehatan terkait dismenore pada siswi kelas X di SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo. Sesuai penelitian yang dilakukan oleh (Patnawati et , 2. secara langsung menunjukkan bahwa edukasi dismenore menggunakan video berhasil meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri secara substansial. Hasil ini mengindikasikan bahwa video edukasi adalah metode yang efisien dalam menyampaikan materi kesehatan yang bersifat kompleks kepada kalangan remaja. Lalu, menurut (Tsabita et al. , 2. penelitian ini menemukan bahwa media video lebih efisien dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap dibandingkan booklet. Dikarenakan keunggulan video terletak pada kemampuannya yang melibatkan indera pendengaran dan penglihatan secara bersamaan, membuat informasi lebih mudah diserap dan tidak membosankan. Pemberian intervensi video edukasi pada penelitian ini dengan durasi 8 Menurut (Marliany et al. , 2. pengetahuan kesehatan seseorang dapat di tingkatkan melalui pendidikan kesehatan, termasuk dalam hal ini edukasi pengetahuan dismenore pada kalangan remaja putri. Dalam hasil penelitian ini terjadi peningkatan pengetahuan terkait dismenore pada Temuan ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh (Fitriyani et al. , 2. yang juga melaporkan peningkatan pemahaman remaja putri terkait penanganan dismenore setelah diberikan edukasi kesehatan berbasis video. Secara keseluruhan, peningkatan dalam pengetahuan responden setelah intervensi video edukasi dalam penelitian ini mengkonfirmasi bahwa video adalah alat yang sangat efektif dan relevan untuk pendidikan kesehatan, khususnya dalam mengatasi kesenjangan informasi mengenai dismenore pada Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh (Ingrit et al. , 2. secara umum membahas pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja, menegaskan bahwa kelompok usia ini sangat membutuhkan informasi kesehatan yang akurat untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan mereka. Menurut Notoadmodjo tingkat pendidikan yang dimiliki seseorang dapat mempengaruhi kemampuannya dalam memahami dan menyerap informasi yang diterimanya sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Pada dasarnya, pendidikan memiliki peran penting dalam proses pembelajaran. semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, maka semakin luas pula wawasan dan pengetahuannya (Baharsya et al. , 2. Dari hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa video edukasi terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswi kelas X SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo mengenai Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 dismenore. Sebelum intervensi, mayoritas siswi memiliki pengetahuan yang kurang tentang dismenore, namun setelah diberikan video edukasi, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan mereka, yang dibuktikan dengan hasil uji Wilcoxon signed rank test . = 0,. Keberhasilan ini didukung oleh sifat audiovisual dari video edukasi yang mampu menyampaikan informasi secara menarik dan mudah dipahami, mengatasi kesenjangan informasi yang sebelumnya tidak didapatkan siswi dari sumber lain seperti kurikulum formal, internet atau keluarga. Temuan ini menguatkan pentingnya intervensi edukasi kesehatan yang inovatif, khususnya melalui media video, untuk kelompok remaja yang sedang mengalami banyak perubahan fisik dan psikologis, berkontribusi pada perluasan pengetahuan. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa penggunaan video edukasi terbukti efektif dismenore pada siswi SMA kelas X. Namun, berbeda dengan penelitian oleh (Eko Winarti et al, 2. yang menggunakan metode yang berbeda dengan peneliti lakukan, menunjukkan bahwa intervensi pendidikan kesehatan reproduksi dengan metode Case-Based Learning (CBL) ternyata kurang efektif, bahkan kelompok kontrol menunjukkan peningkatan yang lebih baik. Penelitian ini berasumsi bahwa rendahnya pengetahuan siswi tentang dismenore disebabkan oleh keterbatasan informasi dan kurangnya metode edukasi yang menarik serta mudah dipahami. Video edukasi, sebagai media audiovisual, diasumsikan mampu menyampaikan informasi secara lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Diharapkan bahwa dengan menyaksikan video edukasi, pemahaman siswi mengenai dismenore akan meningkat. Selain itu, diasumsikan bahwa seluruh responden memiliki kemampuan dalam memahami isi video, serta bahwa perubahan pengetahuan dapat diukur secara valid dan reliabel melalui instrumen yang telah diuji sebelumnya. dibawah skor 60%, sementara itu, hanya 19 responden tersisa dengan 38,0% yang memiliki pengetahuan cukup. Setelah diberikan video edukasi, terjadi peningkatan signifikan dalam pengetahuan responden, di mana 43 dari 50 responden 86,0% dari mereka menunjukkan pengetahuan yang baik dengan skor Ou 80% dan 7 responden 14,0% memiliki pengetahuan yang cukup dengan skor 6079%. Hasil ini menunjukkan bahwa video edukasi berhasil meningkatkan pemahaman siswi mengenai dismenore secara substansial, yang dibuktikan dengan nilai p = 0,000 dari uji Wilcoxon signed rank test. Temuan ini menegaskan efektivitas video edukasi sebagai alat untuk menyampaikan informasi kesehatan yang kompleks kepada remaja, serta pentingnya intervensi edukasi yang inovatif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan di kalangan remaja. Saran Bagi bidan Disarankan perlu meningkatkan edukasi dengan video tentang dismenore ke remaja putri, agar dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasannya tentang dismenore sehingga berdampak pada perubahan perilaku dan sikap remaja putri terhadap dismenore. Bagi institusi Disarankan merekomendasikan agar pihak sekolah lebih proaktif dalam memberikan informasi guna meningkatkan pengetahuan siswi mengenai dismenore, salah satunya dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia melalui kegiatan penyuluhan yang menghadirkan narasumber yang ahli di bidangnya. Bagi peneliti selanjutnya Disarankan disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan menggunakan variabel dan metode yang berbeda, sehingga studi mengenai dismenore menjadi lebih bervariasi dan komprehensif. Kesimpulan Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan inspirasi dalam penyusunan karya ini. Karya ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dan semangat dari orang-orang terdekat. Sebelum diberikan video edukasi, mayoritas siswi kelas X di SMA Pondok Pesantren Modern Datok Sulaiman Kota Palopo mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai dismenore sebanyak 31 dari 50 responden 62,0% memiliki pengetahuan Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 20 Nomor 4 Tahun 2025 a eISSN : 2302-2531 Referensi