http://journal. id/index. php/anterior PUDARNYA KEARIFAN LOKAL TRADISI MENGAWETKANIKAN CARA AuWADIAyBAGI MASYARAKAT ANJIR SERAPAT THE EXTINCTION OFLOCAL WISDOM ON TRADITIONAL FISH PRESERVATION AuWADIAy WAY FOR THE ANJIR SERAPAT COMMUNITY'S Saiffullah Darlan Abstrak UPRPalangkaraya. Palangka Raya. Central Kalimantan. Indonesia Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui pudarnya kearifan lokal tradisi mengawetkan ikan cara Wadi bagi masyarakat Anjir Serapat. Penelitian dilaksanakanmenggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri masyarakat yang bermukim di dalam Handil di wilayah Kecamatan Kapuas Timur. Analisis data dilaksanakan secara simultan sejak dimulai hingga akhir penelitian, terdiri dari data condensation, data display dan drawing and verifying conclusions. Untuk menguji keabsahan data dilakukan triangulasi, member checkdan diskusi. Hasil penelitian bahwa pudarnya kearifan lokal tradisi mengawetkan ikan cara Wadi lebih disebabkan faktor globalisasi informasi, terbukanya transportasidarat dan sangat mudahnya masyarakat mendapatkan ikan segar yang banyak dijual parapedagang yang dibawa dari daerah lain. Abstract Email : fuldarlan@gmail. Kata Kunci: Wadi kearifan lokal. Keywords: Wadi fish, community tradition, local wisdom This research was conducted to determine the cause of the fading of local wisdom in the tradition of preserving fish the Wadi way for the Anjir Serapat The study was conducted using a qualitative approach with data collection techniques through observation, interviews, and documentation. Research informants consist of people who live in Handil in the District of East Kapuas. Data analysis was carried out simultan eously from the start to the end of the study, consisting of data condensation, data display, and drawing and verifying To test the validity of the data, the researchers conducted triangulation, member checks, and discussions. The study's findings indicate that the extinction of local wisdom in the tradition of preserving fish the Wadi way is more likely due to information globalization, the openness of land transportation, and the ease with which people can obtain fresh fish sold by traders from other areas. A 2022 The Authors. Published by Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya. This is Open Access article under the CC-BY-SA License . ttp://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. PENDAHULUAN Anjir Serapat merupakan sebuah desa kesedarhanaan, masih kental dengan nuansa tradisi, adat dan budaya yang terpelihara sejak lama secara turun temurun. Undang-undang RI No. 6 Tahun 2014 Tentang Desa pada Pasal 1 ayat . menjelaskan bahwa Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Demikian pula Bouman. Pranowo. Anna Marie Wattie, dkk . Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan manusia secara bersama-sama, yang hampir semuanya saling mengenal. Selanjutnya dalam Aukesatuan tempat tinggalAy itu terdapat ikatan-ikatan kekerabatan yang rapat dan ketaatan pada tradisi serta pada kaidah-kaidah Scott . memaparkan bahwa, secara historis sebuah desa pada Asia Tenggara memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai unit solidaritas dan keamanan desa yang mampu menjamin sebuah masyarakat. Jika dilihat dari topologinya maka desa Anjir Serapat merupakan dataran rawa, dimana air hujan selalu menggenangi dataran pada lahan sawah secara alami, sehingga dikala musim penghujan airnya dalam dan pada saat musim kemarau airnya kering. Menurut Rukmini . , bahwa Lahan rawa dicirikan oleh sifat hidrologi dan tanah yang khas, yaitu dipengaruhi oleh pasang surut atau ketergenangan melebihi tiga bulan dan adanya mineral pirit sebagai pembentuk tanah sulfat masam dan gambut Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 8 Ae 12 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 sebagai bahan dasar pembentuk tanah gambut. Kondisi di atas menjadikan hanya jenis ikan tertentu yang dapat berkembang. Sebagai sebuah desa penduduk Anjir Serapat terutama yang bermukim di dalam Handil . , dimana pekerjaan utama sehariharimengolah sawah mulai dari menyemai biji padi untuk membuat bibit sampaimusim panen dikerjakan dalam siklus waktu satu tahun, sehingga masyarakat di sana menyebut Aumusim bagawi dan musim badiamAy . usim bekerja dan dia. dalam mengerjakan sawah dan enam bulan pula menunggu hasil. Walaupun dikatakan lahan persawahan pasang surut namun pada kenyataannya lahan sawah tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dari air pasang untuk mengairi sawah, namun tetap sangat ketergantungan dengan air hujan. Biasanya ketinggian air hujan yang menggenangi areal persawahan rata-rata antara 40 cm Ae 70 cm dan genangan air tersebut cukup lama kadang bisa sampailimabulan. Pada saat musim penghujan di sawah banyak sekali ditemukan ikankhas daerah di antaranya seperti Haruan (Gabu. atau (Channa striat. Papuyu (Beto. atau (Anabas testudineus Bloc. dan Sapat. Ikan-ikan tersebut merupakan ikan favorit bagi masyarakat Anjir Serapat,disamping untuk dijual namun juga dikonsumsi sebagai lauk untuk makan, karena ikan mengandung protein dan memiliki peran penting bagi kehidupan manusia. Oslida Martony, dkk . berpendapat Ikan memiliki peran penting sebagai sumber energi, protein dan variasi nutrien esensial yang menyumbang sekitar 20% dari total protein Protein dari ikan merupakan komponen nutrisi yang penting bagi negara yang memiliki jumlah penduduk tinggi di mana kecukupan proteinnya berada pada level rendah/kurang. Banyak cara bagi masyarakat Anjir Serapat untuk menangkap ikan,namun yang lazim menggunakanperangkap ikan berupa alat tradisional seperti Tampirai dan Lukah. Mambanjurdan Marawai, memasang Ringgi . aring ika. ,Bagalau . kan yang ada di Handil dihalau diarahkan masuk dan terkurung ke dalam Halawit . erangkap ikan terbuat dari rajutan benan. Maunjun . dan bahkan ada pula Mangacar . ancing gagang panjang terbuat dari bambu yang sudah diluruskan dan diberi tali nilon antara 3 Ae 4 mete. Kegiatan masyarakat menangkap/mencari ikan ini biasanya dilakukan setiap hari dan berlangsung lebih kurang lima bulan pada saat air di sawah masih dalam, dan sampaiikan-ikan sudah tidak ada lagi manakala air Handil (Kana. dan sawah mulai mengering. Pada saat musim kemarau atau padi di sawah sudah mulai berbunga hingga musim panen, ikan-ikan di Handil dan di sawah sudah tidak ada lagi sehingga masyarakat kesulitan mencari ikan sebagai lauk untuk konsumsi makan, kalaupun ada dijual harganya sangat Bagi masyarakat Anjir Serapat terutama yang bermukim di dalam Handil pada saat musim penghujan manakala Handil dan sawahbanyak terdapat ikan serta mudah didapat, mereka sudah terbiasa selalu mengikuti kearifan lokal berupa tradisi yang sudah diwarisi dari leluhur secara turun temurun yaitu melakukan pengawetan ikan yang mereka sebut Mewadi (Wadi ika. Wadi ikan adalah salah satu produk hasil fermentasi ikan, dengan tujuan mengawetkan daging ikan dengan cara menciptakan suasana asam dalam wadah (Petrus Senas,dkk, 2. Ikan yang diawetkan dengan cara Wadi ini bisa bertahan lama dan dibuat dalam jumlah banyak sehingga cukup untuk dikonsumsi selama empat bulan, hingga sampai pada musim penghujan dan ikanikan di Handil dan sawah kembali banyak. Namun patut disayangkan berdasarkan observasi di lokasi penelitian terutama bagi mereka yang bermukim di dalam Handil,ternyata saat ini kearifan lokal tradisi warisan dari leluhur dalam mengawetkan ikan dengan cara Wadi ini semakin berkurang dan bahkan sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat Anjir Serapat. Hasil observasi di lokasi penelitian,bagi kalangan generasi muda sudah banyak yang tidak bisa mengawetkan ikan dengan cara tradisoonal Wadi ini, kalaupun mereka membuatnya maka hasilnya jika dimasak aroma dan dan cita rasanya tidak seenak seperti buatan orang-orang tua terdahulu. Fenomena inilah yang membuat peneliti tertarik untuk mengetahui lebih dalam, mengapa masyarakat Anjir Serapat khususnya dalam wilayah Kecamatan Kapuas Timur sudah mulai mengawetkan ikan dengan cara Wadi. METODE PENELITIAN Penelitian ini berlokasi Anjir Serapat dalam wilayah Kecamatan Kapuas Timur,dengan pendekatan kualitatif. metode kualitatif dapat digunakan untuk mengungkap dan memahami sesuatu di balik fenomena yang sedikit pun belum diketahui. (Strauss dan Corbin. Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, maka sebagai instrumen penelitian dilakukan oleh peneliti sendiri. Peneliti sebagai instrumen kunci . esearcher as key instrumen. para peneliti kualitatif mengumpulkan sendiri data melalui dokumentasi, observasi perilaku. Saifullah Darlan. Pudarnya Kearifan Lokal Tradisi Mengawetkanikan Cara AuWadiAyBagi Masyarakat Anjir Serapat atau wawancara dengan partisipan. (Creswell. Proses pengumpulan data dilakukan oleh peneliti terhadap masyarakat desa Anjir Serapat terutama bagi mereka yang bermukim di dalam Handil. Informan tidak dibatasi jumlahnya dan teknik digunakan untuk mendapatkan data informasi diperoleh dari masyarakat desa Anjir Serapat dan sumber lain yang relevan melalui observasi, wawancara mendalam . n depth intervie. , dan dokumentasi. Proses analisis data dilakukan secara terus menerus dari awal sampai akhir penelitian dan dilaksanakan secara lengkap terhadap data yang dikumpulkan. Prosedur analisis data mengikuti anjuran Miles. Huberman dan Saldana, . mulai dari . kondensasi data (Data Condensatio. , . penampilan data (Data Displa. , dan . verifikasi dan kesimpulan. (Conclusions:Drawing and Verifyin. Untuk memastikan apakah data yang didapatkan dari informan itu benar-benar akurat, peneliti mengambil 3 dari tujuh prosedur yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba . sebagai berikut . triangulasi, dan . HASIL DAN PEMBAHASAN Profil masyarakat Anjir Serapat Jika dilihat dari geografisnya Anjir Serapat berada di antara dua sungai besar yakni Sungai Kapuas. Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah dan Sungai Barito. Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan. Jarak antara kedua sungai tersebut A 28 Km, dan berada di antara kota Kuala Kapuas dan Banjarmasin. Secara Anjir Serapat berada dalam dua wilayah Kecamatan, terdiri dari Kecamatan Kapuas Timur Kabupaten Kapuas dengan luas wilayah 202 km2dengan penduduk berjumlah 319 (Dukcapil Kabupaten Kapuas, 2. , dan wilayah Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala, dengan luas wilayah 126 km2, serta jumlah penduduk 17. (BPS Kabupaten Barito Kuala, 2. Anjir Serapat dihuni beragam etnis yang berasal dariberbagai daerah, ada penduduk asli dan ada pula warga Penduduk yang bermukim dalam wilayah Kecamatan Kapuas Timur terdiri masyarakat Dayak. Banjar. Bugis, sedikit Jawa dan Madura. Sedangkan wlayah Kecamatan Anjir Pasar penduduknya mayoritas berasal dari etnis Banjar. Makna ikan bagi masyarakat Anjir Serapat. Semua orang di Indonesia menjadikan ikan sebagai lauk pauk favorit untuk konsumsi makan, disamping bergizi dan juga bermanfaat untuk kesehatan. Pada saat musim penghujan dimanaair Handil sudah dalam dan lahan sawah juga sudah tergenang air, masyarakat Anjir Serapat sangat mudah mendapatkan berbagai jenis ikan seperti Haruan. Papuyu dan ikan lainnya, apalagi ikan merupakan lauk pauk pokok bagi masyarakat di sana. Ikan yang mereka dapat tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saja akan tetapi juga untuk dijual pada hari pasar atau dijual kepada para pengumpul yang setiap hari datang ke dalam Handil menjumpai dimana penduduk yang ada mencari ikan. Biasanya pada saat musim penghujan dimana curah hujan sangat tinggi makaHandil dan sawah airnya dalam, sehingga banyak sekali terdapat ikan-ikan favorit bagi masyarakat di sana seperti Haruan. Papuyudan ikan lainnya. Kondisi seperti ini berlangsung lama biasanya sampailima bulan, sehingga pada saat itulah masyarakat menangkap ikan sebanyak-banyaknya sampai air yang ada di Handildan sawah mulai mengering serta ikan sudah tidak ada lagi. Menurut Rukmini . , bahwa Ikan gabus memiliki daging yang lezat, sumber protein yang tinggi, dan rendah lemak. Protein ikan gabus merupakan sumber albumin yang tinggi penderita hipoalbumin dan luka parah seperti luka bakar dan pasca operasi disarankan dokter untuk mengonsumsi albumin dari ikan gabus untuk mempercepat proses penyembuhan. Bagi masyarakat Anjir Serapat yang bermukim di dalam Handil ikan dimaknai sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan mereka disamping untuk konsumsi dan pelengkap gizi keluarga, juga ikan sumber rezeki musiman dan sebagai pendapatan tambahan dalam kehidupan. Tradisi Mewadi Ikan Bagi masyarakat Anjir Serapat yang bermukim di dalam Handil, ikan sudah merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupannya. Ikan-ikan yang didapat dari hasil tangkapan disamping untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga dan dijual, namun juga ikanyang didapat seperti Haruan dan Papuyuuntuk diawetkan dengan cara wadi, sebagai cadangan pada saat musim Wadi ikan . asil fermentasi ika. adalah suatu produk ikan awetan yang di olah penggaraman dan dilanjutkan dengan proses (Petrus Senas,dkk, 2. Anterior Jurnal. Volume 21 Issue 2. April 2022. Page 8 Ae 12 p-ISSN: 1412-1395. e-ISSN: 2355-3529 Biasanya dalam masyarakat Anjir Serapat tradisi mengawetkan ikan dengan cara wadi ini selalau dilakukan setiap keluarga sebagai warisan tradisi dari leluhur sebagaimana yang dilakukan orang-orang tua terdahulu secara turun temurun. Setiap tahun tradisi mewadi ikan ini selalu dilakukan kelangkaan ikan pada saat musim kemarau. Biasanya tradisi masyarakat membuat wadi ikan ini dilakukan dalam jumlah banyak dan bisa disimpan lama hingga lima bulan sebagai konsumsi lauk utama setiap hari. Tradisi masyarakat mengkonsumsi ikan Wadi ini dimulai sejak ikan-ikan di Handil dan sawah sudah tidak ada lagi yang dikarenakan kering hingga musim kemarau berakhir sampai musim penghujan berikutnya,Handil dan sawah kembali airnya dalam serta ikannya sudah banyak. Rodin R. tradisi A. berarti segala sesuatu yang ditransmisikan, diwariskan oleh masa lalu ke masa sekarang. tradisi adalah warisan kebudayaan atau kebiasaan masa lalu yang dilestarikan secara terus-menerus hingga sekarang Hasil penelitian pada bulan Juli dan September masyarakat Anjir Serapat yang bermukim di dalam Handil ternyata sudah banyak meninggalkan tradisi yang sudah ada, dimana waktu dahulu selalu mereka lakukan untuk mengawetkan ikan secara tradisional dengan cara Wadi ini. Hasil analisis data juga ditemukanbahwa pudar dan berkurangnya tradisi masyarakat mengolah Wadi ikan ini dipicu dua faktor dominan yakni: Pertama, faktor globalisasi yang membuka semua akses informasi yang sangat mudah didapat baik melalui siaran TV maupun dari media sosial, sehingga berdampak signifikan terhadap perubahan perilaku masyarakat dari mengerjakan sesuatu yang rumit seperti mewadi ikan dan beralih ke pekerjaan yang praktis. Globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Barker dalam Suneki . , serta Ishomuddin . menggambarkan globalisasi sebagai Ausomething that we can not avoid itAy adalah gambaran bahwa kita sekarang ini hidup dalam situasi, cara, tata-kerja, peran, fungsi dan interaksi yang mendunia. Kedua, pembangunan yaitu terbukanya akses transportasi darat yang baik, sehingga memudahkan masyarakat untuk mendapatkan ikan-ikan segar yang sudah banyak dijual oleh para pedagang yang datang dari daerah lain, seperti Kuala Kapuas dan Banjarmasin. Ini sesuai pula penjelasan salah seorang dahulu di Anjir sini setiap tahun kami selalu membuat Wadi ikan, dan wadi itu untuk persiapan dikonsumsi pada saat musim sekarang masyarakat banyak tidak lagi membuat Wadi ikan,dan bahkan anak-anak muda sudah banyak yang tidak bisa bagaimana cara membuat Wadi ikan beraroma dan cita rasa yang enak, karena saat ini kami sudah sangat mudah mendapatkan ikan segar di Pasar seperti ikan Nila. Ikam Mas dan Ikan Patin yang dijual orang yang dibawa dari daerah lain. Berdasarkan temuan penelitian di atas, tidak mustahil kearifan lokal yang ada dalam masyarakat Anjir Serapat berupa tradisi yang dilakoni sejak dahulu dan diwarisi secara turun temurun dalam membuat Wadi berangsur-angsur Padahaltradisi membuat membuat Wadi ikan seperti ini merupakan kearifan lokal dan salah satu warisan budaya yang penting untuk dilestraikan, padahal jika dilihat dari aspek sosial maupun ekonomi pada dasarnya dalam kehidupan masyarakat Anjir Serapat sulit dipisahkan dari tradisi yang sudah membudaya, karena bagi mereka tradisi dijadikan sebagai pola kehidupan . attern for lif. dan juga budaya sebagai pola hidup . attern of lif. , sehingga inilah yang dikatakan oleh Max Weber tindakan yang penuh arti dari individu (Ritzer, 1. KESIMPULAN Berdasarkan sebagaimana diuraikan di atas, dapat disimpulan bahwa disalah satu sisi globalisasi informasi dan keberhasilan pembangunan membawa dampak pada kemajuan masyarakat, namun disisi lain juga membawa dampak negatif yang signifikan terhadap keberadaan tradisi pada suatu Globalisasi pembangunan juga merubah tatanan perilaku dan pola kehidupan masyarakat seperti pudarnya kearifan lokal berupa tradisi dalam mengawetkan ikan dengan cara Wadi bagi masyarakat yang ada di Anjir Serapat. REFERENSI