JKM Jurnal Kesehatan Masyarakat STIKES Cendekia Utama Kudus P-ISSN 2338-6347 E-ISSN 2580-992X Vol. No. Agustus 2022 STUDI KUALITIATIF DETERMINAN BALITA STUNTING DI KELURAHAN BANDENGAN KECAMATAN KOTA KENDAL Siti Musyarofah1. Ainul Maghfiroh2. Ariyanti3,Yuni Puji Widiastuti4 Program Studi Kesehatan Masyarakat Program Studi Farmasi Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal email: sitimusyarofah24@gmail. ABSTRAK Stunting adalah kondisi tinggi badan seseorang yang kurang dari normal berdasarkan usia dan jenis kelamin. Determinan stunting meliputi faktor genetik, status ekonomi, jarak kelahiran, riwayat BBLR, anemia pada ibu, hygiene dan sanitasi lingkungan. Kasus gizi buruk dan stunting di wilayah Pantai Utara (Pantur. Barat. Jawa Tengah masih tinggi. Kejadian stunting di Kelurahan Bandengan cukup tinggi. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui deskripsi determinan stunting di Kelurahan Bandengan. Desain penelitian adalah observasional dengan pendekatan cross sectional dan dilakukan dengan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan wawancara mendalam. Informan dipilih secara purposive Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan stunting meliputi faktor ekonomi, kesehatan ibu saat hamil. ASI tidak eksklusif, pemberian MP ASI . eterlambatan/terlalu din. , picky eater, ayah perokok, dan lingkungan. Determinan Stunting lebih dari satu faktor . Faktor ekonomi merupakan faktor awal dari determinan stunting. Kata Kunci: determinan, stunting, balita ABSTRACT Stunting is a condition in which a person's height is less than normal based on age and gender. Determinants of stunting include genetic factors, economic status, birth spacing, history of LBW, maternal anemia, environmental hygiene, and sanitation. Cases of malnutrition and stunting in the North Coast (Pantur. West. Central Java are still high. The incidence of stunting in Bandengan Village is quite high. The purpose of the study was to determine the description of the determinants of stunting in Bandengan Village. The research design was observational with a cross-sectional approach and was carried out with qualitative methods, with data collection techniques carried out through observations and indepth interviews. Informants were selected by purposive sampling. The results showed that the determinants of stunting included economic factors, maternal health during pregnancy, non-exclusive breastfeeding, complementary feeding . ate/too earl. , picky eater, smoking father, and the environment. Determinant Stunting more than one factor . Economic factors are the initial factors the determinants of stunting. Keyword : Determinant. Stunting, children under five years LATAR BELAKANG Stunting adalah masalah gizi kronis yang ditandai dengan tubuh Umumnya penderita rentan terhadap penyakit, kecerdasan di bawah normal, serta produktivitas rendah . Stunting merupakan kondisi kegagalan pertumbuhan pada anak yang ditandai dengan nilai Z-score pada kategori tinggi badan menurut umur di bawah -2 SD. Stunting merupakan masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama . Pada tahun 2017 sekitar 150,8 juta . ,2%) balita di dunia mengalami stunting yang berasal dari Asia . %). Indonesia termasuk negara dengan prevalensi tertinggi di Regional Asia Tenggara. Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 20052017 adalah 36,4% . Tingginya prevalensi stunting dalam jangka panjang akan berdampak pada kerugian ekonomi bagi Indonesia . Penyebab dari stunting adalah rendahnya asupan gizi pada 1. hari pertama kehidupan, yakni sejak janin hingga bayi umur dua tahun. Selain itu, buruknya fasilitas sanitasi, minimnya akses air bersih, dan kurangnya kebersihan lingkungan juga menjadi penyebab stunting. Kondisi kebersihan yang kurang terjaga membuat tubuh harus secara ekstra melawan sumber penyakit sehingga menghambat penyerapan gizi . Stunting disebabkan oleh faktor multi dimensi , yang disebabkan oleh tidak hanya faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil dan anak balita. Faktor yang menjadi penyebab stunting antara lain : praktek pengasuhan yang kurang baik, masih terbatasnya akses layanan kesehatan termasuk layanan ante natal care untuk ibu selama kehamilan dan post natal care untuk ibu setelah melahirkan, masih kurangnya akses keluarga kepada makanan bergizi, dan kurangnya akses air bersih dan sanitasi. Stunting tidak hanya pendek, namun memberikan informasi adanya gangguan pertumbuhan linier dalam jangka waktu lama dalam hitungan Secara luas stunting telah digunakan sebagai indikator untuk mengukur status gizi masyarakat. Jika prevalensi balita stunting tinggi maka pembangunan secara umum, seperti ketersediaan air bersih, pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan lain Ae lain . Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals (SDG. yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030 serta mencapai ketahanan Target yang ditetapkan adalah menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025 . Status gizi masyarakat di Kabupaten Kendal dapat dilihat dari kondisi gizi buruk dan balita stunting. Gizi buruk di Kabupaten Kendal mengalami kenaikan dari tahun 2016 sebesar 0,03% menjadi 0,05% pada tahun Gizi buruk terjadi karena asupan makan yang tidak memenuhi kebutuhan pertumbuhan. Hal ini karena kemiskinan dan ketidakpahaman penduduk dalam menyiapkan makanan yang seimbang. Balita gizi buruk yang meningkat diikuti dengan meningkatnya balita stunting. Hasil penimbangan serentak. Tahun 2016 balita stunting sebanyak 6,25% menurun menjadi 5,60% pada tahun 2019, dan berdasarkan data EPPBGM tahun 2020 balita stunting sebesar 17,54% . Data stunting di Kabupaten Kendal harus terintegrasi dengan baik. Karenanya, perlu didukung oleh semua tenaga kesehatan di puskesmas . Kabupaten Kendal merupakan daerah lokus untuk penanganan Peneliti meneliti tentang stunting oleh karena belum pernah ada Kelurahan Bandengan Kabupaten Kendal. METODE PENELITIAN Desain penelitian adalah observasional dengan pendekatan cross sectional dan dilakukan dengan metode kualitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan dan wawancara Informan dipilih secara purposive sampling. Informan sejumlah 5 balita stunting di Kelurahan Bandengan, yang diambil dengan teknik purposive sampling. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Bandengan Kecamatan Kota Kendal, pada bulan Januari 2022. Alat penelitian yang digunakan adalah panduan wawancara dan recorder. Data dikumpulkan dengan cara melakukan pengamatan dan wawancara mendalam kepada ibu balita yang stunting. HASIL DAN PEMBAHASAN Determinan Stunting lebih dari satu faktor . Hasil penelitian menunjukkan bahwa determinan stunting meliputi berbagai faktor, diantaranya faktor ekonomi, kesehatan ibu saat hamil. ASI tidak eksklusif, pemberian MP ASI . eterlambatan/terlalu din. , picky eater, ayah perokok, dan lingkunga. Faktor ekonomi merupakan faktor determinan yang menjadi dasar determinan tidak langsung. 5 informan merupakan ibu rumah tangga, 4 informan pekerjaan suaminya adalah Pendapatan mereka tidak pasti. 1 informan pekerjaan suaminya AuBapak nelayan. Saya jualan kecil-kecilan, sosis, jajanan. Nambahi buat maem. Ay AuNyari ikan itu ikut orang, kadang pulang bawa uang, kadang tidak bawa uang. Tidak pasti. Rumah juga masih ngikut orang tua. Anak saya tigaAy Tingkat sosial ekonomi mempengaruhi kemampuan keluarga untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita, disamping itu keadaan sosial ekonomi juga berpegaruh pada pemilihan macam makanan tambahan dan waktu pemberian makananya serta kebiasan hidup sehat. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting balita . Berdasarkan teori dapat dijelaskan bahwa orang tua yang bekerja akan mempunyai kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan gizi pada anak. 4 informan orang tua yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan kecenderungan memiliki penghasilan yang terbatas dan pada umumnya tidak menentu, sehingga menyebabkan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak menjadi kurang, kondisi demikian jika berlanjut akan menyebabkan kejadian stunting pada Balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesehatan ibu saat hamil juga merupakan salah satu determinan. AuPas hamil saya sering muntah. Dulu saya perdarahan 2 kali karena stress pikiran, mabuk kalau makan, tidak mau makanAy Auwaktu hamil asupan makanan saya berkurang karena mualAy Hasil penelitian Fitrah Ernawati dkk . menunjukkan bahwa dari variabel independen antara lain keadaan biokimia ibu pada saat hamil awal trimester ke-dua dan akhir trimester ke-tiga, berat bayi lahir, panjang bayi lahir, riwayat pemberian ASI dan konsumsi protein ibu pada saat hamil didapatkan hasil bahwa faktor konsumsi protein ibu dan panjang badan bayi lahir terdapat hubungan yang signifikan dengan kejadian bayi pendek/stunting pada usia 12 bulan . Faktor ASI tidak eksklusif juga mempengaruhi kejadian stunting. ASI adalah asupan makanan yang terbaik sesuai dengan kebutuhan bayi setelah lahir. WHO menyatakan bahwa ASI eksklusif yaitu memberikan ASI saja dengan tidak memberikan cairan maupun makanan lainnya pada bayi sampai usianya 6 bulan. ASI juga dianjurkan diberikan sampai usia bayi 2 tahun. ASI juga merupakan makanan terbaik bagi bayi. Semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi, semua sudah terkandung dalam ASI . 3 informan tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya. 2 informan memberikan ASI eksklusif, akan tetapi 1 dari informan tersebut memberikan ASI eksklusif sampai 7 bulan, sehingga anak mengalami keterlambatan dalam memperoleh gizi dari MP-ASI. AuPemberian ASI tidak eksklusif, karena ASI saya tidak mau keluar. Saya beri susu formulaAy AuAnak saya tak beri ASI saja sampai usia 7 bulan, tidak beri apa-apa. Setelah lepas usia anak 7 bulan berat badan anak saya kok terus menurun, pas usia 8 bulan itu anak saya dikategorikan stunting oleh petugas kesehatanAy Pemberian Air Susu Ibu sebenarnya dapat menurunkan AKB yang masih tinggi di belahan dunia. Kebanyakan bayi di negara berkembang membutuhkan Air susu ibu dalam pertumbuhan bayi supayabisa memeprtahankan kehidupannya. Hal ini dikarenakan ASI adalah sumber protein yang dengan kualitas terbaik serta gampang didapat. Zat gizi yang terkandung di ASI berbeda dari asupan makanan lainnya. Balita yang diberikan ASI maka pada tinja ada antibodi dalam konsentrasi yang tinggi terhadap bakteri E. Coli sehingga mengurangi risiko bayi terserang penyakit infeksi. Penelitian yang dilakukan Uwiringiyimana . menyatakan bahwa asupan gizi yang baik dapat menghambat terjadinya Salah satunya dengan menyusui eksklusif dan setelah 6 bulan diberikan makanan pelengkap yang kaya gizi . Waktu MP-ASI Keterlambatan MP-ASI pada usia 8 bulan tentu berdampak kepada asupan gizi bayi, sehingga nutrisinya kurang tercukupi. Waktu pemberian MP-ASI < 6 bulan juga mempengaruhi stunting. Auanak saya dibsuapi nasi pisang sebelum usia 6 bulanAy Waktu pemberian MP-ASI pertama kali dalam penelitian ini dikategorikan menjadi baik dan kurang. Baik apabila MPASI diberikan pada usia > 6 bulan dan kurang apabila diberikan pada usia < 6 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umumnya . ,2%) anak kelompok stunting waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada usia < 6 bulan dan sebanyak . ,8%) waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada usia > 6 bulan. Sedangkan pada kelompok anak status gizi normal sebanyak 79,2% waktu pemberian MPASI pertama kali pada usia > 6 bulan dan senabyak . ,8%) waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada usia < 6 bulan. Hasil uji statistik diperoleh p < 0,05 menunjukkan bahwa ada pengaruh waktu pemberian MPASI pertama kali dengan terjadinya Hasil uji diperoleh OR > 1 dengan CI 2,86 Ae 16,30 artinya anak stunting dengan waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada usia < 6 bulan memiliki resiko 6,83 kali lebih besar dibandingkan dengan anak yang tidak stunting dengan waktu pemberian MP-ASI pertama kali pada usia > 6 bulan. Hasil studi dari artikel melalui critical review menunjukkan adanya pengaruh pemberian ASI Ekslusif dan MPASI dini terhadap stunting. Karena di dalam ASI terkandung nutrisi yag mampu meningkatkan ketahanan tubuh. Selain itu mampu dalam mencegah infeksi dan sangat berguna dalam pertumbuhan. Sedangkan balita yang diberikan MPASI dini daya tahan tubuhnya tidak sebaik balita yang diberikan ASI Ekslusif . Masalah stunting menggambarkan masalah gizi kronis . Perilaku yang salah dalam menerapkanpola makan pada balita merupakan faktor yang menyebabkan stunting, dan semakin baik pola makanya balita akan tercegah darikejadian stunting. Semakin buruk pola makan yang diterapkan pada balita, maka balitaberisiko 3,16 kali lebih besar mengalami stunting. Pola makan seimbang berguna untuk mencapai status gizi yang optimal. Pola makan yang baik mencapai pertumbuhan dan pemeliharaan Untuk tubuh serta semakin baik pola makan maka akan semakin sulit balita terserang penyakit. Sehingga balita terhindar dari masalah kesehatan gizi yaitu stunting . Faktor lain yang mempengaruhi stunting adalah kondisi kesehatan anak dan picky eater AuAnak saya makannya sedikit, tapi 4 kali, kalau kebanyakan sekali langsung BAB. Nasi dihaluskan dengan susu SGM. Anak saya belum bias jalan sampai usia 2 tahun ini. Mau periksa dokter anak ga ada uang, bayarnya mahal ya mending buat makan mbak. Anak saya dan saya tidak punya BPJS. Ay AuMP-ASI anak saya nasi, sayur, telur. Anak saya tidak mau makan Ya Bapak kadang diberi ikan oleh yang punya perahu, saya Tapi anak saya tidak mau makan ikan, daging, itu tidak mauAy Penyakit infeksi merupakan faktor yang berpengaruh langsung terhadap proses pertumbuhan anak. Kurangnya asupan nutrisi untuk anak akan menyebabkan bertambahnya jumlah anak dengan growth faltering . angguan pertumbuha. Picky eating merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan pada balita. Picky eating atau perilaku pilih-pilih makanan adalah suatu keadaan dimana anak tidak bersedia atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan dalam mengkonsumsi makanan dan Perilaku sulit makan yang tidak baik yaitu seperti pilih-pilih makanan, makan sambil nonton televisi atau main, dan baru mau makan kalau diajak jalan-jalan, tentu dapat terbawa hingga dewasa. Diketahui hasil dari 38 responden dengan perilaku picky eating baik sebanyak 24 orang . 2%) kejadian tidak stunting, sedangkan 15 responden dengan pengetahuan picky eating kurang baik kejadian tidak stunting sebanyak 15 orang . 0%). Hasil uji statistic dengan menggunakan Chi-Square diperoleh p-value = 0,005 atau a< 0,05. Sehingga dapat disimpulkan ada hubungan hubungan perilaku picky eating dengan kejadian stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Gadingrejo Kabupaten Pringsewu tahun 2021. Faktor lain yang kemungkinan menjadi determinan adalah lingkungan, salah satunya ayah perokok, dan sanitasi lingkungan AuSuami saya perokok. Sudah saya nasehati AuPak, mending buat beli makan untuk uang rokoknya ituAy. Tapi tidak mau, masih saja merokok walupun sudah diberitauAy AuLingkungan di sini tidak bisa nanam sayur mbak. Mau nanem Lingkungan tidak mendukung. Ya pengennya bias nanem, buat sayur, tapi ada hewan di lingkungan yang habiskan tanaman di Walaupun di pot tidak bisaAy. Sumber air bersih informan dari PAM. Permasalahan lingkungan dari hasil pengamatan adalah daerah pesisir, rob dan pengelolaan sampah belum terkelola dengan baik. Faktor lingkungan seperti akses air bersih yang kurang dikaitkan dengan keja dian stunting, namun penelitian lain menemukan hasil yang berbeda , dimana tidak ada hubungan yang signifikan antara kurangnya akses air bersih terhadap kejadian stunting. Faktor lingkungan lainnya seperti paparan asap rokok, di Kabupaten Jeneponto tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara paparan asap rokok dengan kejadian stunting, sedangkan di Bangladesh paparan asap rokok dikaitkan dengan kejadian stunting. Pengaruh faktor lingkungan dan perilaku orang tua sampai saat ini masih belum jelas. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Determinan Stunting lebih dari satu faktor . , yang meliputi faktor ekonomi, kesehatan ibu saat hamil. ASI tidak eksklusif, pemberian MP ASI . eterlambatan/terlalu din. , picky eater, ayah perokok, dan Faktor ekonomi merupakan faktor awal dari determinan Saran Studi informan, dan merupakan dasar untuk penelitian selanjutnya. Penelitian lanjut secara kuantitatif perlu dilaksanakan untuk mengetahui determinan atau faktor risiko yang mempengaruhi stunting di Kabupaten Kendal yang dapat dibuktikan secara statistik. DAFTAR PUSTAKA