Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. https://ejournal. id/index. php/kumparan_fisika e-ISSN: 2655-1403 p-ISSN: 2685-1806 JENIS PENALARAN ILMIAH APA YANG DIGUNAKAN MAHASISWA DALAM MENYELESAIKAN PERMASALAHAN SUHU DAN KALOR?: STUDI PADA PRAKTIKUM FISIKA UMUM Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas*. Ahmad Suryadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta e-mail*: fathiah. alatas@uinjkt. Diterima 20 Januari 2023 Disetujui 10 Mei 2023 Dipublikasikan 16 Mei 2023 https://doi. org/10. 33369/jkf. ABSTRAK Salah satu kemampuan yang harus dimiliki oleh mahasiswa calon guru adalah kemampuan penalaran ilmiah. Meskipun demikian, kemampuan ini masih belum dilatihkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan penalaran ilmiah mahasiswa calon guru pada materi suhu dan kalor. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan melibatkan 57 mahasiswa yang mengikuti perkuliahan fisika umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun ajaran 2021/2022 selama empat bulan. Berbeda dengan kegiatan praktikum yang biasanya verifikatif, perkuliahan ini menggunakan modul Higher Order Thinking Laboratory (HOT-LAB) yang memuat Real World Problem pada tahap pra-praktikum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola penalaran ilmiah mahasiswa adalah penalaran probabilistik sebesar 84% yang terdiri dari 56% pada level 2 dimana merupakan kemampuan mahasiswa menjelaskan secara kualitatif, dan 44% pada level 3 dimana kemampuan mahasiswa menjelaskan secara kuantitatif. Sedangkan 16% pola penalaran mahasiswa adalah penalaran korelasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pola penalaran ilmiah mahasiswa calon guru dalam menyelesaikan permasalahan yang diberikan adalah penalaran probabilistik. Kata kunci: Kalorimeter. Penalaran Ilmiah. Suhu dan Kalor. ABSTRACT The capacity for scientific reasoning is one of the talents that potential teacher candidates must possess. But this talent is still untrained. The purpose of this study is to evaluate prospective teacher students' capacity for scientific reasoning with regard to temperature and heat-related. This research is a descriptive study involving 57 students who attend general physics lectures at UIN Syarif Hidayatullah Jakarta for the academic year 2021/2022 for four months. Different from practicum activities which are usually verified, this lecture uses the Higher Order Thinking Laboratory (HOTLAB) module which contains Real World Problems at the pre-practicum stage. The results showed that the pattern of students' scientific reasoning was probabilistic reasoning by 84%. This comprises of 44% at level 3 where the student's quantitative explanation ability is assessed, and 56% at level 2 where the student's ability to explain qualitatively is While 16% of students' reasoning patterns are correlational reasoning. Therefore, it can be stated that the majority of prospective teachers' students' scientific reasoning techniques for addressing temperature and heat-related problems are probabilistic reasoning. Keywords: calorimeter, scientific reasoning, temperature and heat-related. PENDAHULUAN Dunia yang semakin maju dan berkembang membutuhkan berbagai jenis keterampilan termasuk keterampilan dalam bidang sains. Melalui pembelajaran sains, siswa dituntut untuk melakukan inkuiri terhadap berbagai fenomena yang ada disekitar . Hal ini dapat dicapai melalui kegiatan eksperimen di laboratorium yang memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi serta menjelajahi segala hal yang baru di dunia ini . Penalaran Ilmiah merupakan salah satu keterampilan dasar yang dapat melatih siswa terhadap proses-proses tersebut. Salah satu pengetahuan penting yang dapat mendukung kemajuan dalam melakukan pembelajaran sains adalah penalaran ilmiah. Penalaran ilmiah mencakup keahlian dalam A 2023 Authors Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. bereksperimen dan memecahkan masalah yang terdiri atas memberikan hipotesis, pengambilan data, mengolah data, serta memberikan kesimpulan . Pentingnya penalaran ilmiah ini membuat banyak negara yang menekankan untuk mempelajari keterampilan dalam melakukan penalaran ilmiah dari pendidikan dasar . Lebih lanjut, penalaran ilmiah berkorelasi dengan beberapa jenis kompetensi lain seperti kemampuan pemahaman konsep tingkat tinggi . , keterampilan proses sains . bahkan hingga proses inquiry . Oleh karena itu, penalaran ilmiah memberikan informasi penting dalam perkembangan dunia pendidikan. Penalaran ilmiah dapat dapat memprediksi kompetensi seseorang baik secara umum maupun secara khusus. Nieminen dkk. menemukan bahwa penalaran ilmiah siswa menjadi variabel tersembunyi yang dapat mendukung proses belajar siswa untuk konsep gaya . Kemudian. Gerber menemukan bahwa kemampuan penalaran ilmiah memiliki hubungan yang sangat kuat dengan prosedur pembelajaran sains di kelas dan kondisi lingkungan pembelajaran . Lebih lanjut. Steinberg menemukan bahwa penalaran ilmiah calon guru dapat memengaruhi bagaimana pengajaran akan dilakukan oleh calon guru tersebut . Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengeksplorasi penalaran ilmiah siswa maupun Sebagai contoh. Chakkrapan dkk. melakukan studi di Thailand menemukan bahwa kemampuan penalaran ilmiah siswa tidak dipengaruhi oleh jenis kelaminnya . Khoirina dkk. menemukan bahwa penalaran operasional konkret merupakan salah satu tingkatan kemampuan siswa SMA dalam melakukan penalaran Ilmiah . Suryadi menemukan bahwa kemampuan penalaran ilmiah siswa yang berada di pedesaan cenderung tidak stabil jika dibandingkan dengan siswa yang berada di perkotaan khususnya pada pola penalaran probabilistic reasoning and correlational reasoning . Pada level mahasiswa. Prasitpong menemukan bahwa peningkatan kegiatan di dalam kelas tidak hanya disebabkan oleh bahan pembelajaran sains, melainkan juga dipengaruhi oleh kemampuan penalaran ilmiah. Studi-studi tersebut menunjukkan bahwa karakteristik penalaran ilmiah baik siswa maupun mahasiswa sangat khas . Salah satu mata kuliah di jurusan fisika adalah fisika umum. Perkuliahan ini berisi konsepkonsep fundamental dalam fisika. Pelaksanaan perkuliahan fisika umum terdiri atas belajar di ruang kelas dan kegiatan praktikum yang dilaksanakan di laboratorium. Kegiatan praktikum umumnya masih seputar pembuktian teori-teori dasar dalam fisika serta bagaimana kemampuan mahasiswa dalam menggunakan alat di laboratorium . Modul praktikum yang digunakan masih terdiri atas rentetan perintah selama kegiatan praktikum berlangsung atau yang lebih dikenal dengan istilah model cookbook laboratory. Umumnya model praktikum seperti ini masih bersifat verifikatif yang tidak mendukung kemampuan mahasiswa dalam berpikir tingkat tinggi. Hal ini karena mahasiswa tidak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi langkah praktikum, variabel yang digunakan, serta prediksi berdasarkan teori yang telah dipelajari . Pengembangan modul higher order thinking laboratory (HOTLAB) merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam berpikir tingkat tinggi . Setiap tahapan dalam model HOTLAB terdiri atas: . memahami permasalahan, . memikirkan solusi, . mempersiapkan kegiatan praktikum, . melakukan pengambilan data . , dan . komunikasi dan evaluasi hasil praktikum. Setiap tahapan dalam model HOTLAB tersebut memadukan antara model Pemecaham Masalah Kreatif (PMK) serta pemecahan masalah dalam laboratorium atau yang biasa disebut Problem Solving Laboratory (PSL) . Penggunaan HOTLAB pun dinilai efektif dalam meningkatkan beberapa kompetensi berdasarkan beberapa studi sebelumnya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Setiawan dkk. yang menemukan bahwa peningkatan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dipengaruhi oleh penggunaan HOTLAB . Hal tersebut sesuai dengan hasil yang ditemukan oleh Setya dkk dalam penelitiannya bahwa meningkatnya kemampuan berkipir kritis siswa dipengaruhi oleh pengimplementasian HOTLAB secara blended learning . Serta penelitian yang dilakukan oleh Sapriadil dkk. bahwa HOTLAB dapat meningkatkan kemampuan komunikasi ilmiah . Berdasarkan studi-studi tersebut terlihat bahwa sebagian besar penelitian yang dilakukan dalam menganalisis dan mengeksplorasi penalaran ilmiah masih pada level siswa sekolah dasar hingga Sedangkan studi yang dilakukan pada mahasiswa calon guru relatif masih terbatas Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi khususnya pada kegiatan praktikum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana kemampuan mahasiswa calon guru dalam melakukan penalaran ilmiah pada permasalahan suhu dan kalor. II. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang dilaksanakan selama empat bulan. Penelitian ini melibatkan sebanyak 57 mahasiswa . aki-laki sebanyak tujuh orang dan perempuan sebanyak 50 oran. yang mengikuti perkuliahan Fisika Umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun ajaran 2021/2022. Perkuliahan Fisika Umum dilakukan dalam dua bagian yaitu perkuliahan teoretik dan praktikum. Materi yang dipelajari pada perkuliahan teoretik sejalan dengan kegiatan praktikum yang dilakukan mahasiswa di laboratorium. Penelitian ini menggunakan modul Higher Order Thinking Laboratory (HOT-LAB) yang sebelumnya telah dikembangkan. Modul ini terdiri dari tiga tahap yaitu pra-praktikum, inti-praktikum dan pasca praktikum. Salah satu ciri khas dari modul ini yaitu terdapat real world problem yang menyajikan permasalahan sehari-hari yang berhubungan dengan materi praktikum yang dilaksanakan. Modul praktikum HOT-LAB dikembangkan oleh tim peneliti yang sebelumnya telah divalidasi dan Hasilnya, modul HOT-LAB ini valid dan praktis untuk digunakan. Terdapat tujuh judul praktikum dalam modul fisika umum ini yaitu, penggunaan alat ukur dasar, gaya gesek. Archimedes, pemuaian, pesawat atwood, momentum dan impuls, dan kalorimeter. Studi ini fokus pada praktikum kalorimeter dengan alasan bahwa praktikum kalorimeter merupakan praktikum terakhir yang dilakukan oleh mahasiswa. Oleh karena itu, peneliti menganggap bahwa mahasiswa sudah terbiasa untuk melakukan penalaran dan menggunakan modul HOT-LAB. Untuk menganalisis pola penalaran ilmiah, peneliti mengamati cara bepikir mahasiswa saat menjawab real world problem yang ada di dalam modul HOTLAB. Gambar 1 menunjukkan permasalahan suhu dan kalor Aureal-world problemAy yang disajikan pada praktikum kalorimeter. Gambar 1. Real World Problem Modul HOT-Lab Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Melalui jawaban mahasiswa dalam menganalisis permasalahan tersebut, kita dapat mengetahui jenis penalaran ilmiah yang mahasiswa gunakan. Pola dan level penalaran ilmiah mahasiswa dianalisis menggunakan rubrik seperti yang ditunjukkan dalam Tabel 1. Tabel 1. Kategori Pola dan Level Penalaran Ilmiah . Pola Penalaran Ilmiah Leve Kategori Deskripsi Tidak menjawab Intuitive (I) Approximate (A. Quantitatif (Q) Tidak menjawab Intuitive (I) Adaptive (A) Transitional (T. Ration (R) Tidak menjawab Intuitive (I) No Relational (NR) One Cell (OC) Two Cell (TC) Correlational (C. Tidak memberikan jawaban/penjelasan/alasan Jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan dan terkesan diterka-terka, menggunakan angka ataupun penjelasan sembarangan Jawaban pertanyaan/masalah yang dijelaskan secara kualitatif Jawaban pertanyaan/masalah yang dijelaskan secara kuantitatif Tidak memberikan jawaban/penjelasan/alasan Jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan dan terkesan diterka-terka, menggunakan angka ataupun penjelasan sembarangan Jawaban menggunakan langkah-langkah penyelesaian, namun fokus terhadap hal yang tidak sesuai dengan pertanyaan/masalah yang diberikan Jawaban menggunakan langkah-langkah penyelesaian dengan persamaan, rasio, dan perhitungan namun jawaban akhir tidak tepat Jawaban menggunakan langkah-langkah penyelesaian dengan persamaan, rasio, dan perhitungan serta jawaban akhir tepat Tidak memberikan jawaban/penjelasan/alasan Jawaban yang diberikan tidak sesuai dengan pertanyaan dan terkesan diterka-terka, menggunakan angka ataupun penjelasan sembarangan Jawaban merupakan penyelesaian ataupun penjelasan pertanyaan/masalah yang diberikan Jawaban merupakan penyelesaian ataupun penjelasan dengan satu permasalahan yang saling berhubungan Jawaban merupakan penyelesaian ataupun penjelasan dengan dua permasalahan yang saling berhubungan Jawaban merupakan penyelesaian ataupun penjelasan untuk semua permasalahan secara tepat dengan menjelaskan hubungan antara masalah dan penyelesaian Jawaban serta analisis mahasiswa terkait real world problem tersebut dikerjakan oleh masingmasing mahasiswa. Mereka menuliskannya di dalam buku laporan yang selanjutnya dikumpulkan melalui google classroom. Setiap jawaban mahasiswa dikodekan berdasarkan jenis pola dan level penalaran ilmiah sebagaimana yang ditunjukkan pada Tabel 1. Cara setiap mahasiswa dalam memberikan penjelasan terkait penyelesaian masalah disesuaikan dengan deskripsi level/kategori tiap pola penalaran ilmiah. Data yang diperoleh kemudian ditabulas kemudian dihitung frekuensi dan persentasenya untuk setiap jenis pola penalaran ilmiah. Persentase pola dan level penalaran ilmiah dihitung dengan menggunakan rumus: Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi ycataOerata keseluruhan Persentase penalaran ilmiah = skor tertinggi penilaian y 100% . Berdasarkan persentase tersebut nantinya kita dapat melihat bagaimana pola dan level penalaran ilmiah yang digunakan oleh mahasiswa calon guru. Analisis jawaban disajikan secara deskriptif pada tabel dan diagram. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari tiga jenis penalaran ilmiah yang diprediksi ditemukan hanya ada dua jenis penalaran ilmiah yang muncul yaitu pola probabilistic reasoning dan correlational reasoning. Distribusi persentase setiap jenis penalaran ilmiah disajikan dalam Gambar 2. Gambar 2. Persentase pola penalaran ilmiah mahasiswa dalam menjawab real world problem terkait materi suhu dan kalor Gambar 2 menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa menggunakan pola probabilistic reasoning dibandingkan dengan pola correlational reasoning. Ada sebesar 84% mahasiswa menggunakan pola penalaran ilmiah probabilistic reasoning dan hanya sebesar 16% mahasiswa yang menggunakan pola penalaran correlational reasoning. Secara khusus, setiap kategori pola penalaran ilmiah mahasiswa memiliki level dan tingkatannya masing-masing sebagaimana terdapat pada Tabel 2. Tabel 2. Level dan persentase pola penalaran ilmiah mahasiswa Jenis Penalaran Ilmiah Level Kategori Frekuensi Persentase (%) Probabilistic reasoning Approximate (A. Quantitatif (Q) Correlational reasoning Two Cell (TC) Tabel 2 menunjukkan bahwa terdentifikasi penalaran ilmiah mahasiswa untuk pola probabilistic reasoning terdapat pada level 2 dan level 3. Sementara itu, pada pola correlational reasoning, mahasiswa teridentifikasi hanya pada level 4. Sebanyak 48 mahasiswa pola penalaran ilmiahnya termasuk probabilistic reasoning terbagi atas 56% pada level 2 . serta 44% pada level 3 . Level 2 pada pola probabilistic reasoning menunjukkan kemampuan mahasiswa untuk memberikan alasan ataupun penjelasan secara kualitatif. Sedangkan untuk level 3 pada pola probabilistic reasoning adalah kemampuan mahasiswa untuk memberikan alasan atau penjelasan secara kuantitatif. Untuk pola penalaran correlational reasoning sendiri, yang terdiri atas sembilan orang mahasiswa secara keseluruhannya berada pada level 4 . wo Cel. Level 4 pada pola correlational reasoning menunjukkan kemampuan untuk memberikan alasan dengan menjelaskan keterkaitan terkait dua permasalahan. Contoh jawaban mahasiswa dalam menyelesaikan permasalahan real world problem materi suhu dan kalor pada level 2 pola probabilistic reasoning ditampilkan pada Gambar 3. Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Gambar 3. Contoh pola penalaran probabilistic reasoning level 2 mahasiswa Gambar 3 menunjukkan salah satu jawaban mahasiswa terhadap permasalahan real world problem yang diberikan. Dalam memberikan jawaban terkait permasalahan tersebut mahasiswa menjelaskan solusi dari permasalahan suhu dan kalor secara kualitatif, dimana perpindahan panas yang terjadi pada saat memasak terjadi secara konveksi bersama dengan gerak partikel-partikel Sehingga dapat kita kelompokkan jenis penalarannya berada pada level 2 probabilistic Sedangkan untuk contoh jawaban mahasiswa pada level 3 probabilistic reasoning, ditampilkan pada Gambar 4. Gambar 4. Contoh pola penalaran probabilistic reasoning level 3 mahasiswa Gambar 4 menunjukkan contoh jawaban mahasiswa pada level 3 pola penalaran probabilistic Kita dapat melihat bahwa dalam memberikan penyelesaian permasalahan suhu dan kalor, mahasiswa menjelaskan terkait perbandingan senilai antara massa dan kalor. Dimana semakin besar massa benda yang digunakan maka menyebabkan semakin besar pula kemampuan benda tersebut dalam menyimpan kalor, sehingga jawaban yang diberikan sebagai solusi permasalahan ialah dengan memaksimalkan massa panci yang digunakan pada saat memasak sehingga kemampuannya dalam menyerap kalor pun akan semakin besar. Dengan melihat jawaban mahasiswa yang memberikan penjelasan menggunakan kata-kata yang mengandung makna kuantitatif, maka kita dapat menentukan pola penalaran ilmiahnya pada level 3 probabilistic Untuk contoh jawaban mahasiswa yang termasuk pada pola correlational reasoning terdapat pada Gambar 5. Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi Jenis Penalaran Ilmiah apa yang Digunakan Mahasiswa dalam Menyelesaikan Permasalahan Suhu dan Kalor?: StudiA. Firman Harris Saputra. Fathiah Alatas. Ahmad Suryadi Gambar 5. Contoh pola penalaran correlational reasoning mahasiswa Gambar 5 menunjukkan contoh penalaran ilmiah mahasiswa pola correlational reasoning level Kita dapat melihat jawaban yang diberikan mahasiswa terkait permasalahan yang diberikan dihubungkan dengan proses yang dilakukan pada praktikum kalorimeter, dimana salah satu hal dilakukan pada praktikum kalorimeter ialah terus mengaduk air di dalam kalorimeter agar aliran kalor dapat terjadi secara merata. Hal inipun dihubungkan dengan proses yang terjadi saat memasak, dimana kita harus terus mengaduk masakan agar aliran kalor dapat menyebar secara Dengan memberikan penyelesaian yang menjelaskan hubungan terkait 2 hal ini, maka kita dapat mengkategorikan mahasiswa menggunakan pola correlational reasoning level 4. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis penalaran ilmiah yang digunakan mahasiswa untuk menjawab real world problem pada materi suhu dan kalor dengan modul HOTLab. Studi ini menemukan bahwa ada dua pola penalaran ilmiah yang umum digunakan mahasiswa yaitu probabilistic reasoning dan correlational reasoning. Perbandingan antara mahasiswa yang menggunakan pola penalaran probabilistic reasoning jauh lebih besar dengan persentase 84%, dibandingkan dengan mahasiswa yang menggunakan pola penalaran correlational reasoning yang hanya sebesar 16%. Ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang oleh Jufri dkk. bahwa masih banyak mahasiswa yang pola penalaran ilmiahnya berada pada level rendah, dibandingkan dengan mahasiswa yang pola penalaran ilmiahnya berada pada level yang tinggi. Studi ini juga menemukan bahwa penalaran ilmiah mahasiswa pada pola probabilistic reasoning hanya terbagi atas dua level dari empat level yang ada, yaitu level 2 dan level 3. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Ding dkk. yang menyebutkan bahwa pada tingkatan sarjana hanya terdapat sedikit variasi dari penalaran ilmiahnya, baik itu dari jurusan ataupun kampus yang berbeda. Selain itu hal ini sejalan hasil penelitian oleh Erdem . yang menyebutkan bahwa mayoritas pola penalaran probabilistic reasoning yang digunakan peserta didik berada pada tingkatan menengah. Lebih lanjut. Woolley dkk. berdasarkan hasil penelitiannya menyebutkan bahwa salah satu kesalahan pada penalaran probabilistik yang sering dilakukan adalah tidak memperhatikan terkait adanya faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian terjadi. Pola correlation reasoning dalam studi ini hanya ditemukan pada satu level saja, dari keseluruhan enam level yang ada, yaitu pada level 4. Studi ini menunjukkan bahwa mahasiswa dapat melakukan penalaran ilmiah dengan memberikan solusi dari permasalahan yang diberikan dengan hal lain yang masih berkaitan secara relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola penalaran correlation reasoning untuk mahasiswa pada tingkatan universitas berada pada level 4. Sedangkan, untuk tingkatan SMA sebelumnya telah diteliti oleh Utami dkk. yang menemukan bahwa umumnya pola penalawan correlation reasoning untuk siswa SMA berada pada level 1, level 2 dan level 3. Hal ini pun sejalan dengan hasil peneilitian yang dilakukan oleh Suryadi dkk. bahwa pola penalaran correlation reasoning siswa SMA masih berada pada level 2 dan level 3. Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Jurnal Kumparan Fisika. Vol. 6 No. April 2023. Hal. Studi ini dapat memberikan gambaran bahwa mahasiswa tingkat pertama sekalipun telah menggunakan pola penalaran ilmiah dalam menyelesaikan permasalahan. Namun demikian, dalam penelitian ini masih terdapat kekurangan. Contohnya jumlah mahasiswa yang diidentifikasi dalam studi ini masih terbatas. Kedepannya, studi dapat dilakukan dalam skala yang relatif besar agar hasilnya dapat digeneralisasi lebih luas. Selain itu, mahasiswa yang terlibat dalam studi ini merupakan mahasiswa yang masih baru dalam menggunakan praktikum HOT-LAB yang tidak Akibatnya, mahasiswa perlu waktu untuk membiasakan diri. Penelitian lebih lanjut dapat dilakukan pada mahasiswa ini dalam rentang waktu yang lebih lama. Penggunaan HOT-LAB dapat dilakukan pada mahasiswa yang terlibat dalam studi ini pada mata kuliah lain kedepannya. IV. SIMPULAN DAN SARAN 1 Simpulan Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa pola penalaran ilmiah mahasiswa adalah probabilistic reasoning sebesar 84% dan 16% adalah pola penalaran correlational reasoning. Level penalaran ilmiah mahasiswa pada pola probabilistic reasoning terdapat pada dua level, yaitu level 2 . sebesar 56% dan 44% berada pada level 3 . Sedangkan pada pola correlational reasoning, level penalaran ilmiah mahasiswa seluruhnya berada pada level 4 . wo Cel. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar pola penalaran ilmiah mahasiswa calon guru dalam menyelesaikan permasalahan suhu dan kalor yang diberikan adalah probabilistic reasoning. 2 Saran Saran terkait penelitian lebih lanjut terkait penelitian ini, diharapkan dapat diterapkan kembali dalam pengambilan data dengan rentang waktu yang lebih lama. Serta diharapkan pula penggunaan HOT-LAB dapat dilakukan dalam mata kuliah praktikum yang lain. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih secara khusus diberikan pada laboratorium Tadris Fisika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta pihak-pihak yang telah membantu proses penelitian dan memberi dukungan finansial terhadap penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA