Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu ISSN: P 2527-6875 | E 2684-9569 Vol. No. December 2025 | Pages. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. Interntional Lincese Al-Bahtsu Jurnal Penelitian Pendidikan Islam Implementasi Model Cooperative Learning pada Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di SMKN 1 Kota Bengkulu Rachmat Rifky Septian1. Barata Harsena Dewa2 Universitas Dehasen Bengkulu. Indonesia rachmatrifkyseptian@unived. barataharsena@unived. Abstract Research is in 't doel um te helpe op 't gebeed vaan in-depth implementation of the Samenwerking Learning model in 't bekenne vaan 'n learning Islamic Religious Education (PAI) die multicultureel is in SMK N 1 Kota Bengkulu, um te beoordeile de invlood vaan de vyrm vaan akhlak en waaltollerantie. Research heet Aon gooje methode gekoze mit Aot geval vaan descriptive-analyse, en heet gekoze veur Aon mengka-phenome in de sjoelgebied. Populations include - onderzeuke die onderdeild woorte in 't proces vaan PAI learning, myt 'n steekproef vaan Principal. PAI Teacher, en 'n keuze vaan technische doelgerichte steekproeve. Collecting primary data doen mit we indepth, observer neet-actief deilnumme in de klasse, zoewie Learning Implementation Plan (RPP) en teacher notes. Analyze-gegevens door gebruuk te make technical analysis using Miles and Huberman's interactive model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions and verification. Aon Finding-onderzeuk heet gedaon dat de belang vaan PAI learning slaagde in Aot integrere vaan Aon waarde vaan multiculturele via veur Aot vyrme vaan Aot vyrm vaan Aon groet various, de mana Samenwerking Learning es Aon waad social effectief. PAI teachers act 'n klein social conflict, myt 'n-controlling social skills en pedrose onder groepe, wat 'n lid vaan 'n belangrieke belang is-on increasing students' tolerant and empathetic attitudes. Aanbevelinge vaan oonderzeuke in Aot oondersjeid vaan standardisering vaan de kurieke klasse vaan PAI, die in Aot oondernumme vaan strategie Cooperative Learning es Aon leidinggevende leiding veur Aot behandele vaan de sjoel in Jurnal gebruukde. Keywords: Cooperative Learning. PAI Learning Managemen. Multicultural. SMKN 1 Bengkulu City. How to cite this article: Septian. Dewa. Implementasi Model Cooperative Learning pada Manajemen Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural di SMKN 1 Kota Bengkulu. Al-Bahtsu: Jurnal Penelitian Pendidikan Islam, 10. , 276-285. Received: 7/30/2025 Revised: 10/28/2025 Accepted: 11/17/2025 Vol. No. December 2025 | Pages. 276-285 | 277 PENDAHULUAN Model Pembelajaran Kooperatif merupakan salah satu pendekatan instruksional yang menitikberatkan pada kolaborasi dan interaksi antarpeserta didik dalam kelompok kecil guna mencapai sasaran pembelajaran bersama. Menurut Johnson & Johnson. Pembelajaran Kooperatif melibatkan penggunaan kelompok kecil yang memungkinkan peserta didik untuk bekerja sama dalam memaksimalkan hasil belajar diri sendiri serta orang lain. Terdapat lima komponen utama dalam model ini, yakni saling ketergantungan positif (Positive Interde-pendenc. , interaksi tatap muka yang mendukung (Promotive Face-to-Face Interactio. , per-tanggungjawaban individu (Individual Accountabilit. , keterampilan sosial (Social Skill. , serta proses kelompok (Group Processin. Sementara itu. Slavin menyatakan bahwa Pembelajaran Kooperatif merupakan pendekatan di mana peserta didik berkolaborasi dalam kelompok heterogen dengan menerapkan berbagai teknik untuk menguasai materi pembelajaran dan memastikan setiap anggota ke-lompok mencapai hasil belajar yang maksimal. Penerapan model ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan capaian belajar, retensi pengetahuan, serta pengembangan keterampi-lan sosial peserta didik. Dalam ranah Pendidikan Agama Islam. Mulyasa . engutip sumber lai. menegaskan bahwa pembelajaran PAI seharusnya tidak terbatas pada aspek kognitif, melainkan juga mencakup dimensi afektif dan psikomotorik. Model Pembelajaran Kooperatif sangat relevan karena dapat memfasilitasi internalisasi nilai-nilai keagamaan, seperti gotong royong . a'awu. , musyawarah . , dan toleransi, yang merupakan esensi ajaran Islam. Selain itu. Abdullah . alam konteks PAI) menyoroti pentingnya Pembelajaran Kooperatif berbasis multikultural untuk membentuk sikap moderasi beragama . di kalangan peserta didik. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik dari latar belakang sosial, etnis, dan pandangan yang beragam untuk berinteraksi, mempraktikkan toleransi, ser-ta memandang keragaman sebagai kekayaan, bukan sebagai pemicu konflik. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah, khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ditandai oleh keragaman latar belakang, seharusnya berperan sebagai garda depan dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme dan toleransi. Idealnya, pengelolaan pembelajaran PAI dirancang secara strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai multikultural tersebut, misalnya melalui model Pembelajaran Kooperatif, yang secara intrinsik mendorong kolaborasi, saling menghormati, dan penerimaan perbedaan. Berdasarkan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan serta membentuk karakter dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan tujuan agar potensi peserta didik berkembang menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berpengetahuan, kompeten, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Nilai-nilai tersebut sangat sejalan dengan tujuan Pembelajaran Kooperatif berbasis multikultural. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 278 | Rachmat Rifky Septian1. Barata Harsena Dewa2 Meskipun secara konseptual Pembelajaran Kooperatif dan PAI multikultural merupakan kombinasi yang ideal, kenyataan di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan antara ekspektasi dan implementasi. Di SMK N 1 Kota Bengkulu, sebuah sekolah kejuruan dengan siswa dari berbagai program studi dan latar belakang ekonomi serta sosial yang beragam, pembelajaran PAI ser-ing kali masih didominasi oleh metode konvensional . erpusat pada gur. , seperti kuliah dan tugas individu. Keterbatasan penerapan model interaktif dan kolaboratif seperti Pembelajaran Kooperatif menyebabkan peserta didik kurang terlatih dalam berinteraksi secara konstruktif dengan teman yang memiliki pandangan atau latar belakang berbeda. Hal ini berpotensi: . Kurangnya pemahaman mendalam terhadap nilai-nilai multikultural seperti toleransi dan empati. Pengelolaan kelas PAI yang kurang optimal dalam menangani keragaman siswa, yang dapat memicu "gejala eksklusivitas" atau "perundungan berdasarkan perbedaan" . ika terdapat dat. Kondisi ini menimbulkan masalah yang memerlukan kajian lebih mendalam. Berdasarkan kesenjangan tersebut, muncul pertanyaan fundamental bagaimana implementasi model pembelajaran kooperatif dapat diintegrasikan secara efektif dalam pengelolaan pem-belajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural di SMK N 1 Kota Bengkulu, serta sejauh mana efektivitasnya dalam menanamkan nilai-nilai toleransi dan kolaborasi di ka-langan peserta didik? Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji efektivitas Pembelajaran Kooperatif dan pembelajaran PAI multikultural, namun dengan fokus yang berbeda. Penelitian oleh Hi-dayatullah. & Wiyani. menekankan peningkatan hasil belajar kognitif PAI melalui tipe Student Teams Achievement Division (STAD) di SMP. Hasil kajian ini mengindikasikan bahwa penerapan model pembelajaran Student Teams Achievement Divi-sion (STAD) secara signifikan efektif dalam meningkatkan capaian belajar kognitif Pendidi-kan Agama Islam (PAI) pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Implementasi STAD, yang mencakup kolaborasi kelompok heterogen serta pertanggungjawaban individu, berhasil menciptakan atmosfer pembelajaran yang dinamis dan kompetitif secara positif, sehingga memudahkan peserta didik untuk memahami dan menguasai materi PAI, se-bagaimana tercermin dari kenaikan nilai ratarata kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol. Penelitian yang sama juga di lakukan oleh Purwanto. & Sari. ber-fokus pada pengelolaan kelas untuk meningkatkan disiplin siswa di SMA. Studi yang dil-akukan ini menitikberatkan pada pengaturan kelas guna meningkatkan kedisiplinan siswa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), menemukan bahwa implementasi pendekatan mana-jemen kelas yang sistematis dan stabil memberikan pengaruh positif yang besar terhadap peningkatan disiplin siswa. Pendekatan pengaturan kelas yang sukses, meliputi pembentukan peraturan kelas yang tegas, pemberian respons positif secara rutin, serta penanganan yang imparsial terhadap tindakan yang melenceng, mampu membangun suasana pembelajaran yang mendukung. Akibatnya, terlihat pengurangan insiden pelanggaran kecil dan kenaikan tingkat ketaatan siswa pada norma sekolah serta kelas, yang pada gilirannya berkontribusi pada iklim akademik yang lebih baik. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 276-285 | 279 Sementara itu, penelitian oleh Mujahidin. & Handayani. menyoroti pengembangan kurikulum PAI berbasis multikultural di perguruan tinggi (PT). Penelitian inI menghasilkan kesimpulan utama bahwa model kurikulum yang diciptakan terbukti sah, praktis, dan bermanfaat untuk diterapkan. Model kurikulum PAI multikultural yang berhasil dibuat ini menitikberatkan pada penggabungan nilai-nilai toleransi, moderasi keagamaan, dan penghargaan terhadap keberagaman budaya setempat ke dalam isi kuliah, teknik pem-belajaran, serta mekanisme penilaian. Temuan menunjukkan bahwa penerapan kurikulum tersebut tidak hanya mampu meningkatkan wawasan mahasiswa tentang materi PAI, tetapi juga secara nyata membina perilaku inklusif, kesadaran multikultural, serta membuat proses belajar PAI lebih sesuai konteks dan terkait dengan kondisi pluralitas di kampus dan masyarakat, sekaligus berfungsi sebagai langkah pencegahan strategis terhadap munculnya masalah intoleransi. Walaupun terdapat banyak penelitian yang dilakukan oleh para peneliti, maka belum ada kajian yang secara spesifik menganalisis secara mendalam implementasi dan pengelolaan model Pembelajaran Kooperatif sebagai strategi khusus untuk mengatur pembelajaran PAI berbasis multikultural dalam konteks Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), terutama di SMK N 1 Kota Bengkulu yang memiliki karakteristik kejuruan unik . enekanan pada ket-erampilan prakti. Penelitian sebelumnya cenderung berfokus pada hasil belajar kognitif atau jenjang pendidikan berbeda (SMP/PT), bukan pada aspek pengelolaan dan penguatan nilai multikultural di SMK. Oleh karena itu, kebaruan . penelitian ini terletak pada integrasi tiga variabel kunci: Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif. Pengelolaan Pembelajaran, dan Basis Multikultural dalam satu kerangka analisis, yang jarang dilakukan secara simultan dalam studi PAI. Penetapan lokus penelitian di SMK N 1 Kota Bengkulu, sehingga menghasilkan temuan empiris yang spesifik dan kontekstual mengenai bagaimana Pembelajaran Kooperat-if dapat dikelola untuk menghadapi tantangan multikultural di lingkungan pendidikan keju-ruan. Selain itu, penelitian ini menawarkan model pengelolaan pembelajaran PAI yang prak-tis, dengan fokus pada peran guru PAI sebagai pengelola keragaman kelas, bukan sekadar fasilitator materi. Penelitian ini penting untuk menghasilkan temuan krusial bagi upaya sekolah dalam memperkuat moderasi beragama dan toleransi di kalangan generasi muda, yang merupakan isu nasional strategis. Penelitian ini juga menyediakan model implementasi praktis bagi guru PAI dan kepala sekolah di SMK N 1 Kota Bengkulu . erta sekolah kejuruan lainny. tentang cara efektif mengelola kelas multikultural menggunakan model Pembelajaran Kooperatif. Lebih lanjut, penelitian ini mengisi kesenjangan literatur dengan menyajikan data empiris yang detail mengenai praktik pengelolaan pembelajaran PAI berbasis multikul-tural di jenjang SMK. METODE Penelitian ini dirancang untuk menyelidiki secara mendalam dan menyeluruh implementasi model Cooperative Learning dalam pengelolaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berbasis multikultural. Oleh karena itu, jenis penelitian yang dipilih adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara intensif dan rinci fenomena This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 280 | Rachmat Rifky Septian1. Barata Harsena Dewa2 yang ter-jadi dalam konteks nyata dan terbatas, yaitu di SMK N 1 Kota Bengkulu . Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif-analitis, yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara akurat data yang diperoleh dari lapangan dan menganalisisnya secara mendalam guna mencapai pemahaman komprehensif tentang bagaimana model tersebut diimplementasikan dan dikelola dalam situasi multikultural. Penelitian ini dilakukan di SMK N 1 Kota Bengkulu, yang dipilih secara spesifik . karena merupakan sekolah kejuruan dengan tingkat keragaman latar belakang siswa yang tinggi, sehingga menjadikannya lokasi yang sesuai untuk menguji pengelolaan pem-belajaran berbasis multikultural. Sumber data primer penelitian ini adalah partisipan . n-forma. yang terdiri dari Kepala Sekolah. Guru Mata Pelajaran PAI, dan beberapa perwaki-lan siswa dari kelas yang menerapkan model Cooperative Learning. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, yaitu penentuan subjek penelitian ber-dasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan Kriteria informan utama (Guru PAI) adalah mereka yang aktif mengajar di kelas dengan keragaman yang signifikan dan pernah atau sedang mengimplementasikan Cooperative Learning. Untuk memastikan validitas dan triangulasi data, digunakan beberapa teknik pengum-pulan data. Wawancara mendalam . n-depth intervie. dilakukan kepada Kepala Sekolah dan Guru PAI untuk memperoleh informasi tentang kebijakan sekolah, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan pembelajaran Cooperative Learning PAI multikultur-al. Selain itu, observasi partisipan non-aktif dilakukan untuk mengamati secara langsung proses implementasi Cooperative Learning di kelas, interaksi siswa yang beragam, serta cara guru mengelola kelas dalam menghadapi perbedaan pandangan atau latar belakang. Tera-khir, studi dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data sekunder berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), catatan harian guru, hasil kerja kelompok siswa, dan dokumen profil siswa terkait keragaman di SMK N 1 Kota Bengkulu . Data yang telah terkumpul dan tervalidasi kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data kualitatif model interaktif Miles dan Huberman . Analisis data dilakukan secara berkelanjutan dan simultan yang terdiri dari tiga alur kegiatan utama: Reduksi Data (Data Reductio. , yaitu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan data kasar yang muncul dari catatan lapangan. Penyajian Data (Data Displa. , yaitu penyaj-ian data yang telah direduksi dalam bentuk narasi, matriks, atau flowchart untuk memu-dahkan pemahaman. dan Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Draw-ing/Verificatio. , yaitu proses perumusan kesimpulan akhir yang didukung oleh bukti-bukti yang sah dari lapangan. Keabsahan data akan diuji melalui triangulasi sumber dan teknik untuk menjamin kredibilitas temuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Perencanaan Manajemen Pembelajaran (Tahap Plannin. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa perencanaan manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMK N 1 Kota Bengkulu telah mengintegrasikan aspek multikultural, walaupun model Cooperative Learning tidak selalu secara eksplisit disebutkan sebagai satu-satunya pendekatan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 276-285 | 281 (RPP). Guru PAI, yang diinisialkan sebagai Bapak/Ibu X oleh peneliti, menunjukkan kesadaran tinggi terhadap keragaman siswa berdasarkan suku, latar belakang ekonomi, dan pandangan keagamaan, yang memerlukan penanganan khusus. Perencanaan yang dilakukan oleh guru tersebut menekankan pembentukan kelompok belajar heterogen sebagai langkah awal implementasi manajemen kelas multikultural. Setiap kelompok secara sengaja dibentuk untuk merefleksikan keragaman sekolah, yang dianggap sebagai prasyarat keberhasilan model Cooperative Learning seperti Student Teams Achievement Division (STAD) atau Jigsaw yang sering diterapkan. Tujuan utama dari perencanaan ini adalah mengubah perbedaan latar belakang menjadi bukan hambatan, melainkan sebagai sumber pembelajaran dan latihan toleransi. Implementasi Model Cooperative Learning (Tahap Actuatin. Pelaksanaan model Cooperative Learning dalam pembelajaran PAI dilakukan me-lalui beberapa tahapan pokok. Guru PAI berperan sebagai pengelola kelas yang aktif mengawasi interaksi kelompok. Pertama, pada tahap pelaksanaan, guru secara eksplisit memberikan instruksi yang menekankan positive interdependence, memastikan setiap anggota kelompok memiliki peran unik dan saling bergantung untuk menyelesaikan tugas PAI yang diberikan. Sebagai contoh, dalam materi Fikih Muamalah, kelompok diminta meneliti perbedaan praktik transaksi ekonomi antarbudaya. Kedua, interaksi ta-tap muka yang konstruktif terjadi secara intensif, di mana siswa dari jurusan dan suku yang berbeda dipaksa untuk berkomunikasi serta bernegosiasi guna mencapai kesepaka-tan tugas. Ketiga, mekanisme akuntabilitas individu diterapkan melalui kuis atau presentasi bergantian, memastikan setiap siswa, tanpa memandang latar belakangnya, menguasai materi, sehingga mencegah dominasi oleh satu individu atau kelompok ter-tentu. Hasil observasi menunjukkan bahwa interaksi dalam kelompok heterogen ini secara efektif mempraktikkan nilai-nilai multikultural, di mana siswa belajar menghar-gai gaya komunikasi dan pandangan teman yang berbeda. Kontrol dan Evaluasi (Tahap Controllin. Aspek manajemen pembelajaran yang paling menonjol adalah peran guru dalam mengontrol dan mengevaluasi tidak hanya hasil kognitif, tetapi juga sikap multikultural Kontrol dilakukan melalui observasi langsung terhadap social skills dan group processing dalam kelompok. Guru PAI sering melakukan intervensi ketika muncul po-tensi konflik atau kesalahpahaman akibat perbedaan, yang menjadi kesempatan pem-belajaran . eachable momen. untuk membahas toleransi dan ukhuwah Islamiyah . er-saudaraan Isla. Evaluasi dilakukan melalui dua pendekatan: . penilaian kognitif standar. penilaian afektif atau sikap, di mana guru memberikan bobot khusus pada indikator kerjasama, empati, dan penghargaan terhadap perbedaan, yang merupa-kan inti pendidikan PAI berbasis multikultural. Pengakuan dan penghargaan diberikan tidak hanya kepada kelompok dengan nilai tertinggi, tetapi juga kepada kelompok yang menunjukkan kerjasama tim terbaik dan mampu menyelesaikan konflik internal secara matang. Dampak Terhadap Pendidikan Akhlak dan Multikulturalisme. Secara keseluruhan, implementasi model Cooperative Learning dalam manajemen pembelajaran PAI di SMK N 1 Kota Bengkulu terbukti efektif dan relevan sebagai strategi manajerial untuk mengelola keragaman serta memfasilitasi pendidikan akhlak berbasis Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam sikap toleransi dan empati This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 282 | Rachmat Rifky Septian1. Barata Harsena Dewa2 antarpeserta didik, khususnya setelah mereka bekerja dalam kelompok yang sengaja dibuat heterogen. Guru PAI berhasil mengintegrasikan nilai-nilai multikultural ke dalam lima unsur esensial Cooperative Learning (Johnson & Johnso. , sehingga pembelajaran tidak hanya mencapai target materi PAI tetapi juga membentuk akhlak . yang inklusif dan moderat, sesuai dengan tuntutan lingkungan sekolah kejuruan yang dinamis dan majemuk. Pembahasan ini menginterpretasikan hasil penerapan model Cooperative Learning dalam manajemen pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) yang berbasis multikultural di SMK N 1 Kota Bengkulu, dengan merujuk pada temuan lapangan serta membandingkann-ya dengan teori dan penelitian sebelumnya. Perencanaan Manajemen Pembelajaran PAI Multikultural. Temuan penelitian menunjukkan bahwa manajemen perencanaan di SMK N 1 Kota Bengkulu telah mengintegrasikan prinsip multikultural melalui kebijakan pemben-tukan kelompok heterogen. Guru PAI (Bapak/Ibu X) menyatakan dalam wawancara, "Kami secara sengaja memastikan setiap kelompok memiliki perwakilan dari jurusan teknik, administrasi, dan sosial, bahkan jika memungkinkan dari latar belakang desa atau kota yang berbeda, agar mereka terbiasa bekerja sama. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dasar yang dikemukakan oleh Slavin, yang menekankan bahwa keberhasilan Cooperative Learning sangat ditentukan oleh pembentukan kelompok yang beragam . untuk memaksimalkan peer tutoring dan pemahaman kolektif. Dalam konteks ini, peneliti berpendapat bahwa perencanaan di SMK N 1 Kota Bengkulu melampaui perencanaan kurikulum PAI konvensional. Jika Mujahidin & Handayani . menekankan pengembangan kurikulum multikultural pada tingkat makro . erguruan tingg. , penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi multikultural dapat diimplementasikan secara taktis pada tingkat mikro . anajemen kela. melalui kebijakan alokasi anggota kelompok yang disengaja. Temuan ini menegaskan bahwa kesadaran guru . ukan hanya kurikulum forma. merupakan kunci keberhasilan perencanaan berbasis multikultural. Implementasi Model Cooperative Learning di Kelas Fase implementasi terbukti efektif dalam menerapkan lima unsur penting Cooperative Learning (Johnson & Johnso. Salah seorang siswa (Siswa A) mengungkapkan, "Awalnya saya kaget harus bergabung dengan anak dari jurusan berbeda yang cara bicaranya berbeda, tetapi karena tugasnya harus dikerjakan bersama, akhirnya kami belajar mendengarkan pendapat mereka. Pernyataan ini secara empiris membuktikan terjadinya positive interdependence dan interaksi tatap muka yang promotif, di mana kebutuhan untuk menyelesaikan tugas bersama mendorong siswa untuk saling berinteraksi secara konstruktif . Penerapan akuntabilitas individu melalui kuis mendadak setelah diskusi, sebagaimana disampaikan oleh guru PAI, juga mendukung temuan Hidayatullah & Wiyani . yang menunjuk-kan bahwa model Student Teams Achievement Divisions (STAD) efektif meningkatkan hasil kognitif, karena siswa terdorong untuk memastikan semua anggota menguasai ma-teri, bukan hanya satu orang. Publish by UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu Vol. No. December 2025 | Pages. 276-285 | 283 Peneliti menilai bahwa implementasi ini memberikan kontribusi unik pada liter-atur. Sementara Hidayatullah & Wiyani . fokus pada peningkatan hasil belajar kognitif, temuan di SMK N 1 Kota Bengkulu memperluas makna efektivitas menjadi efektivitas afektif dan sosial. Implementasi Cooperative Learning di sini berfungsi gan-da: sebagai metode penyampaian materi . dan sebagai laboratorium sosial un-tuk pembentukan akhlak multikultural. Kontrol dan Evaluasi Manajemen Pembelajaran Manajemen kelas yang dilakukan oleh guru PAI sangat menonjol pada fungsi kontrol dan evaluasi. Guru PAI menegaskan dalam wawancara, "Saya lebih menekankan pada proses group processing dan social skills. Jika ada siswa yang mulai mengejek cara bicara temannya, itu langsung saya jadikan ba-han diskusi PAI tentang bagaimana adab persaudaraan Islam . Upaya guru ini mencerminkan manajemen kelas yang fokus pada pembinaan mor-al dan sosial, bukan sekadar ketertiban fisik. Hal ini sejalan dengan pandangan Purwan-to & Sari . yang menekankan bahwa manajemen kelas yang efektif tidak hanya mengatur ketertiban, tetapi juga menciptakan lingkungan moral yang disiplin dan kon-dusif untuk interaksi positif. Hasil penelitian ini menguatkan dan memperdalam temuan Purwanto & Sari . Jika penelitian sebelumnya fokus pada disiplin umum, penelitian ini menunjuk-kan bahwa kontrol manajemen kelas PAI dapat diarahkan secara spesifik untuk menga-tasi masalah Guru PAI di SMK N 1 Kota Bengkulu bertindak sebagai ma-najer konflik minisosial, mengubah potensi gesekan multikultural menjadi pelajaran akhlak yang Dampak Terhadap Pendidikan Akhlak Berbasis Multikultural Hasil akhir menunjukkan bahwa model Cooperative Learning berhasil menjadi strategi manajerial yang efektif untuk menanamkan akhlak inklusif. Siswa B . ari latar belakang berbed. mengatakan, "Tugas kelompok membuat saya tahu bahwa teman yang saya kira sombong itu ternyata orangnya baik dan sangat pintar. Kami jadi lebih sering menyapa di luar kelas. Perubahan sikap ini merupakan bukti nyata internalisasi nilai toleransi dan em-pati, yang merupakan tujuan utama Pendidikan Agama Islam berbasis multikultural. Efektivitas ini sejalan dengan pandangan Abdullah . yang menegaskan bahwa metode yang mempromosikan interaksi merupakan kunci untuk membentuk sikap mod-erasi beragama . di kalangan pelajar. Secara keseluruhan, penelitian ini menghubungkan titik-titik . ridging the ga. antara teori Cooperative Learning . sikologi pendidika. , manajemen kelas . endidikan umu. , dan tujuan PAI . endidikan agam. Kontribusi utama penelitian ini adalah menawarkan model manajemen pembelajaran PAI yang utuh, yang mampu menerjemahkan nilai ideal multikultural . mar ma'ruf nahi munkar secara kontekstua. ke da-lam praktik kelas melalui Cooperative Learning. Ini merupakan jawaban praktis ter-hadap tantangan keragaman di sekolah kejuruan, sebuah konteks yang jarang diulas da-lam literatur sebelumnya. This Article is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 Interntional Lincese 284 | Rachmat Rifky Septian1. Barata Harsena Dewa2 KESIMPULAN Implementasi model Cooperative Learning, khususnya melalui pembentukan kelompok yang dirancang secara heterogen, di SMK N 1 Kota Bengkulu telah berhasil diintegrasikan ke dalam manajemen pembelajaran PAI untuk menangani keragaman siswa secara afektif. Guru PAI berperan sebagai pengelola konflik sosial skala kecil, dengan penekanan pada pengendalian dan evaluasi keterampilan sosial serta pemrosesan kelompok, bukan semata-mata pada hasil kognitif. Keberhasilan pendekatan ini didukung oleh bukti empiris dari wawancara dan observasi, yang menunjukkan bahwa elemenelemen saling ketergantungan positif dan pertanggungjawaban individu dalam ke-lompok heterogen secara langsung mendorong peningkatan toleransi, empati, dan akhlak inklusif di antara peserta didik. Keberhasilan penerapan model ini sangat ditentukan oleh inisiatif dan kesadaran manajerial guru PAI yang melampaui batasan kurikulum resmi. Guru PAI di SMK N 1 Kota Bengkulu berhasil menjembatani kesenjangan penelitian dengan membuktikan bahwa manajemen pembelajaran pada tingkat mikro . anajemen kelas PAI) dapat ber-fungsi sebagai solusi praktis untuk mengatasi tantangan multikultural di lingkungan pendidikan kejuruan yang dinamis. Hal ini mengindikasikan bahwa Cooperative Learn-ing berperan ganda sebagai metode instruksional dan sebagai laboratorium sosial yang efektif untuk pengembangan akhlak berbasis multikultural, sehingga berkontribusi sig-nifikan terhadap penguatan moderasi beragama di sekolah. DAFTAR PUSTAKA