Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 2, 2025, pp. 104 Ae 112 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Edukasi Kesehatan Metode Jigsaw Dalam Meningkatkan Pengetahuan Pencegahan Gastritis Mahasiswa Edy Supardi1a*. Sulasri1. Reski Fitriani Herman1 Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar. Indonesia supardi81@gmail. HIGHLIGHTS Edukasi Kesehatan metode jigsaw dalam meningkatkan pengetahuan pencegahan gastritis ARTICLE INFO Article history Received date Mar 15th 2025 Revised date Jul 13th 2025 Accepted date Jun 28th 2025 Keywords: Gastritis prevention Health education Jigsaw ABSTRACT/ABSTRAK Teenagers aged 14Ae25 years in Indonesia, including students at the Pelamonia Institute of Health Sciences (IIK Pelamoni. in Makassar, are prone to gastritis due to unhealthy lifestyle habits, necessitating preventive efforts such as health education. The Jigsaw method is a collaborative and effective educational approach to enhance knowledge. This study aimed to determine the effect of health education using the Jigsaw method on studentsAo knowledge regarding gastritis prevention. A quasi-experimental one-group pretest-posttest design was employed, involving 30 students from the ARS study program at IIK Pelamonia. Knowledge levels were measured using a 13-item questionnaire on gastritis prevention. Data were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test, which showed an increase in mean scores from 31. , with a p-value of The findings indicate a significant improvement in studentsAo knowledge after receiving education via the Jigsaw method. In conclusion, health education using the Jigsaw method effectively enhances adolescentsAo knowledge of gastritis prevention and can be adopted by nurses as a collaborative and engaging health promotion strategy. Copyright A 2025 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Edy Supardi. Prodi S1 Keperawatan IIK Pelamonia Makassar. Jl. Garuda No. 3AD Kec. Mariso Makassar. Email: edy. supardi81@gmail. PENDAHULUAN Gastritis adalah gangguan pencernaan umum yang dapat dialami semua usia, termasuk remaja usia 14Ae25 tahun (Destiyanih et al. , 2022. Feyisa & Woldeamanuel. Khandelwal et al. , 2. Secara global, infeksi Helicobacter pylori menjadi penyebab utama dan meningkatkan risiko kanker lambung, dengan prevalensi tinggi pada anak dan remaja (Chen et al. , 2024. Huang et al. , 2. WHO mencatat 1,8Ae2,1 juta kasus gastritis per tahun, dengan prevalensi di Asia Tenggara sekitar 0,01% (WHO. Di Indonesia, prevalensi gastritis mencapai 40,8% atau 274. 396 kasus dari 238,4 juta jiwa, meskipun infeksi H. pylori tergolong rendah dan bervariasi antar wilayah Page . (Akhmad Tiu et al. , 2. Di Makassar, tercatat 15. 488 kasus pada tahun 2023 (Dinkes Makassar, 2. Gastritis dapat menyerang semua usia, termasuk remaja 15Ae25 tahun (Azizah et , 2024. Maidartati et al. , 2. , dan disebabkan oleh faktor seperti melewatkan makan, pendapatan rendah (Khandelwal et al. , 2. , konsumsi NSAID, merokok, alkohol, makanan pedas (Feyisa & Woldeamanuel, 2. , serta stres (Azzahra Indra et al. Mahasiswa usia 18Ae24 tahun rentan mengalami stres akibat transisi dari sekolah menengah ke perguruan tinggi yang memengaruhi aspek akademik, sosial, dan psikologis (Maidartati et al. , 2021. Monaghan, 2. Stres berkepanjangan dan pola makan tidak sehat, seperti konsumsi makanan pedas, asam, dan berlemak, berkontribusi pada timbulnya gastritis (Abigail & Hernyndez, 2019. Arso Wibowo & Adianti, 2. Gaya hidup mahasiswa menjadi faktor penting, sehingga diperlukan motivasi untuk meningkatkan pengetahuan pencegahan gastritis (Arso Wibowo & Adianti, 2021. Lembong et al. , 2. Penerapan Edukasi kesehatan meningkatkan pengetahuan dan berdampak positif bagi penderita gastritis kronik (Abd El-Salam Sheta et al. , 2. , serta berkontribusi pada kesehatan individu dan Masyarakat (WHO, 2. Model pembelajaran inovatif seperti Jigsaw Learning meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan pemahaman siswa dalam pembelajaran (Gede Widayana & Kevin Balsono, 2. Model ini fleksibel, dapat diterapkan pada berbagai topik, serta mengembangkan keterampilan kelompok (Lubis & Harahap, 2. Sebagai metode collaborative learning. Jigsaw mendorong berbagi informasi dan keterampilan untuk meningkatkan pemahaman bersama (Kusuma, 2. Metode ini lebih efektif dibandingkan lainnya dalam meningkatkan keterampilan sosial, pemahaman materi, dan kepercayaan diri siswa (Mubayinah, 2. Setiap siswa bertanggung jawab atas bagian materi tertentu, menyampaikannya ke kelompok, serta melatih keterlibatan, kerja sama, dan apresiasi terhadap pendapat orang lain (Tukiyantini, 2. Beberapa penelitian menunjukkan edukasi kesehatan efektif meningkatkan pengetahuan tentang gastritis. Metode ceramah dan diskusi dengan leaflet meningkatkan pemahaman mahasiswa (Pomarida Simbolon et al. , 2. Edukasi melalui media sosial berdampak pada pengetahuan, sikap, dan perilaku siswa (Tulyani. Sementara itu, media Zoom dan leaflet juga terbukti meningkatkan pemahaman siswa tentang pencegahan gastritis (Mochartini & Dewi, 2. Penelitian menunjukkan metode Jigsaw efektif dalam edukasi kesehata, metode ini meningkatkan pengetahuan konsep diri remaja (Ngelo & Wetik, 2. , pemahaman tentang flour albus (Dhea Ananda, 2. , serta lebih efektif dibanding ceramah dalam edukasi infeksi menular seksual pada mahasiswa (Sari & Mindarsih, 2. Meskipun gastritis banyak dialami remaja dan mahasiswa akibat gaya hidup serta stres akademik, masih terdapat keterbatasan pemahaman mereka tentang pencegahan penyakit ini. Berbagai metode edukasi telah digunakan, namun belum banyak yang menguji efektivitas metode Jigsaw secara spesifik dalam edukasi pencegahan gastritis, terutama di kalangan mahasiswa Prodi Administrasi Rumah Sakit (ARS) IIK Pelamonia yang terbukti masih kurang memahami topik ini. Berdasarkan hal tersebut sehingga pertanyaan penelitian dalam penelitian ini adalah Apakah metode edukasi kesehatan menggunakan model pembelajaran Jigsaw dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa Prodi Administrasi Rumah Sakit IIK Pelamonia tentang pencegahan METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan quasi eksperimen one group design. Populasi penelitian dari mahasiswa IIK Pelamonia prodi administrasi rumah sakit ARS dengan jumlah sampel 30 partisipan dipilih dengan tehnik purposive sampling dengan kriteria sampel yaitu Mahasiswa IIK Pelamonia Program Page . studi ARS yang memiliki Riwayat gastritis. Pengetahuan pencegahan gastritis dikumpulkan menggunakan kuesioner 13 pertanyaan yang yang memuat pertanyaan tentang pencegahan gastritis yang telah valid dan reliable diukur sebelum dan setelah edukasi menggunakan metode pembelajaran jigsaw dengan nilai cronbachAos alpha menunjukkan angka >0,722. Pelaksanaan edukasi dilakukan satu kali yang diawali pretest mengukur tingkat pengetahuan partisipan selanjutnya dilakukan penerapan edukasi Kesehatan metode jigsaw kepada seluruh partisipan yang dibagi dalam beberapa kelompok kecil dengan durasi waktu selama 1 jam. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon untuk mengetahui perbedaan pengetahuan tentang pencegahan gastritis mahasiswa IIK Pelamonia sebelum dan setelah diedukasi menggunakan metode jigsaw. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari Komisi Etik Penelitian Kesehatan. Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar (POLTEKKES MAKASSAR), dengan nomor surat No: 0026/M/KEPK-PTKMS/I/2025. HASIL Tabel 1 Distribusi frekuensi karakteristik partisipan di IIK Pelamonia Makassar Tahun Total Variabel Usia (Mean,ASD) Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Riwayat Gastritis Pernah Tidak pernah Tabel 1 menunjukkan karakteristik partisipan berdasarkan umur dengan mean dan standar deviasi . A0. , dominan jenis kelamin partisipan adalah perempuan . =26, 86. 7%), dan 100% . memiliki riwayat gastritis. Tabel 2 Distribusi frekuensi pengetahuan pencegahan gastritis pretest dan posttest partisipan di IIK Pelamonia Makassar Tahun 2024 Variabel Pretest Pengetahuan Posttest Pengetahuan Total n=30 Baik Kurang Baik Kurang Tabel 2 menunjukkan bahwa, tingkat pengetahuan partisipan pretest dalam katagori kurang . =21, 70%), sedangkan posttest meningkat dalam katagori baik . =27, 90%). Hal ini menunjukkan peningkatan tingkat pengetahan pencegahan gastritis mahasiswa IIK Pelamonia Makassar setelah diedukasi menggunakan metode jigsaw. Tabel 3 Perbedaan pengetahuan pencegahan gastritis mahasiswa di IIK Pelamonia Makassar Tahun 2024 Variabel Pengetahuan Pre test Post test Mean Sum of rank p value 0,000* Tabel 3 menunjukkan bahwa, ada perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan setelah dilakukan edukasi pencegahan gastritis mahasiswa IIK Pelamonia Makassar Page . menggunakan metode jigsaw meningkat. Hasil analisis uji statistik menggunakan uji wilcoxon menunjukkan nilai p value= 0. <0,. , maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga ada pengaruh edukasi kesehatan dengan metode jigsaw terhadap pengetahuan pencegahan gastritis pada mahasiswa IIK Pelamonia PEMBAHASAN Karateristik Partisipan (Usia dan Jenis Kelami. Partisipan penelitian ini sebagian besar berusia 18 tahun, dimana usia tersebut tergolong usia muda. Usia mempengaruhi kemampuan kognitif, terutama memori dan pengetahuan. Teori mekanistik menjelaskan bahwa usia remaja memiliki kinerja terbaik dalam memori pengetahuan sehingga daya tangkap pemahaman semakin baik (Park & Festini, 2. Menurut (Monaghan, 2. usia 18-24 tahun telah memasuki dunia perguruan tinggi dan menjadi seorang remaja Hasil penelitian (Perez-Gomez et al. , 2. , menyatakan bahwa usia remaja memiliki pengetahuan yang baik. Berdasarkan hasil penelitian ini, teori, dan penelitian sebelumnya bahwa usia mempengaruhi kemampuan kognitif, terutama memori dan pengetahuan. Pada usia 18-24 tahun remaja memiliki kemampuan kognitif yang baik sehingga lebih mampu mengingat dan menerima pengetahuan. Mayoritas partisipan penelitian ini adalah perempuan, dimana mereka antusias dan aktif dalam bertanya. Diferensiasi otak laki-laki dan perempuan secara umum pada area corpus callosum dan Broca-Wernicke. Hal ini menyebabkan perempuan lebih mampu mengerjakan beberapa tugas dalam satu waktu, lebih mampu mengendalikan emosinya, dan perempuan juga memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik, yang tercermin dari banyaknya produk kosa (Lubab Abdillah, 2. Namun, walaupun didominasi perempuan, teridentifikasi seluruh partisipan laki-laki meningkat setelah diedukasi menggunakan metode jigsaw. Menurut penelitian Srivastava & Bhatnagar, . , menyatakan bahwa anak perempuan secara signifikan lebih unggul dibandingkan dengan anak laki- laki ketika diuji pada kecerdasan cair : mematahakan AuBrilianAy. Penelitian lainnya oleh (Akbas & Taner, 2. melihat perbedaan biologis otak perempuan dan laki- laki dalam hal menanggapi diskriminasi, perempuan lebih mampu dalam memanajemen diskriminasi. Namun, penelitian (Zaidi, 2. , pria dan wanita diminta untuk melafalkan kata- kata yang berbeda. baik pria maupun wanita melafalkan kata- kata tersebut dengan sama baiknya. Sementa penelitin (Perez-Gomez et al. , 2. , menyatakan bahwa tingkat pengetahuan tentang Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia tentang aktivitas fisik dan kesehatan menyebut anak laki-laki memiliki skor lebih tinggi daripada perempuan dan berada ditingkat rata-rata untuk kedua jenis Sesuai hasil penelitian ini, teori, dan penelitian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pengetahun tidak dapat diukur berdasarkan jenis kelamin. Pengaruh Edukasi Kesehatan dengan Metode Jigsaw terhadap Pengetahuan Pencegahan Gastritis Hasil penelitian ini menujukkan bahwa, tingkat pengetahuan partisipan sebelum edukasi dalam katagori kurang dan meningkat menjadi katagori baik setelah diedukasi. Pengetahuan meliputi definisi, penyebab, jenis, menifestasi klinis, pengobatan dan pencegahan gastiris. Uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah diedukasi dengan metode jigsaw. Metode Jigsaw berbasis konstruktivisme, yang menekankan pembelajaran aktif, kolaboratif, berbasis keterampilan, inovasi serta membangun pengetahuan Page . (Cochon Drouet et al. , 2023. Garcia et al. , 2017. Masukawa, 2. Pengetahuan terbentuk saat siswa terlibat aktif, menganalisis informasi secara kritis dan memecahkan masalah (Sonnleitner, 2. Jigsaw meningkatkan pemahaman konsep, komunikasi, analisis, serta menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan (Nusrath et al. , 2. Hasil penelitian Cochon Drouet et al. , . , menyatakan metode jigsaw berdampak positif pada prestasi, motivasi, hubungan sosial, dan harga diri akademis. Penelitian lainnya oleh Karacop & Diken, . , menyatakan metode Jigsaw lebih efektif dibanding pendekatan laboratorium dalam mengembangkan ketarampilan proses sains. Penelitian Jawawi et al. , . juga mencatat peningkatan komunikasi dan partisipasi siswa dalam kelas. Hasil uji Wilcoxon Signed Test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah edukasi jigsaw. Semakin banyak informasi yang diperoleh, semakin baik pula tingkat pengetahuan partisipan tentang pencegahan gastritis. Pengetahuan dapat diperoleh melalui otoritas seperti ahli, praktisi, dan pemimpin yang berpengaruh dan perilaku seseorang (Khatya, 2. Prinsip Aufrom unknown to knowAy . idak tahu menjadi tah. dalam edukasi menunjukkan bahwa sesi pembelajaran membawa peserta dari tidak tahu menjadi tahui (Moalim Hassan, 2. Cognitive Apprenticeship menekankan pentingnya praktik terbimbing dan umpan balik ahli dalam pembelajaran. Teori sosiokultural menekankan peran social, kolaborasi, dan komunikasi dalam pembentukan pengetahuan (Giannoukos, 2. Theory Into Practice menyebutkan bahwa Jigsaw adalah pembelajaran kooperatif yang menekankan interaksi antar anggota kelompok dan guru merupakan pembelajaran yang kooperatif dan kolaboratif (Johnson & Johnson, 1999. Bhandari et al. , 2. Metode ini menuntut kerja sama untuk membangun keterampilan dan penguasaan materi (Tekbiyik, 2. Jigsaw mendukung pembelajaran kelompok kecil dan mendorong kerja sama tim, yang meningkatkan proses belajar (Suvarna et al. , 2. Metode ini efektif digunakan dalam berbagai bidang studi seperti sains, keperawatan, anestesiologi, dan ruang operasi (Montazeri Khadem et al. , 2022. Jigsaw dikembangkan oleh Elliot Aronson dan timnya pada tahun 1970-an Strategi ini menggunakan Kelompok asal dan Kelompok ahli, dimana siswa saling berbagi informasi yang telah mereka kuasai (Panth, 2. Hal ini membangun saling ketergantungan, tanggung jawab individu, interaksi efektif, dan keterampilan Metode jigsaw didasari teori konstruktivisme yang menekankan pembelajaran aktif, kolaboratif, dan pembangunan pengetahuan. Siswa terlibat analisis kritis dan pemecahan masalah. Ceramah bersifat pedagogis, tradisional, efisien dalam menyampaikan materi, namun pasif dan kurang interaktif. Jigsaw merupakan pendekatan pembelajaran konstruktivis yang efektif untuk meningkatkan konsep, komunikasi, dan pengalaman belajar (Tsulaian, 2023. Sonnleitner, 2016. Nusrath et al. , 2. Sebaliknya, metode ceramah berfokus pada pemateri, dengan kelebihan dalam efisiensi waktu namun memiliki kelemahan dalam partisipasi dan interaksi mahasiswa terbatas (Kapur, 2020. Kaur, 2. Hasil penelitian ini similar dengan penelitian Wang et al. , . , menunjukkan bahwa edukasi berpengaruh terhadap pengetahuan dan perilaku siswa. Penelitian lainnya oleh Wang & Fang, . , menyatakan bahwa pendidikan kesehatan tampaknya meningkatkan pengetahuan dan perilaku. Penelitian Raji et al. , . juga menemukan peningkatan pengetahuan setelah edukasi. Penelitian Montazeri Khadem et al. , . menyimpulkan bahwa jigsaw efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa. Penelitian lainnya oleh Gede Widayana & Page . Kevin Balsono, . , menyatakan bahwa metode ini meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar. Penelitan Karina et al. , . , juga mencatat bahwa penerapan Jigsaw dapat meningkatkan pengetahuan dan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil penelitian ini, teori, dan penelitian sebelumnya disimpulkan bahwa salah satu cara manusia memperoleh pengetahuan adalah Authorithy yaitu pengetahuan diperoleh dari orang yang ahli atau memiliki pengaruh yang kuat terhadap opini dan perilaku yang membawa dampat positif. Edukasi kesehatan dapat meningkatkan pengetahun individu maupun kelompok, salah satunya dengan menggunakan metode jigsaw. Jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dan kolaboratif yang dapat membangun kerjasama, kerempilan belajar dan peningkatan pengetahuan, sehingga efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep, keterampilan komunikasi, kemampuan analisis, serta menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, sebaliknya metode ceramah cenderung komunikasi satu arah sehingga minim partisipasi siswa, interaksi yang terbatas, serta cenderung bersifat pasif dan membosankan. Metode jigsaw bila diterapkan secara efektif memberikan dampak positif jangka Panjang seperti peningkatan keterampilan kolaborasi, pemahaman materi yang lebih mendalam, penigkatan keterampilan belajar mandiri, berpikir kritis serta dapat menumbuhkan kepercayaan diri. KESIMPULAN Edukasi dengan metode jigsaw memiliki pengaruh terhadap peningkatan pengetahuan pencegahan gastritis pada mahasiswa IIK Pelamonia, sehingga penggunaan metode Jigsaw yang bersfiat kolaboratif ini dapat digunakan perawat sebagai salah satu metode edukasi kesehatan yang efektif khususnya pada usia remaja. Keterbatasan penelitian ini mencakup keterbatasan jumlah sampel, tidak ada kelompok kontrol, homogenitas sampel yang lebih spesifik sehingga disarankan penelitian selanjutnya dengan desain berbeda, jumlah sampel, waktu dan cakupan Lokasi penelitian yang lebih besar serta tujuaan penelitian yang mengukur dampak jangka Panjang dari metode ini. Implikasi praktis hasil penelitian ini bahwa edukasi dengan metode jigsaw dapat menjadi pilihan metode dalam pembelajaran baik dalam wilayah institusi maupun Masyarakat khususnya agregat remaja. DAFTAR PUSTAKA