MODERATION: Journal of Islamic Studies Review Volume. Number. Maret 2025 p-ISSN: 2776-1193, e-ISSN: 2776-1517 Hlm: 1-10 Journal Home Page: http://journal. id/index. php/moderation/index KERUKUNAN UMAT BERAGAMA SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI TOLERANSI Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin3 Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari7 Universitas Darul Ulum Islamic Centre Sudirman Kabupaten Semarang1,2,3,4,5,6 Institut Pembina Rohani Islam Jakarta (IPRIJA)7 uswatunkhasanah6815@gmail. sadari@iprija. Abstract: Religious harmony is a fundamental element in maintaining social stability and national unity, especially in a country with religious diversity like Indonesia. This study employs the library research method, analyzing various written sources such as books, scientific journals, research reports, and relevant official documents. A descriptive-qualitative approach is used to explore the supporting and inhibiting factors of religious harmony and examine the implementation of tolerance in society. The study's findings indicate that several factors contribute to religious harmony in Indonesia, including local wisdom values, the role of the government and religious institutions, multicultural education, and strong social interactions. However, several obstacles hinder religious harmony, such as intolerance and radicalism, the spread of religious-based hoaxes, social inequality, and the lack of interfaith dialogue. According to the Religious Harmony Index (Indeks Kerukunan Umat Beragam. Indonesia generally maintains a good level of religious harmony, yet challenges persist in certain regions. This study emphasizes the need for synergy between the government, religious leaders, academics, and society to strengthen religious moderation and prevent potential conflicts. Strategies such as improving digital literacy, strengthening interfaith dialogue, and ensuring social welfare equity must be continuously pursued to maintain interreligious harmony. With an inclusive and participatory approach. Indonesia is expected to remain a country that upholds the values of tolerance in religious life. Keyword: Religious Harmony. Tolerance. Religious Harmony Index Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari: [Kerukunan Umat Beragama Sebagai Wujud Implementasi Tolerans. 1 MODERATION: Vol. 05 No. Mater 2025 | PENDAHULUAN Kerukunan umat beragama merupakan salah satu aspek fundamental dalam menjaga harmoni sosial di masyarakat yang plural. Di Indonesia, dengan keberagaman agama yang dianut oleh penduduknya, sikap toleransi menjadi elemen kunci dalam membangun kehidupan yang damai dan sejahtera. Implementasi toleransi dalam kehidupan beragama bukan hanya sekadar kewajiban moral, tetapi juga bagian dari amanat konstitusi sebagaimana tercantum dalam Pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negara. Menurut laporan Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) yang dirilis oleh Kementerian Agama RI . , tingkat kerukunan umat beragama di Indonesia mengalami peningkatan dengan skor rata-rata 73,72 dari skala 100. 2 Ini menunjukkan bahwa secara umum, masyarakat Indonesia masih memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya sikap toleran dan saling menghormati antarumat beragama. 3 Namun, laporan ini juga mengungkapkan adanya tantangan yang masih dihadapi, seperti meningkatnya ujaran kebencian berbasis agama di media sosial serta masih adanya kasus diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama di beberapa daerah. Sejumlah studi akademik juga menunjukkan bahwa interaksi sosial yang lebih intens antarumat beragama mampu meningkatkan sikap toleransi. Wahid Foundation . menemukan bahwa individu yang aktif dalam kegiatan lintas agama memiliki kecenderungan lebih tinggi dalam menghargai perbedaan dibandingkan mereka yang hidup dalam lingkungan sosial yang lebih homogen secara keagamaan. Hal ini diperkuat oleh laporan Setara Institute . yang menunjukkan bahwa kota-kota dengan banyak forum dialog lintas agama memiliki indeks kerukunan lebih tinggi dibandingkan daerah yang masih mengalami segregasi sosial berbasis agama. Sebagai upaya konkret dalam memperkuat kerukunan, pemerintah Indonesia telah menginisiasi berbagai program, seperti Rumah Moderasi Beragama yang dikembangkan di berbagai perguruan tinggi Islam dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang aktif di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Program-program ini bertujuan untuk membangun pemahaman yang lebih baik antarumat beragama melalui dialog, kerja sama sosial, serta penguatan nilai-nilai kebangsaan. Dari sisi global, kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal di Jakarta pada tahun 2024 menjadi momen bersejarah dalam memperkuat semangat persaudaraan antarumat beragama. 4 Dalam kunjungan tersebut. Paus menekankan pentingnya dialog lintas agama dan kerja sama dalam menghadapi tantangan global, seperti kemiskinan, ketidakadilan sosial, dan perubahan iklim, yang membutuhkan solidaritas lintas iman. Namun, di era digital ini, tantangan baru dalam menjaga kerukunan umat beragama juga semakin Maraknya penyebaran hoaks dan ujaran kebencian berbasis agama di media sosial menjadi ancaman serius bagi stabilitas sosial. Studi yang dilakukan oleh Pusat Kajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta . menunjukkan bahwa berita hoaks yang menyangkut isu agama memiliki daya sebar lebih cepat dibandingkan dengan isu lainnya. Oleh karena itu, diperlukan upaya literasi digital dan edukasi keagamaan yang lebih masif agar masyarakat dapat membedakan antara informasi yang valid dan propaganda yang dapat merusak kerukunan. 5 Selain itu, keberagaman agama di Indonesia juga tercermin dalam berbagai praktik budaya yang menjadi bagian dari identitas nasional. Misalnya, perayaan hari besar keagamaan seperti Natal. Idul Fitri. Nyepi. Waisak, dan Deepavali sering kali dirayakan bersama dalam semangat kebersamaan dan persaudaraan. 1 Wahid Foundation. Tren Toleransi dan Intoleransi di Indonesia (Jakarta: Wahid Foundation, 2. 2 Setara Institute. Laporan Indeks Kota Toleran di Indonesia 2023 (Jakarta: Setara Institute, 2. 3 Kementerian Agama RI. Indeks Kerukunan Umat Beragama Tahun 2023 (Jakarta: Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Kemenag RI, 2. 4 Kementerian Agama RI. Rumah Moderasi Beragama sebagai Upaya Penguatan Kerukunan Beragama, 2023. Diakses dari https://kemenag. id pada 4 Maret 2025. 5 Pusat Kajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta. Dampak Media Sosial terhadap Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2021. Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari: [Kerukunan Umat Beragama Sebagai Wujud Implementasi Tolerans. 2 | Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari Hal ini menunjukkan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia bukan hanya merupakan konsep teoritis, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya hidup masyarakat. Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan. Indonesia diharapkan dapat terus menjadi model bagi negara-negara lain dalam mengelola keberagaman agama secara damai. Namun, tantangan seperti radikalisme, eksklusivisme agama, dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas harus terus diwaspadai dan diatasi melalui pendekatan yang inklusif serta berbasis pada prinsip keadilan dan kemanusiaan. Oleh karena itu, partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat pemerintah, pemuka agama, akademisi, dan warga sipil sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kerukunan umat beragama di Indonesia tetap kokoh sebagai wujud nyata dari implementasi toleransi. METODE PENULISAN Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan . ibrary researc. , yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber tertulis, seperti buku, jurnal ilmiah, laporan resmi, artikel berita, dan dokumen kebijakan yang relevan dengan tema kerukunan umat beragama dan toleransi. 6 Sumber-sumber tersebut diperoleh dari database akademik, situs resmi pemerintah, dan organisasi yang kredibel dalam lima tahun Teknik dokumentasi digunakan dalam proses pengumpulan data dengan cara menyeleksi literatur yang relevan, kemudian dianalisis secara sistematis untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai implementasi toleransi dalam kehidupan beragama di Indonesia. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif-kualitatif, di mana data yang telah dikumpulkan dikategorikan berdasarkan beberapa tema utama, seperti konsep dasar toleransi dan kerukunan umat beragama, kebijakan pemerintah dalam memperkuat moderasi beragama, faktor pendukung dan penghambat harmoni sosial, serta tantangan di era digital yang dapat memengaruhi hubungan antarumat beragama. Setelah data diklasifikasikan, dilakukan interpretasi terhadap berbagai temuan sehingga dapat ditarik kesimpulan mengenai bagaimana toleransi diimplementasikan dalam kehidupan beragama di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Kerukunan Umat Beragama dan Implementasi Toleransi Kerukunan umat beragama merupakan salah satu pilar penting dalam menciptakan stabilitas sosial dan keharmonisan dalam masyarakat yang beragam. Kerukunan ini mencerminkan kondisi di mana pemeluk berbagai agama dapat hidup berdampingan dalam suasana damai, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan. Menurut Wahid Foundation . , kerukunan umat beragama tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga mencerminkan adanya interaksi positif dan kolaboratif antara individu atau kelompok yang memiliki perbedaan keyakinan. 8 Konsep ini melibatkan tiga aspek utama, yaitu kerukunan internal dalam satu agama, kerukunan antaragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah sebagai fasilitator kehidupan beragama yang harmonis. Toleransi merupakan elemen fundamental dalam membangun kerukunan umat Toleransi dalam konteks ini berarti sikap menghormati dan menerima perbedaan keyakinan tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip dasar yang diyakini oleh setiap individu. Implementasi toleransi dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui berbagai cara, seperti menghormati kebebasan beribadah, membangun dialog antaragama. 6 M. Zed. Metode Penelitian Kepustakaan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2. 7 R. Yin. Case Study Research and Applications: Design and Methods, 6th ed. (Thousand Oaks. CA: SAGE Publications, 2. 8 Wahid Foundation. Laporan Tahunan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia (Jakarta: Wahid Foundation, 9 Setara Institute. Indeks Toleransi Kota di Indonesia (Jakarta: Setara Institute, 2. 3 | MODERATION: Vol. 05 No. Maret 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Mater 2025 | Serta menghindari sikap diskriminatif terhadap kelompok tertentu. 10 Pemerintah Indonesia telah memberikan landasan hukum yang kuat dalam mendukung kerukunan umat beragama, sebagaimana tertuang dalam Pasal 29 UUD 1945 yang menjamin kebebasan beragama bagi setiap warga negara. Dalam praktiknya, kerukunan umat beragama dapat diwujudkan melalui berbagai aspek kehidupan sosial. 12 Pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini, baik melalui kurikulum sekolah yang mengajarkan keberagaman maupun melalui praktik sosial yang mendorong interaksi antaragama. Selain itu, peran pemuka agama juga sangat penting dalam membangun pemahaman yang lebih inklusif dan menanamkan nilai-nilai kasih sayang serta kebersamaan di tengah masyarakat. Media, baik cetak maupun digital, juga memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan pesan-pesan perdamaian serta melawan narasi intoleransi yang berpotensi menimbulkan perpecahan. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk menjaga kerukunan umat beragama, masih terdapat berbagai tantangan dalam implementasinya. Salah satu tantangan utama adalah munculnya paham ekstremisme dan radikalisme yang menolak keberagaman serta mendorong eksklusivisme agama. 13 Selain itu, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian berbasis SARA di media sosial sering kali menjadi pemicu ketegangan di masyarakat. Faktor lain yang juga menjadi kendala adalah ketimpangan sosial dan diskriminasi yang masih dialami oleh kelompok minoritas dalam beberapa aspek kehidupan, seperti perizinan pembangunan rumah ibadah atau akses terhadap layanan publik. 14 Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan upaya yang berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga keagamaan, maupun masyarakat sipil. 15 Peningkatan literasi digital menjadi langkah strategis dalam menangkal penyebaran berita hoaks yang dapat memicu konflik antaragama. Selain itu, regulasi yang ketat terhadap ujaran kebencian dan diskriminasi berbasis agama perlu diperkuat agar tidak ada pihak yang merasa terpinggirkan. 16 Di sisi lain, memperkuat forum-forum dialog antaragama dan memperbanyak kegiatan berbasis kebersamaan, seperti gotong royong lintas agama dan perayaan budaya bersama, dapat menjadi solusi efektif dalam mempererat hubungan antarumat beragama. Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia Kerukunan umat beragama di Indonesia merupakan salah satu aspek fundamental dalam menjaga stabilitas sosial dan persatuan bangsa. Mengingat keberagaman agama yang dianut oleh masyarakat, upaya untuk mengukur tingkat kerukunan menjadi penting guna memahami kondisi sosial yang ada serta merumuskan kebijakan yang lebih tepat dalam memperkuat toleransi. Salah satu alat ukur yang sering digunakan dalam menganalisis kondisi ini adalah Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang dirilis oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. IKUB menjadi tolok ukur untuk menilai tingkat harmoni antarumat beragama berdasarkan berbagai indikator utama, seperti toleransi, kerja sama antaragama, serta kesejahteraan sosial dalam kehidupan beragama. 10 Pusat Kajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta. Dampak Media Sosial terhadap Kerukunan Umat Beragama di Indonesia. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah, 2. 11 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 12 Kementerian Agama Republik Indonesia. Moderasi Beragama sebagai Pilar Kerukunan Umat. Jakarta: Kementerian Agama RI, 2. 13 A. Lubis. Pendidikan Multikultural dalam Mewujudkan Toleransi Beragama di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. 14 A. Abdullah. Interaksi Sosial dan Kerukunan Umat Beragama di Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. 15 M. Hidayat. Tantangan Kerukunan Beragama dalam Era Digital (Surabaya: UPT Penerbitan Universitas Airlangga, 2. 16 R. Sudjana. Moderasi Beragama dalam Perspektif Masyarakat Pluralis (Malang: UIN Maliki Press, 2. 17 A. Azra. Islam. Demokrasi, dan Toleransi di Indonesia (Jakarta: Prenada Media, 2. 18 A. Muttaqin. Pluralisme dan Tantangan Kerukunan Beragama di Indonesia (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari: [Kerukunan Umat Beragama Sebagai Wujud Implementasi Tolerans. 4 | Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Kementerian Agama RI . Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Beberapa daerah menunjukkan peningkatan dalam aspek toleransi dan interaksi sosial antaragama, sementara di beberapa wilayah lain masih terdapat potensi konflik akibat kesenjangan sosial, politik identitas, dan provokasi berbasis agama di media sosial. 19 Secara umum. IKUB mengindikasikan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia memiliki tingkat kerukunan yang cukup baik, meskipun masih ada tantangan dalam beberapa aspek tertentu. Salah satu indikator utama dalam IKUB adalah toleransi antarumat beragama, yang mencerminkan sejauh mana masyarakat menerima dan menghormati keberagaman 20 Toleransi ini tidak hanya terlihat dalam kebebasan beribadah, tetapi juga dalam interaksi sosial sehari-hari, seperti kerja sama dalam kegiatan kemasyarakatan, perayaan budaya lintas agama, serta sikap terbuka terhadap pemeluk agama lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah dengan tingkat pendidikan yang lebih baik dan akses informasi yang lebih luas cenderung memiliki indeks toleransi yang lebih tinggi. Sebaliknya, wilayah dengan segregasi sosial dan minimnya dialog antaragama lebih rentan terhadap gesekan berbasis keagamaan. Selain toleransi, kerja sama antarumat beragama juga menjadi faktor penting dalam indeks ini. Kerja sama ini dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan sosial, dialog antaragama, hingga program-program pemerintah yang mendorong inklusivitas. Studi yang dilakukan oleh Setara Institute . mengungkapkan bahwa daerah dengan partisipasi aktif dalam forumforum lintas agama cenderung memiliki tingkat kerukunan yang lebih baik dibandingkan daerah yang minim interaksi lintas agama. 22 Hal ini menunjukkan bahwa semakin sering individu dari latar belakang agama yang berbeda berinteraksi dalam kegiatan sosial, semakin tinggi rasa saling percaya dan keterbukaan yang terbentuk dalam masyarakat. Namun, di balik angka indeks yang menunjukkan peningkatan dalam beberapa aspek, masih terdapat berbagai tantangan yang menghambat peningkatan kerukunan umat beragama di Indonesia. Salah satu tantangan utama adalah maraknya ujaran kebencian dan hoaks berbasis agama di media sosial. Dengan semakin berkembangnya teknologi digital, informasi yang tidak benar dan provokatif dengan cepat menyebar dan dapat memperburuk ketegangan Penelitian yang dilakukan oleh Pusat Kajian Islam dan Masyarakat UIN Jakarta . menemukan bahwa sebagian besar kasus intoleransi yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dipicu oleh narasi kebencian di platform media sosial. Oleh karena itu, penguatan literasi digital dan penegakan hukum terhadap penyebaran hoaks menjadi langkah krusial dalam menjaga kerukunan umat beragama. Selain itu, persoalan perizinan rumah ibadah dan diskriminasi terhadap kelompok minoritas juga menjadi isu yang kerap muncul dalam konteks kerukunan beragama. Beberapa komunitas masih mengalami kesulitan dalam mendapatkan izin mendirikan tempat ibadah karena adanya resistensi dari kelompok tertentu. Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia memiliki regulasi yang menjamin kebebasan beragama, implementasi di lapangan masih menghadapi berbagai hambatan. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif dari pemerintah dan masyarakat dalam memastikan bahwa hak beribadah dapat diakses oleh semua kelompok agama tanpa diskriminasi. 19 E. Susanto. Sosiologi Agama: Toleransi dan Konflik dalam Masyarakat Multikultural (Bandung: Alfabeta, 2. 20 A. Zainuddin. Peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam Mencegah Konflik Keagamaan. Malang: UIN Maliki Press, 2. 21 N. Hasan. Radikalisme dan Moderasi Beragama di Indonesia: Studi Kasus di Berbagai Wilayah (Surabaya: Airlangga University Press, 2. 22 J. Burhanuddin. Media Sosial dan Polarisasi Keagamaan di Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 23 F. Rahman. Pendidikan Agama dan Toleransi: Studi Implementasi di Sekolah Multikultural. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. 24 Y. Latif. Negara Paripurna: Historisitas. Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila dalam Konteks Kerukunan Beragama (Jakarta: Mizan, 2. 5 | MODERATION: Vol. 05 No. Maret 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Mater 2025 | Dalam rangka meningkatkan Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia, berbagai langkah strategis perlu diterapkan secara lebih masif. Pendidikan menjadi kunci utama dalam menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini, baik melalui kurikulum formal di sekolah maupun program nonformal seperti pelatihan multikultural dan dialog lintas agama. Selain itu, penguatan peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di berbagai daerah juga penting untuk mencegah potensi konflik serta mendorong lebih banyak kerja sama antarumat beragama. Secara keseluruhan, hasil penelitian mengenai Indeks Kerukunan Umat Beragama di Indonesia menunjukkan bahwa meskipun secara umum tingkat kerukunan masih cukup tinggi, masih terdapat berbagai tantangan yang perlu diatasi. Penyebaran hoaks, diskriminasi terhadap kelompok tertentu, serta minimnya interaksi lintas agama di beberapa daerah menjadi faktor yang dapat menghambat peningkatan indeks ini. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah, tokoh agama, lembaga pendidikan, serta masyarakat dalam menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama di Indonesia demi menciptakan kehidupan sosial yang lebih harmonis dan damai. Faktor Pendukung dan Penghambat Kerukunan Umat Beragama Kerukunan umat beragama merupakan faktor penting dalam menjaga stabilitas sosial dan keutuhan bangsa. Sebagai negara dengan keberagaman agama. Indonesia menghadapi tantangan dalam membangun harmoni sosial di tengah perbedaan. 26 Kerukunan ini tidak hanya ditentukan oleh komitmen individu dalam menjalankan nilai-nilai toleransi, tetapi juga dipengaruhi oleh berbagai faktor yang mendukung atau menghambat kehidupan beragama yang harmonis. Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan dapat diupayakan solusi yang tepat untuk memperkuat persatuan di tengah pluralitas agama yang ada. Faktor Pendukung Kerukunan Umat Beragama Salah satu faktor utama yang mendukung kerukunan umat beragama adalah nilai-nilai kearifan lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Di berbagai daerah di Indonesia, masyarakat memiliki tradisi yang menekankan kebersamaan dan gotong royong tanpa memandang perbedaan agama. Konsep-konsep seperti "Bhinneka Tunggal Ika" dan "Tat Twam Asi" mencerminkan budaya toleransi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Nilai-nilai ini menjadi pondasi kuat dalam menjaga keharmonisan hubungan antarumat beragama. Selain itu, peran pemerintah dan lembaga keagamaan sangat penting dalam membangun dan memelihara kerukunan. Pemerintah melalui Kementerian Agama dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) berperan dalam memediasi konflik serta mengadakan dialog lintas agama. FKUB, yang terdiri dari perwakilan berbagai agama, memiliki tugas untuk memfasilitasi komunikasi antarumat beragama serta memberikan rekomendasi kebijakan terkait pendirian rumah ibadah dan penyelesaian konflik berbasis agama. Pendidikan juga menjadi faktor pendukung dalam membangun toleransi antarumat Pendidikan multikultural dan moderasi beragama yang diterapkan di sekolah dan perguruan tinggi dapat membentuk pemahaman yang lebih inklusif terhadap perbedaan. Kurikulum yang memasukkan nilai-nilai pluralisme dan toleransi akan membantu generasi muda memahami pentingnya hidup berdampingan dengan damai. 25 S. MaAoarif. Indeks Kerukunan Umat Beragama: Metodologi dan Pengukuran dalam Konteks Indonesia (Jakarta: LIPI Press, 2. 26 M. Alfian. Dinamika Kerukunan Umat Beragama di Indonesia: Perspektif Sosial dan Politik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2. 27 M. Anwar. Moderasi Beragama sebagai Strategi Mencegah Konflik Keagamaan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 28 S. Cahyono. Peran Pendidikan Multikultural dalam Membangun Toleransi Beragama (Bandung: Alfabeta, 2. 29 R. Latifah. Dampak Globalisasi terhadap Radikalisme dan Kerukunan Beragama (Malang: UIN Maliki Press. Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari: [Kerukunan Umat Beragama Sebagai Wujud Implementasi Tolerans. 6 | Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari Selain pendidikan formal, berbagai program masyarakat sipil seperti pelatihan dan seminar tentang keberagaman juga berperan dalam memperkuat pemahaman terhadap toleransi beragama. 30 Interaksi sosial yang erat antarumat beragama juga mendukung terbentuknya kerukunan. Melalui kerja sama dalam kegiatan sosial, seperti gotong royong, bantuan kemanusiaan, dan perayaan budaya lintas agama, masyarakat dapat saling mengenal dan membangun rasa saling percaya. Hubungan yang baik dalam kehidupan sehari-hari akan mengurangi prasangka negatif dan meningkatkan keharmonisan dalam masyarakat yang . Faktor Penghambat Kerukunan Umat Beragama Meskipun ada banyak faktor yang mendukung kerukunan umat beragama, masih terdapat berbagai tantangan yang dapat menghambatnya. Salah satu faktor utama yang menjadi penghambat adalah intoleransi dan radikalisme. Intoleransi dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti diskriminasi terhadap kelompok agama tertentu, larangan mendirikan rumah ibadah, serta sikap eksklusif dalam kehidupan bermasyarakat. 31 Radikalisme yang berkembang di kalangan kelompok tertentu juga berpotensi memecah belah persatuan dengan menyebarkan narasi permusuhan terhadap kelompok yang berbeda keyakinan. Selain itu, provokasi di media sosial dan penyebaran hoaks berbasis agama juga menjadi ancaman serius bagi kerukunan umat beragama. Kemajuan teknologi informasi mempermudah penyebaran berita bohong dan ujaran kebencian yang dapat memicu ketegangan antaragama. Kurangnya literasi digital di kalangan masyarakat menyebabkan banyak orang mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi, sehingga meningkatkan risiko konflik sosial berbasis agama. Faktor lain yang dapat menghambat kerukunan adalah ketimpangan sosial dan Ketika terdapat kesenjangan ekonomi yang signifikan antara kelompok agama tertentu, muncul rasa ketidakadilan yang dapat menimbulkan kecemburuan sosial. Hal ini dapat memperburuk hubungan antarumat beragama, terutama jika kelompok tertentu merasa terpinggirkan dalam aspek ekonomi dan sosial. 33 Oleh karena itu, kebijakan ekonomi yang lebih inklusif dan pemerataan akses terhadap kesejahteraan menjadi langkah penting dalam mencegah potensi konflik berbasis agama. Kurangnya dialog dan interaksi antarumat beragama juga menjadi penghambat dalam membangun harmoni sosial. Di beberapa wilayah, segregasi sosial masih terjadi, di mana masyarakat cenderung membangun kelompok eksklusif berdasarkan agama mereka masingmasing. 35 Minimnya interaksi ini dapat meningkatkan stereotip negatif dan prasangka Oleh karena itu, perlu ada lebih banyak inisiatif dalam membangun forum-forum diskusi lintas agama serta kegiatan bersama yang mendorong interaksi dan kerja sama antarumat beragama. 30 M. Yusuf. Konflik Keagamaan dan Resolusi Damai: Studi Kasus di Berbagai Wilayah Indonesia (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. 31 A. Zulkarnain. Membangun Kesadaran Pluralisme dalam Masyarakat Multikultural (Semarang: Universitas Diponegoro Press, 2. 32 A. Malik. Hoaks dan Ujaran Kebencian: Tantangan Baru dalam Kerukunan Umat Beragama (Jakarta: LP3ES, 2. 33 D. Santoso. Dialog Antaragama: Teori dan Praktik dalam Konteks Indonesia (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2. 34 H. Supriyadi. Pancasila dan Pluralisme: Fondasi Kerukunan Beragama di Indonesia (Surabaya: Airlangga University Press, 2. 35 B. Wahyudi. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Perannya dalam Menjaga Toleransi Sosial (Jakarta: Kencana, 2. 7 | MODERATION: Vol. 05 No. Maret 2025 MODERATION: Vol. 05 No. Mater 2025 | KESIMPULAN Kerukunan umat beragama merupakan faktor penting dalam menjaga persatuan bangsa yang beragam. Terdapat berbagai faktor yang mendukung terwujudnya kerukunan, seperti nilai kearifan lokal, peran pemerintah dan lembaga keagamaan, pendidikan multikultural, serta interaksi sosial yang erat antarumat beragama. Namun, terdapat pula tantangan yang dapat menghambat keharmonisan ini, seperti intoleransi, radikalisme, penyebaran hoaks berbasis agama, ketimpangan sosial, serta kurangnya interaksi antaragama. Untuk meningkatkan kerukunan umat beragama, diperlukan upaya kolektif dari pemerintah, lembaga keagamaan, masyarakat sipil, dan institusi pendidikan. Penguatan literasi digital, peningkatan dialog antaragama, serta pemerataan kesejahteraan sosial merupakan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan yang ada. Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan partisipatif, diharapkan kerukunan umat beragama di Indonesia dapat terus terjaga dan menjadi fondasi bagi kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis dan damai. Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari: [Kerukunan Umat Beragama Sebagai Wujud Implementasi Tolerans. | Angga Maulana Jaya Dewata. Ganang Pratama Bagaskara. Dzikrul Muttaqin. Akhmad Mushlihuddin Salam. Abdul Rahman Fauzan. Uswatun Khasanah. Sadari REFERENSI