ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. Fleksibilitas Lantai Hunian: Alternatif Konsep Mitigasi Banjir di Kota Barabai Muhammad Alfreno Rizani1 Kiky Permana Setiawan2 SaAodianoor3 Achmad Syarif1 Ferdi Saputra Nur Alim1 Erwin Wahyuni1 Nanda Safitri Esti Chomah1 1 Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin 2 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota. Fakultas Teknik. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin 3 Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Kabupaten Hulu Sungai Tengah alfreno_rizani@umbjm. Kota Barabai merupakan salah satu kota yang berada di lembah Pegunungan Meratus. Kota ini kerap dilanda banjir dalam 2 tahun terakhir. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Hulu Sungai Tengah, pada tahun 2021 terjadi bencana banjir terparah dalam 20 tahun terakhir. Hal ini menyebabkan bangunan sering tergenang banjir, sehingga bangunan harus didesain mampu beradaptasi dengan kondisi banjir. Untuk itu diperlukan adanya kajian terkait konsep hunian tersebut, salah satunya adalah dengan menggunakan konsep fleksibilitas lantai pada hunian. Hal ini dimaksudkan untuk tetap memberikan ruang bagi air saat terjadi banjir. Adapun metode yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan metode eksplorasideskriptif dengan pendekatan arsitektur amfibi. Konsep ini dinilai menjadi alternatif terbaik untuk merencanakan hunian di perkotaan yang berada di daerah rawan banjir. Pada akhirnya, ditemukan sebuah prototipe bangunan yang mampu beradaptasi terhadap banjir dengan memanfaatkan material yang murah dan mudah diaplikasikan. Kata kunci: Banjir. Fleksibilitas. Hunian. Prototipe Diajukan: 23 September 2022 Direvisi: 8 Desember 2022 Diterima: 19 Januari 2023 Dipublikasikan online: 21 Januari 2023 Pendahuluan Banjir merupakan suatu bencana yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Bencana yang disebabkan oleh faktor hidrometeorologi yang selalu meningkat setiap tahunnya (Yanuarto, 2. Kabupaten Hulu Sungai Tengah tepatnya di Kota Barabai merupakan salah satu daerah di Kalimantan Selatan yang beberapa kali terjadi banjir, tercatat selama 2 tahun terakhir sudah terjadi 13 kali banjir, dengan ketinggian bervariasi yang umumnya disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi (BNPB, 2. Pada tahun 2021, banjir bandang melanda kawasan Kota Barabai yang berada di lembah Pegunungan Meratus. Banjir ini menjadi yang terburuk sepanjang sejarah dengan ketinggian banjir yang mencapai 1,5 hingga 2 meter di jalanan yang berada di tepi sungai Barabai (Mansyur, 2. Menurut catatan sejarah, kota ini juga pernah dilanda banjir besar pada tahun 1928 dengan ketinggian air rata-rata sekitar 45 cm saja (Tichelman dalam Mansyur, 2. Sedangkan, pada tahun 2013 juga pernah terjadi banjir dengen kedalaman berkitar 1 meter di jalanan yang berada di tepi sungai Barabai (Werdiono, 2. Melihat kondisi tersebut, banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi apabila dikemudian hari terjadi Salah satu cara untuk mengatasi banjir yaitu penerapan arsitektur yang berteman dan bisa berdampingan dengan air dan kondisi tersebut (Azizah. Sumadyo, & Iswati, 2. Konsep arsitektur tersebut dikenal Amphibious House atau Rumah Amfibi. Salah satu konsep amfibi yang diaplikasikan pada hunian yaitu berupa pengunaan Pondasi ArkAoa Modulam yang memiliki beberapa tipe dengan material kayu dan drum (Wijanarka, 2. Secara umum konsep ini menggunakan material drum sebagai pengapungnya. Sementara itu, dalam Arsitektur Tradisional Banjar terdapat rumah dengan konsep terapung yang dikenal sebagai Rumah Lanting (Seman & Irhamna. Material yang digunakan sebagai pengapung adalah batang kayu dan bambu. Tetapi keberadaan batang kayu yang langka dan daya tahan bambu yang pendek, berdampak pada usia struktur tersebut. Untuk menjaga Rumah Lanting tersebut tetap terapung, dapat digantikan dengan material EPS, karena dianggap memiliki daya apung dan daya tahan yang lebih baik (Prihatmaji dan Nugraha. Konsep Arsitektur Amfibi tersebut tentunya harus dilakukan modifikasi, mengingat adanya perbedaan konteks lingkungan di Kota Barabai yang berupa tanah rawa ataupun bekas pertanian. Sleian itu, karakter bangunan yang umumnya menggunakan struktur panggung dan mengunakan material kayu menjadi titik awal pemikiran terkait pengembangannya. Salah satunya dengan mengkombinasikan antara bangunan beton dengan lantai bangunan fleksibel yang dapat merespon kondisi saat banjir. Melalui konsep lantai fleksibel tersebut, penghuni tidak perlu khawatir jika terjadi banjir saat terlelap. Selain itu, dengan konsep lantai fleksibel ini dapat mengurangi material untuk bahan pengapung pada bangunan yang umumnya relatif berat. Dengan penerapan sistem tersebut, diharapkan mampu memberikan solusi yang baik dan diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap mitigasi bencana banjir bagi masyarakat dan pemerintah di Kota Barabai. Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Cara mensitasi artikel ini: Rizani. Setiawan. SaAodianoor. Syarif. Alim. Wahyudi. Chomah. Fleksibilitas Lantai Hunian: Alternatif Konsep Mitigasi Banjir di Perkotaan Barabai. Buletin Profesi Insinyur 6. BPI, 2023 | 1 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. Metode Hasil Kerja Tapak Perancangan Analisis Tapak Tapak yang dipilih berada di Jalan Lorong Said Alwi dengan luas 90 m2 . itunjukkan Gambar . Kawasan ini berada dekat dengan pusat perekonomian. Pemilihan lokasi ini didasari oleh lokasi tapak yang sering terdampak banjir paling parah dan tidak berada pada bantaran sungai. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah status ekonomi masyarakat setempat yang mayoritas berada pada kelompok berpenghasilan menengah. Kondisi tersebut dianggap lebih memungkinkan untuk mengaplikasikan konsep hunian yang akan ditawarkan. Analisis yang dilakukan berupa analisis yang berpengaruh langsung pada bangunan, yaitu analisis matahari dan analisis ketinggian banjir yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Analisis Matahari Kondisi eksternal berupa garis edar matahari yang di tapak tersebut mengalami perubahan setiap bulannya. Matahari beredar di selatan ekuator pada bulan Januari hingga Maret. November dan Desember. Pada bulan April hingga September, matahari beredar di utara ekuator. Sedangkan Pada bulan Oktober, matahari beredar tepat di ekuator. Secara umum, penyinaran matahari di selatan ekuator lebih dominan . itunjukkan Gambar . Hal tersebut berdampak pada bukaan pada bangunan. Gambar 2 Peredaran matahari di wilayah perencanaan Gambar 1 Lokasi dan dimensi tapak perencanaan . umber: http://hulusungaitengahkab. Metode Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan metode eksploratif untuk menemukan konsep rumah yang dapat beradaptasi dengan kondisi banjir. Metode ini bertujuan untuk mengembangkan pondasi apung dengan material drum plastik yang sudah dikembangkan menjadi beberapa modul dan tipe. Adapun data banjir yang digunakan berupa data sekunder dari instansi terkait. Beberapa hal yang diobservasi adalah terkait kondisi ketinggian banjir yang terjadi dalam tahun-tahun tertentu yang dinilai parah. Kondisi tersebut untuk memperkirakan ketinggian banjir di masa mendatang. Kondisi tersebut kemudian disesuaikan dengan konsep bangunan dengan konsep Arsitektur Amfibi yang dikembangkan oleh Wijanarka . Arsitektur Amfibi dirancang dengan memperhatikan kondisi air yang mengalami pasang-surut, sehingga dapat bergerak secara vertikal yang ditopang tiang pemandu. Material yang digunakan berupa drum plastik yang memiliki nilai ekonomis lebih murah dan mudah dijumpai. Akan tetapi, masifnya penggunaan material kayu sebagai rangka penahan drum, berdampak pada beban yang dimiliki bangunan menjadi lebih besar dan material kayu berkualitas sudah mulai sulit ditemui serta harganya yang relatif mahal. Untuk itu, dilakukan eksplorasi terkait pengunaan material lain sebagai rangka penahan drum plastik tersebut yang dapat menggantikan material kayu. Analisis Ketinggian Banjir Kondisi eksternal lain yaitu perubahan ketinggian banjir yang terjadi selama beberapa tahun yang menjadi pertimbangan dalam perancangan . ihat Gambar . Perubahan tersebut terjadi dari tahun 2001 dengan ketinggian banjir kurang lebih 45 cm . asil analisis penulis, 2. Pada tahun 2013 mengalami peningkatan ketinggian banjir kurang lebih 70 cm . asil analisis penulis, 2. Terakhir pada tahun 2021 adalah banjir dengan ketinggian dari 1,5 meter hingga 2 meter yang menjadi banjir tertinggi (Mansyur, 2. 45 cm 70 cm 1-2 meter Gambar 3 Ketinggian banjir dalam beberapa tahun. Konsep Desain Pada perancangan ini diharapkan dapat mengatasi apabila terjadinya banjir. Oleh sebab itu, diterapkannya fleksibilitas pada lantai rumah dengan konsep Arsitektur Amfibi yang dapat mengapung ketika banjir. Dengan fleksibilitas lantai tentunya ketinggian lantai dapat berubah menyesuaikan BPI, 2023 | 2 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. ketinggian banjir. Material yang digunakan adalah drum plastik yang diletakkan pada bagian bawah lantai dasar sebagai media apung. Drum tersebut diikat pada rangka baja Adapun konfigurasinya dibuat berbanjar menyesuaikan bentuk lantainya (Lihat gambar . Drum Plastik Baja Ringan Baja Ringan Gambar 4 Konfigurasi baja ringan dan drum plastik Pemilihan baja ringan digunakan sebagai pengganti material kayu yang mulai sulit ditemukan yang berkualitas dan jika ada harganya relatif lebih mahal. Adapun penerapan konsep fleksibilitas lantai tersebut hanya untuk sebagian lantai dasar dibagian depan yang dapat merespon banjir hingga ketinggian 2 meter (Lihat gambar . Sedangkan lantai 2 tidak ikut naik, karena dibuat permanen dengan konstruksi beton. Konsep tersebut dipilih dengan mempertimbangkan kondisi banjir yang terjadi tidak terlalu intens, sehingga dapat dipertimbangkan dibuat permananen dibagian tertentu. Maks 200 cm Gambar 5 Ilustrasi penerapan fleksibilitas lantai Desain Skematik Berikut merupakan hasil pengembangan konsep fleksibilitas lantai hunian yang penulis kembangkan. Desain berikut merupakan implementasi hasil eksplorasi terhadap penentuan dimensi, struktur, material, dan aspek lainnya. Adapun hal yang ditekankan pada desain berikut adalah konsep struktur lantai dasar pada hunian yang dapat merespon banjir. Secara struktur terpisah dengan struktur utama bangunan, sehingga saat lantai mengalami kenaikan akibat banjir tidak mengganggu struktur utama. Secara umum bangunan ini terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai Mezzanine (Lihat Gambar . Kemudian untuk struktur utama bangunan menggunakan beton bertulang. Pemilihan struktur tersebut dikarenakan materialnya mudah ditemukan dan harga relatif lebih murah dibandingkan menggunakan kayu dengan kualitas baik. Sedangkan pada sebagian lantai 1, menggunakan material yang lebih ringan, sehingga mudah Sementara untuk pondasi apungnya menggunakan material drum plastik, material ini mudah ditemukan dan memiliki harga yang relatif terjangkau. Untuk material pengikat pada drum tersebut menggunakan baja ringan, hal ini untuk mengurangi penggunaan material Sementara itu, bagian dinding lantai 2 menggunakan material bata ringan (Lihat gambar 7, 8, dan . Dari desain tersebut, kemudian disimulasikan kondisi lantai bangunan fleksibel pada saat kondisi normal atau tidak sedang banjir . ihat gambar . , lantai dasar tersebut dapat menapak di atas lahan yang sudah diratakan. Pemilihan sebagian lantai saja yang menggunakan konsep fleksibel dikarenakan banjir yang terjadi tidak terjadi sepanjang hari, sehingga dapat memudahkan aktivitas Selain itu, dalam 1 tahun terakhir, telah terjadi beberapa kali banjir, tetapi ketinggian banjir tidak lagi setinggi saat Januari 2021, sehingga tidak mengharuskan bangunan secara utuh mengapung. Kemudian dalam kondisi banjir dengan ketinggian banjir hingga 20 cm . ihat gambar . , dan kondisi banjir dengan ketinggian air hingga 200 cm . ihat gambar . Gambar 6 Gambar Rencana Denah Lantai 1, 2 & Mezzanine BPI, 2023 | 3 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. Bata Ringan Bata Ringan Cor Beton Cor Beton Drum Plastik Gambar 7 Potongan Melintang dan membujur Bata Ringan Cor Beton Drum Plastik Depan Belakang Gambar 8 Tampak depan dan belakang Dinding GRC Cor Beton Drum Plastik Kanan Kiri Gambar 9 Tampak Samping BPI, 2023 | 4 ISSN 2654-5926 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. struktur beton, sehingga tidak keseluruhan bangunan dibuat dengan metode lantai fleksibel. Selain itu, hal tersebut dimaksudkan untuk mengurangi beban apung pada lantai fleksibel, sehingga biaya pembangunan dapat diminimalisir. Kemudian, pertimbangan lainnya membiarkan area belakang dibiarkan tenggelam terkait fungsinya ruang yang hanya berupa tangga, sehingga tidak akan menyebabkan dampak negatif pada bangunan. Simulasi di atas dapat terlihat lantai yang naik hingga ketinggian 200 cm, menyebabkan dinding pada bagian bawah menutupi dinding bagian atas. Hal berdampak pada bangunan yang terlihat rendah, tetapi masih dimungkinkan untuk beraktivitas pada lantai fleksibel tersebut. Selain itu, perabot tidak terganggu dan tidak perlu dipindahkan jika terjadi banjir secara mendadak, misalnya saat penghuni sedang terlelap tidur. Gambar 10 Kondisi normal Dari simulasi tersebut dapat terlihat bahwa lantai bangunan di bagian depan mengalami kenaikan mengikuti ketinggian air. Sedangkan pada bagian belakang dibiarkan Mengingat kondisi bangunan yang menggunakan Ketinggian banjir 20 cm Kesimpulan Penerapan fleksibilitas pada lantai rumah dengan penggunaan konsep Arsitektur Amfibi merupakan desain struktur pada bangunan yang dapat menyesuaikan dengan lingkungan yaitu akan mengapung ketika terjadi banjir. Penerapan konsep ini pada bangunan untuk penyesuaian terhadap lingkungan sekitar yang beberapa kali terjadi Ketinggian banjir 20 cm Gambar 11 Simulasi Banjir dengan ketinggian 20 cm Ketinggian banjir 200 cm Ketinggian banjir 200 cm Gambar 12 Simulasi Banjir dengan ketinggian 200 cm BPI, 2023 | 5 Buletin Profesi Insinyur 6. 001Ae006 http://dx. org/10. 20527/bpi. Tak hanya itu, penerapan fleksibilitas lantai dengan konsep arsitektur amfibi bertujuan untuk memberikan solusi kesiapsiagaan terhadap mitigasi bencana banjir bagi masyarakat dan pemerintah Kota Barabai. Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Kalimantan Selatan. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang telah memberikan kesempatan untuk menjadi salah satu penerima hibah dalam skema Penelitian Dosen Pemula tahun 2022. Referensi