P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Integration of Psychological Principles in Islamic Education Curriculum Development Sihono1. Tasman Hamami2 Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Jl. Laksda Adisucipto. Papringan. Caturtunggal. Kec. Depok. Kabupaten Sleman. Daerah Istimewa Yogyakarta 5528. Indonesia e-mail: 23204011089@student. uin-suka. ABSTRACT The development of Islamic Religious Education curriculum in Indonesia increasingly emphasizes the integration of psychological principles to address the mental, emotional, and social needs of students. This approach aims to create a balanced learning experience that not only imparts knowledge but also fosters holistic character development. Research reveals that an academically focused curriculum often neglects students' psychological well-being, leading to decreased motivation and limited character formation. This research uses the literature study method by analysing various literatures related to developmental psychology, learning psychology, and the humanistic approach in education. Findings from this study highlight three key results: first, the relevance of psychological principles in bridging cognitive and emotional aspects of education. second, the practical strategies for embedding psychological frameworks into curriculum design to encourage student engagement and empathy. third, the measurable impact on studentsAo moral development and interpersonal skills. Through a responsive curriculum aligned with Indonesia's educational goals, educators can foster an environment conducive to the intellectual, moral, and emotional growth of students. Therefore, through a qualitative literature study, this article provides conceptual insights and recommendations for the implementation of a psychologically enriched curriculum framework in Islamic Religious Education. Keywords: Psychological Integration. Islamic Education Curriculum. Educational Psychology ABSTRAK Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di Indonesia semakin menekankan pentingnya integrasi asas psikologi untuk memenuhi kebutuhan mental, emosional, dan sosial siswa. Pendekatan ini bertujuan menciptakan pengalaman belajar seimbang yang tidak hanya mengajarkan pengetahuan tetapi juga membentuk karakter secara holistik. Penelitian menunjukkan bahwa kurikulum yang berfokus pada akademik sering mengabaikan kesejahteraan psikologis siswa, yang berdampak pada menurunnya motivasi dan keterbatasan dalam pembentukan karakter. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur terkait psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan pendekatan humanistik dalam pendidikan. Hasil penelitian ini memaparkan tiga poin utama: pertama, relevansi asas psikologi dalam menghubungkan aspek kognitif dan emosional dalam pendidikan. kedua, strategi praktis untuk mengintegrasikan kerangka psikologi ke dalam desain kurikulum untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan empati. dan ketiga, dampak terukur terhadap perkembangan moral dan keterampilan interpersonal siswa. Dengan kurikulum yang responsif dan selaras dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia, pendidik dapat menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan intelektual, moral, dan emosional siswa. Oleh karena itu, melalui studi literatur kualitatif, artikel ini memberikan wawasan konseptual dan rekomendasi implementasi kerangka kurikulum yang diperkaya pendekatan psikologis dalam Pendidikan Agama Islam. Kata Kunci: Integrasi Psikologi. Kurikulum Pendidikan Islam. Psikologi Pendidikan Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 FIRST RECEIVED: 2025-02-01 REVISED: 2025-03-14 ACCEPTED: 2025-03-21 https://doi. org/10. 25299/ajaip. PUBLISHED: 2025-04-16 Corresponding Author: Sihono AJAIP is licensed under Creative Commons AttributionShareAlike 4. 0 International Published by UIR Press PENDAHULUAN Era saat ini merupakan era yang penuh dengan tekanan sosial, perkembangan teknologi, dan berbagai tantangan global, kondisi psikologis peserta didik sering kali terganggu, baik dari sisi perkembangan emosional, mental, maupun sosial. Berbagai studi menunjukkan peningkatan pada gangguan kecemasan, rendahnya keterlibatan sosial, serta melemahnya ketahanan diri di kalangan peserta didik (Sasmitha. Cahyati. Ikhsanul, & Saragi. Hal ini berdampak pada menurunnya motivasi belajar, peningkatan stres akademik, serta terbatasnya perkembangan moral dan karakter yang sehat. Permasalahan psikologis ini menunjukkan adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengadaptasi pendekatan yang lebih responsif terhadap kondisi mental peserta didik dalam lingkungan pendidikan, salah satunya melalui pengembangan kurikulum yang lebih berfokus pada aspek psikologis mereka (Archristhea Amahoru. Loso Judijanto & Dwi Hadita Ayu, 2. Kurikulum sebagai inti dari proses pendidikan perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar dapat menjawab tantangan yang dihadapi oleh generasi masa kini. Pendekatan kurikulum yang berpusat pada konten atau sekadar pencapaian akademik, sering kali mengabaikan pentingnya aspek psikologis dalam pendidikan. Di sini, pendekatan psikologis menjadi penting untuk diterapkan dalam kurikulum, agar proses belajar tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga transformatif, yakni mampu membentuk karakter serta kepribadian siswa secara holistik (Priyanto, 2. Sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003, sistem pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan kapasitas peserta didik sehingga mereka menjadi individu yang saleh, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, serta memiliki pengetahuan, kesehatan, kemandirian, dan kreativitas (Umiyati, 2. Potensi tersebut akan berkembang optimal ketika proses pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan kondisi psikologis siswa. Untuk itu, peran guru sangat penting, baik sebagai pengatur lingkungan pembelajaran yang mendukung maupun sebagai fasilitator yang mampu memberikan pengalaman belajar yang menarik dan menyenangkan. Dalam ranah Pendidikan Agama Islam (PAI), strategi pembelajaran yang memperhatikan asas-asas psikologi menjadi krusial agar siswa dapat mengembangkan sikap positif dan perilaku yang diharapkan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik (Winda & Ramedlon, 2. Kurikulum PAI di Indonesia memiliki tujuan mulia dalam membentuk peserta didik yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik, serta karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam (Nurhasanah & Sukino, 2. Namun, kurikulum PAI saat ini sering dikritik karena pendekatannya yang cenderung tekstual, yang mungkin kurang responsif terhadap kondisi psikologis siswa. Kurikulum Pendidikan Agama Islam perlu diperkaya dengan pendekatan psikologis yang lebih komprehensif agar siswa dapat menginternalisasi nilai-nilai agama secara lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan mereka (Aripin, 2. Sasaran pembelajaran menjadi landasan utama dalam merancang sistem pendidikan. Tanpa tujuan yang jelas, proses pembelajaran akan menjadi tidak efektif dan tidak terarah. Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Namun, permasalahan yang sering muncul adalah masih banyak pendidik yang terlalu fokus pada penyampaian materi pelajaran tanpa mempertimbangkan tujuan akhir yang ingin dicapai. Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya penelitian tentang pengembangan tujuan kurikulum, khususnya dalam Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa tujuan kurikulum tidak hanya sebatas pada transfer pengetahuan, tetapi juga mencakup pembentukan individu yang berakhlak mulia dan memiliki karakter yang kuat ( Putra, 2. Berangkat dari konteks yang ada, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menguraikan urgensi penerapan asas-asas psikologi dalam penyusunan kurikulum Pendidikan Agama Islam. Melalui pendekatan ini, artikel ini berusaha memberikan arahan bagi para pendidik dan pengembang kurikulum dalam merancang kurikulum PAI yang tidak hanya mendukung pengembangan karakter dan nilai-nilai agama secara mendalam, tetapi juga memperhatikan kebutuhan psikologis siswa secara holistik. Pendekatan ini bertujuan untuk menjembatani aspek kognitif, emosional, dan sosial peserta didik, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan relevan. Dalam penelitian ini, kami akan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: . Mengapa pendekatan psikologis diperlukan dalam pengembangan kurikulum PAI untuk mendukung perkembangan karakter dan kepribadian siswa? . Bagaimana prinsip-prinsip psikologi dapat diintegrasikan secara efektif dalam kurikulum PAI agar lebih relevan dengan kondisi psikologis dan perkembangan siswa masa kini?. Kajian literatur dan penelitian lebih lanjut dalam bidang pengembangan kurikulum PAI bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam menciptakan kurikulum yang lebih responsif dan relevan. Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada siswa, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesejahteraan psikologis peserta didik. Dengan demikian, pengembangan kurikulum PAI dapat lebih adaptif terhadap kebutuhan siswa serta tantangan pendidikan di era modern. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. , yang bertujuan untuk menganalisis konsep dan prinsip psikologi yang relevan serta mengeksplorasi penerapannya dalam pengembangan kurikulum PAI. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk memahami dan mendalami konsep teoretis tanpa terikat pada data empiris secara langsung, melainkan mengkaji sumber-sumber literatur yang ada sebagai dasar pengembangan kerangka konseptual (Adlini. Dinda. Yulinda. Chotimah, & Merliyana, 2. Data utama dalam penelitian ini diperoleh melalui pengumpulan literatur yang relevan, mencakup buku, artikel jurnal, penelitian terdahulu, dan dokumen lain yang membahas: . prinsip-prinsip psikologi dalam pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan karakter dan aspek sosial-emosional peserta didik. konsep dasar kurikulum PAI di Indonesia. kajian integrasi aspek psikologi dalam pendidikan yang telah diimplementasikan pada kurikulum lain atau dalam konteks pendidikan agama. Data dikumpulkan dengan cara mengakses sumber-sumber literatur yang relevan, baik secara digital maupun cetak. Literatur ini mencakup penelitian terdahulu yang membahas Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 pendekatan psikologis dalam pendidikan, khususnya dalam pengembangan kurikulum, serta teori-teori yang berkaitan dengan pembelajaran berbasis karakter dalam pendidikan agama. Analisis dilakukan melalui teknik analisis isi . ontent analysi. terhadap dokumen yang dikumpulkan. Setiap literatur yang ditemukan dianalisis untuk mengidentifikasi prinsipprinsip psikologis yang relevan dan bagaimana prinsip tersebut dapat diterapkan dalam konteks kurikulum PAI. Analisis ini juga bertujuan untuk membandingkan pendekatanpendekatan dalam literatur terdahulu dengan konsep integrasi psikologi dalam kurikulum PAI yang diusulkan dalam penelitian ini (Rohman. Solehudin, & Khobir, 2. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menyusun kerangka konseptual mengenai integrasi asas psikologi dalam pengembangan kurikulum PAI. Kerangka konseptual ini mencakup prinsip-prinsip dasar yang perlu diterapkan dalam kurikulum PAI agar lebih responsif terhadap kondisi psikologis peserta didik, sehingga dapat meningkatkan efektivitas dalam membentuk karakter siswa yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menerapkan triangulasi sumber, yaitu dengan membandingkan dan mengevaluasi informasi dari beberapa literatur yang kredibel. Dengan metode ini, penelitian diharapkan mampu menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan, yaitu mengidentifikasi kebutuhan integrasi asas psikologi dalam kurikulum PAI serta memberikan sumbangan konseptual yang relevan dalam pengembangan kurikulum pendidikan agama Islam yang lebih holistik. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara etimologis, istilah "integrasi" berasal dari bahasa Inggris "integrate," yang mengandung makna menyatukan atau menggabungkan berbagai elemen menjadi suatu kesatuan yang utuh. Dalam konsep ini, terdapat beberapa unsur yang berpadu membentuk harmoni dan keselarasan holistik. Proses penggabungan ini bertujuan untuk menyatukan keunggulan dari masing-masing elemen sehingga tercipta suatu kesatuan yang lebih kokoh dan efektif. Dalam konteks terminologis, integrasi antara ilmu umum dan agama, khususnya pada bidang psikologi dan Islam, mengacu pada upaya menghubungkan kedua disiplin yang sebelumnya terkesan terpisah . sehingga menjadi satu kesatuan yang saling Integrasi ini bertujuan memperkaya pemahaman dan sekaligus untuk memperluas penerapan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, ilmu psikologi digunakan untuk mendukung pembentukan karakter siswa secara optimal, selaras dengan nilai-nilai Islam (Wibowo, 2. Dalam konteks pengembangan kurikulum PAI, konsep integrasi asas psikologi menjadi sangat relevan. Integrasi prinsip-prinsip psikologi dalam PAI bertujuan untuk mengembangkan kurikulum yang tidak hanya menitikberatkan pada transfer pengetahuan keagamaan secara kognitif, tetapi juga berorientasi pada pembentukan karakter serta pengembangan aspek emosional dan sosial siswa. Dengan menggabungkan prinsip-prinsip psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan psikologi humanistik, kurikulum PAI dapat dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan kognitif dan psikologis siswa pada setiap fase Integrasi ini memungkinkan kurikulum menjadi lebih responsif terhadap kondisi mental dan emosional siswa, sehingga pengajaran agama tidak hanya berfokus pada Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 peningkatan pengetahuan semata, tetapi juga bertujuan membentuk karakter siswa berdasarkan nilai-nilai Islam (Suraiya & Zubaidah, 2. Berdasarkan analisis literatur, penelitian ini menemukan bahwa integrasi asas psikologi dalam kurikulum PAI memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan karakter, kepribadian, dan kesehatan mental peserta didik. Pendekatan psikologis dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya terfokus pada pengembangan aspek kognitif, seperti pemahaman terhadap ajaran agama, tetapi juga memberikan perhatian khusus pada kondisi psikologis siswa yang berpengaruh terhadap proses pembelajaran. Psikologi perkembangan dan psikologi belajar, misalnya, dapat membantu dalam merancang materi dan metode pengajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan kognitif dan emosional siswa. Ini memungkinkan siswa untuk lebih terlibat dalam pembelajaran dan menginternalisasi nilainilai agama dengan cara yang lebih mendalam dan aplikatif. Pentingnya Asas Psikologi dalam Kurikulum PAI Pentingnya asas psikologi dalam kurikulum PAI tidak dapat dipandang sebelah mata. Dalam konteks pendidikan, psikologi berfungsi sebagai landasan yang mendalam untuk memahami karakteristik dan kebutuhan peserta didik. Psikologi perkembangan dan psikologi belajar merupakan dua cabang utama yang sangat relevan dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI). Psikologi perkembangan berfokus pada pemahaman terhadap proses pertumbuhan dan karakteristik peserta didik, memberikan panduan bagi pendidik untuk merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan tahapan perkembangan mereka. Sementara itu, psikologi belajar menyoroti bagaimana siswa berinteraksi dengan materi pelajaran, termasuk motivasi dan strategi pembelajaran yang efektif (Priyanto, 2. Implementasi prinsip psikologi dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat dilakukan melalui tiga aspek utama: pengelolaan materi pelajaran, proses pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar. Pertama, materi PAI perlu dirancang dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan kognitif dan emosional siswa, sehingga kontennya relevan, menarik, dan mudah dipahami. Kedua, proses pembelajaran harus menciptakan suasana yang mendukung interaksi sosial positif di antara siswa dan menerapkan pendekatan pembelajaran yang interaktif dan partisipatif. Ketiga, evaluasi perlu mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotorik agar dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang capaian siswa (RF. Memahami prinsip psikologis siswa memungkinkan guru untuk merancang pendekatan pengajaran yang lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masing-masing peserta didik. Ini sangat penting agar setiap siswa merasa dihargai dan terdorong untuk belajar dengan lebih baik. Selain itu, pendekatan psikologis juga membantu dalam menangani tantangan yang mungkin muncul selama proses pembelajaran, seperti perbedaan tingkat kematangan dan gaya belajar antar siswa. Oleh karena itu, kurikulum PAI tidak hanya berperan sebagai media untuk mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan juga sebagai wadah untuk membentuk karakter dan kepribadian siswa secara menyeluruh . (Jannah & Hamami, 2. Menurut Mohammad Ahyan Yusuf SyaAobani, kurikulum PAI di Indonesia masih terlalu berfokus pada aspek kognitif, seperti hafalan dan pengetahuan ajaran agama, sehingga sering kali mengabaikan kebutuhan perkembangan psikologis siswa. Dia berpendapat bahwa Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 kurikulum PAI seharusnya berperan dalam membentuk karakter yang kuat dan moralitas yang kokoh melalui pengalaman emosional yang mendalam (Ahyan Yusuf SyaAobani, 2. Pendapat ini diperkuat oleh hasil studi Rahmat Hidayat. Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar memberikan pemahaman tentang ajaran PAI juga berfungsi sebagai sarana utama dalam membentuk karakter siswa agar memiliki moralitas dan etika yang baik. Artikel yang ditulisnya menekankan betapa pentingnya integrasi nilai-nilai agama dalam pendidikan, serta dampak positifnya terhadap perkembangan karakter siswa dalam konteks pendidikan Islam. Hidayat juga menyoroti bahwa pendekatan yang berbasis pada pengembangan karakter dan aspek emosional dalam PAI dapat meningkatkan rasa empati dan moralitas siswa, sehingga mereka akan lebih mampu mengimplementasikan nilai-nilai agama secara fakta dalam kehidupan sehari-hari (Hidayat. Pada sisi lain, menurut Yuliana. Nofitri. , dan Arifmiboy asas psikologi dalam pendidikan agama dapat meningkatkan keterlibatan emosional siswa, yang penting untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Siswa yang memiliki keterikatan emosional dengan materi pelajaran cenderung lebih mudah untuk mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini juga berperan dalam membentuk empati serta keterampilan sosial, yang sangat penting untuk pengembangan karakter. Dengan demikian, dasar psikologis dalam penyusunan kurikulum memiliki peran yang signifikan, karena dapat mendorong perubahan perilaku positif pada siswa dan mendukung pengembangan potensi mereka secara berkelanjutan (Yuliana. Nofitri, & Arifmiboy, 2. Lebih lanjut. Suminto menekankan bahwa asas psikologis dalam pendidikan Islam sangat penting karena menjadi landasan berpikir yang mempengaruhi seluruh proses pendidikan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, yang didasarkan pada teori-teori psikologi. Selain itu, pendidikan Islam harus mencakup asas-asas yang kokoh, baik dalam materi, interaksi, inovasi, maupun cita-cita pendidikan itu sendiri. Tanpa memperhatikan aspek psikologis dalam kurikulum PAI, siswa dapat menjadi rentan terhadap masalah mental seperti stres dan kesulitan dalam menghadapi konflik moral. Penelitian tersebut mendukung pendekatan holistik dalam kurikulum PAI yang memperhatikan kebutuhan psikologis dan emosional siswa, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan tersebut (Suminto, 2. Secara keseluruhan, pengintegrasian prinsip-prinsip psikologi dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam memegang peranan krusial dalam mendukung perkembangan karakter dan potensi siswa secara menyeluruh. Psikologi perkembangan dan psikologi belajar memberikan landasan bagi pendidik untuk merancang pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan kognitif, emosional, dan sosial peserta didik. Penerapan pendekatan psikologis dalam materi PAI, proses pembelajaran, serta penilaian akan menciptakan atmosfer yang mendukung kemajuan siswa dalam aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Pendekatan ini tidak hanya memfasilitasi pemahaman siswa terhadap ajaran agama, tetapi juga membantu membentuk karakter yang kokoh, moralitas yang kuat, serta keterampilan emosional dan sosial yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sangat penting bagi kurikulum PAI untuk menggabungkan nilai-nilai agama dengan pendekatan psikologis yang Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 memperhatikan kebutuhan individu siswa, sehingga dapat menghasilkan peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkembang secara emosional dan sosial. Asas Psikologis dalam Pengembangan Kurikulum PAI Pendidikan Agama Islam memainkan peran krusial dalam pembentukan kepribadian dan karakter siswa, yang tidak hanya mencakup pemahaman ajaran Islam secara intelektual, tetapi juga penerapannya dalam aspek moral dan sosial. Di tengah tantangan pendidikan abad ke-21 yang semakin kompleks, perlu adanya pendekatan yang menyeluruh dalam pengembangan kurikulum PAI (Zakariyah. Muhamad Arif, & Nurotul Faidah, 2. Integrasi asas psikologis dalam kurikulum PAI menjadi salah satu pendekatan strategis untuk mencapai tujuan tersebut, sebab kajian psikologi menawarkan pemahaman mendalam mengenai proses belajar, kebutuhan emosional, serta aspek-aspek perkembangan karakter peserta didik. Asas psikologis yang diterapkan dalam pengembangan kurikulum PAI dapat meliputi berbagai prinsip seperti psikologi perkembangan, psikologi belajar, dan psikologi sosial. Prinsip-prinsip ini memiliki implikasi penting untuk meningkatkan efektivitas kurikulum PAI, khususnya dalam konteks pengembangan karakter dan penanaman nilai-nilai keagamaan (Yunus, 2. Psikologi Perkembangan Dalam pendekatan psikologi perkembangan, penting bagi kurikulum PAI untuk disusun sesuai dengan tahapan perkembangan siswa. Teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, misalnya, menunjukkan bahwa anak-anak berada dalam berbagai tahapan perkembangan intelektual yang berbeda. Pada tahap usia sekolah dasar, anak-anak berada dalam fase perkembangan operasional konkret, di mana mereka cenderung memahami konsep melalui pengalaman langsung dan contoh yang nyata. Oleh karena itu, pada level ini, kurikulum PAI sebaiknya disusun dengan materi yang mengutamakan pembelajaran berbasis aktivitas atau cerita yang dapat dipahami secara konkret (Suharto, 2. Psikologi perkembangan memberikan pemahaman mendalam yang sangat berguna bagi pengembangan kurikulum PAI. Pemahaman tentang hakikat perkembangan, tahapantahapan, serta aspek-aspek perkembangan individu memungkinkan kurikulum PAI disusun sesuai kebutuhan perkembangan peserta didik pada setiap fase kehidupan mereka. Misalnya, melalui pengetahuan tentang tugas-tugas perkembangan individu. Kurikulum PAI perlu disesuaikan agar dapat membantu siswa dalam memahami dan menerapkan nilai-nilai keagamaan secara bertahap, sesuai dengan kemampuan kognitif dan emosional mereka. Dengan demikian, psikologi perkembangan menjadi landasan penting dalam merancang kurikulum PAI yang tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian siswa sesuai dengan tahap perkembangan mereka (Hasan, 2. Psikologi perkembangan mempelajari sifat, tahap, dan aspek perkembangan individu, serta tugas-tugas yang berkaitan dengan pengembangan peserta didik, semua ini penting sebagai dasar dalam pengembangan kurikulum. Pemahaman tentang psikologi perkembangan juga sangat berguna dalam merancang kurikulum yang dapat memenuhi kebutuhan peserta didik di setiap tahap perkembangan mereka. Selain itu, psikologi belajar yang memfokuskan kajian pada perilaku individu dalam konteks pembelajaran juga memberikan wawasan tentang proses pemahaman dan internalisasi informasi, serta faktor-faktor yang memengaruhi Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 motivasi dan hasil belajar. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip dari kedua bidang ini ke dalam kurikulum PAI, pengembangan kurikulum dapat lebih efektif dalam memaksimalkan keterlibatan, pemahaman, dan pengamalan nilai-nilai agama oleh peserta didik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikologis yang penting bagi pembentukan karakter dan keimanan siswa (Shofiyah, 2. Integrasi asas psikologi perkembangan dalam pengembangan kurikulum PAI sangat penting untuk memastikan materi yang disampaikan sesuai dengan tahap perkembangan Pemahaman mendalam tentang tahapan perkembangan kognitif, emosional, dan sosial peserta didik memungkinkan kurikulum PAI disusun dengan pendekatan yang sesuai, baik dalam hal penyampaian materi maupun pengembangan karakter. Dengan menggunakan teori psikologi perkembangan, kurikulum dapat lebih responsif terhadap kebutuhan siswa di setiap fase perkembangan mereka, termasuk dalam hal penerapan nilai-nilai agama yang bersifat progresif dan bertahap. Selain itu, pentingnya psikologi belajar dalam konteks pembelajaran juga memberikan wawasan yang mendalam mengenai cara terbaik untuk menginternalisasi informasi dan memotivasi siswa dalam mengamalkan nilai-nilai keagamaan. Karena itu, pengembangan kurikulum PAI yang mengintegrasikan aspek psikologis ini dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, dengan tidak hanya menekankan pencapaian intelektual, tetapi juga mendukung pembentukan karakter dan spiritualitas yang sejalan dengan perkembangan psikologis siswa. Psikologi Belajar Psikologi belajar merupakan cabang ilmu yang mempelajari bagaimana individu memperoleh pengetahuan atau keterampilan. Belajar dapat dipahami sebagai perubahan dalam perilaku yang terjadi akibat pengalaman. Semua perubahan perilaku yang melibatkan aspek kognitif, afektif, atau psikomotorik yang muncul melalui pengalaman dianggap sebagai perilaku belajar. Namun, perubahan perilaku yang terjadi karena faktor kematangan atau secara kebetulan, tidak dianggap sebagai hasil dari proses belajar. Pemahaman tentang psikologi atau teori belajar menjadi sangat penting bagi para guru untuk melaksanakan tugas utama mereka dalam membimbing siswa melalui proses pembelajaran (Yuliani, 2. Psikologi belajar memainkan peranan penting dalam pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam, karena memberikan wawasan tentang bagaimana siswa menyerap, mengolah, dan menerapkan informasi, yang berdampak langsung pada efektivitas Prinsip-prinsip dalam psikologi belajar, seperti teori konstruktivisme, behaviorisme, dan humanisme, menyediakan dasar bagi perancang kurikulum untuk menciptakan pengalaman belajar yang relevan dan bermakna (Khaerunnisa & Rama, 2. Dalam teori konstruktivisme, misalnya, siswa dipandang sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui interaksi sosial dan pengalaman pribadi. Hal ini penting dalam kurikulum PAI karena pengetahuan agama bukan hanya sekedar informasi, melainkan nilai-nilai yang perlu dipahami, diinternalisasi, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari (Fika Aulia Putri. Jefriman Akmal, & Gusmaneli Gusmaneli, 2. Teori behaviorisme, yang menekankan pentingnya penguatan positif dan negatif dalam proses belajar, juga relevan dalam konteks PAI. Dengan memberikan apresiasi pada pencapaian siswa dalam aspek keagamaan, dengan mengintegrasikan aspek-aspek seperti ibadah, akhlak, dan pemahaman spiritual dalam proses pembelajaran, pengalaman belajar Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 menjadi lebih bermakna, sehingga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar agama. Selain itu, teori humanisme yang fokus pada pengembangan diri siswa secara menyeluruh, termasuk aspek emosional dan spiritual, sangat relevan bagi kurikulum PAI. Dengan pendekatan ini, kurikulum PAI dapat dirancang untuk mendukung perkembangan moral dan emosional siswa, sehingga tidak hanya membekali mereka dengan pengetahuan agama, tetapi juga memperkuat karakter dan kepribadian mereka (Fithriyah, 2. Teori humanisme juga berperan besar dalam pengembangan kurikulum PAI. Humanisme menekankan pada pengembangan siswa secara menyeluruh, termasuk aspek emosional dan spiritual, yang sangat relevan bagi pembelajaran agama. Dengan pendekatan humanisme. Kurikulum PAI tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga mendorong perkembangan aspek afektif dan moral siswa. Hal ini berarti bahwa siswa bukan hanya diharapkan untuk memahami ajaran agama, tetapi juga diharapkan untuk memiliki empati, sikap peduli, dan keinginan untuk menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata. Kurikulum yang dirancang berdasarkan teori ini dapat membantu siswa menjadi pribadi yang utuh dan berkarakter (Nirmaisi Sinaga. Siringo Ringo, & Ceria Netrallia, 2. Pengintegrasian psikologi belajar dalam kurikulum PAI menciptakan lingkungan belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa, khususnya dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Dalam hal ini, pemahaman terhadap psikologi belajar memungkinkan guru untuk mengidentifikasi strategi pengajaran yang sesuai dengan gaya belajar siswa, memberikan dukungan emosional yang diperlukan, dan menumbuhkan lingkungan yang kondusif bagi pencapaian kompetensi keagamaan dan karakter. Pendekatan Psikologi Humanistik Pendekatan psikologi humanistik memiliki relevansi penting dalam pengembangan kurikulum PAI, terutama dalam hal menekankan pengembangan potensi individu secara Pendekatan humanistik dalam pendidikan didasarkan pada humanisme, yang melihat pembelajaran sebagai proses pengembangan diri secara menyeluruh, meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam prosesnya, pendekatan ini memberi perhatian besar pada nilai-nilai kemanusiaan peserta didik melalui pembelajaran kooperatif, mandiri, dan kegiatan sosial, serta menghindari metode pembelajaran yang terlalu kompetitif dan didominasi guru. Tujuan utama pendidikan humanistik adalah membentuk individu yang berpotensi penuh dan mampu bersosialisasi, dengan menekankan kebebasan, kemandirian, dan pengembangan potensi kreatif anak. Dalam pengembangan kurikulum, pendekatan ini berlandaskan gagasan Aumemanusiakan manusia,Ay serta menciptakan lingkungan yang memperkuat nilai kemanusiaan dan martabat individu (Febri Widiandari, 2. Kurikulum PAI berbasis humanistik melihat manusia sebagai makhluk bernilai tinggi dengan potensi menyeluruh yang perlu dikembangkan, tidak hanya aspek kognitif. Pendidikan ini bertujuan membentuk individu beriman dan bertakwa, sekaligus mampu berkembang sebagai pribadi utuh yang menjalankan peran sebagai khalifah di bumi. Pendekatan ini menekankan interaksi yang positif dan emosional antara pendidik dan peserta didik, menggunakan metode kooperatif, pembelajaran mandiri, dan pengalaman belajar yang mencakup aspek kognitif, afektif, serta psikomotorik (Handayani & Hamami, 2. Konsep humanistik dalam kurikulum bertujuan mengembangkan potensi peserta didik sesuai kebutuhan individual mereka, menciptakan apa yang disebut child-centered curriculum Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 atau kurikulum berpusat pada anak. Kurikulum ini mengakomodasi minat dan kebutuhan unik setiap siswa melalui rencana belajar yang disusun bersama oleh siswa dan guru. Pendekatan ini menggabungkan elemen afektif dan kognitif untuk menciptakan atmosfer belajar yang nyaman dan penuh keakraban. Dengan demikian, suasana yang lebih santai dan permisif memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi diri mereka secara maksimal (Suprihatin, 2. Pendekatan humanistik dalam kurikulum PAI juga tercermin dalam materi yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan, tidak hanya sekadar pembahasan mengenai pahala, dosa, atau surga dan neraka, tetapi juga membantu siswa memahami realitas yang Evaluasi dalam pendidikan humanistik memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, menilai perkembangan intelektual, sikap, serta keterampilan ibadah. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya mementingkan hasil akhir tetapi lebih pada proses belajar itu sendiri, sehingga peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai humanistik dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan berkualitas (Khumaini. Isroani, & Aya, 2. Melalui integrasi prinsip-prinsip humanistik ini, kurikulum PAI dapat menjadi lebih inklusif dan ramah terhadap keberagaman latar belakang serta kebutuhan psikologis siswa. Kurikulum yang berorientasi pada pendekatan humanistik memungkinkan siswa untuk mengembangkan pemahaman agama yang sesuai dengan konteks kehidupan mereka masingmasing, memfasilitasi eksplorasi yang lebih personal dan reflektif. Pendekatan ini juga membantu guru dalam membina siswa yang bukan hanya menguasai pengetahuan agama secara kognitif, tetapi juga menunjukkan sikap yang mencerminkan nilai-nilai agama secara Dengan kata lain, kurikulum PAI berbasis humanistik memberikan ruang bagi siswa untuk menjadikan agama sebagai pedoman yang relevan dan aplikatif dalam menghadapi tantangan hidup sehari-hari (Sultani. Alfitri, 2. Dengan mengadopsi pendekatan psikologi humanistik dalam pengembangan kurikulum PAI, pendidikan agama dapat memberikan dampak yang lebih mendalam pada pembentukan karakter dan identitas spiritual siswa. Kurikulum PAI yang disusun berdasarkan prinsip-prinsip ini berupaya mengembangkan aspek kognitif, afektif, dan psikologis siswa secara seimbang, menjadikan PAI tidak hanya sebagai ilmu yang dipelajari, tetapi juga sebagai nilai yang diterapkan. Dengan demikian, pendekatan humanistik dalam kurikulum PAI berpotensi menghasilkan siswa yang memiliki kepribadian yang seimbang, mampu berpikir kritis, dan menghargai keberagaman, serta siap menghadapi dinamika kehidupan dengan pegangan spiritual yang kuat dan tangguh. Psikologi belajar yang diterapkan pada kurikulum PAI memberikan wawasan penting tentang bagaimana siswa dapat memproses, mengingat, dan menerapkan informasi. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan apa yang dipelajari siswa tetapi juga bagaimana mereka belajar. Dengan memanfaatkan teori seperti konstruktivisme dan behaviorisme, kurikulum dirancang agar siswa aktif terlibat dalam proses belajar. Hal ini penting untuk memastikan bahwa pembelajaran agama tidak hanya menjadi hafalan tetapi menjadi pemahaman yang dapat diterapkan dalam tindakan nyata sehari-hari (Rusyd, 2. Integrasi psikologi humanistik menempatkan siswa sebagai pusat dari proses pendidikan, memberi mereka ruang untuk berekspresi dan mengembangkan diri secara Pendekatan ini mengakui keunikan setiap siswa dan mengakomodasi kebutuhan Sihono. Tasman Hamami: Integrasi Asas Psikologi dalam Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 22 No. April 2025 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 emosional mereka, menciptakan lingkungan belajar yang positif dan inklusif. Pendekatan ini juga membantu siswa untuk menginternalisasi nilai-nilai agama secara mendalam, sehingga mereka tidak hanya memahami ajaran agama secara kognitif tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan dengan sikap yang tulus dan penuh empati (Badri, 2. Salah satu dalil yang relevan dengan pendekatan ini adalah hadis yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, di mana Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal " Hadis ini menegaskan bahwa pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada aspek akademik atau pencapaian kognitif semata, tetapi juga harus memperhatikan pembentukan karakter dan nilai-nilai moral siswa. Sejalan dengan prinsip psikologi humanistik, pendidikan yang berpusat pada siswa mendorong lingkungan belajar yang mendukung perkembangan emosional dan spiritual mereka. Dengan memberikan ruang bagi ekspresi diri dan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai agama, siswa dapat menginternalisasi ajaran Islam dengan lebih autentik dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sikap yang penuh kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama (Aqib, 2. SIMPULAN Penelitian ini berkesimpulan. Pertama, bahwa kaitan asas psikologi dengan aspek kognitif dan emosional, yaitu integrasi asas psikologi dalam kurikulum PAI membantu siswa tidak hanya memahami agama secara kognitif, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai moral dan emosional dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, strategi integrasi asas psikologi dalam kurikulum, yaitu penerapan psikologi perkembangan dan pembelajaran membantu kurikulum jauh lebih sesuai dengan tahapan pertumbuhan siswa, meningkatkan keterlibatan, serta menumbuhkan empati dan refleksi moral. Ketiga, dampak terhadap perkembangan moral dan sosial, yaitu kurikulum berbasis psikologi dalam PAI memperkuat karakter, empati, dan keterampilan interpersonal siswa, membentuk individu yang beretika dan siap menghadapi tantangan sosial. DAFTAR PUSTAKA