Jurnal Pendiidkan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi ISSN (Onlin. : 2807-3878 DOI: 10. 59818/jpi. Vol. No. November 2025 Peran Pendidikan Pancasila dalam Membangun Sikap Toleransi di Lingkungan Sekolah Isnaini Septa Azzahra1. Inayah Junika Zahira2 & Heri Kurnia3 Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Indonesia, 15310 Telp: 6285881033429 E-mail: isnainiazzahra31@gmail. Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Indonesia, 15310 Tel/Fax: 6283812801066 E-mail: inayahjunika@gmail. Universitas Pamulang. Tangerang Selatan. Indonesia, 15310 Tel/Fax: 6285223163975 E-mail: dosen03087@unpam. RIWAYAT ARTIKEL Received : 2025-11-11 Revised : 2025-11-22 Accepted : 2025-11-22 KEYWORDS Harmony Pancasila Education Students Tolerance KATA KUNCI Kerukunan Pendidikan Pancasila Peserta didik Toleransi ABSTRAC Due to Indonesia's diversity, the values of Pancasila foster a harmonious and respectful environment. Therefore. Pancasila education plays a crucial role in fostering tolerance and harmony among students in schools. This article uses a library research method to collect data. The data sources used include books, articles, literature, and documents related to Pancasila education and efforts to improve tolerance and harmony among students in schools. The results of this study indicate that teachers play a crucial role in instilling values of tolerance in the school environment for students. The values contained in Pancasila education are also highly relevant. However, due to Indonesia's diversity, teachers face challenges in fostering an attitude of tolerance in the school environment. ABSTRAK Karena keragaman Indonesia, nilai-nilai Pancasila membangun lingkungan yang harmonis dan saling menghargai. Sehingga pendidikan Pancasila mempunyai peran krusial dalam membangun toleransi serta kerukunan peserta didik di artikel ini menggunakan metode studi pustaka untuk mengumpulkan Sumber data yang digunakan termasuk buku, artikel, literatur, dan dokumen yang berkaitan dengan pendidikan pancasila dan upaya untuk meningkatkan toleransi dan kerukunan antar peserta didik di sekolah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peran guru sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai toleransi di lingkungan sekolah bagi peserta didik. Nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan pancasila juga sangat relevan. Namun karena keberagaman yang ada di Indonesia, guru menghadapi tantangan untuk membangun sikap toleransi di lingkungan sekolah. Pendahuluan Dengan lebih dari 17. 000 pulau, di mana sekitar 000 orang tinggal. Indonesia dianggap sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Wilayah Indonesia terdiri dari banyak pulau, termasuk Sumatra. Jawa. Kalimantan. Sulawesi, dan Papua. Ibu kota negara. Jakarta, terletak di Pulau Jawa. Sebagian besar wilayah dilalui oleh garis khatulistiwa, sehingga panjang waktu siang dan malam relatif seimbang, sekitar 12 jam. Indonesia ialah negara yang berbentuk kepulauan yang paling luas di seluruh dunia dengan budaya, etnis, agama, bahasa, dan adat istiadat yang luar Keberagaman adalah salah satu ciri khas 100 | JPI. Vol. No. November 2025 Indonesia. Namun, keberagaman dan kemajemukan Indonesia telah menghadapi banyak tantangan dalam beberapa tahun terakhir, dan keduanya merupakan bahaya bagi kerukunan sosial (Marbun, 2. Indonesia memiliki 6 agama yang diakui yaitu. Islam. Katholik. Protestan. Hindu. Budha, dan Konghucu. Perbedaan agama tidak dapat mengurangi kerukunan hubungan sosial (Dianita , 2. Keberagaman Indonesia dapat menimbulkan kesalahpahaman atau perselisihan yang mengancam stabilitas negara. Untuk memastikan bahwa Indonesia dapat mencapai keharmonisan, kerukunan, dan kenyamanan bagi pemahaman yang baik tentang keanekaragaman dan perbedaan yang ada di negara ini (Dute & Syarif. Di lingkungan sekolah, toleransi mencerminkan sikap menghargai dan menerima perbedaan setiap peserta didik. Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, kita diharuskan untuk menghormati dan menghargai perbedaan. Kita harus melakukannya tanpa menjadi egois atau menganggap kebudayaan kita lebih penting daripada kebudayaan orang lain. Perilaku tidak toleran yang sering terjadi di sekolah termasuk membentuk kelompok berdasarkan suku, menggunakan bahasa daerah hanya dengan teman sekelompok, dan tidak menghormati guru dengan menciptakan kegaduhan selama pelajaran. Sudut pandang ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak memahami arti toleransi yang sebenarnya, yang mencakup menerima, menghargai, dan menghormati perbedaan (Prasetyo dkk. , 2. Di sekolah, tindakan tidak toleransi dapat muncul dalam berbagai bentuk yang merugikan peserta didik. Salah satu contohnya adalah perundungan atau bullying, di mana seorang peserta didik dilecehkan atau diancam karena perbedaan fisik, etnis, atau agama. Misalnya, seorang peserta didik yang mengenakan jilbab dapat diejek oleh teman-temannya karena penampilannya, yang menyebabkan rasa tidak nyaman dan mengisolasi peserta didik tersebut dari lingkungan sosialnya. Peserta didik juga sering mengalami diskriminasi kelompok, yaitu mereka menolak untuk bergaul atau bekerja sama dengan teman sekelas yang memiliki latar belakang yang berbeda, seperti peserta didik yang berbeda agama atau suku. Tindakan ini mengganggu pembelajaran tentang keberagaman dan merusak hubungan peserta didik satu sama lain. Pengucilan sosial, di mana peserta didik diabaikan atau tidak diundang untuk berpartisipasi dalam kegiatan kelompok hanya karena perbedaan latar belakang mereka, juga merupakan bentuk intoleransi yang dapat membahayakan kesehatan mental dan emosional peserta didik. Ini semua menunjukkan betapa pentingnya mengajarkan toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan di lingkungan sekolah agar semua peserta didik merasa diterima dan dihargai. Pendidikan Pancasila menumbuhkan sikap toleransi pada peserta didik yang saat ini mengalami penurunan atau degradasi. Peran guru sebagai perantara ketika mata pelajaran Pendidikan Pancasila sangat penting, di mana mereka tidak hanya menyampaikan materi tetapi juga membangun lingkungan belajar yang inklusif dan mendorong peserta didik untuk memahami pentingnya menghargai perbedaan dalam agama, budaya, dan perspektif hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis beberapa aspek penting dari pendidikan Pancasila dalam membangun sikap toleransi di lingkungan Pertama, penelitian ini ingin mengetahui seberapa baik peran guru sebagai pendidik dan teladan dalam menanamkan nilai-nilai toleransi kepada peserta didik mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, penelitian ini ingin mengetahui seberapa baik guru menanamkan nilai-nilai toleransi kepada peserta didik mereka melalui berbagai Penelitian ini menekankan berbagai menumbuhkan sikap toleransi, seperti yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang peserta didik, lingkungan sosial, dan keterbatasan metode Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembaca tentang bagaimana pendidikan Pancasila membantu membuat lingkungan sekolah lebih harmonis dan Metode Penulis menggunakan tinjauan pustaka sebagai Metode pengumpulan data dan informasi yang digunakan adalah studi literatur. Ini berarti membaca dan menganalisis teori dan data yang berkaitan dengan masalah yang diangkat, yaitu peran pendidikan pancasila dalam menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan sekolah. Setelah itu, kesimpulan dibuat dan data dimasukkan ke dalam penelitian ini. Peneliti mendapatkan data dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal, e-book, makalah, dan internet. Peneliti akan menggunakan kata kunci yang sesuai dengan fokus penelitian untuk melakukan pencarian literatur secara sistematis dan terarah. Setelah data literatur terkumpul, peneliti akan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 101 meninjau, menilai, serta menganalisis isi dari setiap sumber yang relevan. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teknik analisis kritis literatur yang telah dikuasai. Secara terstruktur, proses analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasi tema utama, rumusan masalah, dan kesimpulan yang berkaitan dengan peran Pendidikan Pancasila dalam pembentukan karakter peserta didik di sekolah. Peneliti juga akan menelaah data terkini guna memperdalam pemahaman terhadap topik penelitian. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif mengenai bagaimana Pendidikan Pancasila menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan sekolah. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan yang kokoh bagi pengembangan pendidikan dan penguatan nilai toleransi di dunia pendidikan, berkat data yang terkumpul serta ketelitian analisis yang dilakukan. Hasil Pancasila berakar dari nilai-nilai luhur yang telah tumbuh dan berkembang sejak lama sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya. Nilai-nilai tersebut bersumber dari kearifan lokal, kebudayaan, serta adat istiadat yang diwariskan secara turuntemurun. Nilai-nilai ini menjadi dasar utama dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan Selama bertahun-tahun. Pancasila dianggap tidak hanya sebagai warisan budaya tetapi juga sebagai dasar negara dan pedoman dalam tercermin pada masa kerajaan hingga akhirnya diformulasikan secara resmi dalam kehidupan bernegara modern. Agar bangsa Indonesia senantiasa memiliki kepribadian yang kokoh dan identitas yang khas yang membedakannya dari bangsa lain di dunia. Pancasila perlu dijadikan sebagai pedoman dalam berperilaku bagi seluruh warga negara. Setiap tindakan, sikap, maupun keputusan hendaknya berlandaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Pancasila tidak hanya berperan sebagai identitas nasional, tetapi juga sebagai dasar filosofis dan moral yang mempersatukan keberagaman masyarakat Indonesia dalam satu kesatuan (Oktaviana & Dewi, 2. Pendidikan Pancasila adalah pilar utama identitas dan karakter Indonesia (Mulyani dkk. Peserta didik di didik untuk menjadi "Pelajar Pancasila" yang memahami nilai-nilai luhur Pancasila menginternalisasikannya dalam kehidupan seharihari mereka. Toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman, baik dalam hal budaya, agama, suku, maupun pandangan hidup, dianggap sebagai kekayaan bangsa yang harus dijaga dan dihargai. Sebagai hasilnya, pelajar diharapkan dapat membangun interaksi yang harmonis, inklusif, dan menghargai orang-orang dari latar belakang yang berbeda (Lathif & Suprapto, 2. Peran Guru dalam Membangun Sikap Toleransi Toleransi adalah ketika seseorang mengakui hakhak asasi manusia dan memberikan kebebasan kepada orang lain. Nilai tersebut sebaiknya diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, bukan semata-mata dalam konteks mata pelajaran PPKn (Hasibuan, 2. Guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan sikap toleransi kepada peserta didik dengan membimbing mereka agar mampu Mengintegrasikan nilai toleransi dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari membantu peserta didik memahami dan menerapkannya secara Di sisi lain, guru juga berperan dalam menjelaskan kepada peserta didik mengenai penyebab serta dampak negatif dari sikap intoleran di lingkungan sekitar. Tujuannya adalah untuk memberi tahu peserta didik tentang konsekuensi buruk dari sikap intoleran. Selama bimbingan ini, guru harus selalu menunjukkan toleransi dengan menerapkan aturan, guru berperan dalam membangun sikap menghormati dan menghargai di kalangan peserta didik. Dalam proses pembelajaran, guru mencontohkan pelaksanaan doa dengan benar sebelum dan sesudah kegiatan belajar. Saat diskusi di kelas, guru membuka kesempatan bagi peserta didik untuk bertanya serta mengekspresikan pandangannya, kemudian bersikap adil serta memberikan teguran dengan bijak kepada peserta didik yang melakukan kesalahan (Zaenuri & Fatonah. Sebagai contoh, guru bertanggung jawab untuk mendidik dan mengubah kepribadian anak bagi Guru harus secara aktif berkontribusi pada pembentukan kepribadian peserta didiknya dengan mengajar, mengarahkan, dan mengajar mereka bagaimana membangun karakter toleransi. Melalui sikap, tindakan, dan ucapan yang mencerminkan nilai toleransi, orang tua dapat menjadi contoh baik bagi anak dalam menumbuhkan karakter yang toleran. Selain itu, mereka harus selalu menunjukkan toleransi kepada peserta didik mereka sendiri dan guru lain, sehingga peserta didik dapat mencontoh karakter mereka sendiri (Ramdan & Fauziah, 2. Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 102 | JPI. Vol. No. November 2025 Pendidikan tentang toleransi dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah. Melalui pembelajaran mengenai sejarah, budaya, serta beragam prinsip yang ada di masyarakat, peserta didik dapat belajar memahami dan menghargai perbedaan. Selain itu, kegiatan diskusi terkait isu-isu sosial yang relevan, seperti diskriminasi, hak asasi manusia, dan konflik antar kelompok, dapat melatih peserta didik untuk berpikir kritis sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai antarindividu. Dengan cara ini, guru dapat membekali peserta didik dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk berkontribusi pada masyarakat yang lebih toleran. Selain itu, guru berperan sebagai teladan dalam menunjukkan sikap toleran. Sikap dan perilaku guru akan sangat mempengaruhi peserta didik. Peserta didik akan lebih cenderung meniru perilaku guru yang menghormati perbedaan dan melakukan diskusi konstruktif. Akibatnya, sangat penting bagi guru untuk secara aktif menerapkan prinsip toleransi dalam hubungan mereka dengan peserta didik dan rekan kerja setiap hari. Nilai-Nilai Pancasila yang Relevan dengan Toleransi Untuk mewujudkan kedamaian, toleransi menjadi sikap yang menekankan penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan. Sikap toleran juga berperan dalam membangun solidaritas, menerima keberagaman, serta mengubah pandangan yang seragam menjadi lebih inklusif. Hal ini disebabkan karena toleransi memiliki pengaruh besar terhadap perilaku, cara berpikir, dan sikap seseorang dalam kehidupan bermasyarakat (Atmaja. Kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, yang dikenal memiliki keberagaman budaya, suku, agama, dan bahasa, dilandasi oleh prinsip-prinsip toleransi yang termuat dalam Pancasila. Sebagai landasan ideologis bangsa. Pancasila berperan sebagai pedoman moral dan hukum yang mengatur cara warga negara berinteraksi satu sama lain. Uraian lebih lanjut mengenai prinsip-prinsip toleransi yang terdapat dalam setiap sila Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut. Sila pertama Pancasila, yaitu AuKetuhanan Yang Maha Esa,Ay menegaskan kepercayaan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Esa sebagai landasan bagi seluruh agama yang diakui di Indonesia. Dalam situasi ini, nilai toleransi berarti menghormati dan menghargai perbedaan agama dan kepercayaan. Diharapkan setiap orang menghormati keyakinan orang lain tanpa memaksakan pendapat mereka Hal ini menciptakan lingkungan yang memungkinkan kerukunan antarumat beragama, di mana setiap orang dapat melakukan ibadah dengan bebas dan tanpa takut terhadap diskriminasi. Sila kedua, yaitu AuKemanusiaan yang Adil dan Beradab,Ay menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia serta martabat setiap individu. Sikap toleransi merupakan wujud kesadaran bahwa setiap individu memiliki hak untuk diperlakukan mempertimbangkan perbedaan latar belakang. Sikap ini juga mencakup penentangan terhadap berbagai bentuk diskriminasi, kekerasan, serta tindakan yang tidak menjunjung keadilan. Di lingkungan sekolah, nilai-nilai tersebut diajarkan untuk membentuk peserta didik agar tumbuh menjadi pribadi yang toleran dan beradab. Sila ketiga persatuan Indonesia mengajak semua orang di negara ini untuk bersatu dalam keragaman. Nilai toleransi yang terkandung dalam sila ini menunjukkan bahwa perbedaan adalah kekuatan yang dapat meningkatkan kehidupan sosial daripada Semangat mendorong orang dari latar belakang yang berbeda untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Ini menumbuhkan rasa solidaritas dan kebersamaan di antara warga negara, yang sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial dan politik. Sila keempat, yaitu AuKerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan Permusyawaratan/Perwakilan,Ay pentingnya musyawarah dan dialog sebagai bagian dari proses pengambilan keputusan bersama. Nilai toleransi berarti bersedia untuk mendengarkan dan mempertimbangkan perspektif yang berbeda serta menghargai pendapat dan suara orang lain. Dalam kenyataannya, ini mendorong masyarakat untuk berpartisipasi dalam percakapan konstruktif di mana setiap orang merasa dihargai dan dihormati. Dengan cara ini, konflik dapat diselesaikan secara damai, dan keputusan dapat dibuat dengan cara yang menguntungkan semua pihak. Sila kelima, yaitu AuKeadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,Ay menekankan pentingnya terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh warga negara. Toleransi mencerminkan upaya untuk menjamin bahwa setiap individu memperoleh kesempatan yang sama dalam mengakses sumber daya serta menikmati hak-hak dasarnya. Melalui prinsip keadilan sosial. Pancasila berperan dalam mengurangi ketegangan serta konflik yang muncul akibat ketidakadilan. Nilai ini juga mendorong masyarakat untuk saling menolong dan mendukung, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis dan Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi JPI. Vol. No. November 2025 | 103 Tantangan dalam Membangun Sikap Toleransi Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan tradisi yang beragam. Keberagaman adalah kekuatan terbesar Indonesia. Menjaga keutuhan dan keharmonisan di tengah-tengah perbedaan adalah tantangan besar yang dihadapi Indonesia di balik kekayaan budayanya. Perbedaan agama, budaya, dan gaya hidup dapat mengganggu keharmonisan sosial. Konflik antar umat beragama adalah salah satu contoh nyata bagaimana ketidakpahaman tentang perbedaan keyakinan dapat Perbedaan agama tidak jarang mengarah pada tindakan tidak toleran, seperti menentang pembangunan rumah ibadah atau diskriminasi terhadap kelompok tertentu (Janah dkk. , 2. Membangun sikap yang toleran dalam masyarakat yang beragam adalah tantangan yang Adanya perbedaan pendapat dan keyakinan yang dapat menyebabkan konflik merupakan tantangan utama. Sikap intoleran dapat muncul ketika individu atau kelompok merasa keyakinan mereka terancam. Selain itu, hambatan adalah kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang prinsip-prinsip toleransi. Banyak orang tidak tahu cara menghormati perbedaan, jadi mereka tidak bisa berinteraksi dengan baik dalam lingkungan Pendidikan yang baik tentang keragaman dan toleransi sangat penting untuk menumbuhkan kesadaran dan pemahaman yang positif tentang perbedaan. Media sosial juga berkontribusi pada masalah ini, karena mereka memungkinkan penyebaran informasi yang salah atau provokatif dengan cepat, yang memperburuk ketegangan antar kelompok. Agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan harmonis meskipun ada perbedaan, penting untuk membuat ruang untuk diskusi yang konstruktif dan mendukung usaha yang mendorong toleransi. Adanya stereotip dan prasangka yang telah melekat dalam masyarakat merupakan tantangan tambahan dalam membangun sikap toleransi. Ketidaktahuan dan pengalaman negatif terhadap orang lain sering menyebabkan stereotip ini. Ketika pandangan sempit ini diterapkan pada masyarakat, mereka cenderung menggeneralisasi dan percaya bahwa semua orang dalam kelompok tertentu memiliki perilaku atau karakteristik yang sama. Pada akhirnya, hal ini menghambat interaksi yang baik. Sikap toleransi juga dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan politik. Ketidakadilan sosial atau kelompok tertentu merasa terpinggirkan dan berjuang untuk mendapatkan pengakuan dan hakhak mereka. Toleransi dapat menjadi tantangan dalam situasi seperti ini karena orang lebih cenderung berkonsentrasi pada perjuangan mereka sendiri daripada mengakui dan menghargai perbedaan orang lain. Jadi, tokoh masyarakat dan pemimpin memiliki peran besar dalam mendorong Mereka menunjukkan toleransi dan membentuk opini publik. Pemimpin dapat membantu mengurangi ketegangan dan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dengan mendidik masyarakat dan mendorong diskusi kelompok. Diskusi Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki peranan yang sangat strategis dalam menumbuhkan sikap toleransi di lingkungan sekolah. Nilai-nilai seperti kemanusiaan, persatuan, keadilan, serta kebijaksanaan dalam bermusyawarah menjadi dasar pembentukan karakter peserta didik yang menghargai perbedaan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Lathif dan Suprapto . , yang menegaskan bahwa Pendidikan Pancasila memiliki fungsi sebagai sarana penting dalam menciptakan AuPelajar PancasilaAy yang bersifat inklusif dan berorientasi pada terciptanya harmoni sosial di tengah keberagaman budaya dan agama di sekolah. Proses internalisasi nilai-nilai Pancasila ini sangat dipengaruhi oleh peran guru. Guru tidak hanya memberikan instruksi tetapi juga memberikan contoh dalam kehidupan sehari-hari. Menurut penelitian Zaenuri dan Fatonah . yang menekankan kerja sama lintas perbedaan dalam pembelajaran, pembiasaan, dan keteladanan, guru memiliki peran langsung dalam menumbuhkan sikap toleran peserta didik. Selain itu. Ramdan dan Fauziah . menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan karakter, termasuk toleransi, sangat bergantung pada kerja sama antara peran guru di sekolah dan dukungan orang tua di rumah. Karena pada dasarnya peserta didik belajar dengan meneladani tingkah orang dewasa di sekitarnya. Terbukti bahwa prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pancasila masih relevan dan dapat diterapkan dalam pendidikan toleransi. Salah satu contohnya penghormatan terhadap perbedaan keyakinan. Sila kedua, di sisi lain, menekankan martabat manusia tanpa diskriminasi. Melalui sila ketiga, peserta didik dididik untuk melihat keberagaman sebagai Menurut Jurnal Pendidikan Indonesia: Teori. Penelitian dan Inovasi 104 | JPI. Vol. No. November 2025 dilakukan oleh Atmaja . Pancasila adalah fondasi moral yang memiliki kemampuan untuk mengubah perbedaan menjadi sarana untuk memupuk solidaritas sosial. Meskipun demikian. Mulyani et al. menemukan bahwa pendidikan berbasis Pancasila mendorong peserta didik untuk menerapkan nilai-nilai kemanusiaan dan gotong royong dalam interaksi sosial di lingkungan sekolah. Namun demikian, penelitian ini juga Keberagaman latar belakang peserta didik adalah tantangan utama, karena dapat menyebabkan kesalahpahaman atau konflik kecil jika tidak diurus dengan benar. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dibuat oleh Janah dkk . , yang menemukan bahwa kurangnya pemahaman tentang prinsip keberagaman dan ketidakmampuan untuk berempati dengan orang lain sering kali menjadi penyebab remaja sekolah menunjukkan sikap intoleran. Selain itu, pengaruh media sosial membuat lebih sulit untuk membangun sikap toleransi peserta didik karena penyebaran informasi yang tidak benar atau provokatif dapat menumbuhkan prasangka di kalangan peserta didik (Marbun, 2. Sangat sulit bagi guru untuk memasukkan nilai toleransi ke dalam kegiatan pembelajaran yang menarik dan kontekstual. Menurut penelitian Dwintari dan Murdiono . keberhasilan penguatan toleransi di sekolah sangat bergantung pada kemampuan guru untuk membuat kurikulum yang berbasis pengalaman nyata. Pengalaman nyata ini termasuk proyek sosial, diskusi lintas budaya, dan kegiatan kolaboratif yang melibatkan peserta didik dari berbagai latar belakang. Metode ini membantu peserta didik memahami toleransi secara kognitif dan mengalaminya secara langsung dalam interaksi sosial. Secara keseluruhan, temuan penelitian ini mendukung gagasan bahwa pendidikan Pancasila memiliki potensi yang signifikan untuk membangun peserta didik yang toleran dan menghargai Akan tetapi, untuk melakukannya dengan sukses, diperlukan dukungan sistemik. Ini termasuk pelatihan guru yang berkelanjutan, kurikulum yang disesuaikan dengan konteks multikultural, dan budaya sekolah yang mendorong diskusi yang terbuka dan inklusif. Oktaviana dan Dewi . mengatakan bahwa pendidikan yang didasarkan pada nilai Pancasila akan efektif jika diterapkan secara menyeluruh dan melibatkan aspek afektif dan psikomotorik peserta didik selain pelajaran kognitif. Oleh karena itu, pendidikan Pancasila bukan sekedar mata pelajaran saja, namun juga sebagai strategi kebudayaan agar menjaga keutuhan bangsa melalui penanaman sikap toleransi di sekolah. Melalui penguatan peran guru, internalisasi nilainilai Pancasila, dan pembentukan lingkungan sekolah yang menghargai keberagaman, diharapkan generasi muda Indonesia mampu menjadi pelaku aktif dalam menjaga harmoni sosial dan kerukunan Kesimpulan Pancasila yang berakar pada nilai-nilai luhur masyarakat Indonesia, memiliki peran krusial dalam membentuk karakter serta identitas nasional. Nilainilai yang terkandung di dalamnya, seperti toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman, menjadi dasar terciptanya interaksi sosial yang harmonis di tengah masyarakat yang beragam. Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah bukan sekedar berfungsi sebagai sarana pengetahuan, namun juga sebagai media untuk menumbuhkan sikap toleran pada peserta didik. Oleh karena itu, guru memiliki peran krusial dalam membimbing peserta didik agar mampu memahami dan menerapkan prinsip toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui lingkungan belajar yang inklusif serta keteladanan nyata, guru dapat membantu peserta didik agar sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan timbul di dalam dirinya. Namun kurangnya pemahaman, dan efek media sosial yang dapat memperburuk ketegangan antar kelompok adalah beberapa tantangan yang masih terkait dengan membangun sikap toleransi. Oleh sebab itu, dibutuhkan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk guru, orang tua, dan masyarakat, untuk membangun ruang dialog yang sehat serta mendukung upaya dalam menumbuhkan sikap Persembahan Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami secara profesional dan finansial dengan penulisan artikel ini. Referensi