Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (Nsom. Sebagai Pendekatan Intervensi Gangguan Bunyi Bicara Hafidz Triantoro Aji Pratomo1*. Arif Siswanto2 Jurusan Terapi Wicara. Poltekkes Kemenkes Surakarta *Email: pratomo. hafidz@gmail. Abstrack Background : Non Speech Oral Motor TreatmentAos (NSOMT) is a collective term that require active and passive training of speech musculature (Lof & Watson, 2. Controversy of use this method was found in several publication. Researcher notes many questions about NSOMT efication. Aim of study is to gather information about utility NSOMT among Speech TherapistAos in Central Java. Isue of Evidence Based Practice (EBP)implementation was crucial to be answer. This study was to analyse use of NSOMT among central java clinicians who treat children with speech sound disorder. Methods: This study was conducted in March until July 2019. Total 146 speech therapist across Central Java was participated on this study. Data analysis used descriptive statistic and Spearman Rank. Results: 84,9% speech therapist in Central Java used NSOMT to treat children who have speech sound disorder. Education level had a correlation with utility NSOMT in speech sound intervention (OR: 4. 95%: 1. p: 0. Conclusions: The results suggested similar finding with survey was conducted before. Speech therapist needs to improve their knowledge about EBP and its implementation. Keywords: non speech oral motor treatment, speech sound disorders, speech therapy PENDAHULUAN Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) merupakan prosedur atau pendekatan yang dikenal berkaitan dengan penanganan gangguan bunyi bicara yang berbasis pada penekanan aspek motorik dan sensoris (Ruscello, 2. NSOMT merupakan kumpulan metode dan Teknik yang bertujuan meningkatkan kualitas bicara klien (Lof & Watson, 2. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang bertujuan meningkatkan aktivitas non bicara meliputi bibir, rahang, lidah, velum, laring, dan otot respirasi yang berkaitan dengan fisiologi dan mekanisme oral fasial. Aktivitas aktif meliputi penguatan otot, latihan pasif, dan stimulasi sensoris (McCauley et al. , 2. Meskipun pertanyaan tentang efektifitas penanganan gangguan bunyi bicara dengan NSOMT masih pertanyakan (Forrest, 2. NSOMT meningkatkan kemampuan menelan. Pendekatan ini signifikan diterapkan pada klien dengan permasalahan makan dan Stimulasi sensoris terbukti menelan (Clark, 2. Ketika pendekatan ini diterapkan pada gangguan bunyi bicara, temuan telah menghasilkan hasil temuan pada dua sisi. Kontroversi muncul karena di satu sisi NSOMT efektif meningkatkan kualitas bicara dan satu sisi tidak efektif meningkatkan kualitas bicara (Muttiah et al. , 2. Perbedaan mekanisme antara proses makan dan menelan dengan mekanisme proses produksi bicara memunculkan pertanyaan mendasar tentang perbedaan dampak NSOMT memiliki implikasi yang berlawanan apabila diterapkan pada klien dengan gangguan bunyi bicara (Mccauley et al. , 2. Pertanyaan NSOMT pada penanganan gangguan bunyi bicara menunjukkan bahwa diskusi tentang Evidence Based Practice (EBP) 110 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 merupakan komponen esensial. EBP memberikan gambaran bahwa NSOMT tidak memiliki dampak signifikan terhadap penanganan gangguan bunyi bicara (Lass & Pannbacker, 2008. Lee & Gibbon, 2011. Mccauley et al. , 2009. Powell, 2. Meskipun tidak memiliki level EBP yang kuat dalam sebagai metode intervensi, pendekatan ini merupakan pendekatan yang cukup popular digunakan terapis wicara dalam penanganan gangguan bunyi bicara. Penelitian Lof & Watson, . Thomas Kaipa, . menunjukkan sekitar 85% terapis wicara atau klinisi menggunakan pendekatan ini sebagai prosedur dalam meningkatkan kemampuan bicara klien dengan keluhan gangguan bunyi bicara. Penelitian menjadi komponen penting dalam pelaksanaan terapi wicara untuk peningkatan kualitas pelayanan terapi wicara (Dodd, 2007. Togher et al. , 2. Indonesia memiliki tantangan yang besar dalam penerapan EBP dalam pelayanan kesehatan (Turner. Penerapan EBP dalam pelayanan terapi wicara memiliki hambatan dalam sumber literatur. Penelitian ini merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan di Jawa Tengah dengan tema Penerapan NSOMT. Penelitian mengungkap bagaimana penggunaan NSOMT oleh Terapis Wicara di Jawa Tengah. Tujuan NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara di Jawa Tengah. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui profil penggunaan NSOMT di Jawa Tengah. Pembahasan difokuskan pada prosentase NSOMT. NSOMT. Non NSOMT, pendekatan intervensi yang dilakukan oleh Terapis Wicara di Jawa Tengah. METODE PENELITIAN Pengambilan data dilakukan pada pada bulan Maret Ae Juli 2019. Penelitian dilakukan di wilayah kerja Ikatan Terapis Wicara Wilayah Jawa Tengah. Ijin penelitian disetujui oleh Ketua Dewan Pengurus Ikatan Terapis Wicara Jawa Tengah yang selanjutnya kuesioner dibagikan ke seluruh Dewan Pengurus Cabang (DPC). Responden berasal dari enam DPC yakni Surakarta. Semarang. Magelang. Pekalongan. Pati. Banyumas. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey. Instrumen kuesioner yang dimodifikasi (Lof & Watson, 2008. Thomas & Kaipa, 2. Instrumen penelitian terdiri dari empat Bagian pertama tentang informasi demografi responden. Bagian kedua berisi tentang informasi penggunaan NSOMT sebagai pendekatan intervensi gangguan bunyi bicara. Bagian ketiga memuat informasi tentang responden yang tidak NSOMT pendekatan intervensi gangguan bunyi Bagian keempat berisi tentang jenis-jenis metode intervensi gangguan bunyi bicara. Setiap responden wajib mengisi bagian pertama. Bagi responden yang menggunakan NSOMT sebagai metode intervensi gangguan bunyi bicara akan mengisi bagian kedua dan keempat. Bagi responden yang tidak menggunakan NSOMT sebagai metode intervensi gangguan bunyi bicara akan mengisi bagian ketiga dan keempat. Analisis data menggunakan aplikasi SPSS for Windows 24. Analisis statistik terdiri dari analisis statistik deskriptif dan analisis korelasi Spearman Rank. Analisis Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) Deskriptif dilakukan untuk mengetahui gambaran responden penelitian. Analisis korelasi dilakukan untuk melihat korelasi antar variabel penelitian. HASIL PENELITIAN Responden yang mengembalikan angket berjumlah 146 orang. Informasi keanggotan, jenis kelamin, pendidikan, tempat bekerja, pengalaman klinis, dan peminatan bidang garap. Tabel 1. Data Demografi Responden Komponen Demografi Keanggotaan Dewan Surakarta Pengurus Cabang Semarang Banyumas Magelang Pati Pekalongan Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Pendidikan Diploma i Terapi Wicara Diploma IV Terapi Wicara Tempat Bekerja Rumah Sakit Pemerintah Rumah Sakit Swasta Klinik Pelayanan Mandiri Sekolah Luar Biasa Pelayanan Khusus Lain Pengalaman Klinis Kurang Dari 5 Tahun 6 Ae 10 Tahun 11 Ae 15 Tahun 16 Ae 20 Tahun 21 Ae 25 Tahun Peminatan Bidang Gangguan Bahasa Perkembangan Garap Gangguan Produksi Bicara Gangguan Motorik Bicara Gangguan Makan Menelan Habilitasi Gangguan Pendengaran Gangguan Komunikasi Neurogenik Gangguan Suara Gangguan Irama Irama Kelancaran Gangguan Resonansi N = 146 112 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 Surakarta keanggotaan yang paling banyak. Sebagian besar responden memiliki jenjang Pendidikan Diploma i Terapi Wicara dengan pengalaman klinis kurang dari 5 tahun. Rumah sakit pemerintah merupakan tempat bekerja terapis wicara yang paling banyak. Bidang garap resonansi merupakan bidang garap yang paling sedikit diminati oleh terapis wicara. Urutan teratas bidang garap yang paling banyak diminati adalah penanganan pada kasus gangguan bahasa perkembangan. Responden NSOMT pendekatan dalam intervensi gangguan bunyi bicara adalah 124 responden. Prosentase pengguna adalah 84. Sebaran penggunaan NSOMT di Jawa Tengah dijelaskan pada grafik di bawah ini. Tabel 2. Tabulasi Silang Penggunaan NSOMT sesuai Jenjang Pendidikan Pendidikan Penggunaan NSOMT Total Terapis Wicara Tidak Diploma i Diploma IV Total Tabel memberikan peminatan besar perkembangan (OR: 0. 95%: 0. 08responden dengan jenjang pendidikan 0. p: 0. , wilayah keanggotaan Ahli Madya Terapi Wicara paling banyak memiliki kontribusi (OR: 0. NSOMT p: 0. , terakhir peminatan pendekatan intervensi gangguan bunyi habilitasi memiliki keterkaitan dengan Jika dilihat dari rasio, sebagian penggunaan NSOMT (OR: 0. besar responden pada kedua jenjang 0. p: 0. Sebagian besar responden penelitian menggunakan NSOMT dari pada yang menyatakan NSOMT tidak menggunakan NSOMT sebagai ketika menangani gangguan bunyi bicara. pendekatan intervensi gangguan bunyi Gambaran penggunaan NSOMT terdiri dari aktivitas yang digunakan ketika Analisis multivariat menggunakan melakukan NSOMT, peralatan yang regresi logistik menemukan adanya digunakan ketika NSOMT, sumber dengan pengetahuan, penggunaan NSOMT. Variabel tersebut persepsi, dan sesi implementasi NSOMT. antara lain wilayah keanggotaan, jenjang Gambaran penggunaan NSOMT sebagai pendidikan, peminatan gangguan bahasa, pendekatan intervensi gangguan bunyi dan peminatan habilitasi pendengaran. bicara dijelaskan pada tabel 4 di bawah. Hasil analisis dijelaskan pada tabel 2 di Sebagian bawah ini. Tabel 3 menunjukkan bahwa menyatakan bahwa menaikkan lidah penggunaan merupakan aktivitas paling banyak yang NSOMT adalah jenjang pendidikan dilakukan ketika melakukan intervensi responden (OR: 4. 95%: 1. p: gangguan bunyi bicara dengan NSOMT. hubungan kedua terkuat adalah Tongue spatel atau tongue depressor Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) merupakan peralatan yang paling banyak digunakan responden. Pengalaman praktik klinik memberikan kontribusi yang signifikan dalam implementasi NSOMT sebagai pilihan intervensi. sebagian besar responden masih kurang yakin serta jarang menggunakan NSOMT. Pembagian sesi yang paling sering dipilih adalah melakukan NSOMT sampai batas waktu optimal lalu beralih kepada aktivitas lain. Alasan yang paling banyak dipilih responden adalah NSOMT mampu meningkatkan fungsi otot sehingga berdapak positif pada intervensi gangguan bunyi bicara. Tabel 3. Hasil Analisis Regresi Logistik Variabel Keanggotaan kurang dari 10% Pendidikan Diploma i Peminatan Gangguan Bahasa Perkembangan Peminatan Habilitasi Pendengaran 95% CI Lower Upper N = 124 Adjusted OR Tabel 4. Gambaran Penggunaan NSOMT di Jawa Tengah. Komponen Aktivitas Tongue elevation . idah ke ata. NSOMT Lip rounding . emonyongkan bibi. Tongue lateralization . erakan lidah Tongue protusion . erakan lidah ke depa. Open-close mouth . uka tutup mulu. Blowing . Lip closure . engatupkan bibi. Smile . Lip smacking . engecapkan bibi. Whistle blowing . eniup pelui. Peralatan Tongue depressor Straw Horn Brushes Balloon Bite block/ bite stick Whisthler Kazoo Sumber Ketika menjalani praktik klinik mahasiswa Pengetahuan Ketika menjalani Pendidikan Sharing dengan rekan sejawat Mengikui seminar dan pelatihan Belajar otodidak dari buku 114 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 Persepsi Efikasi Kurang yakin NSOMT Cukup yakin Sangat yakin Frekuensi Jarang Penggunaan Kadang-kadang Selalu Pembagian sesi Saya melakukan NSOMT sampai dengan batas pencapaian kemudian dikombinasikan dengan NSOMT intervensi lain meningkatkan kejelasan bicara. Saya membagi sesi pertemuan antara NSOMT dengan intervensi lain. Saya menggunakan NSOMT hanya untuk pemanasan sebelum intervensi artikulasi atau Saya menggunakan NSOMT secara eksklusif dengan tidak melakukan kombinasi dengan intervensi lain. Alasan NSOMT dapat meningkatkan fungsi otot sehingga meningkatkan kejelasan bicara Aktivitas bicara dapat dikembangkan jika kemampuan dasar artikulator baik NSOMT dapat meningkatkan kemampuan artikulasi dan fonologi berdasarkan pengalaman Aktivitas NSOMT tidak hanya berdampak pada aspek motorik tetapi juga sensorik NSOMT memenuhi kajian ilmiah dan penelitian Tabel 5. Gambaran Non Pengguna NSOMT di Jawa Tengah. Komponen Pengalaman membaca Tidak pernah membaca Pernah membaca Keyakinan efikasi Ragu-ragu ilmiah NSOMT Yakin Sikap terhadap Tetap tidak akan menggunakan NSOMT Akan menggunakan Alasan tidak Belum pernah mendapatkan pengalaman personal tentang efektifitas NSOMT NSOMT Aktivitas dikembangkan dengan bicara NSOMT tidak memenuhi kajian ilmiah Hasil disuksi dengan teman sejawat, dosen dan ahli lain N = 22 Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) Tidak ada keterkaitan antara fisiologis non bicara dengan bicara Responden yang tidak menggunakan NSOMT memiliki prosentase 15. Gambaran Non NSOMT dijelaskan dengan menguraikan beberapa indikator yang terdiri dari pengalaman membaca literatur, keyakinan terhadap efikasi ilmiah, sikap terhadap NSOMT, dan alasan tidak menggunakan NSOMT. Gambaran Non NSOMT dijelaskan pada tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 memberikan gambaran bahwa sebagian responden yang tidak menggunakan NSOMT tidak pernah membaca literatur tentang penanganan gangguan bunyi bicara menggunakan pendekatan NSOMT. Sebagian besar responden masih raguragu dan sebagian akan menggunakan pendekatan NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara. Alasan paling banyak adalah belum ada pengalaman personal tentang efektifitas penanganan menggunakan NSOMT. Gambaran pengetahuan responden terhadap metode intervensi gangguan bunyi bicara diukur dengan menggali frekuensi penerapan metode. Beberapa pilihan yang disediakan adalah selalu kadang-kadang menggunakan, dan tidak familiar. Pendekatan penanganan gangguan bunyi bicara terdiri dari tujuh belas . metode baik yang berbasis penanganan motorik maupun metode dengan penanganan berbasis linguistik. Penjelasan tentang rincian gambaran pengetahuan responden terhadap metode intervensi gangguan bunyi bicara dijelaskan di bawah ini Gambar 1. Pengetahuan Responden Terhadap Metode Intervensi Gangguan Bunyi Bicara Grafik di atas menunjukkan bahwa responden metode yang paling sering digunakan oleh pendekatan metaphon therapy sebagai responden penelitian adalah metode metode intervensi gangguan bunyi bicara. phonetic placement. Sebagian besar 116 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 PEMBAHASAN Pendekatan NSOMT sebagai pendekatan yang berbasis pada fungsi otot. Pendekatan ini memiliki efektifitas yang kuat dalam intervensi gangguan makan dan menelan (Arvedson et al. , 2010. Manno et al. , 2. , sehingga NSOMT menjadi salah satu teknik yang direkomendasikan dalam penanganan gangguan makan dan menelan (Dodrill & Gosa, 2. Meskipun dikenal efektif dalam penanganan gangguan makan dan menelan. NSOMT memiliki kontroversial digunakan sebagai penanganan gangguan bunyi bicara. NSOMT dianggap memiliki eviden yang lemah ketika diterapkan dalam gangguan artikulasi dan fonologi (Lee & Gibbon. Lof & Watson, 2010. Muttiah et al. Sebanyak 84. 9% Terapis Wicara NSOMT pendekatan dalam penanganan gangguan Hasil menunjukkan hasil yang serupa dengan hasil penelitian sebelumnya (Lof & Watson, 2008. Thomas & Kaipa, 2. Hal tersebut menunjukkan bahwa NSOMT dikenal luas oleh para klinisi. Aktivitas yang sering digunakan dalam melakukan NSOMT adalah elevasi lidah. Kuat dugaan bahwa penggunaan aktivitas pembentukan fonem /l/. Fonem /l/ memiliki Point of Articulation (POA) lingual alveolar, artinya pembentukan fonem ini memerlukan pergerakan lidah ke arah gusi gigi atas. Metode tersebut merupakan bagian dari pendekatan berbasis motorik (Kuruvilla-Dugdale et , 2018. Preston et al. , 2. Hal tersebut diduga memiliki linieritas dengan alasan penggunaan NSOMT ketika menangani gangguan bunyi bicara. Alasan terbanyak mengapa NSOMT digunakan sebagai pendekatan dalam penanganan gangguan bunyi bicara adalah adanya persepsi tentang penguatan otot. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari kajian konseptual NSOMT yang menekankan aktivasi otot secara fisiologis dan fungsional (Clark, 2. Sehingga patut pergerakan dalam NSOMT dikaitkan dengan pembentukan (POA). Penerapan metode dalam penanganan gangguan penalaran klinis yang mendalam dari setiap klinisi (Diepeveen et al. , 2. Sebagian penggunaan NSOMT untuk menangani gangguan bunyi bicara adalah ketika Peran lingkungan klinis memberikan dampak besar dalam pengambilan keputusan Model dan penjelasan pembimbing, supervisor, dan rekan sejawat merupakan sumber literatur yang setiap saat bisa diakses oleh mahasiswa. Informasi yang diperoleh akan menjadi literatur yang setiap saat bisa diaplikasikan ketika mahasiswa menghadapi situasi serupa. Proses diskusi memerlukan sebuah kajian literatur berbasis EBP untuk bisa merumuskan keputusan klinis terbaik (Cirrin et al. , 2010. Togher et al. , 2. Informasi tentang efektifitas NSOMT yang berasal dari buku atau jurnal tidak banyak diakses. Hal ini mengimplikasikan bahwa belum semua level EBP digunakan secara merata ketika pengambilan keputusan penggunaan NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara. Sebagian besar responden yang tidak menggunakan NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara memiliki persepsi yang tidak konsisten Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) pada penerapan NSOMT. Pemilihan sikap untuk tidak menggunakan NSOMT berbasis pada pengalaman pribadi. Pengalaman tentang penerapan NSOMT mengubah peta NSOMT. Jika dikaitkan pada responden yang memilih menggunakan NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara, terdapat persamaan latar belakang penentuan sikap. Artinya pengambilan keputusan didominasi oleh pengalaman diperlukan kajian merata pada semua level EBP sehingga tidak ada bias Implementasi EBP tidak hanya melihat pada pengalaman melainkan pada data empiris yang kuat (Dodd, 2. Keterbasan penarapan NSOMT menjadi isu krusial dalam penerapannya. Adanya keterbatasan literatur dan lemahnya implementasi EBP merupakan tantangan dalam pelayanan terapi wicara khususnya pada penanganan gangguan bunyi bicara. Penanganan gangguan bunyi bicara berbasis pada EBP yang yang kuat merupakan kebutuhan mendesak yang diperlukan (Baker & McLeod, 2. Klinisi harus mampu menentukan dan memahami level EBP dan implementasinya. Pemahaman dan penerapan EBP dalam penanganan gangguan bunyi bicara di Jawa Tengah memiliki tantangan. Data menunjukkan adanya pemahaman yang belum merata pada semua jenis pendekatan intervensi gangguan bunyi Pemahaman tentang pendekatan kepada klinisi untuk menentukan dan memilih variasi intervensi sesuai dengan kondisi klien. Temuan di atas menemukan bahwa phonetic placement merupakan metode yang paling familiar digunakan. Phonetic placement adalah pendekatan intervensi artikulasi yang memberikan penekanan pada penempatan titik artikulasi (Lof & Watson, 2. Jika dikaitkan dengan NSOMT, phonetic pergerakan artikulator menuju titik Sedangkan NSOMT tidak memiliki batasan pergerakan spesifik. Tantangan yang paling besar adalah pemahaman yang merata pada seluruh aspek intervensi gangguan bunyi bicara. Hasil analisis multivariat tidak menunjukkan hubungan spesifik yang berkaitan dengan NSOMT. Analisis peminatan bidang garap gangguan bunyi bicara tidak memiliki keterkaitan dengan NSOMT. Temuan menunjukkan bahwa jenjang pendidikan merupakan salah satu variabel yang diduga berpengaruh pada penggunaan NSOMT. Keterbatasan literatur dan lama studi kemungkinan berpengaruh pada pemahaman literatur. Program Studi Diploma i Terapi Wicara merupakan jenjang Pendidikan dengan lama studi tiga Setiap mahasiswa menghabiskan waktu sekitar 8 bulan untuk menjalani praktik klinik. Titik berat praktik adalah penerapan metode intervensi pada suatu Dugaan tentang penggunaan literatur ilmiah menguat. Salah satu tantangan dan hambatan pelayanan klinis adalah keterbatasan sumber literatur dan penerapan EBP dalam konteks klinis. Penerapan EBP dalam penanganan gangguan bunyi bicara merupakan prasyarat yang perlu dilakukan meskipun memiliki tantangan dan (Diepeveen et al. , 2020. KuruvillaDugdale et al. , 2018. Preston et al. , 2. Aplikasi EBP merupakan komponen esensial dalam penanganan gangguan 118 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 bunyi bicara. EBP memudahkan klinisi untuk menentukan dan memilih instrumen asesmen dan intervensi terbaik dalam pelayanan (Dodd, 2. Penggunaan NSOMT memiliki tantangan pada kekuatan EBP yang ada. Narasi tentang argumentasi ketidak sesuaian NSOMT dalam penanganan gangguan bunyi bicara telah dipublikasikan (Lof & Watson. NSOMT memiliki keterkaitan erat dengan mekanisme oral fasial. Alasan inilah yang membuat pendekatan ini memiliki hubungan dengan metode intervensi gangguan bunyi bicara berbasis Pembahasan mengenai korelasi NSOMT berkaitan dengan sistem perototan dan persarafan telah di publikasikan (Kent, 2. Diperlukan kajian mendalam ketika mengambil keputusan dalam pemilihan pendekatan intervensi gangguan bunyi bicara. isyarat perintah klinis yang bersifat tidak tertulis (Coyle & Leslie, 2. Penguatan dan penambahan literatur ilmiah menjadi fokus yang penting dalam pelayanan terapi wicara di Jawa Tengah. Penguatan budaya ilmiah bisa dilakukan dengan keterlibatan klien (Cohen & Hula, 2. Institusi Pendidikan juga berperan besar dalam pengambangan budaya ilmiah pada klinisi (Rangamani et al. , 2. Sebagi tindak lanjut diperlukan penelusuran penerapan EBP dengan wilayah yang lebih luas seperti apa yang dilakukan oleh (Thome et al. , 2. Penelitian yang mengungkap dampak langung NSOMT pada gangguan bunyi bicara perlu Penelusuran lebih luas digunakan untuk melihat bagaimana penerapan NSOMT pada penanganan gangguan bunyi bicara secara nasional. KESIMPULAN DAN SARAN Popularitas penggunaan NSOMT di Jawa Tengah dibuktikan dengan hampir 85% klinisi menggunannya sebagai metode intervensi gangguan bunyi bicara. Temuan ini berbanding lurus dengan temuan sebelumnya (Lof & Watson, 2008. Thomas & Kaipa, 2. Isu tentang EBP gangguan bunyi bicara menguat dengan fakta penelitian. Lemahnya penggunaan landasan ilmiah dalam penerapan metode NSOMT menjadi tantangan dalam penanganan gangguan bunyi bicara di Jawa Tengah. Keterbatasan penggunaan literatur merupakan barrier dalam Penguatan pemahaman dan implementasi EBP dalam penanganan gangguan bunyi bicara merupakan esensi penting. Penyesuaian tindakan klinis yang berbasis pada penerapan EBP merupakan DAFTAR RUJUKAN Arvedson. Clark. Lazarus. Schooling. , & Frymark. Evidence-based systematic review: Effects of oral motor interventions on feeding and swallowing in preterm infants. American Journal of SpeechLanguage Pathology, 19. , 321Ae https://doi. org/10. 1044/10580360. 0/09-0. Baker. , & McLeod. Evidence-Based Practice Children with Speech Sound Disorders: Part 1 Narrative Review. Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 42. , 102Ae139. https://doi. org/10. 1044/01611461. 0/09-0. b Cirrin. Schooling. Nelson. Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) . Diehl. Flynn. Staskowski. Torrey. , & Adamczyk. Evidencebased systematic review: Effects of different service delivery models on elementary school-age children. Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 41. , 233Ae264. https://doi. org/10. 1044/01611461. 9/08-0. Clark. Neuromuscular Treatments Speech Swallowing: A Tutorial. American Journal Speech-Language Pathology, 12. , 400Ae415. https://doi. org/10. 1044/10580360. Cohen. , & Hula. Patient-reported evidence-based practice in speechlanguage American Journal Speech-Language Pathology, 29. , 357Ae370. https://doi. org/10. 1044/2019_AJSLP19-00076 Coyle. , & Leslie. Evidence-Based Practice Ai The Ethical Imperative. Perspectives on Swallowing Swallowing Disorders (Dysphagi. , 15. , 1Ae7. https://doi. org/https://doi. org/10. /sasd15. Diepeveen. Haaften. Terband, . Swart. de, & Maassen. Clinical reasoning for speech sound disorders: Diagnosis and intervention in speech-language pathologistsAo American Journal of Speech- Language Pathology, 29. , 1529Ae https://doi. org/10. 1044/2020_AJSLP19-00040 Dodd. Evidence-Based Practice and Speech- Language Pathology: Strengths Weaknesses Opportunities and Threats. Folia Phoniatrica et Logopaedica, 59. , 118Ae129. https://doi. org/10. 1159/000101770 Dodrill. , & Gosa. Pediatric dysphagia: Physiology, assessment, and management. Annals of Nutrition and Metabolism, 66. uppl 24Ae31. https://doi. org/10. 1159/000381372 Forrest. Are oral-motor exercises useful in the treatment of phonological/articulatory disorders? Seminars in Speech and Language, 23. , 15Ae25. https://doi. org/10. 1055/s-2002-23508 Kent. Nonspeech Oral Movements Oral Motor Disorders: A Narrative Review. American Journal of SpeechLanguage Pathology, 24. , 763Ae https://doi. org/https://doi. org/10. /2015_AJSLP-14-0179 Kuruvilla-Dugdale. Custer. Heidrick. Barohn. , & Govindarajan. A phonetic complexity-based precision testing: A preliminary study on talkers with amyotrophic lateral sclerosis. Journal of Speech, 120 Jurnal Keterapian Fisik. Volume 5. No 2. November 2020, hlm 62-146 Language, and Hearing Research, 61. , 2205Ae2214. https://doi. org/10. 1044/2018_JSLHR -S-17-0462 Lass. , & Pannbacker. The evidence-based practice to nonspeech oral motor Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 39. , 408Ae421. https://doi. org/10. 1044/01611461. Lee. , & Gibbon. Non-speech oral motor treatment for children with developmental speech sound disorders. Cochrane Database of Systematic Reviews, 10, 1Ae27. https://doi. org/10. 1002/14651858. Lof. , & Watson. Five Reasons Why Nonspeech Oral Motor Exercises (NSOME) Do Not Work. Perspectives on School-Based Issues, 11. , 109Ae117. https://doi. org/https://doi. org/10. /sbi11. Lof. , & Watson. nationwide survey of nonspeech oral motor exercise use: Implications for evidence-based practice. Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 39. , 392Ae407. https://doi. org/10. 1044/01611461. Manno. Fox. Eicher. , & Kerwin. Early oralmotor interventions for pediatric feeding problems: What, when and Journal of Early and Intensive Behavior Intervention, 2. , 145Ae https://doi. org/10. 1037/h0100310 Mccauley. Strand. Lof. Tracy. Tobi. , & Frymark. Evidence-Based Systematic Review: Effects of Nonspeech Oral Motor Exercises Speech. American Journal of SpeechLanguage Pathology, 18. , 343Ae https://doi. org/https://doi. org/10. /1058-0360. 9/09-0. Muttiah. Georges. , & Brackenbury, . Clinical and research perspectives on nonspeech oral motor evidence-based American Journal of Speech-Language Pathology, 20. , 47Ae59. https://doi. org/10. 1044/10580360. 0/09-0. Powell. An integrated evaluation of nonspeech oral motor Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 39. , 422Ae427. https://doi. org/10. 1044/01611461. Preston. Leece. , & Storto. Tutorial: Speech motor chaining treatment for school-age children with speech sound disorders. Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 50. , 343Ae355. https://doi. org/10. 1044/2018_LSHSS -18-0081 Rangamani. Coppens. Greenwald. Keintz, . Collaborative Methods for Training Hafidz Triantoro Aji Pratomo. Penggunaan Non Speech Oral Motor Treatment (NSOMT) Evidence-Based Practice: The Triad Model. Contemporary Issues in Communication Science Disorders, 43(Sprin. , 139Ae153. https://doi. org/10. 1044/cicsd_43_s_1 Ruscello. Non-speech oral motor treatment for children with Language. Speech, and Hearing Services in Schools, 39, 380Ae391. https://doi. org/10. 1002/14651858. Thomas. , & Kaipa. The use of non-speech oral-motor exercises among Indian speechlanguage pathologists to treat speech disorders: An online survey. The South African Journal Communication Disorders, 62. , 1Ae https://doi. org/10. 4102/sajcd. Thome. Loveall. , & Henderson. A Survey of Speech-Language PathologistsAo Understanding and Reported Use of Evidence-Based Practice. Perspectives of the ASHA Special Interest Groups, 5. , 984Ae999. https://doi. org/10. 1044/2020_persp20-00008 Togher. Yiannoukas. Lincoln. Power. Munro. Cabe. Ghosh. Worrall. Ward. Ferguson. Harrison. , & Douglas. Evidence-based speech-language pathology curricula: A scoping study Evidence-based practice in speechlanguage pathology curricula : A scoping study. International Journal of Speech-Language Pathology, 13. , 459Ae468. https://doi. org/10. 3109/17549507. Turner. Developing evidencebased clinical practice guidelines in hospitals in Australia. Indonesia. Malaysia, the Philippines and Thailand: Values, requirements and BMC Health Services Research, 9. , https://doi. org/10. 1186/1472-6963-9235