Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Research Article Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan OrientalistsAo Criticism in the Ontological Aspect of Qur'anic Studies Muttaqin1 & Moh. Agung Fambudi2 Universitas Darussalam Gontor Ponorogo. Indonesia muttaqin@unida. Article history: Submitted: 18 Sep 2022 Accepted: 22 Nov 2022 Published: 14 Dec 2022 Abstract: This article analyzes the Orientalists who study the Qur'an, they are Abraham Geiger. Theodore Noldeke. William Muir, and John Wansbrough. This research uses descriptive analysis methods to find out how Orientalists view and think about the Qur'an. The main data is collected from books related to Orientalist thought as well as from scientific journals. The results found several Orientalist views of the Qur'an in the ontological aspect. Geiger argues that the Qur'an is influenced by Judaism which includes: various stories in the QurAoan, morals, and laws, about life, language, and faith. The Prophet Muhammad took a lot of Jewish cultures and integrated them into Islam. Meanwhile. Noldeke alleged that the Qur'an was composed by the Prophet Muhammad and that many of its contents were plagiarized from the Bible. His criticism of the Qur'an can be summarized in two points. First, he stated that the meaning of the ummiy of Rasulullah was not unable to read and write, but the opposite of ahl kitab. Second, according to him, the Qur'an is not a revelation. Muir attempted to rearrange the chronology of the Qur'an from a historical perspective and initiated a chronological theory. Meanwhile. John considers the Qur'an not as a holy book but as a collection of notes on the prophetic concepts of the Arab nation and aims to elevate the status of the Arab nation. Keywords: Abraham Geiger. John Wansbrough. Orientalist. QurAoanic studies. Theodore Noldeke. William Muir. P-ISSN 1907-1191 E-ISSN 2540-9204 A 2022 author. Published by LP2M INSURI Ponorogo, this is an open-access article under the CC-BY-SA license. DOI: https://doi. org/10. 37680/adabiya. Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi Pendahuluan Bagi kaum Muslim. Al-QurAoan merupakan kitab suci, petunjuk . dan sumber utama bagi peradaban Islam,1 karena Al-QurAoan sendiri merupakan verbum dei . yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi terakhir. Proses turunnya membutuhkan waktu lebih kurang 23 tahun yang terjadi secara berangsur-angsur sebagai bentuk respon terhadap problem-problem sosial masyarakat Arab saat itu. 2 Bukan hanya waktu yang lama, metode penyampaiannya juga tidak mudah, sehingga Nabi Muhammad saw. merasakan kesulitan saat menerima wahyu. Salah satu pendapat menyebutkan bahwa terdapat dua jenis metode penyampaian wahyu. Pertama. Jibril menyamar dan mengeluarkan suara yang menggelegar, sehingga memengaruhi kesadaran Nabi. Kedua. Jibril menjelma sebagai seorang lelaki, sehingga Nabi Muhammad saw. sangat mudah ketika menerima wahyu. Al-QurAoan yang diakui sebagai kitab suci Agama Islam ternyata telah dikaji dengan berbagai metode dan juga menghadirkan beraneka ragam gaya pengajarannya. Tidak heran jika munculnya para pengkaji Al-QurAoan dari kalangan umat Islam kontemporer seperti. Quraish Shihab. Ashgar Ali Engineer. Fazlur Rahman, dan lainnya. Bahkan dunia Barat tidak mau ketinggalan, banyak saintis yang tertarik mengkaji Al-QurAoan. Beberapa di antaranya Arthur John Arberry. Richard Martin. John Wansbrough. Andrew Rippin. Jane Dammen McAuliffe, dan masih banyak lagi. Tidak sedikit dari hasil kajian mereka dijadikan makalah ilmiah, dibukukan dan diterbitkan di berbagai jurnal internasional dengan tujuan agar mempermudah masyarakat dalam mengakses hasil pemikiran mereka dalam menafsirkan Al-QurAoan yang pada faktanya bukan kitab suci agama mereka sendiri. Hasil kajian dari nonmuslim ini menarik diperhatikan, menimbulkan tanda tanya, apakah sudah sesuai dengan aturan-aturan dalam mengkaji Al-QurAoan sebagaimana yang dipraktikkan para ulama Muslim dalam menguasai ilmu-ilmu bahasa Arab, atau hanya sebatas menggunakan metode-metode kajian ilmiah yang beberapa di antaranya belum tentu cocok untuk diterapkan dalam mengkaji Al-QurAoan seperti menggunakan pendekatan Hermeneutika. Abdurrahman Hakim. AuTafsir Al-QurAoan Dengan Al-QurAoan: Studi Analisis-Kritis dalam Lintas Sejarah,Ay Misykat 2, no. Tidak hanya itu. Al-Qur'an juga menjadi sumber intelektual dan spiritual bagi Muslim, kehadirannya membawa evolusi dalam pembentukan sains Islam. Lihat: Zetty Nurzuliana Rashed, dkk. AuPeranan AlQuran Sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan Dan Hubungannya Dengan Sains,Ay Proceeding of 5th International Conference on Islamic Education 2016 (ICIEd 2. Institut Pendidikan Guru Kampus Tun Abdul Razak. Kota Samarahan. Sarawak. Irma Riyani. AuMenelusuri Latar Historis Turunnya al-Quran dan Proses Pembentukan Tatanan Masyarakat,Ay Al-Bayan: Jurnal Studi Al-QurAoan dan Tafsir 1, no. Turunnya Al-Qur'an berfungsi untuk meluruskan patologi sosial bangsa Arab juga sebagai kitab petunjuk bagi seluruh manusia. Tata nilai kehidupan yang dibawa alQur'an selanjutnya mampu mengubah tatanan kehidupan bangsa Arab yang saat itu dalam kondisi sangat parah. Muhammad Yoga Firdaus. AuDiskursus Al-QurAoan dan Prosesi Pewahyuan,Ay Madania: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislamaan 12, no. : 3. Nur Fuadi Rahman. AuHermeneutika Al-QurAoan,Ay Jurnal Transformatif (Islamic Studie. 1, no. Setidaknya ada dua alasan utama mengapa hermeneutika tidak cocok diterapkan pada Al-QurAoan. Pertama, karena pakar hermeneutika mengatakan Al-QurAoan merupakan produk budaya, dimana hal ini akan membuat posisi kebenaran Al-QurAoan dipertanyakan. Kedua, secara historis hermeneutika digunakan untuk penafsiran Bible, sehingga kurang tepat jika digunakan untuk Al-QurAoan. Namun itu, ada juga kelompok yang pro terhadap penggunaan hermeneutika dalam mengkaji Al-QurAoan. Hermeneutika sendiri merupakan disiplin ilmu yang berkaitan dengan interpretasi teks dan makna yang terkandung di dalamnya. Dalam memahami Al-QurAoan, terdapat beberapa pendekatan hermeneutika yang digunakan. Terdapat tiga model dalam teori Hermeneutika. Model pertama adalah Hermeneutika objektif, yang berfokus pada pemahaman makna teks sebagaimana yang hendak disampaikan oleh Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Orientalisme sendiri merupakan suatu disiplin ilmu yang fokus mengkaji dunia Timur atau disebut juga ilmu tentang ketimuran. 5 Secara umum istilah Orientalis bermakna seluruh saintis Barat yang mendalami pengetahuan dunia Timur, yang meliputi sastra, bahasa, agama, dan juga Menurut Thaha Hubaysyi yang dikutip oleh Syukri Al Fauzi Harlis Yurnalis, pergerakan Orientalis itu bisa dirangkum sebagai berikut. menguasai bahasa Arab, mengambil manuskrip dari Islam dan menggunakannya untuk keperluan mereka, kajian mereka berupaya menghilangkan nilai-nilai positif dari Islam, mencari titik kelemahan dan celah dari Islam, mengubah sejarah sehingga generasi Muslim tidak paham sejarah dirinya sendiri, politik pecah belah dengan menimbulkan fanatisme golongan dan sekte, program Islamophobia serta penerapan hukum yang tidak bersumber dari Islam. 6 Maka tidak heran jika tradisi mengkaji Timur dari aspek Barat ini menimbulkan hasil dipaksakan, sehingga menjadi kajian yang tidak objektif dan bahkan hal baru yang terlihat sebagai adopsian. Banyak kajian mereka yang tidak sesuai dengan konteks ilmu yang mereka kaji seperti halnya dalam menafsirkan Al-QurAoan. Klaim Orientalis bahwa kajian mereka lebih luas dalam cakupan ilmu dan ruang studinya membuat mereka besar kepala dan menolak kajian studi lainnya yang sudah lama dihadirkan oleh para penafsir Al-QurAoan terdahulu. Namun demikian, kemunculan para pengkaji Al-QurAoan dari Barat tidak membuat ulama tinggal diam. Mereka bangkit untuk mengkritisi kembali pola pemikiran dan framework Orientalis yang mengkaji dunia Timur yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka lahirkan. 7 Terdapat juga hasil kerja Orientalis yang memberikan dampak positif bagi perkembangan keilmuan Islam, seperti Arent Jan Wensinck dalam bidang takhrij hadis. Munculnya Orientalis masih memberikan sedikit sisi positif bagi Islam. 9 Ilmu-ilmu dalam Islam teruji untuk menahan kritis dari pihak luar, sehingga mengalami perkembangan yang baik bagi pihak Muslim. 10 Namun, masalahnya terlihat saat para pengkaji ilmu Timur menggunakan konsep atau framework mereka sendiri dan menolak sudut pandang orang lain, terutama sudut pandang Islam. Suatu ilmu jika dikaji dengan disiplin ilmu yang berbeda akan menghasilkan pengarang melalui teks. Model kedua adalah Hermeneutika subjektif, yang berusaha memahami makna teks itu sendiri secara mandiri, tanpa terpengaruh oleh konteks masa lalu atau ide pengarang. Model ketiga adalah Hermeneutika pembebasan, yang menekankan pada pemahaman subjektif terhadap teks agar dapat memberikan penafsiran yang fungsional. Selain itu, terdapat juga pendekatan Hermeneutika otoriter yang bersifat subjektif dan Arip Purkon. AuPendekatan Hermeneutika Dalam Kajian Hukum Islam,Ay Ahkam 13, no. : 186Ae87. Juga: Muhammad Iqbal Suma. AuHermeneutika Al-QurAoanAy, link: https://w. com/post/hermeneutika-alqurAo Saifullah. AuOrientalisme dan Implikasi Kepada Dunia Islam,Ay Jurnal Mudarrisuna 10, no. Syukri Al Fauzi Harlis Yurnalis. AuStudi Orientalis Terhadap Islam: Dorongan dan Tujuan,Ay Jurnal Al Aqidah 11, no. Yusuf Rahman. AuTrend Kajian Al-QurAoan di Dunia Barat,Ay Studia Insania 1, no. Yudi Setiadi. AuKontribusi Arent Jan Wensinck Dalam Ilmu Takhrj Hadis,Ay Journal of QurAoan and Hadith Studie 8, no. Dalam hal ini. Wensinck berhasil menyusun kitab al-MuAojam al-Mufahras li AlfAzh al-Hadth al-Nabaw dan A Hand book of Early Muhammadan Tradition/miftAh kunz al-sunnah. Kedua karyanya tersebut Islam dalam mencari Hadis. Buku pertama ditulis dengan menggunakan metode kata, sementara yang kedua ditulis menggunakan metode tema. Evayatun Nima. AuPengaruh Orientalisme dalam Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay Majalah Ilmiah Tabuah. Nawawi. AuParadigma Orientalis terhadap Islam: antara Subyektif dan Obyektif,Ay Istidlal: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam 4 . Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi paham keilmuan yang berbeda. Fakta ini yang dikhawatirkan kaum Muslim, bahwa paham agama yang selama ini telah diajarkan Nabi Muhammad saw. dan ditetapkan oleh Allah Swt. disalahpahamkan oleh beberapa Orientalis. Lebih dari itu, mereka juga menyebarluaskan konsep pola pandangan mereka kepada kalangan Muslim tanpa proses penyaringan (Islamisas. Untuk itu, melalui penelitian ini penulis berusaha melihat bagaimana framework Barat dalam menafsirkan Al-QurAoan, sehingga diharapkan pembaca dapat menemukan bagaimana metode mereka dalam melakukan penelitian terhadap Islam. Penelitian ini juga bertujuan agar kajian Barat tidak menjadi letak kelemahan keilmuan Islam, karena dengan mengkaji paham yang mereka anut, seorang Muslim bisa menemukan berbagai kesalahan untuk disesuaikan kembali dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan di mana data utama diambil dari buku-buku yang berkaitan dengan pemikiran Orientalis dalam studi Al-QurAoan dan artikel jurnal ilmiah. antara buku-buku tersebut adalah QurAoanic Studies: Source and Methods of Scriptural Interpretation. Was Hat Mohammed aus dem Judentume Aufgenommen?. The Quran: Its Composition and Teaching. and The Testimony it Bears to The Holy Scriptures. Geschichte des Qorans. Sketches from Eastern History. The History of the QurAoan. Islam dan Orientalisme: Suatu Kajian Analitik, dan The QurAoan and Orientalist. Orientalism. Selain itu, ditambah juga dengan beberapa artikel dari jurnal ilmiah yang membahas tema terkait. Sementara metode analisis deskriptif digunakan untuk menggambarkan bagaimana pandangan dan pemikiran Orientalis terhadap Al-QurAoan yang kemudian dilakukan analisis berdasarkan data dari hasil penelitian sebelumnya. Sejarah Munculnya Gerakan Orientalisme Munculnya gerakan Orientalisme di mulai pada awal abad ke-13. Bertepatan dengan terbitnya ketetapan . Gereja Viena. Tujuan diadakan ketetapan ini untuk membangun sebuah lembaga penelitian Bahasa Arab di berbagai universitas Eropa. Pada saat inilah kebanyakan ahli sejarah menyepakati awal mula munculnya Orientalisme. Namun ada juga yang berpendapat secara umum kemunculannya disebabkan karena perang antara Barat dan Timur dikarenakan banyaknya perbedaan dalam ideologi dan agama. Abdul Majid. AuIslamisasi Ilmu Dan Relevansi Sains-Agama Dalam Al-QurAoan Dan Hadis,Ay Al-MuAoashirah 15, no. Sebagaimana yang dilakukan oleh Beberapa pemikir Islam yang mencoba menyusun ragam cara alternatif untuk melawan desekularisasi ilmu pengetahuan, salah satunya ide Islamisasi ilmu pengetahuan Siti Magfirah Nasir. AuSejarah Perkembangan Orientalisme,Ay Al-Mutsla: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman dan Kemasyarakatan 3, no. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Dikutip dari buku Islam dan Orientalisme karya Maryam Jamilah,13 misionaris Kristen memiliki berbagai agenda yang seringkali berubah-ubah. Salah satu tujuan gerakan mereka adalah imperialisme Perancis dan Inggris. Gerakan ini dimulai dari pergeseran persoalan keagamaan sampai kepada persoalan duniawi, sehingga mereka yang hidup di zaman ini akan merasa bingung dengan perubahan dari arah gerakan misionaris Kristen yang sering kali bercampur aduk. Pada abad ke-18 barulah muncul gerakan pengkajian keilmuan Timur . riental studie. atau disebut orientalisme baru. Gerakan ini merupakan suatu aktivitas kajian yang pada awalnya hanya mengkaji Bahasa Arab dan sastra-sastra Arab, kemudian mengkaji kultural Islam. Arthur John Arberry pernah menjelaskan dari hasil penelitiannya pada 1955, bahwa penggunaan istilah Orientalis digunakan oleh seorang anggota gereja Timur disaat membahas permasalahan Barat. Awalnya Orientalis hanya dianggap sebagai orang yang mampu mendalami bahasa dan ilmu sastra di dunia Timur. Seiring perkembangan istilah Orientalis kemudian dinisbatkan kepada orang Barat yang melakukan penelitian atau studi kepada berbagai disiplin ilmu Timur, baik dari segi bahasa, agama, sejarah, hingga masalah kultural Timur itu sendiri. Sampai saat ini Orientalis melahirkan sebuah framework atau disiplin ilmu sendiri. Bahkan mereka juga mendirikan tempat-tempat studi ketimuran di Eropa, seperti di Paris. Leiden. London, dan di berbagai tempat lainnya. Tempat studi ini lantas melahirkan bidang-bidang khusus yang mempelajari berbagai bahasa negeri di Timur terutama Islam, seperti bahasa Persia. Turki. Arab juga Urdu. 15 Kajian Orientalis kemudian menjadi kajian yang menarik banyak pihak dikarenakan keberagamannya tidak terikat pada satu hal saja. Sejak saat itu mulailah beberapa lembaga Orientalis aktif dalam mengkaji keilmuan Timur. Mempelajari Bahasa Arab, mengkaji kandungan di dalam Al-QurAoan, hingga berbagai sastra Arab yang pada saat itu Islam sedang berada pada masa jaya dari segi ilmu pengetahuan. 16 Mereka mengumumkan kehadiran Orientalis ke dunia dengan menerbitkan berbagai majalah-majalah keilmuan yang berisi terjemahan dari manuskrip-manuskrip Arab dan kajian-kajian tentang sastra Arab. Para ahli sejarah banyak yang menyetujui gerakan Orientalis di Eropa setelah adanya fase rekonsiliasi agama. Namun, setelah selesainya fase tersebut, banyak dari kalangan gereja Katolik Mohd Arifullah dan Agus Salim. AuRespons Mahasiswa Muslim terhadap Orientalisme: Studi Kasus Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi,Ay Kontekstualita 28, no. Maryam Jamilah termasuk pemikir yang kritis terhadap Orientalisme. Ia turut mengapresiasi sejumlah pemikir Barat yang berkontribusi dalam kajian Islam. Ulfahadi. Rizki, dan Reynaldi Adi Surya. AuPandangan Orientalis terhadap Sejarah Islam Awal,Ay Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin 4, no. Muhammad Bahar Akkase. AuOrientalis dan Orientalisme Dalam Perspektif Sejarah,Ay Jurnal Ilmu Budaya 4, no. H Muhammad Bahar Akkase Teng. AuOrientalis dan Orientalisme dalam Perspektif Sejarah,Ay Jurnal Ilmu Budaya 4, no. Paulius Bergaudas. AuDigitalization of Knowledge in the Islamic Civilization: A Historical Studies,Ay Journal of Comparative Study of Religions (JCSR) 2, no. Kejayaan Islam tidak diragukan lagi, bahkan sudah terlihat sejak ratusan tahun yang lalu, meskipun saat ini mendapat tantangan terutama di era digitalisasi ilmu Teng. AuOrientalis dan Orientalisme dalam Perspektif Sejarah. Ay Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi maupun Protestan yang mulai belajar menerjemahkan buku-buku dan manuskrip Arab, dengan tujuan agar mampu menerjemahkan kitab suci mereka dan tidak salah dalam memahami dogma Kristen yang sesuai dengan alkitab. Fakta menarik yang muncul di kalangan umat Muslim bahwa Orientalis hadir dengan motif ingin mendominasi pemahaman keagamaan, sehingga menganggap bahwa Islam hadir sebagai Doktrin-doktrin yang dilahirkan dari hasil penelitian mereka pada dasarnya berisikan argumen-argumen yang mencari letak kesalahan Agama Islam, sehingga mereka dapat menyebarluaskan produk misionaris tanpa perlu adanya ancaman dari berbagai pihak. Di balik itu, orientalis juga muncul bersamaan dengan maraknya kepentingan penjajahan orang Eropa terhadap negara-negara Islam di Timur. Disaat itulah mereka menggunakannya untuk mempelajari kultur dan kebiasaan masyarakat Timur. 19Keinginan mereka untuk mendominasi lebih jauh dalam berbagai urusan, baik agama maupun dunia membuat mereka tidak puas ketika ada peradaban yang lebih maju. Penjajahan Barat membuahkan banyak hasil seperti berbagai buku peradaban Timur yang kemudian dibawa dan diklaim menjadi keilmuan Faktor inilah yang membuat Barat termotivasi dan lantas menggalakkan studi Orientalis di berbagai perguruan tinggi. Tokoh-Tokoh Orientalis yang Mengkritik Al-QurAoan Pada bagian ini akan diuraikan beberapa tokoh Orientalis yang mengkaji Al-QurAoan. Tidak sedikit yang mengkritik Al-QurAoan dari segi penulisan sampai kandungan di dalamnya. Mereka yang akan dikaji pemikirannya pada bagian ini adalah Abraham Geiger. Theodore Noldeke. William Muir, dan John Wansbrough. Abraham Geiger merupakan seorang rabi sekaligus sarjana Jerman, ia juga dianggap sebagai bapak pendiri Yudaisme Reformasi. Geiger merupakan salah satu Orientalis yang mencetuskan Teori Pengaruh Yahudi terhadap Al-QurAoan. Dalam bukunya Judaism and Islam ia menyatakan beberapa hal yang memengaruhi Al-QurAoan dari agama Yahudi, berbagai kisah dalam Al-QurAoan, moral dan hukum, tentang kehidupan, bahasa, dan keimanan. Dikutip dari pengantar bukunya yang berjudul Was hat Muhammed aus dem Judentum atau dalam Bahasa Indonesia berarti Apa yang dimiliki Muhammad dari Yudaisme? Geiger menyatakan: AuTentunya tema dari penelitian ini sudah dikenal dan juga diketahui bahwa Muhammad dalam Al-QurAoan banyak sekali mengambil beberapa hal dari Yahudi, meski untuk pengambilannya tersebut tidak banyak memiliki dasar argumen yang jelas. Ay Hasani Ahmad Said. AuPotret Studi Alquran Di Mata Orientalis,Ay Jurnal At-Tibyan 3, no. Agustiar. AuOrientalis dan Peranannya dalam Mempelajari Bahasa Arab,Ay POTENSIA: Jurnal Kependidikan Islam 1, no. Bahkan dari awal diturunkan, tantangan seperti ini sudah terjadi. Orang-orang kafir Quraiys sangat khawatir akan pengaruh bacaan Qur'an yang dilantunkan Nabi Muhammad saw. Lihat: Muhammad Nasrulloh. Peristiwa Dibalik Turunnya Al-QurAoan: Fakta Sejarah Pengantar Turunnya Ayat-Ayat Al-Quran, (Aghitsna Publiser, 2. Wendi Parwanto. AuPemikiran Abraham Geiger tentang Al-QurAoan (Studi atas Akulturasi Linguistik. Doktrin, dan Kisah dalam Al-QurAoan dari Tradisi Yahud. ,Ay Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin 18, no. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Kutipan di atas menjadi landasan dasar Geiger dalam mengkritik Al-QurAoan. Bahkan dari beberapa hasil investigasinya menyatakan bahwa Muhammad banyak mengambil kultur Yahudi dan memasukkannya ke dalam Islam. Bahkan dalam buku tersebut Geiger melontarkan berbagai macam pertanyaan seperti. Apakah memang Muhammad pada dasarnya ingin mengambil dari Yahudi? Jika memang iya, bagaimana caranya mengambil dan memadukannya dengan ajaran Islam? Apa tujuan akhir Muhammad mengambil dan memadukan kedua ajaran tersebut? Kritikan ini dibuktikan oleh Geiger dalam tulisannya bahwa terdapat dua fakta yang perlu digaris bawahi. Pertama, fakta bahwa Islam selalu memadukan unsur-unsur dari agama lain. Geiger berasumsi bahwa Islam memang dari awal ingin menggabungkan berbagai unsur karena budaya keterbukaan yang dibawa Islam pada saat itu. Kedua, unsur-unsur agama yang dipadukan berasal dari Agama Yahudi, bukan dari Kristen maupun Arab Kuno. Namun, dalam perspektif Muslim, pemikiran tersebut jelas-jelas tidak tepat. Al-QurAoan merupakan murni dari perkataan Allah Swt. yang disampaikan kepada Nabi-Nya melalui perantara malaikat Jibril. Adanya akulturasi budaya. Bahasa, dan tradisi dari agama lain pada saat Al-QurAoan diturunkan memang tidak bisa ditolak. Karena Islam datang dalam kondisi masyarakat Quraisy yang sudah majemuk dan berkebudayaan. Namun, hal itu tidak menjadi alasan untuk menyatakan Al-QurAoan menduplikasi dan tidak autentik, sebab kedatangan Islam dengan AlQurAoan sebagai pedomannya bertujuan untuk melengkapi ajaran-ajaran terdahulu. 23 Islam juga tidak meminjam atau menduplikasi dari agama-agama sebelumnya. Sebagaimana dijelaskan Maryam Jamilah, salah satu Orientalis yang pro terhadap kewahyuan Nabi Muhammad. Persinggungan Geiger dengan dunia Timur dituangkan dalam karya "Was hat Mohammed aus dem Judenthume aufgenommen?" Selebihnya ia lebih fokus pada Agama Yahudi. Namun demikian, karya yang menjadi magnum opus itu menjuarai lomba essai yang kemudian mempopulerkan namanya sebagai ahli ketimuran (Orientali. Tulisan itu juga mengantarkannya meraih gelar Doktor di University of Marburg. 25 Geiger sendiri lahir pada tanggal 24 Mei 1810 dan meninggal pada tanggal 23 Oktober 1874. Orientalis berikutnya adalah Theodore Noldeke. Beliau merupakan seorang pendeta Jerman yang mendukung pemikiran Geiger. Bahkan termasuk Orientalis yang mengembangkan berbagai pemikiran Geiger. Metode yang ia gunakan untuk mengkaji Al-QurAoan juga hampir sama dengan metode yang digunakan Geiger. Noldeke mengatakan: AuKami hanya membutuhkan contoh, klasifikasi dan diskusi lengkap tentang semua elemen Yahudi yang ada di dalam al-Quran. Abraham Geiger. Was Hat Mohammed aus dem Judentume Aufgenommen? Bonn: Gedruckt auf kosten des verfassers bei F (Baaden, 1. Parwanto. AuPemikiran Abraham Geiger tentang Al-QurAoan (Studi atas Akulturasi Linguistik. Doktrin, dan Kisah dalam Al-QurAoan dari Tradisi Yahud. Ay Budi Sujati. AuKewahyuan Nabi Muhammad Dalam Pandangan Orientalis,Ay Tamaddun 6, no. Maryam Jamilah yang Bernama asli Margaret Marcus membantah sejumlah pendapat Orientalis seperti tulisan Philips K Hitti dalam Islam and the West. Dr. Kenneth Cragg. Herman Cohen yang mengatakan Islam adalah versi Yahudi dan telah mengalami distorsi. Parwanto. AuPemikiran Abraham Geiger tentang Al-QurAoan (Studi atas Akulturasi Linguistik. Doktrin, dan Kisah dalam Al-QurAoan dari Tradisi Yahud. Ay AuBiography,Ay diakses 1 April 2023, https://w. com/biography/Abraham-Geiger. Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi Karena semua ini sudah tertulis dalam permulaan dalam tulisan Geiger buku Apa yang dimiliki Muhammad dari Yudaisme?Ay27 Noldeke menggunakan Bibel sebagai tolok ukur untuk penilaiannya dalam mengkaji AlQurAoan. Bahkan Noldeke menuduh bahwa Al-QurAoan merupakan karangan Nabi Muhammad saw. Isi di dalam Al-QurAoan banyak yang menjiplak dari isi Bibel itu sendiri, seperti kalimat Aula ilaha illa AllahAy merupakan kalimat yang dikutip Muhammad dari Bibble kitab Samuel II, 32:22, bacaan AubismillahAy merupakan bacaan yang sering digunakan orang Yahudi dan Nasrani dalam mengawali ibadah mereka. Selain itu, kritik Noldeke terhadap al-Qur'an juga berkaitan dengan sosok Nabi Muhammad saw yang ummiy . uta huru. Dalam bukunya Geschichte Des Qorans dan The History Of The QurAoan. Noldeke mengatakan jika Nabi Muhammad saw yang ummiy bukan berarti beliau tidak bisa membaca dan menulis sama sekali, namun Nabi Muhammad saw memiliki kemampuan membaca dan menulis dengan kategori sangat lemah, bagi Noldeke maksud kata ummiy disini lebih kepada kebalikan dari ahl kitab, atau orang yang paham isi al-Kitab. 29 Demikianlah kritik Theodore terhadap keaslian Al-QurAoan yang menganggap sebagai karangan Nabi Muhammad. Dilihat dari segi teologis sudah jelas Al-QurAoan bukan merupakan karangan Nabi Muhammad. Namun, untuk menyatakan kesalahan Noldeke dalam mengkritik tidak dibutuhkan dari segi ini, tetapi bisa dilihat dari segi empiris. Nabi Muhammad saw. merupakan orang yang buta huruf . ,30bahkan yatim piatu. , sehingga tentunya memunculkan pertanyaan bagaimana seseorang yang buta huruf mampu menciptakan Al-QurAoan yang mana banyak kejadian belakangan ini sudah tertulis di dalamnya, tetapi dapat dibuktikan oleh sains modern. Jawaban paling rasional adalah Al-QurAoan bukan dari Nabi Muhammad, tetapi dari Tuhan Sang Pencipta yang diwahyukan kepada beliau. Karena sifat-sifatnya yang mulia . hiddiq, amanah, tabligh, fathona. maka beliau mampu menerima titah Tuhan itu. Inilah hikmah dari diturunkannya Al-QurAoan kepada Nabi Muhammad saw. Noldeke lahir pada 2 Maret 1836 di Harburg dan meninggal pada 25 Desember 1930. Noldeke dikenal sebagai seorang Orientalis Jerman yang paling panjang umurnya, 94 tahun. Sepanjang hidupnya. Noldeke memfokuskan penelitian pada kajian ketimuran. Pada tahun 1853, ia diterima sebagai mahasiswa di Universitas Gottingen dan memusatkan studinya pada bidang Bahasa Semit, seperti Arab. Ibrani, dan Suryani. Tahun 1856. Noldeke meraih gelar doktornya setelah menulis sebuah disertasi dalam bahasa Latin tentang Sejarah Al-QurAoan. Dia melanjutkan penelitiannya di bidang dunia Timur di Leiden pada 1857 hingga 1858 untuk mempelajari berbagai manuskrip Arab. Setelah itu, ia pergi ke Berlin pada September 1860 untuk meneliti beberapa manuskrip Bahasa Turki. Tahun 1858. Noldeke dianugerahi penghargaan Academie des Theodore Nyldeke. Sketches from Eastern History. Terj. John Sutherland Black (London: Darf Publishers Limited, 1. Theodore Nyldeke. The History of the QurAoan. Terj. Wolfgang Behn (Leiden Boston: Brill, 2. Rochmah Nur Azizah. AuAnalisis Wacana Kritis Konsep Plagiator dan Buta Huruf Nabi Muhammad saw dalam Geschichte Des Qoran Karya Theodore Noldeke,Ay Jurnal Mafatih: Jurnal Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir 2, no. Irpina. AuJamAoul QurAoan Masa Nabi Muhammad SAW,Ay MUSHAF JOURNAL: Jurnal Ilmu Al Quran dan Hadis 2, no. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Inscription et Belles-Lettres di Prancis atas karyanya tentang sejarah Al-QurAoan. Karyanya kemudian diterbitkan dengan judul Geschichte des Qorans di kota Gyttingen. Orientalis berikutnya adalah William Muir. 32 William merupakan Orientalis yang hidup setelah Geiger dan Theodore. Peran Muir sebagai Orientalis yang mengkaji Al-QurAoan ternyata memberikan banyak pengaruh khususnya dalam perkembangan keilmuan di Barat. Banyak cendekiawan Barat yang kemudian melahirkan buku-buku dari hasil pemikiran Muir. Salah satunya adalah The Origin of Islam karya Richard BellAos yang membahas asal-usul Agama Islam dari perspektif Orientalis. Orientalis asal Skotlandia ini berupaya menyusun kembali kronologi Al-QurAoan melalui perspektif sejarah. Sebagaimana idenya yang dimuat dalam karyanya AuLife of MahometAy tentang biografi Nabi Muhammad saw. Ia menggagas teori kronologi. 33Selain pendekatan sejarah. Muir turut melacak tema-tema besar dalam surat-surat Al-QurAoan dan mengklasifikasikan surah-surah pendek (Al-Mufaa. ke dalam periode permulaan. Menurut Muir. Agama Islam yang mengadopsi berbagai ajaran dari Yahudi merupakan hal yang biasa karena mereka sudah lama tinggal di tempat yang sama, yaitu Madinah dan Ukaz pada saat itu. Oleh sebab itu, banyak pengikut Islam yang melihat langsung budaya Yahudi dan kemudian ajaran ini diadopsi ke dalam ajaran Islam. Muir juga menjelaskan bahwa sejak kecil Muhammad sering berdagang ke Syiria dan sering menjumpai masyarakat Yahudi. Hal ini bisa menjadi salah satu faktor penyebab Islam mengadopsi beberapa ajaran Yahudi. Namun, pada kenyataannya fakta ini tidak tepat. Islam yang lahir di Arab memang sudah lama berdampingan pada kaum Quraisy maupun Yahudi, tetapi bukan berarti Islam mengadopsi ajaran-ajaran yang mereka saksikan di dalam kehidupan sehari-hari. Dalam Al-QurAoan sudah dijelaskan mengenai konsep kehidupan sehari-hari, sehingga tidak perlu lagi mengadopsi ajaran dari agama lain. Bahkan Islam juga selalu memerhatikan hal-hal kecil dalam ajarannya. Oleh karena itu, argumen tersebut hanyalah pembenaran untuk menemukan titik kelemahan Agama Islam. Naufal Cholily. AuKritik Atas Pandangan Theodor Noldeke Tentang Al-Huryf Al-MuqattaAoah Dalam AlQurAoan,Ay Mutawatir: Jurnal Keilmuan Tafsir Hadis 4, no. Muir memiliki beberapa karya yang dijadikan sebagai rujukan Orientalis lainnya. Di antara karya tersebut A life of Mohamet and history of Islam to the era of the hegira. The Koran: its composition and teaching serta The Mohammedan Controversy. Tidak sedikit dari Orientalis itu memuji buku-buku Muir sebagai karya yang luar biasa dimana Muir dianggap telah menghidupkan kembali teori lama Kristen. William Muir. The Coran: Its Composition and Teaching. and The Testimony it Bears to The Holy Scriptures (London: Wyman and Sons Printers, 1. Teori yang digagas Muir ini dibagi menjadi 6 periodesasi, pertama terdiri dari 18 surat yang ia sebut sebagai surat-surat penggembira atau rapsodi, merupakan surat-surat yang dianggap kedalam kelompok surat sebelum masa kenabian Rasulullah saw. Kedua terdiri dari 4 surat dianggap sebagai surat-surat pembuka kenabian Rasulullah saw. Ketiga merupakan kelompok surat permulaan kenabian Rasulullah saw hingga beliau hijrah ke Habasyah. Kelompok surat ini menjelaskan surga dan neraka serta perintah meningkatkan perlawanan terhadap kaum Quraisy. Surat-surat ini juga mengandung nilai-nilai kebangkitan dan terdiri dari 19 surat. Periode keempat Muir memasukkan 22 surat yang mulai menyebutkan dongeng Arab dan cerita mengenai Yahudi. Sementara periode kelima dimulai pada tahun ke lima dari kenabian hingga sebelum hijrah ke Madinah. Periode ini disebut juga sebagai penghapusan larangan terdiri dari 30 surat. Periode keenam atau periode Madinah, dikatakan demikian karena semua suratnya turun setelah hijrahnya Rasulullah saw, dan terdiri dari 21 surat. Ali Fitriana Rahmat. AuMenimbang Teori Kronologi Al-QurAoan Sir William Muir dan Hubbert Grimme,Ay AlFanar: Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 3, no. Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi Orientalis berikutnya adalah John Wansbrough. John merupakan seorang warga London yang terkenal sebagai ahli tafsir dan sering dipanggil John. Ia lulusan dari Universitas Harvard,35 dan merupakan salah satu dari Orientalis yang sangat keras dalam mengkritik Nabi Muhammad John memiliki beberapa gagasan baru yang berbeda dengan beberapa tokoh Orientalis Menurutnya, kenabian Nabi Muhammad saw. merupakan tiruan dari bentuk Nabi Musa a. karena kebutuhan teologis bangsa Arab pada zaman itu. Bahkan Al-QurAoan juga dianggap bukan sebagai kitab suci melainkan kumpulan catatan konsep kenabian bangsa Arab. John melahirkan banyak karya. AuThe Sectarian Milieu: Content and Composition of Islamic Salvation History. Source and Methods of Scriptural Interpretation. Quranic Studies: A Note on Arabic Rhetoric Arabic Rhetoric and QurAoanic Exegesis. Majas Al-QurAoan: Periphrastic Exegesis. Ay Menurut John, isi-isi Al-QurAoan pada dasarnya bertujuan untuk menaikkan derajat bangsa Arab dengan menjadikan Al-QurAoan sebagai kitab suci mereka. Dengan kemutlakan ini mereka beranggapan bahwa derajat mereka akan naik jika dipandang oleh bangsa lainnya. John juga menjelaskan bahwa beberapa fenomena Al-QurAoan terkesan fiktif, seperti kejadian dalam Surat IsraAo MiAoraj. Baginya ayat ini merupakan ayat yang menjelaskan perjalanan Nabi Musa, tetapi dimodifikasi oleh bangsa Arab untuk menisbatkan pemberangkatan Muhammad itu sendiri. John Wansbrough lahir pada 1928 dan meninggal pada 2002. Karier akademik John Wansbrough dimulai pada tahun 1960 sebagai staf pengajar di Departemen Sejarah di SOAS University of London. Selanjutnya, dia menjadi dosen Bahasa Arab di bawah naungan Departemen Sastra Timur. John Wansbrough dikenal sangat ahli dalam mempelajari Al-QurAoan dan topik yang terkait di dalamnya. Namun, sedikit yang diketahui tentang kehidupan pribadinya dan aktivitas akademiknya di SOAS University of London. Baginya. Al-QurAoan bukan sumber biografi Muhammad melainkan konsep teologis tentang kenabian dalam Islam. Oleh karena itu, pandangannya sering bertentangan dengan orientalis Barat dan umat Islam. Sebagai umat Muslim yang taat tentu memercayai dengan kebenaran dalam Al-QurAoan. Walaupun berkali-kali banyak penafsir Al-QurAoan yang menjelaskan bahwa beberapa ayat dalam Al-QurAoan memang tidak semuanya benar secara akal manusia. Oleh karena itu, dalam Islam ada ilmu metafisik. Bagi mereka ilmu metafisik tidak dapat disebut sebagai sebuah kajian ilmu karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Inilah yang membuat mereka susah dalam mencerna makna asli dalam Al-QurAoan. Bahkan pernyataan tentang bangsa Arab yang memodifikasi Al-QurAoan saja sudah tidak benar, dikarenakan kehidupan bangsa Arab pada zaman itu tidak mencerminkan sebuah peradaban sebagaimana yang dideskripsikan dalam Al-QurAoan, sehingga tidak mungkin mereka memodifikasi Al-QurAoan yang isinya sangat agung. Potret Studi Al-QurAoan di Mata Orientalis Ulfiana. AuOtentisitas Al-QurAoan Perspektif John Wansbrough,Ay Ushuluna: Jurnal Ilmu Ushuluddin 5, no. John Wanbrough. QurAoanic Studies: Source and Methods of Scriptual Interpretation (Oxford: Oxford University Press, 1. Ulfiana. AuOtentisitas Al-QurAoan Perspektif John Wansbrough. Ay Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Barat yang mulai masuk dalam bidang studi ketimuran tertarik dengan kajian kitab suci Islam yaitu Al-QurAoan. Kajian Barat terhadap Al-QurAoan selalu menarik untuk dijadikan bahan diskusi, bahkan masalah ini sudah sering diangkat sebagai tema diskusi di berbagai perguruan tinggi khususnya di Indonesia. Dalam Al-QurAoan sudah jelas dinyatakan tentang keaslian dan keotentikannya, sehingga terhindar dari keraguan hingga akhir zaman. Di satu sisi, kalangan sarjana Barat yang mengkaji kitab suci menyatakan bahwa Al-QurAoan adalah salah satu kitab suci yang budaya keagamaannya dapat dimengerti dengan mudah. Fenomena yang terdapat di dalam Al-QurAoan bagi mereka merupakan sebuah fenomena baru, karena selama mereka mengkaji kitab Bible, dan lain sebagainya kejadian-kejadian di dalamnya hanya demi kepentingan agama. Sementara Al-QurAoan hadir memberikan kepentingan kepada masyarakat. Orientalis yang mengkaji Al-QurAoan memang pada dasarnya menggunakan berbagai macam metode yang mereka kuasai dan terkadang tidak sesuai dengan Agama Islam, sehingga tidak sedikit makna di dalam Al-QurAoan yang kemudian disalah artikan oleh Orientalis. Namun, bukan berarti tidak menemukan kebenaran di dalamnya. Banyak juga pengkaji Al-QurAoan yang kemudian mendapatkan hikmah dari Allah Swt. , seperti kisahnya Fazlur Rahman cendekiawan Muslim Pakistan yang berdebat dengan seorang Orientalis di bidang pengkaji Al-QurAoan. Orientalis yang pada awalnya selalu mempertanyakan keaslian Al-QurAoan baik itu dari tulisan maupun asal usulnya. Namun, setelah mendengar penjelasan Fazlur Rahman maka berceritalah sang Orientalis itu tentang bagaimana Barat selalu mencari pintu untuk mencemarkan kemurnian Al-QurAoan, salah satu caranya adalah dengan menghujat dan meragukan keotentikan Al-QurAoan. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini, banyak Orientalis yang muncul mirip seperti fenomena di atas. Ada yang membawa nama lembaga, ada juga yang membawa nama perorangan. Hal ini didukung dengan perkembangan pemikiran yang beragam belakangan ini, khususnya di Barat. Seperti kemunculan beberapa tokoh yang telah disebutkan sebelumnya. Banyak para pemikir Orientalis yang sudah mengkaji dan mengkritisi Al-QurAoan bahkan dari bahasanya saja. Geiger mengatakan bahwa Al-QurAoan bukan berasal dari Bahasa Arab melainkan Bahasa Ibrani. Orientalis dan Oksidentalis . engkaji Bara. tidak bisa dipisahkan sejak perkembangan antara kedua agama yaitu Islam dan Kristen. Hal ini diwarnai oleh beberapa peristiwa yang terjadi selama perkembangan mereka, seperti perang salib. Akibat dari peristiwa itu memunculkan polemik otoritas kekuasaan dalam bidang keagamaan. Faktor ini juga yang membuat masyarakat Barat semangat dalam mengkaji ilmu Timur khususnya Agama Islam. Bahkan Barat juga menghasilkan beberapa sarjana Bahasa Arab yang kemudian diarahkan untuk menerjemahkan Al-QurAoan ke dalam bahasa mereka. Untuk memperkuat keilmuannya. Orientalis membangun berbagai lembaga-lembaga pendidikan di Eropa. Kajian mereka meliputi studi budaya, politik, sejarah dan bahasa yang lazim ditemukan di Departemen Pengkajian Kawan Timur Tengah. Beberapa di antaranya adalah. The Institute of Islamic Studies. McGill University. Departemen of Middle East and Islamic Studies University of Toronto dan University of California. Los Angeles. Bahkan pusat kajian semacam ini tidak hanya dibuka di wilayah Barat, mereka juga membuka di negara-negara Muslim seperti. Kritik Orientalis dalam Aspek Ontologis Studi Al-QurAoan Muttaqin & Moh. Agung Fambudi American Research Center di Kairo. American Research Institute di Turki juga American Institute of Iranian Studies di Iran. Ketika munculnya Theodore dan berbagai kalangan angkatannya, mereka menciptakan beberapa teori yang mirip dengan Al-QurAoan. 39 Dalam bukunya menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw. lupa akan wahyu yang sudah disampaikan sebelumnya. Pemahaman ini bahkan dibawa dalam perkuliahan di Universitas Birmingham Inggris. John Burton sebagai angkatan Orientalisnya juga menyatakan bahwa Al-QurAoan sebelumnya merupakan kitab biasa, tetapi setelah meluasnya Islam, mereka membesar-besarkan Al-QurAoan itu sendiri. Terdapat juga beberapa penelitian Theodore yang menganggap bahwa Nabi Muhammad saw. menyampaikan hal yang keliru di dalam Al-QurAoan. Nama-nama yang terkandung di dalam AlQurAoan juga merupakan adopsi dari berbagai nama dari ajaran Yahudi. Pernyataan di atas merupakan sebuah pernyataan kebohongan yang dibuat oleh Theodore. Bagi seorang Muslim akan mempertanyakan bagaimana mungkin seorang Nabi Muhammad saw. yang sudah dibersihkan jiwa dan raganya bisa lupa tentang apa yang diwahyukan kepadanya. Belum lagi, dalam Islam juga dijelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. menerima wahyu langsung dibimbing oleh Jibril, sehingga fenomena lupa akan wahyu sebagaimana yang dituduhkan Orientalis tidak mungkin terjadi. Memang dalam sejarah penulisan Al-QurAoan yang dipimpin pertama kali oleh Zaid bin Tsabit pernah kehilangan dua ayat dari Surat Al-Baqarah, tetapi setelah dicermati akhirnya dapat dikumpulkan kembali. Hal tersebut bukan berarti seorang Muslim harus menghindari para Orientalis dari Barat, karena justru dari mereka seorang Muslim bisa mempelajari banyak hal. Hal itu akan membuka temuan metode dan pergerakan strategi Orientalis dalam menjatuhkan Islam. Strategi mereka dalam menjatuhkan dan menjelekkan nama Islam perlu dikaji terlebih dahulu. Kesalahan mereka dalam mengkaji Islam akan terungkap melalui bagaimana Orientalis memaknai Islam dalam definisi mereka. Namun demikian, ada beberapa hal yang bermanfaat dari pemikiran kaum Orientalis bagi perkembangan Islam. Simpulan Orientalis Barat melirik kajian-kajian terhadap dunia Timur. Fakta ini menunjukkan bahwa Barat mengakui khazanah keilmuan dalam Islam walaupun tidak secara verbal. Terlepas dari tujuan, ada Orientalis yang ingin mencari kebenaran dari ayat-ayat Al-QurAoan, ada juga yang mencari titik kelemahan Islam. Namun, jika mereka mulai menunjukkan usaha ingin merombak ayat-ayat yang tertera dalam Al-QurAoan, disinilah peran Muslim dibutuhkan. Walaupun Allah Swt. menyatakan dalam Al-QurAoan bahwa tidak akan ada yang bisa mengganti atau mengubah isi AlQurAoan, tetapi sebagai hamba-Nya seorang Muslim wajib berusaha membela agama dengan menjawab kritik-kritik tersebut. Thoha Hamim. AuMenguji Autentisitas Akademik Orientalis dalam Studi Islam,Ay Teosofi Jurnal Tasawuf dan Pemikiran Islam 3, no. Theodore Nyldeke. Geshichte des Qurans (Weisbaden: Franz Steiner, 1. Setiadi. AuKontribusi Arent Jan Wensinck Dalam Ilmu Takhrj Hadis. Ay Di antara kontribusi yang paling nyata adalah penyusunan kamus hadis al-MuAojamal-Mufahras li AlfAzh al-Hadthal-Nabaw oleh AJ. Wensinck. Kamus ini terdiri dari beberapa jilid. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol 17 No 2 . | 187-200 Hasil kajian Orientalis yang bersifat negatif itu, terutama yang menghadirkan stigma-stigma buruk terhadap Islam dan kesalahpahaman dalam pemaknaan Al-QurAoan, perlu dijawab agar menyelamatkan pemahaman, baik bagi seorang Muslim atau nonmuslim. Pada dasarnya. Orientalis bisa dikatakan gagal memahami Al-QurAoan karena mereka memang bukan pemeluk Agama Islam. Selain itu, metode yang mereka gunakan dalam menafsirkan Al-QurAoan terkadang menggunakan metode yang tidak sesuai dengan ajaran dalam Islam, sehingga melahirkan makna baru tentang Al-QurAoan. Sebagai Muslim yang taat terhadap perintah Allah Swt. , alangkah baiknya jika mempelajari lebih dalam makna Al-QurAoan. Rasanya masih terasa kurang jika hanya terbatas pada membaca Al-QurAoan saja tanpa berusaha memahami makna dari kandungan ayat-ayatnya. Pemahaman terhadap makna sangat penting karena bisa menjauhkan seorang Muslim dari gagal paham seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Pada akhirnya, dengan pemahaman yang baik akan mengantarkan pada praktik kehidupan yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Referensi