MASA PANDEMI COVID-19 SEBAGAI AuSEKOLAH KEMANUSIAANAy BAGI KELUARGA KRISTIANI Natalis Sukma Permana STKIP Widya Yuwana natalisukma@widyayuwana. Abstract The family is a domestic ecclesia that is called to cultivate seeds of faith and joyful love for its members and for other families. ecclesia domestica, families need to be aware of their unique calling in the midst of the complex challenges faced today, namely to become a sign of real love in the life of the world. The family becomes the first and vital cell for society and a deeper humanitarian school. The Covid-19 pandemic period can be an opportunity to turn families into humanitarian schools, where human values grow and develop, a house of holiness, where the virtues of the gospel grow, and the community of mercy is in accordance with the ideals of Christian The period of the Covid-19 pandemic should be a momentum for reflection to increase family dialogue, harmony, and assistance for children. Keywords: Family, humanitarian school. Covid-19. PENDAHULUAN Keluarga Kristiani dipanggil untuk menumbuhkan benih iman dan kegembiraan cinta bagi para anggotanya dan bagi keluarga lainnya. Sebagai Gereja Rumah Tangga, keluarga perlu menyadari panggilannya yang khas di dunia dengan segala tantangan yang dihadapi saat ini. Tugas utama di tengah tantangan itu yakni untuk menjadi tanda cinta nyata di dalam kehidupan dunia. Sebab, pada dasaranya Auperkawinan dan keluarga merupakan perpaduan tak terelakkan dari sukacita dan kesukaran, ketegangan dan istirahat, kesakitan dan kelegaan, kepuasan dan kerinduan, gangguan dan kesenangan, tetapi selalu dalam jalur persahabatan, yang mengilhami pasangan suami-istri untuk peduli satu sama lain: mereka menolong dan melayani satu sama lainAy (AL. Ajaran tentang perkawinan dan keluarga ini perlu diketahui oleh keluarga-keluarga Katolik pada Sebelum pandemi Covid- 19, para keluarga-keluarga dapat dikatakan lebih banyak sibuk dengan urusan pribadi, yaitu belajar, bekerja, bahkan melupaka pentingya komunikasi dengan anggota keluarga yang lain. Kita bisa melihat kebiasan keluarga kristiani pada umumnya kebiasaan makan Bersama, doa Bersama, berbincang-bincang seakan menjadi hal yang mahal. Ketika pandemi Covid-19 melanda, hal itu seharusnya dipandang sebagai saatnya saling berbagi. saling mendukung. lebih mengenal dan lebih memperhatikan sebagai ungkapan kasih keluarga. Dengan begitu, masa pandemi Covid-19 dapat dipandang sebagai masa pembinaan atau pelatihan keluarga-keluarga Kristiani untuk semakin sungguh menjadi Gereja rumah tangga. Untuk membangun sebuah Gereja Rumah Tangga. Paus St. Yohanes Paulus II menyerukan pentingnya keluarga sebagai sekolah kemanusiaan dan sekolah kekudusan. Perlu diingat kembali bahwa keluarga adalah sel pertama dan vital bagi masyarakat (FC . serta menjadi sekolah kemanusiaan yang lebih mendalam (FC. Masa pandemi Covid-19 diharapkan dapat dilihat sebagai sebuah kesempatan untuk menjadi sekolah kemanusiaan yang mampu meunumbuhkan nilai-nilai yang lebih manusiawi yaitu adanya dialog, cinta kasih, doa keluarga, yang nantinya dapat berdampak bagi kehidupan masyarakat. Dengan begitu, masa pandemi Covid-19 yang dipandang sebagai musibah bagi kehidupan manusia dapat menjadi berkat bagi keluarga kristiani. Dampak negatif dari pandemi Covid-19 juga bisa memberi implikasi positif bagi keluarga Kristiani yang adalah sel utama bagi masyarakat. Maka dari itu, penulis mengajak melihat dan merefleksikan pandemi Covid-19 Ausekolah keluargaAy. Sekolah keluarga yang dimaksud adalah untuk mengembalikan, memperbaharui, atau meningkatkan idealisme sebagai Gereja Rumah Tangga. II. PEMBAHASAN Mengenal Pandemi Covid-19 Covid-19 adalah adalah salah satu virus yang kini dihadapi oleh dunia, bahkan virus ini dikategorikan sebagai pandemi karena menyerang seluruh dunia dan penyebarannya sangat cepat. Penyebaran yang sangat cepat dan menimbulkan banyak dampak bagi kehidupan masayarakat, sehingga Covid-19 dipandang sangat menakutkan. Covid-19 tidak hanya menyerang masalah kesehatan, tetapi kematian, lumpuhnya ekonomi, masalah keluarga, masalah sosial World Health Organization (WHO) menetapkan penyakit akibat virus ini sebagai pandemi global pada tanggal 11 Maret 2020 (Saputra, 2. Penularan virus yang sangat cepat telah melampaui batas-batas negara dan mengancam banyak negara di dunia. Banyak negara atau kota besar menerapkan kebijakan lock down. Indonesia sendiri menerapkan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besa. dimana masyarakat dibatasi ruang geraknya. Bandara ditutup, terminal bus maupun pelabuhan ditutup-meski secara perlahan sudah mulai beroperasi kembali dengan mengikuti protokol pemerintah. Sekolah maupun universitas diliburkan dan mereka belajar di rumah menerapkan model pembelajaran online . maupun offline. Kantor-kantor pemerintah maupun swasta pun sempat ditutup. Pergerakan sosial masyarakat dibatasi, gedung gereja yang megah tempat bersekutu harus tutup, kita dihimbau untuk beribadah keluarga di rumah saja. Kekhawatiran besar sedang melanda kita. Ribuan orang sudah meninggal dunia. Pandemi yang kita sedang hadapi bukan hanya musibah tentang kesehatan saja, tetapi juga masalah ekonomi dan sosial di lingkungan masyarakat. Masalah ekonomi yang dimaksud seperti PHK secara besar-besaran yang diakibatkan kebijakan pemerintah atas PSBB dan pembatasan lainnya. Survey dilakukan oleh Snapcart pada 17-28 Maret 2020 melibatkan 2000 laki-laki dan perempan berumur 15-50 tahun di 8 kota besar di Indonesia (Jakarta. Bandung. Semarang. Surabaya. Medan. Palembang. Makassar, dan Manad. Survei ini untuk melihat seberapa besar dampak pandemi Covid-19 terhadap gaya hidup orang Indonesia. Hasil survei menunjukkan pandemi virus corona berdampak terhadap kehidupan sosial masyarakat. Sebanyak 48 persen responden mengaku kehidupan sosialnya terganggu, faktor karier atau pekerjaan 45 persen, berubahnya rencana perjalanan atau liburan 42 persen, kehidupan beragama 32 persen (Dianawanti, 2. Keluarga Kristiani Modern Pra Covid-19 Keluarga modern sering didefinisikan dengan gaya bahasa yang menarik dan kekinian. Hal ini disebabkan oleh situasi waktu, ruang dan perkembangan yang menemani hidup keluarga modern. Keluarga modern didefinisikan sebagai suatu bentuk keluarga yang mengikuti trend yang diafirmasi dari siatusi-situasi modern dengan membawa dan menghadirkan banyak perubahan dalam elemen kehidupan manusia, misalnya semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi (AL . Saat ini kita banyak menjumpai anggota keluarga yang secara fisik berkumpul di rumah, akan tetapi mereka asyik berhubungan dengan rekan-rekan mereka di luar dengan media sosial seperti facebook. WhatsApp, twitter, instagram dan lain-lain. Secara umum saat ini di era modernisasi kehidupan keluarga mulai berubah karena situasi yang semakin kompleks. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sebab, misalnya single parent dengan adanya perceraian, kesibukan orang tua . uami-istr. yang terlalu padat dapat menimbulkan ketidakharmonisan dalam keluarga dan juga perhatian pada anak yang sangat kurang. Perubahan antropologis budaya pada zaman ini mempengaruhi semua aspek hidup dan memerlukan pendekatan analitis dan berbeda-beda (AL . Sebelum terjadinya wabah pendemi Covid-19, penulis mau menekankan tentang kesibukan dan pekerjaan orang tua yang selama ini membawa dampak yang tidak diharapkan dalam hidup keluarganya. Amoris Laetitia menyatakan bahwa Aumereka jarang bertemu di rumah dan bahkan sangat sulit untuk mengadakan makan bersama dengan keluarga sendiriA. Hal ini mempersulit penerusan iman dari orang tua ke anak. Ay (AL . Disorientasi hidup keluarga yang disebabkan oleh padatnya kesibukan menimbulkan banyak persoalan lain yang mendegradasi spiritualitas hidup keluarga Kristiani. Jika suami atau istri tidak kuat dalam komitmen hidup keluarga, mereka bisa jatuh dalam dunia perselingkuhan dan seks bebas atau orang cenderung mencari kesenangannya sendiri di luar rumah. Ketika fenomena ini diperhadapkan dengan kehidupan keluarga Kristiani tentuanya akan menimbulkan masalah yang cukup dan berdampak pada kehidupan menggereja. Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Keluarga dan Gereja Pandemi Covid-19, telah berdampak luas dalam kehidupan masyarakat Secara khusus dalam masyarakat Kristen, banyak jemaat sekarang ini merindukan dapat beribadah bersama di Gereja. Hal ini juga terjadi pada Gerejagereja, dimana sejak akhir Maret 2020 tidak lagi melaksanakan ibadah yang bersifat perkumpulan umat, tidak ada lagi ibadah di gedung Gereja. Jikalau pun ada peribadatan, sangat dibatasi ruang geraknya dan seizin pemerintah setempat. Peribadatan di Gereja mulai dialihkan secara digital, melalui teknologi live Semua itu bertujuan untuk berpartisipasi dalam menghambat laju penularan Covid-19 yang bisa terjadi melalui kontak fisik (Dwiharjo, 2020:11 ). Selama ini Ibadah, pertemuan keagamaan, pesta-pesta, acara adat, dibatasi Bahkan kalau ada keluarga yang sakit di rumah sakit, ataupun meninggal dunia, dibatasi ruang geraknya dan mengikuti protokol kesehatan. Perjumpaan atau kunjungan kepada keluarga, teman, atau sahabat pun ditiadakan, karena takut membawa dan terkena virus. Bahkan selama ini tidak boleh bersalaman, apalagi berpelukan dengan teman dan harus menjaga jarak 1-2 meter supaya terhindar dari Covid-19. Dalam hal ini yang perlu dicermati disini adalah, semenjak pandemi Covid-19 mucul pelayanan yang terkait dengan digitalisasi. Setiap pelayanan harus dapat mengaktualisasikan diri dengan era-nya (Siahaan, 2017:. termasuk dengan era digital sekarang ini. Tidak dapat dibayangkan jika keadaan seperti ini menerpa Gereja di masa tahun 1980-an di mana internet masih begitu asing sekali. Bukankah peristiwa ini dapat dijadikan momentum, karena persoalan physical distancing atau social distancing dapat diatasi dengan virtual meeting teknologi digital melalui aplikasi video conference. Itu satu hal yang harus dilihat sebagai sisi baik, bahwa Gereja menembus batas-batas fisik, hadir dalam ruang yang lebih luas dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Momentum lain adalah munculnya ibadah-ibadah dari rumah, yang mengingatkan kembali pada masa para rasul, dimana mereka membangun gereja rumah rumah tangga. Melihat Kembali Ecclesia Domestia di Masa Pandemi Covid-19 Pemberlakuan pembatasan sosial maupun fisik yang diupayakan pemerintah dan seruan yang dikeluarkan Gereja berdampak pada aktivitas intens setiap orang di rumah masing-masing atau yang kini sedang trending dengan istilah AudirumahajaAy. Momentum AudirumahajaAy dimaksudkan untuk membatasi pergerakan mobilitas manusia secara besar-besaran guna memutus laju penyebaran virus korona. Namun, jika direfleksikan lebih jauh momentum ini pada dasarnya merupakan kairos . aat yang tepa. , untuk merevitalisasi makna keluarga dan perkawinan yang sesungguhnya, setelah sekian waktu mulai memudar akibat tuntutan hidup yang mengharuskan kegiatan yang intens di luar Istilah AudirumahajaAy adalah suatu bentuk simbolisasi-semantik yang memperhadapkan arti AurumahAy . eluarga/perkawina. yang sesungguhnya sebagai anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Hal ini semakin dipertegas ketika ada begitu banyak orang yang berjuang sekuat tenaga untuk pulang ke rumah . ack hom. ketika dilanda badai ini dan juga sekian air mata kerinduan dari para pejuang medis untuk kembali ke rumah mereka, kepada kelurga dan pasangan hidup mereka. Tak dapat dipungkiri bahwa pandemi ini menegaskan arti terdalam dari keluarga dan hidup perkawinan sebagai harta terindah setiap insan manusia. Komunikasi dari hati ke hati dalam keluarga dan antarpasangan kini menjadi semakin intens. Covid-19 dapat direfleksikan secara spiritual sebagai bagian dari penderitaan manusia yang bersifat spiritual dan manusiawi sebab berakar pada AuMisteri penebusan Ilahi dalam dunia dan yang mana di dalamnya manusia menemukan dirinya, kemanusiaannya, martabatnya dan misinya. Ay (Salvici Doloris Senada dengan momentum untuk menghayati kembali nilai-nilai kekeluargaan dan perkawinan, peristiwa Covid-19 juga menjadi saat berahmat secara khusus bagi umat Katolik untuk menghidupkan kembali nilai mendasar dari keluarga sebagai AuGereja rumah tangga (Ecclesia Domestic. Tentang hal ini Gereja mengajarkan bahwa. AuPada saat yang berbeda-beda di dalam Sejarah Gereja dan juga di dalam Konsili Vatikan Kedua, keluarga patut diberi nama yang indah yaitu sebagai AuGereja rumah tangga Ay (EN . Melihat kembali makna AuGereja rumah tanggaAy ini semakin dipertegas ketika segala bentuk kebutuhan spiritual seperti komunikasi dengan Tuhan (Do. dan komunikasi dengan sesama anggota keluarga kembali ditimba dari dalam relasi kekeluargaan antara suami-isteri dan orang tua dengan anak-anak. Covid-19 juga membawa kembali model hidup Gereja Perdana di mana, segala bentuk ibadat dan doa terjadi dalam keluarga-keluarga yang berkumpul dengan kesunyian mendalam dan komunikasi antarhati . Kis 2:46. Covid-19 membuat komunitas keluarga dan relasi perkawinan menemukan kembali makna terdalam dari komunitas keluarga dan ikatan perkawinan yakni. Aupersekutuan yang berakar dalam ikatan alamiah darah dan daging, dan bertumbuh menuju kesempurnaannya yang khas manusiawi berkat terjalinnya dan makin matangnya ikatan-ikatan rohani yang masih lebih mendalam dan lebih kaya. Cintakasih yang menjiwai hubungan-hubungan pribadi antara pelbagai anggota keluarga merupakan kekuatan batin yang membentuk dan menjiwai rukun serta persekutuan keluarga. Ay (FC . Covid-19 secara tidak langsung menghidupkan, memulihkan dan mengokohkan kembali ikatan-ikatan cintakasih dalam keluarga yakni suami-istri dan orang tua dengan anak-anak. Keluarga Adalah Sekolah Kemanusiaan Jati diri keluarga yang sesusngguhnya seharusnya selaras ajaran Konsili Vatikan II sebagai Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestic. (LG 11. AA . Keluarga disebut sebagai ecclesia domestica, sebab di dalam keluarga terwujudlah persekutuan murid-murid Kristus yang dibangun dalam ikatan kasih sayang, kesetiaan, sikap pengorbanan, pengampunan dan pelayanan. Dalam hal ini keluarga memiliki peran yang sangat sentral yaitu sebagai tempat bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan atau bisa diistilahkan sebagai sekolah kemanusiaan. Dokumen Gravisimum Educationis menegaskan bahwa pendidikan dalam keluarga bertujuan demi pendewasaan pribadi manusia dan agar anak-anak semakin menyadari karunia Allah dan mendalami misteri keselamatan Allah. Yoh 4:. (GE . Jadi keluarga sungguh merupakan komunitas pertama, tempat pewartaan Injil bagi anak-anak melalui pendidikan iman bertahap menuju kedewasaan manusiawi dan kristiani (FC . Dalam hal ini peran orangtua sangatlah sentral dan tak tergantikan oleh siapapun. Orang tua dalah pendidik pertama dan utama agar anak-anak memiliki benih iman kepada Allah (GE 3. Karena itu harus disadari bahwa tugas orang tua bukan hanya melahirnya anak, tetapi mendidik dan membesarkan dalam suasana kasih kristiani. Selain pendidikan iman, anak-anak perlu mengenal dan menghayati nilainilai kemanusiaan. Disinilah peran penting keluarga untuk membimbing dan mengarahkan anak-anak agar semakin mencintai Allah dan diwujudkan dalam hidup bersama di masyarakat. Keluarga adalah sel dasar dalam masayarakat (AA . maka nilai-nilai yang ditumbuhkan di dalam keluarga akan sangat memberikan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Keluarga menjadi tempat lahirnya nilainilai kemanusiaan, karena di dalam keluarga para anggota belajar berdialog, menghargai, solider, saling mengasihi, bekerjasama dan saling menghargai satu sama lain. Keluarga adalah tempat humanisasi masyarakat (FC . dan sekolah kemanusiaan, karena dari sinilah seseorang sungguh belajar memanusiakan Momentum Covid 19 Sebagai AuSekolah KemanusiaanAy bagi Keluarga Pendemi Covid-19 membawa banyak perubahan dalam hidup sosial Situasi ini muncul berbagai himbauan pemerintah untuk jaga jarak . ocial distancin. , di rumah saja . tay hom. dan tidak boleh berkumpul dalam keramaian atau menyelenggarakan kegiatan yang mengundang keramaian. Hal ini membuat semua aktivitas dikerjakan dari rumah, misalnya ibadah, sekolah dan kuliah, mengajar, pekerjaan kantor, bisnis dana lain sebagainya. Tidak ada lagi yang melakukan aktivitas yang bersifat publik. Situasi ini jelas membawa kecemasan, ketakutan dan kedukaan yang mendalam bagi dunia. Akan tetapi, penulis melihat sisi positif dari pandemi ini yang harus dimanfaatkan khususnya keluarga bagi keluarga Kristiani, yakni saatnya keluarga duduk bersama dan berbagi cinta kasih di dalam rumah. Selama ini keluarga kristiani modern kebanyakan sibuk dengan dunia di luar karena pekerjaan, bisnis, studi dan lain sebagainya. Pandemi Covid-19 harus dilihat sebagai cara Tuhan agar keluarga kristiani merajut kembali cinta kasih yang dipersatukan Allah. Di sisi lain, sukacita juga diperbarui dalam penderitaan. Seperti dikatakan Santo Agustinus. Ausemakin besar bahaya dalam pertempuran, semakin besar sukacita kemenangan. Ay Setelah menderita dan berjuang bersama, pasangan suami-istri mampu mengalami bahwa pengalaman itu sungguh berharga, sebab mereka mendapatkan beberapa kebaikan, belajar sesuatu sebagai pasangan, atau mereka dapat semakin menghargai apa yang mereka miliki (AL Pandemi Covid-19 yang tengah terjadi di belahan dunia saat ini telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia, baik yang positif maupun Dalah tulisan ini penulis lebih menilik sesuatu yang positif dan dapat memberi harapan dalam hidup keluarga Kristiani. Setelah melihat fenomena hidup keluarga di tengah pandemi Covid-19, penulis mencoba memaknai yang dimaksud dengan sekolah keluarga dengan dokumen Amoris Laetitia (Sukacita Kasi. Pertama, perlu rekonstruksi dialog keluarga di tengah pandemi Covid-19. Situasi ini memberi banyak waktu bagi setiap orang untuk ada bersama dan dalam Himbauan pemerintah untuk stay home dan kecemasan untuk tidak keluar dari rumah adalah sebuah rahmat tersendiri bagi setiap keluarga untuk membangun dialog di dalam keluarga. AuDialog itu adalah cara istimewa dan kebutuhan mendasar untuk menghayati, mengungkapkan dan membangun kasih dalam hidup perkawinan dan keluarga. Ay(AL . Dialog dalam hidup keluarga menjadi salah satu dasar dalam membangun keluarga berwajah Kristiani, seperti keluarga kudus Nazaret. Keluarga Kristiani modern saat ini lebih memiliki kesibukan yang berlebihan di luar rumah atau memilih lebih banyak menggunakan media sosial. Keluarga lupa meluangkan waktu untuk berbagi cerita, sharing dan dialog di dalam keluarga. Dokumen Amoris Laetitia menganjurkan untuk memberi waktu yang berkualitas untuk mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian semua yang ingin diungkapkan anggota keluarga . uami, istri, anak dan keluarga besa. Dengan dialog ini, keluarga akan dapat mendengar dan memahami isi hati dari setiap anggota keluarga yang bermanfaat, misalnya ketidakpuasan karena jarang berkumpul bersama, perasaan sedih, cemas, khawatir dan lainnya. Hal ini akan membuat setiap anggota keluarga dapat berkaca diri dan memperbaikinya serta memahami persoalan-persoalan yang selama ini terjadi dalam keluarga. Kedua, keharmonisan dan cinta kasih keluarga. Setiap keluarga perlu menjadikan momen ini sebagai kesempatan untuk membaharui semangat hidup sebagai keluarga Kristiani sejati. Keluarga sejati dan bahagia merupakan sautu komunitas yang berlandaskan cinta kasih (Emiyan, 2001:. Cinta itu menjadi inti-hakikat perkawinan yang konkrit (Gronen, 1993:. Hidup keluarga seharusnya menjadi locus serta tempus di mana cinta kasih itu hidup dan diinternalisasikan pertama kalinya. Dengan demikian, kehidupan keluarga Kristiani perlu menciptakan keharmonisan dan kedamaian di dalamnya. Kehadiran hidup keluarga sama hal dengan kehadiran Allah sendiri dan kehadiran Allah itu sama halnya dengan kehadiran cinta kasih. Jadi, cinta kasihlah yang mengawali pewarnaan hidup keluarga. Santo Yohanes Paulus II berkata bahwa AuAllah kita dalam misteri-Nya yang terdalam tidaklah sendiri, tetapi merupakan sebuah keluarga, karena di dalam diri-Nya sendiri terdapat sifat kebapakan, keputraan dan hakikat keluarga, yaitu cinta kasih. Cinta kasih itu, di dalam keluarga ilahi, adalah Roh KudusAy (AL Inti hidup keluarga ada dalam diri Allah yang penuh dengan misteri dan bertalian erat dengan eksistensi-Nya. Suatu kesempurnaan hidup keluarga tidaklah diukur dari seberapa banyak harta benda yang dimiliki, tetapi kesempurnaan itu menjadi nyata dan berjiwa ketika hidup keluarga memiliki cinta kasih yang besar dan melandaskan hidup dengan cinta kasih. Ketiga, pendidikan dan pendampingan anak. Salah satu tujuan perkawinan dalam Gereja Katolik adalah pendidikan anak. AuOrang tua senantiasa mempengaruhi perkembangan moral anak-anaknya, menjadi lebih baik ataupun lebih buruk. Oleh karena itu, mereka harus mengemban tanggung jawab yang tak terelakkan ini dan melaksanakannya dengan penuh kesadaran, antusias, wajar dan tepatAy (AL . Pendidikan anak dalam keluarga menjadi salah satu tugas penting bagi orang tua agar anaknya bisa tumbuh menjadi anak yang baik secara moral dan iman. Kadang-kadang kesibukan orang tua dengan berbagai hal membuat perhatian dan pendidikan anak menjadi kurang, bahkan tidak ada. Anak dibiarkan dengan pembantu rumah atau sendirian. Hal ini pun akan menimbulkan dampak yang berbahaya bagi perkembangan anak. Akan tetapi, di tengah pandemi Covid-19, dengan keberadaan semua anggota keluarga di rumah akan sangat membantu untuk merealisasikan dan mewujudkannya. Orang tua seharusnya menyediakan waktu untuk ada di rumah bersama anak-anaknya. Tentunya, hal tersebut ini menjadi kesempatan bagi orang tua dalam memberikan perhatian, pendampingan terhadap anak-anak mereka dengan cinta kasih yang mungkin selama ini belum terealisasi atau telah pudar. Mereka bisa memberikan perhatian itu lewat pendampingan dalam belajar . hususnya kelas dan tugas onlin. , bermain bersama, cara hidup yang baik, sharing, pengajaran iman dengan berdoa bersama. Dengan demikian, anak akan merasa bahagia karena kerinduannya akan kasih sayang orangtua bisa terpenuhi. Penulis berpendapat bahwa dalam tekanan pandemi Covid-19 ada harapan dan refleksi teologis yang amat penting bagi keluarga-keluarga Kristiani. Mereka bisa mewujudkan apa yang sebenarnya menjadi inti dalam hidup keluarga sesuai dengan spiritualitas dan dasar cinta kasih yang kuat. Dengan itu, identitas keluarga Kristianinya tampak akan tampak dalam kehidupan sehari-hari. KESIMPULAN Pandemi Covid-19 dapat dimaknai sebagai sebuah Aupenderitaan yang menyelematkanAy. Walau ada penderitaan hebat yang ditimbulkannya di satu sisi, tetapi di sisi lain, momen ini adalah saat setiap keluarga, suami-isteri dan orangtua dengan anak-anak untuk hadir bagi satu dengan yang lain secara lebih mendalam. Inilah saat bagi setiap pasangan untuk saling mengenal dengan lebih mendalam dan saat bagi orang tua dengan anak-anak untuk membangun waktu bersama secara berkualitas. Kualitas waktu yang terjadi antara suami-istri dan orang tua dengan anak-anak adalah bekal bagi revitalisasi makna sesungguhnya dari keluarga sebagai AuGereja rumah tanggaAy (Ecclesia Domestic. Masa Pandemi Covid-19 seharusnya menjadi momentum refleksi bagi seluruh umat Katolik untuk menjadi suatu penemuan dari pencarian dan pemenuhan dari harapan setiap orang, ternyata kita memiliki keluarga yang Dengan begitu. Covid-19 yang sudah mengakibatkan banyak dampak negatif, juga bisa memberi implikasi positif bagi keluarga kita yang adalah sel utama bagi masyarakat . agi duni. Masa pandemi Covid-19 dapat dilihat dan direfleksikan sebagai Ausekolah keluargaAy. Sekolah keluarga yang dimaksud adalah untuk mengembalikan, memperbaharui, atau meningkatkan idealisme keluarga. Setelah pandemi ini berakhir, diharapkan seluruh anggota keluarga lulus dari Ausekolah keluargaAy. Pada saat itu kita akan tampil sebagai para pewarta dan pelaku keluarga berhikmat yang hidup berdasarkan iman, harapan, dan kasih. Orang yang lulus dari Ausekolah keluargaAy diharapkan memiliki harapan dan sukacita sukacita menyambut cara hidup dan kebiasaan yang baru karena sudah dibekali berbagai pengetahuan, keahlian, pengalaman serta mentalitas dan spiritualitas yang dipelajari, dan diperdalam di rumah selama masa Covid-19. Ada perubahan dan peningkatan kualitas pola pikir, cara pandang, bentuk pekerjaan, semangat moral, dan penghayatan spiritual yang sangat berguna bagi situasi normal setelah Covid-19. Indikator keberhasilannya adalah keluarga kristiani semakin terbiasa untuk mewujudkan kehidupan yang saling mengasihi satu sama lain yang ditandai perubahan kehidupan dari perspektif egois menjadi makin orientasi individual menjadi makin solider, dari mengandalkan kehebatan munusia menjadi berserah diri pada kekuasaan Allah. DAFTAR PUSTAKA