Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 165 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/435 Manajemen Fisioterapi pada Rehabilitasi Ruptur Parsial Anterior Cruciate Ligament (ACL): Laporan Kasus Physiotherapy Management in Rehabilitation of Anterior Cruciate Ligament (ACL) Partial Tear: A Case Report Yery Mustari1. Immanuel Maulang2, *Febrianto1. Asriany Nasrud1. Nurfadhila Muliyadi1a Universitas Hasanuddin. Makassar. Indonesia Klinik Orthophysio Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia E-mail korespondensi: febriantoyzf@gmail. Diterima : 03 Oktober 2024 | Ditinjau: 13 Oktober 2024 | Disetujui: 15 April 2025 | Publikasi Online: 16 Mei 2025 ABSTRAK Robekan Anterior Cruciate Ligament (ACL) adalah bentuk paling umum dari cedera olahraga yang dapat berdampak besar pada kinematika lutut. Menimbulkan keterbatasan dan gejala berupa nyeri, hilangnya stabilitas lutut, terbatasnya rentang gerak dan risiko cedera berulang. Laporan kasus ini bertujuan untuk melihat efek perawatan konservatif yang dipandu oleh fisioterapis terhadap pemulihan setelah robekan ACL parsial pada pasien remaja lakilaki berusia 19 tahun dengan keluhan nyeri, keterbatasan range of motion (ROM) lutut dan atrofi otot paha. Sebanyak 12 sesi fisioterapi selama 6 minggu diberikan berupa manajemen nyeri, latihan ROM, latihan penguatan otot, kontrol neuromuskular dan pelatihan fungsional. Hasilnya adalah penurunan intensitas nyeri, peningkatan ROM, dan peningkatan volume otot paha serta kembalinya kemampuan fungsional sebelumnya. Program rehabilitasi berupa intervensi fisioterapi selama 6 minggu efektif meningkatkan kemampuan fungsional dan mengatasi gangguan pasca robekan parsial ACL. Perawatan konservatif dapat diandalkan secepatnya berpartisipasi pada aktivitas sehari-hari, namun memerlukan penilaian lebih lanjut untuk kembali ke tingkat olahraga yang aktif. Kata Kunci : anterior cruciatum ligament, robekan, rehabilitasi, fisioterapi, latihan. ABSTRACT Anterior cruciate ligament (ACL) tears are the most common form of sports injury that can have a major impact on knee kinematics. Causes limitations and symptoms in the form of pain, loss of knee stability, limited range of motion and risk of repeated injury. This case report aims to examine the effect of conservative treatment guided by a physiotherapist on recovery after a partial ACL tear in a 19-year-old male adolescent patient with complaints of pain, limited range of motion (ROM) of the knee and thigh muscle atrophy. A total of 12 physiotherapy sessions over 6 weeks were provided in the form of pain management. ROM exercises, muscle strengthening exercises, neuromuscular control and functional training. The result is a decrease in pain intensity, an increase in ROM, and an increase in thigh muscle volume as well as a return to previous functional abilities. The rehabilitation program in the form of physiotherapy intervention for 6 weeks is effective in improving functional abilities and overcoming disorders after partial ACL tears. Conservative treatment can be relied upon to prompt participation in daily activities, but requires further assessment to return to an active level of sport. Keywords: anterior cruciate ligament, rupture, rehabilitation, physiotherapy, exercise. PENDAHULUAN Ruptur atau robekan pada anterior cruciatum ligament (ACL) adalah cedera lutut umum yang dapat berdampak besar pada kinematika lutut . erakan dan kekuata. dengan ketidakstabilan lutut yang berulang sebagai masalah utamanya. 1 Jumlah kejadian cedera ACL diperkirakan pada populasi umum sebesar 68,6 000 orang/tahun. 2 Cedera ini terutama menyerang individu muda dan aktif, dengan perkiraan 000 cedera setiap tahunnya di AS1. Insiden cedera ACL non-kontak sering terjadi pada individu dengan usia 15 hingga 40 tahun yang berpartisipasi pada olahraga seperti sepakbola, bola voli, dan basket. 3 Sekitar 79% cedera ACL terjadi selama aktivitas olahraga ketika peserta mendarat dengan satu kaki . engan seluruh berat badanny. dalam posisi di mana lutut berada pada tingkat fleksi minimal. 4 Terkhusus pada kasus robekan ACL parsial telah diamati pada 10% hingga 27% cedera ACL yang terisolasi. Additional Author . n order of contributio. : Winny Bergitta Sombolayuk1. Seflyn Christyn1. Meilani1 Manajemen Fisioterapi Pada Rehabilitasi Ruptur Parsial AnteriorA | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 165 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/435 Tujuan dari sebagian besar pasien yang datang dengan cedera ACL adalah kembali ke olahraga dan idealnya pada tingkat kinerja yang sama seperti sebelum cedera. 5 Tujuan bagi pasien yang memilih untuk menjalani perawatan non-bedah adalah untuk memperbaiki gangguan akut pasca cedera dan mendapatkan kembali kekuatan otot untuk memastikan partisipasi dalam kegiatan yang diinginkan, meminimalkan risiko episode ketidakstabilan fungsional atau cara memberi, yang dapat mengekspos pasien pada risiko cedera sekunder seperti meniskus atau cedera tulang rawan. Beberapa temuan studi telah menyiratkan bahwa perawatan non-bedah pada cedera ACL adalah pilihan yang memadai dalam pemulihan fungsi pasien, serta kekuatan pasien pada tindak lanjut jangka 7 Salah satu injauan sistematis baru-baru ini menunjukkan bahwa intervensi yang dipandu oleh fisioterapis seperti Pilates dan Tai Chi dapat menurunkan rasa nyeri, meningkatkan propriosepsi dan kekuatan pada orang dewasa muda dan setengah baya dengan robekan ACL parsial. 2 Namun tingkat keberhasilan pengobatan non-bedah sangat bervariasi pada pasien muda dan aktif. Protokol rehabilitasi spesifik yang diusulkan belum ditemukan dalam literatur. 8 Tidak ada konsensus saat ini tentang perawatan standar dalam pengobatan robekan ACL parsial, dan pengobatan sering disesuaikan dengan individu tergantung pada usia, jenis kelamin, tingkat olahraga/aktivitas dan cedera lutut lain yang terjadi bersamaan. Laporan kasus ini bertujuan untuk melihat efek perawatan konservatif berupa program rehabilitasi selama 6 minggu yang dipandu oleh fisioterapis pada pasien remaja pria terhadap pemulihan gangguan pasca cedera ACL parsial yang berfokus pada latihan penguatan otot. LAPORAN KASUS Kasus ini melibatkan pasien pria berumur 19 tahun yang merupakan anggota Unit Kegiatan Basket di suatu perguruan tinggi. Ia datang ke klinik fisioterapi pada tanggal 3 Oktober 2023 dengan keluhan nyeri dan oedem pada lutut kiri. Sebelumnya pasien melakukan pendaratan dengan posisi yang tidak baik setelah melompat ketika bermain basket 2 minggu lalu dan terdapat sensasi klik disertai nyeri yang dirasakan pada Pasien diarahkan untuk melakukan pemeriksaan MRI. Hasilnya menunjukkan partial rupture pada ACL sinistra dengan fluid collection minimal resessus patellaris. Pasien awalnya disarankan untuk menjalani prosedur pembedahan . Namun setelah konsultasi dan diskusi pasien kemudian memilih untuk melakukan rehabilitasi saja. Pemeriksaan fisik Keadaan umum pasien dapat berjalan tanpa bantuan dengan pola yang tidak normal dan merasakan nyeri gerak pada lututnya dengan skor 2 pada numeric rating scale (NRS). Masih terdapat oedem pada lutut kiri, keterbatasan ROM knee joint dengan nilai S. -8A. 131A dan ukuran paha kiri lebih kecil dari paha kanan dengan hasil selisih sirkumferensia sebesar 1,3 cm. Untuk menilai ketidakstabilan sendi lutut dilakukan tes Lachman dengan hasil kestabilan lutut baik. Intervensi Penatalaksanaan fisioterapi yang dilakukan diantaranya intervensi untuk mengurangi nyeri, latihan untuk mobilitas dan peningkatan ROM sendi lutut, latihan penguatan untuk meningkatkan stabilitas lutut serta mengatasi hipotrofi. Kemudian diberikan juga latihan keseimbangan dan latihan aktivitas fungsional. Intervensi dilaksanakan selama 6 minggu mulai tanggal 10 Oktober hingga 30 November 2023 dengan 1 sampai 3 sesi fisioterapi tiap minggu. Adapun penatalaksanaan fisioterapi yang diberikan dijabarkan pada Manajemen Fisioterapi Pada Rehabilitasi Ruptur Parsial AnteriorA | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 165 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/435 Tabel 1. Intervensi Fisioterapi Tanggal Intervensi 10 Oktober TENS, static bicycle. ROM exercise dan pump recovery 12 Oktober TENS, static bicycle. ROM exercise, wall squat exercise sambil menjepit bola dengan kedua lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, dan pump recovery 16 Oktober TENS, hamstring bridge exercise dengan posisi tumit menumpu pada gym ball, static bicycle. ROM exercise, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan kedua lutut, calf rise exercise, dan plank 19 Oktober Static bicycle, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crabwalk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan kedua lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, calf rise exercise, dan plank 24 Oktober Static bicycle, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crab walk exercisedengan resistance band pada lutut, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, calf rise exercise, side lunges exercise dengan resistance band pada lutut, dan lunges exercise 27 Oktober Static bicycle exercise, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan lutut, wall squat exercise sambil menjepit bola dengan lutut, side lunges exercise dengan resistance band pada lutut, step upstairs exercise, dan lunges exercise dengan beban4 kg 31 Oktober Static bicycle, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, skipping exercise, leg press exercise, lunges exercise dengan beban4 kg,dan singe leg balance exercise pada balance board 10 November Static bicycle, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, dan lunges exercise dengan beban 4 kg 16 November Static bicycle, squat exercise dengan beban dumbbell 6 kg, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise sambil menjepit gym ball dengan lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, calf rise exercise dengan beban dumbbell 6 kg,dan step upstairs exercise dengan beban6 kg 18 November Static bicycle, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, leg press exercise, dan treadmill exercise 21 November Static bicycle, skipping exercise, treadmill exercise, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, kombinasi crab dan monster walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, lunges exercise dengan beban dumbbell 4 kg,dan single leg balance exercise sambil melangkah ke depan 30 November Static bicycle, skipping exercise, treadmill exercise, crab walk exercise dengan resistance band pada lutut, kombinasi crab dan monster walk exercise dengan resistance band pada lutut, squat exercise dengan beban dumbbell 8 kg, leg press exercise, lunges exercise dengan beban dumbbell 4 kg,dan single leg balance exercise sambil melangkah ke depan HASIL Pasien menyelesaikan 12 sesi intervensi fisioterapi selama 6 minggu. Tidak ada kejadian khusus, kecelakaan, maupun cedera tambahan yang dilaporkan oleh pasien serta tidak mendapat pengobatan lain selama program rehabilitasi berlangsung. Hasil evaluasi dapat dilihat pada tabel 2, yang berisi pengukuran klinis pasien secara berkala dengan rentang 2 minggu sebanyak tiga kali berturut-turut selama proses Manajemen Fisioterapi Pada Rehabilitasi Ruptur Parsial AnteriorA | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 165 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/435 Tabel 2. Hasil pengukuran setelah program rehabilitasi Sebelum Setelah rehabilitasi Aspek yang diukur Minggu ke-2 Minggu ke-4 Minggu ke-6 Skor NRS -8A. -8A. -8A. -8A. ROM . 1,3 cm 1 cm 0,8 cm 0,3 cm Sirkumferensia . cm di atas os patel. Evaluasi setelah 6 minggu menunjukkan intensitas nyeri berupa skor NRS mengalami penurunan pada minggu ke-2 dari skor 2 menjadi 0 . idak ada nyer. , dan hingga minggu ke-6 tidak ada peningkatan atau kemunculan nyeri kembali. Untuk mobilitas sendi lutut pada gerakan fleksi terjadi peningkatan nilai ROM secara progresif yang nampak dalam tiap 2 minggu evaluasi. Nilai ROM meningkat 23A pada minggu ke-2, penambahan 8A pada minggu ke-4 dan 3A pada minggu ke-6. Kemudian untuk selisih sirkumferensia otot paha berkurang sebesar 0,3 cm pada minggu ke-2 sampai dan menyisakan selisih 0,3 cm diakhir program rehabilitasi. DISKUSI Laporan kasus ini bertujuan untuk melihat efek dari 6 minggu program rehabilitasi yang dilakukan oleh fisioterapis pada pasien dengan robekan parsial ACL. Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, program rehabilitasi 6 minggu memberikan dampak yang signifikan terhadap pemulihan kondisi pasien mulai dari penurunan intensitas nyeri, peningkatan range of motion, serta peningkatan volume otot pada ekstremitas yang terkena. Selain itu, peningkatan untuk aktivitas fisik dapat dilihat pada progres jenis latihan yang diberikan selama rehabilitasi. Pada akhir sesi intervensi fisioterapi pasien sudah melakukan latihan di treadmill dan skipping. Intervensi fisioterapi yang diberikan terutama didesain untuk mengatasi kelemahan dan atrofi quadriceps . tot paha depa. Atrofi quadriceps dan penurunan kekuatan quadriceps yang sepadan dapat memengaruhi kemampuan untuk kembali beraktivitas dan berolahraga dengan aman. 9 Sehingga penggunaan beban yang progresif serta latihan resistance adalah pilihan yang menurut kami sesuai dengan tetap memerhatikan tingkat keamanan latihan serta toleransi pasien pada setiap peningkatan dosis dan penambahan jenis latihan yang diberikan. Disamping itu intervensi yang diberikan juga mencakup latihan mobilitas dan keseimbangan statis maupun dinamis. Ini sejalan dengan protokol rehabilitasi untuk cedera ACL yang biasa digunakan dalam praktik klinis terdiri dari program progresif, yang dirancang untuk membangun kembali kekuatan otot, mengembalikan mobilitas sendi dan kontrol neuromuskuler, dan memungkinkan pasien untuk mengurangi risiko cedera ulang dan kembali ke tingkat aktivitas 10 Terutama aspek penguatan otot paha depan karena paha depan yang kuat penting untuk rehabilitasi ACL dan dalam rangka pencegahan cedera ACL lebih lanjut. Program rehabilitasi selama 6 minggu telah cukup efektif membantu pasien kembali pada aktivitas sehari-hari yang normal. Perawatan konservatif adalah pilihan yang dapat diandalkan untuk kembali secepatnya pada rutinitas harian yang sedang dijalani. Sementara perawatan bedah misalnya rekonstruksi memerlukan tahap imobilisasi pada periode awal rehabilitasi. Hal itu karena periode awal pemulihan rekonstruksi ACL merupakan periode kritis untuk perlindungan cangkok. Untuk itu pembatasan aktivitas dan menahan beban dilakukan terutama dalam 6 minggu pertama setelah prosedur rekonstruksi ACL. Pasien juga mungkin mengalami peningkatan rasa sakit, defisit rentang gerak, dan pembengkakan pada sendi lutut. 6 Sehingga waktu yang dibutuhkan untuk dapat kembali berpartisipasi pada aktivitas keseharian dan sosial akanlebih panjang. Namun terkait aktivitas yang lebih aktif secara fisik pada level yang tinggi perlu memerhatikan risiko cedera berulang karena robekan sebelumnya. Kami tidak mengklaim bahwa perawatan konservatif dalam kasus ini memadai untuk kembali pada kegiatan olahraga basket sebagaimana itu merupakan Manajemen Fisioterapi Pada Rehabilitasi Ruptur Parsial AnteriorA | Yery Mustari dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 160 - 165 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/435 olahraga yang ditekuni sebelumnya oleh pasien. Meskipun prediksi untuk tindak lanjut jangka panjang pada pasien memiliki prognosis yang baik karena tidak terdapat ketidakstabilan sendi lutut. Dalam sebagian besar penelitian dan pedoman, masalah ketidakstabilan merupakan indikasi untuk rekonstruksi ACL jika kekhawatiran ini tidak berkurang setelah program latihan yang dipandu terapi fisik atau setelah penyesuaian 11 Studi saat ini menemukan pada pasien aktif muda dengan ruptur ACL parsial yang diobati secara non-bedah, 39% berkembang menjadi robekan total pada rata-rata 43 bulan setelah cedera pertama. Usia O20 tahun dan partisipasi dalam olahraga kontak berputar adalah faktor prediktif yang signifikan untuk kegagalan pengobatan konservatif, yaitu, perkembangan ke robekan ACL lengkap. 5 Jika target pasien adalah untuk kembali dalam olahraga kontak yang kompetitif tampaknya tetap memerlukan rekonstruksi. Program rehabilitasi yang telah dijalani akan sangat membantu sebagai tahapan pre-operatif pada masa yang akan datang. 12 Sebuah meta analisis baru-baru ini menyimpulkan bahwa pra-rehabilitasi bedah dapat memberikan hasil jangka panjang pasca rekonstruksi yang lebih baik. Hal ini dikaitkan dengan kekuatan otot paha depan sebelum operasi menghasilkan fungsional lutut yang lebih baik. 13 Latihan pra-operasi selama 4 Ae 16 minggu dapat meningkatkan kekuatan quadriceps sebelum operasi. Pada akhirnya manajemen untuk cedera ACL diusulkan untuk bersifat individual. Tuntutan fungsional dan preferensi pasien sangat penting untuk setiap keputusan perawatan. 15 Beberapa pasien mungkin akan mempertimbangkan untuk rehabilitasi saja tanpa operasi atau menunda untuk pembedahan terkait dengan tuntutan aktivitas dan konsekuensi dari keterbatasan sekaligus proses rehabilitasi pasca tindakan operatif. Rencana perawatan terbaik untuk pasien akan tetap kembali pada saran dokter/ahli berdasarkan keterbatasan fungsional, tujuan pasien, aktivitas sehari-hari saat ini, dan tingkat olahraga yang ingin dicapai. KESIMPULAN Program rehabilitasi berupa intervensi fisioterapi selama 6 minggu efektif dalam meningkatkan kemampuan fungsional dan mengatasi gangguan pasca ruptur parsial ACL. Perawatan konservatif dapat diandalkan untuk secepatnya berpartisipasi pada aktivitas sehari-hari, tetapi memerlukan penilaian lebih lanjut untuk kembali pada tingkat olahraga yang aktif. REFERENSI