JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DALAM KURIKULUM MERDEKA DI SEKOLAH DASAR Oman Farhurohman1. Ai Elia Martaningsih Arum 2. Ummi Nafisah3. Ira Mira 4 Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten1,2,3,4 Jalan Syech Nawawi Al-Bantani. Kec. Curug Kota Serang. Banten1,2,3,4 Sur-el Koresponden: oman. farhurohman@uinbanten. id1, aeliama150@gmail. nafisahhummi@gmail. com3, iramira0501@gmail. Article info ABSTRACT Article history: Received: 16-07-2024 Revised : 07-08-2024 Accepted: 21-08-2024 The aim of this study is to explore the implementation of differentiated instruction in elementary schools within the context of the independent curriculum and to identify the supporting and inhibiting factors. The qualitative research method was employed, enabling the researcher to provide a detailed description of how differentiated instruction is applied. Findings reveal three stages in implementing differentiated instruction: initial preparation, execution, and evaluation. The initial stage involves diagnostic assessments to understand students' prior knowledge and learning styles. During execution, differentiation focuses on three key elements: content, process, and product, tailored to students' needs. Evaluation is conducted post-instruction to reflect on the process. Supporting factors include activities that enhance understanding of differentiated instruction, such as learning communities, internal training, and the presence of competent Conversely, inhibiting factors involve the time required, which can often be lengthy for effective implementation. Keywords: Independent Curriculum. Differentiated Learning. Elementary School. ABSTRAK Kata Kunci: Kurikulum Merdeka. Pembelajaran Berdiferensiasi. Sekolah Dasar Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengeksplorasi penerapan pembelajaran berdiferensiasi di Sekolah Dasar dalam konteks kurikulum merdeka serta faktor-faktor Metode penulisan yang digunakan adalah kualitatif, memungkinkan penulis untuk mendeskripsikan secara rinci bagaimana pembelajaran berdiferensiasi diterapkan. Hasil temuan penulisan menunjukkan bahwa ada tiga langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, yakni langkah awal, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap awal, asesmen diagnostik dilakukan untuk memahami pemahaman awal peserta didik serta gaya belajar mereka. Selama pelaksanaan, pembelajaran berdiferensiasi dilakukan dengan memperhatikan tiga elemen utama: konten, proses, dan produk yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Evaluasi dilakukan setelah pembelajaran untuk merefleksikan proses tersebut. Faktor pendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum merdeka meliputi kegiatan yang meningkatkan pemahaman tentang pembelajaran berdiferensiasi, seperti komunitas belajar, pelatihan internal, dan kehadiran tenaga pengajar yang kompeten. Sebaliknya, faktor penghambat meliputi waktu yang diperlukan yang terkadang cukup lama untuk menjalankan proses ini secara Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Bina Darma. Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 PENDAHULUAN Peran seorang pendidik adalah membimbing anak-anak agar tumbuh kembangnya berjalan sesuai dengan sifat alami mereka, hal tersebut berdasar pada pendapat Ki Hajar Dewantara. Dengan begitu, mereka dapat meraih kebahagiaan dan rasa aman. Artinya, pendidik bertugas mengarahkan anak-anak berdasarkan potensi, minat, bakat, dan kemampuan mereka untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan. (Imanuel, 2. Dengan adanya pendidikan manusia dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya baik dalam bidang afektif, kognitif dan psikomotor. (Sholikhah & Handayani, 2. Kemudian Setiap peserta didik adalah individu yang unik yang memiliki sifat, nilai serta karakter maing-masing yang membedakan setiap Maka dari itu, ketika mereka berada di sekolah dan kelas yang sama, perbedaan karakteristik di antara peserta didik tidak bisa dihindari, termasuk minat, gaya belajar, latar belakang, dan kemampuan peserta Belajar yang telah dilakukan dalam beberapa dekade terakhir sering kali terganggu dengan kesalahan pendekatan yang menyamakan perlakuan terhadap semua peserta didik, seolah mereka adalah entitas seragam. Metode pengajaran yang seragam tanpa mempertimbangkan perbedaan individual seperti latar belakang pendidikan, kebutuhan, minat, dan gaya belajar, dianggap sebagai praktik yang sah. peserta didik merupakan individu yang esentrik yang memiliki background pendidikan yang beragam, kebutuhan yang bervariasi, minat belajar yang berbeda-beda, dan gaya pembelajaran yang beraneka ragam. Oleh karena itu, pendekatan dalam terhadap penyampaian materi diharapkan berorientasi pada kebutuhan daripada peserta didik. Dengan demikian, dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Dari pernyataan tersebut, metode pembelajaran berdiferensiasi mempertimbangkan perbedaan individu dapat dijadikan acuan dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang memperhatikan karakteristik uniknya termasuk minat, belajar mereka, preferensi, dan kesiapan belajar. (Faiz et al. , 2. Pembelajaran diferensiasi merupakan pendekatan di mana proses belajar mengajar peserta didik berorientasi pada hal-yang yang berkaitan dengan apa yang dibutuhkan dari setiap peserta didik secara perorangan. (Tomlinson, 2. , sehingga muncul ketertarikan peserta didik dengan pembelajaran. Kemudian motivasi peserta didik dapat meningkat melalui aktivitas yang diberikan dengan disesuaikan ketertariakan mereka, sehingga hali ini dapat meningkatkan pemahaman dari tingkat sebelumnya. (Andini, 2. Pembelajaran yang dibedakan . ifferentiated instructio. suatu pendekatan atau filosofi dalam proses pengajaran yang efektif, yang menyediakan berbagai metode untuk memfasilitasi pemahaman informasi baru bagi semua peserta didik. di komunitasnya yang beragam, termasuk sopan santun Akuisisi konten, pemrosesan, konstruksi atau penalaran ide, pengembangan produk kegiatan pembelajaran dan penilaian memastikan bahwa semua peserta didik berada di dalam kelas dengan kebutuhan yang amat heterogen dari masing-masing individu dapat berjalan dengan efisien. Pembelajaran berdiferensiasi juga diartikan sebagai serangkaian pembelajaran yang menitikberatkan perhatiannya pada penyesuaian kebutuhan peserta didik yang beragam Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 kebutuhan tersebut diantaranya dalam segi minat, segi kesiapan belajar, gaya belajar, serta profil belajar peserta didik, (Fitra, 2. Penerapan kurikulum merdeka tercantum dalam Kepmendikbudristek No. 56 Tahun 2022. Kurikulum Merdeka merupakan kurikulum yang menerapkan pembelajaran yang berpihak pada peserta didik berfokus menciptakan profil pelajar Pancasila yang mengarah kepada pencapaian hasil belajar secara menyeluruh. Kurikulum ini memberi peserta didik kebebasan untuk mengembangkan potensinya sesuai keinginan dengan Kurikulum merdeka menitikberatkan pada penyediaan peluang kepada peserta didik untuk lebih Kurikulum Merdeka dianggap penting untuk kebutuhan dalam dunia pendidikan saat ini. Mengingat transisi pembelajaran dari online/ daring akibat pandemik menjadi pertemuan tatap muka terbatas yang memerlukan suatu transformasi dalam peningkatan mutu pendidikan secara kualitas dibuktikan dengan hasil belajar yang meningkat. Kebijakan pelaksanaan merdeka belajar tentu memberikan manfaat bagi kepala sekolah, guru, orang tua, maupun pemerintah daerah, (Muin et al. , 2. Kurikulum merdeka yang diusungkan sudah barang tentu berbeda dengan kurikulum sebelumnya dilihat dari konsep AuMerdeka BelajarAy. Menurut Sherly, merdeka belajar yang dimaksud ialah Memberikan kebebasan kepada sekolah, guru, dan peserta didik untuk berinovasi, belajar mandiri, dan menjadi kreatif, dengan guru sebagai penggerak utama, (Rahmadayanti & Hartoyo, 2. Dengan kompetensi ini, anak tidak hanya sekadar menjadi penghafal pelajaran saja, namun akan mampu menciptakan dan melakukan inovasi dalam berbagai bidang, memiliki karakter yang baik dan keterampilan sosial yang positif, (Retnaningsih & Khairiyah, 2. Konsep merdeka belajar diatas terdapat ketersinggungan dengan pembelajaran berdiferensiasi dimana pembelajaran berpusat pada peserta didik sebagai orientasi utama dalam merencanakan hingga menevaluasi, begitupula dalam kurikulum merdeka yang menitikberatkan pada kebebasan guru dalam bertindak sesuai kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar, (Aprima & Sari, 2. Sehingga pelaksanaan kurikulum merdeka berkesinambungan dengan pembelajaran berdiferensisasi, yang mana metode yang berangkat dari keunikan peserta didik yakni pembelajaran berdiferensiasi, karena setiap peserta didik memiliki karakteristik unik, mereka tidak diperlakukan sama dalam proses pembelajaran, sehingga guru perlu memfasilitasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus mempersiapkan pembelajaran melalui perlakuan dan aktivitas yang berbeda untuk masing-masing peserta Berdasarkan uraian di atas, dalam pelaksanaan kurikulum merdeka ini perlu digunakan sebuah pembelajaran yang mampu memenuhi kebutuhan peserta didik. Hal ini dilakukan agar potensi yang dimiliki peserta didik dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan minat peserta didik. Sehingga pelaksanaan pembelajaran berdiferensisasi ini dianggap dapat memberikan solusi dalam pelaksanaan kurikulum merdeka di sekolah dasar. Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 METODOLOGI PENULISAN Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah pendekatan kualitatif. Penulisan kualitatif ditandai dengan penekanan pada pemahaman mendalam terhadap masalah spesifik daripada mempertimbangkan masalah secara umum. Metode kualitatif condong kepada penggunaan teknik analisis yang mendalam dengan mengkaji berbagai fenomena kasus satu demi satu, karena menurut metodologi dari penulisan kualitatif yakni sifat antara kejadian satu dan kejadian lain akan berbeda. (Wicaksono, 2. Sebagaimana yang diketahui bahwa data primer didapatkan ketika data tersebut langsung dari sumber informasi, dalam hal ini penulis melakukan observasi terkait dengan penerapan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah serta melakukan wawancara langsung terhadap guru, kepala sekolah dan murid terkait dengan hal Untuk mendukung data primer, selanjutkan penulis membutuhkan data sekunder yang merujuk kepada informasi yang diperoleh dari sumber lain, bukan secara langsung dari subjek penulisan oleh penulis, data ini berupa dokumen yang penulis peroleh dari wali kelas. Data pelengkapnya antara lain dokumen seperti RPP, kurikulum, dan dokumen lain yang relevan yang berkaitan dengan penulisan. Untuk mencapai hasil penulisan yang dapat digunakan sebagai dasar kesimpulan, yang paling penting adalah bahwa penulis harus memperoleh data. tanpa adanya metode pengumpulan data yang efektif, penulis akan sulit untuk mendapatkan data yang memenuhi standar yang telah ditetapkan, (Sugiyono, 2. Wawancara, observasi serta dokumentasi merupakan teknik yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data penerapan pembelajaran berdiferensiasi di sekolah. Ketika melakukan penulisan lapangan, penulis melakukan wawancara langsung atau tatap muka dengan pihak yang menjadi subjek penulisan, tanpa melibatkan perantara, (Fathoni, 2. Wawancara dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait dengan variabel penulisan, hal ini dilakukan kepada semua orang yang terlibat, termasuk kepala sekolah, guru, dan peserta didik. Wawancara dengan kepala sekolah dilakukan untuk mengetahui informasi mengenai profil sekolah serta pengimplemntasian kurikulum merdeka secara keseluruhan, wawancara dengan guru kelas dilakukan untuk mengetahui pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka, sedangkan wawancara dengan peserta didik dilakukan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan impelemntasi pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Tujuan dari observasi adalah untuk memahami situasi sebenarnya dari objek penulisan agar data yang diperoleh dapat memiliki tingkat akurasi yang tinggi, (Widodo, 2. Dalam penulisan ini observasi bertujuan untuk mengetahui perencanaan pembelajaran berdiferensiasi oleh guru, strategi dan kegiatan pembelajaran, keterlibatan peserta didik, suasana kelas, kepedulian dan inovasi guru terhadap kebutuhan peserta didik serta evaluasi pembelajaran oleh guru. Dalam penulisan kualitatif, penggunaan dokumen melengkapi metode observasi dan wawancara, (Sugiyono, 2. Dokumentasi yang penulis kumpulkan yakni berupa modul ajar, data peserta didik, kurikulum serta foto-foto selama kegiatan penulisan berlangsung. Kemudian dalam menentukan tahapam penulisan, penulis berorientasi pada model Miles dan Huberman melalui empat tahap diantaranya mengumpulkan data, mereduksi data, menyajikan data serta menarik kesimpulan. Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang Terdapat tiga langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelas yakni langkah awal, pelaksanaan, dan tahap evaluasi, (Purba, 2. Adapun usaha yang dilakukan sebagai berikut. Tahap Awal Tahap Awal yang dilakukan oleh guru ialah asesmen diagnostik baik non-kognitif maupun kognitif, analisis kurikulum dan penerapan pembelajaran berdiferensiasi hasil dari asesmen dan analisis kurikulum. Pertama. Asesmen diagnostik non-kognitif dilakukan guru dengan strategi yang berbeda-beda yang berorientasi pada gaya belajar peserta didik. Asesmen diagnostik kognitif digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal peserta didik. Dari hasil asesmen ini, guru dapat mengetahui tingkat pemahaman awal peserta didik, termasuk mengidentifikasi peserta didik dengan pencapaian tinggi dan peserta didik dengan pencapaian reguler/tipikal. Konsep tersebut diperkenalkan sebagai pembelajaran terdiferensiasi yang terdapat dalam buku How to Differentiate Instruction in Mixed Ability Classrooms karya dari Carol A. Tomlinson . Dalam buku tersebut dijelaskan bagaimana merancang pembelajaran dengan mengambil pertimbangan keberagaman peserta didik. Keberagaman ini diantaranya berkenaan dengan minat dan bakat peserta didik, kesiapan belajar serta gaya peserta didik dalam belajar, (Carol Ann, 2. , dalam hal ini, guru sudah sejalan lurus dengan konsep yang dikenalkan oleh Carol. Karena guru telah berupaya agar dapat menyesuaikan pembelajaran dengan memperhatikan keu-unikan dari masing-masing peserta didik. Usaha yang dilakukan oleh guru selanjutnya berupa Analisis kurikulum adapun langkah yang digunakan oleh guru Guru SD Negeri Kalanganyar 1 ialah merancang modul ajar yang sesuai dengan prinsip pembelajaran berdiferensiasi yang didasari pada kurikulum merdeka. Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi yakni berupa upaya sebagai lanjutan dari analisis diagnostik dan analisis kurikulum yang meliputi tiga elemen pembelajaran berdiferensiasi yakni elemen konten, proses dan produk. Berikut adalah pembahasan mengenai hal tersebut berdasarkan pada paparan data yang telah dijelaskan sebelumnya yakni dalam elemen konten, upaya yang dilakukan oleh guru SD Negeri Kalanganyar 1 sebagai bentuk diferensiasi ialah dengan mengorientasikan pembelajaran pada dua tujuan pembelajaran yang berbeda. Dari analisis diagnostik kognitif diketahui bahwa terdapat dua tingkatan kemampuan awal peserta didik yakni peserta didik dengan pencapaian tinggi dan peserta didik regular/tipikal dan upaya selanjutnya yakni dengan memilih bahan ajar yang berbeda disesuaikan dengan gaya belajar yang didapatkan pada asesmen diagnostik non-konitif yang telah dilakukan. Adapun bahan ajar yang dipilih tentu Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 berbeda, diantaranya bahan ajar yang dipakai dalam kelompok kinestetik ialah berupa alat serta bahan yang digunakan untuk praktik yang berkaitan dengan materi, kelompok dengan gaya belajar visual menggunakan bahan ajar berbasis cetak, dan kelompok dengan gaya belajar audio-visual menggunakan bahan ajar berbasis teknologi. Sejalan dengan langkah tersebut, dalam penulisannya Farid menyebutkan bahwa menyesuaikan pembelajaran dengan gaya belajar peserta didik serta kurikulum yang berlaku ialah tugas dari seorang guru yang harapannya dapat terlaksana dengan baik, (Farid et al. , 2. Guru SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang dalam impelementasi pembelajaran berdiferensiasi pada elemen proses langkah yang diambil ialah dengan menggunakan metode pengajaran yang berbeda untuk kelompok peserta didik berdasarkan gaya belajar. Adapun metode yang digunakan oleh guru SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang ialah metode eksperimen untuk kelompok kinestetik, metode membaca-diskusi untuk kelompok visual dan metode berbasis teknologi untuk kelompok audio-visual. Sedangkan dalam diferensiasi produk, guru menginteruksikan kepada peserta didik membuat produk tentang hasil pengamatan melalui berbagai cara berdasarkan minat peserta didik bisa seperti gambar, lagu dan menulis. Hal yang telah disebutkan sesuai dengan teori Tomlinson mengatakan bahwa untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan penyesuaian pembelajaran dengan perkembangan peserta didik yang dilakukan oleh guru. Oleh karenanya guru diharapkan mampu untuk memilah metode pembelajaran berdiferensiasi yang efektif dan efisien, (Tomlinson & Imbeau, 2. Diferensiasi adalah pendekatan pengajaran yang memungkinkan pembelajaran di kelas dapat berjalan yang berangkat dari minat belajar mereka, kebutuhan pribadi serta disesuaikan dengan kesiapan mereka, sehingga mereka dapat menghindari rasa frustrasi dan kegagalan dalam proses belajar, (Sigalingging, 2. Kemudian pembelajaran berdiferensiasi juga dibahas dalam jurnal yang ditulis oleh Herwina dengan judul optimalisasi kebutuhan peserta didik dan hasil belajar dengan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran diferensiasi membantu peserta didik mencapai hasil belajar yang maksimal dengan memungkinkan mereka menghasilkan karya sesuai dengan minat mereka, (Herwina, 2. Oleh karena itu, proses pembelajaran diferensiasi seharusnya memberikan banyak kesempatan bagi peserta didik untuk menunjukkan pemahaman mereka. Hasil dari karya peserta didik dapat berupa lagu, puisi, poster, dan banyak lainnya berdasarkan keterampilan dan minat mereka. Dengan mengakui pentingnya perkembangan kreativitas di abad ke-21, pendekatan pembelajaran diferensiasi sangat disarankan untuk diterapkan dalam pembelajaran guna mencapai tujuan pembelajaran dengan lebih efektif. Tahap Evaluasi Tahap evaluasi dalam pembelajaran berdiferensiasi di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang dengan melakukan asesmen sumatif atau evaluasi yang dilakukan di akhir pembelajaran. refleksi guru dan peserta didik atas pembelajaran yang telah dilakukan terdapat tiga langkah dalam Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 tahap ini yakni presentasi produk berupa gambar, tulisan dan lagu yang dibuat oleh peserta didik dimaksudkan untuk guru dapat menilai sejauh mana peserta didik dalam memahami materi yang diberikan, setelah melakukan presentasi peserta didik melakukan tanya jawab. Langkah terakhir dalam tahap evaluasi adalah menarik kesimpulan dengan pertanyaan pemantik yang diberikan oleh Langkah-langkah yang diambil dari SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang dapat disimpulkan sesuai dengan naskah akademik mengenai prinsip pengembangan pembelajaran berdiferensiasi yang diterbitkan oleh Kemendikbud Ristek 2021 yang menyebutkan bahwa dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi dapat melalui tiga tahap yakni tahap awal, tahap pelaksanaan dan tahap evaluasi. (Purba, 2. Dimana tahap awal digunakan untuk persiapan guru dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, tahap pelaksanaan merupakan penerapan dari pembelajaran berdiferensiasi, dan tahap evaluasi sebagai refleksi. Faktor Pendukung dan Penghambat Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di SDN Kalanganyar 1 Pandeglang Faktor Pendukung Faktor pendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum merdeka di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang yakni dukungan penuh dari sekolah dengan mengadakan kegiatan yang memungkinkan guru dapat menambah kapasitasnya mengenai pembelajaran berdiferensiasi berupa pertemuan dalam kegiatan komunitas belajar dilakukan selama satu kali dalam satu minggu yang berisikan sharing antar guru agar tidak terjadi miskonkonsepsi. Kemudian kegiatan in house training yang diadakan sekolah juga menjadi faktor pendukung pembelajaran berdiferensiasi di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang, melalui kegiatan guru dapat menambah kapasitasnya dengan mengikuti pelatihan yang menghadirkan ahli Seperti halnya yang dilakukan oleh SD Negeri Kalanganyar1, dalam jurnal Sindy Dwi Jayanti (Jayanti et al. , 2. disebutkan bahwa usaha yang dilakukan oleh SMA Negeri 22 Surabaya dalam meningkatkan pemahaman guru terhadap pembelajaran berdiferensiasi dengan mengadakan in house training. Tujuan dari pelatihan ini adalah untuk memastikan bahwa guru memahami inti dari Kurikulum Merdeka serta memiliki keterampilan dalam menerapkan inovasi pembelajaran, termasuk pendekatan pembelajaran berdiferensiasi. Faktor pendukung dari penyelenggaraan pembelajaran berdiferensiasi di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang yakni memiliki beberapa tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dalam mengembangkan pembelajaran berdiferensiasi di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang. Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 Faktor Penghambat Faktor penghambat implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang yang pertama ialah waktu yang dibutuhkan dalam pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Kemudian kesalahpahaman guru mengenai konsep dasar dari pembelajaran berdiferensiasi. Guru dalam hal ini belum begitu paham mengenai bagaimana merancang pembelajaran yang dihadapkan pada pemenuhan atas keheterogenan peserta didik, karena hal itu tentu menjadi hambatan bagaimanapun kepahaman atas konsep pembelajran berdiferensiasi suatu syarat utama dalam implementasinya. Selain ketidakpahaman guru, hambatan yang datang dari guru ialah kurangnya kemampuan guru dalam menghadirkan konten yang dapat menarik peserta didik dalam Pasalnya dalam pembelajaran berdiferensiasi Selain sebagai pendidik, guru juga merupakan agen perubahan penting yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang ramah bagi semua anak (Wulandari et al. , 2. guru dituntut untuk mengeluarkan kreativitasnya dalam mengemas pembelajaran. Hal ini menjadi hambatan ketika guru memiliki kurangnya kompetensi dalam mengembangkan pembelajaran yang menarik. Hambatan yang sama dirasakan oleh SD Negeri 005 Hangtuah Kabupaten Kampar. Dalam jurnal Febrianti dikatakan bahwa problematika guru yang dialami ketika pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi yakni guru masih menghadapi kesulitan dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi karena beberapa peserta didik merasa bosan dan kurang antusias, (Febrianti & Dafit, 2. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan konten-konten yang dapat meningkatkan minat peserta didik, selain itu dalam proses diferensiasi, guru juga mengalami tantangan karena harus memenuhi kebutuhan yang beragam dari peserta didik setiap melaksanakan pembelajaran. SIMPULAN Terdapat tiga langkah dalam mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi di kelas yakni langkah awal, pelaksanaan serta evaluasi. Faktor pendukung implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang yakni dukungan penuh dari sekolah dengan mengadakan kegiatan yang memungkinkan guru dapat menambah kapasitasnya mengenai pembelajaran berdiferensiasi berupa komunitas belajar, in house training, dan memiliki tenaga pengajar yang kompeten. Sedangkan yang menjadi faktor penghambat implementasi pembelajaran berdiferensiasi dalam kurikulum merdeka di SD Negeri Kalanganyar 1 Pandeglang ialah waktu yang dibutuhkan dalam pengimplementasian pembelajaran berdiferensiasi membutuhkan waktu yang lama serta kesalahpahaman guru mengenai konsep dasar dari pembelajaran berdiferensiasi dan Keterbatasan guru dalam menyajikan konten yang menarik perhatian peserta didik dalam proses belajar. Selanjutnya penulis menuliskan beberapa saran baik untuk penulis selanjutnya maupun penyelenggara pendidikan. Untuk penulis selanjutnya sebaiknya dapat melanjutkan penulisan dengan meneliti hal yang lebih rinci yang belum terkaji dalam penulisan ini misalnya pengaruh atas masing-masing aspek seperti kesiapan, minat, dan gaya belajar terhadap dan proses pembelajaran. Kemudian untuk para guru agar Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 senantiasa bersabar dalam menghadapi keheterogenan peserta didik dan dianjurkan untuk menambah kapasitasnya melalui literatur mengenai metode atau strategi yang mampu diimplementasikan di dalam kelas, karena segala usaha yang dilakukan oleh guru kan berpengaruh pada peserta didik. Diharapkan dengan usaha yang baik tersebut peserta didik berkembang dengan baik. Disarankan juga kepada sekolah agar tidak pernah berhenti dalam mengusahakan segala upaya demi kemajuan SD Kalanganyar 1 Pandeglang dan pendidikan peserta didik. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang telah memberikan dana penelitan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitan ini. Oman Farhurohman. Ai Elia Martaningsih Arum. Ummi Nafisah, dan Ira Mira (Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasa. JURNAL ILMIAH BINA EDUKASI ISSN 1979-8598 E-ISSN: 2655-8378 http://journal. id/index. php/jurnalbinaedukasi Vol. No. Desember 2024, 95 Ae 105 DAFTAR PUSTAKA