Jurnal Teknik Mekanikal Bandar Udara Vol. 1 No. 3 Bulan April ISSN . 3025-8146 ISSN . 3025-7867 Hal. 167 : 174 IDENTIFIKASI PENYEBAB ABNORMALITY JARAK ANTAR STEP PADA ESKALATOR BOARDING LOUNGE GATE E3 TERMINAL 2 DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA Zulina Kurniawati. Annisa Puji Astuti. Rafid Rizky Nugroho. Muhamad Rafi Apriliansa. Ricky Andriansyah. Muhammad Tezza Putra Alief. 1,2,3,4 Politeknik Penerbangan Indonesia Curug e-mail: zulina. kurniawati@ppicurug. id, 2annisa_mol@yahoo. rafid2160@gmail. com, 4rafiapriliansa124@gmail. Rickyandrian461@gmail. com, 6Tezzamuhammad88@gmail. Received : 9 Juni 2023 Abstrak: Revised : 12 Juni 2023 Accepted : 26 Juli 2023 Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa penyebab abnormality jarak antar step pada eskalator Boarding Lounge Gate E3 Terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Metodologi penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dimana penulis melakukan pengumpulan data melalui studi lapangan dari objek yang diteliti untuk memperoleh data-data yang dibutuhkan. Teknik pengumpulan data menggunakan 3 metode yaitu: metode observasi, metode interview, dan metode dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan kondisi yang tidak normal pada jarak step pada eskalator Boarding Lounge Gate E3 Terminal 2. Berdasarkan Modul Riksa Uji Lift dan Eskalator. Departemen Pekerjaan Umum jarak normal step adalah 4-5 mm. Sedangkan berdasarkan studi kasus dilapangan didapatkan hasil 7,93 dan 13,79 mm. Kata Kunci: Penelitian. Eskalator. Metode Abstract: This study aims to analyze the causes of the distance between steps abnormality on the Boarding Lounge Gate E3 Terminal 2 escalator at Soekarno-Hatta International Airport and to find out the steps that must be implemented in overcoming this problem. The research methodology used is a qualitative method in which the author collects data through field research . ield researc. of the object under study to obtain the required data. Data collection techniques using 3 methods, namely: observation method, interview method, and documentation method. The results of this study were found to be abnormal conditions in the step distance on the escalator Boarding Lounge Gate E3 Terminal 2. Based Jurnal Teknik Mekanikal Bandar Udara Vol. 1 No. 3 Bulan April ISSN . 3025-8146 ISSN . 3025-7867 Keyword: on the Elevator and Escalator Test Module of The Public Works Department the normal step distance is 4-5 mm. Meanwhile, based on case studies in the field, the results were 7. 93 and 13. 79 mm. Research, escalator, method Pendahuluan Eskalator merupakan suatu alat transportasi yang bergerak secara vertikal memiliki fungsi untuk mengangkut orang atau barang dengan cara bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti jalur berupa rel yang dihubungkan dengan rantai dan digerakkan oleh motor listrik (Sadi. Pada umumnya eskalator . (Bangun et al. , 2. Hal tersebut tergantung dari sistem yang digunakan apakah menggunakan sistem slowdown atau standby off. Seiring perkembangan teknologi esklator digunakan sebagai salah satu fasilitas penunjang di gedung-gedung tinggi, pusat perbelanjaan, maupun di bandar udara untuk mobilisasi orang agar lebih efektif dan efisien (Gunardi & Muhya, 2. Keuntungan dari eskalator cukup banyak seperti mempunyai kapasitas memindahkan sejumlah orang dalam jumlah besar dan tidak ada interval waktu tunggu terutama pada jam sibuk dan mengarahkan orang ke tempat tertentu seperti pintu keluar, pertemuan khusus, dan lain sebagainya (Sadi. Seiring kemudahan dalam segala hal, tidak terkecuali dengan teknologi transportasi (Taufik Rohman, 2. Salah satunya adalah jasa angkutan udara yaitu pesawat terbang. (Soekardono, 1. Pesawat karakteristik mampu mencapai tempat tujuan dengan cepat, menggunakan teknologi tinggi dan memiliki tingkat dibandingkan dengan moda transportasi lainnya (Martono, 1. Penelitian ini Bandar Udara Internasional SoekranoHatta. Bandar udara Internasional Soekarno-Hatta merupakan bandar udara utama di Indonesia penerbangan hampir ke semua bandar Indonesia Internasional. (Pipit, 2. Salah satu eskalator yang terdapat pada Boarding Lounge Gate Echo 3 Terminal 2 di Bandar Udara Internasional SoekarnoHatta pernah mengalami abnormality jarak antar step. Hal ini dapat menimbulkan potensi bahaya dan meningkatkan risiko keselamatan dan kesehatan kerja. Potensi bahaya dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja yang berasal dari berbagai kegiatan dalam pelaksanaan operasi atau juga berasal dari proses kerja (Santoso et al. Kecelakaan kerja artinya kecelakaan akibat pekerjaan yang dapat terjadi di tempat kerja, ketika pergi/pulang ke/dari tempat kerja. (Waruwu. Selain itu dengan adanya pemahaman dan penerapan K3 di suatu perusahan dapat mengurangi risiko kecelakaan kerja. (Awuy, 2. Pada tahun 2012 terdapat kasus kecelakaan yang pernah terjadi berulang di Mall IDENTIFIKASI PENYEBAB ABNORMALITY JARAK ANTAR STEP PADA ESKALATOR BOARDING LOUNGE GATE E3 TERMINAL 2 DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA Ciputra Seraya Pekanbaru, yaitu kasus tiga jari bocah yang terjepit berumur 2 tahun di eskalator lantai 1 pada tanggal 2 Januari 2012 dan terjadi kembali kasus yang sama pada tanggal 4 November 2012 (Monani, 2. Eskalator yang terdapat di Boarding Lounge Gate Echo 3 Terminal 2 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Berdasarkan Modul Uji Riksa Lift dan Eskalator. Depatemen Pekerjaan Umum menjelaskan bahwa toleransi jarak antar step adalah 4-5 mm (Construction Competency Training Center, 2. Step Step atau anak tangga adalah sebagai tempat pijakan penumpang yang memiliki struktur dari plat baja tuang dengan proses dianeling atau (AuPeraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Elevator Dan Eskalator,Ay 2. Spring Spring merupakan salah satu komponen yang ada pada eskalator dengan memiliki fungsi untuk mengatur kekencangan dari rantai esaklator/Chain Step (PT Fuji Elevator. Chain Step Chain Step merupakan rantai penggerak dari step yang berfungsi untuk menggerakan step dengan mendapat putaran dari motor yang dihubungkan oleh wheel drive. (United States Patent. Pdf, n. Indikasi yang timbul pada permasalahan tersebut adalah terdapat celah antar step yang tidak normal, kemudian hampir semua step mengalami kemiringan yang sama, sehingga terjadi gesekan antar step yang menimbulkan noise/bunyi pada Berdasarkan dilakukan, faktor penyebab yang paling elongation/aus pada rantai eskalator yang sudah tidak dapat diatur kembali melalui spring. Berdasarkan buku manual eskalator disebutkan bahwa batas maksimal spring adalah 12 mm (PT Fuji Elevator, n. Oleh kerena itu, untuk menjaga ketersediaan peralatan (Availabilit. operasional peralatan eskalator dalam memberikan layanan kepada penumpang yang sesuai dengan SKEP 157 Tentang Pedoman Pemeliharaan dan Pelaporan Peralatan Fasilitas Elektronika dan Listrik Penerbangan (Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, 2. , maka penulis membagi beberapa tujuan penelitian antara lain: Mengetahui tahapan-tapahan yang harus dilaksanakan dalam Mengidetifikasi faktor benyebab yang paling dominan dari permasalahan tersebut Metode Metodologi penelitian dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dimana penulis melakukan pengumpulan data yang dibutuhkan melalui studi lapangan Jurnal Teknik Mekanikal Bandar Udara Vol. 1 No. 3 Bulan April ISSN . 3025-8146 ISSN . 3025-7867 . ield researc. terhadap objek yang diamati guna mengumpulkan data-data yang dibutuhkan. Berdasarkan teori penelitian kualitatif, pengumpulan data dibagi menjadi 2 yaitu: data primer dan data Data primer merupakan suatus data yang berbentuk verbal dengan diucapkan secara lisan. Sedangkan data sekunder merupakan suatu data yang diperoleh berdasarkan hasil dokumendokumen grafis, fotofoto, dimana hal ini bertujuan untuk memperkaya data primer (Dr. Sandu Siyoto. SKM & M. Ali Sodik, 2. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan penelitian tersebut menggunakan teknik observasi. Menurut (Dr. Sandu Siyoto. SKM & M. Ali Sodik, 2. proses pengumpulan data melalui metode observasi dijelaskan bahwa pengamat sangat berpengaruh dalam menggunakan metode observasi dalam menentukan variabel yang akan Variabel yang diteliti dalam penelitian ini yaitu jarak antar step, chain step, dan roller chain pada Eskalator Boarding Lounge Gate Echo 3 Terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta dengan instrumen pengukuran menggunakan vernier caliper/jangka sorong. Penulis pengumpulan data menggunakan teknik interview dimana penulis melakukan wawancara jenis tidak terstruktur terhadap teknisi eskalator di Bandar Udara Internasional SoekarnoHatta. Wawancara tidak terstruktur merupakan suatu proses wawancara yang memuat garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Dr. Sandu Siyoto. SKM & M. Ali Sodik, 2. Selain mengumpulkan data dengan metode Pada saat melakukan mendokumentasikan dalam bentuk foto pada variabel yang sudah ditentukan, selain itu penulis juga mencari data-data pada buku manual Pada kesempatan ini, penulis melakukan 3 metode pengumpulan data antara lain: metode observasi, metode interview, dan metode dokumentasi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah persoalan yang ditemukan di lapangan sudah sesuai dengan prosedur pada buku manual eskalator dan Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Elevator Eskalator. Di bawah ini adalah hasil pengukuran terhadap tiga variabel yang sudah penulis tentukan. Gambar 1. Pengukuran Jarak Step Eskalator Berikut ini adalah tabel hasil pengukuran yang dilakukan penulis pada saat melaksanakan observasi pada eskalator Boarding Lounge Gate Echo 3 Terminal 2 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. IDENTIFIKASI PENYEBAB ABNORMALITY JARAK ANTAR STEP PADA ESKALATOR BOARDING LOUNGE GATE E3 TERMINAL 2 DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA Tabel Hasil menggunakan verinier calipper No. Jarak Chain Roller Step Step Step 7,93 mm Elongation 12,48 13,79 Elongation 16,71 Metode Analisis Data Proses setelah data yang dibutuhkan terkumpul, selanjutnya peneliti menganalisis data yang ada supaya dapat disajikan dengan baik. Pada penelitian ini, penulis melakukan beberapa tahapan dalam menganalisis data yang sudah dikumpulkan yaitu: Perbandingan Setelah penulis melakukan observasi pada eskalator Boarding Lounge Gate Echo 3 terminal 2 penulis mengumpulkan data yang telah diperoleh dan dilakukan studi Studi membandingkan dua atau lebih kondisi, kejadian, atau kegiatan (Sukdinata, 2. Dalam penelitian ini penulis membandingkan antara hasil observasi dengan melakukan pengukuran pada jarak step eskalator menggunakan vernier caliper dengan standar kententuan jarak step pada eskalator. Interview Selain itu, dalam proses analisi data penulis melakukan interviwer terhadap teknisi ekalator di Terminal Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. Dalam proses interview penulis terstruktur, artinya penulis hanya menanyakan secara garis besar penulis tanyakan. Diagram Fish Bone Berdasarkan mengumpulkan beberapa faktor penyebab yang mempengaruhi pada permasalahan abnormality jarak pada step eskalator. Kemudian penulis melakukan analisa data dengan teknik diagram fish bone sebagai alat untuk membantu menemukan faktor utama dari berapa faktor yang mempengaruhi pada permasalahan. (Ishikawa. Diskusi Berdasarkan terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekano-Hatta tahun 2022 memiliki 26 unit eskalator. Berdasrakan hasil studi lapangan terdapat permasalahan yang cukup serius dimana pada salah satu eskalator yang terdapat pada Boarding Lounge Gate Echo 3 terminal 2 penah mengalami abnormality jarak antar Berdasarkan modul uji riksa lift dan eskalator dari Departemen Pekerjaan Umum dijelaskan bahwa toleransi jarak antar step adalah 4-5 berikut contoh gambar jarak step yang abnormal di bawah ini. Gambar 2. Jarak step abnormal Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan narasumber yang merupakan personil teknisi eskalator Jurnal Teknik Mekanikal Bandar Udara Vol. 1 No. 3 Bulan April ISSN . 3025-8146 ISSN . 3025-7867 yang mempunyai pengalaman lebih dalam menangani permasalahan yang timbul pada eskalator khususnya di terminal 2 Bandar Udara Interanasional Soekarno-Hatta. Kemudian hasil dari wawancara dapat disimpulkan bahwa ada beberapa faktor penyebab dari permasalahan yang ada. Usia Chain Step (Life Tim. Komponen atau spare part pasti memiliki batas waktu penggunaan. Hal ini dapat berpengaruh dapa peforma Lamanya komponen dan tidak diimbangi dengan perawatan yang sesuai dengan periode akan mempercepat lifetime dari sebuah Berdasarkan data fasilitas terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta tahun 2022 bahwa eskalator ini di pasang pada tahun 2013 dan telah berusia 9 Chain Tention tidak dapat di Adjust Gambar 3. Chain Tention Eskalator memiliki chain tension yang berfungsi untuk mengatur kekencangan rantai. Berdasarkan buku manual OTIS jarak standar dari spring atau chain tension adalah 12,8 mm. Apabila ketika terjadi masalah pada step eskalator maka harus di atur chain tension sesuai dengan Jika rantai eskalator kendur dan chain tension sudah di atur dengan jarak 12,8 mm, tetapi mengakibatkan timbulnya indikasi yang sama, maka harus dilakukan penggantian chain step. Chain Step Aus Berdasarkan hasil pengukuran dan wawancara chain step yang aus dapat mempengaruhi timbulnya jarak antar step yang tidak sesuai. Chain step yang aus disebabkan oleh beban operasional yang melebihi kapasitas secara terus Gambar Eskalator Kapasitas Beban Eskalator ini memeiliki lebar step 800 mm dan dioperasikan dengan 1 arah yaitu arah turun dan eskalator tersebut terletak di boarding lounge penumpang untuk turun dari pesawat. Pada terminal 2 dapat melayani 2 . pesawat dengan 1 . parking stand per jamnya. Beban ini masih di bawah kapasitas maksimal dari spefisikasi lebar step pada eskalator boarding longue gate echo 3. Namun apabila hal ini terjadi secara kontinu dapat mempercepat chain step aus. Kurangnya pelumasan Pada komponen Auto Lubrication System adalah sejenis pompa dengan pegas piston yang digerakkan oleh sebah motor kecil, sehingga dapat memberikan pelumasan rutin secara Kapasitas setiap pelumasan yang keluar dari pompa dapat diatur IDENTIFIKASI PENYEBAB ABNORMALITY JARAK ANTAR STEP PADA ESKALATOR BOARDING LOUNGE GATE E3 TERMINAL 2 DI BANDAR UDARA INTERNASIONAL SOEKARNO-HATTA dengan kisaran 0,2-5 ml (Indonesia. Gambar 5. Siklus Pelumasan dan Minyak Pelumas Beban Waktu Operasional Esklator pada terminal 2 di Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta beroprasi selama 24 jam. Eskalator AustandarAy memiliki ham operasional 8 jam/hari dan dianggap tua jika Sedangkan eskalator Auhigh dutyAy dapat beroperasional semala 15 sampai 20 tahun tergantung jam operasional per hari. Eskalator ini beroprasi secara menggunakan sistem slow down. Artinya penumpang yang menggunakan eskalator, eskalator akan tetap bekerja tetapi dengan kecepatan Keuntungan menggunakan eskalator sistem slow down adalah arus listrik yang stabil sehingga mempengaruhi cost atau biaya listrik. Adapun kekurangan dari sistem ini adalah eskalator bekerja selama 24 jam secara terus menerus mengakibatkan komponen yang ada didalamnya bekerja secara kontinu khusunya komponen yang 80 mengalami gesekan pegas. Contohnya adalah roller chain dan roller step yang terus bekerja berdasarkan putaran motor. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian penulis dapat menyimpulkan beberapa Pada eskalator boarding lounge gate echo 3 Terminal 2 di Bandar Udara Internasional SoekarnoHatta pernah mengalami abnormality nya jarak antar step yang tidak sesuai dengan jarak toleransi. Selain itu, berpengaruh pada Hal disebabkan oleh aus nya chain step pada eskalator. Proses pelumasan pada eskalator tidak dilakukan secara periodik. Dikarenakan oil pump yang melakukan pelumasan pada drive chain dan chain step tidak dapat berfungsi dengan normal . Waktu operasional selama 24 jam secara terus menerus . low dow. dengan beban masih di bawah nominal eskalator secara kontinu dan tidak disesuaikan dengan pengecekan spring dan yoke. Daftar Pustaka