Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 ANALISIS PENERJEMAHAN LAFADZ MUSYTARAK LAFDZI DALAM FILM AHMAD BIN HANBAL BERDASARKAN TEORI KODE PESAN ROMAN JACOBSON Yuni LutfianiA. AkmaliyahA. AmiqA UIN Sunan Gunung Djati Bandung. UIN Sunan Ampel Surabaya. Indonesia 2230090027@student. idA, akmaliyah@uinsgd. idA, amiq@uinsa. ABSTRACT Translating Arabic texts into Indonesian involves a good understanding of semantics. One challenge in translation is selecting the correct meaning for polysemous words . usytarak This study aims to analyze the translation of polysemous words in the film Ahmad bin Hanbal using Roman Jakobson's message code theory. The research method is descriptive qualitative, with data collection techniques including citation and documentation. The data analysis process involves data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results show several polysemous words in the film, translated as follows: A AIAas "profession," A AIAas "destruction," A OAas "country," A ONAas "take him," A OAas "result," and A EOAas "offering. This study on the translation of polysemous words contributes to the development of semantic studies, particularly in understanding meaning relations related to translation quality. Keywords: Translation. Semantics. Polysemous Words. Message Code Theory. ABSTRAK Menerjemahkan teks berbahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia melibatkan pemahaman semantik yang baik. Salah satu problematika dalam menerjemahkan adalah kesalahan menentukan makna yang tepat untuk lafadz musytarak lafdzi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerjemahan lafadz musytarak lafdzi dalam film Ahmad bin Hanbal melalui teori kode pesan Roman Jacobson. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan datanya adalah sitasi dan dokumentasi, adapun tahap analisis datanya dimulai dari reduksi data, penyajiannya, hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam film ini terdapat beberapa lafadz musytarak lafdzi, yang diterjemahkan demikian: lafadz A AIAditerjemahkan dengan profesi, lafadz A AIAditerjemahkan dengan kehancuran, lafadz A OAditerjemahkan dengan negeri, lafadz A ONAditerjemahkan dengan bawalah dia, lafadz A OAditerjemahkan dengan hasil dan lafadz A EOA diterjemahkan dengan menawarkan. Penelitian yang membahas penerjemahan lafadz musytarak lafdzi akan sangat bermanfaat bagi perkembangan kajian semantik khususnya dalam pembahasan relasi makna yang sangat berkaitan dengan penentuan kualitas kegiatan Kata Kunci: Penerjemahan. Semantik. Musytarak Lafdzi. Teori Kode Pesan Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 71 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 PENDAHULUAN Dalam kegiatan menerjemahkan kata, kalimat, hingga teks bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia tentunya terdapat berbagai macam aturan yang harus diikuti oleh seorang penerjemah agar hasil terjemahan yang dihasilkan tepat dan sesuai dengan kata, kalimat, hingga teks yang diterjemahkan. Diantara banyaknya ilmu pengetahuan yang memiliki andil dalam kegiatan menerjemahkan teks hingga wacana berbahasa Arab adalah ilmu semantik. Ilmu semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang memfokuskan kajiannya pada studi makna. Dikarenakan fokus kajiannya ini, maka pengetahuan penerjemah akan lingkup kajian semantik akan sangat berpengaruh pada kualitas terjemahan yang dihasilkannya. Salah satu sub pembahasan yang ada dalam bidang kajian semantik adalah polisemi yang dalam bahasa Arab sepadan dengan istilah musytarak lafdzi. Musytarak lafdzi adalah kata yang memiliki banyak makna, keberadaan musytarak lafdzi dalam teks dan kalimat berbahasa Arab tentunya banyak memberikan pengaruh pada ketepatan terjemahan kalimat atau teks yang diterjemahkan, hal ini karena menerjemahkan kata musytarak lafdzi membutuhkan kemampuan memilih padanan makna untuk kata yang sesuai dan tepat dengan apa yang dimaksudkan berdasarkan pada konteks yang melatarbelakangi kata tersebut digunakan dalam sebuah kalimat. Oleh sebab itu, tidak dipungkiri bahwa mengetahui ragam makna dari kata-kata musytarak lafdzi sangatlah penting khususnya dalam usaha mendukung terwujudnya hasil penerjemahan kalimat berbahasa Arab yang tepat dan sesuai yang dimaksudkan kalimat dan teks tersebut. Kegiatan penelitian yang memfokuskan kajiannya pada bahasan penerjemahan kata musytarak lafdzi pada teks berbahasa ke dalam Bahasa Indonesia akan memunculkan research question: bagaimana lafadz musytarak lafdzi diterjemahkan pada teks berbahasa Arab yang menjadi objek penelitian? bagaimana konteks mempengaruhi penentuan makna bagi lafadz musytarak lafdzi? hingga bagaimana implikasi hasil penelitian ini terhadap perkembangan kajian tentang penerjemahan?. Berdasarkan pada research question yang dirumuskan, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan: pertama, mengetahui makna dari kata-kata musytarak lafdzi dari teks yang menjadi objek penelitian. kedua, mengetahui konteks yang melatarbelakangi penentuan makna bagi kata-kata musytarak lafdzi yang dan ketiga, mengetahui implikasi hasil penelitian ini terhadap perkembangan kajian tentang penerjemahan. Berdasarkan pada research question dan tujuan penelitian maka jelaslah arah kegiatan penelitian dalam artikel ini. Untuk menunjang kegiatan analisis pada artikel ini, maka perlu diketahui serangkaian teori yang berkaitan dengan objek pembahasan pada penelitian ini. Sebagaimana yang dirumuskan pada judul penelitian, maka teori-teori dasar yang akan dibahas dalam artikel ini akan berkaitan dengan penerjemahan, semantik, musytarak lafdzi dan teori kode pesan Roman Jacobson. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 72 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Dalam penerjemahan sering diperdebatkan dua hal utama yaitu apakah yang penting adalah terjemahan kata demi kata atau pesan yang tersirat, berkenaan dengan hal ini penerjemahan diartikan sebagai proses mengubah teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran untuk mentransfer pemikiran, ide, dan budaya. Tujuan utama dari kegiatan penerjemahan adalah mencapai kesetaraan, yaitu menyampaikan makna teks sumber dengan tepat dalam bahasa sasaran, meskipun bentuk dan struktur dapat berbeda. Penerjemahan fokus pada transfer ide tanpa mengubah isi atau tujuan teks asli, sehingga yang terpenting adalah pesan yang dimaksud (Ridho 2020:18Ae. Berdasarkan pada penjelasan ini, maka yang terpenting dalam kegiatan penerjemahan adalah makna dan pesan yang dimaksudkan oleh bahasa sumber, sehingga pesan dari bahasa sumber ini dapat tersampaikan secara utuh melalui bahasa sasaran atau bahasa terjemahan. Kegiatan penerjemahan setidaknya melibatkan empat unsur penting yaitu penulis yang menuliskan pesan menggunakan bahasa sumber, penerjemah yang mentransfer pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, pembaca yang memahami pesan yang diterjemahkan, dan pesan yang menjadi penghubung antara ketiga unsur sebelumnya. Dalam konteks menerjemahkan bahasa Arab sebagai bahasa sumber ke dalam bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran penerjemah harus memiliki pengetahuan yang baik mengenai kedua bahasa ini terlebih lagi pengetahuan bahasa Arab yang merupakan bahasa asing bagi penerjemah, karena menerjemahkan bukanlah kegiatan yang mudah dan membutuhkan keterampilan dan kemampuan khusus sehingga penerjemah mampu menghasilkan terjemahan yang sepadan dengan teks bahasa sumber (Nurazni Mappaenre and Herson Anwar 2022:2Ae. Berdasarkan penjelasan ini, yang memiliki peran penting dalam menghasilkan terjemahan berkualitas adalah penerjemah, oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa banyak hal yang harus diketahui dan dikuasai oleh seorang penerjemah untuk menunjang aktivitas penerjemahannya. Diantara pengetahuan yang harus diketahui oleh penerjemah adalah mengenai ragam metode yang dapat digunakan dalam menerjemahkan teks baik itu teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran ataupun sebaliknya. Menurut Peter Newmark dalam (Akmaliyah. Maulidiyah, and Supianudin 2020:. metode penerjemahan dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu berdasarkan bahasa sumber dan bahasa sasaran. Ada delapan metode penerjemahan secara keseluruhan, empat di antaranya berfokus pada bahasa sumber, sementara empat lainnya berfokus pada bahasa sasaran. Metode penerjemahan yang mengacu pada bahasa sumber meliputi metode kata per kata, harfiah, setia, dan semantik. Sedangkan metode penerjemahan yang mengacu pada bahasa sasaran mencakup metode adaptasi, bebas, idiomatik, dan komunikatif. Berdasarkan pada penjelasan ragam metode menerjemahkan ini, dapat disoroti bahwa salah satu metode menerjemahkan yang berfokus pada bahasa sumber adalah metode semantik. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 73 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 semantik merupakan salah satu cabang linguistik yang dapat dijadikan acuan dan pendukung dalam menerjemahkan bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, yang salah satu contohnya adalah kegiatan penerjemahan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Semantik merupakan salah satu cabang tataran linguistik yang menjadikan makna sebagai objek kajiannya. Semantik memiliki arti penelaahan terhadap suatu makna, kegiatan penelaahan makna dalam konteks semantik ini mencakup penelaahan terhadap hubungan yang terjadi antara makna dengan kata hingga mencakup pada pembahasan mengenai pengaruh makna terhadap berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat (Tarigan 2009: . Semantik merupakan cabang ilmu yang mempelajari makna. Secara umum, semantik membahas hubungan antara kata-kata . dengan realitas atau dunia tempat kata-kata tersebut digunakan (Arifin and Aisah 2021:. Secara umum kajian semantik dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis, pertama kajian semantik yang dengan teori-teori makna sedangkan jenis kedua adalah kajian semantik yang dijadikan acuan serta sarana untuk membuat kamus (Hapianingsih and Fadli 2024:. berdasarkan pada beberapa definisi ini maka sederhananya semantic merupakan salah satu cabang linguistik yang memfokuskan objek kajiannya pada makna suatu kata. Pada awalnya kajian semantik kurang diperhatikan oleh para linguis, karena objek kajian semantik adalah makna yang dianggap sukar untuk dianalisis dan dikaji, akan tetapi setelah Chomsky menetapkan bahwa makna adalah bagian dari struktur penting bahasa, mulailah semantik banyak dikaji oleh para linguis dan peneliti. Sebagai sebuah disiplin ilmu, semantik memiliki beberapa pokok bahasan seperti bahasan mengenai hakikat makna, jenis makna, relasi makna, perubahan makna, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan makna (Khusniah. Hidayat, and Muhakkim 2024:189Ae. Penjelasan ini menyiratkan bahwa salah satu pokok bahasan kajian semantik adalah hubungan atau relasi makna. Bahasa Arab sebagai salah satu bahasa yang memiliki kekayaan kosakata memungkinkan adanya hubungan antara makna dari tiap kosakata. diantara relasi yang sering ditemui dalam kajian semantik bahasa Arab adalah muradif . , madhadh . , dan musytarak lafdzi . ketiga istilah terkait relasi makna ini sering menjadi objek kajian yang mendapatkan banyak perhatian dalam studi semantik Arab (Wahyudi and Hamzah 2020:. Dari ketiga macam relasi makna yang banyak dikaji maka salah satunya adalah polisemi atau dalam istilah Bahasa Arab sering dikenal dengan istilah musytarak lafdzi. Polisemi merupakan salah satu sub pembahasan pada kajian semantik tentang relasi Polisemi merupakan istilah untuk satu kata yang memiliki banyak makna, dalam istilah bahasa Arab kata polisemi disebut dengan istilah musytarak lafdzi atau isytirak lafdzi. Salah satu fenomena musytarak lafdzi dalam kajian semantik bahasa Arab banyaknya makna yang dimiliki oleh kata A Ayang makna dasarnya adalah memukul. Berdasarkan penelusuran berbagai ayat dalam Al-QurAoan yang memuat kata A Adisebutkan bahkan kata tersebut Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 74 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 memiliki banyak makna, diantara makna kata tersebut adalah memukul, membuat, ditimpa, melakukan perjalanan, pergi berperang, melakukan usaha, memancung, berhenti menurunkan dan menutup (Nur 2014: 94Ae. Dalam linguistik bahasa Arab. Musytarak allafdzi merujuk pada kata yang memiliki lebih dari satu makna. Ulama klasik seperti Sibawaihi mendefinisikannya sebagai kata yang serupa dalam bentuk tetapi berbeda makna, sementara Ibnu Faris memperluasnya hingga mencakup struktur dan susunan bahasa. Ulama kontemporer mendefinisikannya lebih sederhana, yakni kata yang memiliki makna ganda atau lebih, namun tetap terkait dengan makna dasarnya (Fajar and Sobari 2022:178Ae. Terdapat istilah lain untuk musytarak lafdzi dalam kaitan pembahasan relasi makna dalam kata-kata bahasa, istilah tersebut adalah musytarak mudhad. Istilah musytarak lafdzi ini diperuntukkan untuk kata bahasa Arab yang memiliki arti yang bertentangan, seperti kata A CAyang memiliki dua arti yang bertentangan yaitu Aumasa suciAy dan Aumasa haidhAy (Ainin dan Asrori 2014: 81Ae Dari beberapa penjelasan diatas berkaitan dengan pendefinisian polisemi atau musytarak lafdzi sederhananya dapat dipahami bahwa polisemi atau dalam istilah Bahasa Arabnya musytarak lafdzi merupakan kata yang memiliki makna ganda ataupun banyak, bahkan dalam beberapa kasus ditemukan juga kata yang memiliki makna ganda yang bertentangan sehingga muncullah penamaan musytarak mudhadh. Fenomena polisemi dalam berbagai Bahasa termasuk di dalamnya Bahasa Arab ini dipengaruhi oleh perkembangan dari makna dasar dari sebuah kata, sehingga tidaklah heran jika dalam kasus polisemi ini terkadang makna yang dihasilkan memiliki keterkaitan antara makna satu dengan lainnya. Selaras dengan penjelasan diatas, perlu diketahui bahwa polisemi ini merupakan fenomena baru dalam kajian semantik, karena pada awalnya terdapat pandangan bahwa satu kata memiliki satu makna yang disebut dengan makna leksikal yang sesuai dengan Kemudian pada fase selanjutnya makna-makna ini mengalami perkembangan. Contoh perkembangan makna leksikal dalam kajian polisemi adalah makna polisemi pada kata kaki. Dalam ranah polisemi ini, kata kaki secara garis besar dimaknai dengan beberapa poin berikut: . anggota tubuh manusia juga binatang. terletak dibawah. berfungsi sebagai penopang untuk berdiri. Pada akhirnya berangkat dari ketiga makna dasar kaki ini, dapat dikembangkan istilah-istilah baru seperti frase kaki gunung sebagai pengembangan dari kaki dengan makna terletak dibawah, dan frase kaki kamera atau lebih dikenal tripoid yang merupakan pengembangan dari kaki dengan makna penopang (Chaer 2021:101Ae. Pendapat ini tentunya menafikan statemen bahwa satu kata hanya memiliki satu makna, sehingga muncullah istilah baru dalam pembahasan mengenai relasi makna dengan kata yaitu istilah polisemi yang disematkan untuk kata yang memiliki banyak makna. Berbeda dengan pendapat diatas. Ulama dalam bidang linguistik arab berbeda pendapat mengenai batasan dari polisemi atau musytarak lafdzi. Ibrahim Anis menjelaskan bahwa kata dapat digolongkan terhadap musytarak lafdzi apabila relasi antara makna dari Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 75 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 kata tersebut sangatlah jauh dan tidak ada keterkaitan makna sama sekali seperti halnya kata A EAyang berarti saudara dari ibu, tahi lalat dan bukit kecil. Disisi lain Ahmad Mukhtar Umar mengambil jalan tengah dengan menegaskan bahwa jika makna yang dikandung dari kata tersebut menyimpan kejanggalan maka tidak dapat digolongkan kepada musytarak lafdzi, seperti kata A EIIAyang memiliki makna kepala paku, sedangkan jika makna dari kata tersebut tidak menimbulkan kejanggalan bagi pendengarnya maka kata tersebut dapat digolongkan kepada kata yang musytarak lafdzi, seperti kata A EAyang memiliki makna menulis, menyalin hingga mewajibkan dll (Mat Taib Pa. Mohamad Hussin, dan Syakirah RifaAoin 2022:. Perbedaan batasan polisemi pada paragraf ini dengan paragraf sebelumnya terletak pada pendapat bahwa polisemi atau musytarak lafdzi tidak harus berasal dari kata dasar yang sama, bahkan paragraf ini menegaskan bahwa sebuah kata dapat dikatakan polisemi jika kata tersebut memiliki banyak makna yang tidak memiliki keterkaitan satu sama Pada akhirnya, kedua pendapat ini bermuara pada pendefinisian yang sama bahwa polisemi atau musytarak lafdzi merupakan satu kata yang memiliki banyak makna. Terjadinya polisemi dalam studi semantik tentunya tidak begitu saja terjadi melainkan ada beberapa penyebab yang menyebabkan terjadinya polisemi ini. Menurut Tajuddin Nur . 4:96Ae. , sebab terjadinya polisemi baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab terbagi menjadi tiga, diantaranya: Pertama. Aspek kecepatan pelafalan kata, aspek ini berpengaruh pada pemahaman, misalnya kata beruang dapat bermakna hewan atau memiliki uang, tergantung pada konteks. Kedua. Aspek gramatikal, aspek ini juga mempengaruhi Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia, kata pemukul dapat berarti "alat untuk memukul" atau "orang yang memukul. " Dalam bahasa Arab, prefiks A amemiliki berbagai makna, seperti makna Aumeminta,Ay pada kata A( AAmeminta ampu. , makna Aumenjadikan,Ay pada kata A( OIAmenjadikan tempat tingga. , dan makna Aumentransitifkan,Ay pada kata ANEEA . Ketiga. Aspek leksikal yang merujuk pada perubahan makna suatu kata karena penggunaannya yang berkembang. Contohnya, kata A Ayang awalnya bermakna "kepala," bagian tubuh manusia atau hewan dari leher ke atas, kini juga digunakan untuk benda mati seperti A( EIIAkepala pak. Begitu pula kata A IAyang awalnya berarti "ibu" sebagai manusia bernyawa, kini digunakan untuk benda mati atau tempat, seperti dalam AIA A( ECOAMeka. dan A( I EEAsurat Al-Fatiha. , perkembangan leksikal ini juga berpengaruh pada terbentuknya polisemi dalam Bahasa Arab. Berdasarkan penjelasan dapat disimpulkan bahwa beberapa aspek yang menyebabkan terjadinya polisemi dalam Bahasa Arab adalah kecepatan pelafalan, gramatikal, dan perkembangan makna leksikal. Kata atau lafadz polisemi dalam bahasa Arab yang dikenal dengan istilah musytarak lafdzi memiliki dua bentuk, yaitu lafadz musytarak lafdzi yang berbentuk isim . ata bend. dan juga lafadz musytarak lafdzi yang berbentuk fiAoil . ata kerj. Contoh lafadz musytarak lafdzi yang berbentuk isim adalah kata A E cIAyang memiliki arti segolongan orang atau agama. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 76 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 sedangkan contoh lafadz musytarak lafdzi yang berbentuk fiAoil . ata kerj. adalah A Ayang dapat berarti memukul, berusaha, memberi contoh dan lainnya (Pakaya 2022a:466Ae. Berdasarkan pada penjelasan ini diketahui bahwa bentuk lafadz atau kata musytarak lafdzi dalam literatur Bahasa Arab dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu bentuk isim dan fiAoil. Salah satu cakupan pembahasan musytarak lafdzi adalah kolokasi, kolokasi adalah kombinasi kata-kata yang muncul secara beriringan. Setiap kata memiliki makna unik, sehingga hanya kata tertentu yang dapat dipadukan dengan kata lain agar sesuai secara Sebagai contoh, dalam bahasa Arab, kata kerja qAla (A )CEAbiasanya digabungkan dengan partikel li (A)EA, yang bermakna "kepada" atau "untuk," seperti pada qAla lahum (A)CE ENIA yang berarti "berkata kepada mereka. " Sebaliknya, penggunaan qAla dengan ilA (A )uEOAuntuk konteks serupa tidaklah tepat, meskipun ilA juga berarti "kepada. " (Asbulah 2021:. Dalam hal ini, maka objek kajian musytarak lafdzi dalam penelitian ini juga akan mencakup lafadz yang berkolokasi. Dalam kegiatan menerjemahkan teks bahasa Arab, keberadaan musytarak lafdzi memberikan tantangan tersendiri terhadap proses penerjemahan. Hal ini karena musytarak lafdzi ini adalah kata yang memiliki banyak makna, maka bisa saja dalam satu kondisi kata musytarak lafdzi bermakna ini dan pada kondisi lain kata tersebut bermakna lain ((Dinia. Nikmah, and Ila Ifawati 2024:. Kemiripan bahkan kesamaan kata dalam kegiatan menerjemahkan sering menimbulkan pemaknaan yang berbeda dari yang dimaksudkan, oleh sebab itu pengetahuan terkait musytarak lafdzi untuk mengatasi permasalahan ini sangatlah penting (Jadhira. Bijaksana, and Wahyudi 2018:. Urgensi pengetahuan lafadz musytarak lafdzi dalam kegiatan menerjemahkan teks berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia diperkuat dengan realita di lapangan yang menunjukkan sering terjadinya kesalahan dalam menerjemahkan kata musytarak lafdzi oleh sebab itu, dalam kegiatan menerjemahkan teks bahasa Arab pemahaman penerjemah terkait lafadz musytarak lafdzi juga perlu ditekankan (Yasin and Ahmad 2021:. Berdasarkan pada pemaparan ini dapat disimpulkan bahwasannya pengetahuan dan pemahaman tentang musytarak lafdzi dalam kegiatan menerjemahkan teks berbahasa Arab sangatlah penting, karena pengetahuan dan pemahaman terkait hal ini akan berpengaruh pada kualitas terjemahan. Memahami kata musytarak lafdzi dalam kegiatan penerjemahan sangatlah penting, karena akan ditemukan ragam makna yang berbeda antara makna leksikal dengan makna konteks dalam lingkup kegiatan penerjemahan. Contohnya kata A OIAyang secara leksikal berarti "mata" dapat memiliki makna berbeda tergantung konteks kalimat. Dalam kalimat AIA AII EOIA, kata A OIAtidak lagi berarti "mata," melainkan "sumber mata air," sehingga artinya menjadi "kami minum dari sumber mata air. " Selain itu. A OIAjuga dapat bermakna mata-mata, harta, tunai, dan lainnya. Demikian pula, kata A IAyang secara leksikal berarti "gigi" dapat bermakna lain. Dalam kalimat AE cI IEA, kata A IAtidak berarti "gigi," tetapi merujuk pada "umur," Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 77 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 sehingga artinya menjadi "berapa umurmu?" (Karya Suhada 2022:. Penjelasan ini memperlihatkan secara gamblang bagaimana fenomena musytarak lafdzi terjadi dalam literatur Bahasa Arab serta pengaruhnya dalam penentuan makna yang sepadan sehingga pesan yang dimaksudkan oleh kalimat yang berbahasa Arab dapat tersampaikan dengan Untuk mengetahui makna lafadz musytarak lafdzi dalam kalimat atau teks Bahasa Arab, salah satu teori yang dapat digunakan adalah teori kode pesan yang diperkenalkan oleh Roman Jacobson. Roman Jakobson lahir pada tahun 1896 di Moskow dan menjadi salah satu ahli linguistik terkemuka abad ke-20. Jakobson dikenal dengan teori tanda dalam berbahasa yang menjadi fokus kajian disiplin baru dalam linguistik dikenal dengan istilah semiotika, selain itu Jacobson juga dikenal sebagai pelopor lahirnya teori kode pesan (Riyadi 2019:3Ae. Semiotika adalah cabang disiplin ilmu dalam linguistik yang mempelajari tanda-tanda, cara tanda tersebut berfungsi, hubungan antar tanda, serta hubungan yang terjadi antara tanda dengan pengirim dan penerimanya (Tihul 2019:. Semiotik ini menjadi salah satu cabang ilmu yang memperkenalkan teori kode pesan dengan fokus kajiannya pada tanda Bahasa. Sebagai bagian dari ilmu linguistik, maka fokus kajian pada tanda ini menjadi ciri khas bagi disiplin ilmu semiotika yang membedakannya dari cabang linguistik lainnya. Perbedaan ilmu bahasa atau linguistik dengan teori semiotik yang diperkenalkan oleh Roman Jacobson adalah ilmu bahasa hanya terfokus pada objek bahasanya dalam kegiatan komunikasi, sedangkan semiotik kajiannya tidak hanya terfokus pada bahasa secara verbal tapi mencakup aspek nonverbal yang menyertai kegiatan berbahasa secara langsung. Jacobson menjelaskan bahwa dalam sebuah pesan terdapat 6 unsur penting meliputi pengirim pesan, penerima pesan, konteks, kode, kontak, dan pesan (Pamungkas and Hadi 2022:. Pengirim . adalah individu yang berusaha menyampaikan suatu ide atau informasi, sementara penerima . adalah pihak yang menerima pesan tersebut, baik berupa pembaca maupun pendengar, yang menjadi sasaran komunikasi. Konteks merujuk pada faktor yang membantu pemahaman terhadap pesan yang disampaikan. Message . adalah informasi yang harus diterima dengan jelas oleh penerima. Kontak berfungsi untuk memastikan bahwa penyampaian pesan dapat dipahami, di mana pengirim harus menghubungkan ujaran dengan apa yang ingin disampaikannya. Terakhir, kode merujuk pada sistem atau bentuk ujaran yang harus dipahami oleh penerima pesan agar dapat mengerti pesan yang dikirimkan (Nugraha 2022:. Berdasarkan pada penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa untuk mengetahui makna sebuah pesan dapat dilakukan melalui penelusuran akan enam unsur yang menyertai pesan tersebut. Jacobson menyebutkan bahwa enam unsur yang terkandung dalam sebuah pesan terdiri dari: pengirim pesan, penerima pesan, konteks, kode, kontak dan pesan itu sendiri. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 78 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Selanjutnya, teori kode pesan yang diperkenalkan oleh Roman Jacobson ini dapat dijadikan pertimbangan dalam memahami makna dari suatu pesan, termasuk pesan dari sebuah teks, kalimat, bahkan kata yang akan diterjemahkan. Pada umumnya yang menjadi objek penerjemahan dalam kegiatan menerjemahkan adalah teks, menurut Baroroh dalam (Sumiati. Supriadi, and Akmaliyah 2024:. teks terdiri dari dua unsur, yaitu isi dan bentuk. Isi teks merujuk pada ide-ide, pesan, atau amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Sementara itu, bentuk teks adalah penyampaian isi tersebut dalam bentuk lahiriah, yakni uraian yang tampak dalam bentuk bunyi atau tulisan yang dapat dibaca dan dipelajari melalui berbagai pendekatan, seperti aspek kebahasaan, kesusastraan, dan Berdasarkan pada penjelasan ini, dapat diketahui dua komponen penting dari sebuah teks yang selanjutnya akan dijadikan bahan atau objek penerjemahan, dalam penjelasan diatas disebutkan bahwa teks terdiri dari komponen isi dan bentuk. Komponen bentuk teks yang beragam pada intinya akan menjadi sarana untuk menyampaikan pesan yang dimaksudkan, oleh sebab itu pesan yang hendak disampaikan oleh sebuah teks dalam kegiatan penerjemahan dapat diketahui melalui kegiatan analisis dan penelusuran terhadap bentuk teks dengan berbagai pendekatan, dalam konteks ini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kebahasaan yaitu melalui kajian semantic dan pendekatan kebudayaan melalui konteks yang melatarbelakangi pesan itu. Dengan kemajuan teknologi yang pesat, penerjemahan telah menjadi fenomena yang berkembang dan memberikan dampak yang signifikan. Selain buku, dokumen, atau surat, kini berbagai objek lain seperti lagu dan film juga dapat diterjemahkan. Namun, dibandingkan dengan objek lainnya, film memiliki pengaruh yang lebih besar. Hal ini disebabkan oleh kombinasi elemen audio dan visual yang ditampilkan secara bersamaan, sehingga penonton lebih mudah mengingat dan tidak merasa bosan, karena bentuk penyampaiannya lebih Di masyarakat, film tidak hanya berfungsi sebagai sarana edukasi, tetapi juga sebagai hiburan (Agusdtine. Sofyan, and Ayuningtias 2022:. Fenomena yang ada pada penjelasan ini memberikan pandangan baru dalam kegiatan penerjemahan yang tidak hanya terbatas pada penerjamahan teks-teks dokumen saja, melainkan kegiatan penerjemahan juga dapat dilakukan pada film berbahasa Asing salah satunya adalah penerjemahan film berbahasa Arab ke dalam Bahasa Indonesia. Sehingga melalui kegiatan menonton film warga Indonesia tidak hanya mendapatkan hiburan akan tetapi mereka dapat belajar Bahasa Arab melalui terjemahan yang tersedia pada film tersebut. Pengetahuan dan pembelajaran akan kegiatan penerjemahan sangat penting, hal ini karena perkembangan kebudayaan suatu bangsa sering kali didorong oleh proses Dalam sejarah, dijelaskan bahwa peradaban Islam pertama kali berkembang pesat melalui penerjemahan karya-karya klasik dari Yunani. Persia. India, dan Mesir yang berfokus pada ilmu pengetahuan dan kedokteran. Kegiatan penerjemahan ini dimulai pada Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 79 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 masa pemerintahan Khalifah Abu JaAofar al-Mansur dari Dinasti Abbasiah. Upaya penerjemahan yang dimulai oleh Khalifah Abu Ja'far mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Khalifah al-MaAomun, yang membawa umat Islam menuju masa keemasan. Selain itu, kemajuan suatu bangsa juga bisa dicapai melalui penerjemahan, seperti yang terlihat pada bangsa Jepang. Perkembangan ilmu pengetahuan di Jepang dimulai dengan pembentukan lembaga-lembaga penerjemahan yang kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan tinggi atau program studi di perguruan tinggi (Hanifah 2018:. Kemajuan peradaban islam pada masa dinasti Abbasiyah serta kemajuan negara Jepang yang disebabkan oleh kegiatan penerjemahan ini menjadi kontribusi nyata kegiatan penerjemahan terhadap kemajuan suatu bangsa. Berkenaan dengan hal ini, maka selanjutnya kajian yang konsen pada kegiatan penerjemahan juga menjadi penting untuk meningkatkan wawasan bangsa Indonesia akan pentingnya terjemahan dalam berbagai aspek kehidupan. PENELITIAN TERDAHULU Penelitian dalam bidang kajian musytarak lafdzi dalam studi penerjemahan tentunya bukan penelitian yang pertama kali dilakukan, banyak penelitian-penelitian terdahulu yang membahas objek kajian pembahasan serupa akan tetapi tentunya setiap penelitian tersebut memiliki ciri khas yang menjadi perbedaan antara satu penelitian dengan penelitian lainnya. Berikut ini penjelasan terkait penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini: Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Mat Taib Pa. Mohamad Hussin, dan Syakirah RifaAoin pada tahun . dengan judul AuPenggunaan Polisemi dalam al-QurAoan al-KarimAy. Melalui metode penelitian kualitatif deskriptif penelitian ini mengungkapkan hasil bahwa dalam al-Quran terdapat beberapa kata polisemi. Penggunaan polisemi dalam al-Quran memiliki bentuk tertentu, dan pesan utamanya adalah untuk menunjukkan keterkaitan antara maknamakna yang ada pada kata yang polisemi. Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Nurul AoAini Pakaya pada tahun . dengan judul Aual-Musytarak Lafdzi. Analisis Kata Hisab dalam Surat an-NurAy. Melalui metode kualitatif deskriptif tipe library research ditemukan hasil penelitian yang menunjukkan kata Hisab dalam al-QurAoan disebutkan sebanyak 81 kali. Khusus pada surat an- Nur lafaz kata Hisab di ulang sebanyak 4 kali dengan bentuk yang berbeda beda, yaitu pada Ayat 11, 15, 39 dan 57. Ketiga, penelitian yang dilakukan oleh Oman Karya Suhada pada tahun . dengan judul AuPolisemi Pada Kosakata Anggota Tubuh dalam Bahasa ArabAy. Melalui penggunaan metode deskriptif dengan model analisis ini, penelitian ini mengungkapkan hasil penelitian bahwa beberapa kosa kata anggota tubuh dalam Bahasa Arab memiliki makna polisemi, seperti kata A IAbermakna gigi, usia. kemudian kata A IAAyang bermakna bermakna. tanpa keinginan, hina, wajar, sombong. dan 12 kosa kata lainnya yang memiliki makna polisemi, 12 kata tersebut adalah A CIAUA NAUA EAUA CAUA ONAUA OAUA AAUA CEAUA OAUA AUA EIAUAOIA. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 80 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Keempat, penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ibnu Pamungkas dan Abdul Hadi pada tahun . dengan judul AuTathbq Nadhariyah AuCode-MessageAy Li Roman Jakobson F TaAoyn MaAoAn Al-Amr Wa An-Nahy F Al-AyAt Alkarmah Min Al-QurAn Al- KarmAy. Melalui metode deskriptif analitik, penelitian ini mengungkapkan bahwa teori kode pesan yang diperkenalkan Roman Jacobson mampu menguak berbagai makna dari kata amr dan nahyi serta dapat menentukan makna yang tepat untuk setiap kata amr dan nahyi dalam konteks Sejauh penjelasan terkait penelitian terdahulu, maka dapat terlihat novelty atau kebaruan dari penelitian ini, karena pada penelitian terdahulu belum ditemukan satupun kegiatan analisis penerjemahan lafadz musytarak lafdzi pada sebuah film menggunakan teori kode pesan yang diperkenalkan oleh Roman Jacobson, rata-rata objek kajian penelitian terdahulu adalah kata atau lafadz musytarak lafdzi dalam al-QurAoan, oleh sebab itu penelitian ini berusaha menyajikan analisis baru dalam kajian musytarak lafdzi yang menjadikan film berbahasa Arab yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sebagai objek kajian METODOLOGI Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki (Moeleong 2005:. Adapun sumber data penelitian dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer dalam penelitian ini adalah video film Ahmad bin Hanbal di episode pertama yang berbahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini merupakan data yang akan dijadikan pelengkap dan pendukung data primer yang berkaitan dengan objek penelitian. Data ini diambil berdasarkan hasil membaca berbagai referensi baik dari artikel jurnal maupun buku yang relevan dengan objek penelitian. Untuk mengumpulkan data penelitian, teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sitasi dan dokumentasi. Teknik sitasi digunakan untuk mencari teori-teori yang relevan dengan objek pembahasan penelitian, sedangkan teknik dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk memotret data berupa kata atau lafadz musytarak lafdzi dalam film Ahmad bin Hanbal yang kemudian dianalisis dan akan menjadi objek pembahasan pada penelitian ini. Adapun tahapanan atau langkah yang ditempuh dalam menganalisis data dimulai dari kegiatan reduksi data, penyajian data, hingga kegiatan conclusion drawing yaitu kegiatan mengambil kesimpulan dari data-data yang sudah dianalisis. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 81 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk mendapatkan data mendukung penelitian ini, film yang dijadikan objek analisis adalah film Ahmad bin Hanbal di episode pertama. Setelah dilakukan penelitian terhadap video film Ahmad bin Hanbal pada episode pertama ditemukan beberapa kata musytarak lafdzi dalam video ini. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa untuk mengetahui makna yang tepat dari lafadz musytarak lafdzi adalah dengan menggunakan teori kode pesan Roman Jacobson, maka sistematika penulisan data hasil penelitian adalah dengan memperlihatkan dokumentasi bagian film yang di dalamnya terdapat kata musytarak lafdzi, setelah itu dianlisis kata serta penentuan maknanya berdasarkan teori Roman Jacobson. maka berikut ini penjelasan terkait penerjemahan kata musytarak lafdzi dalam video ini berdasarkan teori kode pesan Roman Jacobson: AI IE E II AI OEA Gambar 1 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Pertama Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah ibu Farraj dan penerima pesannya adalah farraj. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata A AIAyang merupakan bagian dari kalimat AI IE E II AI OEA. Farraj sebagai penerima pesan memahami makna kata A AIAdengan padanan makna profesi berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A AIAadalah konteks bahasa dan situasi. Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi AAIA, maka leksikal dari kata ini adalah: kerajinan, kerajinan tangan, perdagangan, pekerjaan, lapangan kerja, profesi. sedangkan konteks situasi berkaitan dengan kondisi situasi saat kode dan pesan tersebut disampaikan, dalam kasus ini situasinya farraj sedang mengeluhkan profesinya sebagai pencuri yang merupakan profesi warisan dari ayahnya, maka berdasarkan konteks bahasa dan situasi yang ada, kata musytarak lafdzi A AIAsepadan dengan terjemahan Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 82 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 Dengan penelusuran makna lafadz musytarak lafdzi maka dapat diketahui bahwa kata A AIAyang biasanya identic dengan makna perbuatan, pada konteks tertentu juga dapat bermakna profesi. AOI AE EE uE A OE I OO II A C A A O uEEI ONENA Gambar 2 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Kedua Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah paman Ahmad bin Hanbal dan penerima pesannya adalah penasehat kerajaan Yahya al-Barmaky. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata A AIAyang merupakan bagian dari kalimat AOI AEa EE uE A EO IA A O uEEI ONENA AOO II AI CA. Yahya sebagai penerima pesan memahami makna kata AAIA dengan padanan makna kehancuran berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A AIAadalah konteks bahasa dan situasi. Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi AAIA, kata A AIAbentuk mufradnya AAIA, kata A AIAsecara leksikal memiliki makna: menggiurkan, glamor, sihir, godaan, pendekatan, hasutan, kekacauan, gangguan, kegelisahan, keributan, huru-hara, dan kayu manis. selanjutnya konteks situasi dalam kasus ini adalah paman Ahmad bin Hanbal melaporkan kepada Yahya Barmaky terkait usaha penyerangan yang direncanakan oleh sekelompok orang terhadap pemerintahan Abbasiyyah di kota Baghdad berdasarkan pada interpretasi isi surat rahasia yang sedang tersebar dan ramai diperbincangkan oleh masyarakat Baghdad, di penguhujung pengaduannya paman Ahmad bin Hanbal juga menyampaikan tujuannya menyampaikan pesan yaitu untuk menjaga stabilitas negara islam dan juga untuk menghindarkan rakyat dari kerusakan. Berdasarkan konteks Bahasa dan situasi yang telah dijelaskan, maka padananan makna yang tepat untuk lafadz musytarak lafdzi A AIAadalah kehancuran. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 83 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 AII OOI A A O EIEIA Gambar 3 Data lafadz Musytarak Lafdzi Ketiga Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah penasehat Yahya alBarmaky dan penerima pesannya adalah khalifah Harun al-Rasyid. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata A OAyang merupakan bagian dari kalimat AA AO O EIEIOI II OOIA. Harun al-Rasyid sebagai penerima pesan memahami makna kata A OAdengan padanan makna negeri atau negara berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A OAadalah konteks bahasa dan situasi. Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi AOA, kata A OAsecara leksikal memiliki beberapa makna diantaranya: rumah, tempat kediaman, hingga kampung halaman. selanjutnya konteks situasi adalah kontes yang berkaitan dengan kondisi dan situasi saat kode dan pesan tersebut disampaikan, dalam kasus ini situasinya penasehat kerajaan Yahya al-Barmaky sedang berbincang dengan khalifah Harun al-Rasyid terkait rencana atau tindakan yang harus diambil oleh khalifah dalam menghadapi serangan terhadap pemerintahan Abbasiyyah yang direncanakan oleh sekelompok orang yang dikenal dengan kelompok Thalibiyyin yang merupakan sebutan bagi para pengikut setia khalifah Ali bin Abi Thalib. Yahya al-Barmaky dan Harun al-Rasyid sama-sama meyakini bahwa memang kelompok inilah yang sering membuat kekacauan dan teror terhadap pemerintahan Abbasiyyah di negeri islam yaitu Baghdad. Berdasarkan konteks bahasa dan situasi yang ada, kata musytarak lafdzi A OAsepadan dengan terjemahan negeri. Padanan makna negeri untuk kata A OAini menjadi pengetahuan baru bahwa kata ini pada konteks tertentu juga dapat dimaknai negeri yang mana pemaknaan ini belum ditemui dalam pemaknaan secara leksikal pada penjelasan sebelumnya. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 84 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 AON uOE EC OOA EOEI AON EI NEE A EIA Gambar 4 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Keempat Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah khalifah Harun alRasyid dan penerima pesannya adalah para prajurit istana. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata kerja A ONAyang merupakan bagian dari kalimat AON uEO ECO O OOA EOEI AON EI NEE AO EIOIA, para prajurit istana sebagai penerima pesan memahami makna kata kerja . iAoi. A ONAdengan padanan makna bawalah dia berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A ONAadalah konteks bahasa dan Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi AONA, kata AONA merupakan kata kerja dalam bentuk kata perintah . iAoil am. dari kata dasar fiAoil madhi A Ayang secara leksikal memiliki beberapa makna diantaranya: mengambil, menerima, dan selanjutnya konteks situasi adalah kontes yang berkaitan dengan kondisi dan situasi saat kode dan pesan tersebut disampaikan, dalam kasus ini situasi yang melatarbelakangi pesan ini disampaikan adalah khalifah Harun al-Rasyid sudah menemukan pelaku yang merencanakan penyerangan terhadap pemerintahan dan negerinya, kemudian ia memerintahkan para prajurit istana untuk membawa pelaku tersebut pada jaksa agar mendapatkan hukuman yang sesuai dengan apa yang dilakukan. Berdasarkan konteks bahasa dan situasi yang ada, kata musytarak lafdzi A Asepadan dengan terjemahan bawalah. Padanan makna membawa untuk kata A Aini menjadi pengetahuan baru bahwa kata A Apada konteks tertentu juga dapat dimaknai membawa, karena pada umumnya kata ini sering dimaknai dengan kata mengambil. Dengan adanya pengetahuan mengenai musytarak lafdzi ini maka untuk mengetahui makna suatu kata diperlukan penelusuran secara mendalam terkait konteks yang mengiringi kata tersebut, sehingga terjemahan tersebut dapat menjadi sarana menyampaikan pesan dari sebuah teks atau kalimat dengan baik dan benar. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 85 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 A OE I OAUAOC EI OE C II CE O OA Gambar 5 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Kelima Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah khalifah Harun alRasyid dan penerima pesannya adalah Yahya al-Barmaky. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata kerja A OAyang merupakan bagian dari kalimat AOE I O OC EI EO C II CE O OOA. Yahya alBarmaky sebagai penerima pesan memahami makna kata kerja . iAoi. A OAdengan padanan makna hasil . berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A OAadalah konteks bahasa dan situasi. Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi AOA, kata A OAsecara leksikal memiliki beberapa makna diantaranya: mengalir, arus, lari, berlari, berlomba, mendesak, terjadi, berlangsung, berlaku, terus , hingga dipegang. selanjutnya konteks situasi adalah kontes yang berkaitan dengan kondisi dan situasi saat kode dan pesan tersebut disampaikan, dalam kasus ini situasi yang melatarbelakangi pesan ini disampaikan adalah khalifah Harun al-Rasyid merasa khawatir akan penyerangan yang dilakukan pengkhianat yang ternyata mereka ini adalah orang yang bekerja di istana, dalam menghadapi kecemasan ini Yahya alBarmaky menenangkannya dengan berjanji bahwa kejadian ini tidak akan terulang lagi, hingga Harun al-Rasyid pun menyatakan bahwa semenjak dahulu dirinya percaya diri bahwa kegiatan serupa tidak akan terjadi lagi, tapi hasilnya sama tetap terjadi pengkhianatan. Berdasarkan konteks bahasa dan situasi yang ada, kata musytarak lafdzi A OApada konteks tertentu dapat diterjemahkan dengan hasil. Maksud hasil disini adalah akibat dari penerjemahan AuterjadiAy, kata A OApada umumnya sering diartikan dengan terjemahan berlari, akan tetapi dengan pendekatan musytarak lafdzi, kata A OAini juga dapat bermakna lain sesuai dengan konteks yang melatarbelakangi pesan tersebut muncul. Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 86 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 AC OE A AI EIE A O EEI I eA Gambar 6 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Keenam Pada gambar diatas diperlihatkan bahwa pengirim pesan adalah Ahmad bin Hanbal dan penerima pesannya adalah ibunya. Kontak penyampaian pesan dalam video ini terjadi secara langsung, kode yang diberikan oleh pengirim pesan adalah kata kerja A EOAyang merupakan bagian dari kalimat AC EO cIO EIE AO O EEI I eA, ibu Ahmad bin Hanbal sebagai penerima pesan memahami makna kata kerja . iAoi. A EOAyang dalam kasus ini fiAoil tersebut bergandengan partikel yang selanjutnya dikenal dengan istilah kolokasi merupakan kata yang maknanya sepadan menawarkan berdasarkan konteks yang melatarbelakangi kata tersebut, konteks yang menentukan makna lafadz musytarak lafdzi A EOAadalah konteks bahasa dan situasi. Konteks bahasa berkaitan dengan makna leksikal kata musytarak lafdzi A EOA, kata A EOAsecara leksikal memiliki beberapa makna diantaranya: menunjukkan, mempresentasikan, menawarkan, mengajukan, menenderkan, mengemukakan, mendidik, membantu, menyampaikan, menyarankan, hingga mengusulkan. selanjutnya konteks situasi adalah kontes yang berkaitan dengan kondisi dan situasi saat kode dan pesan tersebut disampaikan, dalam kasus ini situasi yang melatarbelakangi pesan ini adalah Ahmad bin Hanbal mendapatkan tawaran dari pamannya untuk bekerja di Baitul Hikmah sebagai penulis buku, akan tetapi dia bimbang dalam menerima tawaran ini karena takut tidak dapat membagi waktu antara belajar dan bekerja, sedangkan ibunya lebih menginginkan Ahmad belajar meskipun keluarganya dihadapkan dengan permasalahan keterbatasan ekonomi, maka untuk menjawab kebimbangannya ini, selanjutnya Ahmad mengkonsultasikan hal ini kepada ibunya dengan mengatakan kalimat sebagaimana yang telah disebutkan diatas. Berdasarkan konteks bahasa dan situasi yang ada, kata musytarak lafdzi A EOApada konteks ini diterjemahkan dengan makna menawarkan. Maka diantara banyaknya makna yang dimiliki Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 87 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 oleh kolokasi A EOAdalam kasus ini pemakanan yang paling tepat untuk kolokasi A EOA adalah menawarkan. Berdasarkan pemaparan data hasil penelitian lafadz musytarak lafdzi pada film Ahmad bin Hanbal di episode pertama, maka penemuan tersebut secara sistematis dapat dijelaskan melalui tabel dibawah ini: Lafadz Musytarak Lafdzi AAIA Makna Sesuai Makna Leksikal Kerajinan. Konteks Film tangan. Profesi kerja, profesi. A)AI ( II AIA Menggiurkan, glamor. Kerusakan sihir, godaan, pendekatan, hasutan, huru-hara, kayu manis. AOA Rumah, tempat kediaman, kampung Negeri A)ON (I II A Mengambil, menerima, mendapatkan. Bawalah . AOA Mengalir, arus, lari, berlari, berlomba. Hasil berlaku, terus , dipegang. A EOA Menunjukkan, mendemonstrasikan. Menawarkan menyarankan, hingga mengusulkan Tabel 1 Data Lafadz Musytarak Lafdzi Secara Keseluruhan Berdasarkan pada data musytarak lafdzi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa penentuan makna dari kata atau lafadz musytarak lafdzi dalam film ini ada yang sesuai dengan makna leksikalnya ada juga beberapa kata yang memunculkan makna baru yang belum diketahui sebelumnya secara leksikal. Hasil dari kegiatan penelitian penerjemahan musytarak lafdzi ini sangat berkontribusi dalam memberikan wawasan baru bagi penerjemah terkait pemilihan Volume 08 Nomor 01. Januari Ae Juni 2. 88 Hijai Ae Journal on Arabic Language and Literature | ISSN: 2621-1343 makna yang tepat untuk lafadz-lafadz musytarak lafdzi atau polisemi yang memiliki banyak makna ini, selain itu penelitian dengan fokus seperti ini juga dapat mengembangkan makna lafadz-lafadz yang polisemi, sehingga pada akhirnya akan berkontribusi juga dalam pengembangan kajian semantik khususnya dalam ranah kajian relasi makna. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian dan analisis yang telah dilakukan, maka ditemukan data lafadz musytarak lafdzi yang ada di film Ahmad bin Hanbal pada episode pertama. Diantara lafadz musytarak lafdzi pada video ini adalah lafadz A AIAditerjemahkan dengan profesi, lafadz AAIA diterjemahkan dengan kerusakan, lafadz A OAditerjemahkan dengan negeri, lafadz AONA diterjemahkan dengan bawalah dia, lafadz A OAditerjemahkan dengan hasil dan lafadz AA A EOAditerjemahkan dengan menawarkan. Sebenarnya dari keenam lafadz musytarak lafdzi atau polisemi diatas memiliki makna yang banyak, akan tetapi penentuan terjemahan yang tepat untuk lafadz-lafadz musytarak lafdzi ini dilihat dari konteks yang melatarbelakangi penggunaan lafadz atau kata tersebut dalam kalimat-kalimat yang tentunya memiliki pesan Dalam penelitian ini, selain konteks dijadikan acuan untuk mengetahui alasan pemilihan makna bagi lafadz-lafadz musytarak lafdzi, pendekatan lain yang digunakan adalah pendekatan teori kode pesan yang diperkenalkan oleh Roman Jacobson dengan meneliti enam unsur yang terkandung dalam kalimat atau teks berbahasa. Implikasi penelitian yang memfokuskan kajiannya pada analisis penerjemahan lafadz musytarak lafdzi pada film adalah untuk memberikan wawasan baru terkait tata cara menerjemahkan lafadz musytarak lafdzi dengan tepat dengan memperhatikan konteks yang mengiringinya, selain itu kajian ini juga secara signifikan akan berkontribusi dalam mengembangkan kajian semantik khususnya dalam sub bahasan relasi makna dan perannya dalam menentukan kegiatan penerjemahan tulisan bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia yang sepadan dan berkualitas REFERENSI