Infotekmesin Vol. No. Juli 2025 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 DOI: 10. 35970/infotekmesin. 2758, pp. Rancang Bangun dan Pengujian Performa Mesin Pembubur Sampah Organik Menjadi Pakan Maggot Kapasitas 24 kg/jam Budi Triyono1. Raden Roro Yngwistian Jannavis Astie2. Zainuddin3. Dibyo Setiawan4*. Apri Setiawan5. 1,2,3,4,5 Jurusan Teknik Mesin. Politeknik Negeri Bandung 1,2,3,4,5 Jl. Gegerkalong Hilir. Ciwaruga. Kec. Parongpong. Kabupaten Bandung Barat. Jawa Barat 40559. Indonesia E-mail: budi. triyono@polban. id1, raden. tpkm20@polban. id2, zainuddin@polban. setiawan@polban. id4*, apri. setiawan@polban. Abstrak Info Naskah: Naskah masuk: 13 Mei 2025 Direvisi: 30 Juni 2025 Diterima: 11 Juli 2025 Pengelolaan sampah organik terutama yang berasal dari kantin atau dapur yang terdiri dari sisa daging, ikan, dan sayuran masih menjadi tantangan. Sampah tersebut jika diolah dengan benar memiliki potensi sebagai pakan maggot. Untuk mengolah sampah organik tersebut diperlukan pengembangan mesin pembubur sampah organik yang dirancang untuk mengolah sampah organik dari Pujasera atau kantin kampus menjadi pakan Proses pengembangan mesin ini mencakup enam tahap: Perencanaan. Perancangan konseptual. Perancangan detail. Dokumentasi teknis. Pembuatan dan perakitan, dan Pengujian. Dari tahapan tersebut dihasilkan mesin pembubur sampah organik yang kompak dengan dimensi 815 x 425 x 840 mm berpenggerak motor listrik 1 fasa daya 1,5 HP . 100 Wat. dan kecepatan putar 1. 050 RPM. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mesin ini efektif mencacah sampah organik dengan kapasitas 24 kg/jam, daya maksimal 1. 037 Watt, dan konsumsi energi 0,860 kWh. Hasil tersebut menawarkan solusi inovatif dan ekonomis sekaligus mempromosikan pemanfaatan sampah organik sebagai sumber daya yang bernilai. Abstract Keywords: waste management. organic waste shredder. maggot feed. Organic waste management, particularly from canteens or kitchens, which often consists of leftover meat, fish, and vegetables, remains a significant challenge. If processed properly, this waste has the potential to be used as maggot feed. To process this organic waste, it is necessary to develop an organic waste slurry machine designed to process organic waste from the Pujasera or campus canteen into maggot feed. The development process for this machine includes six stages: Planning. Conceptual design. Detailed design. Technical documentation. Manufacturing and assembly, and Testing. From these stages, a compact organic waste slurry machine is produced with dimensions of 815 x 425 x 840 mm, driven by a 1-phase electric motor with a power of 1. 5 HP . ,100 Watt. and a rotation speed of 1,050 RPM. The test results show that this machine is effective in shredding organic waste with a capacity of 24 kg/hour, a maximum power of 1,037 Watts, and an energy consumption of 0. 860 kWh. These results provide an innovative and economical solution, promoting the use of organic waste as a valuable resource. *Penulis korespondensi: Dibyo Setiawan E-mail: dibyo. setiawan@polban. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pendahuluan Masalah pengelolaan sampah tetap menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi, terutama dalam konteks urbanisasi dan pertumbuhan populasi . Sampah umumnya terbagi menjadi dua kategori: organik dan anorganik. Sampah organik, yang mencakup sisa-sisa bahan hewani dan tumbuhan seperti daging, sayuran, dan buah-buahan, dapat dimanfaatkan sebagai pupuk kompos atau pakan ternak dengan teknologi yang tepat . Maggot seperti ditunjukkan oleh gambar 2 adalah larva dari lalat jenis Black Soldier Fly (BSF), yang juga dikenal sebagai lalat tentara hitam. Larva ini merupakan evolusi tahap kedua dalam siklus metamorfosis, sebelum akhirnya berkembang menjadi evolusi lalat dewasa . Lalat BSF berukuran besar dengan tubuh hitam dan kaki putih . Maggot dikenal sebagai pakan ternak berkualitas tinggi karena kandungan gizinya yang kaya, termasuk protein dan asam amino yang penting untuk pertumbuhan ternak, terutama unggas . Beberapa keunggulan maggot meliputi tingginya kandungan protein, kemudahan dalam produksi, tidak menghasilkan aroma menyengat, serta dapat diolah menjadi tepung maggot atau digunakan sebagai bahan pakan campuran untuk ternak. Gambar 1. Persentase Hasil Sampah Nasional . Data dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 Provinsi Jawa Barat. Indonesia menghasilkan 29,4% sampah makanan . Hal ini menunjukkan pentingnya pengelolaan sampah di lingkungan kampus, terutama terkait dengan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas seharihari . Pengelolaan sampah organik saat ini belum optimal, banyak sampah organik yang terbuang tanpa pemanfaatan lebih lanjut, dan sebagian besar sampah yang tidak dapat dijadikan kompos harus dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) tanpa pemrosesan tambahan . Salah satu solusi yang efektif dan inovatif untuk mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan maggot, larva dari lalat Black Soldier Fly (BSF) . , dalam pengolahan sampah organik . Maggot memiliki kemampuan luar biasa untuk mencerna berbagai jenis limbah organik dengan cepat, efisien, dan tanpa menimbulkan aroma yang tidak sedap . Proses ini mengubah sampah organik menjadi produk yang bernilai ekonomis, yaitu maggot, yang dapat digunakan sebagai pakan ternak . Selain mengurangi volume sampah secara signifikan, proses ini juga dapat mengurangi dampak lingkungan dari pembuangan sampah yang tidak terkelola dengan baik. Gambar 2. Maggot. Gambar 3. Siklus Pertumbuhan Lalat Black Soldier Fly. Setiap maggot dapat mengonsumsi limbah organik antara 25 hingga 500 mg per hari. Saat dipanen, ukuran maggot mencapai sekitar 27 mm panjang, 6 mm lebar, dan berat sekitar 220 mg . Dalam memelihara 1 kg maggot, diperlukan sekitar 3 kg pakan setiap hari, yang bisa berasal dari limbah organik rumah tangga seperti sayuran, buahbuahan, limbah peternakan, dan limbah pengolahan makanan . Maggot lebih menyukai sampah organik dengan kelembaban yang seimbang, tidak terlalu basah atau kering, sehingga kadang perlu dilakukan penyaringan jika sampah terlalu basah. Jenis sampah organik yang dapat dikonsumsi oleh maggot termasuk nasi, buah-buahan, sayuran, sisa daging, dan makanan berserat lainnya . Sebagai bentuk penerapan solusi ini secara efektif, diperlukan pengembangan mesin pembubur sampah organik yang dirancang khusus . Mesin ini harus mampu menangani berbagai jenis sampah organik dengan kapasitas yang memadai, sehingga dapat mencacah sampah menjadi ukuran yang sesuai untuk proses lebih lanjut dengan maggot . Desain mesin harus memperhatikan efisiensi pengolahan, daya tahan, serta integrasi dengan sistem pengolahan sampah organik . Mesin pembubur ini harus memiliki konsumsi energi yang efisien dan biaya operasional yang terjangkau untuk memastikan keberlanjutan penggunaannya dalam jangka panjang . Penelitian terkait pengolahan sampah organik menggunakan mesin pencacah telah banyak dilakukan dalam rangka meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah organik. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Berbagai inovasi telah dikembangkan untuk menyesuaikan dengan karakteristik sampah organik yang berbeda-beda. Noviyanti Nugraha, dkk . membuat alat pencacah sampah organik berdimensi 490x455x950 mm yang mempunyai 12 pisau putar dan 3 pisau tetap dan digerakkan menggunakan motor listrik 1 Hp. Mesin tersebut digunakan untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos dan mampu mengolah 5 kg sampah organik dalam waktu 60 selanjutnya. Muhammad Nurdiyansyah, dkk . membuat mesin pencacah organik dengan dimensi 1035x320x955 mm yang digerakkan oleh motor bakar dengan daya 7 Hp, dilengkapi 4 pisau pencacah dan mampu mengolah 103,29 kg/jam sd 282,96 kg/jam sampah organik jenis ranting ketapang dan pelepah kelapa. Sementara itu. Saparin, dkk . membuat mesin pencacah sampah organik dengan dimensi 1918x639x1046 mm berpenggerak motor bakar dengan daya 6,5 Hp dan dilengkapi 2 pisau Mesin ini digunakan untuk mencacah sampah organik terutama pelepah kelapa sawit untuk dijadikan pupuk kompos di area perkebunan kelapa sawit. Mesin tersbut mampu mengolah 293,93 kg/jam sampah organik jenis pelepah kelapa sawit. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan mesin pencacah sampah organik umumnya digunakan untuk pembuatan pupuk kompos, sementara itu, dalam penelitian ini akan dirancang dan dikembangkan mesin pembubur sampah organik yang efektif untuk mengolah sampah organik dari pujasera kampus, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Metode 1 Tahap Perancangan Pelaksanaan riset dilakukan dalam beberapa tahapan kegiatan sebagaimana ditunjukkan oleh Gambar 4. memprioritaskan pada simple grid, yang terdiri dari empat kuadran utama: kuadran 1 bravo, kuadran 2 attention, kuadran 3 cut or communicate, dan kuadran 4 donAot worry be Data yang telah disaring melalui customer windows tersebut kemudian dirumuskan menjadi daftar kebutuhan . equirement lis. yang menjadi acuan dalam pemilihan solusi permasalahan. Berdasarkan pemetaan customer windows tersebut akan didapatkan daftar kebutuhan yang selanjutnya digunakan sebagai acuan untuk merumuskan alternatif solusi menggunakan pendekatan diagram fungsi bagian, tabel morfologi, penilaian, hingga didapatkan konsep terpilih. Kemudian dibuat variasi konsep untuk memperikarakan bentuk alat yang akan dirancang. Variasi konsep dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Variasi konsep mesin pembubur sampah organik Variasi Konsep Deskripsi Diagram Material . Jalur masuk air dengan keran . Fungsi input dari . Fungsi mencacah dengan bentuk rotor pisau tetap . Fungsi output dengan keluaran sistem sentrifugal . Sistem penggerak motor listrik dengan transmisi sabuk v . Jalur masuk air dengan keran . Fungsi input dari . Fungsi mencacah dengan bentuk rotor pisau fleksibel . Fungsi output dengan keluaran bantuan screw . Sistem penggerak motor listrik dengan transmisi sabuk v . Jalur masuk air dengan keran . Fungsi input miring tegak lurus poros . Fungsi mencacah dengan sistem gunting . Fungsi output keluaran di bagian tengah dengan . Sistem penggerak motor listrik dengan transmisi sabuk v Keterangan: Gambar 4. Flowchart Tahapan Perencanaan Tahap perencanaan dimulai dengan pengumpulan data melalui survei dan kunjungan untuk mendata sampah harian, wawancara dengan pengelola sampah, serta survei ke tempat pengelolaan dan peternakan maggot. Tahap berikutnya adalah pemetaan kebutuhan dengan metode customer window . Hasil dari pertanyaan tersebut digunakan untuk Masing-masing variasi konsep pada tabel 1 diberikan penilaian yang didasarkan pada 2 kategori yakni teknik dan ekonomi, setiap kategori memiliki kriterianya sendiri seperti p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 yang tertera pada Tabel 2. Hasil penilaian untuk masingmasing variasi dapat dilihat pada tabel 3 dan tabel 4. Tabel 2. kriteria-kriteria kategori terknik dan ekonomi No Kriteria Teknik Kriteria Ekonomi Hasil pencacahan Biaya investasi Kemudahan perawatan Ketersediaan sparepar . omponen standar/elemen mesi. Kemudahan Biaya pemeliharaan Kemudahan Konsumsi energi Kemudahan perakitan Ketersediaan sebagai penyusun komponen tidak standar Tabel 3. Evaluasi kriteria teknik Kriteria Teknik Hasil Kemudahan Kemudahan Kemudahan Kemudahan Ketersediaan bahan baku. tidak standar Variasi Konsep 1,08 0,81 0,54 0,81 0,52 0,52 0,39 0,39 0,39 0,39 0,21 0,21 0,88 0,78 3,13 0,78 3,13 Total Rt=Total/4 Tabel 4. Evaluasi kriteria ekonomi Kriteria Teknik Biaya Waktu Biaya Konsusmsi Total Rt=Total/16 Variasi Konsep Konsep terpilih tersebut menggunakan fungsi bagian menyimpan dan memasukkan dari atas sehingga objek cacah dapat lebih mudah dimasukkan oleh operator. Metode pencacahan yang digunakan adalah rotor pisau pencacah tetap dengan fungsi bagian keluarannya memanfaatkan gaya sentrifugal untuk mendorong objek cacah keluar dari ruang Bentuk peningkatan yang dilakukan agar objek cacah tidak tersangkut di pisau pencacah merupakan pengembangan alat dalam rangka peningkatan bentuk mata pisau yang lebih efektif dan menghasilkan cacahan ukuran kecil karena lebih disukai oleh maggot. Hasil konsepsi yang telah terpilih selanjutnya dilakukan perancangan detail yang dirancang sedemikian rupa sehingga menghasilkan 3D modelling alat. 2 Tahap Proses Manufaktur Tahap manufaktur merupakan langkah kritis dalam proses pengembangan mesin pembubur sampah organik. Proses manufaktur mencakup beberapa kegiatan utama: pengadaan bahan dan komponen. pemrosesan material. perakitan komponen. instalasi sistem kontrol. penyempurnaan dan penyesuaian. 0,99 1,32 0,99 0,99 0,34 0,68 0,51 0,51 2,83 0,71 0,88 Gambar 5. Konsep mesin pembubur sampah organik Hasil dari evaluasi teknik dan ekonomi diperoleh bahwa varisi konsep nomor 1 memperoleh hasil paling mendekati nilai Sehingga dipilih variasi konsep nomor 1 untuk dibuatkan gambar konsep mesin pembubur sampah organik seperti yang terlihat pada gambar 5. 3 Tahap Pengujian dan Analisis Tahap pengujian dan analisis dilakukan untuk memastikan mesin pembubur sampah organik berfungsi sesuai standard dan spesifikasi, meliputi: uji fungsionalitas. pengujian kapasitas dan efisiensi. Pengujian efektivitas pakan, dan analisis data pengujian. Hasil dan Pembahasan 1 Hasil Rancangan Alat Melalui eksperimen awal yang telah dilakukan, diketahui objek sampah paling keras adalah tulang ayam, sehingga untuk menentukan gaya pemotongan. Riset awal dilakukan untuk menentukan gaya potong dengan cara melakukan pemotongan tulang ayam sisa makanan di atas timbangan dengan menggunakan ukuran dan bentuk pisau seperti pada gambar 6 p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Pd . aya rencan. Gambar 6. Pisau pencacah menggunakan kombinasi . mata pisau lengkung dalam dan . mata pisau lengkung luar Kombinasi pisau tersebut digunakan berdasarkan kegunaan dari masing-masing jenis pisau. Pisau lengkung dalam untuk bagian pencacahan awal yang berada dibawah hopper sementara jenis pisau lenkung luar digunakan untuk menghindari lilitan sampah organik pada poros serta dapat menghasilkan ukuran cacahan yang lebih kecil. Eksperimen awal menggunakan tulang ayam yang diletakkan di atas timbangan untuk mengetahui gaya pemotongan yang diperlukan. Hasil eksperiman tersebut menunjukkan gaya potong yang dibutuhkan untuk memotong tulang ayam adalah 11-13 kgf, sehingga nilai maksimal sebesar 13 kgf tersebut diambil sebagai data gaya potong (F). F . = massa . x percepatan gravitasi . F . = 13 kg x 9,81 m/s2 = 127,53 OO 128 N = 871,27 Watt x 1,2 = 1. 045,52 Watt OO 1. 100 Watt Berdasarkan kalkulasi yang telah dilakukan, didapatkan data bahwa mesin pembubur sampah organik yang dirancang memiliki ukuran yang kompak, yaitu 815x425x840 mm (P x L x T), dan didukung oleh Motor AC 1 Fasa berdaya 1,5 HP dengan kecepatan putar 1. 400 RPM. Transmisi mesin pencacah memiliki perbandingan 1:1,3 menggunakan puli motor sebesar 3 inci dan puli poros penggerak sebesar 4 inci sehingga kecepatan putar pencacahan adalah 1. 050 RPM, hal tersebut memungkinkan mesin beroperasi dengan kapasitas mencapai 24 kg/jam, melebihi target awal 10 kg/jam. Mesin ini dilengkapi dengan 14 pisau dan pendorong objek cacah dengan kemiringan 5A dirancang untuk mendorong sampah besar kembali ke pisau atau ke output. Hasil perancangan alat pembubur sampah organik, seperti ditunjukkan oleh Gambar 7, dirancang untuk mengolah sampah organik menjadi bahan yang lebih kecil dan mudah diurai, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Spesifikasi teknis mesin pembubur sampah organik yang telah dirancang ditunjukkan oleh Tabel 1. Tabel 5. Spesifikasi Mesin pembubur Keterangan Kapasitas Kecepatan putar Jumlah pisau pembubur Dimensi pisau pembubur Jenis penggerak Diameter puli penggerak Diameter Daya motor dan kecepatan Dimensi hopper Dimensi alat keseluruhan Material yang dapat dicacah Berat Alat Spesifikasi Teknis 24 kg/jam 050 RPM 14 buah 126 x35x5 mm Motor listrik AC 1 Fasa 76,2 mm . 101,6 mm . 1,5 HP . 100 W), 1. 400 rpm 245x245 mm dilengkapi tutup 815x425x840 mm Sampah organik sisa makanan dan sejenisnya 25 kg Jari-jari pisau yang direncanakan adalah 65 mm, maka dapat diketahui torsi pemotongan, sebagai berikut: T . = F . x jari-jari . T . = 128 N x 65 mm = 8. 320 Nmm = 8,3 Nm Kecepatan potong alat ditentukan dari kajian berbagai Hasil kajian menunjukkan bahwa kecepatan potong (V. yang efektif untuk mesin pembubur sampah organik berkapasitas 10 kg/jam dengan ruang pembubur 5 inci adalah 000 RPM, atau setara dengan 104,72 rad/s. Hasil yang telah diketahui bahwa torsi pemotongan, dan kecepatan potong, dapat diketahui pula daya serta daya rencana motor penggerak yang digunakan pada alat. P . = T . x Vc . P . = 8. 320 Nmm x 104,72 rad/s = 871,27 Watt Berikutnya daya rencana didapatkan dari perkalian dengan faktor koreksi sebesar 1,2 . Pd . aya rencan. = P . x fk . aktor koreks. Gambar 7. 3D Modelling Mesin Pembubur Sampah Organik p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Gambar 8. Gambar Terurai Mesin Pembubur Sampah Organik Gambar terurai . xploded vie. dari hasil perancangan yang telah dilakukan ditunjukkan oleh Gambar 8 yang menunjukkan bahwa pada rancangan mesin terdapat 8 sub rakitan mekanis penyusun mesin pembubur sampah organik dengan bentuk, material, dan fungsi masing-masing, yaitu: sub rakitan rangka bawah, . sub rakitan ruang pembubur, . sub rakitan sistem pembubur, . sub rakitan input mesin . , . sub rakitan output mesin, . sub rakitan sistem penggerak dan transmisi, . sub rakitan Beberapa metode proses manufaktur yang digunakan untuk merealisasikan rancangan tersebut adalah turning, drilling, tapping, milling, dan welding, diikuti dengan tahap grinding pada beberapa komponen dan pengecatan pada bagian luar mesin. Setelah proses manufaktur selesai, komponen yang telah dibuat dilapisi untuk mencegah korosi. Pelapisan dilakukan pada bagian luar alat seperti hopper, ruang pembubur, dudukan ruang pembubur, rangka bawah, dan dudukan motor. 2 Proses Manufaktur Pembuatan alat dilakukan secara bertahap, dengan setiap bagian alat direalisasikan sesuai dengan fungsinya masing-masing. Tahapan realisasi alat ini mengikuti langkah-langkah yang dijelaskan dalam diagram alir pada Gambar 9. Gambar 9. Tahapan Realisasi Alat Tahapan Realisasi Alat: Pengadaan Komponen Standar: Langkah awal ini memastikan komponen standar tersedia di pasaran. Penyesuaian Komponen Tidak Standar: Dilakukan untuk mencegah kesalahan produksi. Pembaruan Gambar Kerja: Gambar kerja diperbarui untuk menjadi acuan dalam pengadaan komponen. Pengadaan Komponen Tidak Standar: Komponen ini disediakan sesuai dengan gambar kerja yang telah . Proses Manufaktur: Tahap ini dilakukan oleh pihak ketiga berdasarkan rancangan alat. Pengecekan Hasil Manufaktur: Mengecek kesesuaian komponen dengan rancangan dan komponen standar. Pembuatan Sistem Kontrol: Sistem kontrol, termasuk tombol emergency stop dan lampu indikator. Perakitan Alat dan Sistem Kontrol: Tahap akhir sebelum pengujian, melibatkan pemasangan dan integrasi semua komponen dan sistem kontrol. 3 Hasil Pengujian Pengujian yang dilakukan, fokus utama adalah untuk mengevaluasi kinerja alat pembubur sampah organik dalam beberapa aspek kunci, yaitu kapasitas, waktu pembubur, daya yang digunakan, dan kualitas hasil cacahan. Pengujian dilakukan dalam dua sesi terpisah dengan total 10 kg sampah organik yang berbeda jenis dan komposisi seperti ditunjukkan oleh Gambar 10. Gambar 10. Sampel Objek Cacah Sesi pertama, sebanyak 6 kg sampah organik yang terdiri dari kulit buah, biji buah, dan sayuran seperti kangkung, sawi, dan selada, diuji dengan mesin pembubur. Mesin berhasil mencacah sampah dalam waktu 15 menit dengan daya maksimal sebesar 990 Watt terutama saat memotong biji alpukat. Energi total yang digunakan selama proses ini adalah 0,195 kWh. Sesi kedua melibatkan pembuburan 4 kg sampah organik yang terdiri dari sayuran . angkung, sawi, selad. dan bahan lainnya seperti agaragar, biji buah, kulit buah, serta tulang belulang. Sesi ini, mesin bekerja dengan daya puncak yang sedikit lebih tinggi, 037 Watt, terutama saat memotong biji mangga. Proses pembuburan berlangsung selama 10 menit, dan energi total yang digunakan mencapai 0,163 kWh. Hasil pembuburan dari kedua sesi tersebut kemudian digabungkan dan melalui proses penyaringan untuk mengurangi kadar air. Total 10 kg sampah yang dicacah, dihasilkan 6 kg bahan cacahan akhir setelah penyaringan. Penurunan berat ini disebabkan oleh hilangnya sebagian kadar air selama proses pembuburan dan penyaringan. Proses dan hasil proses pencacahan atau pembuburan ditunjukkan oleh Gambar 11. p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 Dengan kapasitas pembuburan maksimum 24 kg/jam, hasil pembuburan ini cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi sekitar 4,8 kg maggot per hari dimana 1 kg maggot membutuhkan setidaknya 3 kg pakan per hari . , menunjukkan bahwa mesin ini dapat mendukung operasional peternakan maggot secara berkelanjutan. Produk hasil pembuburan tersebut selanjutnya dilakukan uji coba pemberian pakan ke maggot seperti ditunjukkan oleh Gambar 12. Gambar 11. Luaran hasil pembuburan Gambar 12. Pemberian Pakan Maggot Hasil pengujian pemberian pakan maggot dari sampah organik yang telah dicacah menunjukkan kinerja yang Setelah proses pembuburan, pakan yang dihasilkan digunakan untuk memberi makan maggot. Produk hasil pembuburan telah dicoba untuk digunakan sebagai pakan pada 0,5 kg maggot berusia 2-3 minggu mampu menghabiskan 0,5 kg pakan hasil cacahan dalam waktu 30 menit, lebih cepat dibandingkan pakan yang tidak dicacah, yang memerlukan 45-50 menit. Selain itu, penggunaan pakan cacahan mengurangi residu yang tersisa . dan sekaligus meningkatkan kualitas kasgot secara keseluruhan. Hasil ini mengonfirmasi bahwa mesin pembubur bekerja efektif dalam menyediakan pakan berkualitas untuk maggot, mendukung tujuan pengelolaan sampah organik secara efisien dan ramah lingkungan. 4 Pembahasan Pengujian performas mesin pembubur sampah organik dilakukan dalam 2 sesi dengan masing-masing bahan cacah sebanyak 6 kg dan 4 kg sampah organik. Hasil pengujian performa dapat dilihat pada tabel 6. Tabel 6. hasil pengujian performa mesin pembubur sampah Pengujian Pengujian Jumlah . Waktu . Daya (Wat. Energi . Konsumsi rata-rata . 0,195 0,163 Selama pengujian, mesin dapat mencacah 6 kg sampah organik dalam 15 menit pada sesi pertama, dengan konsumsi energi 0,195 kWh, dan 4 kg sampah organik dalam 10 menit pada sesi kedua dengan konsumsi energi 0,163 kWh. Kemudian juga dilakukan pengukuran daya motor menggunakan power meter, diperoleh energi yang dibutuhkan selama 25 mesin beroperasi adalah 0,358 kWh, maka dalam 1 jam mesin pencacah setidaknya membutuhkan energi sebesar 0,860 kWh. Jika harga listrik setiap 1 kWh adalah Rp 415, maka biaya yang dibutuhkan mesin pencacah untuk beroperasi selama 1 jam adalah Rp 357. Sehingga jika 1 hari mesin beroperasi selama 2 jam dan penuh waktu dalam 1 bulan . beroperasi, maka biaya yang dikeluarkan adalah Rp 21. Efektivitas penggunaan mata pisau lengkung dalam pada sisitem pencacah terbukti mampu mengurangi sampah yang terlempar kembali keatas pada saat proses pencacahan berlangsung, semetara penggunaan mata pisau lengkung luar pada sistem pencacah, efektif dalam proses pencacahan dan menghindari lilitan sampah pada poros. Hasil pembuburan sampah organik kemudia disaring untuk mengurangi kadar airnya, dari massa mula-mula 10 kg setelah disaring menjadi 6 kg, pengurangan kadar air dilakukan untuk memaksimalkan pertumbuhan maggot . Pengujian menunjukkan bahwa pakan maggot dari hasil pembuburan habis dikonsumsi oleh maggot dalam 30 menit, lebih cepat dibandingkan pakan sebelum diproses pembuburan yang memerlukan waktu 45-50 menit. Pakan dari hasil pembuburan juga meninggalkan lebih sedikit residu, meningkatkan kualitas kasgot, dan menunjukkan manfaat tambahan dari pengolahan sampah organik. Secara keseluruhan, mesin pembubur sampah organik yang dikembangkan berhasil memenuhi tujuan penelitian dengan memberikan solusi inovatif untuk pengelolaan sampah organik yang efektif, serta mengurangi biaya transportasi pengiriman sampah organik dari rumah tangga atau pujasera ke tempat pembuangan selain itu juga mengurangi dampak sampah organik terhadap lingkungan dimana sampah yang awalnya hanya dibuang ke tempat pembuangan dan menimbulkan bau dan permasalahan lingkungan lainnya dapat diolah menjadi pakan maggot. Mesin ini juga dapat memberikan keuntungan ekonomis dalam bentuk penjualan maggot secara langsung dengan harga berkisar Rp 5000 Ae Rp 8000 per kg . Selain itu, maggot yang dihasilkan juga dapat digunakan sebagai pakan tambahan untuk ternak ayam pedaging, ayam petelur, dan ternak ikan. Kesimpulan Mesin pembubur sampah organik ini dirancang dengan dimensi kompak yaitu 815 x 425 x 840 mm dengan berat total 25 kg, digerakkan oleh motor AC 1 Fasa dengan daya p-ISSN: 2087-1627, e-ISSN: 2685-9858 1,5 HP atau 1. 100 watt dengan kecepatan putar 1. 400 rpm. Kecepatan ini direduksi menjadi 1. 050 RPM melalui transmisi puli dan sabuk V, menghasilkan kapasitas pembuburan mencapai 24 kg/jam. Pengujian menunjukkan bahwa mesin pembubur sampah organik ini dapat bekerja dengan baik hal ini dibuktikan dengan hasil cacahan yang dapat dikonsumsi oleh maggot dengan efisiensi tinggi, dimana maggot dapat menghabiskan pakan hasil pembuburan lebih cepat 30-33% jika dibandingkan pakan tanpa dicacah. Residu . yang dihasilkan dari pakan pembuburan sangat sedikit, menunjukkan bahwa dengan proses pembuburan ini dapat memaksimalkan pemanfaatan potensi sampah sebagai pakan Mesin ini terbukti andal dan efisien, memberikan solusi praktis dan efektif untuk pengelolaan sampah organik dari pujasera atau kantin kampus. Daftar Pustaka