Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v9i2. Intervensi Gereja Katolik dalam Menyelesaikan Kasus Perselingkuhan: Studi Kontekstual di Manggarai Febrian Mulyadi Angsemin1* Robertus Mirsel2 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif. Ledalero-Maumere. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Febrian Mulyadi Angsemin Surel : febriangsemin267@gmail. ManuscriptAos History Submit : Agustus 2024 Revisi : September 2024 Diterima : Oktober 2024 Terbit : November 2024 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Gereja Katolik Kata kunci 2 Harmoni Sosial Kata kunci 3 Inkulturasi Kata kunci 3 Perselingkuhan Copyright A 2024 STP- IPI Malang Gereja Katolik berperan strategis dalam membentuk tatanan sosial dan moral masyarakat Manggarai, terutama dalam menyelesaikan konflik seperti kasus perselingkuhan yang mengancam stabilitas keluarga. Pendekatan inkulturasi, seperti penggunaan elemen adat Compang dalam ajaran Injil, memungkinkan harmonisasi nilai agama dan budaya lokal. Dalam penyelesaian perselingkuhan. Gereja berfungsi sebagai mediator, bekerja sama dengan tokoh adat untuk menyelesaikan konflik secara Melalui homili, pendidikan keluarga, dan sakramen rekonsiliasi. Gereja mengajarkan nilai kesetiaan pernikahan. Selain itu, kelompok kategorial seperti Marriage Encounter memberikan pendampingan spiritual bagi pasangan bermasalah, memperkuat komitmen berdasarkan pandangan pernikahan sebagai sakramen. Meski demikian, resistensi terhadap inkulturasi menjadi tantangan, menuntut pendekatan yang lebih Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana teologi kontekstual Gereja berkontribusi pada resolusi konflik dan harmoni sosial di masyarakat Manggarai. Abstract Corresponding Author Name : Febrian Mulyadi Angsemin E-mail : febriangsemin267@gmail. ManuscriptAos History Submit : August 2024 Revision : September 2024 Accepted : October 2024 Published : November 2024 Keywords: Keyword 1 Catholic Church Keyword 2 Inculturation Keyword 3 Infidelity Keyword 4 Social Harmony Copyright A 2024 STP- IPI Malang The Catholic Church plays a strategic role in shaping the social and moral order of Manggarai society, especially in resolving conflicts such as cases of infidelity that threaten family stability. The inculturation approach, such as the use of Compang traditional elements in the teachings of the Bible, allows harmonization of local religious and cultural values. In resolving the affair, the Church functions as a mediator, working with traditional leaders to resolve the conflict Through homilies, family education, and the sacrament of reconciliation, the Church teaches the value of marital fidelity. Additionally, categorical groups such as Marriage Encounter provide spiritual assistance to troubled couples, strengthening commitment based on a view of marriage as a sacrament. However, resistance to inculturation is a challenge, demanding a more inclusive approach. This research explores how the Church's contextual theology contributes to conflict resolution and social harmony in Manggarai society. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Febrian Mulyadi Angsemi. Intervensi Gereja Katolik Pendahuluan Gereja Katolik memiliki peran signifikan dalam membentuk tatanan sosial dan moral masyarakat Manggarai. Sebagai daerah dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Manggarai merupakan contoh menarik dari perpaduan nilai-nilai religius dan budaya lokal. Gereja di wilayah ini tidak hanya hadir sebagai institusi spiritual, tetapi juga memainkan peran mediasi dalam konflik sosial, termasuk dalam penyelesaian kasus perselingkuhan yang mengancam stabilitas keluarga sebagai unit dasar masyarakat. Sejarah panjang penyebaran agama Katolik di Manggarai menunjukkan pendekatan adaptif Gereja yang memadukan ajaran Injil dengan tradisi lokal. Para misionaris awal, misalnya, menggunakan konsep-konsep adat seperti Compang . ltar ada. untuk menyampaikan pesan-pesan Kristiani, sehingga iman Katolik dapat diterima dan diintegrasikan dalam kehidupan masyarakat (Lepen, 2. Pendekatan ini dikenal sebagai teologi inkulturasi, yang berusaha mengharmonisasikan nilai-nilai budaya dengan ajaran iman, sebagaimana dijelaskan oleh Stephen Bevans dalam konsep Models of Contextual Theology . Pendekatan ini juga mencegah alienasi budaya yang dapat terjadi akibat dominasi ajaran agama asing yang tidak relevan dengan konteks lokal (Bevans, 2. Dalam kasus perselingkuhan. Gereja mengambil peran mediasi dan pendidikan moral yang strategis. Gereja di Manggarai bertindak sebagai mediator antara pihak-pihak yang berselisih, sering kali melibatkan tokoh adat untuk menyelesaikan konflik secara damai tanpa menimbulkan stigma sosial. Gereja juga mengajarkan nilai kesetiaan dan sakralitas pernikahan melalui homili, program pendidikan keluarga, dan sakramen rekonsiliasi yang mendorong proses pengampunan dan pemulihan hubungan. Selain itu. Gereja memberikan pendampingan spiritual kepada pasangan yang menghadapi masalah rumah tangga. Pendekatan pastoral ini dilakukan melalui kelompok kategorial seperti Marriage Encounter dan komunitas keluarga Katolik yang bertujuan untuk memperkuat komitmen pasangan. Selain itu pendampingan ini dilandasi oleh pandangan Gereja bahwa pernikahan adalah sakramen yang melambangkan kesatuan antara Kristus dan Gereja-Nya. Kendati demikian, tantangan pun tetap ada. Penolakan terhadap inkulturasi dalam beberapa kelompok umat dapat menciptakan kebingungan dan ketegangan di kalangan masyarakat Manggarai, sebagaimana diungkapkan dalam kajian sejarah religius oleh Rafael Lepen (Lepen, 2. Ketegangan ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terintegrasi, di mana ajaran Gereja dapat terus relevan tanpa mengabaikan kekayaan budaya Dengan latar belakang ini, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih jauh bagaimana Gereja Katolik di Manggarai mengimplementasikan pendekatan teologi kontekstual untuk menyelesaikan kasus perselingkuhan. Studi ini juga akan mengeksplorasi bagaimana intervensi Gereja dapat memperkuat harmoni sosial dan moral dalam masyarakat yang kompleks secara budaya. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Febrian Mulyadi Angsemi. Intervensi Gereja Katolik Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka . tudi kepustakaa. untuk mengeksplorasi peran Gereja Katolik dalam menyelesaikan kasus perselingkuhan di Manggarai. Pendekatan ini bertujuan untuk menganalisis konsep teologi inkulturasi dan penerapan pastoral Gereja melalui pengumpulan dan analisis data dari berbagai sumber pustaka. Hasil dan Pembahasan Pengertian Gereja Katolik Gereja Katolik adalah salah satu cabang terbesar dari agama Kristen yang dipimpin oleh Paus sebagai kepala Gereja, dengan struktur hierarkis yang jelas mulai dari Paus di Roma, hingga para uskup, imam, dan diakon di tingkat lokal. Gereja Katolik memiliki ajaran yang berlandaskan pada Kitab Suci, yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, serta Tradisi Suci yang telah diterima dan dipelihara sepanjang sejarah. Ajaran-ajaran ini mencakup berbagai aspek kehidupan iman, moral, liturgi, dan sosial yang dihubungkan melalui sakramen-sakramen seperti Ekaristi (Perjamuan Kudu. Baptisan. Konfirmasi. Tobat. Perkawinan. Imamat, dan Pengurapan Orang Sakit (KWI, 1. Secara teologis. Gereja Katolik mengajarkan bahwa ia adalah tubuh mistik Kristus di dunia, yang dipanggil untuk mewartakan Kerajaan Allah melalui misi penginjilan, pelayanan sosial, dan pengajaran moral. Gereja Katolik memandang dirinya sebagai sakramen keselamatan, yaitu sarana yang dipergunakan oleh Tuhan untuk menyampaikan rahmat keselamatan kepada umat manusia. Oleh karena itu. Gereja tidak hanya berfungsi sebagai lembaga keagamaan, tetapi juga sebagai agen transformasi sosial yang memiliki tanggung jawab untuk membimbing umat dalam hidup beriman dan bermasyarakat (Fransiskus, 2. Dalam konteks ini. Gereja Katolik berusaha menjaga kesatuan ajaran iman yang bersifat universal, sambil mengakui pentingnya keberagaman budaya yang ada di berbagai belahan Oleh karena itu, dalam perjalanan sejarahnya. Gereja Katolik telah mengadopsi berbagai pendekatan kontekstual, termasuk inkulturasi, yang berusaha untuk menghubungkan ajaran iman dengan nilai-nilai budaya setempat tanpa mengurangi esensi ajaran Kristus. Inkulturasi ini memungkinkan Gereja untuk lebih diterima di berbagai komunitas lokal, seperti yang terjadi di Manggarai, di mana nilai-nilai agama Katolik diintegrasikan dengan tradisi budaya masyarakat setempat, menciptakan hubungan yang lebih harmonis dan relevan. (KWI, 1. Secara struktural. Gereja Katolik memiliki sistem pengelolaan yang terpusat di Vatikan, tetapi dalam praktiknya, gereja juga sangat memperhatikan dimensi lokal yang berbedabeda. Uskup sebagai pemimpin pastoral di tingkat lokal memiliki tanggung jawab untuk mengelola keuskupan mereka, yang mencakup kegiatan pengajaran, pelayanan sakramen, serta membimbing umat dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan budaya. Pada tingkat paroki, imam berperan dalam memberikan bimbingan spiritual dan pastoral, https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Febrian Mulyadi Angsemi. Intervensi Gereja Katolik termasuk dalam menyelesaikan konflik-konflik keluarga seperti perselingkuhan, melalui pendekatan yang berbasis pada ajaran moral Katolik yang menekankan pentingnya pengampunan, rekonsiliasi, dan pemulihan hubungan (KWI, 1. Dalam dunia modern ini. Gereja Katolik juga terus mengembangkan cara-cara baru untuk berkomunikasi dengan umatnya, termasuk penggunaan media sosial, pendidikan keluarga, serta kelompok kategorial seperti Marriage Encounter, untuk memperdalam pemahaman dan komitmen terhadap nilai-nilai pernikahan yang berdasarkan pada ajaran Kristus. Oleh karena itu. Gereja Katolik di Manggarai, sebagaimana di tempat lain, berupaya untuk tetap relevan dengan kebutuhan zaman sambil tetap mempertahankan kebenaran ajaran Kristus yang tidak berubah. (KWI, 2. Pengertian perselingkuhan Perselingkuhan, dalam konteks hubungan pernikahan atau pasangan, merujuk pada tindakan ketidaksetiaan atau pengkhianatan oleh salah satu pasangan terhadap pasangannya yang sah. Secara umum, perselingkuhan mencakup hubungan seksual atau emosional antara seseorang yang sudah menikah dengan orang lain yang bukan pasangan sahnya, tanpa sepengetahuan atau izin dari pasangan yang sah (Kurniawan, 2. Dalam konteks sosial dan budaya, perselingkuhan sering kali dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap norma-norma moral, etika, dan nilai keluarga. Perselingkuhan dapat merusak kepercayaan, mengancam kestabilan keluarga, serta menyebabkan dampak psikologis yang mendalam bagi semua pihak yang terlibat, termasuk anak-anak dan masyarakat sekitar (Simamora, 2. Intervensi Gereja Katolik dalam menyelesaikan kasus perselingkuhan di Manggarai: sebuah pendekatan inkulturasi dan pastoral Gereja Katolik di Manggarai memiliki peran yang sangat signifikan dalam kehidupan sosial dan moral masyarakat setempat. Sebagai wilayah dengan mayoritas penduduk beragama Katolik. Gereja tidak hanya berfungsi dalam dimensi spiritual, tetapi juga memiliki pengaruh besar dalam membentuk tatanan sosial yang harmonis (Sutrisno, 2. Dalam hal ini. Gereja mengambil bagian dalam membimbing umat untuk hidup dalam kedamaian dan keselarasan, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Salah satu masalah sosial yang sering dihadapi oleh masyarakat Manggarai adalah perselingkuhan, yang dapat merusak tatanan keluarga yang merupakan unit sosial yang fundamental. Di Manggarai. Gereja Katolik berperan sebagai mediator dalam penyelesaian konflik akibat perselingkuhan. Pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada hukum gerejawi semata, tetapi juga pada penyembuhan moral dan spiritual pasangan yang terlibat. Dalam tradisi Katolik, pernikahan dipandang sebagai sakramen yang tidak hanya mengikat dua individu, tetapi juga mengikat mereka dengan Tuhan. Oleh karena itu. Gereja merasa bertanggung jawab untuk membantu pasangan yang menghadapi masalah besar seperti perselingkuhan untuk mencari jalan perdamaian. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Febrian Mulyadi Angsemi. Intervensi Gereja Katolik Inkulturasi adalah proses di mana ajaran Gereja Katolik diterima, diinternalisasi, dan disesuaikan dengan budaya lokal, dalam hal ini budaya Manggarai. Dalam menghadapi kasus perselingkuhan. Gereja Katolik di Manggarai menggabungkan ajaran moral Kristen dengan nilai-nilai budaya lokal yang menghargai keharmonisan keluarga dan kekerabatan. Pendekatan ini memungkinkan Gereja untuk menghubungkan ajaran universal tentang kesetiaan dalam pernikahan dengan nilai-nilai yang sudah ada dalam masyarakat Manggarai, seperti rasa malu terhadap masyarakat dan kehormatan keluarga (Priyadi, 2. Dalam praktiknya. Gereja di Manggarai sering mengadakan pertemuan konseling bagi pasangan yang bermasalah, dengan pendekatan yang lebih berbasis pada mediasi daripada Pendetapan hukuman formal biasanya dihindari, dan lebih menekankan pada pemulihan hubungan dan pengampunan. Proses ini sering melibatkan pihak keluarga besar dan komunitas lokal yang memainkan peran penting dalam memberikan dukungan dan nasehat kepada pasangan yang menghadapi masalah tersebut. Pendekatan pastoral gereja di Manggarai berfokus pada pemberian dukungan spiritual kepada pasangan yang dilanda masalah perselingkuhan. Gereja Katolik memandang perselingkuhan sebagai pelanggaran terhadap kesucian pernikahan, namun juga mengajarkan bahwa pengampunan adalah bagian dari ajaran Kristus yang harus diterima oleh setiap umat (Haris, 2. Oleh karena itu, pelayanan pastoral di sini sangat penting untuk memberikan ruang bagi pasangan yang terluka untuk menyembuhkan diri secara emosional dan spiritual. Pendekatan pastoral ini dilakukan melalui konseling pribadi, retret, dan pertemuan kelompok yang mengedepankan penguatan iman dan pemulihan moral. Pada level yang lebih luas. Gereja juga mengadakan seminar atau lokakarya untuk memberi edukasi kepada umat mengenai pentingnya kesetiaan dalam pernikahan dan dampak buruk perselingkuhan terhadap keluarga dan masyarakat. Dengan pendekatan ini. Gereja Katolik di Manggarai tidak hanya menjadi penyelesai masalah perselingkuhan, tetapi juga berperan sebagai pelopor dalam membangun ketahanan keluarga dan masyarakat yang sehat. Simpulan Intervensi Gereja Katolik dalam menyelesaikan kasus perselingkuhan di Manggarai melalui pendekatan inkulturasi dan pastoral menunjukkan peran penting Gereja dalam menjaga keharmonisan sosial dan moral dalam masyarakat. Dengan memanfaatkan pendekatan inkulturasi. Gereja dapat menciptakan hubungan yang lebih erat dengan masyarakat Manggarai, sementara melalui pendekatan pastoral. Gereja dapat memberikan pendampingan dan dukungan kepada pasangan dalam menyelesaikan masalah rumah tangga Meskipun tantangan dalam inkulturasi dan ketegangan sosial-budaya masih ada, upaya Gereja dalam menjaga stabilitas keluarga dan harmoni sosial sangat penting untuk keberlanjutan tatanan masyarakat Manggarai yang berlandaskan pada nilai-nilai Kristiani dan budaya lokal. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Febrian Mulyadi Angsemi. Intervensi Gereja Katolik Ucapan Terima Kasih Kami mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan tulisan ini. Secara khusus. Institut Filsafat dan Teologi Katolik (IFTK) Ledalero dan Seminari Tinggi Interdiosesan Santo Petrus Ritapiret. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada para tokoh Gereja, baik di tingkat lokal maupun global, yang telah menjadi inspirasi melalui dedikasi mereka dalam menghidupkan nilai-nilai iman di tengah keberagaman budaya. Komunitas akademik dan para penulis yang karyanya telah menjadi pijakan intelektual dalam kajian ini Referensi