Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) ARTIKEL RISET URL artikel: http://ejournal. poltekkes-denpasar. id/index. php/JIG/article/view/jig2778 Konsumsi Inhibitor dan Enhancer Zat Besi Kaitannya Dengan Status Anemia Pada Siswi SMAN 6 Denpasar Ni Ketut Rosa Monika1,K. Ida Ayu Eka Padmiari1. I Wayan Ambartana1. Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Denpasar email Penulis Korespondensi (K): rosamonika41@gmail. ABSTRACT Anemia is a condition in which there is a total shortage of red blood cells or hemoglobin levels less than normal or decreased levels of red blood cells/hemoglobin in the blood so that the body's physiological needs are not fulfilled (Nabilla dkk. , 2. This study aims to determine the consumption of iron inhibitors and enhancers in relation to anemia status in female students of SMAN 6 Denpasar Selatan. The type of research used was observational with a cross sectional design. The research sample was 62 class XI students at SMAN 6 South Denpasar. Data collection was carried out by taking hemoglobin levels in female female students and interviews using the SQ FFQ questionnaire on the consumption of iron inhibitors and enhancers. The data collected included data on anemia status, consumption of inhibitors and consumption of iron enhancers in female To determine the relationship between anemia status and consumption of iron inhibitors and Pearson's correlation analysis was carried out. Anemia categories are divided into 2, namely not anemia (Ou12 g/dL) and anemia (<12 g/dL). Based on the research, out of 62 samples, there were 48 female students who were not anemic and 14 female students who were anemic. The lowest hemoglobin level was 9. g/dL, the highest was 17. 8 g/dL, the average was 15 g/dL. Consumption of tea . 7%) and spinach . 0%), and consumption of oranges . 0%) and chicken meat . 0%) in the last 1 month. The results showed that there was a relationship between consumption of iron inhibitors and anemia status in young women . -value = For the analysis test results of consumption of iron enhancers with anemia status in young women showed a relationship . -value = 0. Keywords: anemia status, consumption of inhibitors, consumption of enhancers. PENDAHULUAN Latar Belakang Anemia adalah keadaan dimana kadar sel darah merah atau hemoglobin benar-benar di bawah normal, atau kadar sel darah merah/hemoglobin dalam darah sangat rendah sehingga kebutuhan fisiologis tubuh tidak terpenuhi. Kadar hemoglobin normal pada wanita dan pria berbeda. Kadar hemoglobin normal pada pria adalah <13,5 g/dL dan kadar hemoglobin normal pada wanita adalah <12,0 g/dL. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia . , penyebab terjadinya anemia adalah kebutuhan zat gizi yang lebih tinggi seperti zat besi, karena pertumbuhan perempuan lebih cepat daripada laki-laki. Selain itu, perempuan memiliki siklus menstruasi bulanan, yang meningkatkan kebutuhan zat besinya. Faktor lain yang mempengaruhi anemia antara lain langsung . supan gizi, infeksi, status gizi, menstruas. dan tidak langsung . osial ekonomi, pendidikan, tingkat pengetahua. serta zat yang menghambat penyerapan zat besi yang ditemukan dalam makanan. 173 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) Kadar zat besi yang rendah dalam makanan dapat menyebabkan defisiensi zat besi, yang seiring waktu dapat menyebabkan penipisan simpanan zat besi dalam tubuh, yang menyebabkan terganggunya sintesis hemoglobin. Faktor yang membantu dan menghambat penyerapan zat besi harus dipertimbangkan saat menilai asupan zat besi. Jumlah makanan yang dicerna penting untuk mengenali nilai faktor yang mendorong dan menghambat penyerapan zat besi. Beberapa bahan yang meningkatkan penyerapan zat besi, yaitu mikronutrien yang dapat dikonsumsi bersama zat besi, atau yang disebut enhancer, seperti vitamin C dan protein hewani, dan beberapa zat yang dapat menghambat penyerapan zat besi atau mengganggu penyerapan zat besi disebut inhibitor seperti tanin, oksalat. dan asam fitat. Hasil Riskesdas 2007 Prevalensi anemia di Indonesia yaitu sebesar 11,3%. Riskesdas pada tahun 2013 menunjukkan peningkatan jumlah penderita anemia sebesar 21,7%, dimana 26,4% berusia 5-14 tahun dan 18,4% berusia 15-24 tahun. Dibandingkan dengan data terkini, peningkatan prevalensi anemia di Riskesdas tahun 2018 sebesar 48,9%. Berdasarkan data Riskesdas tahun 2016 di Bali prevalensi anemia pada remaja putri sebesar 27,1%. Kota Denpasar memiliki prevalensi anemia sebesar 45,9% pada remaja putri usia 12-18 tahun pada tahun 2017. Tujuan Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi inhibitor dan enhancer zat besi kaitannya dengan status anemia pada siswi SMAN 6 Denpasar. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini yaitu menentukan kadar hemoglobin siswi, mengidentifikasi frekuensi konsumsi inhibitor zat besi pada siswi, mengidentifikasi frekuensi konsumsi enhancer zat besi pada siswi, menganalisis hubungan frekuensi konsumsi inhibitor zat besi dengan status anemia pada siswi, menganalisis hubungan frekuensi konsumsi inhibitor zat besi dengan status anemia pada siswi SMAN 6 Denpasar. METODE Penelitian dilakukan di SMAN 6 Denpasar Selatan pada bulan Desember 2022. Jenis penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Populasi yaitu jumlah siswi usia 16-17 tahun dengan jenis kelamin perempuan. Sampel berjumlah 62 orang dengan teknik pengambilan sampel berupa proportional simple random sampling. Pengumpulan data identitas sampel, data status anemia, data konsumsi inhibitor zat besi, dan data konsumsi enhancer zat besi Teknik pengolahan data untuk data identitas sampel disajikan dengan tabel frekuensi dan diolah secara deskripstif. Data status anemia pada sampel dikategorikan menjadi 2 yaitu anemia dan tidak Frekuensi konsumsi inhibitor dan enhancer zat besi diolah menggunakan SQ FFQ untuk melihat frekuensi penggunaan selama sebulan terakhir. Uji hipotesa dilakukan dengan menggunakan uji korelasi rank spearman. HASIL SMAN 6 Denpasar terletak di Jalan Tukad Nyali di Desa Sanur Kaja. Denpasar Selatan. Lokasi sekolah ini berjarak 500 meter dari jalan raya utama provinsi, sehingga mudah dijangkau baik secara geografis maupun ekonomi. Gedung sekolah ini milik pemerintah dan memiliki luas tapak 000 m2 , luas 7. 450 m2. SMA Negeri 6 Denpasar memiliki total 60 staff pengajar dan mempekerjakan 25 orang. Karakteristik Sampel 174 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) Pada penelitian ini menggunakan siswa sekolah menengah atas kelas XI dengan jenis kelamin perempuan dengan kisaran usia 16-17 tahun. Sebesar 41 orang . ,1%) dengan usia 16 tahun, dan sebaesar 21 orang . ,9%) dengan usia 17 tahun. Status Anemia Pada penelitian ini kadar Hb terendah yaitu 9,1 g/dL, tertinggi 17,8 g/dL, rata-rata 15 g/dL. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1 Sebaran Sampel Menurut Status Anemia Status Anemia Hasil Pengamatan Tidak Anemia (Ou12g/d. Anemia (<12 g/d. Total Berdasarkan hasil penelitian, dari 62 sampel siswi yang diteliti terdapat 48 siswi . ,4%) yang tidak mengalami anemia . adar Hemoglobin Ou12 g/d. dan yang dinyatakan anemia sebanyak 14 siswi . ,6%) dengan . adar Hemoglobin <12 g/d. Dari 14 siwi yang anemia terdapat siswi dengan anemia ringan sebanyak 8 sampel . ,9%), dan yang dinyatakan anemia sedang sebanyak 6 siswi . ,7%). Konsumsi Inhibitor Zat Besi Sumber inhibitor atau disebut zat menghambat penyerapan zat besi dalam tubuh. Pangan yang tergolong pangan inhibitor meliputi sumber tanin . eh dan kop. , asam oksalat . , dan asam fitat . acang-kacanga. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2 Tabel 2 Sebaran Sampel Menurut Konsumsi Inhibitor Zat Besi dalam 1 Bulan Terakhir Konsumsi Inhibitor Zat Besi Hasil Pengamatan Kopi Teh Bayam Kacang-kacangan Berdasarkan hasil penelitian, dari 62 sampel sebanyak 38 orang . ,2%) yang mengonsumsi kopi, sebanyak 60 orang . ,7%) yang mengonsumsi teh, sebanyak 62 orang . ,0%) mengonsumsi bayam, dan sebanyak 62 orang . ,0%) mengonsumsi kacang-kacangan. Berikut ini dalam Tabel 3 menunjukkan jumlah sampel yang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi 175 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) Tabel 3 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Inhibitor Zat Besi Konsumsi Inhibitor Zat Besi Hasil Pengamatan Sering Kadang-kadang Kurang Total Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat 62 sampel yang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi tergolong kategori sering sebesar 19 orang . ,6%), dalam kategori kadang-kadang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 31 orang . ,0%), dan dalam kategori kurang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 12 orang . ,4%). Konsumsi Enhancer Zat Besi Sumber enhancer zat besi merupakan makanan yang mengandung zat yang membantu tubuh menyerap zat besi. Jenis sumber enhancer zat besi yaitu sumber protein hewani . yam, ikan, telur, hati aya. dan sumber vitamin C . epaya, jeruk, mangg. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 4 Tabel 4 Sebaran Sampel Menurut Konsumsi Enhancer Zat Besi Dalam 1 Bulan Terakhir Konsumsi Enhancer Zat Besi Hasil Pengamatan Pepaya Jeruk Mangga Daging ayam Telur Ikan Hati ayam Berdasarkan hasil penelitian, dari 62 sampel sebanyak 58 orang . ,5%) mengonsumsi pepaya, sebanyak 62 orang . ,0%) mengonsumsi jeruk, sebanyak 62 orang . ,0%) mengonsumsi mangga, sebanyak 62 orang . ,0%) mengonsumsi daging ayam, sebanyak 62 orang 9100,0%) mengonsumsi telur, sebanyak 58 orang . ,5%) mengonsumsi ikan, dan sebanyak 57 orang . ,9%) mengonsumsi hati ayam. 176 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) Tabel 5 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Enhancer Zat Besi Konsumsi Enhancer Zat Besi Hasil Pengamatan Sering Kadang-kadang Kurang Total Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 62 sampel mengonsumsi sumber enhancer zat besi dalam kategori sering sebanyak 21 orang . ,9%), kategori kadang-kadang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebanyak 29 sampel . ,8%), dan dalam kategori kurang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebanyak 12 orang . ,4%). Hubungan Konsumsi Inhibitor Zat Besi dengan Status Anemia Diketahui dari 48 sampel siswi yang tidak anemia yang tergolong kategori sering mengonsumsi makanan inhibitor zat besi sebanyak 31 orang . 8%), dalam kategori kadang-kadang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebesar 17 orang . 9%), dalam kategori kurang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 0 orang . 0%). Sedangkan dari 14 sampel siswi yang anemia yang termasuk dalam kategori sering mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 6 orang . 2%), dalam kategori kadang-kadang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 6 orang . 1%), dan dalam kategori kurang mengonsumsi sumber inhibitor zat besi sebanyak 2 orang . 0%). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 6 Tabel 6 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Inhibitor Zat Besi Dan Status Anemia Status Anemia Konsumsi Inhibitor Zat Besi Tidak Anemia Total Anemia Sering Kadang-kadang Kurang 0,034 Berdasarkan hasil penelitian, uji statistik pearson diperoleh nilai p=0,034 yang berarti adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi inhibitor zat besi dengan status anemia. Hubungan Frekuensi Konsumsi Enhancer Zat Besi dengan Status Anemia 177 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) Dari 48 siswi yang tidak anemia tergolong kategori sering mengonsumsi makanan enhancer zat besi sebanyak 21 orang . 0%), dalam kategori kadang-kadang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebesar 25 orang . 2%), dalam kategori kurang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebanyak 2 orang . 7%). Sedangkan dari 14 sampel siswi yang anemia yang termasuk dalam kadang-kadang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebanyak 4 orang . 8%), dan dalam kategori kurang mengonsumsi sumber enhancer zat besi sebanyak 10 orang . 3%). Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7 Tabel 7 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Enhancer Zat Besi Dan Status Anemia Status Anemia Konsumsi Enhancer Zat Besi Tidak Anemia Total Anemia Sering Kadang-kadang Kurang 0,000 Berdasarkan uji statistik pearson diperoleh nilai p=0,000 yang berarti adanya hubungan yang signifikan antara konsumsi enhancer zat besi dengan status anemia. PEMBAHASAN Dari 62 responden diketahui bahwa sebesar 48 siswi . ,4%) tidak anemia sedangkan yang mengalami anemia sebanyak 14 orang . ,6%). Dari 14 sampel yang anemia sebesar 6 orang . mengonsumsi inhibitor zat besi dalam kategori sering, sebanyak 6 orang . 1%) mengonsumsi inhibitor zat besi dalam kategori kadang-kadang, dan dalam kategori Kurang sebanyak 2 orang . 0%). Sumber inhibitor yang paling banyak di konsumsi adalah bayam dan kacang-kacangan sebesar 62 orang . %) sedangkan yang paling sedikit di konsumsi yaitu kopi sebanyak 38 orang . ,2%). Inhibitor adalah zat yang menghambat penyerapan zat besi, yang menyebabkan anemia. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi zat besi inhibitor dengan status anemia . =0,. Analisis hubungan antara asupan penghambat zat besi siswi dan status anemia mengungkapkan hubungan yang signifikan, karena sebagian besar siswi suka makan bayam. Kacangkacangan dan makanan menghambatpenyerapan zat besi lainnya. Sebagian besar siswi yang mengalami anemia kurang mengonsumsi asupan enhancer zat besi sebesar10 orang . 3%) dan yang tidak anemia termasuk kategori kadang-kadang mengonsumsi makanan sumber enhancer zat besi sebanyak 25 orang . 2%). Siswi yang anemia sebanyak 4 orang . %) mengonsumsi makanan sumber enhancer dengan kategori kadang-kadang. Sumber enhancer yang paling banyak di konsumsi adalah Jeruk. Mangga. Daging ayam, dan Telur sebanyak 62 orang . %) dan yang paling sedikit di konsumsi yaitu Hati ayam sebanyak 57 orang . ,9%). Konsumsi enhancer zat besi dengan status anemia siswi remaja putri berhubungan signifikan . =0,. Pada penelitian ini disimpulkan adanya hubungan antara konsumsi inhibitor dan enhancer zat besi dengan status anemia. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara pola konsumsi inhibitor zat besi dengan status anemia pada siswi remaja putri ditemukan adanya hubungan yang signifikan ini disebabkan karena sebagian besar siswi suka mengonsumsi bayam, kacang-kacangan, dan sumber inhibitor zat besi lainnya. Bahan makanan yang terdapat dalam asam oksalat paling banyak 178 | Jurnal Ilmu Gizi: Journal of Nutrition Science. Vol. No. Rosa Monika,N. Eka PAdmiari,I. Ambartana,I. ( Status anemia dan Konsumsi Inhibitor dan Konsumsi EnhancerA) ditemukan pada sayuran salah satu nya adalah bayam. Kandungan oksalat dalam tubuh dapat menghambat penyerapan zat besi sehingga mempersulit penyerapannya. Berdasarkan hasil analisis hubungan antara pola konsumsi enhancer zat besi dengan status anemia pada remaja putri didapatkan adanya hubungan yang signifikan ini disebabkan karena sebagian besar siswi yang anemia tidak mengonsumsi sumber enhancer zat besi seperti vitamin C dan protein hewani. Yang dimana vitamin C berperan untuk membantu penyerapan zat besi ke dalam tubuh. Vitamin C berperan sebagai zat enhancer yang berfungsi untuk membantu peningkatan penyerapan zat besi non heme dengan cara mengubah bentuk feri menjadi ferro sehingga mudah diserap oleh tubuh. Dengan mengubah feri menjadi ferro maka besi akan lebih mudah diserap ke dalam tubuh. Protein hewani berperan dalam pembentukan sel darah merah yang mengandung SIMPULAN DAN SARAN Kadar hemoglobin siswi SMAN 6 Denpasar dengan rata-rata 15 g/dL, tertinggi 17,8 g/dL dan terendah yaitu 9,1 g/dL. Dengan angka anemia sebesar 22,6%. Frekuensi konsumsi inhibitor zat besi dalam 1 bulan terakhir dalam kategori sering sebanyak 30,6% dan yang kurang sebesar 19,4%. Frekuensi konsumsi enhancer zat besi dalam 1 bulan terakhir dalam kategori sering sebanyak 33,9% dan yang kurang sebesar 19,4%. Adanya hubungan antara status anemia dengan konsumsi inhibitor zat besi pada siswi SMAN 6 Denpasar. Adanya hubungan antara status anemia dengan konsumsi enhancer zat besi pada siswi SMAN 6 Denpasar. Disarankan bagi subjek penelitian diharapkan dapat lebih patuh mengonsumsi makanan yang berperan untuk membantu penyerapan zat besi . aging ayam, telur, ikan, hati ayam, buah pepaya, jeruk, mangg. serta menghindari faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya anemia serta diharapkan untuk mengurangi sumber pangan yang dapat menghambat penyerapan zat besi contohnya . eh,kopi,bayam,kacang-kacanga. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Ayu Eka Padmiari. SKM. Kes sebagai pembimbing utama dan Bapak I Wayan Ambartana. SKM. Fis sebagai pembimbing pendamping. Ketua Jurusan Gizi. Ketua Program Studi Gizi dan Dietetika Program Sarjana Terapan, dan Direktur Poltekkes Kemenkes Denpasar, serta bapak/ibu staff pegawai, keluarga, sahabat, serta teman-teman yang memberikan dukungan selama penelitian hingga selesainya penyusunan artikel ini. DAFTAR PUSTAKA